← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirty Two

Yang Tidak Dia Pilih

POV: Andro

Aku tidak membalas emoji itu.

Bukan karena aku marah. Aku sudah bilang aku tidak marah, dan itu benar. Aku memeriksa diriku sendiri dengan teliti malam itu, seperti memeriksa server yang baru saja jatuh, mencari baris log yang berbunyi marah. Tidak ada. Yang ada hanya baris-baris lain yang lebih sulit dibaca.

Kami nggak ada apa-apa.

Aku tahu kenapa dia mengatakannya. Aku mengerti setiap kata kerjanya. Dia melindungi Eve dari dikasihani. Dia melindungi Sheilla dari dipermainkan. Dia melindungi aku dari menjadi lelucon di grup keuangan. Dia melindungi semua orang, seperti yang selalu dia lakukan, dengan berdiri di depan mereka dan menerima semua pukulan sendiri.

Kecuali kali ini dia berdiri di tengah. Untuk pertama kalinya.

Dan yang dia katakan di tengah itu adalah bahwa aku bukan siapa-siapa.

Aku mengerti. Aku benar-benar mengerti.

Itu tidak membuatnya lebih mudah.

Aku tidak membalas emoji itu karena aku tidak tahu harus membalas dengan apa. 🤫 berarti aku kangen kamu. Pasal 8. Dan aku kangen dia. Tapi kalau aku membalas, aku tidak yakin apa yang sebenarnya sedang kukatakan. Aku kangen kamu. Atau jangan bilang mereka. Atau oke, aku diam.

Jadi aku tidak mengatakan apa-apa.

Ternyata diam juga bisa jadi jawaban. Aku sudah mempraktikkannya empat tahun. Aku hanya lupa betapa sakitnya.


Hari Selasa, aku naik lift.

Dodi menatapku dengan horor saat aku menekan tombol lift di lantai dua pukul lima lewat lima.

“Bang. Abang naik lift.”

“Iya.”

“Abang nggak pernah naik lift jam segini. Jam segini itu jam ibadah Abang.”

“Hari ini aku pulang cepat.”

“Abang nggak pernah pulang cepat. Abang pulang jam sembilan. Kecuali dua bulan terakhir. Dua bulan terakhir Abang pulang jam lima lewat delapan, lewat tangga, dengan muka kayak orang baru menang lotre.” Dodi menatap pintu lift yang terbuka. “Bang. Jangan.”

“Dod.”

“Abang jangan berhenti. Mbak Felicia ngomong gitu karena dia takut. Saya lihat mukanya, Bang. Saya ada di sana. Dia nggak bohong ke orang-orang karena dia mau. Dia bohong karena dia nggak tahu cara lain.”

Aku masuk ke lift.

“Aku tahu, Dod.”

“Terus kenapa Abang naik lift?”

Pintu mulai menutup. Aku menatap Dodi lewat celah yang menyempit.

“Karena dia minta aku nggak turun ke lantai sembilan,” kataku. “Dan tangga darurat lewat lantai sembilan.”

Pintu tertutup.

Lift turun ke basement. Kosong. Lima lantai. Dua puluh detik. Aku bersandar di dinding lift yang dingin, di tempat yang sama di mana seminggu lalu seseorang mendorongku dan berkata yang bikin aturan boleh ngelanggar.

Aku menutup mata sampai pintu terbuka.


Hari Rabu pagi, pukul tujuh lewat tiga, aku naik ke lantai sembilan.

Bukan lewat tangga. Lewat lift. Dan bukan untuk menemuinya. Lantai sembilan kosong pukul tujuh lewat tiga, kecuali Mbak Tari, yang selalu datang paling pagi karena dia harus mengantar anaknya ke sekolah pukul enam lewat empat puluh dan tidak ada gunanya pulang lagi.

Aku membawa satu gelas kertas. Cokelat panas. Gula setengah.

Aku meletakkannya di meja Felicia. Di tengah alas mouse. Di tempat yang tidak bisa tidak dia lihat.

Tidak ada tulisan tambahan di gelasnya. Hanya cokelat panas, gula ½, dengan huruf miring ke kanan. Seperti setiap hari selama dua bulan.

Mbak Tari menatapku dari balik monitornya.

“Mas Andro,” katanya pelan.

“Pagi, Mbak.”

“Dia udah tiga hari nggak makan siang di rooftop. Dia makan di meja. Roti tawar. Nggak pakai apa-apa.” Mbak Tari menatap gelas di meja Felicia. “Kemarin dia nangis di toilet. Mbak dengar. Mbak nggak masuk. Mbak tunggu di luar sampai dia keluar, terus Mbak pura-pura baru datang.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.

“Mbak nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian,” lanjut Mbak Tari. “Dan Mbak nggak mau tahu. Tapi Mbak tahu satu hal. Gelas-gelas kosong di laci mejanya. Ada dua puluh tujuh. Mbak hitung waktu dia ke toilet.” Dia menggeleng pelan. “Orang yang nggak ada apa-apa nggak nyimpen dua puluh tujuh gelas kosong, Mas.”

Aku menatap laci meja Felicia. Tertutup. Rapi. Seperti semua hal tentang dia.

“Jangan bilang ke dia saya ke sini, Mbak,” kataku.

Mbak Tari menatapku lama. Lalu dia mengangguk, menggeser kursinya dua senti, dan kembali ke monitornya.

“Mbak nggak lihat apa-apa,” katanya. “Mbak cuma lihat cokelat panas yang muncul sendiri.”


Hari Rabu siang, Mas Yudha mengajakku makan.

Itu peristiwa langka. Mas Yudha tidak pernah mengajak siapa pun makan. Mas Yudha makan siang di ruang kaca, sendirian, dengan bekal dari istrinya yang selalu berisi nasi, tempe, dan sayur bening, dalam kotak plastik biru yang sudah dia pakai sejak aku pertama kali bekerja di sini.

Tapi hari itu, pukul dua belas, dia berdiri di belakang kursiku dengan jaket di lengan.

“Makan,” katanya.

Kami makan di warung soto di gang belakang gedung. Warung kecil dengan bangku kayu panjang dan kipas angin yang berputar terlalu lambat. Mas Yudha memesan dua soto ayam tanpa bertanya aku mau apa, dan dua es teh manis, dan dua kerupuk kulit.

Kami makan dalam diam selama sepuluh menit.

Lalu Mas Yudha meletakkan sendoknya.

“Istri saya,” katanya.

Aku berhenti makan. Dalam lima tahun, Mas Yudha tidak pernah bercerita tentang istrinya. Aku tahu dia punya istri karena ada foto di mejanya, dan karena ada kotak plastik biru. Hanya itu.

“Dulu dia satu kantor sama saya. Bank. Lantai lima.” Mas Yudha menatap soto di mangkuknya. “Dia nggak mau orang tahu kami pacaran. Dua tahun. Dua tahun dia bilang ke semua orang kami cuma teman.”

Aku diam.

“Saya marah,” kata Mas Yudha. “Dulu. Saya pikir dia malu sama saya. Saya cuma staf IT. Dia analis kredit. Saya pikir dia nggak mau orang tahu dia pacaran sama tukang benerin komputer.”

“Terus?”

“Terus suatu hari ada yang nyebar gosip. Bukan soal kami. Soal dia sama atasannya. Bohong. Semua bohong.” Mas Yudha mengambil kerupuk dan mematahkannya jadi dua. “Dan dia nggak bisa bilang ‘aku pacaran sama Yudha’, karena dua tahun dia udah bilang kami cuma teman. Nggak ada yang bakal percaya. Jadi dia diam. Dia nanggung gosip itu sendirian. Tiga bulan.”

Dia memakan setengah kerupuk.

“Waktu itu saya ngerti,” katanya. “Dia bukan malu sama saya. Dia takut. Dia takut kalau orang tahu, kami jadi bahan omongan. Dia takut saya diomongin. Dia ngelindungin saya, dengan cara yang paling bodoh yang bisa dia pikirin.”

“Terus Mas ngapain?”

Mas Yudha memakan setengah kerupuk yang lain. Dia mengunyah lama.

“Saya lamar dia,” katanya. “Di depan lift lantai lima. Pakai cincin dari toko emas di Pasar Baru. Di depan semua orang yang nyebar gosip.”

Aku menatapnya.

“Bukan buat buktiin apa-apa ke mereka,” kata Mas Yudha. “Buat bilang ke dia. Bahwa dia nggak perlu ngelindungin saya. Bahwa saya nggak takut diomongin. Bahwa kalau dia mau berdiri di depan semua orang, saya berdiri di sebelahnya.”

Dia meminum es tehnya sampai habis.

“Itu dua puluh kata paling banyak yang pernah saya ngomong ke kamu,” katanya.

“Dua ratus, Mas.”

“Jangan dihitung.” Dia berdiri, membayar dua soto, dua es teh, dan dua kerupuk, lalu menepuk bahuku sekali. “Jangan nunggu terlalu lama. Kamu udah nunggu empat tahun.”

Lalu dia berjalan kembali ke gedung, meninggalkanku di bangku kayu dengan soto yang sudah dingin dan kipas angin yang berputar terlalu lambat.


Laporanku untuk HR selesai hari Rabu sore.

Empat halaman. Tidak lima belas. Tidak ada daftar isi. Aku tidak punya tenaga untuk daftar isi.

Isinya sederhana. Tautan undangan grup “Navara Ceria” sudah tersebar terlalu luas dan harus diganti. Grup harus diubah menjadi grup yang hanya bisa ditambahi oleh admin, setelah verifikasi akun karyawan. Konten pribadi karyawan yang disebarkan tanpa izin harus dihapus dari semua grup internal, dan penyebaran ulang dianggap pelanggaran kode etik. Rekomendasi ini berlaku untuk semua karyawan, tidak hanya untuk kasus ini.

Aku tidak menyebut nama siapa pun. Tidak namaku. Tidak nama Felicia. Tidak nama dari baris log yang terbuka di tab sebelah, laptop yang terhubung ke Wi-Fi tamu lantai sebelas pukul sepuluh lewat enam.

Aku tahu siapa. Hampir pasti. Tapi hampir bukan pasti, dan aku tidak menuduh orang berdasarkan hampir.

Dan bahkan kalau itu pasti, aku tidak yakin apa yang ingin kulakukan dengan kepastian itu.

Dodi membaca laporanku dari belakang bahuku, karena Dodi tidak pernah mengenal konsep privasi.

“Bang,” katanya pelan. “Abang nggak masukin teori pilar saya.”

“Teori pilarnya nggak relevan, Dod.”

“Saya udah nulis tiga halaman. Ada analisis forensik. Ada perbandingan tinggi badan Abang dengan tinggi pilar.” Dia menghela napas. “Saya kirim ke Mas Yudha aja, deh. Dia pasti apresiasi.”

“Mas Yudha bakal baca satu paragraf, terus bilang ‘bagus’, terus hapus.”

“Itu namanya apresiasi versi Mas Yudha, Bang.”

Aku hampir tertawa. Hampir. Itu pertama kalinya dalam tiga hari.

Dodi melihatnya. Dia tidak berkata apa-apa. Tapi dia menepuk punggungku dua kali, lalu kembali ke mejanya, dan mulai menyusun ulang teori pilarnya dengan font yang lebih besar.


Rabu malam, pukul tujuh, aku naik ke rooftop.

Lewat lift. Rooftop di malam hari kosong. Kantin tutup. Lampu-lampu kecil kuning dari pesta ulang tahun Jumat lalu masih dililitkan di pilar, karena GA belum sempat mencopotnya. Beberapa sudah mati. Sebagian masih menyala, berkedip lemah, seperti bintang-bintang yang jarang di malam blackout.

Aku berjalan ke dinding foto di dekat meja pojok.

Empat bingkai. Empat tahun.

Ujung kiri: Felicia. Ujung kanan: aku. Empat kali.

Di setiap foto, aku tidak menatap kamera. Aku menatap ke kiri. Melewati tiga ratus wajah. Melewati Eve di tengah, yang selalu disuruh fotografer maju. Melewati Sheilla, yang tidak bisa jauh dari Eve. Melewati spanduk merah dan barisan direksi.

Ke ujung kiri. Ke perempuan yang berdiri setengah terpotong oleh bingkai.

Empat tahun aku berdiri di ujung kanan. Dan aku pikir itu tempat yang tidak terlalu buruk. Aku bilang begitu pada Eve. Aku udah empat tahun di situ.

Lalu selama dua bulan, aku tidak di ujung lagi. Aku di tangga darurat. Di ruang server. Di dapur apartemen lantai dua belas di Kemang. Di kursi belakang mobil abu-abu di gedung parkir Senopati. Di meja pojok ini, di depan dua cupcake.

Dan sekarang aku kembali ke ujung.

Bukan karena dia mendorongku ke sana. Karena dia takut. Karena dia mengira berdiri di tengah berarti semua orang akan terluka. Dan aku tidak tahu bagaimana menunjukkan padanya bahwa itu tidak benar, tanpa menariknya ke tempat yang dia belum mau.

Aku menatap foto paling baru. Felicia di ujung kiri, rambut diikat rendah, wajah datar.

Matanya tidak sepenuhnya menatap kamera. Sedikit ke kanan.

Aku tidak pernah memikirkan itu terlalu jauh. Aku tidak berani.

“Kamu nggak pernah jadi bayangan,” kataku pelan pada foto itu. Suaraku terdengar aneh di rooftop yang kosong. “Buatku. Nggak sekali pun.”

Lampu-lampu kecil kuning berkedip di pilar.

“Tapi mungkin,” kataku, “aku yang harus jadi bayangan sekarang. Biar kamu bisa berdiri di mana pun kamu mau. Tanpa aku di sebelahmu.”

Tidak ada yang menjawab. Hanya dengung AC dari ruang mesin di lantai bawah, dan lampu jalan yang menyala di bawah sana, dan kota yang tidak pernah berhenti bergerak.

Aku berdiri di sana lama.

Lalu aku turun. Lewat lift. Ke basement. Ke halte. Ke Tebet.

Di rumah, Ibu sedang menonton sinetron. Dia menatapku saat aku masuk. Dia menatap wajahku. Dia tidak bertanya apa-apa.

Dia hanya berdiri, pergi ke dapur, dan membuatkan teh manis hangat, lalu meletakkannya di depanku, lalu duduk di sebelahku di sofa dan menatap sinetron tanpa suara.

Setelah sepuluh menit, dia berkata satu kalimat.

“Ayahmu dulu juga pernah ditolak Ibu, Le. Tiga kali.”

Aku menoleh.

“Terus dia benerin radio Ibu,” kata Ibu. “Radio yang rusak. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma benerin, terus pulang. Tiga kali.” Ibu tersenyum ke televisi. “Yang keempat, Ibu yang datang ke rumahnya. Bawa radio yang nggak rusak. Bilang radionya rusak.”

“Bu.”

“Ibu cuma cerita,” kata Ibu. “Ibu nggak nyuruh apa-apa.”

Dia menepuk tanganku dan kembali menatap sinetron.


Kamis pagi, pukul tujuh lewat tiga, aku meletakkan cokelat panas di meja Felicia lagi.

Mbak Tari tidak menatapku. Dia menatap monitornya dengan sangat serius. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak.

Pukul sebelas, aku sedang membaca log di mejaku saat Dodi tiba-tiba berdiri dan berjalan ke jendela koridor lantai dua, yang menghadap ke tangga lobby dan lift.

“Bang,” katanya. “Bang, sini.”

“Kenapa?”

“Sini aja, Bang. Cepet.”

Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Dari sini, kalau kamu menunduk cukup jauh, kamu bisa melihat lobby di bawah. Pintu lift kanan. Pos Pak Udin.

Lift kanan terbuka.

Dua perempuan keluar. Satu dengan rambut cokelat madu yang digerai, blazer krem, mata yang sedikit bengkak seperti habis menangis selama tiga hari, tapi dagu yang terangkat tinggi. Satu lagi dengan rambut dikuncir dua, pita biru, dan wajah yang sangat, sangat serius untuk ukuran Sheilla Anastasya.

Eve dan Sheilla.

Dan di antara mereka, dibawa berdua seperti spanduk demonstrasi, sebuah papan gabus besar. Satu meter kali satu setengah. Ditutupi kertas, foto, sticky note warna-warni, dan benang merah yang menghubungkan semuanya seperti peta kasus di film detektif.

Di bagian atas papan itu, ditulis dengan spidol pink dan huruf kapital:

BUKTI.

Mereka berjalan melewati lobby. Pak Udin berdiri dari kursinya. Orang-orang di lobby berhenti berjalan. Seseorang mengeluarkan ponsel, lalu menyimpannya lagi saat Eve menatapnya dengan mata yang biasanya lembut dan sekarang sama sekali tidak.

Mereka masuk ke lift kanan. Pintu tertutup.

Angka di atas pintu lift mulai naik.

Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.

Lift tidak berhenti di tujuh. Lift tidak berhenti di lantai Sheilla.

Delapan.

Sembilan.

Berhenti.

Dodi menoleh padaku dengan mata selebar piring.

“Bang,” bisiknya. “Bang, itu papan apa?”

Aku menatap angka sembilan di atas pintu lift. Aku memikirkan dokumen di laptop Sheilla. Catatan Pribadi – JANGAN DIBUKA – Fel & ... Aku memikirkan Bima dan lesung pipinya. Sepupu saya yang bilang. Aku memikirkan kelompok outing dengan probabilitas satu banding delapan ratus juta. Obat anti mabuk berpita pink. Pertanyaan api unggun yang diganti jadi kucing atau anjing. Eve di balik tenda, dengan jari di depan bibir.

Sheilla itu Sheilla.

“Aku nggak tahu, Dod,” kataku.

Itu bohong pertama yang kuucapkan dalam lima tahun.

Karena aku tahu. Aku sudah tahu sejak sticky note pertama, sejak baris log pertama yang tidak biasa.

Aku hanya tidak berani memikirkannya terlalu jauh.