← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirty One

“Kami Nggak Ada Apa-Apa”

POV: Felicia

Aku melihat foto itu pukul tujuh lewat tiga pagi, di mobil, di lampu merah Jalan Kemang Raya.

Ponselku bergetar tiga kali berturut-turut di tempat dudukan di dasbor. Bukan grup “Goddess Only 🔒”. Grup “Navara Ceria”, yang biasanya kubisukan. Seseorang menyebut namaku. Lalu seseorang lagi. Lalu notifikasi pesan pribadi dari nomor yang tidak kukenal, berisi satu foto tanpa kata-kata.

Aku membukanya di lampu merah.

Basement. Lampu neon kehijauan. Mobilku. Pilar beton. Rambutku yang tergerai. Andro yang menyelipkannya ke belakang telinga. Jarak antara wajah kami yang tidak ada.

Malam ulang tahunku. Malam terbaik dalam hidupku. Dalam satu bingkai buram yang diambil dari balik kaca mobil orang asing.

Mobil di belakangku mengklakson. Lampu sudah hijau.

Aku menyetir ke kantor dengan tangan yang tidak terasa seperti tanganku sendiri. Aku tidak ingat jalan yang kulewati. Aku tidak ingat memarkir mobil. Aku hanya ingat berdiri di depan pilar beton di basement, tempat yang sama dengan di foto itu, dan menatapnya seperti menatap tempat kejadian perkara.

Lalu aku mematikan ponselku.

Itu kesalahan pertama.


Dari pukul tujuh sampai pukul sembilan, lantai sembilan adalah tempat paling sunyi yang pernah kualami.

Bukan sunyi karena tidak ada suara. Ada suara keyboard. Ada suara printer, yang sekarang tidak pernah macet lagi. Ada suara telepon berdering di meja Pak Hendro. Tapi tidak ada yang bicara padaku. Tidak ada yang menyapaku. Orang-orang lewat di belakang mejaku dengan langkah pelan, berhenti sebentar, lalu lanjut berjalan.

Mbak Tari bertanya sekali. “Fel, kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Mbak.”

Dia menatapku lama. Lalu dia menggeser kursinya kembali ke mejanya. Dua senti. Ke arah yang berlawanan dari biasanya.

Pukul sembilan lewat sepuluh, aku menyalakan ponsel lagi.

Empat puluh tujuh pesan. Sebelas panggilan tidak terjawab. Lima dari Andro. Dua dari Bu Ratna. Satu dari Pak Hendro, yang duduk dua puluh meter dariku. Sisanya dari nomor-nomor yang tidak kusimpan, orang-orang dari lantai lain yang tiba-tiba merasa perlu menyapaku hari ini.

Tidak ada satu pun dari Eve. Tidak ada satu pun dari Sheilla.

Grup “Goddess Only 🔒” kosong sejak Jumat malam. Pesan terakhirnya dari Sheilla: selamat ulang tahun lagi fel!!! aku masih nangis!!! love you!!! Dengan empat belas emoji hati.

Aku mengirim satu pesan ke grup itu.

Felicia: Kalian udah lihat?

Dua centang. Biru. Dua-duanya sudah membaca.

Tidak ada balasan.

Aku menatap dua centang biru itu sampai mataku perih.

Lalu aku membalas Andro. Jangan ke lantai sembilan. Jangan ngomong apa-apa ke siapa-siapa. Tolong.

Aku tidak tahu kenapa aku mengirim itu. Atau mungkin aku tahu, dan aku tidak mau melihatnya terlalu jelas. Karena kalau dia turun, semua orang akan melihat. Karena kalau dia bicara, semua orang akan mendengar. Karena kalau ini menjadi lebih besar dari sekarang, ini akan menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Dan aku belum siap.

Aku masih belum siap.


Pukul sepuluh, Mbak Tari menggeser kursinya ke mejaku. Kali ini lebih dekat. Kali ini bukan dua senti.

“Fel,” bisiknya. “Mbak mau bilang sesuatu. Tapi kamu jangan marah.”

“Apa, Mbak?”

“Eve izin sakit hari ini.” Mbak Tari menunduk. “Dan orang-orang di grup bayangan bilang… mereka bilang Eve nggak masuk karena sakit hati. Karena kamu.”

Aku tidak menjawab.

“Mbak nggak percaya,” lanjut Mbak Tari cepat. “Mbak kenal kalian bertiga dari kalian masuk. Mbak tahu kamu nggak kayak gitu. Tapi orang-orang…” Dia menggeleng. “Orang-orang suka cerita yang ada penjahatnya, Fel. Dan cerita ini, penjahatnya kamu.”

Dia menepuk tanganku dua kali, lalu kembali ke mejanya.

Aku menatap layar laptopku. Kontrak sewa ruang ritel. Pasal 14, tentang penyelesaian sengketa. Apabila terjadi perselisihan, para pihak sepakat untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat.

Musyawarah. Mufakat. Kata-kata yang terdengar sangat masuk akal di atas kertas.

Aku memikirkan Eve. Eve yang izin sakit. Eve yang tidak membalas pesanku. Eve yang menyentuh noda oli di lengan jaket abu-abu dan berbisik jaketnya bagus. Eve yang meminta izinku dua kali sebelum mengajak Andro makan malam.

Eve yang sekarang, di setiap grup bayangan di gedung ini, adalah perempuan baik hati yang dikhianati sahabatnya sendiri.

Aku memikirkan Sheilla. Sheilla yang tidak membalas. Sheilla yang tidak bisa diam lebih dari lima detik, sekarang diam selama tiga jam.

Aku memikirkan apa yang akan terjadi kalau aku mengakuinya. Kalau aku bilang, ya, itu aku. Ya, itu Andro. Ya, kami sudah dua bulan. Ya, aku menyembunyikannya dari sahabatku.

Eve akan menjadi perempuan yang dikasihani. Selamanya. Di setiap rapat, di setiap lift, di setiap HUT. Itu Mbak Eve, yang cowoknya diambil sahabatnya. Padahal Andro tidak pernah miliknya. Padahal Eve sudah ditolak dengan anggun di kedai teh. Tapi tidak ada yang tahu itu. Dan cerita yang benar tidak pernah lebih kuat dari cerita yang punya penjahat.

Andro akan menjadi laki-laki yang mengejar dua goddess. Laki-laki yang makan malam dengan satu dan berciuman di basement dengan yang lain. Senior IT yang selama lima tahun dihormati semua orang, yang menyelamatkan presentasi Hoshino dan menyalakan genset dan mengembalikan lima juta Sheilla, akan menjadi bahan lelucon di grup keuangan.

Dan Sheilla. Sheilla yang membuat klasemen. Sheilla yang bilang fix dia suka aku. Sheilla akan menjadi perempuan yang dipermainkan.

Semua itu karena aku. Karena aku tidak bisa menahan diri di basement. Karena aku menciumnya dua kali, karena satu kali tidak cukup.

Aku menutup laptop.

Ada satu cara untuk menghentikan semuanya. Satu kalimat. Satu klausul yang, kalau dicabut, akan membuat seluruh cerita runtuh.

Aku orang legal. Aku tahu cara menemukan klausul itu.


Pukul satu lewat lima belas, aku naik ke rooftop.

Biasanya aku datang pukul satu lewat seperempat karena kantin sudah separuh kosong. Hari itu, kantin penuh. Setiap meja terisi. Orang-orang yang tidak pernah naik ke rooftop, orang-orang dari lantai empat dan keuangan dan strategi, duduk dengan piring di depan mereka dan kepala yang menoleh saat aku masuk.

Aku berjalan ke meja pojok. Meja kami. Di dekat dinding foto.

Dua kursi di sebelahku kosong.

Aku duduk. Aku menatap piring nasi yang tidak kuambil sendiri. Seseorang dari kantin pasti meletakkannya di sana, karena aku duduk di meja itu setiap hari selama empat tahun, dan kebiasaan adalah hal yang sulit dihentikan.

Aku tidak menyentuhnya.

Pukul satu lewat dua puluh, Dodi datang.

Bukan Andro. Dodi. Dengan nampan kayu dan tiga gelas. Dia berjalan melewati meja-meja yang penuh dengan kepala tegak dan wajah tegang, seperti tentara yang berjalan di wilayah musuh. Dia meletakkan tiga gelas di meja kami. Cokelat panas di depanku. Teh melati dan caramel macchiato di depan dua kursi kosong.

Dia menatapku. Matanya merah.

Lalu dia mengangguk, persis seperti Andro selalu mengangguk, dan berbalik.

Dan seseorang di meja tengah berbicara.

“Lho, kok Dodi yang antar? Mas Andro-nya mana? Takut ketahuan lagi, ya?”

Tawa. Pendek. Tidak enak.

Aku melihat bahu Dodi mengeras. Aku melihat tangannya mengepal di sisi nampan kosong. Dodi, yang selalu bercanda. Dodi, yang menaruh Indomie di depan pintu ruang server. Dodi, yang diam-diam punya salinan perjanjian kerahasiaan kami di ponselnya, untuk cadangan.

Dodi sedang dipermalukan di depan lima puluh orang karena aku.

Aku menatap tiga gelas di depanku. Cokelat panas, gula setengah. Teh melati di depan kursi Eve. Caramel macchiato di depan kursi Sheilla.

Tiga gelas. Pasal 3. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan yang mencurigakan.

Bahkan hari ini, dengan foto itu di setiap ponsel di gedung ini, dia tetap membawa tiga.

Aku berdiri.


Lima puluh kepala menoleh. Mungkin lebih. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung.

Aku berdiri di tengah rooftop.

Bukan di ujung. Bukan di pinggir. Bukan dua langkah di belakang siapa pun. Di tengah. Dengan lampu siang yang jatuh lewat atap kaca dan dinding foto empat tahun di belakangku dan lima puluh pasang mata yang menunggu.

Aku sudah memikirkan kalimatnya sejak pukul sepuluh. Aku sudah menyusunnya seperti klausul. Aku sudah menimbang setiap kata kerja.

Aku membuka mulut.

“Foto itu,” kataku. Suaraku keluar datar. Suara legal. Suara yang sama yang kupakai untuk menjelaskan klausul denda pada Tanaka-san. “Foto itu diambil hari Jumat malam. Setelah pesta ulang tahunku. Di sini.”

Ruangan diam.

“Aku nangis tiga kali di pesta itu. Kalian yang datang tahu. Mataku bengkak. Mas Andro yang bantu urus proyektor. Dia antar aku ke basement karena udah malam dan basement sepi. Itu yang ada di foto.” Aku menarik napas. “Dia nyelipin rambutku karena rambutku nutupin muka. Karena aku habis nangis.”

Itu bukan bohong. Itu semua bukan bohong. Aku memilih kata kerja dengan sangat hati-hati.

Lalu aku sampai di klausul itu. Klausul yang, kalau dicabut, akan membuat seluruh cerita runtuh.

“Kami nggak ada apa-apa,” kataku.

Kata-kata itu keluar dengan sangat jelas. Bergema sedikit di bawah atap kaca.

“Mas Andro baik ke semua orang. Kalian tahu itu. Dia benerin printer kalian. Dia nyalain genset. Dia balikin uang Sheilla. Dia nggak pernah ngejar siapa-siapa. Bukan Eve. Bukan aku.” Suaraku tidak bergetar. Aku memastikannya. “Dan Eve nggak perlu dikasihani. Eve nggak sakit hati. Nggak ada yang perlu dikasihani di sini. Jadi tolong. Berhenti.”

Aku duduk kembali.

Ruangan itu tetap diam selama lima detik. Lalu, pelan-pelan, orang-orang mulai kembali ke piring mereka. Seseorang batuk. Seseorang bergumam oh, gitu. Seseorang di meja tengah, orang yang tadi bicara keras, menunduk ke ponselnya dengan wajah merah.

Dodi masih berdiri di dekat tangga dengan nampan kosong. Dia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Lalu matanya bergeser. Ke belakangku. Ke pintu tangga darurat di ujung rooftop, yang terbuka sedikit.

Aku menoleh.


Di celah pintu tangga darurat, di balik bayangan bordes antara lantai sebelas dan dua belas, berdiri seorang laki-laki dengan kemeja biru muda dan kacamata berbingkai tipis.

Dia sudah di sana. Mungkin sejak awal. Mungkin sejak Dodi naik.

Dia mendengar semuanya.

Kami nggak ada apa-apa.

Mata kami bertemu lewat celah pintu itu. Dua detik. Pasal 2.

Aku melihat wajahnya. Dia tidak marah. Dia tidak terluka, atau setidaknya dia tidak membiarkan lukanya terlihat. Wajahnya datar dan tenang, persis seperti wajahnya saat membaca log, saat menyalakan genset, saat menjelaskan pada Kirana bahwa dashboard-nya error karena akun lama.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia sembunyikan dariku. Karena aku sudah dua bulan mempelajarinya, dengan cara yang sama dia mempelajariku selama empat tahun.

Rahangnya. Tidak kaku. Rahangnya lemas. Seperti orang yang berhenti menggigit sesuatu karena dia sudah tidak punya tenaga untuk menggigitnya lagi.

Dia mengangkat satu jari ke depan bibirnya.

Sst.

Lalu dia berbalik dan turun.

Aku mendengar langkahnya di tangga. Satu lantai per empat puluh detik. Sama seperti kecepatanku. Dia sudah mempelajari itu juga.

Langkah itu menjauh sampai tidak terdengar lagi.

Aku duduk di meja pojok, di depan tiga gelas, dengan lima puluh orang yang sudah kembali ke makan siang mereka, dan aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku runtuh pelan-pelan, seperti gedung yang fondasinya digerogoti dari dalam.

Sst adalah kata yang kuberikan padanya di tangga darurat. Kode kami. Rahasia kami. Janji kami.

Dia baru saja mengembalikannya padaku.

Dan kali ini, artinya bukan jangan bilang mereka.

Artinya aku ngerti.


Aku tidak menangis di rooftop. Aku tidak menangis di tangga. Aku tidak menangis di mejaku, di depan Mbak Tari yang menatapku dengan mata basah.

Aku menunggu sampai pukul lima lewat delapan.

Lalu aku keluar dari pintu lantai sembilan menuju tangga darurat timur.

Bordes antara lantai sembilan dan delapan kosong.

Aku turun. Bordes antara delapan dan tujuh. Kosong. Antara tujuh dan enam, tempat semuanya dimulai. Kosong.

Aku berdiri di sana lama. Lampu neon berdengung di atas kepalaku. Dinding abu-abu menatapku tanpa ekspresi.

Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, tidak ada yang menungguku di tangga darurat.

Ponselku bergetar. Aku merogohnya dengan tangan gemetar.

Andro: Aku ngerti kenapa kamu bilang begitu. Andro: Kamu nggak salah. Kamu ngelindungin mereka. Itu yang selalu kamu lakuin. Andro: Aku nggak marah.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Dia tidak marah.

Itu yang paling menyakitkan. Lebih menyakitkan dari foto itu. Lebih menyakitkan dari dua centang biru yang tidak dibalas. Lebih menyakitkan dari lima puluh pasang mata.

Dia tidak marah. Karena dia selalu mengerti. Karena dia sudah empat tahun mengerti, dari ujung foto, tanpa pernah meminta apa pun.

Dan hari ini, di depan lima puluh orang, aku mengambil satu-satunya hal yang pernah dia minta. Dan dia tetap tidak marah.

Aku mengetik.

Andro, aku nggak maksud…

Aku menghapusnya.

Itu cuma buat sementara…

Aku menghapusnya.

Tolong tunggu aku di…

Aku menghapusnya.

Aku berdiri di bordes antara lantai tujuh dan enam dengan ponsel di tangan dan tidak ada satu kalimat pun yang tidak terdengar seperti kebohongan.

Akhirnya aku hanya mengirim satu.

Felicia: 🤫

Dua centang. Biru.

Tidak ada balasan.

Aku duduk di anak tangga, di tempat yang sama di mana dua bulan lalu seorang laki-laki naik lima lantai dengan napas terengah untuk mengatakan tujuh kata yang sudah dia latih empat tahun.

Dan aku menangis.