Chapter Thirty Seven
Keputusan Sendiri
POV: Lyodra
Aku membaca pesannya jam enam pagi.
Di kasur lipat di ruang tengah, di sebelah Ibu yang masih tidur, dengan cahaya matahari pertama yang masuk lewat kaca nako dan membuat garis-garis tipis di selimut kami.
Aku membacanya sekali. Lalu mematikan layar.
Aku tidak membacanya lagi selama tiga hari.
Bukan karena aku tidak mau. Karena aku tahu kalau aku membacanya lagi, aku akan membalas. Dan kalau aku membalas sekarang, keputusanku soal Singapura akan jadi jawaban untuk pesan itu. Bukan jawaban untuk diriku sendiri.
Pilih sendiri, Ly. Bukan buat Ibu. Bukan buat anak itu. Buat kamu.
Jadi aku tidak membalas. Aku memilih.
Hari pertama, aku membuat daftar.
Aku duduk di ruanganku di lantai dua puluh tiga dengan buku catatan kulit cokelat terbuka di halaman baru. Halaman setelah halaman yang kurobek. Masih ada sisa-sisa kertas robekan di jilidan, bergerigi.
Di bagian atas, aku menulis:
Singapura. Untuk aku.
Lalu dua kolom. Pergi. Tinggal.
Di kolom Pergi, aku menulis dengan cepat. Jalur partner. Arbitrase internasional. Klien besar. Pengalaman lintas negara. Gaji tiga kali lipat. Membuktikan aku bisa.
Aku berhenti di poin terakhir.
Membuktikan aku bisa. Membuktikan ke siapa?
Ke Ibu. Bahwa aku bukan dia. Bahwa aku pergi ke tempat yang dia tidak pergi.
Tapi Ibu sudah bilang dia tidak butuh bukti itu. Ibu tidur nyenyak tiga malam berturut-turut. Ibu bersenandung waktu memasak sayur asem, padahal ini hari Sabtu.
Aku mencoret poin itu.
Di kolom Tinggal, aku lama tidak menulis apa-apa. Pena di atas kertas. Tidak bergerak.
Lalu aku menulis satu kata. Putra.
Aku menatap kata itu. Lalu mencoretnya.
Bukan karena itu tidak benar. Karena itu bukan alasan. Kalau aku tinggal karena dia, aku kembali ke lingkaran yang sama. Ibu yang tinggal karena ayah. Aku yang hampir tinggal karena Putra lima tahun lalu. Lingkaran yang Ibu bilang harus diputus.
Aku harus tahu apa yang kumau tanpa dia di daftar itu.
Kolom Tinggal kosong lagi.
Aku menutup buku catatan. Aku tidak tahu.
Hari kedua, aku ke pengadilan.
Bukan untuk sidang. Tidak ada sidang hari itu. Aku pergi ke Pengadilan Tinggi Jakarta untuk mengambil salinan putusan banding perkara koperasi. Putusannya keluar dua hari lalu. Banding Dana Lekas ditolak. Putusan tingkat pertama dikuatkan.
Kami menang.
Aku tahu itu dari email Pak Hadiwinata, yang hanya berisi dua kata: Selamat. Menang. Tapi aku ingin memegang salinannya sendiri. Aku ingin membacanya di atas kertas, dengan cap dan tanda tangan majelis.
Di lobi Pengadilan Tinggi, aku bertemu Pak Darsono.
Ketua Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama. Laki-laki enam puluh tahun dengan kulit cokelat gelap karena matahari sawah, kemeja batik yang sudah pudar warnanya, dan peci hitam. Dia datang dari Garut dengan bus malam. Tujuh jam. Dia ingin melihat putusan itu sendiri juga.
Dia mengenaliku. Dia berjalan ke arahku dengan langkah yang terburu-buru, dan sebelum aku sempat bilang apa-apa, dia memegang kedua tanganku.
“Bu Lyodra,” katanya. Suaranya bergetar. “Bu Lyodra. Terima kasih.”
“Pak, itu kerja tim. Ada Pak Hadiwinata, ada...”
“Bu Lyodra yang tanya soal sampel. Saya baca transkripnya. Anak saya yang bacain, saya nggak ngerti bahasa hukum. Tapi anak saya bilang, Ibu Lyodra yang tanya pertanyaan yang bikin semuanya kebuka.” Matanya basah. “Empat puluh persen anggota kami ditolak pinjam, Bu. Mereka mau beli pupuk. Mau beli bibit. Mau benerin atap rumah. Sistem itu bilang mereka nggak layak, karena mereka nggak punya HP pintar, nggak punya rekening bank. Mereka udah pinjam di koperasi tiga puluh tahun, Bu. Nggak pernah nunggak.”
Aku tidak bisa bicara.
“Sekarang mereka bisa pinjam lagi,” kata Pak Darsono. “Bulan depan masa tanam. Bu Narti, yang suaminya meninggal tahun lalu, dia mau beli bibit cabai. Pak Ujang mau benerin kandang kambing.” Dia meremas tanganku. “Bu Lyodra bikin itu kejadian.”
Dia mengeluarkan sesuatu dari tas plastik di tangannya. Kotak kardus kecil diikat tali rafia.
“Dari ibu-ibu koperasi,” katanya. “Dodol. Bikin sendiri. Mereka bilang, kalau Bu Lyodra ke Garut, mampir. Mereka mau masak buat Ibu.”
Aku menerima kotak dodol itu dengan dua tangan.
Lalu Pak Darsono pergi, dengan peci hitam dan kemeja batik pudar dan langkah yang lebih ringan dari waktu datang, untuk naik bus malam tujuh jam pulang ke Garut.
Aku berdiri di lobi Pengadilan Tinggi Jakarta dengan kotak dodol dan salinan putusan, dan aku tahu.
Aku tahu dengan kepastian yang sama seperti aku tahu bahwa bubur harus diaduk.
Malamnya, aku membuka buku catatan kulit cokelat lagi.
Kolom Tinggal.
Aku menulis.
1. Karena aku jadi advokat bukan untuk arbitrase korporasi lintas negara. Aku jadi advokat karena di umur dua belas, aku duduk di meja makan dan belajar bahwa orang yang kalah adalah orang yang diam. Aku mau jadi suara buat orang-orang yang nggak bisa bicara di ruang sidang. Pak Darsono. Bu Narti. Pak Ujang dan kandang kambingnya.
2. Karena ruang sidang di Jakarta, dengan AC yang rusak dan kopi kantin yang biadab dan hakim yang tidak suka lipstik merah, adalah tempat aku merasa paling hidup.
3. Karena Ibu baru belajar tidur. Bukan karena Ibu butuh aku. Karena aku mau lihat Ibu sepedaan di atas es di Leiden suatu hari nanti, dan aku mau jadi orang yang beliin tiketnya.
4. Karena Remah. Karena Sabtu malam. Karena papan skor. Karena Alea yang tahu segalanya dan Sabrina yang nangis karena debu emas dan Erwin yang bawa galah buat ambil mangga.
Aku berhenti.
Lalu aku menulis poin lima. Kecil. Di pojok bawah.
5. Karena aku mau. Itu cukup.
Aku menatap daftar itu.
Tidak ada nama Putra di sana. Aku sengaja tidak menulisnya. Bukan karena dia tidak ada di sana. Karena dia ada di mana-mana. Di bubur diaduk dan kopi gula satu sendok dan ruang sidang tempat dia menjawab dengan jujur. Di Remah dan di papan skor. Di kacamata yang kubawa di tas.
Tapi dia bukan alasannya.
Dia adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ditulis di kolom.
Senin pagi, aku mengetuk pintu ruangan Pak Hadiwinata.
Aku mengembalikan amplop putih tebal itu. Belum dibuka lagi sejak hari dia memberikannya.
“Saya tidak ambil, Pak.”
Pak Hadiwinata menatap amplop itu. Lalu menatapku. Lama. Dengan mata orang tua yang sudah empat puluh tahun membaca wajah saksi.
“Karena laki-laki?” tanyanya.
“Bukan, Pak.”
“Karena ibumu?”
“Bukan, Pak.”
“Terus karena apa?”
Aku menaruh kotak dodol dari Garut di atas mejanya. Pak Hadiwinata menatap kotak itu dengan alis berkerut.
“Karena ini, Pak,” kataku. “Ibu-ibu koperasi bikin sendiri. Mereka bilang kalau saya ke Garut, mereka mau masak buat saya.” Aku menatapnya. “Saya mau ke Garut, Pak. Bukan ke Singapura. Saya mau perkara-perkara kayak gini. Saya mau tetap di ruang sidang Jakarta.”
Pak Hadiwinata diam lama.
Lalu dia membuka kotak dodol itu. Mengambil satu. Membuka bungkus plastiknya. Memakannya.
Mengunyah. Lambat.
“Enak,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Firma ini butuh orang yang ngerti dodol, Lyodra.” Dia menaruh amplop putih itu di laci mejanya. “Bulan depan kita rapat partner. Saya mau usulkan divisi baru. Litigasi kepentingan publik. Koperasi, petani, buruh, sengketa yang klien-klien besar kita nggak pernah sentuh. Butuh orang yang memimpin.” Dia menatapku. “Jalurnya lebih lambat dari Singapura. Gajinya lebih kecil. Kliennya bayar pakai dodol.”
Aku tidak bisa menahan senyum.
“Saya mau, Pak.”
“Saya belum tawarin.”
“Saya keberatan dengan penundaan tawaran itu, Pak.”
Pak Hadiwinata menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku bekerja di firmanya, dia tertawa. Tawa yang keras, kaget, seperti batuk.
“Keberatan diterima,” katanya. “Keluar dari ruangan saya. Bawa dodolnya. Sisain dua.”
Hujan turun jam empat sore.
Hujan April yang deras, seperti hujan di Bogor di bulan Oktober. Seperti ember raksasa yang dibalik dari langit.
Aku berdiri di lobi gedung kantorku di Kuningan, menatap hujan. Lalu aku membuka tas dan mengeluarkan payung lipat.
Payung hitam. Ukuran standar. Cukup untuk satu orang dewasa dan setengah orang dewasa lain.
Aku membelinya minggu lalu. Di minimarket di dekat Remah. Karena seseorang pernah bertanya padaku di Bogor, terus kenapa nggak bawa payung?, dan aku menjawab karena aku pikir kamu yang bawa.
Aku tidak mau lagi berpikir dia yang bawa.
Aku menyetir ke Rawamangun di bawah hujan.
Gedung jurusan statistika jam lima sore hampir kosong. Lampu-lampu koridor menyala redup. Hujan berdentum di atap. Bu Ningsih sudah pulang. Dispenser di ruang dosen penuh, aku melihatnya dari pintu kaca.
Ruang dosennya kosong.
Aku berjalan menyusuri koridor. Melewati papan pengumuman. Melewati ruang-ruang kelas yang gelap.
Satu ruang kelas lampunya menyala.
Aku berhenti di ambang pintunya.
Dia di sana. Duduk di kursi dosen di depan kelas, membelakangi pintu, menghadap papan tulis putih. Kemeja biru muda. Bahu yang sedikit membungkuk. Kacamata.
Di papan tulis di depannya, tulisan-tulisan. Hitam dan biru.
Data apa yang bilang aku harus mundur?
H₀: Kalau aku minta dia tinggal, aku jadi alasan dia tidak pergi.
Sumber 3: Asumsiku sendiri. Digarisbawahi dua kali.
Itu bukan data. Itu ketakutan yang diberi label data.
H₁: Kalau Bapak minta, Ibu Lyodra bisa milih sendiri. Minta ≠ mutusin. Dengan tulisan biru yang miring dan berantakan.
Kesimpulan: Tolak H₀. Mundur bukan kebaikan. Mundur juga keputusan. Dan aku tidak punya hak mengambilnya sendirian.
Aku membaca semuanya. Dari atas sampai bawah. Dua kali.
Dia tidak tahu aku di sana. Hujan terlalu keras. Dia duduk diam menatap papan tulis seperti menatap sesuatu yang belum selesai dia hitung.
Aku melangkah masuk. Pelan.
Sampai di meja dosen di depan kelas. Di sebelah kursinya. Dia masih belum menoleh.
Aku mengangkat tangan dan mengetuk permukaan meja.
Tok. Tok.
Dia membeku.
Bahunya, yang membungkuk, tiba-tiba tegang. Tangannya, yang tadi di atas pangkuan, berhenti bergerak.
Pelan-pelan, dia menoleh.
Dia menatapku. Rambutku basah di ujung karena berjalan dari parkiran meski membawa payung. Payung hitam yang masih meneteskan air di tanganku. Lipstik merah tua.
Dia tidak bilang apa-apa.
Lalu tangannya, yang gemetar, terangkat ke permukaan meja. Dan jari telunjuknya mengetuk.
Tok. Tok.
Dibalas.
“Aku nggak ambil Singapura,” kataku.
Dia menatapku. Matanya di balik kacamata basah.
“Aku nggak ambil,” ulangku. “Bukan karena kamu minta. Aku belum baca pesanmu lagi sejak hari Sabtu. Aku sengaja nggak baca, biar aku nggak milih buat kamu. Aku milih buat aku. Karena Pak Darsono dari Garut. Karena dodol. Karena ruang sidang Jakarta. Karena aku mau.”
Dia tidak bergerak.
“Tapi,” kataku, dan suaraku pecah sedikit, “aku seneng kamu minta.”
Dia berdiri.
“Aku seneng banget kamu minta, Put. Lima tahun aku nunggu kamu minta. Dan waktu kamu akhirnya minta, aku nggak butuh lagi buat mutusin. Tapi aku seneng. Aku seneng sampai aku nggak bisa tidur tiga malam karena aku takut kalau aku baca pesanmu lagi, aku bakal lari ke kosmu jam dua pagi dan...”
Dia memelukku.
Payung hitam jatuh ke lantai kelas. Air hujan menyiprat ke sepatuku.
Dia memelukku sangat erat. Seperti seseorang yang takut kalau dia melepas, aku akan berubah jadi asap. Wajahnya di rambutku yang basah. Tangannya di punggungku. Jantungnya berdetak di bawah telingaku, sangat cepat, seratus empat puluh lima, mungkin lebih.
Aku memeluknya balik.
Kami berdiri seperti itu di depan papan tulis yang penuh uji hipotesis tentang dirinya sendiri, di ruang kelas yang kosong, dengan hujan April yang berdentum di atap, lama sekali.
Aku tidak menghitung berapa lama.
“Ly,” bisiknya akhirnya. Ke rambutku.
“Hm.”
“Kita harus bicara.”
Aku tertawa. Basah. Di dadanya. “Itu kalimatku.”
“Kalimat kita.”
“Kita harus bicara,” kataku. “Dengan benar. Soal semuanya. Soal lima tahun lalu. Soal kacamata. Soal kenapa aku nggak pernah nanya kamu mau apa. Soal kenapa kamu nggak pernah bilang.”
“Kacamata?”
Aku mengangkat kepala. Menatapnya.
“Nanti,” kataku. “Belum sekarang.”
Dia menatapku lama. Lalu mengangguk.
“Belum,” katanya. “Itu beda dari nol.”
“Kamu dapat itu dari mana?”
“Erwin.”
Aku tertawa lagi. Dia tersenyum. Lebar. Tanpa ditahan. Di depan siapa pun yang bisa melihat, kalau ada orang lain di gedung ini.
“Habis nikahan Sabrina,” kataku. “Kita bicara. Semuanya. Aku janji.”
“Aku janji juga.”
Dia membungkuk dan mengambil payung hitam dari lantai. Membukanya. Mengangkatnya di antara kami.
“Satu payung,” katanya.
“Masing-masing basah setengah.”
“Itu kompromi.”
“Kata yang dulu nggak ada di kamusmu.”
“Sekarang ada.”
Kami berjalan keluar dari gedung jurusan statistika di bawah satu payung hitam yang terlalu kecil. Hujan April. Bahu kami menempel.
Di tengah jalan ke parkiran, aku sadar sesuatu. Payungnya condong ke arahku. Dia memegang gagangnya dan memiringkannya supaya lebih banyak bagian payung menaungi kepalaku. Bahu kirinya sudah basah kuyup.
Aku tidak merebut payungnya.
Aku cuma melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menariknya lebih dekat, sampai tidak ada bahu yang basah, sampai payung itu cukup untuk dua orang.
Ternyata payung itu selalu cukup. Kami cuma tidak pernah cukup dekat.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri reading
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru