← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Eight

Lift Lantai Tujuh

POV: Andro

Lift kanan Tower Navara berhenti di antara lantai tujuh dan delapan pada hari Kamis pukul satu lewat dua belas siang, dan aku ada di dalamnya bukan karena takdir.

Aku ada di dalamnya karena Sheilla.

Lima menit sebelumnya, aku sedang naik dari lantai dua ke lantai dua belas dengan nampan tiga minuman, lewat tangga seperti biasa. Di bordes lantai tujuh, pintu tangga terbuka dan Sheilla muncul dengan dua kardus besar bertumpuk di pelukannya, setinggi dagunya, berisi sisa suvenir peluncuran Navara Residence.

“Mas Andro!” katanya dengan suara itu. “Tolong, please, aku nggak bisa lihat jalan.”

Aku tidak bisa membawa kardus dan nampan sekaligus lewat tangga. Jadi kami pindah ke lift.

Di depan lift lantai tujuh, Eve dan Felicia sudah menunggu. Sheilla rupanya meminta mereka turun untuk membantunya mengangkut kardus ke gudang di lantai dua belas. Eve membawa kardus ketiga. Felicia membawa papan klip Sheilla, tas Sheilla, dan ekspresi orang yang sudah menyesali semua keputusan hidupnya hari ini.

Lift terbuka. Isinya sudah enam orang. Mas Bayu dari Comm, dua staf keuangan, seorang kurir dengan troli kecil, dan dua orang dari divisi properti yang tidak kukenal namanya.

“Muat,” kata Sheilla optimis.

Tidak muat. Tapi kami masuk juga, karena Sheilla sudah masuk duluan dengan kardusnya dan semua orang di dalam bergeser dengan sopan. Sebelas orang, tiga kardus, satu troli, dan satu nampan minuman di lift yang dirancang untuk sepuluh orang.

Felicia masuk paling akhir. Dia berdiri di pojok dekat pintu, punggungnya menempel di dinding, papan klip Sheilla dipeluk di dada. Aku berdiri di sebelahnya karena memang hanya di situ tempat yang tersisa.

Pintu tertutup. Lift naik.

Aku memperhatikan Felicia dari sudut mata. Bahunya sedikit naik. Napasnya pendek dan teratur, terlalu teratur, seperti orang yang menghitung tarikan napasnya sendiri. Aku tahu dia tidak suka lift penuh. Aku tidak tahu seberapa tidak suka.

Lift bergerak tiga detik.

Lalu ada bunyi klak yang keras dari atas, seperti sesuatu yang besar dihentikan dengan paksa. Lantai di bawah kaki kami menyentak sedikit. Lampu berkedip dua kali.

Lalu semuanya gelap.


Ada satu detik di mana tidak ada yang bersuara sama sekali.

Lalu sebelas orang bicara bersamaan.

“Lho? Lho?”

“Mati lampu?”

“Liftnya jatuh?! LIFTNYA JATUH?!”

“Jangan dorong-dorong!”

“Siapa yang injak kaki saya?”

“Itu kardus, Pak!”

“Kardusnya injak kaki saya?”

Lampu darurat di sudut langit-langit seharusnya menyala otomatis. Tidak menyala. Aku mencatat dalam kepala untuk memeriksa baterainya nanti, lalu mengeluarkan ponsel dan menyalakan senternya.

Cahaya putih memotong kegelapan. Sebelas wajah menoleh ke arahku sekaligus, seperti tanaman yang menoleh ke matahari.

“Tenang,” kataku. Suaraku keluar lebih datar dari yang kuduga, dan aku bersyukur untuk itu. “Liftnya nggak jatuh. Liftnya berhenti.”

“Kok Mas tahu?” tanya salah satu staf keuangan dengan suara tinggi.

“Kalau jatuh, kita udah ngerasain,” jawabku. “Bunyi tadi itu rem pengaman. Lift ini punya empat lapis pengaman, dan yang barusan kerja itu salah satunya. Dia berhenti karena dia ngerasa ada yang nggak beres. Itu tandanya dia sehat.”

Aku tidak tahu apakah itu menenangkan mereka. Tapi setidaknya mereka berhenti bicara bersamaan.

Aku menekan tombol interkom darurat. Tidak ada bunyi.

Aku menekannya lagi. Tetap diam.

Itu yang mulai membuatku khawatir. Interkom itu seharusnya terhubung langsung ke ruang kontrol gedung, terpisah dari listrik utama.

“Mas Andro,” bisik Mas Bayu di belakangku. “Interkomnya mati, ya?”

“Sebentar.” Aku menyerahkan ponsel yang senternya menyala ke tangan Mas Bayu. “Pegang ini. Arahin ke atas, biar semua orang bisa lihat.”

Mas Bayu mengangkat ponsel itu ke langit-langit seperti obor di upacara bendera. Cahayanya memantul dan menyebar, cukup untuk membuat semua orang bisa saling melihat.

Aku mengambil ponsel kedua dari saku, ponsel kantor, dan menelepon langsung.

“Pak Tarno,” kataku begitu tersambung. “Andro. Lift kanan berhenti di antara tujuh dan delapan. Sebelas orang di dalam. Interkom mati, lampu darurat mati.”

Di ujung sana, Pak Tarno, kepala teknisi gedung yang sudah dua puluh tahun mengurus lift Tower Navara, langsung menjawab dengan logat Jawa yang kental. “Waduh, Mas. Iya, panel saya merah semua ini. Ada lonjakan listrik dari gardu luar barusan, lift kanan kena. Saya ke ruang mesin sekarang.”

“Berapa lama?”

“Sepuluh menit, Mas. Paling lama lima belas. Saya harus lepas rem manual dulu, terus turunin pelan-pelan ke lantai tujuh.”

“Oke. Saya di dalam. Kabari saya tiap tiga menit.”

“Siap, Mas.”

Aku menutup telepon dan menoleh ke sepuluh wajah yang sekarang menatapku dalam cahaya senter.

“Teknisinya lagi ke ruang mesin,” kataku. “Sepuluh sampai lima belas menit. Nanti liftnya diturunin pelan-pelan ke lantai tujuh, terus pintunya dibuka manual dari luar. Kita aman. Udaranya juga aman. Lift ini punya celah ventilasi di atas dan bawah, jadi kita nggak akan kehabisan udara meskipun di sini sampai besok.”

“Sampai besok?” pekik Sheilla.

“Nggak sampai besok, Shei. Itu cuma perumpamaan.”

“Mas, perumpamaannya jangan serem-serem!”

Beberapa orang tertawa gugup. Itu bagus. Orang yang tertawa jarang panik.

Lalu aku menoleh ke pojok, dan aku berhenti tertawa.


Felicia masih berdiri di pojok yang sama, punggungnya menempel di dinding. Tapi sekarang tangannya mencengkeram papan klip Sheilla begitu keras sampai jarinya memucat di bawah cahaya senter. Matanya terbuka, menatap lurus ke depan, ke dinding lift yang hanya tiga puluh senti dari wajahnya. Dadanya naik turun dengan cepat dan dangkal.

Dia tidak bersuara sama sekali. Tidak ada yang memperhatikannya. Sheilla sibuk mengeluh soal kardus, Eve sibuk menenangkan kurir yang mulai berkeringat, dan Mas Bayu sibuk menjadi tiang lampu.

Felicia sedang tenggelam pelan-pelan di pojok lift, dan dia melakukannya dengan sangat sopan, supaya tidak ada yang perlu repot.

Aku bergeser. Tidak banyak, karena tidak ada ruang. Hanya cukup sehingga bahuku berdiri di antara dia dan sisa isi lift, menghalangi keramaian dari pandangannya.

“Felicia,” kataku pelan, cukup pelan supaya hanya dia yang dengar.

Dia tidak menoleh. “Aku nggak apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma nggak suka lift penuh.”

“Aku tahu.”

“Berhenti bilang kamu tahu.”

“Oke.”

Napasnya masih pendek. Aku menatap ke depan juga, ke dinding yang sama, supaya dia tidak merasa sedang diamati.

“Lihat ke atas,” kataku. “Ke cahaya senter.”

“Kenapa?”

“Karena langit-langitnya kosong. Nggak ada orang di sana.”

Dia diam sebentar. Lalu, pelan-pelan, dia mengangkat dagunya. Matanya menatap lingkaran cahaya putih di langit-langit, tempat bayangan sebelas kepala tidak sampai.

“Tarik napas empat hitungan,” kataku. “Tahan sebentar. Buang enam.”

“Kamu dapat itu dari mana?”

“Dari YouTube. Jam dua pagi. Waktu server Singapura mati dan aku hampir pingsan.”

Ada bunyi kecil dari tenggorokannya. Bukan tawa, tapi dekat. Dia menarik napas. Empat hitungan. Menahan. Membuang, enam.

Lalu sekali lagi.

Ponsel kantorku bergetar. Pak Tarno: Sudah di ruang mesin. Mulai lepas rem.

“Tiga menit lagi kita turun,” kataku ke seisi lift.

“Tiga menit itu lama,” keluh Sheilla dari tengah. “Aku pegal. Kardusnya berat.”

“Taruh di lantai, Shei,” kata Eve.

“Lantainya penuh kaki!”

Lalu, sebelum ada yang sempat menjawab, ponsel di tangan Mas Bayu berbunyi. Notifikasi baterai. 10%. Mode hemat daya diaktifkan.

Dan senternya mati.


Kegelapan kembali, kali ini lebih pekat, karena mata kami sudah terbiasa dengan cahaya.

Sheilla menjerit kecil. Seseorang tertawa dengan nada terlalu tinggi. Seseorang lain berkata, “Tenang, tenang,” dengan suara yang jelas tidak tenang.

Di sebelahku, aku mendengar napas Felicia tersendat.

Aku tidak berpikir. Kalau aku berpikir, aku tidak akan melakukannya. Aku akan menghitung jarak dan risiko dan semua aturan yang kubuat sendiri. Tapi di dalam kegelapan itu, dengan sebelas orang dan tiga kardus dan bunyi napas yang tersendat di sebelahku, aku tidak menghitung apa-apa.

Aku mengulurkan tangan kiriku ke samping, pelan, sampai jariku menyentuh punggung tangannya.

Dingin. Tangannya dingin sekali.

Dia tidak menarik tangannya. Dia juga tidak menyambut. Untuk sesaat dia hanya diam, dan aku bersiap untuk menarik diri.

Lalu jari-jarinya bergerak. Pelan sekali. Melepaskan papan klip yang jatuh ke lantai dengan bunyi kecil, lalu berbalik dan mencari tanganku dalam gelap.

Dan menggenggamnya.

Erat. Seperti orang yang berpegangan pada pagar di tepi kapal.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bicara. Aku hanya membalas genggaman itu, sekali, cukup untuk bilang aku di sini, lalu membiarkannya.

“Empat hitungan,” bisikku.

Dia menarik napas. Aku bisa merasakannya lewat tangannya.

“Tahan.”

Genggamannya mengerat.

“Enam.”

Napasnya keluar panjang, gemetar di ujung, tapi keluar.

Di sekitar kami, sembilan orang lain sedang ribut soal senter. Mas Bayu minta maaf berkali-kali. Staf keuangan mencoba menyalakan ponselnya sendiri tapi lupa password karena gugup. Sheilla, di tengah lift, berkata dengan suara gemetar, “Siapa pun ini, makasih ya udah pegang tanganku. Aku jadi tenang.”

Aku membeku.

Tangan kiriku sedang menggenggam tangan Felicia. Tangan kananku sedang memegang ponsel kantor. Aku tidak memegang tangan Sheilla.

“Sama-sama, Mbak,” jawab Mas Bayu dengan suara serak, dari arah tengah.

Kegelapan menjadi sangat sunyi selama dua detik.

Lalu Felicia, di sebelahku, mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar darinya. Suara kecil, tertahan, dan gemetar dengan cara yang berbeda. Butuh waktu sebentar bagiku untuk menyadarinya.

Dia sedang menahan tawa.


Lift bergerak dua menit kemudian.

Getaran halus, lalu perasaan turun yang sangat pelan, seperti diturunkan dengan tangan. Seseorang bertepuk tangan. Ponsel kantorku bergetar: Turun, Mas. 30 detik.

Felicia melepaskan tanganku tiga detik sebelum lampu menyala.

Dia melakukannya dengan sangat tepat. Tentu saja. Dia selalu menghitung jarak.

Lampu utama berkedip, lalu menyala penuh. Sebelas orang menyipitkan mata. Di tengah lift, Sheilla berdiri dengan wajah lega, dan tangannya masih menggenggam tangan Mas Bayu, yang wajahnya semerah kardus suvenir bergambar logo Navara.

Sheilla menunduk. Menatap tangan itu. Menatap Mas Bayu.

Lalu menatapku.

“Lho,” katanya. “Kok Mas Bayu?”

“Saya juga kaget, Mbak,” kata Mas Bayu dengan jujur.

Pintu lift dibuka dari luar dengan tuas manual. Pak Tarno muncul dengan helm kuning dan wajah penuh keringat, lantai tujuh tepat di depan kami, hanya sedikit lebih tinggi dari lantai lift.

“Monggo, monggo. Pelan-pelan. Hati-hati langkahnya.”

Kami keluar satu per satu. Kurir dengan trolinya. Staf keuangan. Mas Bayu, yang masih memegang tangannya sendiri seperti benda pusaka. Sheilla dan kardusnya, Eve dan kardusnya, Eve sempat menoleh padaku dan berkata dengan mata lembut, “Makasih, Andro. Kamu tenang banget tadi.”

Felicia keluar paling akhir. Dia memungut papan klip Sheilla dari lantai lift. Dia melangkah ke koridor lantai tujuh, dan dia tidak menatapku.

Tapi saat dia lewat di sebelahku, sangat pelan, nyaris tidak terdengar di tengah keributan orang-orang yang berterima kasih pada Pak Tarno, dia berkata:

“Makasih.”

“Buat apa?”

Dia berhenti. Hanya sedetik. Lalu dia menoleh, dan matanya bertemu mataku, dan di bawah lampu koridor yang terang itu aku melihat pipinya masih sedikit merah. Bekas napas yang kehabisan, atau bekas tawa yang ditahan, atau sesuatu yang lain.

“Kamu tahu buat apa,” katanya.

Lalu dia berjalan menuju tangga darurat.


Sore itu, setelah memeriksa ruang mesin bersama Pak Tarno dan menulis laporan tiga halaman tentang lonjakan listrik, baterai lampu darurat yang kedaluwarsa, dan modul interkom yang ternyata belum diganti sejak 2019, aku kembali ke mejaku di lantai dua.

Dodi memutar kursinya ke arahku dengan ponsel di tangan.

“Bang. Bu Ratna udah update.”

Selamat sore, Bapak/Ibu. Info: siang tadi lift kanan sempat terhenti. Alhamdulillah semua selamat berkat kesigapan Mas Andro dari IT 🦸‍♂️ Kabarnya, di dalam lift yang gelap, terjadi PEGANGAN TANGAN antara Mbak Sheilla dan seseorang. Polling dibuka kembali. Terima kasih.

“Seseorangnya itu Mas Bayu,” kataku.

“Saya tahu, Bang. Seluruh gedung tahu. Mas Bayu udah cerita ke dua puluh orang.” Dodi menyipitkan mata. “Tapi yang saya mau tahu, tangan kiri Abang tadi ke mana?”

Aku tidak menjawab.

Aku menatap telapak tangan kiriku di atas meja. Tidak ada yang berbeda. Masih tangan yang sama yang menyambung kabel dan mengetik perintah dan mengangkat server. Tapi kalau aku diam cukup lama, aku masih bisa merasakannya. Jari-jari yang dingin. Genggaman yang erat, seperti orang berpegangan pada pagar kapal. Dan tiga detik terakhir sebelum lampu menyala, ketika genggaman itu tidak lagi erat karena takut, tapi karena sesuatu yang lain.

Dodi menatapku. Lalu menatap tanganku. Lalu menatapku lagi.

“Bang,” katanya pelan, dengan nada hormat yang belum pernah kudengar darinya. “Abang senyum ke telapak tangan.”

“Kerja, Dod.”

“Itu gejala stadium dua, Bang.”

Aku memutar kursiku menghadap monitor dan membuka laporan Pak Tarno. Aku tidak membaca satu kata pun selama sepuluh menit pertama.

Pukul lima lewat delapan, aku berdiri dan mengambil jaket.

Pukul lima lewat sembilan, di bordes antara lantai sembilan dan delapan, Felicia keluar dari pintu tangga darurat dan menemukan aku sudah menunggu.

Dia tidak bilang apa-apa. Aku juga tidak.

Kami turun bersama. Delapan lantai. Dua ratus empat puluh detik.

Di lantai lima, tangannya tidak sengaja menyentuh tanganku saat dia meraih pegangan tangga. Dia tidak menariknya dengan cepat. Hanya pelan, seperti orang yang memindahkan barang yang tidak ingin dijatuhkan.

Itu bukan apa-apa. Aku tahu itu bukan apa-apa.

Tapi aku mencatatnya.