Chapter Three
Rapat Pertama
POV: Lyodra
Rapat panitia perdana dijadwalkan Rabu malam jam tujuh.
Aku datang jam tujuh kurang lima menit, dengan ojek online, karena mobilku masih di bengkel dan karena aku tidak mau ada satu pun orang di circle ini yang bisa bilang Lyodra Kirana terlambat ke rapat yang dia pimpin.
Putra sudah di sana.
Tentu saja dia sudah di sana. Dia duduk di kursi plastik paling ujung dekat papan tulis dengan laptop terbuka, kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, dan segelas teh tawar yang belum disentuh. Dia mengangkat kepala waktu aku muncul di ujung tangga, menatapku sedetik, lalu kembali ke layar.
“Tujuh kurang lima,” katanya.
“Kamu datang jam berapa?”
“Enam empat lima.”
“Kenapa?”
“Biar nggak kalah sama kamu.”
Aku menaruh tas di kursi seberang dengan sedikit lebih keras dari yang perlu. “Ini bukan lomba datang duluan.”
“Kamu yang bilang semua dihitung.”
Sial. Dia menyimpan kalimatku dan memakainya untuk menyerangku. Aku benci kalau dia melakukan itu. Aku benci karena itu artinya dia mendengarkan setiap kata yang kuucapkan, menyimpannya di suatu tempat di kepalanya yang rapi dan berlabel, lalu mengeluarkannya tepat di saat yang paling menyebalkan.
Dan aku benci karena bagian kecil dari diriku, bagian yang tidak pernah kuizinkan bicara di depan umum, merasa senang dia mendengarkan.
Alea muncul dari tangga sambil membawa nampan berisi enam potong kue cokelat dan sepoci teh. Dia memakai celemek bergambar kelinci yang ada noda tepung di bagian perut. “Rapat panitia pernikahan Sabrina dan Erwin, sesi pertama, dimulai sebentar lagi. Notulen: aku. Konsumsi: aku. Hakim garis: aku. Tolong dihargai.”
“Kamu juga notulen sekarang?”
“Aku selalu notulen. Siapa yang menurutmu mencatat skor kalian selama dua belas tahun?” Dia menaruh nampan dan mengeluarkan buku catatan kecil bersampul pink. “Aku sudah menghitung. Kalian berdua debat rata-rata tiga koma dua kali setiap kumpul. Kalau rapat panitia seminggu sekali selama tujuh bulan, itu tambahan sekitar sembilan puluh debat. Aku butuh spidol baru.”
Sabrina dan Erwin datang sepuluh menit kemudian, bergandengan tangan, dengan senyum orang yang baru tunangan dan belum tahu berapa harga sewa gedung di Jakarta. Sabrina memakai sweter rajut krem kebesaran yang membuat tubuh model tingginya tampak seperti anak kucing yang dibungkus selimut. Rambutnya dicepol asal. Bahkan dengan sepatu sandal jepit dan wajah tanpa riasan, dia masih tampak seperti iklan sampo.
“Maaf, maaf,” katanya. “Erwin mampir beli martabak. Yang manis, yang telor, dua-duanya. Ini rapat penting, butuh gula dan protein.”
“Kita sudah ada kue,” kata Alea tersinggung.
“Kue itu dessert. Martabak itu fondasi.”
Erwin menaruh dua kotak martabak di meja dan langsung duduk di sebelah Putra. Dia menepuk bahu Putra keras-keras. “Pak Ketua.”
“Jangan,” kata Putra.
“Bu Ketua,” kata Erwin padaku sambil memberi hormat.
“Jangan,” kataku.
Erwin tertawa. Lalu dia menatap kami berdua bergantian dengan senyum yang terlalu lebar. “Kalian sadar kalian barusan ngomong ‘jangan’ dengan nada yang sama persis?”
Aku dan Putra tidak menjawab. Kami sama-sama sibuk mengambil martabak.
Rapat dimulai dengan agenda yang sudah kususun dalam format poin bernomor, dicetak, dan dibagikan. Putra menatap kertas agenda itu, lalu menatapku.
“Kamu nge-print agenda.”
“Iya.”
“Untuk rapat lima orang di lantai dua toko kue.”
“Profesionalisme nggak mengenal tempat.”
“Kertasnya kamu laminating?”
“...Cuma yang punyaku.”
Alea menulis sesuatu di buku pinknya. Aku tidak mau tahu apa.
Agenda pertama: venue. Putra memproyeksikan spreadsheet-nya ke dinding putih di sebelah papan skor menggunakan proyektor mini yang ternyata dia bawa sendiri. Sabrina terharu lagi. Erwin bertepuk tangan. Alea mengangguk seperti guru TK yang melihat muridnya berhasil mewarnai tanpa keluar garis.
“Tiga venue teratas,” kata Putra. “Taman Kenari di Bogor, outdoor, ada pendopo cadangan kalau hujan. Gedung Aksara di Kebayoran, indoor, ada lampu kristal. Dan Rumah Joglo Sentul, setengah terbuka, akses kursi roda paling baik, dekat masjid.”
“Itu semua ada?” tanya Sabrina. “Outdoor, indoor, lampu kristal, masjid, kursi roda? Dalam tiga pilihan?”
“Kombinasinya beda-beda. Nggak ada yang sempurna. Kalian harus kompromi.”
“Kompromi,” ulang Erwin. “Kata itu nggak ada di kamus pacarku.”
Sabrina mencubit lengannya.
Diskusi berjalan lancar selama sekitar dua belas menit. Itu rekor. Lalu sampai di poin anggaran, dan aku mengusulkan alokasi untuk dekorasi bunga yang menurut Putra “tidak masuk akal secara fiskal”.
“Bunga itu yang dilihat tamu pertama kali,” kataku. “Itu kesan pertama. Kamu nggak bisa hemat di kesan pertama.”
“Tamu datang untuk makan dan salaman. Nggak ada yang ingat bunga.”
“Semua perempuan ingat bunga.”
“Data?”
“Aku perempuan. Aku ingat bunga di setiap nikahan yang pernah kudatangi.”
“Sampel satu orang. Nggak representatif.”
“Sabrina?”
“Aku ingat bunga,” kata Sabrina.
“Alea?”
“Aku ingat bunga dan kue,” kata Alea. “Terutama kue.”
“Tiga dari tiga perempuan di ruangan ini,” kataku. “Seratus persen. Representatif.”
“Itu bukan sampel acak. Itu sampel yang kamu pilih karena kamu tahu jawabannya.”
“Itu namanya saksi yang relevan.”
Kami berdua berdiri di saat yang sama. Aku tidak tahu kapan aku berdiri. Putra juga sepertinya tidak tahu. Kami berdua berjalan ke papan tulis, karena papan tulis adalah wilayah netral tempat semua debat diselesaikan dengan coretan dan angka.
Di tatakan papan tulis, cuma ada satu spidol yang masih bisa dipakai. Spidol merah.
Aku meraihnya.
Dia juga.
Jari-jari kami bertemu di batang spidol yang sama.
Jarinya menutupi jariku. Hangat. Kering. Jari yang panjang, buku jarinya sedikit menonjol, ada kapalan kecil di sisi jari tengah dari bertahun-tahun memegang pena dan spidol. Aku tahu kapalan itu. Aku bisa merasakannya menekan punggung jariku.
Kami berdua tidak melepas.
Satu detik.
Dua.
Lepas, Ly. Lepas sekarang. Kamu advokat. Kamu punya harga diri. Kamu nggak boleh berdiri di depan papan tulis toko kue, memegang spidol merah bareng laki-laki ini, dengan jantung yang berdetak kayak lagi dikejar debt collector.
Tapi kalau aku lepas duluan, aku kalah.
Ini bukan lomba.
Semua dihitung.
Putra menarik napas. Aku mendengarnya. Pendek, sedikit tersendat.
“Aku duluan,” katanya. Suaranya rendah. Sangat dekat. Terlalu dekat.
“Aku duluan sentuh.”
“Aku duluan niat.”
“Niat nggak bisa dibuktikan di pengadilan.”
“Kita nggak di pengadilan.”
“Semua tempat adalah pengadilan kalau kamu cukup kompeten.”
Di belakang kami, Erwin bergumam sesuatu yang terdengar seperti “Ya Allah.” Alea menulis cepat sekali, bunyi penanya seperti hujan di atap seng.
Akhirnya, Sabrina yang menyelamatkan kami, atau mempermalukan kami, tergantung dari sudut mana kau melihatnya.
“Kalian,” katanya sambil mengunyah martabak, “sudah megang spidol yang sama selama sembilan detik. Aku hitung.”
Putra melepas. Aku melepas. Spidol jatuh ke lantai, berguling di bawah kursi Alea.
Kami berdua menatapnya. Tidak ada yang bergerak mengambilnya.
“Aku ambil,” kata Alea pelan, membungkuk. “Kalian berdua kembali ke tempat masing-masing. Kayak petinju. Ke sudut.”
Aku kembali ke kursiku. Putra kembali ke kursinya. Aku tidak berani melihat tanganku. Rasanya jariku masih panas, seperti baru menyentuh gelas teh yang terlalu lama di microwave.
Dari sudut mata, aku melihat Putra menggosok-gosok jarinya ke celana. Lalu berhenti. Lalu menatap jarinya. Lalu menyembunyikannya di bawah meja.
Kami tidak menyelesaikan debat soal bunga malam itu. Alea mencatatnya sebagai “ditunda karena kontak fisik”.
Kira-kira jam sembilan, AC di lantai dua mulai berulah.
AC Remah adalah mesin tua yang Alea beli bekas dari toko elektronik yang bangkrut, dan dia punya kepribadian. Kadang tidak dingin sama sekali. Kadang dingin seperti puncak Jayawijaya. Malam itu dia memilih Jayawijaya.
“Alea,” kata Sabrina, memeluk dirinya sendiri dalam sweter rajutnya. “AC-mu mau bunuh kita.”
“Remote-nya hilang. Aku lagi cari.”
“Ini berapa derajat?”
Putra melirik layar AC yang samar-samar terlihat dari tempatnya duduk. “Enam belas.”
Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma memakai blus tipis berlengan pendek, warnanya merah marun, karena aku langsung datang dari kantor dan tidak sempat ganti. Lenganku sudah merinding sejak lima menit lalu. Tapi Lyodra Kirana tidak mengeluh soal AC. Lyodra Kirana pernah duduk empat jam di ruang sidang PN Jakarta Pusat yang AC-nya rusak dan suhunya tiga puluh empat derajat, dan dia tidak mengeluh. Dia tidak akan mengeluh soal enam belas derajat.
Tapi tanganku menggosok lengan atas. Sekali. Mungkin dua kali.
Dan Putra melihatnya.
Aku tahu dia melihatnya karena tiga detik kemudian, tanpa menoleh, tanpa bicara, tanpa berhenti mengetik di laptopnya, dia melepas jaket abu-abu yang tergantung di sandaran kursinya dan mengulurkannya ke arahku. Lengannya terentang. Matanya tetap di layar.
Aku menatap jaket itu.
“Apa ini?”
“Jaket.”
“Aku tahu ini jaket.”
“Pakai.”
“Aku nggak kedinginan.”
“AC-nya enam belas derajat.” Dia masih belum menoleh. “Kalau kamu flu, besok aku yang harus dengar kamu ngomel di grup. Dan kamu kalau flu ngomelnya pakai voice note. Panjangnya tujuh menit. Hidungmu mampet. Aku nggak sanggup.”
Sabrina tersedak martabak.
Aku mengambil jaket itu. Lebih karena aku tidak mau lengannya terus terentang di udara seperti orang bodoh, bukan karena aku kedinginan. Tentu saja bukan.
Jaket itu masih hangat dari punggungnya.
Aku memakainya. Kebesaran. Lengannya menutupi sampai ujung jariku. Wanginya sabun, kertas, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang aku tahu namanya tapi tidak akan pernah kusebut, bahkan di dalam kepalaku sendiri.
Sial. Aku menyebutnya di dalam kepalaku.
Wangi Putra.
Lyodra, kamu harus berhenti sekarang juga.
“Makasih,” gumamku. Pelan.
“Hm,” katanya.
Lalu, setelah jeda yang terlalu lama, tanpa menoleh:
“Kenapa sih kamu pakai merah terus? Satu ruangan jadi nggak fokus rapat.”
Aku memutar kepala. Pelan. “Satu ruangan?”
“Satu ruangan.”
“Atau satu orang?”
Dia diam.
Tangannya berhenti mengetik.
Lalu dia membetulkan kacamata. Dua kali.
Aku menunduk ke agenda yang kulaminating, karena kalau aku tidak menunduk, semua orang di ruangan ini akan melihat wajahku, dan wajahku sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa diterima secara profesional.
Erwin batuk-batuk dengan cara yang sangat tidak meyakinkan. Alea menulis sangat cepat. Sabrina menatap langit-langit seperti sedang berdoa.
Lalu Erwin, karena dia Erwin, menyodorkan lengan kirinya ke Sabrina. “Sayang, AC-nya enam belas derajat. Kalau kamu flu, besok aku yang harus dengar kamu ngomel.”
“Aku nggak pernah ngomel.”
“Kamu ngomel tiap pagi. Pakai voice note. Panjangnya tujuh menit.”
Sabrina memukul lengannya dengan gulungan agenda. Alea tertawa sampai buku pinknya jatuh. Erwin menatapku dan Putra bergantian dengan wajah paling polos yang pernah dibuat manusia, lalu mengangkat bahu.
“Apa? Aku cuma belajar dari yang ahli.”
“Remote AC ketemu!” seru Alea tiba-tiba dari bawah sofa, mengangkat benda itu tinggi-tinggi seperti piala. Dia menekan tombolnya berkali-kali. Layar AC berkedip, berpikir, lalu berganti angka.
Lima belas.
“Itu turun, Alea,” kata Putra datar.
“Aku tahu. Aku lagi eksperimen.”
“Eksperimen apa?”
Alea melirikku. Melirik jaket abu-abu kebesaran di badanku. Lalu tersenyum seperti kucing yang baru menemukan kandang burung terbuka.
“Ketahanan panitia,” katanya.
Agenda terakhir: pembagian tugas.
“Survei venue Sabtu ini,” kataku, setelah wajahku kembali ke suhu normal. “Tiga venue teratas. Aku sama Putra.”
“Kenapa cuma kalian berdua?” tanya Erwin dengan wajah polos.
“Karena kami ketua panitia.”
“Aku calon pengantin. Aku mau ikut.”
“Kamu jaga IGD Sabtu,” kata Sabrina.
“Oh iya.” Erwin menjentikkan jari. “Ya udah, kalian berdua aja. Semoga selamat. Jangan saling bunuh di tol Jagorawi.”
“Aku jemput jam tujuh,” kata Putra.
“Aku tahu. Aku yang minta.”
“Jangan telat.”
“Aku nggak pernah telat.”
“Kamu telat empat puluh menit waktu wisuda S1-mu sendiri.”
“Itu karena kebayaku sobek dan aku harus jahit pakai peniti di taksi.”
“Peniti tujuh biji,” kata Putra. “Aku hitung waktu kamu jalan ke panggung.”
Ruangan hening.
Aku menatapnya. Dia menatap laptopnya. Tujuh peniti. Wisuda lima tahun lalu. Dia duduk di barisan keluarga undangan, di samping Alea dan Erwin, karena aku tidak punya keluarga yang bisa datang selain ibuku. Aku tidak pernah memberitahu siapa pun berapa jumlah penitinya.
Dia menghitung.
Tentu saja dia menghitung. Putra menghitung segalanya. Itu tidak berarti apa-apa.
Itu tidak berarti apa-apa.
“Rapat selesai,” kataku, terlalu keras. “Terima kasih atas partisipasinya.”
Sabrina dan Erwin pulang. Alea mulai membereskan piring. Putra menutup laptop dan memasukkan proyektor ke tasnya.
Aku masih memakai jaketnya.
Aku sadar itu waktu aku berdiri di ujung tangga dan dia memanggilku.
“Ly.”
Aku menoleh.
Dia menunjuk jaketnya di badanku. Tidak bilang apa-apa.
Aku mulai melepasnya. Satu lengan. Pelan.
“Bawa aja,” katanya. “Balikin Sabtu.”
“Kenapa?”
“Di luar dingin.”
“Di luar dua puluh delapan derajat. Kemang. Oktober.”
Dia diam sebentar. Lalu dia menjawab dengan nada orang yang tahu dia sudah kalah dan memutuskan untuk kalah dengan bermartabat.
“Bawa aja, Ly.”
Aku memakainya kembali.
Di ojek pulang, aku memeluk tubuhku sendiri di dalam jaket kebesaran yang wanginya sabun dan kertas. Abang ojeknya bertanya apakah aku sakit, karena di Jakarta jam sepuluh malam dengan suhu dua puluh delapan derajat, cuma orang demam yang pakai jaket.
“Iya, Bang,” kataku. “Demam.”
Di grup circle, Alea mengunggah notulen rapat dalam bentuk foto halaman buku pinknya. Sebagian besar isinya catatan venue dan anggaran. Tapi di pojok kanan bawah, dengan tulisan yang sangat kecil, ada satu baris yang menurutku tidak seharusnya ada di notulen resmi.
Catatan hakim: jaket tidak dikembalikan.
Aku menyimpan foto itu. Lalu aku menghapusnya. Lalu aku mengambilnya lagi dari folder sampah.
Lalu aku memblokir layar ponsel dan menutup mataku sampai ojeknya sampai di depan rumah.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama reading
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru