← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty One

Nyaris

POV: Felicia

Dua minggu setelah perjanjian ditandatangani, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah diajarkan di fakultas hukum.

Perjanjian kerahasiaan paling sulit ditaati bukan karena ada pihak ketiga yang ingin tahu. Tapi karena para pihaknya sendiri tidak mau menaatinya.

Pasal 1, tidak naik lift berdua, sudah dilanggar tiga kali. Dua kali dengan celah “ada pihak ketiga”, satu kali tanpa celah sama sekali, yaitu hari Selasa pukul tujuh lewat lima pagi, ketika lift kanan kosong dan aku masuk dan dia masuk dan tidak ada satu pun dari kami yang bergerak menekan tombol “buka” untuk keluar lagi.

Pasal 2, kontak mata maksimal dua detik, sudah tidak bisa dihitung. Aku berhenti mencatat setelah pelanggaran kedua puluh tujuh.

Pasal 7, ruang server sebagai zona aman, dipakai empat kali. Dodi sudah membeli Indomie di empat minimarket yang berbeda. Kemarin dia bilang ke Andro bahwa kasir minimarket di sebelah gedung mulai curiga dia punya masalah gizi.

Pasal 8, kode 🤫 maksimal tiga kali sehari, dilanggar setiap hari. Bukan olehnya. Olehku.

Aku orang legal. Aku seharusnya malu.

Aku tidak malu sama sekali.


Pagi itu, Selasa yang lain, aku masuk lift kanan pukul tujuh lewat tiga.

Lift itu kosong. Lobby masih sepi. Pak Udin sedang menyeduh kopi di posnya, punggungnya menghadap lift, dan dia tidak berbalik meskipun dia pasti mendengar bunyi ting yang khas itu.

Andro sudah di dalam. Bersandar di dinding belakang, kotak peralatan di kaki, kemeja biru muda yang lengannya belum digulung karena masih pagi.

Pintu tertutup.

Aku tidak berdiri di pojok. Aku berdiri di sebelahnya. Dan saat lift mulai naik, aku membiarkan bahuku menyandar ke lengannya. Sedikit. Cukup untuk merasakan kehangatan kemejanya di balik blazerku.

Dia tidak bergerak. Dia menatap angka lantai di atas pintu.

Lantai tiga. Empat.

Aku menyandar sedikit lebih jauh.

Lantai lima. Enam.

Lantai tujuh, pintu terbuka. Mbak Rina dari resepsionis masuk dengan dua kantong belanjaan. Aku melangkah ke samping dengan sangat alami, seperti orang yang memberi ruang. Andro membungkuk untuk mengambil salah satu kantong Mbak Rina yang hampir jatuh. Mbak Rina berterima kasih. Lift naik.

Di lantai sembilan, aku keluar tanpa menoleh.

Ponselku bergetar sebelum aku sampai di meja.

Andro: Tadi kamu nyender. Felicia: Lift-nya goyang. Andro: Lift itu baru diservis Pak Tarno minggu lalu. Nggak goyang. Felicia: Berarti aku yang goyang.

Tiga titik. Lama.

Andro: Kamu bikin aku salah jalan. Tadi aku turun di lantai sepuluh, bukan dua.

Aku menutup mulut dengan punggung tangan supaya Mbak Tari tidak mendengar tawaku.


Pukul sepuluh, aku punya alasan sah untuk turun ke lantai dua.

Dokumen tender Hoshino tahap dua harus diarsipkan dalam format khusus di server, dengan tanda tangan digital, dan hanya tim IT yang bisa memasang sertifikatnya. Pak Hendro menyuruhku sendiri. “Kamu yang paling ngerti dokumennya,” katanya. Aku berterima kasih padanya dengan wajah datar dan berjalan ke tangga darurat sedikit terlalu cepat.

Ruang IT lantai dua sedang ramai. Dodi di mejanya, memakai headset, menjelaskan pada seseorang di telepon bahwa bukan, Bu, printer itu tidak bisa dicetak kalau kabelnya dicabut. Dua staf IT lain yang jarang kulihat sedang membongkar komputer di pojok. Mas Yudha di ruang kaca, menatap layar.

Andro di mejanya. Dia mendongak saat aku masuk, dan wajahnya tidak berubah sama sekali, profesional dan ramah, persis seperti dia menyambut siapa pun.

“Pagi, Felicia. Sertifikat tender?”

“Iya. Pak Hendro minta hari ini.”

“Oke. Sebentar.”

Dia memasang sertifikat itu dalam tujuh menit. Aku duduk di kursi di sebelah mejanya, menonton layar, dan menjaga jarak tiga puluh senti dengan sangat disiplin. Dodi melirik kami dua kali dari balik headset. Mas Yudha tidak melirik sama sekali.

“Selesai,” kata Andro. “Mau kopi? Pantry kami punya kopi sachet yang rasanya kayak kardus.”

“Kedengarannya menarik.”

“Aku nggak bohong soal kardusnya.”

“Aku tahu.”

Kami berjalan ke pantry IT di ujung koridor. Pantry kecil itu, dengan dispenser, kulkas mini, rak berisi Indomie milik Dodi yang tidak boleh disentuh siapa pun, dan kertas peringatan bertuliskan spidol merah. Pintunya kayu, dengan kaca buram di bagian atas.

Aku masuk duluan. Dia masuk setelahku.

Lalu dia menutup pintu.

Aku berbalik. Dia sudah berdiri sangat dekat. Satu tangannya bertumpu di pintu di samping kepalaku, yang lain di punggung bawahku, dan aku tidak tahu kapan tangannya sampai di sana, karena aku tidak merasakannya bergerak. Aku hanya merasakannya ada.

“Tadi pagi di lift,” katanya pelan, “kamu sengaja nyender.”

“Lift-nya penuh.”

“Lift-nya kosong, Fel. Cuma kita.”

Suaranya rendah, tidak lebih keras dari dengung dispenser. Dan cara dia memanggilku. Fel. Bukan Felicia. Dia tidak pernah memanggilku Fel sebelumnya. Hanya Eve dan Sheilla yang memanggilku begitu.

Dari dia, dua huruf itu terdengar seperti sesuatu yang lain.

Aku menatapnya. Kacamatanya, rahangnya, bibirnya yang sedikit terbuka. Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kurencanakan, sesuatu yang kalau kuceritakan pada diriku sendiri dua bulan lalu, aku akan menuntut diriku sendiri karena pencemaran nama baik.

Aku mengangkat tangan dan membuka kancing kerah teratas kemejaku.

Hanya satu. Pelan. Sambil menatap matanya.

“Oh,” kataku. “Berarti sengaja.”

Tangannya di punggung bawahku mengencang.

“Mau aku tunjukin sengajanya lagi?” bisikku.

Dia tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia menunduk. Aku mendongak. Dan ciuman itu tidak pelan seperti di ruang server. Tidak ragu-ragu. Ciuman itu seperti seseorang yang sudah menahan diri sejak pukul tujuh lewat tiga pagi dan baru sekarang berhenti menahan. Punggungku menempel di pintu kayu, dan kaca buram di atas kepalaku bergetar sedikit, dan aku mencengkeram kemejanya di bagian dada dengan kedua tangan supaya lututku tidak menyerah.

Dia menarik diri sebentar. Hanya sejengkal. Napasnya tidak teratur.

“Ini kantor,” katanya.

“Aku tahu.”

“Ada Dodi di luar.”

“Dodi pakai headset.”

“Ada Mas Yudha.”

“Mas Yudha nggak pernah ke pantry sebelum jam sebelas.” Aku menarik kemejanya lagi. “Aku orang legal. Aku riset.”

Dia tertawa. Pendek, tertahan, di dekat telingaku. Lalu dia menciumku lagi, kali ini lebih pelan, dan bibirnya bergeser dari bibirku ke sudut rahangku, dan aku menahan napas karena…

Gagang pintu bergerak.


Kami membeku. Pintu itu terbuka ke dalam. Punggungku menempel di pintu. Siapa pun yang di luar sedang mendorong, dan yang menahan pintu itu hanya berat badanku.

“Lho? Kok macet?” Suara dari luar. Ceria. Setengah oktaf terlalu tinggi.

Sheilla.

Mataku melebar. Mata Andro melebar.

“Mas Andro? Ada orang di dalam? Aku mau nanya soal Wi-Fi lantai tujuh!”

Aku bergerak lebih cepat dari yang pernah kulakukan seumur hidup. Aku melepaskan kemeja Andro, mendorongnya ke arah dispenser, mengancingkan kerahku dengan satu tangan, merapikan rambut dengan tangan yang lain, dan menjauh dari pintu dalam satu gerakan yang kurasa tidak pernah dilakukan manusia sebelumnya.

Pintu terbuka.

Sheilla berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangan dan rambut dikuncir dua dengan pita biru. Dia menatap Andro, yang sedang berdiri di depan dispenser dengan gelas kosong di tangan, dan menatapku, yang sedang membuka kulkas mini dengan sangat fokus.

“Fel? Kamu ngapain di sini?”

“Ambil air.”

“Di kulkas IT?”

“Air di lantai sembilan habis.”

“Air galon lantai sembilan baru diganti tadi pagi. Aku lihat Mas OB naik bawa galon.”

Aku mengambil sebotol air mineral dari kulkas. Ternyata itu bukan air mineral. Itu botol bekas air mineral yang diisi teh manis oleh Dodi, dengan label tulisan tangan PUNYA DODI JANGAN DIMINUM.

Aku meletakkannya kembali.

“Aku tadi ke sini buat pasang sertifikat tender,” kataku, berbalik menghadap Sheilla dengan wajah paling datar yang bisa kubuat. “Andro nawarin kopi. Kopinya rasa kardus.”

“Oh.” Sheilla menatap Andro. “Mas Andro, Wi-Fi lantai tujuh lemot lagi.”

“Aku cek siang ini,” kata Andro dengan suara sangat tenang. Dia menekan tombol dispenser untuk mengisi gelas kosongnya. Air panas yang keluar. Dia tidak menyadarinya. Gelas plastik itu mulai melengkung.

“Mas, itu air panas,” kata Sheilla.

Andro menatap gelasnya. “Iya. Aku suka air panas.”

“Di gelas plastik?”

“Biar… cepat dingin.”

Sheilla mengangguk pelan, seperti orang yang menerima jawaban yang tidak masuk akal tapi terlalu malas untuk membantah. Lalu dia mengerutkan hidung.

“Kok di sini panas, ya? Pantry IT AC-nya mati?”

“Rusak,” kataku dan Andro bersamaan.

Sheilla menatap kami berdua bergantian. Lima detik. Itu lima detik terpanjang dalam hidupku. Lebih panjang dari empat puluh menit sebelum presentasi Hoshino. Lebih panjang dari genset yang batuk dua kali.

Lalu dia mengangkat bahu. “Ya udah, Fel, ayo naik bareng. Aku mau nanya soal kontrak vendor LED juga.”

Aku keluar bersamanya. Aku tidak menoleh ke Andro. Pasal 2.

Di tangga darurat menuju lantai tujuh, Sheilla berjalan di depanku sambil bersenandung. Lalu dia berhenti di bordes lantai lima dan menoleh.

“Fel.”

“Hm?”

“Kancing kemejamu salah lubang.”

Aku menunduk. Kancing teratas masuk ke lubang kedua. Kancing kedua tidak masuk ke mana pun. Kerahku miring seperti dasi Andro di hari presentasi.

“Tadi kena tumpahan air,” kataku. “Aku buka sebentar buat ngelap.”

Sheilla menatapku. Dengan mata bulatnya yang selalu terlihat kosong. Lalu dia tersenyum lebar dan menepuk lenganku.

“Kamu ceroboh banget hari ini. Bukan kamu banget.”

Dia melanjutkan naik.

Aku membetulkan kancingku dengan jari yang gemetar dan menyadari bahwa aku baru saja berbohong pada sahabatku tiga kali dalam lima menit. Bukan memilih kata kerja dengan hati-hati. Berbohong. Air galon. Kopi kardus. Tumpahan air.

Rasanya tidak enak. Rasanya seperti makan sambal yang kepedasan.


Pukul satu lewat dua puluh, rooftop.

Andro datang dengan nampan tiga minuman. Pasal 3. Teh melati, caramel macchiato, cokelat panas. Dia meletakkannya, mengangguk, dan pergi. Aku tidak menatapnya. Pasal 2, terpenuhi dengan sempurna, untuk pertama kalinya dalam dua minggu.

Sheilla tidak langsung mengambil gelasnya.

Dia menatap tiga gelas di nampan itu. Lama. Lebih lama dari biasanya.

“Shei?” tanya Eve. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Sheilla mengambil caramel macchiato-nya. Dia memutarnya di tangan, membaca tulisan spidol di sisinya. Caramel mac. Lalu dia melirik gelas teh Eve. Teh melati. Lalu gelasku.

Cokelat panas. Gula ½.

“Mas Andro tulisannya bagus, ya,” katanya. “Rapi. Tapi punyaku disingkat. Punya Eve biasa. Punya Felicia…” Dia berhenti. “Selalu lengkap.”

“Kan udah dibahas,” kata Eve santai. “Orang IT suka angka.”

“Iya.” Sheilla mengangguk. “Orang IT suka angka.”

Dia meminum caramel macchiato-nya dan beralih ke topik lain, kucing GA yang ternyata sudah balikan dengan pacarnya. Eve tertawa. Aku tertawa sedikit.

Tapi saat Sheilla membuka laptopnya untuk menunjukkan foto si kucing, aku melihat sesuatu di layar sebelum dia sempat menutup jendela itu. Bukan klasemen. Dokumen lain. Dokumen Word dengan judul yang hanya sempat kubaca setengah sebelum dia menggeser layar.

Catatan Pribadi - JANGAN DIBUKA - Fel & ...

Sheilla menutupnya dengan satu klik. Tanpa terburu-buru. Tanpa ekspresi.

“Ini dia, Oyen!” katanya, menunjukkan foto kucing oranye yang sedang tidur di atas kardus. “Lucu, kan? Katanya pacarnya maafin dia gara-gara dia bawa ikan asin.”

“Romantis,” kata Eve.

“Hemat,” kataku.

Sheilla tertawa. Tawanya terdengar seperti biasa. Persis seperti biasa.

Aku menyesap cokelatku dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku salah baca. Bahwa itu mungkin Fel & Eve. Atau Fel & Shei. Atau catatan tentang ulang tahunku yang masih beberapa minggu lagi.

Sheilla yang dianggap semua orang paling kosong di antara kami. Sheilla yang percaya teori barista. Sheilla yang bilang Oyen romantis karena bawa ikan asin.

Tidak mungkin.


Sore itu, di tangga darurat, aku menceritakannya pada Andro.

“Dokumen?” tanyanya. “Judulnya apa?”

“Catatan pribadi. Jangan dibuka. Fel dan… sesuatu. Aku nggak sempat baca.”

Dia diam. Kami turun dua lantai.

“Sheilla tadi pagi lama banget lihat gelas,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Dan dia nyebut kancingmu.”

“Aku tahu.”

“Fel.” Dia berhenti di bordes lantai lima. “Menurutmu Sheilla tahu?”

Aku memikirkannya. Aku memikirkan Sheilla yang tertawa di film Korea sampai tersedak. Sheilla yang menggenggam tanganku di sofa dan bilang aku kebiasaan memendam, seperti kulkas. Sheilla yang menemukan teori cemburu paling akurat yang pernah kudengar dari analogi sambal.

Sheilla yang selalu dianggap kosong.

“Nggak,” kataku. “Kalau Sheilla tahu, dia nggak bakal bisa diam. Dia bakal teriak di grup. Dia bakal bikin klasemen baru. Sheilla nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari dua jam.”

Andro menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Oke,” katanya.

Kami turun lagi. Di basement, sebelum aku masuk ke mobil, dia menahan pintuku sebentar.

“Tadi pagi,” katanya pelan. “Di pantry. Kalau Sheilla datang lima detik lebih cepat…”

“Dia bakal lihat kamu nyium rahangku.”

“Itu yang aku takutin.”

Aku menatapnya. Lalu aku mendekat, cepat, mencium sudut rahangnya di tempat yang sama, di basement yang kosong, di antara mobilku dan pilar beton.

“Sekarang kita impas,” kataku.

Lalu aku masuk ke mobil dan menutup pintu sebelum dia sempat bereaksi.

Di kaca spion, aku melihatnya berdiri di sana dengan tangan menyentuh rahangnya sendiri, persis di tempat yang kucium, seperti orang yang baru diberi tahu bahwa server-nya mati padahal semua lampunya hijau.

Aku menyetir pulang sambil tersenyum.

Lalu, di lampu merah pertama, aku teringat dokumen di laptop Sheilla. Dan senyumku memudar sedikit.

Fel & ...

Aku menyalakan radio keras-keras dan tidak memikirkannya lagi.