← Keberatan Ditolak

Chapter Two

Data?

POV: Putra


Rata-rata manusia berkedip lima belas sampai dua puluh kali per menit.

Mahasiswa semester tiga di kelas Statistika Inferensial jam tujuh pagi berkedip kira-kira enam kali per menit, dan sebagian besar kedipannya berlangsung lebih dari tiga detik. Secara teknis, itu bukan kedipan. Itu tidur yang dicicil.

“Jadi,” kataku sambil menunjuk layar proyektor, “kalau p-value kalian di bawah nol koma nol lima, artinya apa?”

Empat puluh dua mahasiswa menatapku. Tiga puluh delapan di antaranya dengan mata yang kosong seperti spreadsheet tanpa isi.

“Artinya... signifikan, Pak?” kata seseorang dari barisan tengah.

“Signifikan apanya?”

Hening.

“Signifikan... hatinya, Pak?”

Kelas tertawa. Yang menjawab itu Kevin, mahasiswa yang setiap minggu duduk di barisan tengah dengan hoodie yang sama dan rambut yang sepertinya tidak pernah bertemu sisir sejak semester satu. Kevin selalu menjawab, dan jawabannya selalu salah dengan cara yang kreatif.

“Artinya,” kataku, menahan diri untuk tidak tersenyum, “kemungkinan hasil yang kalian dapat itu terjadi karena kebetulan semata sangat kecil. Bukan berarti hipotesis kalian pasti benar. Cuma berarti kebetulan bukan penjelasan yang masuk akal.”

Aku menulis di papan: Signifikan ≠ pasti benar.

“Dalam hidup juga begitu,” tambahku, entah kenapa. Biasanya aku tidak memberi nasihat hidup di kelas. “Ada hal-hal yang terjadi terlalu sering untuk disebut kebetulan. Tapi itu belum tentu membuktikan apa-apa.”

“Contohnya, Pak?”

Contohnya: perempuan yang pakai blus merah tiga Sabtu berturut-turut, padahal dia tahu aku pernah bilang aku tidak suka merah.

Contohnya: lutut yang bersentuhan di bawah meja, dan pemilik lutut yang satunya tidak bergerak menjauh selama dua koma tiga detik.

“Contohnya,” kataku, “ayam berkokok setiap pagi sebelum matahari terbit. Korelasi seratus persen. Tapi ayam tidak menyebabkan matahari terbit.”

“Wah, kasihan ayamnya, Pak. Dia pikir dia yang bikin pagi.”

“Iya, Kevin. Banyak makhluk hidup yang punya delusi serupa.”

Kelas tertawa lagi. Aku melanjutkan ke slide berikutnya dan berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan blus merah.


Ada satu hal yang perlu dipahami tentang aku.

Aku bukan orang yang banyak bicara. Bukan karena aku pemalu atau tidak punya pendapat. Aku punya banyak pendapat. Aku cuma tidak melihat gunanya mengucapkan sepuluh kalimat kalau satu sudah cukup.

Kecuali kalau berhadapan dengan Lyodra Kirana.

Dengan Lyodra, satu kalimat tidak pernah cukup, karena dia akan membalas dengan dua puluh, dan dua puluh kalimat itu akan tersusun seperti pasal-pasal yang saling mengunci. Kalau aku tidak membalas, dia menang. Dan Lyodra yang menang punya senyum tertentu, senyum yang miring ke kiri, yang memperlihatkan sedikit gigi taringnya, yang membuat...

Pokoknya aku tidak bisa membiarkan dia menang terlalu sering. Demi stabilitas nasional.

Empat ratus dua belas lawan empat ratus sebelas. Satu poin. Aku tahu dia menghitung. Aku juga menghitung. Bedanya, aku menghitung hal lain juga.

Misalnya: berapa kali dia mengucapkan namaku dalam satu malam. Sabtu kemarin, sembilan kali. Tujuh di antaranya dalam kalimat yang mengandung kata “bodoh”, “salah”, atau “kamu ini”.

Dua lainnya tidak.

Aku tidak akan menjelaskan dua lainnya. Itu data mentah. Belum diolah.


Kelas selesai jam sembilan. Aku kembali ke ruang dosen di lantai tiga, ruangan sempit yang kubagi dengan dua dosen lain yang jarang datang. Ada tiga meja, satu dispenser yang airnya selalu habis, dan satu jendela yang menghadap ke parkiran motor.

Aku baru duduk dan membuka laptop ketika ponselku bergetar.

Lyodra: Aku di depan gedungmu. Ada berkas venue. Turun atau aku naik?

Aku membaca pesan itu satu kali. Dua kali.

Tiga kali, karena aku perlu memastikan dia benar-benar di sini, di kampusku, di jam sembilan pagi hari Senin, bukan di ruang sidang atau kantornya di Kuningan.

Aku: Kenapa nggak kirim email.

Lyodra: Karena vendor-vendornya kirim brosur fisik ke kantorku dan aku nggak punya scanner yang nggak bikin kertas kusut. Dan aku habis sidang di PN Jaktim, cuma lima belas menit dari sini. Turun atau aku naik. Jawab dalam sepuluh detik.

Aku melihat ruanganku. Dispenser kosong. Tumpukan kertas ujian yang belum diperiksa. Mug bertuliskan I’m Mean, Not Average hadiah dari mahasiswa angkatan lalu yang menurut mereka lucu.

Dia akan menertawakan mug itu.

Aku: Turun.

Lyodra: Terlambat. Aku sudah di tangga.

Tentu saja.


Ada fenomena yang selalu terjadi kalau Lyodra masuk ke sebuah ruangan. Aku pernah mencoba mengukurnya secara diam-diam, waktu kami kuliah. Rata-rata, butuh satu koma empat detik sebelum setidaknya tiga kepala menoleh ke arahnya. Di ruang dosen yang cuma berisi aku dan seorang staf administrasi, hasilnya lebih dramatis: Bu Ningsih, staf tata usaha yang sudah bekerja di sini sejak sebelum aku lahir, berhenti mengetik dan menatap pintu dengan mulut setengah terbuka.

Lyodra berdiri di ambang pintu dengan blazer abu-abu, rok pensil hitam, dan rambut hitam panjang yang diikat rendah di tengkuk. Dia masih pakai toga sidang yang dilipat dan disampirkan di lengan. Lipstiknya merah tua, dan di bawah lampu neon kampus yang biasanya membuat semua orang tampak seperti mayat, dia tetap tampak seperti foto sampul majalah hukum yang tidak pernah ada.

Bu Ningsih menoleh padaku, lalu ke Lyodra, lalu padaku lagi. Matanya menyipit penuh arti.

“Pagi, Bu,” kata Lyodra kepada Bu Ningsih, sopan dan manis, sangat berbeda dengan nada yang dia pakai untukku. “Saya cari Pak Putra. Mau setor berkas.”

“Oh, silakan, silakan, Mbak.” Bu Ningsih tersenyum sampai matanya hilang. “Mbak ini... pacarnya Pak Putra?”

“Musuhnya, Bu,” kata Lyodra.

“Musuh,” kataku di saat yang sama.

Bu Ningsih tertawa dengan cara yang menunjukkan dia tidak percaya pada kami berdua, lalu kembali mengetik, tapi kecepatan ketiknya turun drastis. Jelas sedang menguping.

Lyodra berjalan ke mejaku dan menjatuhkan setumpuk brosur di atas kertas ujian mahasiswa. Bunyinya bluk.

“Tujuh venue,” katanya. “Tiga di Jakarta, dua di Bogor, dua di Bandung. Sabrina mau outdoor, Erwin mau indoor karena takut hujan, ibunya Sabrina mau gedung yang ada lampu kristalnya, ibunya Erwin mau yang dekat masjid. Selamat datang di neraka.”

Dia lalu melihat mugku.

Aku melihat dia melihat mugku.

Sudut bibirnya naik.

“I’m mean, not average,“ dia membaca keras-keras. “Siapa yang beliin? Mantan?”

“Mahasiswa.”

“Mahasiswamu lebih lucu daripada kamu.”

“Itu tidak sulit.”

Dia tertawa. Pendek, kaget, seperti tidak sengaja. Tawa yang bukan tawa menang debat, bukan tawa mengejek. Tawa yang keluar karena dia benar-benar merasa lucu.

Aku mengalihkan pandangan ke brosur sebelum wajahku melakukan sesuatu yang tidak bisa kukontrol.

“Duduk,” kataku.

“Aku cuma mau titip.”

“Duduk. Kita bahas sekarang. Aku sudah bikin sistem penilaian.”

Dia mengangkat alis. “Sistem penilaian?”

Aku memutar laptop ke arahnya. Spreadsheet yang kubuat semalam setelah pulang dari Remah, jam setengah dua belas sampai jam dua pagi. Tujuh kriteria: kapasitas, harga, aksesibilitas, risiko cuaca, jarak ke masjid, ketersediaan lampu kristal, dan “potensi drama keluarga”. Masing-masing berbobot. Ada rumus. Ada conditional formatting warna hijau ke merah.

Lyodra menatap layar. Lama.

“Kamu bikin ini kapan?”

“Semalam.”

“Kita baru ditunjuk jadi panitia jam sembilan malam. Kamu pulang jam sebelas.”

“Iya.”

“Kamu begadang bikin spreadsheet.”

“Aku nggak bisa tidur.”

Itu jujur. Aku tidak bisa tidur. Alasannya bukan spreadsheet, tapi spreadsheet adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan tangan supaya tangan itu berhenti mengingat lengan seseorang yang tergelincir di anak tangga yang berderit.

Lyodra menarik kursi di seberang meja dan duduk. Dia menyilangkan kaki. Rok pensilnya naik sedikit.

Aku menatap spreadsheet dengan konsentrasi orang yang sedang membaca hasil biopsi.

“Kolom ‘potensi drama keluarga’,” katanya. “Bobotnya kenapa dua puluh persen? Itu yang paling tinggi.”

“Karena itu variabel paling berpengaruh. Pernikahan di Indonesia gagal bukan karena venue jelek. Pernikahan gagal karena tante-tante.”

“Pernikahannya nggak gagal, Put. Acaranya.”

“Acaranya. Itu maksudku.”

Dia menyipitkan mata. “Kamu bilang ‘pernikahan’.”

“Salah ucap.”

“Kamu dosen statistik. Kamu nggak pernah salah ucap. Kamu milih setiap kata kayak milih sampel.”

“Kadang sampelnya bias.”

Dia diam. Menatapku. Ada sesuatu yang lewat di matanya, sesuatu yang cepat dan tajam, seperti dia baru saja mendengar sesuatu di balik kalimatku yang tidak kumaksudkan untuk terdengar.

Lalu dia kembali ke layar.

“Oke. Aku keberatan dengan bobotnya. Aksesibilitas harusnya lebih tinggi. Ibunya Erwin pakai kursi roda.”

Aku berkedip. “Sejak kapan?”

“Sejak operasi lutut bulan lalu. Sementara, tapi sampai Mei mungkin masih. Erwin cerita di grup, kamu nggak baca.”

Aku membuka spreadsheet dan mengubah bobot aksesibilitas dari sepuluh ke dua puluh persen tanpa berkata apa-apa. Warna di kolom hasil bergeser. Dua venue di Bandung turun jadi merah karena tangganya banyak.

“Udah,” kataku.

Dia tampak sedikit terkejut. “Kamu nggak debat?”

“Kamu benar.”

“Kamu nggak pernah bilang aku benar.”

“Aku bilang kalau kamu benar. Kamu cuma jarang benar.”

“Wah.” Dia bersandar, melipat tangan. “Wah. Oke. Satu nol.”

“Ini bukan debat. Nggak dihitung.”

“Semua dihitung.”

Kami kemudian menghabiskan empat puluh menit berikutnya membahas tujuh venue. Atau lebih tepatnya, membahas, berdebat, saling memotong, saling mengoreksi angka, dan sepakat soal tiga hal yang dalam kondisi normal tidak perlu disepakati karena jelas. Bu Ningsih sudah berhenti pura-pura mengetik. Dia makan gorengan sambil menonton kami seperti menonton sinetron jam tujuh malam.

Di tengah perdebatan soal apakah venue di Sentul “terlalu jauh” atau “masih masuk akal”, Lyodra mencondongkan badan ke depan untuk menunjuk sesuatu di layar laptop. Rambutnya yang diikat rendah tergelincir ke bahu. Wangi parfumnya, sesuatu yang bersih dan sedikit pedas, seperti jeruk dan lada, mengenai wajahku dari jarak tiga puluh senti.

Tiga puluh senti.

Jari telunjukku bergerak sendiri.

Tok. Tok.

Dua kali, di permukaan meja. Pelan. Hampir tidak terdengar.

Lyodra berhenti.

Setengah detik. Mungkin kurang. Tangannya yang sedang menunjuk layar membeku di udara. Matanya tidak bergerak dari spreadsheet. Bahunya kaku.

Lalu dia melanjutkan kalimatnya seolah tidak ada apa-apa. “...jadi kalau dari tol, Sentul cuma empat puluh menit, masih masuk akal.”

Aku menarik tanganku ke bawah meja dan mengepalkannya.

Kebiasaan lama. Aku tidak tahu kenapa tanganku masih ingat. Aku tidak memerintahkannya. Jariku melakukannya sendiri, seperti otot yang terlatih bertahun-tahun pada gerakan yang sudah lama tidak dipakai, lalu tiba-tiba ada pemicu dan semuanya kembali.

Lyodra tidak menoleh. Dia tidak bertanya. Dia tidak membahasnya.

Itu lebih buruk daripada kalau dia bertanya.

“Oke,” kataku. Suaraku keluar sedikit lebih serak. “Sentul masuk tiga besar.”

“Sabtu kita survei. Tiga venue teratas. Berangkat jam tujuh.”

“Kita?”

“Kita ketua panitia. Atau kamu mau aku survei sendiri terus kamu protes semua pilihanku?”

“Aku nggak pernah protes semua pilihanmu.”

“Kamu protes warna sepatu yang kupakai di nikahan sepupuku.”

“Sepatumu warna ungu terong. Bajumu hijau botol. Itu kejahatan visual.”

Dia berdiri, mengambil toganya. “Sabtu jam tujuh. Jemput aku. Mobilku masuk bengkel.”

Aku tidak sempat menjawab. Dia sudah berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti, menoleh sedikit ke arah Bu Ningsih, tersenyum manis, “Permisi, Bu,” lalu menoleh ke arahku.

Senyumnya berubah. Lebih tipis. Lebih miring.

“Mugmu jelek,” katanya.

Lalu dia pergi.

Aku duduk diam di kursiku. Spreadsheet masih terbuka. Tujuh venue, tiga hijau, empat merah.

Bu Ningsih mengunyah gorengan dengan suara yang sangat keras.

“Musuh, ya, Pak?” katanya tanpa menoleh.

“Iya, Bu.”

“Saya dulu juga musuhan sama suami saya, Pak. Tiga tahun. Sekarang anak kami empat.”

Aku tidak menjawab. Aku menutup laptop dan menatap meja, tepat di titik di mana jariku tadi mengetuk.

Dua kali.

Aku harus berhenti melakukan itu.


Siangnya, di grup circle, Erwin mengirim pesan.

Erwin: Tadi pagi Lyodra ke kampusmu, Put?

Aku: Setor berkas venue.

Erwin: Oh. Berkas venue. Oke.

Erwin: Berapa lama?

Aku: Empat puluh menit.

Erwin: Empat puluh menit buat setor berkas.

Alea: 🍿

Sabrina: Putra kalian ngapain aja empat puluh menit

Aku: Bahas tujuh venue. Aku bikin spreadsheet.

Sabrina: ya ampun kamu bikin spreadsheet buat nikahanku 😭 aku terharu

Lyodra: Spreadsheetnya jelek. Bobotnya salah. Aku yang benerin.

Aku: Kamu benerin satu kolom.

Lyodra: Kolom paling penting.

Alea: Skor sementara hari ini?

Lyodra: 1–0 aku.

Aku: Itu bukan debat. Nggak dihitung.

Lyodra: Semua dihitung.

Alea: Hakim memutuskan... nggak dihitung karena nggak ada saksi independen.

Lyodra: Ada saksi. Bu Ningsih.

Alea: Siapa Bu Ningsih

Aku: Staf TU di jurusanku.

Alea: Hah. Lyodra kenal nama staf TU di jurusanmu?

Hening di grup selama tiga menit penuh.

Lyodra: Aku advokat. Aku selalu catat nama saksi.

Erwin: Hmm.

Sabrina: Hmmmmm.

Alea: Hmmmmmmmmmmmmmm.

Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah di atas meja. Di sebelahnya, mug I’m Mean, Not Average masih kosong.

Aku tidak pernah memberitahu siapa pun nama Bu Ningsih.

Tapi lima tahun lalu, Lyodra pernah datang ke jurusan ini. Lebih dari sekali. Dan Bu Ningsih sudah bekerja di sini sejak sebelum aku lahir.

Aku mengambil mug itu dan berjalan ke dispenser. Kosong, tentu saja. Aku berdiri di depan dispenser kosong itu cukup lama sampai Bu Ningsih bertanya apakah aku baik-baik saja.

“Baik, Bu,” kataku.

Data tidak berbohong. Tapi data bisa disimpan di laci, tidak dianalisis, dan dibiarkan berdebu bertahun-tahun.

Itu juga sebuah pilihan.