Chapter Nine
Yang Dia Ingat
POV: Felicia
Hari Selasa dimulai dengan Pak Hendro berdiri di depan mejaku pukul delapan lewat tiga menit, memegang kontrak yang dibuka di halaman tujuh belas.
“Felicia. Ini apa?”
Aku membaca halaman itu. Pasal 9 ayat 3, tentang denda keterlambatan serah terima unit. Angkanya salah. Bukan sedikit salah. Seharusnya satu per mil per hari. Yang tertulis satu persen per hari. Sepuluh kali lipat.
Kontrak itu sudah ditandatangani klien kemarin sore.
“Bukan saya yang ubah angka itu, Pak,” kataku. “Draf terakhir saya kirim Jumat. Angkanya satu per mil.”
“Tapi kamu yang pegang berkas ini.”
“Saya pegang sampai Jumat. Senin pagi berkasnya diambil tim penjualan buat revisi harga.”
Pak Hendro menatapku lama. Dia bukan orang jahat. Dia hanya orang yang lelah, yang dimarahi direksinya pukul tujuh pagi dan butuh seseorang untuk menerima sisa marahnya pukul delapan. Dan aku duduk paling dekat dengan pintu ruangannya.
“Saya mau ini beres hari ini,” katanya. “Adendum, surat ke klien, semuanya. Sebelum jam lima.”
“Baik, Pak.”
Dia pergi. Mbak Tari menggeser kursinya dua senti ke arahku, lalu menggeser kembali setelah melihat wajahku.
Aku membuka laptop dan mulai bekerja.
Aku tidak naik ke rooftop pukul satu lewat seperempat.
Aku tidak sempat. Adendum itu harus disusun ulang tiga kali karena tim penjualan terus mengirim revisi angka yang berbeda. Surat ke klien harus ditulis dengan nada yang mengakui kesalahan tanpa mengakui tanggung jawab hukum, yang merupakan seni tersendiri, dan aku harus melakukannya dengan perut kosong dan sakit kepala yang mulai menekan di belakang mata kiriku.
Grup “Goddess Only 🔒” bergetar pukul satu lewat dua puluh lima.
Sheilla: fel kamu dmn??? mas andro udh dateng bawa minum Sheilla: dia nanyain kamu 👀 Eve: Fel, kamu sibuk? Mau aku bawain makan ke bawah? Sheilla: WAIT Sheilla: dia nggak nanyain kamu. dia cuma liat kursi kamu trus diem 2 detik Sheilla: itu termasuk nanyain nggak sih Eve: Itu namanya sopan, Shei 😅
Aku membalas singkat: Lagi ada kerjaan mendadak. Nggak usah repot, Eve. Makasih.
Lalu aku menutup grup itu dan kembali ke surat klien.
Dua jam kemudian, pukul tiga lewat sedikit, laptopku melambat. Tidak macet, hanya melambat. Setiap kali aku mengetik satu kalimat, kursornya tertinggal setengah detik, seperti orang yang mengikuti langkahmu dari jauh.
Biasanya aku akan mengirim tiket. Prosedur.
Hari ini aku membuka WhatsApp dan menatap nomor itu. Nomor yang belum kusimpan, tapi sudah kuhafal empat digit terakhirnya tanpa sengaja.
Aku mengetik sebelum otakku sempat mengajukan keberatan.
Felicia: Laptopku lemot.
Balasannya datang dalam sebelas detik.
Andro: Laptopnya, atau kamu kangen?
Aku menatap layar. Wajahku panas. Aku mengetik laptopnya dengan sangat keras, seolah-olah huruf yang diketik keras bisa lebih meyakinkan.
Felicia: Laptopnya.
Andro: Oke. Aku naik. Buat laptopnya.
Aku seharusnya berhenti di situ. Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup.
Tapi perutku berbunyi, dan sakit kepalaku menekan, dan jempolku bergerak sendiri.
Felicia: Bawain cokelat panas. Buat laptopnya juga.
Aku menekan kirim. Lalu aku membalikkan ponsel ke meja dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Mbak Tari, dari meja sebelah, berkata tanpa menoleh: “Fel, kamu sakit kepala? Mukamu merah.”
“Iya, Mbak. Sakit kepala.”
“Minum air putih.”
“Iya, Mbak.”
Dia datang sembilan menit kemudian.
Dia membawa kotak peralatan kecil di tangan kiri dan kantong kertas dari kafe lantai dasar di tangan kanan. Dia menyapa Pak Hendro, yang mengangguk dengan wajah kaku. Dia menyapa Mbak Tari, yang tersenyum terlalu lebar. Dia menyapa anak magang di dekat jendela, yang hampir menjatuhkan stapler.
Lalu dia berhenti di sebelah mejaku dan meletakkan kantong kertas itu di samping laptopku tanpa berkata apa-apa.
Di dalamnya ada cokelat panas, gula setengah. Dan roti lapis tuna yang dibungkus kertas minyak.
Aku tidak minta roti lapis.
“Boleh aku lihat laptopnya?” tanyanya, formal, cukup keras untuk didengar Mbak Tari.
Aku bergeser. Dia berdiri di belakang kursiku, membungkuk sedikit, dan mengetik di keyboard dengan satu tangan. Jarak antara bahunya dan bahuku mungkin dua puluh senti. Aku bisa mencium wangi sabun dan sedikit bau kabel baru, bau yang aneh tapi tidak buruk.
“Ada pembaruan sistem yang jalan di belakang,” katanya. “Makan memori. Aku tunda dulu sampai malam, biar nggak ganggu kerjamu.”
“Oke.”
“Kamu belum makan siang.”
Itu bukan pertanyaan. Aku tidak menjawab.
“Kamu nggak naik jam satu lewat seperempat,” lanjutnya, masih menatap layar, suaranya cukup pelan sehingga hanya aku yang bisa dengar. “Kursimu kosong. Terus jam dua, lampu ruangan Pak Hendro masih nyala, dan dia nggak pernah lembur siang kecuali ada yang salah. Terus jam tiga kamu kirim pesan, padahal kamu selalu kirim tiket. Kamu orang yang pakai prosedur, kecuali kalau kamu terlalu capek buat prosedur.”
Aku menatap layar laptopku. Kursornya sudah tidak tertinggal lagi.
“Kamu ngawasin lampu ruangan Pak Hendro?”
“Aku ngawasin semua lampu di gedung ini. Itu kerjaanku.” Dia menegakkan badan. “Yang salah angkanya siapa?”
“Kok kamu tahu ada angka yang salah?”
“Karena tim penjualan baru aja minta aku pulihkan versi dokumen hari Jumat. Mereka bilang ‘darurat, salah ketik di pasal denda’.” Dia mengangkat bahu. “Versinya udah aku kirim ke Pak Hendro juga, sepuluh menit lalu. Lengkap sama riwayat siapa yang ubah dan jam berapa.”
Aku berbalik di kursiku dan menatapnya.
“Kamu kirim ke Pak Hendro?”
“Dia kepala divisi yang pegang kontrak itu. Dia berhak tahu.” Andro mengambil kotak peralatannya. “Aku nggak bilang apa-apa soal kamu. Aku cuma kirim datanya. Sisanya dia bisa baca sendiri.”
Di ruangan kaca di belakang kami, Pak Hendro sedang menatap monitornya. Wajahnya berubah pelan-pelan, seperti cuaca. Lalu dia mengangkat telepon dan menekan beberapa nomor dengan gerakan orang yang sedang menahan marah, tapi kali ini bukan ke arahku.
Andro mengangguk ke Mbak Tari, mengangguk ke anak magang, lalu pergi.
Aku menatap kantong kertas di sebelah laptop. Roti lapis tuna. Aku tidak pernah memesan roti lapis tuna di kafe lantai dasar, tapi itu memang satu-satunya roti lapis yang kumakan, karena yang lain pakai mayones terlalu banyak.
Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun soal mayones.
Pak Hendro keluar dari ruangannya pukul empat kurang sepuluh.
Dia berhenti di depan mejaku. Dia tidak membawa kontrak kali ini. Dia membawa wajah orang yang harus mengatakan sesuatu yang tidak nyaman.
“Felicia. Soal tadi pagi.” Dia berdeham. “Saya sudah lihat riwayat dokumennya. Angka itu diubah tim penjualan hari Senin pukul sepuluh lewat dua. Bukan kamu.”
“Iya, Pak.”
“Saya minta maaf sudah… nada saya tadi pagi.” Dia berdeham lagi. Pak Hendro tidak terbiasa meminta maaf. Kalimat itu keluar seperti sepatu yang kekecilan. “Adendumnya tetap kamu yang susun, ya. Kamu yang paling rapi.”
“Baik, Pak.”
Dia pergi. Mbak Tari menatapku dengan mulut terbuka. Dalam enam tahun Mbak Tari bekerja di bawah Pak Hendro, dia belum pernah mendengar kata “maaf” keluar dari ruangan kaca itu.
Aku menyelesaikan adendum itu pukul empat lewat empat puluh. Surat klien selesai pukul empat lewat lima puluh dua. Aku mengirim keduanya ke Pak Hendro, lalu bersandar di kursi, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasakan betapa laparnya aku.
Roti lapis tuna itu sudah dingin. Aku memakannya juga, pelan-pelan, sambil menatap jendela.
Rasanya enak sekali.
Pukul lima lewat delapan, aku keluar ke tangga darurat. Dia sudah di bordes antara lantai sembilan dan delapan, bersandar di dinding seperti biasa.
“Pak Hendro minta maaf,” kataku.
Dia mengangkat alis. “Pak Hendro bisa minta maaf?”
“Ternyata bisa. Kayak sepatu kekecilan, tapi bisa.” Aku berhenti dua anak tangga di atasnya. “Makasih. Udah kirim datanya.”
“Aku nggak kirim buat kamu.”
Aku menatapnya.
“Aku kirim karena datanya benar,” katanya. “Kalau yang salah kamu, aku juga bakal kirim.”
Itu jawaban yang aneh untuk membuat seseorang merasa lega. Tapi aku merasa lega. Karena itu artinya dia tidak membelaku. Dia hanya menolak membiarkan kebenaran tertimbun di bawah suara yang paling keras. Dan kebetulan, kali ini, kebenarannya ada di pihakku.
“Rotinya juga,” kataku. “Makasih.”
“Itu yang buat kamu,” katanya.
Kami turun. Di lantai enam, aku sadar aku berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Bukan karena lelah. Aku tidak mau memikirkan karena apa.
Malam itu, karena sakit kepalaku belum benar-benar hilang dan karena aku tidak bisa tidur, aku membuka portal helpdesk IT di laptop. Aku ingin mengecek apakah tiket printer yang minggu lalu sudah ditutup dengan benar. Itu alasan yang sah.
Riwayat tiketku muncul dalam daftar panjang. Empat tahun tiket. Laptop yang tidak bisa login VPN di minggu ketiga aku bekerja. Printer yang macet. Akses folder yang hilang. Mouse yang tidak mau mengklik. Proyektor ruang rapat lantai sembilan yang selalu berkedip.
Di kolom paling kanan, ada nama petugas yang menyelesaikannya.
A.K.A. A.K.A. A.K.A. A.K.A.
Hampir semuanya. Dari atas sampai bawah.
Aku menggulir lebih jauh. Ada kolom lain di sebelahnya: jam penyelesaian. Kebanyakan di jam kerja. Tapi beberapa, cukup banyak sebenarnya, ditutup di jam-jam yang aneh.
02.14. 01.47. 02.03. 23.58.
Aku mengerutkan kening. Lalu aku menutup portal itu, karena sudah hampir tengah malam dan otakku sudah terlalu lelah untuk membaca catatan kaki.
Aku menyimpannya di sudut kepalaku, di tempat yang sama dengan foto-foto di dinding rooftop dan hal-hal yang tidak pernah kupikirkan terlalu jauh.
Besok paginya, di rooftop, Sheilla memperbarui klasemen.
“Update!” Dia menggelar laptopnya. “Kemarin Felicia nggak datang makan siang. Dan Mas Andro datang, lihat kursi Felicia, terus diem dua detik. Tim analisis, yaitu aku sendiri, sudah membahas hal ini semalaman.”
“Hasilnya?” tanya Eve, menyesap teh melatinya.
“Hasilnya: dua detik itu adalah ekspresi kekecewaan.”
Jantungku berhenti.
“Kekecewaan karena,” lanjut Sheilla dengan nada dramatis, “kursi Felicia kosong, jadi dia nggak bisa duduk di sebelah Eve. Biasanya Mas Andro naruh nampan di antara Felicia dan Eve. Kemarin dia harus naruh di sebelah aku. Itu jauh dari Eve.”
Jantungku mulai berdetak lagi. Aku tidak tahu harus lega atau tersinggung.
Eve tertawa dan menutup wajah. “Shei, kamu terlalu banyak nonton drama.”
“Drama itu cerminan kehidupan, Eve.”
“Felicia,” kata Eve, menoleh padaku dengan senyum, “kemarin kamu kenapa? Kata Mbak Tari, Pak Hendro marah-marah, terus tiba-tiba minta maaf. Itu beneran?”
“Beneran.”
“Ya ampun. Pak Hendro minta maaf? Itu kayak gerhana matahari.” Eve menyentuh lenganku. “Pasti kamu capek banget. Lain kali bilang, ya. Kita bisa bawain makan.”
“Iya. Lain kali.”
Aku menyesap cokelatku. Gelas kertas dengan tulisan miring. Dia datang lagi tadi, pukul satu lewat dua puluh, dan meletakkan nampan di antara aku dan Eve, seperti biasa. Sheilla memperhatikan posisi nampan itu dengan tatapan detektif.
Kemarin, dia tahu aku tidak makan siang. Dia tahu Pak Hendro tidak pernah lembur siang. Dia tahu aku memakai prosedur kecuali saat terlalu lelah. Dia tahu soal mayones.
Empat tahun aku bekerja di gedung ini, empat tahun aku berjalan dua langkah di belakang sahabat-sahabatku, dan aku selalu merasa nyaman karena tidak ada yang memperhatikan.
Ternyata ada yang memperhatikan. Selama ini.
Aku seharusnya merasa terganggu. Orang yang normal akan merasa terganggu. Aku orang legal, dan secara prosedur, seseorang yang tahu terlalu banyak tentang kebiasaanmu adalah tanda bahaya.
Tapi Andro tidak pernah memakai yang dia tahu untuk mendapatkan sesuatu. Dia memakainya untuk mengirim data ke Pak Hendro. Untuk membawakan roti lapis tanpa mayones. Untuk menunda pembaruan sistem sampai malam, supaya aku bisa bekerja.
Dia mengingatku seperti orang mengingat jalan pulang. Bukan untuk dipamerkan. Hanya supaya tidak tersesat.
“Fel, kamu senyum,” kata Sheilla tiba-tiba.
Aku menurunkan gelas. “Nggak.”
“Kamu senyum ke gelas cokelat.”
“Cokelatnya enak.”
Sheilla menatapku. Lalu dia menatap gelasku. Lalu dia menatap gelasnya sendiri, caramel macchiato, dan menyipitkan mata seolah-olah sedang membandingkan sesuatu.
“Fel,” katanya pelan. “Gelas kamu kok tulisannya lebih rapi dari gelasku?”
“Kamu salah lihat.”
“Nggak. Lihat. Punyaku ‘caramel mac’, disingkat. Punya Eve ‘teh melati’, biasa. Punyamu…” Dia memiringkan kepala. “Ada setengahnya. Pakai pecahan. Siapa yang nulis pecahan di gelas kopi?”
“Orang IT,” kata Eve santai. “Mereka suka angka.”
“Oh iya.” Sheilla mengangguk dan kembali ke klasemennya. “Masuk akal.”
Aku menatap tulisan di gelasku. Gula ½. Huruf kecil yang miring ke kanan.
Lalu aku memarahi diriku sendiri dalam hati, lama dan panjang, dengan kalimat-kalimat yang sangat logis. Bahwa ini bukan apa-apa. Bahwa aku tidak boleh goyah hanya karena roti lapis. Bahwa Eve baru saja minta izin untuk menyukainya, dan aku sudah bilang tidak keberatan.
Semua kalimat itu sangat masuk akal.
Tidak ada satu pun yang berhasil.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat reading
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur