← Keberatan Ditolak

Chapter Six

Takikardia

POV: Putra


Erwin datang ke Remah Sabtu malam membawa tensimeter.

Bukan tensimeter digital kecil yang biasa dijual di apotek. Tensimeter air raksa, yang lengkap dengan manset kain hijau tua, pompa karet hitam, dan kotak logam yang bunyinya klak waktu dibuka. Barang antik. Dia menaruhnya di meja di antara piring kue sus dan gelas es teh seperti seorang pesulap menaruh topi.

“Pinjaman dari puskesmas tempat aku internsip dulu,” katanya bangga. “Belum dikembalikan enam tahun. Mungkin sudah jadi milikku secara hukum. Ly, itu namanya apa? Daluwarsa?”

“Itu namanya pencurian,” kata Lyodra tanpa mengangkat kepala dari ponselnya.

“Pinjaman jangka panjang.”

“Pencurian dengan niat baik masih pencurian.”

“Kenapa bawa tensimeter ke sini?” tanya Sabrina, yang sedang mencoba tiga pasang sepatu untuk acara lamaran keluarga minggu depan dan meminta pendapat semua orang dengan cara memamerkan kakinya di udara.

“Riset,” kata Erwin. “Aku lagi belajar buat ujian kompetensi lanjutan. Aku butuh sampel tekanan darah orang sehat. Kalian sampelku.”

“Kenapa kami?”

“Karena kalian gratis.”

Alea menjulurkan lengannya duluan dengan semangat yang mencurigakan. Tekanan darahnya seratus sepuluh per tujuh puluh. Normal. Sabrina seratus lima per tujuh puluh. Normal, dan dia minta dicatat karena “itu bukti aku tenang sebagai calon pengantin”. Lyodra menolak.

“Aku nggak mau ada manset di lenganku sementara kalian ngelihatin.”

“Takut ketahuan tensimu tinggi karena darah tinggi?” tanya Erwin.

“Takut ketahuan aku lagi nahan diri buat nggak nyekik kamu.”

Lalu Erwin menoleh padaku.

Aku sedang duduk di sofa sudut, satu-satunya sofa di lantai dua Remah, membaca jurnal di tablet. Jurnal tentang metode Bayesian untuk data yang hilang. Bacaan Sabtu malam yang menenangkan. Atau seharusnya menenangkan, kalau saja Lyodra tidak duduk di kursi plastik berjarak dua meter dariku dengan kaus oblong putih kebesaran dan celana pendek kain yang memperlihatkan lututnya.

Lutut yang sama. Yang minggu lalu menyentuh lututku selama dua koma tiga detik.

Aku sudah membaca paragraf yang sama empat kali.

“Put,” kata Erwin. “Lengan.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Aku sudah cek tekanan darah bulan lalu. Normal.”

“Itu bulan lalu. Hari ini beda. Hari ini Sabtu. Variabel lingkungan berubah.” Erwin menyeringai. “Kamu yang ngajarin aku soal variabel lingkungan. Waktu kita KKN, kamu bilang nyamuk Cianjur lebih agresif karena kelembapan.”

“Itu bukan...”

“Lengan, Pak Dosen.”

Aku menyerah. Menolak dua kali di depan circle akan terlihat mencurigakan, dan aku tidak punya alasan statistik yang kuat untuk menolak pemeriksaan tekanan darah gratis dari dokter yang secara teknis kompeten meskipun kepribadiannya tidak.

Erwin memasang manset di lengan kiriku. Memompa. Manset mengembang, menekan. Dia menempelkan stetoskop di lipatan siku, matanya terpaku pada kolom air raksa.

“Seratus delapan belas per tujuh puluh lima,” katanya. “Normal.”

“Sudah?”

“Belum. Pengukuran kedua. Standar klinis harus dua kali.” Dia mengempiskan manset. Lalu, tanpa menoleh, dengan suara keras dan ceria: “Ly, ambilin kue sus di meja dong. Yang isi vla.”

Lyodra mendengus, berdiri, dan berjalan ke meja.

Meja yang posisinya tepat di depan sofa. Tepat di depanku.

Dia membungkuk untuk mengambil kue sus dari piring. Rambutnya yang tergerai jatuh ke satu sisi. Kaus oblongnya yang kebesaran bergeser memperlihatkan tulang selangkanya. Wangi jeruk dan lada lewat di depan wajahku.

Erwin memompa manset.

“Seratus tiga puluh dua per delapan puluh lima,” katanya pelan, sangat pelan, sambil menatap kolom air raksa dengan alis terangkat. “Hm. Menarik.”

“Itu karena manset kamu terlalu ketat,” kataku.

“Mansetnya sama.”

“Kamu pompa lebih keras.”

“Aku pompa dengan kekuatan yang sama, Put. Aku dokter. Aku terlatih.” Dia mengempiskan manset lagi, lalu menunggu. Lyodra kembali ke kursinya dengan kue sus di tangan. Dia duduk. Dua meter jauhnya. Menggigit kue sus. Sedikit vla menempel di sudut bibirnya.

Dia menjilatnya.

Erwin memompa.

“Seratus empat puluh,” bisiknya. “Per sembilan puluh.”

“ERWIN.”

“Aku cuma membacakan data. Kamu kan suka data.”

“Alatnya rusak.”

“Alatnya masih bagus waktu Alea. Masih bagus waktu Sabrina.” Erwin mencabut stetoskop dari telinganya dan menatapku dengan wajah serius yang benar-benar tidak serius sama sekali. “Saudara Putra Mahardika. Sebagai dokter yang kompeten, aku mendiagnosis kamu dengan takikardia situasional. Frekuensi jantung meningkat tajam setiap kali seseorang lewat di depanmu.”

“Siapa?” tanya Sabrina dengan nada sangat polos. Dia masih memakai satu sepatu hak dan satu sandal jepit.

“Kue sus,” kataku.

Hening.

“Kue sus?” ulang Alea.

“Aku punya respons fisiologis terhadap gula. Itu hal biasa. Ada literaturnya.”

“Kamu nggak makan kue susnya,” kata Lyodra.

Aku menoleh padanya. Dia menatapku sambil mengunyah, alisnya terangkat, dan ada sesuatu di matanya yang terlalu cerah. Dia tahu. Dia tahu Erwin sedang mengerjaiku, dan dia ikut menikmatinya.

“Aku melihat kue susnya,” kataku. “Itu cukup.”

“Respons fisiologis terhadap melihat gula?”

“Itu disebut respons sefalik. Tubuh mengantisipasi asupan glukosa sebelum makanan masuk mulut. Pavlov.”

Lyodra berhenti mengunyah. “Kamu barusan bandingin dirimu sama anjing Pavlov?”

“Secara ilmiah, iya.”

Dia tertawa. Tawa yang tiba-tiba, tidak bisa dia tahan, dan sedikit vla tersembur dari mulutnya ke punggung tangannya. Dia mengumpat, mengelap tangan dengan tisu, dan terus tertawa sampai bahunya berguncang.

Erwin, yang manset tensimeternya masih menempel di lenganku, memompa sekali lagi dengan sangat pelan.

“Seratus empat puluh lima,” gumamnya, cuma untuk telingaku. “Kamu yakin itu kue sus, Put?”

Aku melepas manset sendiri dan melemparnya ke pangkuan Erwin.


Satu jam kemudian, entah bagaimana caranya, percakapan berbelok ke panco.

Aku tidak sepenuhnya mengikuti bagaimana itu terjadi. Seingatku, Sabrina mengeluh soal tutup toples selai yang tidak bisa dibuka, Erwin membukanya dengan dramatis, Sabrina bilang dia jagoan, Erwin bilang dia lebih kuat dari semua orang di ruangan ini, Alea bilang dia tidak percaya, lalu tiba-tiba ada turnamen.

Aturannya ditulis Alea di papan tulis, tepat di bawah skor kami.

TURNAMEN PANCO REMAH — HADIAH: YANG KALAH TRAKTIR MARTABAK MINGGU DEPAN.

Erwin mengalahkan Alea dalam tiga detik. Alea tidak keberatan, dia cuma ikut supaya bisa menulis namanya sendiri di papan. Sabrina mengalahkan Erwin dalam lima detik, karena Erwin membiarkannya menang, dan semua orang tahu Erwin membiarkannya menang, dan Erwin tidak peduli. Sabrina lalu kalah dari Lyodra, yang tidak membiarkan siapa pun menang, termasuk sahabatnya sendiri yang baru tunangan.

“Kejam,” kata Sabrina sambil mengibaskan tangannya.

“Kompetisi adalah kompetisi.”

“Aku calon pengantin!”

“Calon pengantin bisa kalah panco.”

Lalu tinggal aku.

Aku belum ikut. Aku masih di sofa, tablet di pangkuan, pura-pura membaca jurnal yang sudah tidak kubaca sejak setengah jam lalu.

“Put,” kata Alea. “Final.”

“Aku nggak ikut.”

“Kamu harus ikut. Itu aturan. Lihat papan.”

Aku melihat papan. Di bawah judul turnamen, ada tulisan kecil dengan spidol ungu: Semua anggota wajib ikut. Kecuali yang hamil.

“Aku nggak hamil,” kataku.

“Makanya kamu harus ikut.”

Lyodra sudah duduk di meja, siku kanan di atas permukaan kayu, tangan terangkat, jari-jari terbuka. Menunggu. Menatapku dengan dagu sedikit terangkat dan senyum miring yang memperlihatkan sedikit gigi taringnya.

Senyum menang.

Aku berdiri. Berjalan ke meja. Duduk di seberangnya. Menaruh siku kananku di meja.

Tanganku menggenggam tangannya.

Tangannya kecil. Lebih kecil dari yang kuingat. Tidak, bukan lebih kecil. Sama. Persis sama. Aku cuma lupa seberapa kecil, karena terakhir kali aku menggenggam tangan ini dengan cara seperti ini, aku tidak sedang memikirkan ukurannya.

Jarinya dingin di ujung. Telapaknya hangat. Ada cincin perak tipis di jari tengahnya yang menekan buku jariku. Kulitnya halus kecuali di sisi jari telunjuk, di mana pena sidangnya meninggalkan kapalan kecil yang sama dengan kapalanku.

“Siap?” kata Alea, menaruh tangannya di atas genggaman kami.

“Siap,” kata Lyodra.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Seluruh kapasitas otakku sedang dipakai untuk satu hal: tidak memikirkan apa pun.

“Mulai!”

Tidak ada yang mendorong.

Satu detik. Dua detik. Tangan kami tegak lurus di atas meja, genggaman kuat, otot lengan tegang. Tapi tidak ada yang mendorong. Tidak ke kiri, tidak ke kanan.

Lyodra menatapku. Aku menatapnya.

Jarak wajah kami tiga puluh senti. Lagi. Selalu tiga puluh senti, seperti alam semesta sedang mengujiku dengan angka yang sama berulang-ulang.

“Kok nggak dorong?” katanya. Pelan.

“Kamu juga nggak.”

“Aku lagi mengukur kekuatan lawan.”

“Hasilnya?”

Dia diam sebentar. Matanya turun ke tangan kami yang saling mengunci, lalu naik lagi ke wajahku.

“Tanganmu lebih besar dari yang kuingat,” katanya.

Aku membeku.

“Kamu ingat?” Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menghentikannya.

Lyodra mengerjap. Sekali. Lalu sesuatu di wajahnya runtuh selama sepersekian detik, seperti tembok yang retak, sebelum dia membangunnya kembali dengan cepat.

“Dari panco tahun lalu,” katanya. “Di ulang tahun Alea.”

Kami tidak pernah panco di ulang tahun Alea tahun lalu. Ulang tahun Alea tahun lalu, kami main kartu sampai jam dua pagi dan Sabrina menangis karena kalah tujuh kali berturut-turut.

Aku tahu itu. Lyodra tahu itu. Kami berdua tahu itu.

Tapi aku tidak membantahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak membantah sesuatu yang jelas salah. Aku cuma diam, dan menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

Dia membalas. Jarinya mengencang di punggung tanganku.

Lima detik. Enam. Tujuh.

Tidak ada yang mendorong.

Di samping kami, Alea, yang tangannya masih di atas genggaman kami sebagai wasit, berdeham. Lalu berbisik ke Sabrina, cukup keras untuk didengar seluruh lantai dua dan mungkin separuh Kemang:

“Ini panco atau foreplay?”

Lyodra mendorong.

Keras. Tiba-tiba. Seluruh berat badannya. Tanganku terbanting ke meja dengan bunyi dak yang membuat gelas es teh bergoyang.

“MENANG!” teriaknya, berdiri dengan kedua tangan terangkat. Wajahnya merah. Merah sekali. Dari pipi sampai telinga sampai leher. “Aku menang! Martabak minggu depan dari Putra!”

“Itu curang,” kataku. Aku masih duduk. Tanganku masih tergeletak di meja, telapak menghadap ke atas, kosong. “Kamu dorong waktu aku lengah.”

“Kamu lengah kenapa?”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa kamu lengah, Put?” Dia menatapku dengan senyum menang yang sangat lebar, sangat cerah, dan sangat tidak stabil di bagian sudut bibirnya.

“Alea ngomong hal yang nggak pantas,” kataku.

“Alea selalu ngomong hal yang nggak pantas. Biasanya kamu nggak lengah.”

“Malam ini aku lengah.”

Hening sebentar.

Lalu Lyodra berbalik ke papan tulis, mengambil spidol, dan menulis besar-besar di bawah daftar turnamen: JUARA: LYODRA. Huruf-hurufnya miring dan sedikit gemetar.

“Ini dihitung, kan?” katanya pada Alea tanpa menoleh. “Di papan skor utama?”

Alea mengetuk spidol ke dagu. “Panco bukan debat.”

“Itu kontes.”

“Konstitusi Remah Pasal Dua: papan skor utama cuma untuk debat verbal. Kontes fisik masuk papan terpisah.” Alea menunjuk sudut papan tulis yang sangat kecil, di mana ada tulisan papan terpisah: kosong. “Selamat. Kamu yang pertama.”

“Papan skor utama tetap empat ratus sebelas?”

“Empat ratus sebelas lawan empat ratus dua belas.”

Lyodra melempar spidol ke tatakan. Meleset. Spidol jatuh ke lantai.

Aku membungkuk untuk mengambilnya. Dia juga.

Kepala kami hampir bertabrakan. Kami berdua berhenti. Mundur. Tidak ada yang mengambil spidolnya.

“Aku ambil,” kata Alea dengan nada orang yang sudah sangat lelah. “Lagi.”

Dia memungut spidol itu, lalu berdiri di depan papan terpisah yang baru lahir malam ini. Dia menulis dengan huruf kecil-kecil di bawah nama Lyodra: Catatan wasit: kemenangan diraih setelah lawan lengah selama tujuh detik. Penyebab kelengahan: tidak diketahui (diketahui).

“Apa maksudnya ‘tidak diketahui, diketahui’?” tanyaku.

“Artinya aku tahu, tapi secara resmi aku nggak tahu,” kata Alea. “Itu istilah hukum. Lyodra yang ngajarin.”

“Aku nggak pernah ngajarin itu,” kata Lyodra.

“Kamu ngajarin waktu kita SMA. Kamu bilang ke guru BK kamu ‘tidak tahu’ siapa yang ngecat bangku kantin pakai pilox. Padahal kamu yang...”

“ALEA.”

Sabrina, yang akhirnya sudah memilih sepatu ketiga, bertepuk tangan pelan. “Malam ini sangat produktif,” katanya. “Aku dapat sepatu, Erwin dapat data tensi, Lyodra dapat martabak, dan Putra dapat...”

Dia menatapku. Senyumnya lebar.

“...diagnosis.”


Sebelum pulang, Erwin menarikku ke tangga.

Dia sudah memasukkan tensimeternya kembali ke kotak logam. Wajahnya santai, seperti biasa. Tapi matanya, untuk sedetik, tidak.

“Put.”

“Hm.”

“Tensimu tadi seratus empat puluh lima.”

“Alatnya rusak.”

“Alatnya nggak rusak.” Dia menepuk bahuku. “Aku dokter. Aku ngerti beda antara alat rusak sama jantung yang...”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia cuma menatapku sebentar, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Bukan ekspresi menggoda. Bukan ekspresi teman yang sedang bercanda. Sesuatu yang lebih tua. Lebih berat. Seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan sedang menimbang apakah sudah waktunya mengeluarkannya.

Lalu dia tersenyum lagi, lebar dan ringan, dan semua bebannya hilang.

“Jaga kesehatan, Pak Ketua,” katanya. “Kurangi kue sus.”

Dia turun duluan, bersiul.

Aku berdiri di tangga beberapa detik lebih lama. Dari lantai dua, aku bisa mendengar Lyodra dan Alea berdebat soal apakah turnamen panco tahun depan boleh pakai tangan kiri.

Aku melihat telapak tangan kananku. Masih sedikit merah di bagian buku jari, bekas terbanting ke meja.

Dan di bawahnya, di bagian dalam telapak, masih ada sisa hangat yang tidak ada hubungannya dengan meja.

Tanganmu lebih besar dari yang kuingat.

Aku turun tangga. Di anak tangga yang berderit, aku berhenti, karena aku ingat minggu lalu dia tergelincir di sini. Aku menekan anak tangga itu dengan ujung sepatu, mendengarkannya berderit, dan mencatat dalam kepala untuk membeli paku dan lem kayu besok.

Bukan untuk dia.

Untuk Alea. Tangga ini bahaya. Siapa pun bisa jatuh.

Itu bukan kebohongan. Itu cuma bukan seluruh kebenaran.