Chapter Fifteen
Rooftop
POV: Lyodra
Sabrina bilang ini bukan pesta lajang.
“Ini pemanasan,” katanya, sambil memasang selempang satin pink bertuliskan CALON BU DOKTER di bahuku, padahal aku bukan calon bu dokter, padahal selempang itu seharusnya untuk dia. “Pesta lajang yang asli bulan April. Tapi bulan April aku ada pemotretan di Bali dua minggu, terus Mei sudah nikah. Jadi aku butuh pemanasan. Biar tubuhku terbiasa dengan konsep bersenang-senang tanpa calon suami.”
“Kamu bersenang-senang tanpa calon suami tiap hari, Sab. Erwin jaga malam lima kali seminggu.”
“Itu bukan bersenang-senang. Itu menunggu.”
Tempatnya Langit Selatan, rooftop bar di lantai dua puluh sebuah gedung di Kemang. Lantai kayu, lampu-lampu kecil yang digantung zigzag di atas kepala, sofa-sofa rendah dengan bantal tenun, dan pemandangan Jakarta Selatan yang berkelip seperti seseorang menumpahkan sekotak lampu natal di atas karpet hitam. Ada area dansa kecil di tengah. Ada DJ di sudut. Ada bartender yang bisa membuat mocktail markisa dengan es serut berbentuk hati.
Aku minum jus. Aku selalu minum jus. Aku tidak suka kehilangan kontrol, dan aku tidak suka ide bahwa ada cairan yang bisa membuatku mengucapkan sesuatu yang belum kususun dulu argumennya.
Kami berempat: aku, Sabrina, Alea, dan tiga teman model Sabrina yang tingginya semuanya di atas seratus tujuh puluh dan yang berbicara soal diet dengan intensitas seperti membahas politik. Alea mengenakan bando telinga kelinci dan sudah menghabiskan dua gelas mocktail stroberi. Sabrina menari dengan selempang kedua, CALON BU DOKTER ASLI, yang dia buat sendiri setelah sadar dia memberikan yang pertama kepadaku.
Jam sepuluh malam, pintu lift di ujung rooftop terbuka.
Dan Erwin keluar.
Bersama tujuh laki-laki berpakaian scrub IGD warna-warni. Biru, hijau, ungu, merah muda. Salah satunya memakai stetoskop mainan yang berbunyi beep kalau ditekan. Salah satunya membawa balon berbentuk jantung anatomis, lengkap dengan aorta.
Di belakang mereka, paling belakang, dengan wajah orang yang sudah tahu ini akan terjadi dan tetap tidak bisa menghindarinya, Putra.
Dia memakai kemeja hitam. Bukan biru muda. Hitam. Lengan digulung. Kacamata. Wajah datar.
Kemeja hitam. Aku belum pernah melihatnya memakai kemeja hitam. Kemeja hitam itu harus dilarang di gedung bertingkat tinggi karena berisiko membuat orang jatuh dari ketinggian.
“SAB!” teriak Erwin dari ujung rooftop.
“ERWIN?!” teriak Sabrina balik. “KAMU NGAPAIN DI SINI?!”
“INI PESTA LAJANGKU!”
“INI PESTA LAJANGKU!”
Keduanya berlari ke tengah rooftop dan berpelukan di depan DJ yang langsung memutar lagu dangdut koplo karena entah kenapa dia mengira itu momen yang tepat.
Dokter Agung menekan stetoskop mainannya ke dada Erwin. Beep. “Pasien mengalami takikardia akibat paparan calon istri,” umumnya keras-keras. “Prognosis: menikah.”
Teman-teman model Sabrina bertepuk tangan. Salah satu dokter berscrub ungu langsung meminta nomor ponsel salah satu teman model Sabrina dengan alasan “untuk konsultasi diet”.
Putra berdiri di dekat lift, sendirian, menatap semua kekacauan itu seperti peneliti yang terdampar di tengah populasi yang perilakunya tidak bisa dimodelkan.
“Siapa yang pilih tempat?” tanyaku pada Alea.
Alea mengunyah es serut berbentuk hati dengan wajah sangat polos. “Kebetulan.”
“Al.”
“Kebetulan banget, kan? Langit Selatan ini rooftop bar paling populer di Kemang. Wajar kalau dua grup pesta lajang milih tempat yang sama di malam yang sama.”
“Siapa yang pesan tempatnya?”
“Aku,” kata Alea. “Untuk Sabrina.”
“Dan untuk Erwin?”
Alea mengunyah es serut lebih keras. “Itu temennya Erwin yang pesan.”
“Siapa?”
“Dokter Agung. Yang balon jantung.”
“Dokter Agung kenal kamu?”
“Dokter Agung beli kue di Remah tiap Selasa.” Alea tersenyum sangat manis. “Dunia ini kecil, Ly.”
Setelah dua jam, setelah karaoke yang memalukan, setelah Dokter Agung menyanyikan lagu cinta untuk balon jantung anatomisnya, setelah Erwin dan Sabrina menari waltz di tengah lantai dansa dengan lagu dangdut, setelah Alea tertidur di sofa dengan bando kelinci yang miring, aku berjalan ke sudut rooftop yang paling jauh dari keramaian.
Ada pagar kaca setinggi dada. Di baliknya, Jakarta. Jalan raya seperti sungai cahaya merah dan putih. Gedung-gedung tinggi dengan jendela-jendela yang sebagian masih menyala. Angin bertiup cukup kencang di ketinggian ini, menerbangkan rambutku yang tadi kusanggul rapi dan sekarang sudah setengah lepas.
Aku memakai kemeja satin putih dengan kantong kecil di dada kiri, celana kain hitam, dan selempang pink CALON BU DOKTER yang belum kulepas karena aku lupa ada di bahuku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu dia datang.
Langkahnya. Pelan, teratur, selalu sedikit di belakangku. Selalu begitu, sejak dulu.
Dia berdiri di sampingku. Setengah meter. Menatap kota yang sama.
“Selempangmu,” katanya.
“Kenapa selempangku?”
“Calon Bu Dokter.”
“Sabrina salah pasang.”
“Hm.”
Diam. Angin. Dari tengah rooftop, suara karaoke Dokter Agung yang sekarang menyanyikan lagu perpisahan untuk balon jantungnya yang baru saja meletus.
“Kita harus bicara,” kataku.
Kalimat yang sama. Lima tahun lalu, di rooftop yang berbeda, aku mengucapkan kalimat yang sama. Aku mendengarnya keluar dari mulutku dan aku ingin menariknya kembali.
Dia juga mendengarnya. Aku melihat rahangnya mengeras sedikit.
“Oke,” katanya.
“Soal kafe bunga. Soal saksi cemburu. Soal...” Aku berhenti. “Soal yang di lobi seminar.”
“Sayang.”
“Jangan ulangi.”
“Kamu yang bilang.”
“Itu kecelakaan.”
“Kecelakaan,” ulangnya pelan, “dua kali dalam seminggu. Itu bukan kecelakaan, Ly. Itu pola.”
Aku memutar badan menghadapnya. “Oke. Pola. Terus kenapa? Kita sudah sepakat. Lima tahun lalu. Pasal Satu. Itu yang terbaik buat circle. Erwin dan Sabrina mau nikah. Alea udah kayak adik kita. Kalau kita...” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. “Kalau ada apa-apa, circle hancur. Kamu tahu itu.”
“Erwin dan Sabrina pacaran dua tahun. Circle nggak hancur.”
“Mereka beda.”
“Bedanya apa?”
“Mereka yakin.”
“Data?”
Aku menatapnya. Dia menatapku. Di balik kacamata, matanya tidak datar. Matanya tidak tenang. Matanya menyala dengan sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajahnya selama lima tahun, sesuatu yang dulu kulihat di meja nomor tiga puluh tujuh dan di mobil di depan pagar besi hijau dan di rooftop Fakultas Hukum.
“Kamu yang bilang semua orang pada akhirnya pergi,” katanya. Suaranya rendah. “Lima tahun lalu. Itu poin empat. Kamu nggak ngucapin, tapi itu poin empat. Aku tahu.”
Napasku tersangkut.
“Lima tahun,” katanya. “Aku nggak pergi, Ly.”
“Kamu...”
“Aku duduk dua meter dari kamu setiap Sabtu. Lima tahun. Aku berdebat soal bubur. Aku datang ke wisudamu. Aku ngitung peniti. Aku nggak pergi ke mana-mana.”
“Itu karena kita teman.”
“Aku nggak pernah jadi temanmu.” Dia melangkah sedikit lebih dekat. “Kamu minta aku jadi musuhmu. Aku jadi musuhmu. Itu nggak sama dengan teman. Teman bisa berhenti peduli. Musuh nggak bisa.”
Aku tidak punya bantahan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, di depan laki-laki ini, aku tidak punya bantahan.
“Kenapa kamu nggak bilang ini lima tahun lalu?” tanyaku. Suaraku pecah di tengah. “Kenapa waktu itu kamu cuma bilang oke? Kenapa kamu biarin aku menang?”
Sesuatu lewat di wajahnya. Cepat. Gelap. Seperti awan yang lewat di depan bulan.
“Karena kamu benar,” katanya. Pelan. “Waktu itu kamu benar. Kamu harus ke Leiden.”
“Aku nggak minta kamu setuju soal Leiden. Aku minta kamu...”
Aku berhenti.
Aku minta kamu melawan.
Aku tidak bisa mengucapkannya. Lima tahun aku tidak pernah mengakui bahkan ke diriku sendiri bahwa malam itu, di bawah semua argumen dan poin dan struktur yang sempurna, ada bagian kecil dari diriku yang berharap dia akan berdebat lebih keras. Berharap dia akan bilang data? dan merobohkan semua argumenku satu per satu seperti biasanya. Berharap dia akan menang.
Dia tidak melakukannya. Dan aku membenci diriku sendiri karena mengharapkannya, dan membenci dia karena tidak melakukannya, dan menyebut semua kebencian itu musuh supaya aku tidak perlu menyebutnya dengan nama lain.
“Ly.” Suaranya sangat dekat sekarang. Aku tidak tahu kapan dia melangkah sedekat ini. “Lima tahun lalu kamu bilang mending jadi musuhku daripada jadi mantanku.”
“Iya.”
“Kamu sudah jadi musuhku lima tahun.”
“Iya.”
“Hasilnya?”
Aku menatapnya. Angin menerbangkan rambutku ke wajahku. Dia mengangkat tangan dan menyelipkannya ke belakang telinga kiriku. Pelan. Jari-jarinya hangat. Dia tahu telinga yang mana. Selalu yang kiri.
“Hasilnya,” kataku, dan suaraku hampir tidak keluar, “aku masih kalah.”
Dia tidak tersenyum. Dia cuma menatapku, sangat lama, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak ada angkanya.
Lalu dia melepas kacamatanya.
Pelan. Dengan dua tangan. Melipat gagangnya satu per satu.
Lalu dia menyelipkannya ke kantong kecil di dada kiri kemeja satinku. Di atas jantungku. Jari-jarinya menyentuh kain tipis itu, menyentuh sesuatu di baliknya yang sedang berdetak seperti mau meledak.
Tanpa kacamata, matanya tidak fokus. Cokelat tua, hampir hitam di bawah lampu-lampu kecil yang digantung zigzag. Dia menatapku seperti sedang berusaha melihat sesuatu yang sangat jauh, padahal aku cuma sepuluh senti di depannya.
“Kamu nggak bisa lihat apa-apa tanpa kacamata,” bisikku.
“Aku bisa lihat kamu.”
“Kamu minus empat.”
“Kamu dekat.”
Kalimat yang sama. Kata-kata yang sama. Rooftop yang berbeda, lima tahun kemudian, dan dia mengucapkannya dengan nada yang persis sama, seperti dia sudah menyimpannya selama ini dan menunggu saat yang tepat untuk mengeluarkannya lagi.
Dia mencondongkan kepala. Berhenti. Satu senti dari wajahku.
“Keberatan?” bisiknya.
Aku bisa merasakan napasnya di bibirku. Hangat. Sedikit wangi kopi dan mint.
Aku menarik kerah kemeja hitamnya.
“Ditolak,” kataku.
Ciuman itu tidak seperti lima tahun lalu.
Lima tahun lalu, dia mencium seperti seseorang yang sedang mencatat setiap detail dengan teliti, pelan, hati-hati, seperti takut salah.
Malam ini dia mencium seperti seseorang yang sudah lima tahun menahan napas dan baru sekarang diizinkan bernapas lagi.
Tangannya di pipiku. Tanganku masih mencengkeram kerah kemejanya. Angin rooftop menerbangkan selempang CALON BU DOKTER di bahuku sampai menampar lengannya, dan dia tidak peduli, dan aku tidak peduli. Kacamatanya di kantong dadaku tertekan di antara kami, gagangnya menusuk sedikit, dan aku tidak peduli juga.
Di belakang kami, jauh di tengah rooftop, Dokter Agung menyanyikan lagu cinta sedih dengan suara sumbang. Sabrina tertawa. Alea mungkin masih tertidur. Erwin mungkin sedang berdansa.
Tidak ada yang melihat ke sudut ini.
Atau aku pikir tidak ada yang melihat.
Waktu kami akhirnya berhenti, aku tidak tertawa. Aku tidak bisa tertawa. Dahiku menempel di dagunya, seperti dulu. Napasku tersengal. Aku memegang kemejanya dengan dua tangan seperti orang yang takut jatuh dari gedung dua puluh lantai.
“Data?” bisikku. Suaraku pecah.
Dia menarik napas panjang. Gemetar. Aku merasakannya di dahiku.
“Signifikan,” bisiknya.
Lalu, setelah jeda:
“Sangat signifikan. Lima tahun. Nggak ada yang berubah.”
Aku memejamkan mata.
Lima tahun. Lima tahun aku memakai kata musuh seperti baju zirah, dan dia baru saja melepasnya dariku dengan dua kata dan satu ciuman, dan di bawah baju zirah itu, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang sembuh. Tidak ada yang mati. Semuanya masih di sana, persis di tempat aku meninggalkannya di rooftop Fakultas Hukum bulan Juni lima tahun lalu.
“Ini melanggar Pasal Satu,” kataku ke dadanya.
“Aku tahu.”
“Aku yang bikin Pasal Satu.”
“Aku tahu.”
“Kalau ketahuan...”
“Aku tahu, Ly.”
Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Wajahnya buram di bagian pinggir, karena mataku basah. Tanpa kacamata, wajahnya terlihat lebih muda. Lebih telanjang. Seperti mahasiswa tingkat akhir yang duduk di seberangku di meja nomor tiga puluh tujuh dengan dua roti sobek cokelat yang dia bilang dibeli karena diskon.
“Besok pagi,” kataku. “Warung kopi. Jam tujuh. Dekat rumahku. Kita bicara. Dengan benar.”
“Negosiasi?”
“Negosiasi.”
“Kamu bawa poin-poin?”
“Aku selalu bawa poin-poin.”
Sudut bibirnya naik. Pelan. Dan tidak turun.
Aku mengambil kacamata dari kantong dadaku. Membuka gagangnya. Memasangkannya kembali di wajahnya, pelan, dengan dua tangan, sampai kacamata itu duduk lurus di batang hidungnya yang terlalu lurus.
Dia mengerjap. Wajahku kembali tajam di matanya.
“Kacamatamu miring,” kataku. Padahal tidak.
Dia mengangkat tangan dan membetulkannya.
Dua kali.
Kami kembali ke tengah rooftop secara terpisah. Aku duluan, lewat sisi kiri, pura-pura habis dari toilet. Dia lima menit kemudian, lewat sisi kanan, pura-pura habis menerima telepon.
Sabrina sedang memeluk Erwin di sofa. Alea sudah bangun, bando kelincinya miring, menyedot sisa es serut dari gelas.
Tidak ada yang menatap kami. Tidak ada yang bertanya.
Sabrina cuma mengangkat kepala dari bahu Erwin dan berkata, dengan nada sangat santai: “Ly, selempangmu ke mana?”
Aku menunduk. Selempang CALON BU DOKTER sudah tidak ada di bahuku.
Aku menoleh ke sudut rooftop. Di sana, tersangkut di pagar kaca, berkibar ditiup angin, selempang satin pink itu.
“Terbang,” kataku.
“Hm,” kata Sabrina.
Erwin tidak bilang apa-apa. Dia cuma mengambil gelas jusnya, mengangkatnya sedikit ke arahku, seperti bersulang, lalu meminumnya sampai habis.
Alea menyedot es serutnya sampai bunyi srrrrt yang sangat panjang.
Di grup circle, malam itu, tidak ada yang mengirim pesan apa pun.
Itu pertama kalinya dalam dua belas tahun grup kami sunyi di malam Sabtu.
Aku seharusnya curiga.
Aku terlalu sibuk menatap langit-langit kamarku sampai jam empat pagi, menyentuh bibirku sendiri dengan ujung jari, dan menyusun poin-poin negosiasi yang tidak satu pun berisi kata musuh.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop reading
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru