← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty Six

Outing ke Lembang

POV: Andro

Outing tahunan Navara Grup diadakan di Lembang, dua hari satu malam, dan panitianya adalah Sheilla.

Itu informasi yang seharusnya membuatku khawatir. Dan memang membuatku khawatir, terutama saat daftar pembagian kelompok dikirim ke grup “Navara Ceria” hari Kamis pukul sembilan malam.

Selamat malam, Bapak/Ibu. Berikut pembagian kelompok outing Lembang. Pembagian dilakukan secara ACAK oleh panitia menggunakan aplikasi pengacak nama. Tidak bisa ditukar. Tidak bisa diprotes. Terima kasih. —Sheilla (Panitia)

Ada dua puluh kelompok. Masing-masing lima orang. Aku membaca daftar itu dari atas ke bawah.

Kelompok 7: Andro (IT), Felicia (Legal), Eve (Comm), Sheilla (Marketing), Dodi (IT).

Aku membacanya dua kali.

Lalu aku mengirim tangkapan layar ke Felicia.

Andro: Acak? Felicia: Acak. Andro: Dari tiga ratus orang, aplikasi pengacak nama naruh kita berlima di satu kelompok. Felicia: Probabilitasnya kecil. Tapi bukan nol. Andro: Probabilitasnya satu banding sekitar delapan ratus juta. Aku hitung. Felicia: Kamu ngitung itu? Andro: Aku orang IT. Aku nggak bisa nggak ngitung.

Tiga titik.

Felicia: Sheilla bilang dia pengin sekelompok sama Eve dan aku. Terus dia tambahin kamu karena “biar ada yang bisa benerin kalau ada yang rusak”. Terus dia tambahin Dodi karena “biar Mas Andro ada temennya”. Felicia: Dia bilang itu ke aku dan Eve di rooftop. Dia nggak tahu kalau dia baru ngaku nggak acak. Andro: Dia nggak tahu? Felicia: Dia Sheilla.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang ada di kepalaku, karena aku sudah mengatakannya dua kali dan Felicia sudah menjawab dua kali dengan dia Sheilla.

Tapi aku menyimpannya. Satu baris lagi di log yang tidak biasa.


Kami berangkat hari Sabtu pukul enam pagi dari lobby Tower Navara, dengan enam bus pariwisata berwarna oranye yang berjajar di depan gedung seperti barisan ulat bulu raksasa.

Sheilla berdiri di depan bus nomor tiga dengan topi pet bertuliskan PANITIA, papan klip, pengeras suara kecil, dan energi orang yang sudah minum tiga gelas kopi sebelum subuh.

“KELOMPOK TUJUH! BUS TIGA! DUDUKNYA DI KURSI YANG UDAH DITANDAIN!”

Kursi yang sudah ditandai ternyata begini: Eve dan Sheilla di barisan kedua. Dodi di barisan ketiga, di sebelah Mas Bayu dari Comm. Dan di barisan paling belakang, di kursi dekat jendela, dua kursi berdampingan dengan kertas bertuliskan ANDRO dan FELICIA.

Felicia naik bus, membaca kertas itu, dan berhenti.

“Shei,” katanya. “Kenapa aku di belakang?”

“Soalnya kamu suka pinggir,” kata Sheilla dari depan, tanpa menoleh. “Kamu kan selalu di ujung. Ini ujung bus.”

“Kenapa aku di sebelah Andro?”

“Soalnya Mas Andro bawa obat anti mabuk. Kamu kan mabuk kalau naik bus jauh. Aku ingat waktu kuliah kamu muntah di kantong plastik pas study tour ke Bandung.”

Seisi bus menoleh ke Felicia. Felicia menatap Sheilla dengan wajah yang bisa membekukan lava.

“Aku bawa obat anti mabuk?” bisikku pada Dodi, yang duduk di depanku.

Dodi membuka tasnya dan mengeluarkan satu strip obat anti mabuk dengan pita kecil berwarna pink. “Mbak Sheilla titip ke saya kemarin, Bang. Katanya kasih ke Abang. Saya kira buat Abang.”

Aku menatap pita pink itu.

Felicia duduk di sebelahku tanpa berkata apa-apa. Dia menatap lurus ke depan. Bus mulai bergerak.

Aku menyerahkan obat itu padanya. Dia menerimanya, membaca labelnya, lalu menatapku.

“Kamu tahu aku mabuk darat?”

“Baru tahu tiga puluh detik yang lalu.”

“Sheilla tahu.”

“Sheilla tahu banyak hal,” kataku pelan.

Felicia tidak menjawab. Dia menelan obat itu dengan air mineral, lalu menyandarkan kepala ke jendela. Bus naik ke jalan tol. Jakarta mengecil di belakang kami.

Di barisan kedua, Sheilla mulai bernyanyi lewat pengeras suara. Lagu dangdut. Seisi bus ikut bernyanyi. Eve tertawa sambil menutup telinga.

Di barisan paling belakang, tangan Felicia bergerak di atas kursi di antara kami. Pelan. Sampai kelingkingnya menyentuh kelingkingku.

Aku tidak menoleh. Dia tidak menoleh.

Tapi selama tiga jam perjalanan ke Lembang, kelingking kami tidak berpisah sekali pun.


Kebun stroberi di Lembang luas dan berbau tanah basah.

Barisan tanaman stroberi berjajar di bawah naungan plastik setinggi pinggang, buah-buahnya merah dan kecil dan bersembunyi di bawah daun. Setiap kelompok diberi keranjang dan satu tugas dari panitia: petik stroberi sebanyak-banyaknya dalam tiga puluh menit. Kelompok dengan berat stroberi terbanyak menang voucher makan.

Sheilla langsung mengambil alih kelompok tujuh dengan strategi militer.

“Oke! Eve sama aku, barisan satu sampai lima! Dodi, barisan enam sampai sepuluh! Mas Andro sama Felicia…” Dia menunjuk ke ujung kebun yang jauh, hampir di tepi lereng, terpisah dari semua orang oleh dua deretan tanaman yang tinggi. “Barisan paling ujung! Di sana stroberinya paling banyak, kata bapak penjaga!”

Bapak penjaga, yang berdiri di dekat pintu masuk, mengerutkan kening. “Saya nggak bilang begitu, Neng.”

“Bapak bilang tadi! Pas Bapak lagi ngelamun!”

Bapak penjaga mengangkat bahu dan pergi.

Felicia dan aku berjalan ke barisan paling ujung. Jauh dari semua orang. Di balik dua deretan tanaman tinggi. Di tepi lereng dengan pemandangan bukit-bukit hijau dan kabut yang belum sepenuhnya hilang.

Kami berlutut di tanah dan mulai memetik.

Stroberinya memang tidak lebih banyak dari barisan lain. Sheilla berbohong, atau setidaknya memilih kata benda dengan sangat tidak hati-hati. Tapi kami memetik juga, satu per satu, memasukkannya ke keranjang.

“Sheilla tahu aku mabuk darat,” kata Felicia, tanpa mengangkat kepala.

“Iya.”

“Dia naruh kita di belakang bus. Berdua.”

“Iya.”

“Dia naruh kita di barisan paling ujung. Berdua.”

“Iya.”

Felicia berhenti memetik. Dia memegang satu stroberi di tangannya, merah dan sempurna, dan menatapnya lama.

“Andro. Kamu masih mikir Sheilla tahu?”

Aku memikirkan jawabanku dengan hati-hati. Aku sudah mengatakannya dua kali. Dia sudah menolak dua kali. Dan aku tidak mau menjadi laki-laki yang terus-terusan mengatakan aku sudah bilang.

“Aku mikir Sheilla lebih pintar dari yang semua orang kira,” kataku. “Termasuk kamu.”

Felicia menatap stroberi di tangannya.

Lalu dia memasukkannya ke mulutku.

Begitu saja. Tanpa peringatan. Stroberi itu manis dan sedikit asam, dan ujung jarinya menyentuh bibirku saat dia mendorongnya masuk, dan dia menatapku dengan wajah datar seolah-olah dia baru saja memasukkan dokumen ke dalam map.

“Diam,” katanya. “Makan stroberinya.”

Aku mengunyah. Dia memetik stroberi lain dan memakannya sendiri. Sari stroberi tertinggal di sudut bibirnya.

Aku mengulurkan tangan dan mengusapnya dengan ibu jari.

Dia berhenti mengunyah. Dia menatapku. Kabut Lembang bergerak di belakangnya, dan cahaya pagi yang pucat jatuh di pipinya, dan rambutnya yang diikat rendah sudah longgar karena perjalanan bus.

Lalu dia mencondongkan badan dan menciumku di antara barisan stroberi, singkat dan manis dan rasanya seperti stroberi.

“Kamu yang mulai,” katanya saat mundur. “Ibu jari.”

“Itu bukan mulai. Itu bersih-bersih.”

“Itu mulai, Andro. Aku orang legal. Aku tahu kapan seseorang memulai.”


Kelompok tujuh kalah.

Kami mendapat stroberi terbanyak kedua dari bawah. Dodi memakan setengah hasil petikannya sendiri. Sheilla dan Eve sibuk berfoto. Dan keranjang dari barisan paling ujung, menurut timbangan bapak penjaga, hanya berisi tiga ratus gram, yang menurut bapak penjaga “aneh, soalnya barisan ujung itu justru paling lebat”.

Sheilla menatap keranjang kami. Lalu menatap Felicia. Lalu menatap aku.

“Kalian ngapain aja tiga puluh menit?” tanyanya.

“Memetik,” kata Felicia.

“Tiga ratus gram?”

“Stroberinya kecil-kecil.”

Sheilla menyipitkan mata. Lalu dia tersenyum lebar. Senyum yang membuat lesung pipi kirinya muncul. Lalu dia menulis sesuatu di papan klipnya, bukan di kolom skor, tapi di pojok kertas yang dia tutupi dengan tangannya.

“Oke!” katanya. “Kita kalah, tapi kita bahagia! Itu yang penting!”

Eve, di sebelahnya, tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Felicia dengan senyum kecil yang tidak sampai ke mata. Senyum yang sama dengan yang Felicia ceritakan dari malam hujan di apartemennya.


Malam itu ada api unggun.

Villa yang disewa panitia punya lapangan rumput di belakangnya, menghadap ke lembah, dengan lingkaran batu di tengah untuk api. Tiga ratus karyawan Navara Grup duduk melingkar di atas tikar, dengan jagung bakar, wedang jahe, dan gitar yang dimainkan Mas Bayu dengan antusiasme yang lebih besar dari keahliannya.

Udara Lembang di malam hari dingin. Bukan dingin ruang server yang delapan belas derajat. Dingin pegunungan yang masuk ke tulang.

Felicia duduk di tikar di sebelah Eve dan Sheilla, memakai sweter tipis yang jelas tidak cukup. Aku duduk di tikar seberang, bersama Dodi dan tim IT, dan memperhatikannya merapatkan sweternya setiap lima menit.

Aku membawa jaket. Bukan jaket abu-abu, karena jaket itu masih tergantung di apartemennya. Jaket hitam yang lebih tebal, yang kubeli kemarin sore di mal dekat kantor, karena aku tahu aku tidak bisa memakai jaket abu-abu lagi tanpa memikirkan noda oli di ujung lengannya.

Pukul sembilan, Sheilla berdiri di tengah lingkaran dan mengumumkan sesi “jujur-jujuran”.

“Aturannya gampang! Botol diputar! Kalau berhenti di kamu, kamu harus jawab satu pertanyaan dengan JUJUR!”

Botol diputar. Berhenti di Pak Hendro. Pertanyaan: Pak Hendro pernah nangis di kantor? Jawaban, setelah jeda panjang dan tawa seluruh lingkaran: Pernah. Waktu kucing di folder 2016 meninggal.

Botol diputar lagi. Berhenti di Mbak Tari. Pertanyaan: Siapa yang paling sering Mbak Tari gosipin? Jawaban: Kalian semua. Bergantian. Adil.

Botol diputar lagi.

Berhenti di Felicia.

Lingkaran itu menjadi sedikit lebih sunyi. Tiga ratus orang yang mengenal Felicia sebagai goddess paling dingin, yang tidak pernah bicara di grup, yang selalu di ujung foto.

Sheilla, sebagai panitia, yang memberi pertanyaan.

Dia menatap Felicia dengan mata yang berbinar di bawah cahaya api. Dia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Lalu dia melirik Eve, yang menggeleng sangat sedikit, hampir tidak terlihat.

“Fel,” kata Sheilla akhirnya. “Kamu… lebih suka kucing atau anjing?”

Lingkaran itu mengeluh panjang. Seseorang berteriak, “PERTANYAAN APA ITU, MBAK SHEILLA!”

“Pertanyaan yang penting!” balas Sheilla.

“Kucing,” kata Felicia.

“Aku tahu!” Sheilla bertepuk tangan. “Lanjut!”

Botol diputar lagi. Lingkaran itu kembali riuh.

Aku menatap Sheilla dari seberang api. Dia sedang tertawa sambil memutar botol. Tapi tadi, di detik sebelum dia membuka mulut, aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang dia putuskan untuk tidak dikatakan.

Dan aku melihat Eve menggeleng.


Pukul sepuluh lewat, saat api mulai mengecil dan sebagian orang sudah masuk ke villa, aku menemukan Felicia di balik tenda logistik di ujung lapangan.

Dia berdiri sendirian, memeluk dirinya sendiri, menatap lampu-lampu kota Bandung di kejauhan yang berkelip di dasar lembah.

Aku melepas jaket hitamku dan menyampirkannya di bahunya.

Dia menoleh. Dia menyentuh kerah jaket itu.

“Ini bukan yang abu-abu.”

“Yang abu-abu udah ada pemiliknya.”

Dia tersenyum. Dia merapatkan jaket itu, lalu menunduk dan menghirupnya. Dalam-dalam. Dengan mata terpejam.

“Wangi kamu,” katanya.

“Balikin.”

“Ambil sendiri.”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dengan dagu sedikit terangkat, tantangan di matanya, dan jaket hitamku menenggelamkan tubuhnya sampai lutut.

Aku mendekat. Pelan. Aku mengulurkan tangan ke resleting jaket di bawah dagunya. Dia tidak bergerak. Dia hanya menatapku, napasnya membentuk uap kecil di udara dingin.

Aku menurunkan resleting itu. Sangat pelan. Satu senti. Dua. Sambil menatap matanya, bukan resletingnya.

Dia menahan napas. Uap di depan bibirnya menghilang.

Aku berhenti di tengah.

Lalu aku menaikkannya lagi. Sampai ke atas. Sampai ke dagunya. Dan aku menarik kerah jaket itu sedikit, cukup untuk membuatnya mendongak, cukup untuk membuat lehernya terbuka di atas kerah.

Aku mencium lehernya. Di bawah telinga. Di tempat yang sama dengan di mobil di Senopati.

Dia mengeluarkan suara kecil. Tangannya mencengkeram lenganku.

“Nggak jadi,” bisikku di kulitnya. “Lebih bagus di kamu.”


Dia tertawa.

Bukan tawa kecil yang ditahan. Tawa yang lepas, keras, keluar dari perutnya, yang memantul di udara pegunungan dan mungkin terdengar sampai ke lembah. Dia memukul dadaku dengan kepalan tangan yang tenggelam di lengan jaket kebesaran.

“Kamu nyebelin,” katanya di sela tawa.

“Kamu yang bilang ambil sendiri.”

“Kamu nggak ngambil!”

“Aku berubah pikiran di tengah jalan.”

Dia tertawa lagi, kepala menunduk ke dadaku, dan aku ikut tertawa, dan untuk beberapa detik kami berdiri di balik tenda logistik di Lembang, tertawa seperti dua orang bodoh di udara yang dingin, dengan api unggun yang mengecil di kejauhan dan Mas Bayu yang masih memainkan gitar dengan nada yang salah.

Lalu aku mendengar sesuatu.

Langkah kaki di rumput. Di belakang tenda. Berhenti.

Aku mengangkat kepala.

Di ujung tenda, setengah tersembunyi di balik tumpukan kardus air mineral, berdiri seseorang dengan cardigan krem dan rambut cokelat madu yang tertiup angin. Dia memegang dua gelas wedang jahe.

Eve.

Dia tidak bergerak. Dia tidak bersuara. Dia hanya menatap kami. Felicia di dalam jaketku. Kepalanya di dadaku. Tawa yang belum sepenuhnya reda.

Felicia tidak melihatnya. Punggung Felicia menghadap ke arah Eve.

Mata Eve bertemu mataku.

Aku tidak tahu apa yang kulihat di matanya. Bukan marah. Bukan sakit hati. Sesuatu yang lebih rumit dari itu, seperti orang yang sedang menatap sesuatu yang dia inginkan di balik kaca etalase, sesuatu yang bukan miliknya dan tidak akan pernah jadi miliknya, dan dia tahu itu, dan dia tidak keberatan, tapi tetap menatapnya.

Lalu Eve tersenyum.

Senyum yang sangat kecil. Hampir sedih. Hampir lega.

Dia meletakkan satu jarinya di depan bibir.

Sst.

Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke api unggun, dengan dua gelas wedang jahe yang tidak jadi dia berikan pada siapa pun.

Felicia mengangkat kepala dari dadaku. “Kenapa? Kamu kaku.”

Aku menatap ke tempat Eve tadi berdiri. Kosong. Hanya tumpukan kardus air mineral dan rumput yang bergoyang.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Ada kucing.”

Itu bukan bohong. Ada kucing kampung yang sedang tidur di atas kardus, yang baru saja terbangun dan menatapku dengan mata kuning.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa memilih kata benda dengan hati-hati bukan hal yang membanggakan.

Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakan kepada Felicia bahwa sahabatnya baru saja melihat semuanya, menyuruhku diam, dan pergi.

Itu bukan rahasiaku untuk diceritakan.

Itu rahasia Eve.