Chapter Sixteen
Perjanjian Baru
POV: Putra
Aku sampai di warung kopi jam enam empat puluh.
Warung Kopi Bu Romlah, di ujung gang dekat rumah Lyodra di Tebet. Bangunannya separuh tembok separuh papan, dengan atap seng yang berkarat di pinggir, tiga meja kayu panjang, dan bangku-bangku plastik merah. Di dinding ada kalender bergambar artis dangdut tahun lalu yang tidak pernah diganti. Kopinya tubruk, ampasnya tebal, dan gorengannya digoreng dengan minyak yang mungkin sudah dipakai sejak era reformasi.
Aku memesan dua kopi hitam. Satu dengan gula satu sendok, satu tanpa gula. Lalu duduk di meja paling pojok dan menunggu.
Aku tidak tidur semalam. Aku tidak tahu apakah dia tidur. Aku tahu satu hal: jam tiga pagi, dia mengirim satu pesan. Isinya cuma satu kata.
Jangan telat.
Aku tidak telat. Aku datang dua puluh menit lebih awal. Itu kebiasaan yang tidak bisa kuhentikan.
Jam tujuh kurang dua menit, dia muncul di mulut gang.
Kaus putih polos. Celana kain abu-abu. Sandal. Rambut dikuncir tinggi. Wajah tanpa riasan sama sekali, kecuali lipstik. Merah tua. Tentu saja. Dia membawa tas kanvas di bahu, dan dari bentuknya, aku tahu isinya buku catatan dan setidaknya tiga pena.
Dia berhenti di ambang warung. Menatapku. Aku menatapnya.
Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Matanya sedikit bengkak. Dia tidak tidur juga.
Lalu dia berjalan ke mejaku, duduk di bangku plastik merah di seberangku, dan menarik kopi bergula satu sendok tanpa bertanya.
“Kamu sudah pesan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu tahu aku pakai gula satu sendok.”
“Dua belas tahun, Ly.”
Dia menyesap kopinya. Meringis. “Ini lebih buruk dari kopi kantin pengadilan.”
“Ini kopi tubruk Bu Romlah. Legendaris.”
“Legendaris buruknya.”
Bu Romlah, perempuan gemuk dengan daster batik dan rol rambut di kepala, menoleh dari balik etalase gorengan. “Saya dengar itu, Mbak Lyodra.”
“Maaf, Bu. Kopinya enak, Bu.”
“Mbak dari kecil beli kopi di sini, baru sekarang bilang enak.”
Lyodra menunduk ke kopinya dengan wajah merah. Aku menahan senyum di balik gelasku.
Dia mengeluarkan buku catatan dari tas kanvasnya. Sampul kulit cokelat, halamannya sudah setengah terisi. Dia membukanya ke halaman yang sudah ditandai dengan pita. Halaman itu penuh tulisan tangannya yang miring dan rapat, dengan coretan di sana-sini.
“Poin-poin,” katanya.
“Berapa?”
“Dua belas.”
“Kamu begadang nulis dua belas poin.”
“Awalnya dua puluh tiga. Aku coret sebelas.”
“Kenapa?”
“Karena sebelas itu terlalu emosional.” Dia menatap halaman itu. “Dan karena tiga di antaranya isinya cuma kenapa kamu pakai kemeja hitam semalam.”
Aku diam.
Dia menghela napas. Lalu menutup buku catatan itu, membukanya lagi, dan menatapku dengan wajah profesional. Wajah sidang. Wajah orang yang akan membacakan dakwaan.
“Oke. Pertama, kita harus sepakat soal definisi.”
“Definisi apa?”
“Definisi kita.”
Aku menunggu.
“Aku nggak mau ngulang lima tahun lalu,” katanya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. “Aku nggak mau kita jadi sesuatu yang nggak punya nama, terus tiba-tiba hilang. Jadi kita kasih nama. Kita bikin aturan. Kita bikin semuanya jelas.”
“Perjanjian.”
“Perjanjian.” Dia mengangguk. “Pihak Pertama dan Pihak Kedua.”
“Aku Pihak Kedua?”
“Aku yang nyusun perjanjiannya. Aku Pihak Pertama.”
“Itu nggak adil.”
“Itu standar. Yang menyusun drafnya Pihak Pertama.”
“Data?”
“Ini hukum perdata, Put. Bukan statistik. Nggak ada data.”
Bu Romlah, yang sedang menggoreng tempe mendoan di wajan besar, berhenti mengaduk minyak. Telinganya miring ke arah kami.
Lyodra mengambil serbet kertas dari tempat tisu di meja. Serbet kertas tipis warna putih dengan logo warung yang sudah pudar. Dia mulai menulis di atasnya dengan pena, karena katanya perjanjian harus ditulis di media yang bisa dirobek kalau dilanggar, biar ada efek dramatisnya.
Dia menulis sambil membacakan.
“Pasal satu. Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat untuk...” Dia berhenti. Pena di udara.
“Untuk apa?” tanyaku.
Dia menatap serbet. Telinganya merah.
“Pacaran,” kataku.
Dia mengangkat kepala. Menatapku.
“Kamu bisa ngomongnya,” kataku. “Itu bukan kata kotor.”
“Aku tahu itu bukan kata kotor.”
“Terus kenapa kamu nggak tulis?”
“Karena,” katanya, mencoret sesuatu yang belum ditulis, “aku pengacara. Kata-kata di perjanjian harus presisi. Pacaran itu terlalu umum. Nggak ada definisi hukumnya.”
“Terus apa?”
Dia menulis. Pelan. Lalu membacakan dengan suara yang hampir tidak terdengar:
“Pasal satu. Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat untuk tidak lagi menjadi musuh.”
Dia memutar serbet itu ke arahku.
Aku membacanya. Tulisan tangannya miring. Huruf m di kata musuh sedikit gemetar.
“Itu pasal satu yang bagus,” kataku.
“Aku tahu.”
“Lanjut.”
Pasal dua adalah soal kerahasiaan.
“Circle nggak boleh tahu,” katanya. “Belum. Mereka lagi sibuk sama nikahan. Kalau mereka tahu sekarang, semua perhatian pindah ke kita. Sabrina bakal nangis. Alea bakal bikin papan skor baru. Erwin bakal...”
“Erwin bakal apa?”
“Aku nggak tahu Erwin bakal apa. Itu masalahnya. Erwin itu wildcard.”
“Jadi?”
“Jadi kita rahasiakan. Sampai nikahan Sabrina selesai. Habis itu kita bilang. Bareng-bareng. Dengan benar.”
“Mei.”
“Mei.”
Empat bulan lagi. Empat bulan. Angka yang sama.
Dia menyadarinya di saat yang sama denganku. Aku melihat matanya melebar sedikit.
“Itu kebetulan,” katanya.
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Kamu mikir.”
“Aku selalu mikir.”
Dia menulis pasal dua. Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat merahasiakan perjanjian ini dari circle sampai tanggal pernikahan Sabrina dan Erwin.
Pasal tiga adalah usulanku.
“Di depan circle, kita tetap berdebat,” kataku.
“Tentu saja.”
“Bukan tentu saja. Harus dicatat. Kalau kita tiba-tiba berhenti debat, mereka curiga dalam lima menit. Alea punya statistik frekuensi debat kita. Tiga koma dua per pertemuan. Kalau angkanya turun, itu anomali.”
Lyodra menatapku dengan mata menyipit. “Kamu tahu statistik Alea?”
“Aku yang ngajarin Alea cara ngitung rata-rata.”
Dia menulis pasal tiga. Di hadapan circle, Pihak Pertama dan Pihak Kedua wajib tetap berdebat dengan frekuensi minimal tiga kali per pertemuan.
Lalu dia menambahkan sendiri pasal empat: Pihak Kedua dilarang tersenyum di grup WA.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu kalau senyum, emotikonmu berubah. Biasanya kamu nggak pernah pakai emotikon. Kalau tiba-tiba kamu kirim emotikon senyum, Alea langsung tahu.”
“Aku nggak pernah kirim emotikon senyum.”
“Kamu kirim satu. Tiga tahun lalu. Waktu aku menang debat soal film horor. Alea masih ingat.”
Aku tidak ingat. Tapi aku percaya.
Aku mengambil pena dari tangannya dan menulis pasal lima sendiri, dengan tulisan tanganku yang kecil dan tegak.
Pihak Pertama wajib tetap menghina baju Pihak Kedua minimal sekali seminggu, di hadapan circle, untuk menjaga kredibilitas.
Lyodra membacanya. Lalu tertawa. Tertawa yang pecah tiba-tiba, kaget, seperti tidak sengaja. Kepalanya terdorong ke belakang, dan Bu Romlah menoleh dari wajan dengan wajah heran.
“Itu pasal yang sangat bagus,” kata Lyodra di sela tawanya.
“Aku tahu.”
“Aku bakal menikmati pasal itu.”
“Aku tahu.”
Kami terus menulis. Serbet pertama penuh. Lyodra mengambil serbet kedua.
Pasal enam: Kencan dilakukan di lokasi yang secara statistik tidak mungkin dikunjungi anggota circle. Usulanku. Aku sudah membuat daftar di kepala: perpustakaan hukum, pameran data, warung bubur jam dua pagi.
Pasal tujuh: Pihak Kedua berhak mengetuk meja dua kali kapan saja. Pihak Pertama wajib membalas.
Aku yang menulisnya. Dia membacanya lama. Jarinya menyentuh huruf-huruf di serbet itu.
“Wajib,” katanya.
“Wajib.”
“Kalau aku nggak balas?”
“Kamu nggak balas Sabtu kemarin. Di Remah. Aku ngetuk, kamu nggak balas.”
Dia menunduk. “Aku nggak bisa. Waktu itu.”
“Aku tahu. Makanya sekarang wajib.”
Dia tidak menjawab. Dia cuma mengulurkan tangan ke tengah meja dan mengetuk kayu meja warung Bu Romlah dua kali.
Tok. Tok.
Aku membalas.
Bu Romlah berhenti menggoreng sama sekali.
Pasal delapan, usulan Lyodra, ditulis dengan tekanan pena yang sangat kuat sampai serbetnya hampir robek:
Tidak ada keputusan besar yang diambil sepihak. Semua keputusan besar harus diperdebatkan terlebih dahulu sampai kedua pihak sepakat.
Aku menatap pasal itu.
“Keputusan besar itu apa?” tanyaku.
“Apa pun yang mengubah hidup salah satu dari kita. Pekerjaan. Tempat tinggal. Pindah kota. Pindah negara.” Dia menatapku lurus. “Lima tahun lalu kita nggak punya pasal ini. Lihat hasilnya.”
Lima tahun lalu kita nggak punya pasal ini.
Lima tahun lalu ada satu keputusan besar yang diambil sepihak. Bukan oleh dia.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku cuma mengangguk.
Dia menulis tanggal di bawahnya. Lalu dia menatap serbet itu dengan alis berkerut.
“Ada yang kurang.”
“Apa?”
“Pasal soal berakhir. Kalau salah satu pihak mau berhenti, gimana?”
“Kamu mau bikin pasal soal putus? Di hari pertama?”
“Setiap kontrak yang baik punya klausul pengakhiran.”
“Ly.”
“Aku serius.” Dia mengetuk-ngetuk pena di meja. “Kalau salah satu dari kita mau berhenti, harus bilang langsung. Nggak boleh pelan-pelan menjauh. Nggak boleh balas pesan lebih lambat. Nggak boleh ngomong Leiden itu kampus bagus dengan nada datar sampai yang satu lagi nyerah duluan.”
Aku membeku.
Dia ingat. Dia ingat persis kalimatnya. Dia ingat nadanya.
“Bilang langsung,” ulangnya, lebih pelan. “Itu aja. Itu pasal sembilan.”
Aku mengambil pena dan menulis pasal sembilan dengan tulisan tanganku. Kalau salah satu pihak ingin mengakhiri perjanjian ini, ia wajib mengatakannya secara langsung.
Lalu aku menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya, kecil, sebelum dia sempat membaca.
Pihak Kedua tidak berencana menggunakan pasal ini.
Dia membaca. Lama. Matanya basah sebentar, lalu dia mengedip dan kering lagi.
“Itu bukan bahasa hukum,” katanya.
“Aku bukan pengacara.”
Ada satu pasal yang tidak kutulis.
Aku memikirkannya sepanjang waktu dia membaca serbet kedua. Aku memikirkannya waktu dia menyalin semuanya ke buku catatan kulit cokelatnya, karena serbet terlalu rapuh untuk dokumen yang sepenting ini. Aku memikirkannya waktu dia menyesap kopi tubruk Bu Romlah yang sudah dingin dan meringis lagi.
Pasal tentang kejujuran. Tentang hal-hal yang terjadi di bulan Mei dan Juni lima tahun lalu, yang dia tidak tahu.
Aku tidak menulisnya. Aku tahu aku seharusnya menulisnya. Aku tahu pasal delapan yang dia tulis dengan tekanan pena sampai serbetnya hampir robek adalah tentang hal yang sama. Aku tahu.
Tapi dia sedang tersenyum ke buku catatannya dengan cara yang belum pernah kulihat dalam lima tahun. Dan pagi ini, di warung kopi dengan kalender artis dangdut tahun lalu, aku tidak sanggup menjadi orang yang menghapus senyum itu.
Nanti. Aku akan mengatakannya nanti.
Aku dosen statistik. Aku tahu bahwa nanti adalah variabel yang paling tidak bisa diprediksi dalam model apa pun. Aku tahu bahwa semakin lama sebuah variabel dibiarkan tanpa diukur, semakin besar kesalahan yang menumpuk di sekitarnya.
Aku tahu semua itu. Aku tetap tidak menulisnya.
Dia merobek dua serbet itu dengan hati-hati dari sisa tumpukan, melipatnya, dan memasukkannya ke buku catatan.
“Tanda tangan,” katanya.
“Di mana?”
“Di sini.” Dia menunjuk bagian bawah halaman buku catatannya, di mana dia sudah menyalin semua pasal dengan rapi. Ada dua garis kosong. Di atas garis kiri: Pihak Pertama. Di atas garis kanan: Pihak Kedua.
Dia menandatangani duluan. Tanda tangannya cepat dan tajam, seperti dia.
Aku menandatangani di bawahnya. Pelan. Rapi.
Lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke seberang meja. Seperti untuk berjabat tangan. Seperti menutup kesepakatan bisnis.
Aku menjabat tangannya.
Lalu tidak melepasnya.
Dia juga tidak melepasnya.
Jabat tangan itu berubah pelan-pelan, tanpa ada yang memutuskannya. Jari-jariku bergeser ke sela-sela jarinya. Jempolnya mengusap punggung tanganku. Tangan kami turun dari udara, ke atas meja kayu warung Bu Romlah, di antara dua gelas kopi tubruk dan sepiring tempe mendoan yang belum disentuh, dan tinggal di sana.
Kami tidak bicara.
Dari balik etalase gorengan, Bu Romlah berdeham keras.
“Mas, Mbak,” katanya. “Itu surat cerai atau surat nikah?”
Lyodra tersedak kopinya.
“Bukan dua-duanya, Bu,” kataku.
“Terus apa?”
“Perjanjian damai.”
Bu Romlah menatap tangan kami di atas meja. Lalu menatap wajah Lyodra yang merah sampai ke telinga. Lalu menatapku.
“Damai, ya,” katanya, mengangguk-angguk sambil kembali ke wajannya. “Saya dulu juga perang sama almarhum suami saya. Damainya tiga puluh dua tahun.”
Lyodra menyembunyikan wajahnya di balik buku catatan kulit cokelat.
Tangannya masih di tanganku.
Waktu aku berjalan ke mobil setengah jam kemudian, ponselku bergetar.
Ibu: Put, Dinda kemarin malam datang. Kamu ke mana??? Ibu malu sekali sama Bu Harjo.
Ibu: Tapi nggak apa-apa ternyata Dinda sudah punya pacar orang Australia. Dia cuma datang karena nggak enak sama ibunya.
Ibu: Jadi Ibu cari yang lain ya.
Aku menatap pesan itu. Lalu mengetik balasan, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menghapusnya sebelum mengirim.
Aku: Nggak usah, Bu.
Ibu: Kenapa??
Aku melihat ke belakang. Di ujung gang, di depan pagar besi hijau yang catnya mengelupas, Lyodra berdiri dengan buku catatan di dada, menatap mobilku. Dia tidak melambai. Dia cuma berdiri.
Lalu dia mengangkat satu tangan, dan dengan jari telunjuk, mengetuk udara dua kali.
Aku tersenyum. Pasal empat cuma berlaku di grup WA.
Aku: Nanti Ibu tahu.
Aku menyalakan mesin.
Di kursi penumpang, tergeletak jaket abu-abuku yang dia kembalikan dua bulan lalu. Wanginya masih deterjen lavender.
Dan di bawah semua itu, samar, jeruk dan lada.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru reading
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru