← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirty

Foto yang Bocor

POV: Andro

Hari Senin aku membaca log seperti biasa, pukul tujuh pagi, dengan kopi, sebelum orang lain datang.

Log hari itu tidak menarik. Tiga percobaan login gagal dari akun anak magang yang lupa password. Satu printer di lantai empat yang mengirim sinyal kertas habis setiap lima menit sejak Sabtu. Satu laptop di lantai sebelas yang terhubung ke jaringan Wi-Fi tamu, bukan Wi-Fi kantor, Jumat malam pukul sepuluh lewat enam.

Aku mencatat laptop itu. Bukan karena mencurigakan. Karena aku mencatat semua yang tidak biasa.

Lalu aku menutup log dan membuka grup “Navara Ceria” untuk memeriksa apakah ada pengumuman pemadaman listrik dari GA.

Pesan terakhir di grup itu dikirim pukul enam lewat lima puluh dua pagi. Bukan oleh Bu Ratna. Oleh nomor yang tidak kukenal, dengan foto profil kosong dan nama yang hanya berupa titik.

Pesan itu berisi satu foto.

Dan satu kalimat.


Fotonya diambil dari jauh. Dari dalam mobil, kalau dilihat dari pantulan kaca di sudut gambar. Buram di bagian pinggir. Lampu neon basement memberi warna kehijauan yang tidak enak pada segalanya.

Tapi di tengahnya, cukup jelas.

Seorang laki-laki berkemeja biru muda, berdiri di samping mobil abu-abu di sebelah pilar beton. Seorang perempuan dengan rambut hitam panjang tergerai, gaun kantor hitam, berdiri sangat dekat dengannya. Wajah mereka hampir menempel. Tangan laki-laki itu di rambut perempuan itu, menyelipkannya ke belakang telinga.

Itu bukan foto ciuman. Fotografernya terlambat satu detik. Atau terlalu cepat.

Tapi tidak perlu ciuman untuk tahu apa yang sedang terjadi.

Kalimat di bawahnya:

Goddess nikung goddess? 👀 Cowok yang ngejar Mbak Eve ternyata main sama sahabatnya sendiri di basement. Kasihan Mbak Eve. Nggak tahu apa-apa.

Aku menatap layar itu lama sekali.

Kopiku dingin. Aku tidak menyadarinya.

Pesan itu sudah dilihat dua ratus empat puluh tujuh orang. Belum ada balasan. Pukul tujuh pagi, kebanyakan orang masih di jalan. Mereka membukanya di bus, di mobil, di antrean ojek. Mereka membacanya dan diam. Diam yang berbahaya. Diam sebelum ledakan.

Aku menekan nomor tanpa nama itu. Tidak ada informasi. Nomor itu bergabung ke grup pukul enam lewat lima puluh, dua menit sebelum mengirim foto. Ditambahkan lewat tautan undangan grup, yang sudah dibagikan Bu Ratna ratusan kali selama bertahun-tahun ke setiap karyawan baru.

Siapa pun bisa masuk. Siapa pun yang punya tautan itu.

Aku menelepon Felicia.

Tidak diangkat.

Aku menelepon lagi.

Tidak diangkat.

Aku mengirim pesan.

Andro: Fel. Kamu udah lihat grup?

Satu centang. Bukan dua. Ponselnya mati, atau dia mematikan data.

Pukul tujuh lewat delapan, balasan pertama muncul di grup “Navara Ceria”.

Dari Bu Ratna.

Selamat pagi, Bapak/Ibu. Mohon maaf, pesan di atas BUKAN dari HR. Nomor tersebut tidak dikenal. Mohon tidak disebarluaskan. Admin akan menghapus. Terima kasih.

Pukul tujuh lewat sembilan, foto itu dihapus.

Pukul tujuh lewat sepuluh, foto itu muncul lagi. Bukan di grup. Di ponsel-ponsel. Sudah ada yang mengambil tangkapan layar sebelum dihapus. Sudah ada yang meneruskannya ke grup divisi, grup angkatan, grup arisan.

Aku tahu, karena dalam tiga menit berikutnya, aku menerima foto yang sama dari empat orang berbeda. Tidak satu pun dari mereka menulis apa-apa. Mereka hanya mengirim foto itu, seperti orang yang menyerahkan bukti kepada terdakwa.


Dodi datang pukul tujuh lewat dua puluh. Dia tidak membawa Indomie. Dia tidak membawa kacang. Dia berjalan langsung ke mejaku dengan ponsel di tangan dan wajah pucat.

“Bang.”

“Aku udah lihat.”

“Bang, itu…”

“Aku tahu, Dod.”

Dodi berdiri di sana, membuka mulut, menutupnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Junior IT paling cerewet di Tower Navara, dan untuk pertama kalinya dia tidak punya kalimat.

Lalu dia duduk di kursinya, membuka laptopnya, dan mulai mengetik dengan sangat cepat.

“Kamu ngapain?”

“Saya bikin sanggahan, Bang. Di grup.” Dia tidak mengangkat kepala. “Saya bilang fotonya buram. Saya bilang itu bisa aja Abang sama pilar. Pilarnya pakai wig.”

“Dod. Jangan.”

“Tapi, Bang…”

“Jangan bales apa pun. Semakin banyak yang bales, semakin lama orang ingat.”

Dodi berhenti mengetik. Dia menatapku. Lalu dia menghapus semua yang sudah dia tulis, satu karakter demi satu karakter, dengan wajah orang yang menghapus surat cinta yang tidak jadi dikirim.

“Saya tadi udah nulis panjang, Bang,” katanya pelan. “Ada teori pilarnya. Ada bukti forensik. Saya bilang wig-nya merek Korea.”

“Simpan. Buat nanti.”

“Nanti kapan?”

Aku tidak tahu.


Pukul delapan, Mas Yudha datang.

Dia tidak berbicara. Dia meletakkan tasnya di ruang kaca, lalu keluar lagi dan berdiri di belakang kursiku. Lama. Aku merasakan kehadirannya seperti AC yang tiba-tiba terlalu dingin.

Lalu dia meletakkan tangannya di bahuku.

Dia tidak pernah melakukan itu. Lima tahun aku bekerja di bawahnya, dan satu-satunya kontak fisik yang pernah terjadi di antara kami adalah tepukan di bahu saat aku memberitahunya bahwa aku sudah bicara di tangga darurat. Satu tepukan. Lalu dia pulang.

Kali ini tangannya tinggal di bahuku. Tidak menepuk. Hanya ada.

“Laporan,” katanya.

Aku mengangguk. Aku mengerti. Aku membuka dokumen kosong.

Laporan Penyebaran Konten Pribadi Karyawan Tanpa Izin melalui Grup Komunikasi Internal.

Aku mulai mengetik. Jam. Nomor. Cara masuk ke grup. Jumlah orang yang melihat. Waktu penghapusan. Tidak ada kata sifat. Tidak ada perasaan. Persis seperti map lima belas halaman untuk Marcel Wiguna.

Kecuali kali ini, foto itu tentang aku. Dan tanganku gemetar di atas keyboard.

Mas Yudha tetap berdiri di belakangku sampai aku selesai halaman pertama. Lalu dia mengambil tangannya dari bahuku, kembali ke ruang kaca, dan menutup pintunya.

Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana. Tapi lampu telepon di mejanya menyala sepanjang pagi.


Felicia tidak menjawab sampai pukul sembilan lewat lima belas.

Pesannya masuk saat aku sedang di halaman kedua laporan.

Felicia: Jangan ke lantai sembilan. Felicia: Jangan ngomong apa-apa ke siapa-siapa. Felicia: Tolong.

Aku menatap pesan itu. Tiga baris. Pendek. Tanpa emoji. Tanpa nama di ujungnya.

Andro: Kamu di mana? Felicia: Di mejaku. Andro: Kamu nggak apa-apa?

Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.

Felicia: Mbak Tari nanya. Anak magang nanya. Pak Hendro nggak nanya, tapi dia lihat aku dari ruangannya tiap lima menit. Felicia: Bu Ratna telepon. Dia minta maaf. Dia bilang bukan dia. Felicia: Orang-orang lewat di belakang mejaku pelan-pelan. Kayak lewat di depan kandang di kebun binatang.

Aku menutup mata.

Andro: Aku turun. Felicia: Jangan. Felicia: Kalau kamu turun, mereka bakal lihat. Itu bakal jadi foto kedua. Felicia: Tolong, Andro. Jangan.

Aku menatap layar. Jariku di atas tombol kirim, dengan pesan yang belum selesai.

Aku nggak peduli soal foto kedua.

Aku menghapusnya.

Itu bukan keputusanku. Dia yang memutuskan kapan berdiri di tengah. Aku yang bilang begitu. Di tangga darurat. Di hari dia bilang selamat, kamu berhasil.

Andro: Oke.

Satu kali.

Felicia: Eve belum datang. Felicia: Dia izin. Sakit, katanya. Felicia: Sheilla nggak bales pesanku.

Itu yang membuatku berhenti bernapas sebentar.


Pukul sepuluh, grup “Navara Ceria” tidak lagi diam.

Bukan di grup utama. Bu Ratna sudah mengunci grup itu, hanya admin yang bisa mengirim pesan. Tapi di grup-grup kecil, di grup divisi, di grup bayangan yang tidak pernah diketahui HR, orang mulai bicara.

Dodi, yang entah bagaimana tergabung di sembilan belas grup berbeda di Tower Navara, membacakannya untukku dengan suara pelan, satu per satu, karena aku memintanya. Aku perlu tahu. Aku perlu data.

“Grup lantai empat: ‘Pantesan Mbak Felicia koreksi kerahnya di rapat. Ternyata udah lama.’”

“Grup Marketing: ‘Kasihan Mbak Eve. Dia yang makan malam berdua sama Mas Andro, lho. Bu Ratna sendiri yang bilang.’”

“Grup keuangan: ‘Goddess paling dingin ternyata paling licin.’”

Dodi berhenti. Rahangnya mengeras.

“Lanjut,” kataku.

“Bang…”

“Lanjut, Dod.”

“Grup bayangan lantai sebelas,” kata Dodi pelan. “‘Udah kuduga dari awal. Dia sengaja deketin cowok yang dikejar sahabatnya. Tipe-tipe yang suka ngambil punya orang. Kasihan Mbak Eve, dia baik banget.’”

Lantai sebelas.

Aku menatap layar laptopku. Di tab sebelah, log yang tadi pagi kubaca masih terbuka. Satu baris yang tidak biasa.

Laptop terhubung ke Wi-Fi tamu. Lantai sebelas. Jumat, 22.06.

Jumat pukul sepuluh lewat enam. Empat menit setelah Felicia dan aku turun ke basement.

Aku membuka detail baris itu. Nama perangkat. Pemilik terdaftar. Divisi.

Aku tidak membacanya keras-keras. Aku tidak mengatakan apa-apa pada Dodi. Aku hanya menatap nama itu, dan rahangku mengeras sampai telingaku berdenging, dan aku menutup tab itu.

Itu belum bukti. Laptop yang terhubung ke Wi-Fi tamu bukan bukti. Seseorang bisa saja lembur. Seseorang bisa saja turun ke basement mengambil sesuatu dari mobilnya.

Aku menyimpannya. Satu baris lagi di log. Dan aku melanjutkan laporan untuk Mas Yudha, tanpa nama siapa pun di dalamnya, karena aku tidak menuduh orang berdasarkan satu baris.

Tapi di bawah meja, tanganku mengepal.


Pukul satu lewat sepuluh, aku berdiri di depan dispenser di pantry lantai dua dengan nampan kayu di tangan.

Pasal 3. Pihak Kedua tetap membawa tiga minuman ke rooftop setiap hari kerja pukul 13.20. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan yang mencurigakan.

Dodi berdiri di pintu pantry.

“Bang. Abang mau naik?”

“Pasal 3.”

“Bang, hari ini rooftop penuh. Saya dengar dari anak Event. Semua orang naik makan siang hari ini. Biasanya cuma setengah. Hari ini penuh.” Dodi menelan ludah. “Mereka nungguin Abang naik, Bang. Mereka mau lihat.”

“Kalau aku nggak naik, mereka makin yakin.”

“Kalau Abang naik, mereka makin yakin juga.”

Aku menatap tiga gelas kosong di nampan. Aku sudah memesan isinya di kafe lantai dasar sepuluh menit lalu, lewat aplikasi, supaya tidak perlu antre di depan orang-orang. Teh melati. Caramel macchiato. Cokelat panas, gula setengah.

Eve tidak masuk. Sheilla tidak membalas. Apakah aku membawa tiga gelas ke meja yang hanya berisi satu orang?

Atau aku tidak naik sama sekali, dan membiarkan Felicia duduk sendirian di meja pojok rooftop yang penuh, di bawah dinding foto, dengan lima puluh pasang mata menunggu?

“Bang,” kata Dodi pelan. “Biar saya yang antar.”

Aku menoleh.

“Saya yang antar,” ulangnya. “Saya junior IT. Nggak ada yang peduli sama saya. Saya bawa tiga gelas, taruh di meja, pergi. Kayak Abang. Bedanya, saya nggak ada di foto.”

Aku menatapnya. Dodi Saputra, dua puluh empat tahun, yang mengirim CV setebal tiga halaman dengan daftar game. Yang memasang aplikasi langkah kaki di ponselku tanpa izin. Yang menjaga lobby empat puluh menit dan bilang ke Sheilla bahwa lift lantai dua sedang dibersihkan.

“Kamu yakin?”

“Saya yakin, Bang.” Dia mengambil nampan dari tanganku. “Pasal 3 nggak bilang Pihak Kedua harus antar sendiri. Saya baca perjanjiannya, Bang. Mbak Felicia pernah kirim ke saya buat cadangan, kalau HP Abang hilang.”

Aku tidak tahu itu.

Tentu saja aku tidak tahu itu. Felicia selalu punya cadangan untuk cadanganku.


Pukul satu lewat dua puluh, Dodi naik ke rooftop dengan tiga gelas.

Aku tidak naik. Aku berdiri di bordes tangga darurat antara lantai sebelas dan dua belas, di balik pintu rooftop yang terbuka sedikit, di tempat yang tidak terlihat dari dalam. Aku tidak berniat menguping. Aku hanya tidak bisa berada di tempat lain.

Dari celah pintu, aku bisa melihat sebagian rooftop.

Penuh. Dodi benar. Semua meja terisi. Orang-orang dari lantai empat, lantai tujuh, lantai sebelas. Orang-orang yang biasanya makan di meja kerja mereka. Mereka makan dengan lambat, dengan kepala yang sesekali menoleh ke arah yang sama.

Meja pojok. Di dekat dinding foto.

Felicia duduk di sana. Sendirian. Punggung tegak. Rambut diikat rendah. Blazer abu-abu. Wajah datar. Tangan terlipat di atas meja, di depan piring yang tidak disentuh.

Dua kursi di sebelahnya kosong.

Dodi berjalan ke meja itu. Dia meletakkan tiga gelas. Satu di depan Felicia. Dua di depan kursi kosong. Dia mengangguk pada Felicia, persis seperti aku selalu mengangguk, lalu berbalik untuk pergi.

Lalu seseorang di meja tengah berbicara. Keras. Cukup keras untuk didengar seluruh rooftop.

“Lho, kok Dodi yang antar? Mas Andro-nya mana? Takut ketahuan lagi, ya?”

Beberapa orang tertawa. Tawa yang pendek dan tidak enak.

Dodi berhenti. Bahunya kaku.

Aku melihat Felicia mengangkat kepala.

Dia tidak menatap orang yang berbicara. Dia menatap tiga gelas di meja. Gelas cokelat di depannya. Teh melati di depan kursi kosong Eve. Caramel macchiato di depan kursi kosong Sheilla.

Lalu dia berdiri.

Aku melihatnya dari celah pintu. Felicia Aurelia Hartono, yang seumur hidup berdiri di ujung foto. Yang turun lewat tangga darurat karena benci lift penuh. Yang berjalan dua langkah di belakang sahabat-sahabatnya selama sepuluh tahun.

Dia berdiri di tengah rooftop yang penuh. Dan semua kepala menoleh padanya.

Lima puluh pasang mata. Mungkin lebih.

Dia membuka mulutnya.

Dan aku, dari balik pintu tangga darurat, menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang akan dia katakan.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak bisa menebaknya.