← Keberatan Ditolak

Chapter Thirty Two

Satu Debat yang Kukalahkan

POV: Lyodra


Ibu pulang.

Dia tidak membantah. Dia tidak menjelaskan. Dia berdiri di ambang pintu ruang dosen dengan tas di tangan dan kerudung abu-abu dan wajah yang tiba-tiba terlihat jauh lebih tua dari lima puluh dua tahun, dan dia menatapku lama, dan aku tidak menatap balik.

Lalu dia pergi. Langkahnya pelan di koridor. Bu Ningsih menyingkir memberinya jalan.

Aku mendengar langkah itu sampai ke ujung koridor. Sampai ke tangga. Sampai hilang.

Bu Ningsih menatapku dari ambang pintu. Lalu menatap Putra. Lalu, tanpa bilang apa-apa, menutup pintu ruang dosen dari luar. Pelan. Bunyi klik gagang pintu terdengar seperti palu hakim yang diketuk sekali.

Tinggal kami berdua.


Aku tidak duduk.

Aku berdiri di depan mejanya, di sebelah kursi plastik biru dengan sandaran retak di sudut kiri. Kursi yang tadi diduduki ibuku. Kursi yang, kalau aku mendengar dengan benar, juga diduduki ibuku lima tahun lalu.

Putra berdiri di belakang mejanya. Tangannya masih menekan permukaan meja. Wajahnya pucat. Kacamatanya miring sedikit, dan dia tidak membetulkannya.

Aku advokat. Aku tahu cara memeriksa saksi.

Pertanyaan pendek. Satu fakta per pertanyaan. Jangan beri saksi ruang untuk berkelit. Jangan tunjukkan emosi. Kumpulkan fakta dulu, tarik kesimpulan nanti.

Aku tahu semua itu. Aku sudah melakukannya ratusan kali.

“Kapan?” tanyaku.

Suaraku keluar datar. Bagus.

Dia menatapku. “Ly...”

“Kapan.”

Dia menarik napas. “Mei. Lima tahun lalu. Tanggal empat belas. Hari Selasa. Jam dua siang.”

Tentu saja dia ingat tanggalnya. Tentu saja dia ingat jamnya.

“Di sini?”

“Di sini.”

“Di kursi ini?”

Dia menatap kursi plastik biru di sebelahku. “Di kursi itu.”

“Apa yang Ibu bilang?”

Hening. Kipas angin di langit-langit berputar.

“Dia bilang,” kata Putra pelan, “kamu mau tolak Leiden. Karena aku. Dia bilang dia nemu surat penolakan yang sudah kamu tulis, di laci meja belajarmu. Belum dikirim. Dia bilang...” Dia berhenti. “Dia bilang, kalau aku sayang kamu, jangan jadi alasan kamu nggak pergi.”

Aku menulis surat penolakan itu. Aku ingat. Satu malam di bulan Mei, setelah aku memberi tahu Putra di meja nomor tiga puluh tujuh bahwa aku mau menolak. Aku menulisnya dalam bahasa Inggris yang sangat formal, I regret to inform you, dan menyimpannya di laci meja belajar. Aku tidak pernah mengirimnya. Waktu aku membuka laci itu lagi di bulan Juni, surat itu sudah tidak ada.

Aku pikir aku membuangnya sendiri. Aku pikir aku lupa.

“Apa lagi?”

“Dia minta aku jangan bilang ke kamu. Dia bilang, biar kamu yang mutusin. Biar kamu nggak benci dia. Nggak benci aku. Biar kamu pikir itu keputusanmu sendiri.”

“Dan kamu lakukan.”

Bukan pertanyaan. Dia tidak menjawab.

“Kamu mulai menjauh,” kataku. “Bulan Mei. Kamu datang ke perpustakaan lebih jarang. Kamu balas pesan lebih lambat. Kamu bilang Leiden itu kampus bagus. Kamu bilang kesempatan kayak gitu nggak datang dua kali. Dengan nada datar. Kayak baca hasil analisis.”

“Iya.”

“Itu sengaja.”

“Iya.”

“Kamu tahu aku bakal nyerang duluan kalau aku ngerasa kamu bakal pergi. Kamu tahu aku selalu mengakhiri sesuatu sebelum sesuatu itu sempat mengakhiri aku. Kamu tahu itu dari dua belas tahun.”

Dia menatapku. Matanya basah di balik kacamata yang miring.

“Iya,” katanya.

“Jadi kamu bikin aku ngerasa kamu bakal pergi. Supaya aku nyerang duluan. Supaya aku yang mutusin.”

“Iya.”

Tanganku gemetar. Aku menyembunyikannya di balik punggung. Saksi tidak boleh melihat tangan advokat gemetar.

“Malam rooftop,” kataku. “Bulan Juni. Aku bicara sebelas menit. Empat poin. Kamu bantah sedikit. Argumenmu lemah. Nggak ada angka. Nggak ada literatur. Nggak ada data.”

Dia diam.

“Kamu bisa menang,” kataku. Suaraku mulai retak, dan aku membencinya. “Malam itu. Kamu bisa bongkar semua argumenku satu per satu. Kamu selalu bisa. Empat ratus tiga belas kali kamu bisa. Kenapa malam itu nggak?”

Dia membetulkan kacamatanya. Akhirnya. Satu kali. Pelan.

Lalu dia menatapku lurus. Dari seberang meja kerjanya. Di ruang dosen yang dispensernya selalu kosong, dengan mug jelek bertuliskan I’m Mean, Not Average dan tumpukan laporan praktikum dan rantang merah ibuku dan buku catatan kulit cokelat yang terbuka di halaman berpita.

“Aku kalah,” katanya. “Sengaja.”


Dua kata.

Aku berdiri di sana dan mendengar dua kata itu jatuh ke lantai ruang dosen seperti gelas yang pecah.

Aku kalah. Sengaja.

Lima tahun.

Lima tahun aku memakai kalimat mending jadi musuhmu seperti baju zirah. Lima tahun aku berpikir aku yang memutuskan. Aku yang pergi. Aku yang menang. Lima tahun aku membenci diriku sendiri setiap Sabtu malam di Remah, setiap kali dia duduk dua meter dariku dan berdebat soal bubur, karena aku pikir aku yang membuat dia jadi musuh. Aku yang menghancurkan meja nomor tiga puluh tujuh. Aku yang menulis Pasal Satu.

Lima tahun aku menyimpan kacamata cadangannya di laci kantor, terbungkus sapu tangan biru tua, seperti barang bukti dari kejahatan yang kulakukan sendiri.

Dan di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di bulan Oktober, dia menyodorkan kopi gula satu sendok dan bilang kamu menang, dan ada sesuatu yang aneh di dadaku. Seperti dejavu. Seperti aku pernah mendengar dia mengucapkan kalimat yang mirip, dengan nada yang mirip, di suatu tempat yang tidak ingin kuingat.

Sekarang aku ingat.

“Lima tahun,” kataku.

Dia menunggu.

“Lima tahun aku benci diriku sendiri karena ninggalin kamu,” kataku. Suaraku tidak datar lagi. Suaraku tidak bisa diatur lagi. “Lima tahun aku pikir aku yang salah. Aku yang takut. Aku yang nyerang duluan. Aku yang bikin kita jadi musuh. Setiap Sabtu malam, setiap kali aku lihat kamu di Remah, aku mikir ini gara-gara aku.“

“Ly...”

“Ternyata aku nggak pernah milih apa-apa.”

Dia menutup mata.

“Ibu yang milih,” kataku. “Kamu yang milih. Kalian berdua duduk di ruangan ini, di kursi ini, dan kalian mutusin hidupku. Ke mana aku pergi. Sama siapa aku tinggal. Apa yang aku rasain lima tahun ke depan. Dan kalian biarin aku pikir itu keputusanku sendiri.”

Aku tertawa. Tawa yang pecah, pahit, sama sekali tidak lucu.

“Kamu tahu aku,” kataku. “Dari semua orang di dunia, kamu yang paling tahu aku. Kamu tahu aku benci diputusin. Kamu tahu aku lebih baik kalah dalam debat yang adil daripada menang dalam debat yang diatur. Kamu tahu itu. Dan kamu tetap...”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Aku nggak marah sama Ibu,” kataku akhirnya. Lebih pelan. “Ibu takut. Aku nggak tahu kenapa Ibu takut, tapi aku tahu Ibu takut. Aku lihat mukanya tadi. Ibu duduk di kursi ini dengan tangan gemetar. Ibu takut aku jadi kayak dia, entah apa maksudnya.”

Aku menatap Putra.

“Tapi kamu nggak takut kayak Ibu. Kamu nggak punya alasan Ibu. Kamu cuma...” Aku menarik napas yang tersendat. “Kamu cuma nggak percaya aku bisa milih sendiri.”

“Itu nggak benar.”

“Terus apa?”

Dia tidak menjawab.

Dia selalu tidak menjawab. Di mobil di depan pagar besi hijau. Di warung bubur Matraman. Di parkiran belakang Remah, waktu aku bilang aku mau kamu melawan dan dia bilang aku ada di sini terus, yang bukan jawaban. Advokat dalam diriku sudah menandai semua jawaban itu dengan stabilo merah. Saksi mengalihkan pertanyaan. Dan aku menutup stabilo itu setiap kali, karena aku tidak mau tahu.

Sekarang aku tahu.


“Pasal yang nggak kamu tulis,” kataku.

Dia mengangkat kepala.

Aku mengambil buku catatan kulit cokelat dari atas mejanya. Membalik ke halaman berpita merah. Pasal satu sampai sembilan. Tulisan tanganku yang miring dan tulisan tangannya yang kecil dan tegak.

“Warung kopi Bu Romlah,” kataku. “Pasal delapan. Aku tulis sampai serbetnya hampir robek. Tidak ada keputusan besar yang diambil sepihak. Aku bilang, lima tahun lalu kita nggak punya pasal ini, lihat hasilnya.”

Aku menatapnya.

“Kamu duduk di depanku dan dengar aku ngomong itu. Kamu tahu. Kamu tahu persis apa yang terjadi lima tahun lalu. Dan kamu nggak nulis apa-apa.”

“Aku mau bilang,” katanya. Suaranya pecah. “Aku mau bilang dari Desember. Aku ngetik di chat jam lima pagi. Aku hapus. Aku mau bilang di ulang tahunmu. Aku mau bilang di dapur Remah. Setiap kali aku mau bilang, kamu lagi senyum. Atau kamu lagi capek. Atau kamu lagi sedih. Dan aku pikir, nanti. Nanti waktu yang tepat.”

“Nggak ada waktu yang tepat buat kebenaran, Put. Cuma ada waktu yang terlambat.”

Dia menunduk.

Aku membalik halaman buku catatan. Halaman setelah pasal-pasal. Halaman yang kutulis semalam, jam dua pagi, di kamarku yang dindingnya tipis, waktu aku tidak bisa tidur dan memutuskan tidak bisa menunggu sampai Rabu.

Di bagian atas halaman itu, dengan tulisan tanganku yang miring:

Poin-poin untuk debat Singapura.

Dan di bawahnya, bukan poin kenapa aku harus pergi. Bukan poin kenapa aku harus tinggal.

Poin kenapa aku mau kamu minta aku tinggal.

1. Karena lima tahun lalu kamu nggak minta, dan aku pergi, dan aku menyesal setiap hari.

2. Karena aku nggak butuh Singapura untuk jadi partner. Aku butuh Singapura untuk membuktikan ke Ibu bahwa aku bukan dia. Tapi aku nggak tahu dia itu apa.

3. Karena kalau kamu minta, sekali saja, aku bakal tahu bahwa aku cukup penting buat kamu lawan.

Aku menaruh buku itu di depannya. Terbuka di halaman itu.

Dia membacanya.

Aku melihat dia membacanya. Matanya bergerak dari poin satu ke poin dua ke poin tiga. Lalu kembali ke atas. Lalu ke poin tiga lagi.

Tangannya, yang menekan permukaan meja, mulai gemetar.

“Aku datang hari ini,” kataku, “karena aku nggak bisa nunggu sampai Rabu. Aku mau kasih kamu ini duluan. Supaya kamu tahu, sebelum kita debat, bahwa aku cuma butuh satu kalimat dari kamu.”

Dia mengangkat kepala. Wajahnya basah.

“Tadi,” kataku. “Ibu minta lagi. Ibu duduk di kursi ini dan minta kamu ngelepas aku lagi. Kayak dulu.”

“Ly...”

“Kamu mau jawab apa?”

Hening.

“Aku dengar,” kataku. “Aku berdiri di depan pintu sejak Ibu bilang lima tahun lalu Ibu duduk di kursi ini. Aku dengar semuanya. Aku dengar Ibu bilang kamu sudah pernah melepas dia sekali, kamu tahu itu yang terbaik. Aku dengar kamu bilang Bu, kali ini...“

Aku menatapnya.

“Kali ini apa, Put?”

Dia membuka mulut.

“Kamu janji di dapur Remah,” kataku. “Empat hari lalu. Kamu bilang kali ini aku melawan. Kamu bilang aku janji.“

“Aku mau bilang ke ibumu kali ini aku nggak mundur.”

“Tapi kamu nggak bilang.”

Dia diam.

“Ibu duduk di depanmu. Tujuh kata. Kali ini saya tidak akan mundur. Kamu dosen. Kamu bisa hitung distribusi probabilitas di kepala. Kamu nggak bisa ngucapin tujuh kata?”

“Aku nggak bisa,” bisiknya.

Dan itu yang paling sakit.

Bukan lima tahun lalu. Bukan Ibu. Bukan surat penolakan yang hilang dari laci. Bukan malam rooftop.

Ini. Hari ini. Empat hari setelah dia berjanji. Ibuku duduk di depannya, dan dia membeku, dan dia tidak bisa.


Aku mengambil buku catatan kulit cokelat dari atas mejanya.

Aku merobek halaman itu. Halaman poin-poin. Pelan. Dari atas ke bawah. Bunyinya terlalu keras di ruangan yang sunyi.

Aku menaruh halaman itu di atas mejanya. Di sebelah rantang merah.

“Itu punyamu,” kataku. “Aku nggak butuh lagi.”

Aku menutup buku catatan dan memasukkannya ke tas.

“Rantangnya,” kataku, “tempe bacem. Resep ibumu. Aku belajar dari Bu Wening minggu lalu lewat telepon. Gosong sedikit di pinggir.” Suaraku pecah total sekarang. “Biar sama kayak kuemu.”

“Ly.” Dia memutari meja. Melangkah ke arahku. Tangannya terangkat. “Ly, tolong...”

Aku mundur.

Dia berhenti. Tangannya di udara. Seperti di kantorku, di malam bubur, waktu tangannya berhenti di udara sebelum menyentuh sudut bibirku.

“Pasal sembilan,” kataku. “Kalau salah satu pihak ingin mengakhiri perjanjian ini, ia wajib mengatakannya secara langsung.”

Wajahnya berubah. Hancur. Seperti tembok yang runtuh pelan-pelan dari dalam.

“Aku nggak bilang aku mau mengakhiri,” kataku. “Aku nggak tahu aku mau apa. Itu masalahnya, Put. Lima tahun aku pikir aku tahu. Ternyata aku nggak pernah tahu. Aku cuma tahu apa yang kalian biarin aku tahu.”

Aku berjalan ke pintu.

“Jangan ngetuk,” kataku tanpa menoleh. “Jangan dulu.”

Aku membuka pintu.

Di koridor, Bu Ningsih berdiri dengan tangan di dada dan mata merah. Dia menyingkir untukku. Dia tidak bilang apa-apa.

Aku berjalan menyusuri koridor jurusan statistika. Melewati papan pengumuman. Melewati tangga. Aku tidak berlari. Advokat tidak berlari. Advokat berjalan dengan tenang keluar dari ruang sidang bahkan setelah kalah dalam perkara terbesar dalam hidupnya.

Di belakangku, dari ruang dosen yang pintunya masih terbuka, aku mendengar sesuatu.

Tok. Tok.

Dua kali. Di permukaan meja.

Aku tidak berhenti.

Aku tidak membalas.

Aku berjalan sampai keluar gedung, sampai ke parkiran, sampai ke mobilku. Aku masuk. Menutup pintu. Menempelkan dahi ke setir.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku umur dua belas tahun, sejak malam sepasang sepatu pantofel hitam ukuran empat puluh dua hilang dari lemari sepatu dekat pintu, aku menangis dengan suara.

Keras. Di parkiran kampus. Di dalam mobil yang mesinnya mati.

Persis di tempat yang sama, mungkin, di mana lima tahun lalu seseorang duduk tiga jam di mobilnya sendiri dan menangis tanpa suara, dan tidak mau membuka jendela untuk siapa pun.