← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Three

Tiga Gelas Kopi

POV: Felicia

Aku tidur kurang dari lima jam.

Bukan karena Andro. Aku ingin menegaskan itu sejak awal, setidaknya pada diriku sendiri. Aku tidur kurang dari lima jam karena ada kontrak sewa ruang ritel dengan sebelas lampiran yang harus kuperiksa sebelum rapat pukul sepuluh, dan karena tetangga apartemenku memutuskan bahwa pukul satu dini hari adalah waktu yang tepat untuk memindahkan lemari.

Tapi kalau aku jujur, dan aku orang legal, jadi aku seharusnya jujur, ada beberapa menit di antara lampiran ketujuh dan kedelapan di mana aku berhenti membaca.

Aku tahu kamu di lantai sembilan, makan siang jam satu lewat seperempat, dan benci lift penuh.

Tidak ada yang tahu aku benci lift penuh. Eve tahu aku suka tangga darurat, tapi Eve mengira itu karena aku sedang diet. Sheilla mengira aku turun lewat tangga karena “Felicia memang aneh, tapi aneh yang lucu.”

Lalu aku membaca lampiran kedelapan dengan sangat teliti, sampai titik-komanya, supaya otakku tidak sempat memikirkan apa pun lagi.


Pagi di lobby berjalan seperti biasa. Pak Udin menyapa kami. Lift kiri rusak. Tiga laki-laki di pintu putar.

Tidak ada Andro.

Aku tidak mencarinya. Aku hanya kebetulan memperhatikan bahwa tidak ada seorang pun berkemeja biru muda yang berdiri di dekat meja resepsionis, dan bahwa lift kanan tetap penuh seperti biasa, dan bahwa aku keluar di lantai sembilan tanpa ada yang menyapa.

Bagus. Itu artinya kemarin cuma iseng.

Aku duduk di mejaku. Membuka email. Ada tiga puluh dua email baru. Satu di antaranya dari helpdesk IT: Tiket #4471 (printer lantai 9 tinta pudar) telah diselesaikan oleh A.K.A.

Aku menatap nama itu. Aku tidak pernah memikirkan siapa A.K.A. sebelumnya. Itu hanya inisial yang selalu muncul di email penyelesaian tiket, seperti tanda tangan di surat dari bank yang tidak pernah kamu baca.

Andro Kusuma Ardhana.

Aku menutup email itu dan membuka lampiran kesebelas.


Pukul satu lewat seperempat, aku naik ke rooftop.

Sheilla sudah duduk dengan keripik kentang di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Eve sedang mengambilkan nasi untuk kami bertiga dari meja prasmanan, karena kantin hari ini menyediakan ayam bakar dan Eve tahu Sheilla akan mengambil terlalu banyak sambal kalau dibiarkan sendiri.

“Fel!” Sheilla melambai dengan keripik. “Pengagum rahasiaku kirim bunga!”

“Bunga matahari?”

Sheilla membelalak. “Kok tahu?”

“Tebakan.”

“Tebakanmu serem.” Dia menyodorkan ponselnya. Di layar, ada foto meja kerjanya dengan satu tangkai bunga matahari di dalam gelas air mineral. “Lihat! Pakai gelas Aqua! Itu kan romantis tapi hemat. Aku suka cowok yang hemat.”

“Kemarin kamu bilang cowok yang beliin kopi dua itu pelit.”

“Kemarin itu kemarin, Fel. Hari ini aku lebih dewasa.”

Eve datang membawa nampan. Dia meletakkan piring di depan kami satu per satu, lalu duduk dan merapikan rambutnya ke belakang telinga. Hari ini dia memakai blus hijau zamrud yang membuat kulitnya kelihatan bercahaya. Dua staf di meja seberang sudah menoleh tiga kali sejak dia duduk.

“Siapa yang kirim bunga?” tanya Eve.

“Masih misteri. Tapi aku punya tersangka.” Sheilla mengangkat tiga jari. “Satu, Mas Bayu dari Comm. Dua, anak magang yang mukanya mirip aktor Thailand. Tiga…”

Dia berhenti. Matanya menatap sesuatu di belakangku.

“Tiga,” ulangnya pelan, “siapa pun yang sekarang lagi jalan ke sini bawa nampan minuman.”

Aku tidak menoleh. Aku tidak perlu menoleh. Eve sudah menegakkan punggung, dan Sheilla sudah merapikan poni dengan dua jari, dan dua staf di meja seberang sudah berhenti menoleh ke Eve dan mulai menoleh ke arah yang sama.

Langkah kaki berhenti di sebelah meja kami.

“Siang,” kata Andro.

Dia membawa nampan kayu kecil dari kafe lantai dasar. Di atasnya ada tiga gelas kertas dengan tutup plastik, masing-masing dengan tulisan spidol di sisi gelas.

“Siang, Andro,” kata Eve, tersenyum. Senyum yang biasa dia berikan ke semua orang, tapi kali ini ada sedikit tanda tanya di ujungnya.

“Mas Andro!” kata Sheilla, terlalu ceria. “Tumben naik ke sini. Biasanya Mas Andro makan di meja, sambil ngetik, kayak robot.”

“Hari ini robotnya libur.” Andro meletakkan nampan itu di tengah meja. “Ini buat kalian. Ucapan terima kasih.”

“Terima kasih buat apa?” tanya Eve.

“Lantai tujuh, sembilan, dan sepuluh paling jarang komplain soal Wi-Fi bulan ini. Aku anggap itu jasa kalian.”

Itu alasan paling lemah yang pernah kudengar. Aku hampir mengatakannya keras-keras, tapi Sheilla sudah mengambil gelas pertama.

“Caramel macchiato!” pekiknya. “Kok tahu?”

“Story kamu kemarin.”

“Ya ampun, semua orang nonton story aku.” Sheilla memeluk gelas itu ke dada. “Aku harus lebih hati-hati. Atau lebih sering upload.”

Eve mengambil gelas kedua. Dia membaca tulisan di sisinya dan tersenyum. “Matcha latte. Aku suka matcha.”

Aku tahu Eve sebenarnya lebih suka teh melati. Matcha baginya terlalu pahit. Tapi Eve akan meminum matcha itu sampai habis dengan senyum, karena Eve tidak akan pernah membuat orang yang memberinya hadiah merasa salah.

Andro tampaknya juga menyadari sesuatu, karena dia mengerutkan kening sedikit. “Kalau nggak suka, bilang aja. Nanti aku tukar.”

“Suka, kok,” kata Eve cepat. “Beneran.”

Gelas ketiga tinggal satu di nampan. Gelas itu didorong pelan ke arahku dengan dua jari.

Aku tidak mengambilnya. Aku membaca tulisan spidol di sisinya.

Cokelat panas. Gula ½.

Rasanya seperti seseorang membaca catatan kaki dari hidupku keras-keras di depan semua orang.

“Aku nggak pesan,” kataku.

“Memang,” kata Andro. “Kamu nggak pernah pesan apa-apa ke siapa pun. Makanya aku yang hafal.”

Dia mengatakannya dengan nada yang sama seperti saat dia bilang Wi-Fi lantai sembilan bagus bulan ini. Datar, ringan, tidak menekan. Lalu dia mengambil nampan kosong, mengangguk ke kami bertiga, dan pergi.

Begitu saja.

Tidak ada yang bicara selama lima detik. Itu rekor untuk meja kami.

Lalu Sheilla meletakkan gelasnya dengan sangat pelan, seperti meletakkan bom.

“Guys,” bisiknya. “Itu barusan apa?”

“Ucapan terima kasih buat Wi-Fi,” kata Eve. Tapi suaranya agak terlalu tinggi.

“Nggak ada orang yang beliin minuman buat Wi-Fi, Eve. Wi-Fi itu nggak romantis. Wi-Fi itu… Wi-Fi.” Sheilla menoleh padaku. “Fel, kamu orang legal. Menurut hukum, itu termasuk pendekatan, kan?”

“Nggak ada pasal soal minuman.”

“Ada pasal soal perasaan?”

“Itu bukan bidangku.”

Sheilla menatap gelas karamelnya, lalu gelas matcha Eve, lalu gelas cokelatku. Matanya berhenti di gelasku sedikit lebih lama daripada di dua gelas lainnya.

“Fel,” katanya. “Kamu kan nggak pernah bilang ke siapa-siapa kamu minum cokelat gula setengah.”

Jantungku berhenti sebentar. “Barista lantai dasar tahu.”

“Oh iya.” Sheilla mengangguk, puas, dan kembali ke gelasnya sendiri. “Pasti dia nanya baristanya.”

Aku menyesap cokelat itu. Suhunya pas. Tidak terlalu panas, tidak terlalu manis.

Persis seperti yang selalu kupesan.


Sisa makan siang itu dihabiskan untuk penyelidikan.

“Oke. Kita analisis.” Sheilla menyingkirkan piring dan mengeluarkan pulpen dari tas, lalu mulai menggambar di tisu. “Mas Andro. Senior IT. Ganteng, iya kan? Ganteng.”

“Ganteng,” Eve mengakui pelan.

“Baik ke semua orang. Senyum ke semua orang. Hafal nama satpam. Tapi nggak pernah deketin siapa-siapa, setahuku. Dan Bu Ratna pernah bilang dia belum punya pacar. Itu valid, karena Bu Ratna tahu semua status pacaran di gedung ini, bahkan status pacaran kucing GA.”

“Kucing GA punya pacar?” tanya Eve.

“Si Oyen. Sama kucing gedung sebelah. Nanti aku ceritain.” Sheilla kembali ke tisunya. “Fokus. Hari ini, setelah empat tahun nggak pernah naik ke rooftop jam makan siang, dia tiba-tiba datang ke meja kita, bawa tiga minuman. Pertanyaannya: buat siapa sebenarnya?”

“Buat kita bertiga,” kataku. “Dia bawa tiga.”

“Felicia, kamu polos banget.” Sheilla menggeleng dengan iba. “Cowok yang mau deketin satu cewek dari geng, pasti traktir satu geng. Itu strategi kamuflase. Aku tahu karena aku pernah baca thread-nya di X.”

Eve menahan tawa di balik gelas matcha-nya.

“Jadi,” Sheilla menggambar tiga lingkaran di tisu dan memberi nama di masing-masing: E, S, F. “Siapa targetnya? Opsi satu: Eve. Karena semua orang selalu ngincer Eve. Itu udah hukum alam.”

Eve tersipu. Itu hal yang jarang. Eve sudah terlalu sering dipuji sampai biasanya tidak tersipu lagi, tapi pipinya sekarang sedikit merah.

“Opsi dua: aku.” Sheilla mengetukkan pulpen di lingkaran S. “Karena dia hafal minumanku dari story, dan itu tanda dia ngikutin story-ku. Dan karena tadi pagi ada bunga matahari di mejaku. Kebetulan? Aku rasa tidak.”

“Opsi tiga?” tanya Eve.

Sheilla melirik lingkaran F. Lalu melirikku. Lalu tertawa.

“Opsi tiga nggak mungkin. Felicia bakal nolak dia sebelum dia selesai ngomong.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku menyesap cokelatku.

“Tuh kan, dia nggak bantah,” kata Sheilla.

“Aku lagi minum.”

“Kamu selalu lagi minum kalau nggak mau jawab.”

Eve meletakkan gelasnya. Dia menatap tisu Sheilla sebentar, lalu menatap ke arah tangga tempat Andro tadi menghilang. Ekspresinya sulit kubaca, dan Eve biasanya mudah dibaca.

“Mungkin dia memang cuma baik,” kata Eve akhirnya. “Ada cowok yang memang baik ke semua orang.”

“Itu juga mungkin,” Sheilla setuju, lalu menambahkan dengan suara pelan, “tapi kalau dia beneran baik ke semua orang, kenapa dia nggak beliin buat meja sebelah?”

Kami bertiga menoleh ke meja sebelah. Dua staf yang tadi menoleh-noleh ke Eve sedang menatap gelas teh botol mereka sendiri dengan wajah sedih.

Ponsel kami bergetar hampir bersamaan. Grup “Navara Ceria”.

Selamat siang, Bapak/Ibu. Info: barusan di rooftop, Mas Andro dari IT terpantau mengantarkan 3 minuman ke meja 3 Goddess kita. Pertama kalinya dalam sejarah. Mohon doanya. Terima kasih.

Di bawahnya ada foto. Agak buram, diambil dari jarak jauh, jelas dari balik pot tanaman di dekat kasir. Punggung Andro, nampan kayu, dan kami bertiga dengan wajah yang tidak siap difoto.

“BU RATNA ADA DI SINI?” Sheilla berdiri dan memutar badan ke segala arah seperti periskop kapal selam.

Pot tanaman di dekat kasir bergoyang. Lalu tenang lagi.

Eve menutup wajah dengan kedua tangan, tapi aku bisa melihat ujung telinganya merah. Sheilla sudah mulai mengetik balasan di grup dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

“Shei, jangan dibalas,” kataku.

“Aku cuma mau klarifikasi.”

“Klarifikasi apa?”

“Bahwa minumanku caramel macchiato. Biar sejarahnya akurat.”

Grup itu sudah berisi empat puluh balasan sebelum kami selesai makan. Aku membisukannya untuk delapan jam. Lalu, setelah berpikir sebentar, untuk satu minggu.


Aku menemukannya setengah jam kemudian.

Tidak sulit. Andro berdiri di pantry lantai dua, di depan dispenser air, mengisi botol minumnya. Pantry IT kecil dan dindingnya ditempeli kertas berisi aturan, salah satunya ditulis tangan dengan spidol merah: YANG MAKAN INDOMIE TERAKHIR TOLONG BELI LAGI. —DODI.

Aku berdiri di pintu.

“Kamu taruhan sama siapa?”

Andro menoleh. Dia tidak kelihatan kaget, seperti sudah tahu aku akan datang, atau setidaknya berharap begitu.

“Nggak ada.”

“Anak IT?”

“Anak IT nggak punya uang buat taruhan. Dodi masih ngutang tiga bungkus Indomie.”

“Divisi lain? Grup WhatsApp? Ada yang bayar kamu buat deketin salah satu dari kami?”

“Felicia.” Dia menutup botolnya. “Nggak ada taruhan.”

“Semua orang yang pernah deketin aku punya alasan lain.” Aku menyilangkan tangan. “Aku cuma mau tahu alasanmu dari awal. Biar adil. Kamu sendiri yang bilang begitu.”

Dia diam sebentar. Lalu dia bersandar di meja pantry, cukup jauh dariku sehingga aku tidak merasa terdesak, cukup dekat sehingga aku bisa melihat ada sisa tinta spidol di jari telunjuknya. Tinta yang sama dengan tulisan Gula ½.

“Alasanku cuma satu,” katanya. “Kamu.”

Aku menunggu kelanjutannya. Lagi-lagi, tidak ada kelanjutan.

“Kenapa matcha?” tanyaku, karena aku perlu mengatakan sesuatu, dan karena aku tidak mau dia tahu kalimat tadi membuat pantry yang sempit ini terasa lebih sempit lagi.

“Hm?”

“Eve. Kamu beliin dia matcha. Dia nggak suka matcha.”

Andro menatapku. Lalu dia tersenyum. Bukan senyum untuk semua orang. Senyum yang kecil itu lagi.

“Karena aku nggak tahu dia suka apa,” katanya. “Aku cuma nebak. Yang punya Sheilla juga nebak, dari story. Cuma satu gelas yang aku nggak perlu nebak.”

Aku tidak menjawab. Aku berbalik dan pergi.

Di lift, aku memegang gelas cokelat yang sudah kosong. Aku tidak ingat kenapa aku masih membawanya. Aku seharusnya membuangnya di rooftop.

Di sisi gelas, tulisan spidol itu masih ada. Rapi. Huruf-huruf kecil yang miring sedikit ke kanan.

Cokelat panas. Gula ½.

Aku membuangnya di tempat sampah lantai sembilan.

Lalu aku berdiri di sana, menatap tempat sampah itu selama tiga detik yang memalukan.

Lalu aku mengambilnya lagi.


Pukul lima sore, saat kami turun bersama ke basement, Eve berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Sheilla di depan, menelepon ibunya tentang resep rendang. Eve dan aku tertinggal dua langkah.

“Fel,” kata Eve pelan.

“Hm?”

“Menurut kamu…” Eve memainkan tali tasnya. “Andro itu tipe yang serius nggak, sih?”

Aku menatap sahabatku. Eve yang cantik luar biasa. Eve yang selalu mengambilkan nasi untuk orang lain. Eve yang dikejar puluhan laki-laki, dan tidak pernah satu pun yang membuatnya bertanya seperti ini.

Pipinya merah lagi.

Oh, tidak.

“Aku nggak tahu,” jawabku. Itu bukan bohong. Itu juga bukan kebenaran.

Itu kalimat di catatan kaki.