← Keberatan Ditolak

Chapter Eight

Fitting

POV: Putra


Butik Laras di Senopati punya tiga ruang ganti, dua cermin besar, satu sofa beludru hijau zamrud, dan AC yang mati sejak jam sepuluh pagi.

“Teknisinya lagi di jalan,” kata Mbak Laras, pemilik butik, perempuan anggun berusia empat puluhan dengan kacamata berantai mutiara dan senyum yang tidak pernah pudar meski keringat sudah mengalir di pelipisnya. “Kira-kira satu jam lagi. Mohon maaf, ya. Saya sudah nyalakan kipas.”

Kipasnya kipas berdiri kecil yang berputar ke kiri dan ke kanan dengan bunyi ngik-ngik seperti sedang mengeluh tentang hidupnya sendiri.

Hari ini fitting. Semua orang sekaligus. Itu ide Sabrina, karena “lebih efisien” dan karena “aku mau lihat semua orang pakai baju yang kupilih di satu ruangan, biar aku bisa nangis sekali aja, nggak berkali-kali.” Sabrina memilih warna untuk seluruh pengiring pengantin: perempuan pakai kebaya modern warna terakota, laki-laki pakai beskap abu-abu tua dengan kain batik bermotif parang.

Terakota. Merah bata. Merah yang sedikit lebih tua, lebih hangat, lebih tenang.

Aku tahu Sabrina sengaja. Aku tidak tahu kenapa dia sengaja, tapi aku tahu dia sengaja.

“Put,” kata Erwin dari ruang ganti nomor satu. Suaranya teredam tirai beludru. “Aku nggak bisa napas.”

“Kenapa?”

“Beskapnya kekecilan.”

“Kamu sendiri yang kasih ukuran.”

“Aku kasih ukuran tiga bulan lalu. Sebelum Sabrina mulai masak buat aku tiap malam sebagai latihan jadi istri.” Tirai tersibak. Erwin keluar dengan beskap abu-abu tua yang jahitannya menegang di bagian perut seperti tali kapal yang menahan badai. “Lihat. Kancing ketiga. Kalau aku bersin, ini jadi peluru.”

Mbak Laras menutup mulut dengan tangan, setengah tertawa, setengah ngeri. “Nanti kita longgarkan, Mas. Masih ada kelonggaran di jahitan samping.”

“Tolong ya, Mbak. Saya dokter. Saya nggak mau jadi penyebab cedera mata di nikahan saya sendiri.”

Sabrina, yang sedang berdiri di podium kecil di tengah ruangan dengan gaun pengantin putih gading dan tiga orang staf butik yang mengerumuninya dengan jarum pentul, menatap Erwin lewat cermin.

“Sayang, kamu ganteng.”

“Aku nggak bisa napas.”

“Kamu ganteng dan nggak bisa napas. Itu yang namanya pengorbanan.”

Alea keluar dari ruang ganti nomor dua dengan kebaya terakota yang terlalu panjang. Ujung kainnya menyeret lantai sejauh setengah meter di belakangnya seperti ekor gaun kerajaan.

“Mbak Laras,” katanya dengan suara kecil. “Aku pendek.”

“Nanti dipotong, Mbak Alea.”

“Ini bisa jadi jubah. Aku bisa jadi ratu. Aku mau dipanggil Yang Mulia mulai sekarang.”

“Keberatan ditolak,” kata Erwin dari sofa, tempat dia sekarang berbaring dengan kancing kedua dibuka.

Aku sudah selesai fitting. Beskapku pas. Aku duduk di ujung sofa, di sebelah kaki Erwin yang terjulur, dengan tablet di pangkuan berisi daftar periksa vendor. Aku pura-pura membacanya.

Ruang ganti nomor tiga masih tertutup.

Lyodra sudah di dalam selama dua belas menit.


“Alea.”

Suaranya dari balik tirai. Tegang.

“Ya?”

“Resleting. Macet. Bantuin.”

Alea menatap ruang ganti nomor tiga, lalu menatap kebaya terakotanya yang terseret sepanjang lantai, lalu menatap staf butik yang semuanya sibuk di sekitar Sabrina.

“Ly,” katanya. “Aku nggak bisa jalan. Kalau aku jalan, aku jatuh. Kalau aku jatuh, kebaya ini sobek. Kalau kebaya ini sobek, Mbak Laras nangis.”

“Saya nggak akan nangis,” kata Mbak Laras sambil menyematkan jarum ke pinggang Sabrina. “Tapi saya mungkin minta ganti rugi.”

“Sab?”

“Aku lagi dijahit hidup-hidup, Ly. Ada tiga belas jarum di tubuhku. Kalau aku gerak, aku jadi landak.”

Hening.

Lalu, dari balik tirai, dengan nada orang yang sudah menghabiskan semua pilihan lain dan sekarang memilih yang paling buruk:

“Kamu. Sini.”

Erwin, yang masih berbaring di sofa, mengangkat kepala. Menatapku. Menatap tirai. Lalu meletakkan kepalanya kembali dengan senyum yang sangat lebar dan sangat diam.

“Aku?” kataku.

“Alea pendek. Kamu yang sampai.”

“Erwin juga sampai.”

“Erwin nggak bisa napas. Kalau dia bungkuk, kancingnya meledak.” Jeda. “Cepat. Panas.”

Aku berdiri. Menaruh tablet di sofa. Berjalan ke ruang ganti nomor tiga dengan langkah yang sangat terukur, sangat profesional, seperti dosen yang dipanggil ke ruang rapat fakultas.

Tirainya tersibak sedikit. Cuma celah selebar bahu.

Lyodra berdiri membelakangi celah itu, menghadap cermin. Rambutnya digulung ke atas dan dijepit asal dengan jepit besar warna hitam. Kebaya terakota membungkus tubuhnya dari bahu sampai pinggul, kainnya brokat tipis dengan motif bunga-bunga kecil yang timbul. Resletingnya di punggung, naik dari pinggang sampai ke tengah punggung.

Dan berhenti di situ.

Di bawah tengkuknya, di antara dua sisi kain yang terbuka, ada garis punggungnya. Kulitnya. Tulang belakangnya yang tipis, ruas demi ruas, menghilang ke balik kain. Dan di sebelah kiri tulang belikat, ada tahi lalat kecil, kembaran tahi lalat di bawah telinga kirinya.

Aku tahu ada tahi lalat itu di sana.

Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu.

Aku melihatnya juga.

Lyodra menatapku di cermin. Matanya bertemu mataku melalui pantulan. Pipinya sudah merah, mungkin karena AC yang mati. Mungkin bukan.

“Resletingnya nyangkut di benang,” katanya. “Jangan dipaksa. Nanti kainnya robek.”

“Oke.”

Aku masuk ke ruang ganti. Ruangan itu kecil. Sangat kecil. Satu meter kali satu setengah meter, dengan cermin di satu dinding dan tirai di sisi lainnya. Dengan dua orang di dalamnya, tidak ada ruang tersisa untuk udara.

Aku memegang ujung resleting. Logamnya hangat dari kulitnya.

Aku menariknya ke bawah sedikit, perlahan, untuk melepaskan benang yang tersangkut. Jari-jariku menyentuh kulit punggungnya. Sebentar. Tidak sengaja. Tidak mungkin tidak menyentuh dalam ruangan sesempit ini.

Lyodra menarik napas tajam.

Aku berhenti. “Sakit?”

“Nggak.”

“Terus kenapa...”

“Tanganmu dingin.”

Tanganku tidak dingin. Tanganku sangat tidak dingin. Tanganku seperti baru keluar dari oven Alea.

Aku tidak membantah.

Benang itu terlepas. Aku mulai menarik resleting ke atas. Pelan. Sangat pelan. Seinci demi seinci. Gigi-gigi logam kecil itu saling mengunci satu per satu dengan bunyi lirih, zrrrt, yang terdengar terlalu keras di ruangan sekecil ini.

Di cermin, Lyodra menatapku. Aku menatap resleting. Aku menatap resleting dengan konsentrasi seorang ahli bedah yang sedang menjahit pembuluh darah.

“Kamu sengaja lambat?” bisiknya.

“Aku hati-hati. Kamu bilang jangan dipaksa.”

“Itu bukan hati-hati. Itu slow motion.”

“Aku dosen. Semua yang kulakukan terukur.”

“Terus kenapa tanganmu gemetar?”

Aku melihat tanganku. Jari yang memegang resleting memang gemetar. Sedikit. Tidak signifikan secara statistik. Tapi terlihat.

“AC,” kataku.

Dia diam.

Di luar tirai, kipas berdiri berbunyi ngik-ngik. Sabrina tertawa soal sesuatu. Erwin bersiul.

“AC-nya mati, Put,” kata Lyodra pelan.

“Iya. Makanya gemetar.”

“Orang gemetar karena dingin. Bukan karena panas.”

“Ada literatur yang bilang...”

“Jangan.” Dia memejamkan mata sebentar. “Jangan kutip literatur sekarang.”

Resleting itu sampai di atas. Di bawah tengkuknya. Gigi terakhir mengunci. Aku melepaskan tanganku pelan-pelan. Ada pengait kecil di ujung atas, kait dan mata kait dari logam, yang harus dipasang supaya resleting tidak turun lagi.

Aku memasangnya. Jari-jariku menyentuh tengkuknya. Rambut-rambut kecil di sana berdiri.

“Udah,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan.

“Makasih.”

Aku keluar dari ruang ganti tanpa menoleh ke cermin. Aku tidak berani. Aku menutup tirai di belakangku dan berdiri sebentar, satu tangan masih memegang kain beludru itu.

Erwin, di sofa, memberiku jempol tanpa membuka mata.


Lima menit kemudian, Lyodra keluar.

Semua orang di ruangan itu berhenti.

Staf butik yang mengerumuni Sabrina menoleh. Mbak Laras berhenti menyematkan jarum. Alea, yang sedang mencoba melipat ujung kebayanya supaya tidak terseret, menjatuhkan lipatannya.

Kebaya terakota itu membungkusnya seperti dibuat khusus untuknya. Mungkin memang dibuat khusus untuknya; Sabrina yang memberikan ukurannya ke Mbak Laras. Brokat tipis di lengan memperlihatkan kulitnya samar-samar. Pinggangnya terbentuk rapi. Kain batik parang di bawah pinggul jatuh sampai ke mata kaki. Rambutnya masih digulung asal dengan jepit hitam besar, beberapa helai lepas di tengkuk dan pelipis. Dia tidak memakai riasan sama sekali kecuali lipstik, yang warnanya ternyata hampir sama persis dengan warna kebayanya.

Dia cantik. Bukan cantik yang membuat orang terpesona dari jauh. Cantik yang membuat orang lupa apa yang tadi sedang mereka lakukan.

Aku lupa apa yang tadi sedang kulakukan.

“Ya ampun,” kata Sabrina dari podium, suaranya pecah. “Ly. Ya ampun. Aku mau nangis.”

“Jangan nangis. Riasanmu...”

“Aku nggak pakai riasan! Aku nangis polos!” Sabrina mengibaskan tangan di depan matanya. “Kamu kayak, kayak dewi. Dewi pengadilan.”

“Dewi pengadilan itu Themis. Dia pakai penutup mata dan bawa pedang.”

“Kamu juga bawa pedang! Pedang itu mulutmu!”

Alea tertawa. Erwin bangun dari sofa dan bertepuk tangan. Mbak Laras bilang sesuatu soal betapa jarangnya ada orang yang cocok dengan terakota.

Lalu Sabrina menoleh padaku.

“Put. Gimana?”

Semua kepala menoleh padaku.

Aku masih berdiri di dekat ruang ganti nomor tiga. Tanganku masih setengah memegang tirai. Lyodra berdiri dua meter di depanku, di tengah ruangan, di bawah lampu gantung kristal kecil milik butik itu. Dia tidak menatapku. Dia menatap lantai. Tapi aku melihat jari-jarinya mencengkeram kain batik di pinggulnya.

Gimana.

Kata-kata yang ada di kepalaku banyak sekali. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di depan circle, di depan Mbak Laras, di depan tiga staf butik dengan jarum pentul.

Aku membetulkan kacamata.

“Lumayan,” kataku.

Hening.

Sabrina menatapku seperti aku baru saja menginjak anak kucing. Alea menutup wajah dengan tangan. Erwin mengeluarkan suara seperti orang tersedak.

Lyodra mengangkat kepala. Menatapku. Satu alisnya naik. Senyumnya miring.

Aku berbalik. Aku perlu air. Aku perlu udara. Aku perlu keluar dari ruangan dengan lampu kristal dan perempuan berkebaya terakota yang menatapku seperti itu.

Aku berjalan ke pintu kaca butik.

Pintu kaca yang tertutup.

Dug.

Dahiku membentur kaca. Tidak keras. Cukup keras untuk membuat kacamataku miring dan seluruh ruangan meledak dalam tawa.

Erwin jatuh dari sofa. Benar-benar jatuh, ke karpet, sambil memegangi perutnya dan kancing beskapnya yang ketiga akhirnya terlepas dan menggelinding ke bawah meja. Alea tertawa sampai kebayanya terinjak dan dia hampir terjungkal. Sabrina menangis, sungguhan menangis, karena tertawa. Mbak Laras berlari mengambil es batu.

“Saya nggak apa-apa,” kataku pada pintu kaca.

“Mas, itu pintunya didorong, bukan ditarik...”

“Saya tahu, Mbak.”

“Tapi Mas jalan lurus ke pintunya tanpa...”

“Saya tahu, Mbak. Terima kasih.”

Dari belakangku, aku mendengar Erwin, masih di karpet, berteriak dengan suara tercekik tawa: “Mbak Laras! Kancingku! Kancingku lari ke bawah meja! Saksinya banyak! Dia kabur karena lihat Putra nabrak pintu!”

“Nanti saya jahit ulang, Mas...”

“Aku mau visum! Ini trauma kolektif!”

Lalu suara Sabrina, terengah-engah: “Alea, kamu rekam? Bilang kamu rekam.”

“Aku rekam dari waktu dia bilang ‘lumayan’,” jawab Alea. “Empat K. Enam puluh frame per detik. Bisa di-slow motion.”

Aku mendorong pintu. Keluar. Berdiri di trotoar Senopati di bawah matahari jam sebelas siang, memegangi dahi.


Pintu kaca terbuka di belakangku. Bunyi lonceng kecil.

Aku tidak menoleh. Aku tahu langkah kaki itu. Hak sepatu pendek di atas paving block. Ringan, cepat, tidak pernah ragu.

Lyodra berdiri di sampingku. Masih dengan kebaya terakota. Dia keluar dari butik memakai kebaya pengiring pengantin ke trotoar Senopati, dan dua orang ojol yang lewat langsung menoleh.

Dia menyodorkan sesuatu. Kantong plastik kecil berisi es batu, dibungkus tisu.

“Dari Mbak Laras.”

“Makasih.”

Aku menempelkannya ke dahi. Dingin. Kami berdiri bersebelahan, tidak saling menatap, menatap jalan raya yang padat.

“Lumayan,” katanya pelan.

Aku diam.

“Lumayan, katamu.” Dia tertawa kecil, tanpa suara. “Aku pakai kebaya yang dijahit pas di badan, warna yang hampir merah, dan kamu bilang lumayan. Terus kamu nabrak pintu.”

“Pintunya bersih. Nggak kelihatan.”

“Pintunya ada stiker logo butik segede piring, Put.”

Aku tidak menjawab.

Lalu dia mencondongkan badan sedikit. Cukup dekat sampai suaranya cuma untukku. Nadanya bukan nada mengejek. Bukan nada debat. Nadanya rendah, sedikit getir, sedikit ketus, seperti seseorang yang sudah lama menahan kalimat ini dan baru sekarang tidak bisa menahannya lagi.

“Dulu kamu lebih jujur.”

Lalu dia berbalik dan masuk kembali ke butik. Lonceng berbunyi. Pintu kaca menutup.

Aku berdiri di trotoar dengan es batu di dahi.

Dulu kamu lebih jujur.

Iya. Dulu aku lebih jujur.

Dulu, aku pernah mengatakannya dengan benar. Satu kali. Kalimatnya pendek, cuma dua kata, dan aku mengucapkannya tanpa kacamata, tanpa data, tanpa literatur. Aku ingat persis di mana. Aku ingat persis bagaimana angin bertiup waktu itu. Aku ingat dia tidak menjawab dengan kata-kata.

Dua kata. Bukan lumayan.

Dan sejak itu, aku tidak pernah mengucapkannya lagi. Bukan karena tidak benar. Karena aku sudah berjanji untuk tidak mengucapkannya.

Es batu di dahiku mulai mencair. Air dinginnya mengalir pelan ke pelipis, ke pipi, ke bawah dagu.

Dari balik kaca butik, aku bisa melihat Lyodra berdiri di depan cermin besar lagi. Sabrina memeluknya dari samping. Alea memotret mereka. Lyodra tertawa soal sesuatu yang Sabrina bisikkan.

Lalu, cuma sedetik, mata Lyodra bergerak di cermin. Menembus kaca butik. Menemukanku di trotoar.

Dia tidak tersenyum. Aku juga tidak.

Lalu dia mengambil lipstik dari tasnya, membuka tutupnya, dan memakainya ulang di depan cermin. Satu sapuan atas. Satu sapuan bawah.

Padahal lipstiknya tidak pudar sama sekali.