Chapter Twenty Seven
Rival dari Lantai Sebelas
POV: Felicia
Namanya Kirana Putri Larasati, dua puluh enam tahun, data analyst baru di divisi strategi lantai sebelas, dan dia datang ke Tower Navara seperti badai yang sudah membaca prakiraan cuacanya sendiri.
Aku mengetahui keberadaannya dari Sheilla, hari Senin pagi setelah outing, di rooftop.
“Ada anak baru di lantai sebelas,” kata Sheilla, membuka laptopnya dengan wajah orang yang menemukan ancaman keamanan nasional. “Data analyst. Lulusan Melbourne. Rambutnya pendek kayak model iklan sampo. Kemarin dia datang ke kantor pakai sepatu kets putih sama blazer, dan semua orang di lantai sebelas kayak lihat malaikat turun.”
“Terus?” tanya Eve.
“Terus…” Sheilla membalik laptopnya ke arah kami. Di layar, ada tangkapan layar dari grup “Navara Ceria”.
Selamat pagi, Bapak/Ibu. Info: Mbak Kirana dari Strategi (anak baru) hari ini kedapatan nanya ke Pak Udin, “Mas Andro dari IT itu udah punya pacar belum, Pak?” Pak Udin menjawab: “Wah, saya kurang tahu, Mbak.” Polling dibuka kembali. Terima kasih.
Aku meletakkan gelas cokelatku.
“Kurang tahu,” ulang Eve, tersenyum ke tehnya. “Pak Udin bilang kurang tahu.”
“Itu bukan poinnya, Eve!” Sheilla mengetuk layar dengan keras. “Poinnya, ada pemain baru di liga! Dan dia agresif! Dia nanya langsung! Ke Pak Udin! Di hari ketiga kerja!”
“Kamu kan dulu juga nanya ke Bu Ratna,” kata Eve.
“Itu beda. Aku nanya dengan penuh hormat.” Sheilla menutup laptopnya. “Dan aku udah legowo. Aku cuma peduli sama kesejahteraan liga.”
Aku menyesap cokelatku. Rasanya tiba-tiba terlalu manis. Padahal gulanya tetap setengah.
Aku melihatnya sendiri hari Selasa.
Pukul sepuluh pagi, rapat koordinasi antardivisi untuk persiapan HUT Navara, di ruang rapat lantai sebelas. Legal mengirim aku. IT mengirim Andro, karena ada pembahasan soal layar LED dan sound system untuk acara puncak. Strategi mengirim Kirana.
Dia memang cantik. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Rambutnya hitam, dipotong pendek sebatas rahang, dengan poni samping yang jatuh tepat di atas alis. Kulitnya sawo matang dan bercahaya. Dia memakai kemeja putih yang lengannya digulung dengan sangat rapi, celana panjang krem, dan sepatu kets putih yang entah bagaimana membuat semua sepatu hak di ruangan itu terlihat berlebihan.
Dan dia percaya diri. Bukan percaya diri seperti Sheilla, yang meledak-ledak dan lucu. Percaya diri yang tenang, yang membuat orang berhenti bicara saat dia membuka mulut.
Dia duduk di sebelah Andro.
Bukan di kursi kosong di ujung meja. Bukan di sebelah orang strategi lainnya. Di sebelah Andro. Dia menarik kursi itu, tersenyum padanya, dan berkata, “Boleh, Mas? Aku perlu lihat data LED-nya juga.”
“Boleh,” kata Andro. Ramah. Seperti dia ramah pada semua orang.
Aku duduk di seberang meja, di sebelah Mbak Rina dari GA, dan membuka laptopku.
Selama empat puluh menit rapat, Kirana bertanya pada Andro sebelas kali. Aku menghitung. Tentang spesifikasi layar. Tentang kapasitas listrik. Tentang apakah Mas Andro yang akan standby di hari acara. Tentang apakah Mas Andro bisa bantu dia memasang dashboard visualisasi data di laptopnya, karena laptop kantornya “nggak mau kerja sama”.
Setiap pertanyaan disertai senyum. Setiap senyum disertai sentuhan kecil. Tangan di lengan kemeja Andro saat dia menunjuk sesuatu di layar. Bahu yang condong ke arahnya saat dia membaca dokumen. Tawa kecil saat Andro menjelaskan sesuatu yang tidak lucu.
Andro menjawab semuanya dengan sopan. Profesional. Ramah. Tidak lebih. Tidak kurang.
Tapi dia tidak menarik lengannya.
Aku tahu kenapa. Menarik lengan akan terlihat kasar. Andro tidak pernah kasar pada siapa pun, apalagi pada anak baru di hari keempatnya bekerja. Aku tahu itu. Aku tahu itu dengan sangat logis.
Logika tidak membantu sama sekali.
Ada sesuatu yang panas dan kecil yang naik dari perutku dan berhenti di belakang tenggorokan. Aku mengenalinya sekarang. Sheilla benar. Seperti sambal. Awalnya kamu pikir kamu kuat.
Aku mengetik catatan rapat. Aku salah ketik spesifikasi jadi spesikasi. Dua kali.
Mbak Rina di sebelahku melirik layarku. “Mbak Fel. Typo.”
“AC-nya dingin,” kataku.
Mbak Rina menatap AC. Lalu menatapku. Lalu menatap Kirana yang sedang tertawa kecil di sebelah Andro. Lalu kembali menatap layarnya sendiri dengan senyum yang sangat tahu.
Rapat selesai pukul sebelas kurang sepuluh.
Semua orang berdiri. Kirana berdiri juga, merapikan berkas, lalu berbalik pada Andro dengan senyum yang lebih lebar dari sebelas senyum sebelumnya.
“Mas Andro, nanti siang ada waktu? Aku traktir kopi. Sebagai ucapan terima kasih udah bantu dashboard.”
Ruangan itu tidak sunyi. Orang-orang masih berbicara, memasukkan laptop ke tas, mendorong kursi. Tapi aku merasakan beberapa kepala menoleh. Mbak Rina. Dua orang dari Event. Bahkan Pak Wirya, yang sedang berdiri di pintu.
Andro membuka mulut.
Dan sebelum dia sempat menjawab, aku sudah berdiri di sebelahnya.
Aku tidak merencanakannya. Aku orang yang selalu merencanakan segalanya. Aku menyusun perjanjian kerahasiaan dengan delapan pasal. Aku menghitung kontak mata dalam desimal. Tapi kakiku membawaku memutari meja rapat dan berhenti di sebelah Andro sebelum otakku sempat mengajukan keberatan.
“Andro,” kataku. Suaraku datar. Suara legal. “Kerahmu.”
Dia menoleh. “Hm?”
Aku mengangkat tangan dan membetulkan kerah kemejanya. Kerah yang sebenarnya tidak miring sama sekali. Aku menariknya sedikit ke kiri, lalu ke kanan, lalu menepuknya sekali di bagian dada. Pelan. Dengan dua jari. Seperti istri yang mengantar suaminya berangkat kerja.
Di depan Kirana. Di depan Mbak Rina. Di depan Pak Wirya, yang berhenti di pintu dengan ekspresi orang yang baru melihat kucing bisa bicara.
“Kerahnya, Pak,” kataku. “Biar nggak ada yang salah lihat.”
Lalu aku mengambil laptopku dan berjalan keluar.
Aku tidak menoleh ke belakang. Aku berjalan ke tangga darurat dengan langkah yang sangat teratur, dan baru di bordes lantai sepuluh aku berhenti, bersandar di dinding, dan menutup wajah dengan laptop.
Apa yang baru saja kulakukan.
Pasal 2. Pasal 6. Hampir semua pasal dalam perjanjian. Dilanggar dalam satu gerakan dua jari di depan setidaknya enam saksi, termasuk direktur utama perusahaan.
Ponselku bergetar.
Andro: Itu tadi apa?
Aku menatap layar. Wajahku panas.
Felicia: Penandaan aset.
Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.
Andro: Kirana nanya, “Mbak Felicia itu siapanya Mas?” Aku jawab “Mbak Felicia dari legal”. Dia bilang, “Oh. Legal emang suka ngatur-ngatur, ya.” Andro: Pak Wirya ketawa sampai batuk. Felicia: Pak Wirya lihat? Andro: Pak Wirya, Mbak Rina, dua orang Event, dan kayaknya satu cleaning service di koridor. Felicia: Aku mau resign. Andro: Jangan. Nanti aku nggak punya alasan naik tangga.
Aku tertawa ke laptop, sendirian, di bordes lantai sepuluh.
Andro: Kopinya aku tolak. Aku bilang aku udah punya langganan kopi siang. Tiga gelas. Felicia: Kamu nolak di depan Pak Wirya? Andro: Aku nolak dengan sopan. Kayak orang legal.
Kejadian di rapat itu sampai ke grup “Navara Ceria” dalam waktu empat puluh dua menit.
Bukan versi lengkapnya. Mbak Rina, entah karena setia atau karena takut, hanya menyebarkan versi yang sangat disederhanakan pada Bu Ratna. Dan Bu Ratna, yang terbiasa menulis berita tanpa konteks, memformulasikannya seperti ini:
Selamat siang, Bapak/Ibu. Info: di rapat koordinasi HUT tadi, Mbak Felicia (Legal) KOREKSI KERAH Mas Andro (IT) di depan umum. Saksi mata bilang itu “sangat tegas”. Apakah ini konflik antardivisi? Atau sesuatu yang lain? Polling dibuka kembali. Terima kasih.
Opsi polling: ○ Konflik antardivisi (Legal vs IT) ○ Mbak Felicia memang perfeksionis ○ Sesuatu yang lain 👀 ○ Saya juga mau dikoreksi kerahnya
Pukul satu lewat dua puluh, rooftop.
Andro datang dengan nampan tiga minuman. Dia meletakkannya, mengangguk, pergi. Pasal 3. Wajahnya datar. Tapi ujung telinganya merah.
Sheilla menunggu sampai dia hilang di tangga. Lalu dia membalik laptopnya ke arahku dengan gerakan dramatis.
“Felicia. Aurelia. Hartono.”
“Iya.”
“Kamu. Koreksi. Kerah. Mas Andro.”
“Kerahnya miring.”
“Di depan Pak Wirya!”
“Pak Wirya juga perlu lihat kerah yang rapi.”
Sheilla menatapku dengan mata bulat. Lalu dia menatap polling di layar. Opsi pertama, konflik antardivisi, dua puluh persen. Opsi kedua, Mbak Felicia memang perfeksionis, empat puluh satu persen. Opsi ketiga, sesuatu yang lain, tiga puluh delapan persen. Opsi keempat, satu persen, dan pemilihnya, aku yakin, Mbak Tari.
“Fel,” kata Sheilla pelan. “Aku pilih opsi kedua. Karena aku kenal kamu. Kamu perfeksionis.”
“Makasih, Shei.”
“Tapi…” Dia memiringkan kepala. “Kamu nggak pernah koreksi kerah aku. Padahal kerahku sering miring.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Eve, di sebelahnya, menyesap teh melatinya dan menatap ke luar jendela. Dia tidak berkata apa-apa sepanjang makan siang. Hanya tersenyum kecil. Sesekali. Ke tehnya.
Lalu, saat Sheilla pergi ke kasir untuk membeli keripik, Eve berbicara tanpa menoleh.
“Kirana nggak bakal berhenti,” katanya pelan. “Aku kenal tipenya. Kalau dia mau sesuatu, dia kejar.”
“Kenapa kamu bilang ke aku?”
Eve menoleh. Matanya lembut. Dan di dalamnya ada sesuatu yang sangat jelas, dan sangat hati-hati, seperti pesan yang ditulis dengan pensil supaya bisa dihapus kalau perlu.
“Soalnya kamu yang koreksi kerahnya,” katanya.
Lalu Sheilla kembali dengan keripik, dan Eve berbalik padanya, dan bertanya soal rasa keripiknya, dan tidak menatapku lagi sepanjang sisa makan siang.
Sore itu, ponselku bergetar pukul empat lewat dua puluh.
Bukan pesan dari Andro. Foto dari Dodi. Aku tidak tahu Dodi punya nomorku. Aku tidak menyimpannya.
Foto itu menunjukkan monitor Andro di ruang IT. Di sudut kanan atas layar, menempel satu sticky note kuning kecil. Di atasnya, dengan pulpen biru, satu huruf.
F.
Di bawah foto itu, pesan dari Dodi:
Dodi: Mbak. Ini Dodi. Maaf ganggu. Dodi: Siang tadi ada sticky note ini di monitor Bang Andro. Saya nggak tahu siapa yang tempel. Dodi: Tapi tadi Mbak Kirana mampir ke meja Bang Andro, nanya soal dashboard lagi. Dia lihat sticky notenya. Dia nanya “F itu apa, Mas?” Dodi: Bang Andro bilang “Firewall.” Dodi: Saya cabut sticky notenya pas Mbak Kirana pergi, Bang Andro langsung nempelin lagi. Dodi: Saya cuma mau lapor, Mbak. Saya nggak tahu apa-apa.
Aku menatap foto itu lama.
Aku yang menempelnya. Pukul satu lewat tiga puluh, saat Andro sedang di toilet dan Dodi sedang di pantry, aku turun ke lantai dua dengan alasan mengambil printout di printer bersama, dan menempelkannya di sudut monitornya dalam dua detik.
Aku tidak merencanakannya. Itu sudah jadi pola hari ini.
Pesan baru masuk. Kali ini dari Andro.
Andro: Kamu nempel di monitorku. Felicia: Penandaan aset. Andro: Kirana lihat. Felicia: Bagus. Andro: Aku bilang itu firewall. Felicia: Dodi udah lapor. Andro: Dodi lapor ke kamu? Felicia: Dodi punya nomorku. Aku nggak tahu dari mana. Andro: Dari aku. Buat darurat. Kalau aku kenapa-kenapa. Andro: Ternyata dia pakai buat ini.
Aku tertawa sendirian di meja. Mbak Tari menggeser kursinya dua senti.
Felicia: Nanti malam aku audit kepemilikannya.
Tiga titik. Lama sekali. Lebih lama dari yang pernah ada.
Andro: Ruang server. Jam tujuh. Andro: Dodi aku suruh pulang jam enam. Dia bilang mau beli Indomie di Bogor.
Pukul tujuh lewat dua, aku mengetuk pintu ruang server.
Pintu terbuka dari dalam. Dia berdiri di sana, lengan kemeja digulung, kacamata di wajah, dasi yang tidak ada karena dia jarang memakainya kecuali dipaksa Pak Wirya.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia menarikku masuk.
Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi klik yang berat. Dengung server memenuhi telinga. Delapan belas derajat.
Lalu, sebelum aku sempat mengisi buku tamu, sebelum aku sempat mengucapkan satu kata pun tentang audit, dia mengangkatku.
Begitu saja. Kedua tangannya di pinggangku, satu gerakan, dan aku sudah duduk di atas meja besi di dekat pintu, di sebelah buku tamu bersampul biru, dengan dia berdiri di antara lututku.
Dia yang memulai kali ini.
Aku menyadarinya dengan sedikit terkejut. Empat tahun dia menunggu. Sebulan dia bersabar. Di ruang server, di pantry, di lift, di mobil, aku selalu yang menarik dasinya, menarik kerahnya, menutup jarak terakhir. Tapi malam ini dia berdiri di depanku dengan mata yang gelap di balik kacamata, dan dia tidak menunggu.
“Audit sekarang,” katanya. Suaranya rendah. Lebih rendah dari dengung server. “Bagian mana yang mau dicek dulu?”
Aku menatapnya. Laki-laki yang bilang firewall pada anak baru dari Melbourne. Laki-laki yang menolak kopi di depan Pak Wirya. Laki-laki yang menempelkan kembali sticky note yang dicabut Dodi.
Aku menarik wajahnya ke leherku.
“Mulai dari sini,” bisikku. “Pelan.”
Dia menurut. Pelan. Bibirnya di leherku, di bawah telinga, lalu turun sedikit, ke tempat kerah kemejaku berakhir. Tanganku mencengkeram bahunya. Napasku pecah, sama seperti di mobil, sama seperti di setiap tempat yang dia sentuh dengan cara ini. Kakiku melingkar di belakang lututnya tanpa kuminta.
Lalu dia naik lagi. Ke rahangku. Ke sudut bibirku. Dan menciumku dengan cara yang membuatku lupa bahwa aku pernah cemburu pada siapa pun, pada apa pun, pada data analyst lulusan Melbourne dengan sepatu kets putih.
Lama. Sangat lama. Lampu-lampu server berkedip ratusan kali.
Saat dia akhirnya mundur, dahinya menempel di dahiku, napasnya berat.
“Hasil audit?” tanyaku. Suaraku nyaris tidak keluar.
“Kepemilikan terkonfirmasi,” katanya. “Seratus persen.”
“Ada temuan?”
“Satu.” Dia mengangkat kepala dan menatapku. “Pemiliknya cemburu.”
“Aku nggak cemburu.”
Dia tersenyum. Ibu jarinya menyentuh rahangku. Rahangku, yang aku sadari tiba-tiba, sedang terkatup sangat keras.
“Rahang kamu bilang lain,” katanya.
Aku memukul dadanya. Dia menangkap tanganku. Dia menciumnya, di buku-buku jari, satu per satu.
Lalu, di luar pintu, di koridor yang seharusnya kosong, terdengar suara yang membuat kami berdua membeku.
Bunyi kantong plastik. Dan langkah kaki yang berhenti tepat di depan pintu.
“Bang?” Suara Dodi. Pelan. Ragu-ragu. “Bang, saya nggak jadi ke Bogor. Macet. Saya beli Indomie di lobby aja. Saya taruh di depan pintu, ya. Saya nggak masuk. Saya nggak dengar apa-apa. Saya pulang sekarang.”
Langkah kaki menjauh. Cepat. Hampir berlari.
Kami menatap pintu.
Lalu aku menyembunyikan wajahku di bahunya dan tertawa sampai perutku sakit. Dia ikut tertawa, bahunya bergetar di bawah pipiku.
Di depan pintu ruang server, saat kami akhirnya keluar dua puluh menit kemudian, ada kantong plastik berisi dua bungkus Indomie rasa soto. Dan selembar sticky note kuning yang menempel di kantongnya.
Buat Bang Andro dan Firewall. Selamat makan. —D
Aku menyimpan sticky note itu di dompetku. Di sebelah yang satu lagi. Yang bertuliskan F, yang kucabut dari monitornya sebelum pulang, supaya Kirana tidak perlu bertanya lagi.
Sekarang aku punya dua.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas reading
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur