← Keberatan Ditolak

Chapter Nineteen

Kencan yang Tidak Mungkin

POV: Lyodra


Pasal enam: Kencan dilakukan di lokasi yang secara statistik tidak mungkin dikunjungi anggota circle.

Putra membuat daftarnya di spreadsheet. Tentu saja. Dia mengirimnya padaku hari Senin, dengan judul file Analisis Risiko Lokasi, berisi dua puluh tiga tempat di Jakarta dengan kolom-kolom: jarak dari Remah, jarak dari kantor Sabrina, jarak dari rumah sakit Erwin, kemungkinan Alea ke sana untuk belanja bahan kue, dan “indeks kerahasiaan” dari satu sampai sepuluh.

Tiga tempat dengan indeks kerahasiaan tertinggi ditandai warna hijau.

Perpustakaan hukum. Sembilan koma lima.

Pameran visualisasi data di galeri kecil di Kota Tua. Sembilan koma dua.

Warung bubur di Matraman, jam dua pagi. Sepuluh.

“Kenapa warung bubur dapat sepuluh?” tanyaku di telepon malam itu.

“Karena Erwin jaga malam di rumah sakit yang jaraknya sebelas kilometer dari Matraman, Sabrina tidur jam sepuluh demi kulit, dan Alea bangun jam empat buat manggang roti, artinya dia tidur jam sembilan. Pada jam dua pagi, probabilitas anggota circle mana pun ada di warung bubur Matraman mendekati nol.”

“Mendekati?”

“Erwin pernah ketahuan makan nasi goreng jam tiga pagi waktu libur. Aku nggak bisa kasih nol mutlak.”

“Kamu bikin spreadsheet buat kencan kita.”

“Aku bikin spreadsheet buat semuanya, Ly.”

“Itu sangat tidak romantis.”

Dia diam sebentar di telepon. Lalu: “Kolom terakhir. Kamu belum lihat.”

Aku membuka file itu lagi. Menggulir ke kanan. Melewati indeks kerahasiaan, jarak, risiko.

Kolom terakhir berjudul Kemungkinan Lyodra Senang.

Perpustakaan hukum: tujuh. Pameran data: lima. Warung bubur: sembilan.

“Kenapa pameran data cuma lima?”

“Karena kamu nggak suka statistik.”

“Terus kenapa masuk daftar?”

“Karena aku suka. Dan kamu bilang di pasal delapan, keputusan diambil bersama.”

Aku menutup laptop dan berbaring di kasur dengan ponsel di telinga, menatap retakan di plafon. Tujuh belas. Aku tidak menghitungnya malam itu. Aku tidak perlu.


Kencan pertama: Perpustakaan Hukum.

Sabtu siang, jam dua. Perpustakaan sebuah lembaga kajian hukum di Menteng, di gedung tua bergaya kolonial dengan langit-langit tinggi, rak-rak kayu jati yang menjulang sampai hampir menyentuh plafon, dan bau kertas tua yang membuatku merasa pulang. Aku punya kartu anggota sejak kuliah. Aku sudah ke sini ratusan kali.

Tidak pernah dengan seseorang.

Putra datang lima belas menit lebih awal, tentu saja. Dia duduk di meja panjang di ruang baca utama dengan dua buku statistik terapan yang dia bawa sendiri karena perpustakaan ini tidak punya buku statistik. Di sebelah bukunya, dua bungkus roti sobek cokelat.

Aku berhenti di ambang pintu ruang baca.

Roti sobek cokelat.

Dia mengangkat kepala. Melihatku. Lalu mengetuk meja dua kali. Tok. Tok.

Aku berjalan ke mejanya, duduk di seberangnya, dan mengetuk meja dua kali.

Pustakawan di meja jaga, laki-laki tua dengan rompi rajut dan kacamata yang diikat tali, menatap kami dengan alis berkerut. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibir.

“Roti?” bisikku.

“Diskon,” bisiknya.

“Roti sobek nggak pernah diskon.”

“Aku tahu.”

“Kamu bohong lima tahun lalu.”

“Itu satu-satunya kebohongan yang nggak kusesali.”

Aku membuka roti itu dan menggigitnya. Cokelatnya meleleh sedikit di jari. Rasanya persis sama. Lima tahun, dan rasanya persis sama.

Kami menghabiskan tiga jam di sana. Aku membaca putusan-putusan lama untuk perkara banding koperasi. Dia membaca buku statistik dan sesekali mencoret-coret kertas dengan rumus. Kami tidak banyak bicara. Pustakawannya galak dan ruangannya sunyi.

Tapi setiap setengah jam, salah satu dari kami mengetuk meja dua kali. Dan yang lain membalas.

Di jam kedua, aku menemukan sesuatu yang lucu di putusan yang kubaca. Kasus tahun delapan puluhan, sengketa soal ayam jago yang berkokok terlalu pagi dan membuat tetangga menggugat ke pengadilan. Aku menyodorkan berkas itu ke seberang meja dan menunjuk paragrafnya.

Putra membaca. Lalu menulis di pinggir kertas coretannya, kecil, dan memutar kertas itu ke arahku.

Korelasi ayam berkokok dan matahari terbit: 100%. Kausalitas: 0%. Tetangga ini perlu kuliah statistik.

Aku tertawa. Tidak bersuara. Tertawa dengan bahu berguncang dan tangan menutup mulut sampai air mataku keluar.

Pustakawan berdeham sangat keras.

Aku menulis balasan di bawah tulisannya. Itu contoh yang sama yang kamu pakai di kelasmu. Kevin cerita di seminar.

Dia membaca. Telinganya memerah.

Dia menulis lagi. Kamu ngobrol sama mahasiswaku?

Kevin nanya kenapa dosennya pakai contoh ayam terus. Aku bilang dosennya kurang kreatif.

Aku nggak kurang kreatif.

Kamu pakai contoh yang sama sejak SMA. Waktu lomba debat. Mosi soal pendidikan. Kamu bilang korelasi bukan kausalitas, contohnya ayam.

Dia menatap tulisanku lama. Lalu dia mendongak dan menatapku.

Lalu dia menulis satu kalimat lagi, sangat kecil, di pojok kertas.

Kamu ingat argumenku di kelas sepuluh?

Aku mengambil pena dan menulis di bawahnya.

Aku ingat semuanya.

Kami menatap kertas itu bersama. Kertas coretan berisi rumus statistik, putusan soal ayam jago, dan dua kalimat yang tidak boleh diucapkan keras-keras di perpustakaan.

Pustakawan berdeham lagi, padahal kami tidak bersuara sama sekali.


Kencan kedua: Pameran Visualisasi Data.

Minggu sore. Sebuah galeri kecil di Kota Tua, di lantai dua bangunan bekas kantor dagang Belanda yang dindingnya tebal dan jendelanya tinggi. Pamerannya berjudul Angka yang Bercerita. Grafik-grafik besar dicetak di kanvas, dipajang di dinding seperti lukisan. Ada grafik migrasi burung, grafik jumlah hujan di Jakarta selama seratus tahun, grafik pola tidur manusia yang divisualisasikan sebagai gelombang warna-warni.

Putra berjalan dari satu kanvas ke kanvas lain dengan wajah seperti anak kecil di toko mainan.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Wajahnya, yang biasanya datar, berubah setiap kali dia berhenti di depan grafik baru. Matanya menyipit. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu tentang skala logaritmik dan pemilihan palet warna. Dia menunjuk detail-detail yang tidak akan pernah kulihat sendiri, dan menjelaskannya dengan suara yang lebih cepat dan lebih bersemangat dari biasanya.

Kemungkinan Lyodra senang: lima.

Dia salah hitung. Aku tidak peduli soal skala logaritmik. Tapi aku sangat peduli pada wajahnya waktu menjelaskan skala logaritmik.

Di ruangan terakhir, ada satu kanvas besar yang berbeda dari yang lain. Bukan grafik ilmiah. Grafik garis sederhana dengan dua garis, satu biru, satu merah. Judulnya: Jarak Rata-Rata Antara Dua Orang yang Saling Menyukai Tapi Belum Mengaku, Diukur dalam Sentimeter, Selama 30 Hari Observasi.

Dua garis itu dimulai jauh. Lalu pelan-pelan mendekat. Lalu menjauh lagi, tiba-tiba. Lalu mendekat. Menjauh. Mendekat. Polanya seperti gelombang yang tidak bisa memutuskan.

Di hari ketiga puluh, kedua garis itu bertemu.

Aku berdiri di depan kanvas itu. Putra berdiri di sampingku.

“Ini data asli?” tanyaku.

“Katanya proyek mahasiswa seni. Mereka merekam dua teman sekamar diam-diam.”

“Itu melanggar privasi.”

“Itu yang kupikirkan juga.”

Kami diam, menatap dua garis itu.

“Tiga puluh senti,” kataku tiba-tiba.

“Apa?”

“Jarak kita. Waktu kamu bikin spreadsheet venue di kampusmu. Waktu panco. Waktu aku nunjuk layar laptop. Selalu tiga puluh senti.”

Dia menoleh padaku. “Kamu ngukur?”

“Kamu bukan satu-satunya yang ngitung, Put.”

Dia menatapku lama. Lalu, sangat pelan, dia bergeser. Dari tiga puluh senti, jadi dua puluh. Sepuluh. Lima.

Bahu kami bersentuhan.

“Nol,” bisiknya.

Lalu, dari pintu ruangan di belakang kami, sebuah suara memanggil:

“Pak Putra?”

Kami berdua membeku.

Aku menoleh pelan. Di ambang pintu, dengan hoodie yang sama dan rambut yang tidak pernah bertemu sisir, berdiri Kevin. Mahasiswa barisan tengah. Penanya soal pasal saksi yang lebih dari teman SMA. Dia membawa buku catatan dan ditemani dua temannya.

“Wah, Pak Putra beneran ke sini!” kata Kevin dengan wajah berbinar. “Saya kira Bapak cuma basa-basi waktu bilang pameran ini bagus. Kami disuruh bikin laporan, Pak, buat tugas visualisasi.”

“Bagus,” kata Putra. Suaranya datar. Sangat datar. Dia sudah bergeser kembali ke tiga puluh senti dalam waktu kurang dari satu detik. Aku tidak melihat dia bergerak. Dia cuma tiba-tiba sudah di sana.

Kevin menoleh padaku. Matanya menyipit. Aku memakai kacamata hitam di kepala dan rambut digerai, bukan diikat seperti di seminar.

“Eh. Mbak ini...” Kevin memiringkan kepala. “Mbak ini bukan Bu Lyodra yang di seminar?”

“Bukan,” kata Putra.

Aku menurunkan kacamata hitam dari kepala ke mata. Di dalam galeri. Di ruangan yang cuma diterangi lampu sorot redup.

“Bukan,” kataku, dengan suara yang sedikit lebih tinggi dari suara asliku.

Kevin menatapku. Lalu menatap Putra. Lalu menatap kanvas besar di belakang kami, yang judulnya Jarak Rata-Rata Antara Dua Orang yang Saling Menyukai Tapi Belum Mengaku.

Lalu Kevin tersenyum. Senyum yang sangat lebar. Senyum anak muda yang baru saja mendapat bahan gosip untuk satu semester penuh.

“Oh, oke, Pak. Bukan, ya. Maaf, Pak. Mirip banget soalnya.” Dia mundur pelan-pelan, menarik kedua temannya. “Kami ke ruangan sebelah dulu, Pak. Selamat menikmati pameran, Pak. Dan Mbak-nya yang bukan Bu Lyodra.”

Mereka pergi.

Aku melepas kacamata hitam. Putra menatap langit-langit.

“Indeks kerahasiaan sembilan koma dua,” kataku.

“Aku nggak memperhitungkan tugas kuliah.”

“Kamu dosennya. Kamu yang kasih tugas.”

“Bukan aku. Dosen mata kuliah visualisasi.”

“Kamu yang bilang pameran ini bagus ke mahasiswamu.”

Dia diam. Lalu, dengan nada orang yang sangat kalah: “Aku bilang itu dua minggu lalu. Waktu aku mulai bikin spreadsheet kencan.”

Aku tertawa. Di galeri sunyi, di depan grafik dua garis yang akhirnya bertemu, aku tertawa sampai harus berpegangan pada lengannya.

Senin pagi, kata Putra kemudian, di grup kelas Statistika Inferensial, ada yang mengunggah foto pameran Angka yang Bercerita. Foto kanvas besar dengan dua garis. Dengan caption: Ternyata Pak Putra suka grafik romantis. Data menunjukkan dosen kita lagi kasmaran. Signifikan.

Putra tidak membalas. Tapi dia juga tidak menghapusnya, padahal dia admin grup itu.


Kencan ketiga: Warung Bubur Matraman, Jam Dua Pagi.

Dia menjemputku jam satu empat puluh lima. Aku keluar dari rumah dengan jaket dan sandal, pelan-pelan, melewati ruang tengah yang gelap. Ibu sedang duduk di kursi rotan di dekat jendela, seperti biasa.

“Mau ke mana?” tanyanya dari kegelapan.

Aku membeku di ambang pintu. “Lapar, Bu. Mau cari bubur.”

“Jam segini.”

“Iya, Bu.”

Diam lama. Lalu: “Hati-hati.”

Cuma itu. Ibu tidak bertanya dengan siapa. Aku tidak tahu apakah dia tidak tahu, atau tidak mau tahu.

Warung bubur di Matraman adalah tenda biru di pinggir jalan dengan lampu neon putih, tiga meja plastik, dan seorang bapak tua bernama Pak Kumis yang sudah berjualan di sana sejak sebelum kami lahir. Jam dua pagi, cuma ada dua pelanggan lain: sopir ojek online yang makan sambil menatap ponsel, dan satpam kompleks yang sedang istirahat.

Pak Kumis mengenali kami.

“Lho, Mas, Mbak,” katanya sambil mengaduk panci kaldu besar. “Lama nggak ke sini. Lima tahun, ya?”

Aku menatap Putra. Putra menatapku.

“Bapak ingat?” tanyaku.

“Ingat. Mas-nya makan nggak diaduk, Mbak-nya diaduk. Tiap kali ke sini, berantem soal itu.” Pak Kumis tertawa sambil menyendok bubur ke mangkuk. “Saya sampai hafal. Dulu seminggu dua kali. Terus tiba-tiba hilang. Saya kira kalian putus.”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Kumis menaruh dua mangkuk bubur di depan kami. Satu dengan semua topping di atas, rapi berlapis. Satu dengan semua topping di atas, juga rapi berlapis, karena Pak Kumis tidak pernah mengaduk bubur pelanggannya.

Aku mengambil sendok dan mengaduk buburku.

Putra mengambil sendok dan menyendok bagian atas buburnya, ayam suwir dan kecap, tanpa menyentuh lapisan di bawahnya.

Lima tahun, dan semuanya persis sama.

Kami makan dalam diam selama beberapa menit. Lampu neon berdengung. Sopir ojek online pergi. Satpam kompleks menguap.

“Put,” kataku.

“Hm.”

“Pasal satu. Tidak lagi menjadi musuh. Kita nggak pernah nulis kita jadi apa.”

Dia berhenti menyendok.

“Kamu yang nyusun,” katanya. “Kamu yang nggak mau nulis pacaran.”

“Karena nggak ada definisi hukumnya.”

“Terus kamu mau definisi apa?”

Aku menatap buburku yang sudah teraduk rata. Kuning pucat. Seragam. Semua lapisan bercampur jadi satu.

Lalu aku mengangkat kepala dan menatapnya, dan aku mengucapkan kalimat yang sudah dua minggu kusimpan di ujung lidah, kalimat yang mencuri senjatanya sendiri:

“Kamu sayang aku? Data?”

Dia meletakkan sendok.

Aku menunggu. Aku menunggu dia bilang signifikan, seperti di rooftop. Aku menunggu dia mengutip literatur, atau membuat lelucon soal ayam, atau membetulkan kacamata dua kali dan tidak menjawab.

Dia tidak melakukan semua itu.

“Empat ribu lima ratus dua puluh tiga,” katanya.

Aku mengerjap. “Apa?”

“Hari.”

“Hari apa?”

“Sejak kelas sepuluh. Ruang tim debat. Hari Rabu, jam tiga sore. Kamu berdiri di depan kelas dan bilang argumenku cacat logika di premis kedua. Kamu benar. Premis keduaku memang cacat.” Dia menatapku. Matanya di balik kacamata tidak bergerak. “Empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari. Aku hitung lagi tadi pagi, sebelum jemput kamu. Biar datanya akurat.”

Aku tidak bisa bicara.

“Termasuk lima tahun terakhir,” lanjutnya, pelan. “Termasuk setahun kamu di Leiden. Termasuk semua Sabtu malam aku duduk dua meter dari kamu dan debat soal bubur. Nggak ada hari yang kukurangi. Nggak ada satu pun.”

Lampu neon berdengung. Pak Kumis mengaduk panci kaldu. Satpam kompleks menguap lagi.

Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki berkacamata yang makan bubur seperti arkeolog. Laki-laki yang selama empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari tidak pernah bilang apa-apa, kecuali satu kali, di rooftop, dua kata.

“Kelas sepuluh,” bisikku. “Itu bahkan sebelum kita...”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

“Karena kamu nggak percaya sama hal-hal yang nggak bisa kamu menangkan.” Dia mengambil sendoknya lagi. “Aku harus nunggu sampai kamu yakin kamu menang.”

Aku menunduk ke buburku. Mataku panas. Aku mengaduk bubur yang sudah teraduk, karena aku harus melakukan sesuatu dengan tanganku.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan dalam dua belas tahun.

Aku menjulurkan sendokku ke mangkuknya. Ke buburnya yang masih berlapis rapi, ayam suwir di atas, cakwe di tengah, kerupuk di pinggir.

Dan aku mengaduknya.

Dia tidak menghentikanku.

Lapisan-lapisan itu bercampur. Ayam suwir tenggelam. Cakwe hancur. Kecap menyebar jadi garis-garis cokelat yang berputar, lalu hilang ke dalam kuning pucat yang seragam.

Aku berhenti. Menatapnya.

Dia menatap buburnya yang sudah teraduk. Lama.

Lalu dia mengambil sendok dan memakannya.

Satu suapan. Mengunyah. Menelan.

“Gimana?” bisikku.

Dia menyendok lagi.

“Data menunjukkan,” katanya, dengan suara yang sedikit serak, “aku salah dua belas tahun.”

Di balik panci kaldu, Pak Kumis berhenti mengaduk. Lalu tersenyum lebar di balik kumis putihnya, dan menyalakan radio kecil di gerobaknya. Lagu dangdut lama, pelan, tentang seseorang yang pulang setelah lama pergi.

Aku tidak menangis.

Aku cuma mengetuk meja plastik itu dua kali, dan dia membalas, dan kami makan bubur diaduk berdua di bawah lampu neon Matraman sampai jam tiga pagi.