Chapter Thirty One
Kayak Dulu
POV: Putra
Toko emas di Cikini sudah berdiri sejak zaman orang tua kami belum lahir.
Bangunannya dua lantai, dengan etalase kaca panjang yang dilapisi beludru merah, kipas angin langit-langit yang berputar pelan, dan seorang engkoh tua bernama Koh Liong yang memakai kacamata pembesar di satu mata dan berbicara dengan suara pelan seperti orang yang terbiasa membicarakan benda-benda mahal. Ibu Sabrina membeli cincin kawinnya di sini. Nenek Sabrina juga. Sabrina bilang dia tidak akan membeli cincin kawin di tempat lain, bahkan kalau Erwin harus menjual motornya.
Erwin tidak harus menjual motornya. Tapi dia hampir. Dia menunjukkan padaku tangkapan layar mutasi rekeningnya di parkiran, dengan saldo yang tersisa tiga digit, dan bilang dengan wajah sangat bangga bahwa ini adalah investasi terbaik dalam hidupnya.
Kami datang berlima. Sabrina dan Erwin di depan, bergandengan. Alea tidak ikut, ada pesanan kue ulang tahun. Aku dan Lyodra di belakang mereka.
Dan Bu Ratna.
Dia keluar dari taksi online di depan toko jam sebelas kurang lima menit, dan aku hampir tidak mengenalinya.
Kerudungnya bukan abu-abu. Kerudungnya biru muda, dengan sulaman kecil di pinggir. Dia memakai gamis putih gading dan sepatu hak rendah berwarna krem. Dia memakai bedak tipis dan lipstik berwarna merah muda pucat. Wajahnya, yang biasanya selalu tampak seperti membaca berita buruk, hari ini tampak seperti seseorang yang baru saja mengingat bahwa dia punya wajah.
Lyodra berdiri di sampingku dan menatap ibunya seperti menatap foto lama yang tiba-tiba hidup.
“Ibu,” katanya pelan. “Cantik.”
Bu Ratna menyentuh kerudungnya. Gerakan kecil, malu. “Ibu cuma beli kerudung baru. Di pasar. Murah.”
“Cantik, Bu.”
Bu Ratna tersenyum. Kecil. Lalu matanya bergeser ke arahku.
“Nak Putra,” katanya. Nada yang sama seperti di teras rumah Tebet bulan Oktober. Tidak hangat, tidak dingin. Cuma pengakuan.
“Bu.”
Dia mengangguk. Lalu berjalan masuk ke toko di belakang Sabrina.
Koh Liong menyajikan cincin Sabrina dan Erwin di atas bantalan beludru hitam. Dua cincin emas putih polos, dengan ukiran kecil di bagian dalam: SG & ES, dan tanggal pernikahan mereka.
Sabrina menangis.
“Aku nggak nangis,” katanya sambil menangis. “Ini debu. Toko ini berdebu.”
“Toko saya dibersihkan dua kali sehari, Nona,” kata Koh Liong dengan suara pelan.
“Debu emas, Koh.”
Erwin mengambil cincin Sabrina dan memasangkannya di jari manisnya. Untuk mencoba ukuran. Tapi tangannya gemetar, dan cincinnya tersangkut di buku jari, dan Sabrina tertawa sambil menangis, dan Erwin bilang ini latihan, di hari H dia tidak akan gemetar, dia dokter, dokter tidak gemetar.
“Kamu gemetar waktu pasang manset tensi di lengan Putra,” kata Lyodra.
“Itu beda. Itu karena Putra punya takikardia. Aku takut tertular.”
Lyodra tertawa. Aku tidak. Aku menatap Bu Ratna.
Dia berdiri di ujung etalase, memilih bros. Koh Liong sudah mengeluarkan baki kecil berisi enam bros perak dan emas: bunga, kupu-kupu, daun, burung. Bu Ratna menyentuh satu per satu dengan ujung jari, hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah.
Dia memilih bros berbentuk burung kecil dengan sayap terbentang. Perak. Sederhana.
“Ini, Koh,” katanya.
“Pilihan bagus, Bu. Burung layang-layang. Artinya pulang.”
Bu Ratna diam sebentar. Lalu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Bukan,” katanya pelan. “Artinya pergi.”
Setelah membayar, kami keluar dari toko. Siang. Panas. Matahari Cikini memantul dari kaca etalase toko-toko di sepanjang jalan.
Sabrina dan Erwin berjalan di depan, bergandengan, bertengkar pelan soal di mana mereka harus makan siang. Bu Ratna berjalan di belakang mereka, memegang kotak bros kecil di dada.
Lyodra berjalan di sampingku.
Dan di tengah trotoar Cikini, di antara pedagang kaki lima dan ojek yang parkir sembarangan, tangannya meraih tanganku.
Dia tidak berpikir. Aku tahu dia tidak berpikir, karena sejak sidang circle, tangannya selalu meraih tanganku seperti refleks. Di Remah. Di jalan. Di depan siapa pun. Itu sudah jadi kebiasaannya, seperti mengetuk dua kali, seperti memakai ulang lipstik.
Jari-jarinya menyelip ke sela jariku. Hangat.
Dan aku, yang empat hari lalu berjanji di dapur Remah bahwa kali ini aku akan melawan, menggenggam balik.
Di depan kami, Bu Ratna berhenti berjalan.
Dia menoleh. Mungkin untuk bertanya sesuatu pada Lyodra. Mungkin untuk memamerkan bros burungnya. Aku tidak tahu kenapa dia menoleh.
Matanya turun ke tangan kami.
Aku melihat wajahnya berubah. Pelan, seperti air yang berhenti mengalir. Senyum tipisnya hilang. Pipinya yang tadi bersemu merah muda tiba-tiba pucat. Tangannya mencengkeram kotak bros di dadanya.
Lyodra tidak melihat. Dia sedang menoleh ke arah pedagang es cendol di pinggir jalan, menunjuk dan bilang sesuatu soal haus.
Bu Ratna menatapku.
Lima tahun.
Lima tahun aku tidak melihat tatapan itu. Tapi aku mengenalinya dalam satu detik. Tatapan dari kursi tunggu di depan mejaku di ruang dosen. Tatapan seorang ibu yang sudah lima belas tahun tidak tidur nyenyak, yang melihat anaknya berdiri di pinggir jurang yang sama dengan jurang yang pernah dia jatuhi.
Lalu dia berbalik dan berjalan lagi. Tidak bilang apa-apa.
Lyodra menarik tanganku ke arah pedagang es cendol.
“Put, mau?”
“Hm?”
“Es cendol. Kamu mau?”
Aku menatap punggung Bu Ratna yang berjalan menjauh di trotoar.
“Mau,” kataku.
Aku tidak melepas tangan Lyodra.
Senin siang, jam sebelas, aku sedang mengoreksi laporan praktikum di ruang dosen ketika Bu Ningsih mengetuk pintu yang sudah terbuka.
“Pak Putra. Ada tamu.”
Aku mengangkat kepala.
Bu Ningsih berdiri di ambang pintu dengan wajah aneh. Bukan wajah penasaran seperti waktu Lyodra datang di bulan Oktober. Wajah ragu. Seperti orang yang melihat sesuatu yang dia ingat dari lama sekali dan tidak yakin apakah ingatannya benar.
Dia mundur selangkah.
Bu Ratna berdiri di belakangnya.
Kerudung abu-abu. Bukan biru muda. Gamis cokelat tua. Tanpa bedak. Tanpa lipstik. Wajahnya kembali seperti biasa. Seperti membaca berita buruk.
“Nak Putra,” katanya. “Boleh Ibu duduk?”
Aku berdiri. Tanganku menekan permukaan meja.
“Silakan, Bu.”
Bu Ningsih menatapku sekali lagi. Lalu menatap Bu Ratna. Lalu, dengan suara sangat pelan, seperti bertanya pada dirinya sendiri: “Ibu ini... yang dulu ya, Pak? Lima tahun lalu?”
Bu Ratna tidak menjawab. Dia masuk dan duduk di kursi tunggu di depan mejaku.
Kursi yang sama. Kursi plastik biru dengan sandaran yang retak di sudut kiri. Lima tahun, dan jurusan ini belum pernah mengganti kursinya.
Bu Ningsih menutup pintu pelan-pelan dari luar.
“Ibu nggak akan lama,” kata Bu Ratna.
Dia duduk tegak. Tangannya di pangkuan, saling menggenggam. Tasnya di lantai di sebelah kakinya. Dia tidak melihat sekeliling ruangan. Dia melihatku.
“Ibu lihat kalian Sabtu kemarin. Di Cikini.”
“Iya, Bu.”
“Kalian pegangan tangan.”
“Iya, Bu.”
“Sejak kapan?”
Aku menatapnya. Aku tidak mau berbohong. Aku sudah cukup lama berbohong dengan cara yang paling sulit dikenali: dengan diam.
“Sejak Desember, Bu.”
Bu Ratna memejamkan mata. Sebentar. Lalu membukanya.
“Kamu tahu soal Singapura?”
“Tahu, Bu.”
“Dia sudah cerita?”
“Saya tahu dari orang lain. Lalu dia cerita.”
“Dia mau ambil?”
Aku diam.
“Dia belum mutusin,” kata Bu Ratna, menjawab pertanyaannya sendiri. “Ibu tahu. Ibu lihat dia di rumah. Dua minggu terakhir dia nggak tidur lagi. Ibu yang tidur. Dia yang nggak.” Bu Ratna menatap tangannya sendiri di pangkuan. “Ibu tahu kenapa. Ibu lihat tangan kalian Sabtu kemarin, dan Ibu tahu kenapa.”
Di luar, mahasiswa lewat di koridor, tertawa soal sesuatu. Kipas angin di langit-langit ruang dosen berputar pelan.
“Nak Putra,” kata Bu Ratna. “Lima tahun lalu, Ibu duduk di kursi ini.”
“Saya ingat, Bu.”
“Ibu bilang ke kamu, dia mau tolak Leiden. Karena kamu. Ibu bilang, kalau kamu sayang dia, jangan jadi alasan dia nggak pergi.” Suaranya tidak bergetar. Suaranya rata, terlatih, seperti seseorang yang sudah mengucapkan kalimat ini berkali-kali di kepalanya sebelum datang. “Ibu bilang, jangan bilang ke dia Ibu datang. Biar dia mutusin sendiri. Biar dia nggak benci Ibu, nggak benci kamu. Biar dia pikir itu keputusannya.”
Aku tidak menjawab.
“Dan kamu lakukan,” kata Bu Ratna. “Semuanya. Persis. Kamu menjauh pelan-pelan. Kamu biarkan dia yang mutusin. Kamu biarkan dia menang.” Dia menatapku. “Ibu nggak pernah bilang terima kasih. Ibu mau bilang sekarang. Terima kasih, Nak Putra. Kamu sudah melakukan hal yang benar.”
Hal yang benar.
Aku menatap meja kerjaku. Mug I’m Mean, Not Average. Tumpukan laporan praktikum. Di sudut meja, sebuah buku teks statistik matematika setebal tujuh ratus halaman yang kubawa dari kos minggu lalu karena aku butuh referensi untuk kuliah pascasarjana. Di antara halaman empat ratus dua belas dan empat ratus tiga belas, ada mawar kering.
“Lalu kenapa Ibu datang lagi?” tanyaku.
Bu Ratna diam lama.
“Karena ini kayak dulu,” katanya. Pelan. “Sama persis. Kesempatan besar. Luar negeri. Dua tahun. Dan dia ragu. Karena kamu.”
“Bu...”
“Kamu sudah pernah melepas dia sekali, Nak Putra. Kamu tahu itu yang terbaik. Kamu lihat sendiri hasilnya. Dia pergi ke Leiden. Dia lulus. Dia jadi advokat yang hebat. Sekarang dia dapat tawaran jadi partner.” Bu Ratna mencondongkan badan sedikit. “Itu karena kamu melepasnya. Itu karena kamu cukup sayang untuk melepasnya.”
Aku menatapnya.
Aku ingin bilang sesuatu. Aku ingin bilang Bu, kali ini saya sudah janji melawan. Aku ingin bilang Bu, dia marah karena saya tidak melawan lima tahun lalu. Aku ingin bilang Bu, dia bilang dia tidak pernah menang, saya cuma tidak pernah main.
Aku ingin bilang Bu, itu bukan keputusan Ibu. Bukan keputusan saya. Itu keputusan dia.
Aku sudah mengatakan kalimat itu ke Erwin jam tiga pagi di lantai kamar kosku.
Aku tidak bisa mengatakannya ke perempuan ini.
Karena perempuan ini duduk di kursi plastik biru yang retak dengan tangan saling menggenggam di pangkuan, dan aku bisa melihat bahwa tangannya gemetar. Bahwa dia tidak tidur nyenyak dua malam terakhir. Bahwa dia datang ke sini bukan karena dia jahat, tapi karena dia takut. Takut dengan cara yang sama seperti lima tahun lalu. Takut anaknya akan berdiri di jurang yang sama.
Dan lima tahun lalu, aku sudah memutuskan bahwa ketakutan perempuan ini lebih penting daripada keinginanku sendiri.
Kebiasaan lama. Otot yang terlatih.
“Bu,” kataku. Suaraku keluar serak. “Kali ini...”
“Kali ini sama,” kata Bu Ratna. Dia berdiri. Mengambil tasnya. “Ibu nggak minta apa-apa yang baru, Nak Putra. Ibu cuma minta kamu ingat apa yang sudah kamu tahu. Kamu sudah pernah melepas dia sekali. Kamu tahu itu yang terbaik.”
Dia berbalik ke arah pintu.
Aku tidak menjawab.
Aku duduk di kursiku dengan tangan di atas meja, dengan mulut yang terbuka sedikit, dengan kalimat yang sudah sampai di ujung lidah dan tidak bisa keluar. Kali ini saya tidak akan mundur. Tujuh kata. Aku tidak bisa mengucapkan tujuh kata.
Bu Ratna meraih gagang pintu ruang dosen.
Dia membukanya.
Dan berhenti.
Di ambang pintu, berdiri Lyodra.
Dia memegang rantang. Rantang susun tiga warna merah, milik ibunya. Di tangan yang lain, buku catatan kulit cokelat dengan pita merah yang menandai satu halaman. Dia memakai blazer abu-abu. Rambut diikat rendah. Lipstik merah tua.
Dia datang membawa makan siang. Dan poin-poin.
Rabu, warung kopi Bu Romlah, jam tujuh. Itu jadwal debat kami. Tapi dia datang hari Senin. Ke ruang dosen. Dengan rantang dan buku catatan.
Dia tidak bergerak.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Tidak marah. Tidak kaget. Tidak sedih. Kosong. Kosong seperti layar laptop yang baru dinyalakan dan belum memuat apa pun.
Aku tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana. Aku tidak tahu kalimat mana yang dia dengar. Aku tidak tahu apakah dia mendengar lima tahun lalu Ibu duduk di kursi ini, atau biar dia pikir itu keputusannya, atau kamu sudah pernah melepas dia sekali.
Aku tahu dari wajahnya bahwa dia mendengar cukup.
Bu Ratna mundur satu langkah dari pintu.
“Ly,” katanya.
Lyodra tidak menatap ibunya.
Dia menatapku.
Rantang merah di tangannya bergoyang sedikit. Buku catatan kulit cokelat di tangannya yang lain tergenggam sangat erat sampai sampulnya melengkung.
Di koridor di belakangnya, Bu Ningsih berdiri dengan tangan di dada.
Kipas angin di langit-langit ruang dosen berputar. Pelan. Satu putaran. Dua. Tiga.
Tidak ada yang bicara.
Lalu Lyodra melangkah masuk ke ruang dosen. Menaruh rantang merah di atas tumpukan laporan praktikum di mejaku. Pelan. Sangat pelan. Seperti meletakkan alat bukti di meja majelis.
Dia membuka buku catatan kulit cokelatnya di halaman berpita merah. Halaman berisi pasal-pasal yang kami tulis di serbet kertas warung kopi Bu Romlah. Pasal satu sampai sembilan. Tanda tangan Pihak Pertama dan Pihak Kedua.
Dia menaruh buku itu di sebelah rantang. Terbuka.
Lalu dia mengangkat kepala dan menatapku dari seberang meja. Matanya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya dua belas tahun lalu, tidak menyala dengan apa pun.
“Ibu,” katanya. Tanpa menoleh. “Pulang.”
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu reading
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru