Chapter Twenty Five
Eve yang Diam
POV: Felicia
Router Wi-Fi apartemenku mati hari Jumat pukul enam sore. Itu bukan alasan. Aku ingin itu dicatat juga.
Lampunya berkedip oranye, lalu merah, lalu tidak menyala sama sekali. Aku mencabutnya, memasangnya lagi, dan menunggu sepuluh menit. Tidak ada yang berubah. Aku menelepon penyedia internet, dan suara mesin bilang antrean teknisi penuh sampai hari Selasa.
Selasa. Empat hari tanpa internet. Dengan dua kontrak yang harus kuperiksa dari rumah selama akhir pekan.
Aku menatap ponselku. Lalu aku mengirim satu kata.
Felicia: ☕
Balasannya datang dalam enam detik.
Andro: Sekarang? Jam enam? Kantor udah sepi. Felicia: Bukan kantor. Apartemenku. Router-ku mati. Andro: Itu bukan arti ☕. Felicia: Aku orang legal. Aku bisa menafsirkan ulang.
Tiga titik. Lama sekali.
Andro: Alamat? Felicia: Kamu udah tahu. Andro: Aku tahu arah Kemang. Aku belum tahu nomor unitnya. Felicia: 1207. Andro: Lantai dua belas. Felicia: Kenapa? Andro: Nggak apa-apa. Kamu selalu suka lantai dua belas.
Dia datang pukul tujuh kurang sepuluh, membawa kotak peralatan kecil dan kantong plastik dari warung di bawah. Isinya dua bungkus nasi goreng, dua teh botol, dan satu bungkus kerupuk.
“Kamu belum makan,” katanya di pintu.
“Kok tahu?”
“Kamu selalu lupa makan kalau ada yang rusak.”
Aku membiarkannya masuk.
Ini pertama kalinya dia masuk ke apartemenku. Aku melihatnya menatap ke sekeliling dengan cara yang sama dia menatap ruang server untuk pertama kalinya. Bukan menilai. Mempelajari. Rak buku yang penuh novel dan buku hukum, disusun berdasarkan warna sampul. Sofa abu-abu dengan selimut rajutan. Tanaman monstera di dekat jendela yang sudah setengah mati karena aku lupa menyiramnya. Pintu kaca geser yang menuju balkon kecil, dengan dua kursi lipat dan pemandangan lampu-lampu Kemang di bawah.
Dan gantungan baju di dekat pintu. Dengan jaket abu-abunya, tergantung di antara blazer-blazerku.
Dia melihat jaket itu. Dia berhenti.
“Kamu gantung di situ,” katanya.
“Di mana lagi?”
“Aku kira di lemari. Atau di bagasi.”
“Sempat di bagasi. Dua hari.” Aku mengambil kantong plastik dari tangannya dan berjalan ke dapur. “Terus aku pindahin ke sini.”
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab. Aku membuka bungkus nasi goreng dan meletakkannya di dua piring. Dia tidak bertanya lagi. Tapi aku tahu dia tersenyum di belakangku, karena aku bisa mendengarnya di cara dia meletakkan kotak peralatan di lantai.
Router itu ternyata hanya butuh adaptor baru. Adaptornya terbakar. Dia punya cadangan di kotak peralatannya, karena tentu saja dia punya. Orang IT selalu punya cadangan.
Dalam tujuh menit internetku menyala.
“Selesai,” katanya. “Tagihan konsultasi menyusul.”
“Berapa?”
“Nanti aku hitung.”
Kami makan nasi goreng di sofa, dengan piring di pangkuan dan televisi yang menyala tanpa suara. Lututnya menyentuh lututku. Tidak ada yang menarik lututnya.
Setelah makan, dia membawa piring ke dapur dan mencucinya. Aku tidak memintanya. Dia hanya melakukannya, dengan lengan kemeja digulung sampai siku, seolah-olah itu hal yang biasa.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menatapnya mencuci piring di wastafelku.
Ada sesuatu yang sangat aneh dan sangat hangat tentang melihat laki-laki yang empat tahun berdiri di ujung foto, sekarang berdiri di dapurmu sambil membilas sabun dari piring bermotif bunga yang kamu beli di pasar loak.
Aku mendekat dari belakang. Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.
Dia berhenti membilas.
“Fel,” katanya pelan. “Tanganku penuh sabun.”
“Aku nggak minta tanganmu.”
Aku menempelkan pipiku di punggungnya. Kemejanya hangat. Aku bisa mendengar jantungnya lewat punggungnya, sedikit lebih cepat dari seharusnya untuk orang yang sedang mencuci piring.
Dia mematikan keran. Dia mengeringkan tangannya dengan lap. Lalu dia berbalik dalam pelukanku, pelan, sampai kami berhadapan. Punggungnya bersandar di tepi wastafel. Tanganku masih di pinggangnya.
“Tagihan konsultasi,” kataku. “Udah dihitung?”
“Udah.”
“Berapa?”
Dia mengangkat tangan dan menyelipkan helai rambut yang lepas dari ikatanku ke belakang telinga. Ibu jarinya berhenti di sudut bibirku.
“Mahal,” katanya.
“Aku punya tabungan.”
“Bukan bayar pakai uang.”
Aku tahu. Aku membayarnya.
Ciuman di dapur ternyata berbeda dari ciuman di ruang server, atau di pantry, atau di lift. Tidak ada yang mendengarkan di luar pintu. Tidak ada pesan yang masuk. Tidak ada tukang parkir. Hanya bunyi kulkas yang berdengung dan lampu dapur yang kuning dan tangannya di punggungku, naik pelan ke tengkukku, menarik ikatan rambutku sampai lepas.
Rambutku jatuh ke punggung.
Dia mundur sedikit dan menatapnya. “Aku suka kalau rambutmu nggak diikat.”
“Kamu baru lihat sekali. Di brunch.”
“Dan aku duduk empat puluh tiga menit ngetik ‘sdfjkl’.”
Aku tertawa ke dadanya. Dia memelukku. Kami berdiri di dapur itu, dan aku berpikir, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin aku tidak keberatan dengan ini setiap hari. Router yang rusak. Nasi goreng di sofa. Piring yang dicuci orang lain.
Bel pintu berbunyi.
Kami membeku.
Bel berbunyi lagi. Dua kali. Lalu ketukan. Lalu suara yang aku kenal lebih baik dari suaraku sendiri.
“FELLL! BUKA! KITA BAWA MARTABAK!”
Sheilla.
Lalu suara yang lebih lembut. “Fel? Maaf nggak bilang dulu. Sheilla bilang mau kasih kejutan.”
Eve.
Aku menatap Andro. Andro menatapku. Lalu kami berdua menatap ke ruang tamu, ke kotak peralatan di lantai, ke dua piring yang masih basah di rak, ke dua botol teh di meja.
“Sembunyi,” bisikku.
“Di mana?”
Aku memindai apartemenku dengan kecepatan orang yang mencari pasal pembatalan di kontrak lima ratus halaman. Kamar tidur, terlalu dekat dengan kamar mandi, Sheilla selalu ke kamar mandiku. Lemari, terlalu kecil. Bawah tempat tidur, terlalu memalukan.
Balkon.
“Balkon,” kataku.
“Fel, di luar mendung…”
“Balkon. Sekarang.”
Bel berbunyi lagi. “FEL! AKU TAHU KAMU DI DALAM! LAMPUMU NYALA!”
Andro mengambil kotak peralatannya. Aku mendorongnya ke pintu kaca geser. Dia keluar ke balkon. Aku menutup pintu kaca dan menarik tirai sampai rapat.
Lalu aku berlari ke dapur, menyembunyikan satu piring basah di dalam oven, memasukkan satu botol teh ke kulkas, mengambil ikat rambut dari lantai dapur dan mengikat rambutku dalam empat detik, dan membuka pintu depan dengan napas yang kuatur empat hitungan.
“Hai,” kataku.
Sheilla menyerbu masuk dengan dua kotak martabak di tangan. “Kejutan! Kita bosen di rumah! Eve habis putus sama gebetan yang belum jadi gebetan, jadi kita perlu martabak!”
“Shei!” Eve masuk di belakangnya, tertawa dan malu. “Aku nggak putus. Aku cuma… ditolak secara halus.”
“Itu putus versi orang dewasa, Eve.”
Mereka melepas sepatu. Sheilla langsung menjatuhkan diri di sofa. Eve meletakkan tas di meja makan.
Lalu Eve berhenti.
Dia berhenti di depan gantungan baju di dekat pintu.
Aku melihat itu terjadi seperti dalam gerakan lambat.
Eve menatap gantungan baju. Blazer abu-abuku. Blazer hitamku. Cardigan cokelat. Dan di antaranya, jaket abu-abu laki-laki. Kebesaran. Dengan noda kecil oli di ujung lengan kanan, dari genset malam itu, yang tidak pernah kucuci.
Eve menatap jaket itu lama sekali.
Tiga detik. Lima.
Sheilla, di sofa, sedang membuka kotak martabak dan tidak melihat apa-apa.
“Fel,” kata Sheilla. “Kamu punya garpu nggak? Aku males pakai tangan.”
“Di laci kedua,” kataku. Suaraku keluar normal. Aku tidak tahu bagaimana.
Eve masih menatap jaket itu. Lalu dia mengulurkan tangan dan menyentuh ujung lengannya. Noda oli itu. Jarinya diam di sana.
Lalu dia menarik tangannya, berbalik, dan tersenyum padaku.
Bukan senyum biasa. Bukan senyum untuk klien, atau senyum yang dia berikan pada semua orang di lift. Senyum kecil yang tidak sepenuhnya sampai ke mata. Senyum yang menyimpan sesuatu di belakangnya, seperti amplop yang belum dibuka.
Dia tidak berkata apa-apa.
Dia berjalan ke sofa dan duduk di sebelah Sheilla.
Aku berdiri di dekat pintu, dan kakiku terasa seperti dibuat dari agar-agar.
Kami makan martabak.
Sheilla bercerita tentang hari pertamanya memakai password manager. Dia lupa password manager-nya. Dia harus menelepon Andro dua kali. Andro, katanya, tidak marah sama sekali, hanya bilang “nggak apa-apa, Shei” dengan suara yang sangat sabar, “kayak bapak-bapak yang ngajarin anaknya naik sepeda”.
Di balik tirai balkon, aku membayangkan Andro mendengar itu.
Eve tertawa di saat-saat yang tepat. Tapi dia tidak banyak bicara. Dia makan martabak keju sedikit demi sedikit, dan sesekali matanya bergeser ke gantungan baju di dekat pintu, lalu kembali ke martabak.
Lalu hujan turun.
Bukan gerimis. Hujan Jakarta di bulan November yang datang tanpa peringatan, deras seperti seseorang membalik ember dari langit. Suaranya memukul kaca balkon. Tirai bergetar sedikit karena angin.
“Wah, hujan!” Sheilla bangkit dari sofa. “Fel, jemuranmu di balkon? Biar aku angkat!”
“NGGAK,” kataku. Terlalu keras.
Sheilla berhenti. Eve menatapku.
“Nggak ada jemuran,” kataku, lebih pelan. “Aku nggak pernah jemur di balkon. Aku pakai pengering.”
“Oh.” Sheilla duduk lagi. “Kamu kenapa teriak?”
“Kaget. Hujannya.”
“Kamu nggak pernah kaget sama hujan.”
“Hari ini kaget.”
Sheilla menyipitkan mata ke arahku. Lalu ke tirai balkon. Lalu ke arahku lagi.
Lalu dia mengangkat bahu dan mengambil martabak lagi.
Di balik tirai, hujan memukul balkon kecil itu, dan aku membayangkan seorang laki-laki berumur tiga puluh satu tahun dengan kotak peralatan, berdiri menempel di dinding di satu-satunya sudut balkon yang terlindung kanopi sempit, basah setengah badan, dikerumuni nyamuk Kemang yang terkenal ganas.
Aku merasa bersalah. Aku juga merasa ingin tertawa. Keduanya sekaligus. Seperti sambal.
Ponselku bergetar di saku.
Aku tidak membukanya di depan mereka. Aku pergi ke kamar mandi.
Andro: Status: basah 60%. Digigit nyamuk 14 kali. Aku hitung. Andro: Ada kucing tetangga di balkon sebelah. Dia lihatin aku kayak Pak Udin. Andro: Aku dengar Sheilla bilang aku kayak bapak-bapak ngajarin naik sepeda. Andro: Aku tersinggung tapi juga terharu.
Aku menekan bibirku supaya tidak tertawa di kamar mandi.
Felicia: Maaf. Sebentar lagi. Andro: Nggak apa-apa. Kucingnya mulai bersahabat. Andro: Fel. Eve diem dari tadi.
Aku menatap pesan itu.
Felicia: Kamu dengar? Andro: Dari balik kaca aku dengar suara Sheilla terus. Suara Eve cuma dua kali. Felicia: Dia lihat jaketmu.
Tiga titik. Lama.
Andro: Dia bilang apa? Felicia: Nggak ada. Dia cuma pegang lengannya. Yang ada noda olinya.
Tiga titik lagi. Lebih lama.
Andro: Oke.
Satu kali. Artinya dia tidak setuju dengan sesuatu, tapi dia tidak mau bilang apa.
Mereka pulang pukul sepuluh, setelah hujan reda.
Sheilla memelukku di pintu dan bilang aku harus beli tanaman baru karena monstera-ku “kelihatan kayak sedang mempertimbangkan untuk resign”. Lalu dia berjalan duluan ke lift sambil bersenandung.
Eve memelukku lebih lama.
Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Dia hanya memelukku, dengan dagu di bahuku, seperti waktu kami kuliah dan aku gagal ujian Hukum Perdata untuk pertama dan satu-satunya kalinya.
Lalu dia berbisik, sangat pelan, di dekat telingaku:
“Jaketnya bagus, Fel.”
Aku membeku.
Eve melepaskan pelukannya. Dia tersenyum. Senyum yang sama dengan tadi. Kecil, tidak sampai ke mata, menyimpan amplop yang belum dibuka.
Lalu dia berbalik dan menyusul Sheilla ke lift.
Aku berdiri di ambang pintu sampai pintu lift tertutup. Lalu aku menutup pintu apartemen, menguncinya, dan bersandar di sana dengan jantung yang berdetak seperti genset yang baru menyala.
Jaketnya bagus.
Itu bukan pertanyaan. Itu bukan tuduhan. Itu tidak berarti apa-apa.
Atau itu berarti segalanya.
Aku membuka tirai balkon.
Andro berdiri di sudut di bawah kanopi sempit, kemeja birunya basah dari bahu sampai pinggang, rambutnya menempel di dahi, kacamatanya berembun. Kotak peralatan di kakinya, ditutupi kantong plastik bekas nasi goreng. Di balkon sebelah, seekor kucing belang tiga duduk di pagar, menatapnya dengan sangat serius.
Dia menatapku. Aku menatapnya.
“Empat belas nyamuk,” katanya.
“Maaf.”
“Dua puluh tiga, sekarang.”
“Maaf banget.”
Dia menyeka kacamatanya dengan ujung kemeja yang basah, yang hanya membuatnya lebih buram. Lalu dia tersenyum.
Aku tidak tahu kenapa senyum itu yang membuatku menangis. Bukan tangisan besar. Hanya mata yang tiba-tiba panas dan napas yang tiba-tiba tersendat.
“Fel?” Dia melangkah masuk, basah dan khawatir. “Kenapa?”
“Kamu berdiri di balkon dua jam,” kataku. “Kehujanan. Digigit nyamuk. Buat aku. Dan aku nggak bisa bilang ke sahabatku sendiri kalau kamu ada di sini.”
Dia diam.
“Eve tahu,” kataku. “Aku rasa Eve tahu. Atau hampir tahu. Dan dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma bilang jaketnya bagus.” Suaraku pecah. “Dia sahabatku sepuluh tahun, Andro. Dia nanya aku keberatan atau nggak sebelum ngajak kamu makan. Dua kali. Dan aku bohong ke dia. Dua kali.”
Dia tidak memelukku. Dia basah, dan dia tahu aku tidak akan peduli, tapi dia tetap tidak memelukku. Dia hanya berdiri di depanku dan menunggu, seperti dia menunggu di tangga darurat setiap sore, seperti dia menunggu empat tahun.
“Kamu mau bilang ke mereka?” tanyanya pelan.
Aku memikirkannya. Aku benar-benar memikirkannya. Aku membayangkan menelepon Eve sekarang, malam ini, dan bilang semuanya. Aku membayangkan wajah Sheilla. Klasemen. Grup Navara Ceria. Bu Ratna.
Aku membayangkan berdiri di tengah.
“Belum,” bisikku. “Aku belum bisa.”
“Oke.”
Satu kali. Tidak setuju, tapi percaya.
Aku mengambil handuk dari kamar mandi dan melemparkannya ke kepalanya. Dia mengeringkan rambutnya. Aku mengambil kaus kebesaran milikku, kaus yang dipinjam Eve waktu sleepover, dan menyerahkannya padanya. Dia memakainya. Kausnya bertuliskan FAKULTAS HUKUM — LUSTRUM VII dan terlalu pendek di bagian perut.
Aku tertawa dengan mata masih basah.
“Jangan ketawa,” katanya. “Aku korban.”
“Kamu kelihatan kayak mahasiswa hukum yang salah jurusan.”
Dia duduk di sofa, menggaruk lengan yang penuh bentol nyamuk, dan menatap gantungan baju di dekat pintu. Jaketnya masih di sana. Dengan noda oli di ujung lengan kanan.
“Fel,” katanya. “Kamu mau aku ambil jaketnya?”
Aku menatap jaket itu.
“Nggak,” kataku. “Biarin di situ.”
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam reading
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur