← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Five

Suara Imut dan Jembatan

POV: Felicia

Printer lantai sembilan memang macet. Aku ingin itu dicatat.

Sudah dua hari dia mengeluarkan kertas dengan noda tinta di pojok kanan bawah, dan pagi ini dia berhenti total di tengah mencetak lampiran kontrak, mengedipkan lampu oranye seperti orang yang sedang marah tapi tidak mau bilang kenapa. Semua orang di lantai sembilan tahu itu. Pak Hendro, kepala divisiku, sudah menendang sisi printer dua kali sebelum makan siang, yang menurutnya adalah “metode perbaikan generasi lama”.

Jadi aku mengirim tiket. Itu prosedur.

Kalimat terakhirnya, ini beneran, bukan alasan, mungkin tidak perlu. Aku menulisnya sebelum sempat berpikir, lalu menekan kirim sebelum sempat menghapus. Itu kesalahan prosedural, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

Andro datang dua belas menit kemudian.

Dua belas menit. Untuk tiket printer. Pak Hendro pernah menunggu tiga hari untuk mouse yang tidak mau mengklik.

Dia masuk dengan kotak peralatan di tangan kanan dan napas yang sedikit terlalu cepat, seperti orang yang baru naik tangga. Dia menyapa semua orang yang dilewatinya. Pak Hendro, Mbak Tari dari bagian perizinan, anak magang yang mejanya di dekat jendela. Semua dengan senyum yang sama.

Lalu dia berhenti di depan printer, di sebelah mejaku, dan tidak menyapaku sama sekali.

Aku tidak keberatan. Sungguh.

Dia berlutut, membuka panel samping printer, dan menatap isinya beberapa detik. Lalu dia memasukkan dua jari dan menarik sesuatu keluar.

Sebuah penjepit kertas. Penjepit kertas besar berwarna hitam, jenis yang dipakai untuk mengikat dokumen tebal.

“Ini punya siapa?” tanyanya, mengangkat penjepit itu ke udara.

Seluruh lantai sembilan menoleh ke Pak Hendro. Pak Hendro tiba-tiba sangat tertarik pada layar komputernya.

Andro tersenyum, meletakkan penjepit itu di meja Pak Hendro tanpa berkata apa-apa, lalu kembali ke printer. Dia membersihkan sesuatu di dalam dengan kain kecil, mengganti satu bagian dari kotak peralatannya, menutup panel, dan menekan tombol tes. Printer berbunyi seperti kucing yang bangun tidur, lalu mengeluarkan selembar kertas bersih.

“Udah,” katanya. Kepada semua orang. Lalu, lebih pelan, hanya kepadaku: “Tinta di pojok itu dari roller yang aus. Aku ganti sekalian, biar nggak usah tiket lagi minggu depan.”

“Makasih.”

“Kalimat terakhir di tiketmu,” katanya sambil menutup kotak peralatan, “aku percaya, kok.”

Lalu dia pergi.

Mbak Tari dari bagian perizinan menggeser kursinya ke dekatku dengan kecepatan yang tidak wajar untuk perempuan berumur empat puluh dua tahun.

“Fel. Mas Andro barusan ngomong apa ke kamu?”

“Soal roller printer.”

“Pakai suara pelan gitu?”

“Rollernya rahasia negara, Mbak.”

Mbak Tari menatapku dengan curiga, lalu mundur ke mejanya sambil menggerutu. Aku membuka lampiran kontrak yang tadi gagal dicetak dan mencetaknya ulang.

Kertasnya keluar bersih. Tanpa noda di pojok.

Aku tidak tersenyum. Aku hanya mencatat.


Siang itu Sheilla punya krisis.

Krisis Sheilla biasanya datang dalam dua bentuk: krisis sepatu, yang terjadi kira-kira dua kali seminggu, dan krisis pekerjaan, yang jarang tapi selalu dramatis. Hari ini bentuk kedua.

“Peluncuran produk baru Navara Residence besok pagi di lobby,” katanya di rooftop, sambil mengaduk es teh tanpa meminumnya. “Aku penanggung jawab acaranya. Layar LED-nya udah datang, tapi nggak mau nyala. Vendornya bilang teknisinya baru bisa datang besok jam sembilan. Acaranya jam sembilan.”

“Telepon vendor lain,” kata Eve.

“Udah. Semua penuh. Ini musim nikahan, Eve. Semua layar LED di Jakarta lagi dipakai buat nampilin foto prewed.”

“Minta tolong IT?” usulku.

Sheilla berhenti mengaduk. Matanya pelan-pelan melebar, seperti lampu yang dinyalakan dengan dimmer.

“Mas Andro,” bisiknya.

“Atau Dodi. Atau Mas Yudha. Atau siapa pun di IT.”

“Mas Andro,” ulang Sheilla, kali ini dengan senyum yang membuatku khawatir. “Ini kesempatan.”

“Kesempatan buat apa?”

“Buat tes.” Dia meletakkan gelas dan menatap kami berdua dengan serius. “Kalian tahu kan, belum pernah ada cowok yang bisa nolak aku kalau aku minta tolong pakai suara itu.”

“Suara itu” adalah suara yang Sheilla gunakan saat dia benar-benar butuh sesuatu. Setengah oktaf lebih tinggi dari suara biasanya, dengan sedikit getar di ujung kalimat, dan kata “please” yang dipanjangkan sampai tiga suku kata. Aku pernah melihatnya meminjam payung dari orang asing di halte dengan suara itu. Orang asing itu pulang kehujanan dan tetap kelihatan bahagia.

“Kalau dia bantu,” lanjut Sheilla, “itu biasa. Semua cowok bantu. Tapi kalau dia bantu dan matanya kayak gini…” Dia memperagakan wajah laki-laki yang sedang jatuh cinta, yang ternyata mirip wajah anjing melihat tulang. “…berarti targetnya aku.”

“Kalau matanya biasa aja?” tanya Eve.

Sheilla diam. Lalu dia melirik Eve dengan sedikit tidak rela. “Berarti mungkin kamu.”

Eve tertawa kecil dan menunduk ke piringnya. Pipinya merah lagi. Itu sudah ketiga kalinya minggu ini.

Aku menyesap cokelat panasku. Hari ini aku membelinya sendiri di kafe lantai dasar. Rasanya tidak seenak yang kemarin, dan aku menolak memikirkan kenapa.


Sheilla melaksanakan tesnya pukul tiga sore.

Aku dan Eve menonton dari balkon lantai dua, yang menghadap ke lobby. Bukan karena kami ingin menonton. Eve kebetulan harus mengambil paket di resepsionis, dan aku kebetulan menemaninya, dan kami kebetulan berhenti di balkon karena Eve bilang kakinya pegal.

Di lobby di bawah kami, layar LED raksasa berdiri di atas panggung kecil, gelap dan mati. Sheilla berdiri di depannya dengan papan klip di dada. Dan Andro, yang baru saja turun dari lift dengan kotak peralatan, berjalan ke arahnya.

Kami tidak bisa mendengar percakapan mereka dari atas. Tapi kami tidak perlu.

Sheilla memiringkan kepala lima belas derajat. Dia menyatukan kedua tangan di depan dada. Bibirnya bergerak, dan aku bisa membaca kata terakhirnya dari bentuk mulutnya: ple-e-ease.

Andro mengangguk. Dia tersenyum. Lalu dia langsung berjalan ke belakang layar, berlutut, dan mulai membuka panel.

Sheilla menunggu. Menunggu tatapan anjing melihat tulang itu.

Andro tidak menoleh lagi.

Lima belas menit kemudian, layar itu menyala. Warna-warni logo Navara Residence memenuhi lobby. Beberapa karyawan yang lewat bertepuk tangan. Sheilla melompat-lompat kecil dan memeluk papan klipnya.

Lalu, persis saat Sheilla membuka mulut untuk bilang terima kasih dengan suara itu, Pak Udin memanggil dari pos satpam.

“Mas Andro! Maaf, Mas! HP saya nggak bisa buka WhatsApp dari tadi pagi. Cucu saya ulang tahun, saya mau kirim video!”

Andro menoleh ke Sheilla, mengangkat satu tangan seperti minta izin, lalu berjalan ke pos satpam. Dia duduk di kursi plastik di sebelah Pak Udin, mengambil ponsel tua itu, dan mulai memencet-mencet layarnya dengan kesabaran yang sama persis dengan yang dia berikan ke layar LED tadi. Lalu dia mengajari Pak Udin cara mengirim video, dua kali, karena Pak Udin lupa di percobaan pertama.

Setelah itu Bu Sumi, petugas kebersihan yang anaknya pernah berlari di foto HUT bertahun-tahun lalu, datang dengan pertanyaan tentang aplikasi bank. Andro membantunya juga.

Lalu seorang kurir yang bingung mencari lantai tujuh.

Sheilla berdiri di depan layar LED yang menyala, papan klip di dada, mulut sedikit terbuka.

Di balkon, Eve menutup mulutnya dengan tangan. “Ya ampun,” bisiknya. “Dia baik ke semua orang. Beneran semua orang.”

“Iya,” kataku.

“Itu… bagus, kan? Berarti dia memang baik. Bukan baik karena mau sesuatu.”

Aku menatap Andro yang sekarang sedang menunjukkan arah ke lift pada kurir itu, dengan tangan menunjuk dan senyum yang sama.

“Iya,” kataku lagi. “Itu bagus.”

Eve menatapku dari samping. “Kamu ngomong ‘iya’ dua kali.”

“Karena jawabannya iya dua kali.”

Eve tersenyum, tapi tidak membalas. Kami turun mengambil paket, dan aku tidak melihat ke arah pos satpam lagi.


Laporan Sheilla tentang hasil tesnya datang di grup “Goddess Only 🔒” pukul empat lewat sepuluh.

Sheilla: LAPORAN TES Sheilla: hasil: inkonklusif 😭 Sheilla: dia bantu aku. tp abis itu dia bantu pak udin. trus bu sumi. trus kurir. trus kucing GA yg nyangkut di pot 😭😭😭 Sheilla: aku kalah sama kucing Eve: Kamu nggak kalah, Shei. Dia memang baik ke semua 🤍 Sheilla: tp pas aku bilang makasih dia bilang “sama-sama, semoga acaranya lancar” trus pergi Sheilla: NGGAK ADA TATAPAN ANJING LIAT TULANG Sheilla: eve fix target dia kamu Eve: Shei 😳 Sheilla: aku legowo. aku dewasa. aku tetap cantik.

Aku membaca semuanya. Aku tidak membalas. Lalu aku membuka WhatsApp pribadi dan menatap kontak yang tidak pernah kusimpan, tapi nomornya ada di tanda tangan email setiap tiket yang selesai.

Aku tidak mengetik apa-apa. Aku hanya menatapnya.

Lalu aku menutup ponsel dan kembali ke lampiran kontrak.


Pukul lima lewat delapan, aku keluar dari pintu lantai sembilan menuju tangga darurat.

Dia ada di bordes antara lantai delapan dan tujuh. Bersandar di dinding dengan tangan di saku, seolah-olah kebetulan lewat dan kebetulan berhenti dan kebetulan menunggu tepat di jalurku.

“Kamu nggak kerja?” tanyaku.

“Jam kerjaku habis jam lima.”

“Biasanya kamu pulang jam sembilan malam.”

Dia mengangkat alis. “Kamu tahu aku pulang jam berapa?”

Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati. Aku tahu, karena dari jendela lantai sembilan kamu bisa melihat lampu ruang IT di lantai dua yang selalu menyala paling akhir. Aku tahu, karena di tahun pertama aku sering lembur dan selalu melihat satu laki-laki keluar dari pintu samping gedung pukul sembilan, menyapa Pak Udin, lalu berjalan ke halte. Aku tahu, tapi aku tidak pernah memikirkannya.

“Semua orang tahu,” kataku.

“Oke.” Dia tersenyum kecil, dan aku tahu dia tidak percaya.

Aku melanjutkan langkah. Dia tidak menghalangi. Tapi dia turun bersamaku, satu anak tangga di belakang, cukup jauh sehingga aku tidak merasa diikuti, cukup dekat sehingga aku bisa mendengar langkahnya.

Di bordes lantai enam, aku berhenti.

Aku sudah memikirkan ini sejak pukul tiga sore. Sejak melihat Eve menutup mulutnya di balkon, pipinya merah. Sejak membaca eve fix target dia kamu di grup. Aku memikirkannya dengan cara yang sama aku memikirkan kontrak: mencari celah, mencari kalimat yang akan membuat seluruh perjanjian runtuh kalau dicabut.

Dan aku menemukannya.

“Andro.”

Dia berhenti satu anak tangga di atasku. Itu membuat matanya sejajar dengan mataku untuk pertama kalinya.

“Eve suka kamu,” kataku. “Kayaknya.”

Wajahnya tidak berubah. Dia hanya mendengarkan.

“Dia baik. Kamu tahu dia baik. Semua orang tahu. Dan dia cantik, dan dia nggak pernah tersipu kayak gini ke siapa pun sebelumnya. Aku kenal dia sepuluh tahun.” Aku menarik napas. “Kalau kamu mau, aku bisa bantu. Aku bisa atur makan siang berdua. Aku bisa kasih tahu dia sukanya apa. Bukan matcha. Teh melati.”

Itu tawaranku. Itu tes yang kupasang. Klausul yang, kalau dia ambil, akan membuktikan bahwa semuanya cuma cerita lama dengan kostum baru.

Mereka semua mengambilnya. Selalu. Laki-laki di lift. Mahasiswa teknik. Kakak kelas yang memberiku cokelat lalu bertanya nomor Sheilla. Mereka semua mengambil jembatan itu dengan wajah lega, seolah-olah aku baru saja menghemat waktu mereka.

Andro menatapku lama.

Lalu dia turun satu anak tangga, sehingga dia berdiri di bordes yang sama denganku. Tidak terlalu dekat. Dia tidak pernah terlalu dekat.

“Teh melati,” ulangnya. “Oke. Besok aku ganti matcha-nya.”

Dadaku melakukan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang turun, seperti lift yang kabelnya putus. Tentu saja, pikirku. Tentu saja.

“Biar dia nggak harus pura-pura suka lagi,” lanjutnya. “Dia orang baik. Orang baik nggak harus minum yang pahit buat nyenengin orang lain.”

Lalu dia menatapku. Dan suaranya turun sedikit, tidak lebih pelan, hanya lebih pasti.

“Tapi aku nggak butuh jembatan, Felicia. Aku udah di seberang dari empat tahun lalu. Nungguin kamu.”

Lampu neon di atas kami berdengung.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Cukup lama sehingga suara pintu tangga di lantai bawah terbuka dan tertutup, seseorang masuk, lalu keluar lagi di lantai lain. Cukup lama sehingga aku sadar tanganku mencengkeram tali tas sampai buku jariku memutih.

“Kamu bisa aja bohong,” kataku akhirnya. Suaraku terdengar terlalu tipis.

“Bisa,” dia setuju. “Makanya aku nggak minta kamu percaya hari ini. Aku cuma minta kamu lihat aja. Lama-lama kamu bakal tahu sendiri.”

Dia melangkah ke samping, memberi jalan, seperti kemarin. Seperti selalu.

Aku turun. Kali ini aku tidak berhenti di lantai tiga. Aku turun terus sampai basement, masuk ke mobil, dan duduk di kursi pengemudi tanpa menyalakan mesin.

Empat tahun, katanya.

Aku menyalakan mesin. Aku menyetir pulang. Di lampu merah pertama, aku menyadari radio tidak menyala, dan aku sudah setengah jalan tanpa mendengar apa-apa kecuali satu kalimat yang terus diputar ulang.

Nungguin kamu.

Di lampu merah kedua, ponselku bergetar.

Sheilla: guys besok pagi jgn lupa dateng ke peluncuran!!! aku pake baju pink!!! Eve: Pasti, Shei 🤍 Fel, besok bareng ya?

Aku membalas dengan stiker kucing mengangguk.

Lalu aku menatap jalan di depanku dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun persahabatan kami, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kuceritakan pada mereka.

Bukan karena aku tidak mau.

Karena aku belum tahu itu apa.