← Keberatan Ditolak

Chapter Eleven

Mending Jadi Musuhmu

POV: Lyodra


Lima tahun lalu, bulan Februari, perpustakaan pusat kampus tutup jam sembilan malam, dan aku selalu pulang jam sembilan kurang lima.

Aku sedang menulis skripsi tentang pembuktian elektronik dalam perkara perdata. Putra sedang menulis skripsi tentang model regresi untuk memprediksi gagal panen di Jawa Barat. Dua topik yang tidak punya hubungan apa pun, di dua fakultas yang berbeda, di dua lantai perpustakaan yang berbeda.

Tapi meja nomor tiga puluh tujuh di lantai empat, pojok dekat jendela yang menghadap danau, cuma muat untuk dua orang.

Aku tidak ingat kapan pertama kali dia duduk di seberangku. Mungkin awal Januari. Mungkin akhir Desember. Yang kuingat, suatu malam aku mengangkat kepala dari tumpukan putusan Mahkamah Agung dan dia sudah di sana, dengan laptop dan kacamata dan dua bungkus roti sobek rasa cokelat. Dia mendorong satu ke arahku tanpa bicara.

“Aku nggak minta,” kataku.

“Aku beli dua. Satu kebanyakan.”

“Terus kenapa beli dua?”

“Diskon. Beli dua lebih murah per unit.”

Itu argumen yang masuk akal. Aku memakan roti itu.

Besoknya dia datang lagi. Dua roti lagi. Lusanya juga. Kami tidak banyak bicara, karena perpustakaan memang tempat yang harus sunyi dan karena kami berdua tidak tahu harus bicara soal apa kalau tidak sedang berdebat. Di circle, kami selalu bertengkar. Di meja nomor tiga puluh tujuh, kami cuma diam. Diam yang anehnya tidak terasa canggung. Diam yang terasa seperti selimut.

Lalu suatu malam, dia datang terlambat. Aku sudah duduk sejak jam enam. Jam tujuh lewat, dia muncul dari tangga, napasnya sedikit terengah. Dia menaruh tas, duduk, dan sebelum membuka laptop, jari telunjuknya mengetuk meja.

Tok. Tok.

Aku mengangkat kepala.

“Apa itu?” bisikku.

“Aku di sini,” bisiknya balik. “Biar kamu tahu. Tanpa harus ngomong. Ini perpustakaan.”

Aku menatapnya lama. Lalu menunduk ke putusan Mahkamah Agung, dan dengan jari telunjukku, mengetuk meja dua kali.

Tok. Tok.

Dia tidak bilang apa-apa. Tapi sudut bibirnya naik, sedikit, dan tidak turun selama satu jam penuh.

Itu yang pertama.


Kami tidak pernah memutuskan untuk pacaran. Tidak ada momen di mana salah satu dari kami bertanya kamu mau jadi pacarku? seperti di sinetron. Kami terlalu gengsi untuk itu. Kami terlalu terlatih untuk memenangkan argumen, dan bertanya kamu mau? adalah posisi yang terlalu lemah dalam negosiasi.

Yang terjadi adalah serangkaian hal kecil yang semakin lama semakin tidak bisa disangkal.

Dia mengantarku pulang dari perpustakaan. Awalnya dengan alasan searah. Padahal Tebet dan Rawamangun tidak searah, dan dia tahu aku tahu itu.

Aku menemaninya ke optik di Salemba waktu kacamatanya patah karena terjatuh di tangga fakultas. Aku duduk di kursi tunggu dan membaca resep lensanya keras-keras. Minus tiga tiga perempat kiri, minus empat kanan, silinder setengah. Aku bilang, pantes kamu sering salah lihat. Salah lihat aku jadi cantik, misalnya. Dia menatapku dari kursi pemeriksaan dengan mata telanjang yang tidak fokus, dan menjawab, aku minus empat, Ly. Bukan buta.

Dia membeli dua kacamata hari itu. Satu untuk dipakai, satu cadangan. Bingkai hitam, sama persis. Biar kalau satu patah lagi, aku nggak perlu kamu bacain resep di depan umum.

Kami makan bubur di warung Matraman jam sebelas malam. Dia makan per lapisan. Aku mengaduk. Kami bertengkar soal itu dengan suara pelan supaya penjualnya tidak tersinggung.

Suatu malam di mobilnya, di depan pagar besi hijau, aku bercerita soal rumah. Soal dinding tipis. Soal ibuku yang duduk di ruang tengah dalam gelap setiap jam dua pagi sejak ayahku pergi. Soal aku yang tidak pernah tidur lebih dari empat jam di rumah itu. Aku belum pernah menceritakan itu ke siapa pun. Tidak ke Alea, tidak ke Sabrina. Aku tidak tahu kenapa aku menceritakannya ke dia, di mobilnya, dengan mesin yang masih menyala.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma mematikan mesin, menyandarkan kepalanya di sandaran jok, dan menunggu sampai aku selesai. Lalu, setelah lama sekali, dia bilang: Kalau kamu ngantuk, tidur aja di sini. Aku jagain.

Aku tidur dua jam di jok penumpang mobilnya. Dia tidak bergerak sedikit pun.

Kami tidak memberi tahu circle.

Itu keputusan kami berdua. Atau mungkin keputusanku, yang dia setujui. Aku bilang, kalau mereka tahu, semuanya jadi aneh. Sabtu jadi aneh. Papan skor jadi aneh. Dia bilang, oke. Dia selalu bilang oke untuk hal-hal yang kuputuskan. Waktu itu aku pikir itu romantis.

Kami tetap bertengkar di Remah. Di Sabtu malam, di depan Alea, Erwin, dan Sabrina, kami tetap berdebat soal bubur, soal film, soal apakah nanas boleh di atas pizza. Papan skor tetap berjalan. Dan di bawah meja, kadang-kadang, jari kelingkingnya menyentuh jari kelingkingku.

Sekali, Alea hampir memergoki kami. Di perpustakaan. Dia datang mencari buku resep kue zaman Belanda untuk tugas akhirnya di jurusan tata boga, tersesat ke lantai empat, dan berdiri di ujung lorong rak sambil memanggil, “Ly? Itu kamu? Kamu sama siapa?”

Putra langsung jongkok ke bawah meja. Seluruh tubuhnya. Seorang laki-laki setinggi seratus delapan puluh senti, melipat diri di bawah meja perpustakaan seperti kertas origami.

“Sendirian, Al!” kataku.

“Kok ada dua roti?”

“Aku lapar!”

Alea menatap dua roti sobek cokelat di meja. Lalu menatapku. Lalu mengangguk dengan wajah yang sangat tidak curiga dan pergi.

Di bawah meja, Putra tertawa tanpa suara sampai kacamatanya jatuh.

Aku tertawa juga. Tertawa sampai pustakawan menegur kami dari meja jaga. Itu tawa terbesar yang pernah keluar dari mulutku di tahun itu.


Rooftop gedung Fakultas Hukum tidak pernah dikunci. Semua mahasiswa hukum tahu itu, tapi tidak ada yang pernah ke sana, karena tangganya gelap dan bau, dan karena ada gosip bahwa dulu ada mahasiswa yang dihantui di sana setelah tidak lulus ujian lisan.

Aku membawanya ke sana di malam setelah sidang skripsiku.

Akhir Maret. Aku lulus dengan nilai A. Dosen pengujiku, yang terkenal kejam, menyalamiku dan bilang argumenku layak dipertimbangkan sebagai bahan kuliah. Aku keluar dari ruang sidang dengan lutut gemetar dan langsung menelepon Putra.

Bukan Ibu. Bukan Alea. Putra.

Dia datang ke Fakultas Hukum jam delapan malam dengan dua bungkus roti sobek cokelat dan satu bunga mawar merah yang dibeli dari pedagang di lampu merah, yang kelopaknya sudah sedikit layu.

“Kamu beli mawar?”

“Diskon.”

“Mawar nggak ada diskon.”

“Yang layu ada.”

Kami naik ke rooftop. Anginnya kencang. Lampu kota Depok berkelip di kejauhan. Dia memutar lagu dari ponselnya. Playlist yang sama. Lagu ketujuh. Gitar akustik pelan dan suara perempuan yang menyanyikan sesuatu tentang pulang.

Aku berdiri di pinggir pagar beton, rambutku tertiup angin, dan aku memakai kemeja putih yang kupakai untuk sidang dengan rok hitam, dan aku masih memegang mawar layu itu.

Dia berdiri di sampingku. Lalu dia melepas kacamatanya.

Aku belum pernah melihatnya melepas kacamata di depanku dengan sengaja. Tanpa kacamata, wajahnya terlihat lebih muda. Lebih telanjang. Matanya, yang biasanya tersembunyi di balik lensa tebal, cokelat tua dan tidak sepenuhnya fokus, dan dia menatapku seperti sedang berusaha melihat sesuatu yang sangat jauh.

“Kamu nggak bisa lihat apa-apa tanpa kacamata,” kataku.

“Aku bisa lihat kamu.”

“Kamu minus empat.”

“Kamu dekat.”

Dia melangkah lebih dekat.

“Cantik,” katanya. “Banget.”

Dua kata.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Itu ciuman pertamaku. Ciuman pertama kami. Di rooftop Fakultas Hukum yang katanya berhantu, dengan angin yang membuat rambutku menampar pipinya, dengan mawar layu yang terjepit di antara dada kami, dengan lagu ketujuh dari ponsel di pagar beton. Dia mencium seperti dia melakukan semua hal: pelan, hati-hati, sangat teliti, seperti sedang memastikan setiap detail tercatat dengan benar.

Waktu kami berhenti, aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma tertawa, dahiku menempel di dagunya.

“Data?” bisikku.

“Signifikan,” bisiknya balik.


Surat dari Leiden datang di awal April.

Beasiswa penuh. Program magister hukum internasional. Satu tahun. Berangkat Agustus.

Aku sudah mendaftar enam bulan sebelumnya, waktu aku belum duduk di meja nomor tiga puluh tujuh setiap malam. Waktu aku masih Lyodra yang punya rencana lima tahun dalam bentuk diagram alir. Waktu aku belum tahu bagaimana rasanya tertidur dua jam di jok penumpang mobil seseorang.

Aku tidak memberi tahu siapa pun selama dua minggu. Suratnya kusimpan di laci meja belajarku. Tapi Ibu yang menerima surat itu dari tukang pos, jadi Ibu tahu. Ibu menatapku di meja makan hari Kamis dengan sayur asem dan bilang, “Kamu mau berangkat, kan?”

“Belum tahu, Bu.”

“Belum tahu.” Ibu meletakkan sendok. “Kamu daftar enam bulan. Kamu belajar bahasa Inggris tiap malam. Kamu bilang ke Ibu itu cita-citamu. Sekarang belum tahu?”

Aku tidak menjawab.

Ibu tidak bertanya lagi. Tapi malam itu, aku mendengar dia duduk di ruang tengah lebih lama dari biasanya.

Aku memberi tahu Putra di bulan Mei. Di meja nomor tiga puluh tujuh. Pelan, setengah berbisik, seperti mengaku dosa.

“Aku mau tolak.”

Dia diam lama. Lalu: “Kenapa?”

“Karena satu tahun itu lama. Karena aku nggak percaya LDR. Karena...” Aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Dia tidak mendesak. Dia cuma mengetuk meja dua kali, dan aku membalas, dan kami tidak membahasnya lagi malam itu.

Tapi setelah malam itu, sesuatu berubah. Pelan. Hampir tidak terasa.

Dia mulai datang ke perpustakaan lebih jarang. Dia mulai membalas pesanku lebih lambat. Dia mulai mengucapkan kalimat-kalimat seperti “Leiden itu kampus bagus” dan “kesempatan kayak gitu nggak datang dua kali” dengan nada yang datar, seperti membaca hasil analisis.

Aku mengira dia mulai bosan. Aku mengira dia mulai menyadari apa yang selalu kutahu, apa yang Ibu ajarkan kepadaku di meja makan setiap Kamis: bahwa semua orang pada akhirnya pergi. Bahwa cinta itu kontrak paling lemah di dunia.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan.

Aku menyerang duluan.


Juni. Malam yang panas. Rooftop Fakultas Hukum lagi, karena itu satu-satunya tempat di kampus di mana kami bisa bicara tanpa takut ketahuan.

Tidak ada roti. Tidak ada mawar. Tidak ada lagu ketujuh.

“Kita harus bicara,” kataku.

“Oke.”

“Aku ambil Leiden.”

Dia mengangguk. Tidak terkejut. Seperti dia sudah tahu. “Bagus.”

“Dan aku nggak mau LDR.”

Diam.

“Kenapa?”

Lalu aku berdebat. Aku menyusun argumenku seperti di lomba debat SMA, seperti di sidang skripsi. Poin satu: hubungan jarak jauh punya tingkat kegagalan yang tinggi. Poin dua: perbedaan zona waktu enam jam akan membuat komunikasi kami jadi beban. Poin tiga: kalau kami putus di tengah jalan, circle akan hancur, karena circle tidak tahu kami pernah bersama, dan kami harus berpura-pura baik-baik saja di depan mereka sambil saling membenci. Poin empat, yang tidak kuucapkan tapi ada di belakang semua poin lain: semua orang pada akhirnya pergi, jadi lebih baik aku yang pergi duluan.

Aku menunggu dia membantah. Aku menunggu data? Aku menunggu dia menyusun argumen balasan yang membuatku ingin melempar sesuatu, seperti yang selalu dia lakukan.

Dia membantah. Sedikit. Dia bilang LDR bisa berhasil. Dia bilang satu tahun tidak lama. Dia bilang kami bisa video call. Tapi argumennya lemah. Tidak ada angka. Tidak ada literatur. Tidak ada data. Seperti seseorang yang membaca naskah yang tidak dia percayai.

Dan aku menang dengan mudah. Terlalu mudah.

Dia berdiri di pinggir pagar beton, menatap lampu kota, dan dia diam lama sekali. Lalu dia bilang dua kata.

“Kamu menang.”

Aku tidak tahu kenapa dua kata itu terdengar seperti pintu yang ditutup.

“Jadi kita apa sekarang?” tanyanya, masih tidak menoleh.

Aku mengambil napas. Kalimat yang kuucapkan selanjutnya sudah kusiapkan sejak seminggu sebelumnya. Kalimat yang kupikir sangat bijak. Sangat dewasa. Sangat aman.

“Mending jadi musuhmu seumur hidup,” kataku, “daripada jadi mantanmu.”

Dia menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menatapku. Matanya di balik kacamata basah. Tidak menangis. Cuma basah.

“Oke,” katanya.

Dia selalu bilang oke untuk hal-hal yang kuputuskan.

Sabtu berikutnya, di lantai dua toko roti tempat circle berkumpul sebelum Alea punya Remah, aku mengusulkan sebuah aturan. Aku bilang, dengan nada bercanda, bahwa circle kami terlalu berharga untuk dirusak oleh drama percintaan. Bahwa sesama anggota tidak boleh pacaran. Supaya kalau putus, tidak ada yang harus memilih.

Alea tertawa dan bilang itu aturan yang bagus. Sabrina dan Erwin saling melirik dengan wajah aneh, yang baru dua tahun kemudian kumengerti artinya. Lalu Putra mengangkat tangan.

“Setuju,” katanya. Orang pertama.

Alea menulisnya di kertas karton dengan spidol ungu. Pasal Satu.

Aku pergi ke Leiden bulan Agustus. Di bandara Schiphol, waktu aku membongkar tas ranselku untuk mencari paspor, aku menemukan sesuatu terselip di kantong dalamnya. Kacamata berbingkai hitam. Kacamata cadangan, kembaran yang dia beli di optik Salemba. Aku tidak tahu bagaimana benda itu bisa masuk ke tasku. Mungkin tertinggal di suatu malam di perpustakaan, terselip di antara buku-buku yang kami tumpuk sembarangan. Mungkin terbawa waktu kami terakhir kali duduk di mobilnya. Aku tidak tahu. Aku tidak mau mencari tahu.

Aku membungkusnya dengan sapu tangan biru tua dan menyimpannya.

Aku tidak pernah mengembalikannya.


Sabtu malam, lima tahun kemudian, di lantai dua Remah, aku berdiri di depan papan tulis kekuningan.

LYODRA 411 — PUTRA 413

Alea sudah memperbaruinya sesuai laporanku. Dua poin. Selisih terbesar dalam sejarah.

Di belakangku, Sabrina dan Alea sedang berdebat soal suvenir pernikahan. Erwin tidur di sofa dengan scrub birunya. Putra belum datang.

Aku menatap angka-angka itu dan berpikir tentang semua debat yang pernah kumenangkan melawan dia. Empat ratus sebelas. Aku hafal sebagian besar. Debat soal bubur, soal film, soal nanas di atas pizza.

Tapi ada satu debat yang tidak pernah tercatat di papan ini.

Debat di rooftop, di malam bulan Juni, yang kumenangkan dengan sangat mudah.

Lima tahun aku berpikir itu kemenangan terbesarku. Lima tahun aku berpikir aku sudah menyelamatkan kami berdua dari akhir yang lebih menyakitkan. Lima tahun aku memakai kalimat itu seperti baju zirah. Mending jadi musuhmu. Dan dia, yang selalu bilang oke untuk hal-hal yang kuputuskan, menjadi musuh terbaik yang bisa kuminta. Musuh yang datang ke wisudaku dan menghitung peniti di kebayaku. Musuh yang membawa bubur diaduk ke kantorku jam sepuluh malam. Musuh yang menyuruh sopir taksi berputar empat puluh menit.

Musuh yang tidak pernah, sekali pun, membuatku merasa sendirian.

Dari tangga, aku mendengar langkah kaki. Anak tangga yang berderit itu tidak berderit lagi. Seseorang sudah memperbaikinya minggu lalu, dan tidak ada yang tahu siapa.

Putra muncul di ujung tangga. Kemeja biru muda. Kacamata. Dua kotak martabak di tangannya.

“Utang panco,” katanya pada Sabrina dan Alea yang langsung menyerbu.

Lalu dia menoleh padaku. Padaku yang berdiri di depan papan skor.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menaruh martabak di meja, menarik kursi, duduk. Dan sebelum membuka kotak martabak, jari telunjuknya mengetuk meja.

Tok. Tok.

Lima tahun.

Aku tidak membalas.

Tapi aku juga tidak bergerak dari papan skor itu untuk waktu yang sangat lama.