← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Six

Jalur Tangga Darurat

POV: Andro

“Bang, Abang tahu nggak, sekarang Abang naik tangga rata-rata empat puluh dua lantai sehari?”

Aku tidak menoleh dari layar. “Kamu ngitung?”

“Saya pasang aplikasi langkah kaki di HP Abang waktu Abang ke toilet.” Dodi memutar ponselnya ke arahku dengan bangga. Grafik batang. Garis merah yang naik terus sejak Senin. “Senin dua puluh lantai. Selasa tiga puluh satu. Rabu empat puluh dua. Kalau terus begini, Jumat Abang bisa daftar maraton Jakarta.”

“Kamu masang aplikasi di HP-ku tanpa izin.”

“Saya junior IT, Bang. Ini namanya uji penetrasi.” Dodi menggeser kursinya mendekat. “Jadi, gimana? Udah ada kemajuan?”

Aku berhenti mengetik.

Kemajuan. Aku tidak tahu apa yang bisa disebut kemajuan. Selama empat hari terakhir, aku turun lewat tangga darurat timur setiap sore pukul lima lewat delapan. Setiap sore, Felicia keluar dari pintu lantai sembilan. Setiap sore, dia menatapku sebentar, lalu melanjutkan langkah. Setiap sore, aku turun bersamanya, satu anak tangga di belakang.

Delapan lantai. Kira-kira empat menit. Dua ratus empat puluh detik.

Di hari pertama setelah dia menawarkan jembatan, dia tidak bicara sama sekali. Dua ratus empat puluh detik dalam diam. Aku tidak memaksa. Kami hanya turun, dan bunyi langkah kami bergema di dinding abu-abu, dan di basement dia berbelok ke arah mobilnya tanpa menoleh.

Hari kedua, di lantai lima, dia bertanya: “Kamu ngikutin aku?”

Aku menjawab dengan jujur. “Aku olahraga. Kebetulan olahraganya ke arah kamu.”

Dia mendengus. Itu bukan tawa, tapi itu juga bukan diam. Aku mencatatnya.

Hari ketiga, di lantai empat, dia bilang: “Aku nggak suka cowok yang kebanyakan senyum.”

“Oke,” kataku. “Ke kamu aku kurangin. Sisanya aku tabung.”

Dia menoleh. Dia menatapku seperti sedang membaca pasal yang ditulis dengan bahasa asing. Lalu dia turun lagi, dan aku melihat ujung telinganya sedikit lebih merah dari biasanya. Mungkin karena lampu. Lampu tangga darurat memang jujur, tapi kadang-kadang dia juga baik hati.

“Ada kemajuan,” kataku pada Dodi. “Sedikit.”

“Seberapa sedikit?”

“Kemarin dia ngomong sebelas kata.”

Dodi menatapku dengan iba. “Bang. Sebelas kata itu kemajuan buat bayi.”

“Hari Senin nol kata.”

Dodi diam sebentar, menghitung di kepalanya. Lalu dia mengangguk dengan serius. “Oke. Itu naik tak hingga persen. Saya revisi. Itu kemajuan luar biasa.”


Masalahnya, kemajuan itu tidak hanya terjadi di tangga darurat.

Pagi itu, sesuai yang kukatakan pada Felicia, aku membeli tiga minuman lagi. Caramel macchiato untuk Sheilla. Cokelat panas gula setengah. Dan, untuk Eve, teh melati hangat tanpa gula.

Aku mengantarkannya ke rooftop pukul satu lewat dua puluh, lima menit setelah Felicia biasanya datang. Aku meletakkan nampan, mengangguk ke mereka bertiga, dan bersiap pergi.

Eve mengambil gelasnya. Dia membaca tulisan di sisinya. Teh melati.

Dia menatapku. Matanya yang besar itu membulat sedikit, lalu jadi lembut, dan aku tiba-tiba sadar telah membuat kesalahan perhitungan.

“Kamu tahu aku suka teh melati?” tanyanya pelan.

Aku membuka mulut. Aku tidak bisa bilang Felicia yang kasih tahu. Itu akan membuka sesuatu yang belum Felicia putuskan untuk dibuka. Tapi aku juga tidak bisa bohong. Itu aturan nomor dua.

“Aku nanya,” kataku akhirnya. Itu benar. Secara teknis aku tidak nanya, Felicia yang menawarkan. Tapi maknanya mirip, dan Eve tidak bertanya lebih jauh.

“Nanya ke siapa?” kata Sheilla, tajam seperti detektif.

“Ke orang yang tahu.”

Sheilla menyipitkan mata. Eve menunduk, pipinya merah, dan menyesap tehnya dengan dua tangan seolah-olah gelas itu sesuatu yang rapuh.

Di seberang meja, Felicia menatap gelas cokelatnya dan tidak mengangkat kepala sama sekali. Tapi aku melihat bibirnya menekan, menahan sesuatu. Entah tawa, entah kesal.

Aku pergi sebelum Sheilla sempat bertanya lebih jauh.

Di tangga, ponselku bergetar.

Eve: Makasih tehnya, Andro. Kamu baik banget. Aku jadi nggak enak, belum sempat traktir kopi 🙈

Dodi, yang entah bagaimana sudah berdiri di sebelahku di bordes lantai sepuluh, membaca pesan itu dari samping.

“Bang,” katanya dengan suara orang yang menyaksikan kecelakaan lambat. “Itu emoji monyet tutup mata.”

“Terus?”

“Itu level tiga, Bang.”

“Kamu bilang level tiga itu sesuatu yang kita nggak mau sampai.”

“Iya, Bang.” Dodi menepuk bahuku dengan prihatin. “Kita udah sampai.”


Aku membalas pesan Eve dengan hati-hati.

Andro: Nggak usah nggak enak, Eve. Tehnya ucapan selamat buat presentasi kemarin. Kamu yang kerja keras.

Tanpa emoji. Tanpa ajakan. Aku membacanya ulang tiga kali, memastikan tidak ada satu kata pun yang bisa diartikan sebagai pintu yang terbuka.

Lalu aku menatap layar dan merasa seperti orang jahat.

Eve tidak salah apa-apa. Eve orang baik. Itu yang Felicia katakan, dan aku sudah tahu itu jauh sebelum Felicia mengatakannya. Eve adalah orang yang menahan lift untuk OB yang membawa ember. Eve yang mengirim pesan ke seluruh lantai sepuluh saat salah satu staf kehilangan ayahnya, mengumpulkan sumbangan, lalu menyetir sendiri ke Bogor untuk mengantarkannya. Eve yang, tahun lalu, merasa sangat bersalah karena lupa ulang tahun sahabatnya sampai menulis komentar permintaan maaf yang panjangnya hampir satu paragraf.

Dan Eve sedang tersipu karena aku. Karena hal-hal kecil yang kulakukan, dan yang kulakukan bukan untuknya.

Aku menutup ponsel. Ini tidak masuk dalam rencanaku. Dalam rencanaku, aku hanya perlu jujur pada Felicia. Aku tidak memperhitungkan bahwa kejujuran pada satu orang bisa terlihat seperti sesuatu yang lain di mata orang yang lain.

Mas Yudha lewat di belakang kursiku dengan cangkir kopi. Dia berhenti, melihat layar ponselku yang masih menyala dengan nama Eve di atasnya, lalu menatapku.

“Hati-hati,” katanya.

Dua kata. Lalu dia pergi.

Satu jam kemudian, ramalan Dodi terbukti.

Sheilla muncul di pintu ruang IT dengan remote layar LED di tangan, yang sebenarnya bisa dia titipkan ke resepsionis. Dia mengenakan blus pink, rambutnya dikuncir dua, dan di gedung yang penuh kemeja abu-abu dan blazer hitam, dia kelihatan seperti permen yang nyasar ke ruang rapat direksi.

“Mas Andro! Mau balikin remote.”

“Taruh aja di meja, Shei. Makasih.”

Dia meletakkan remote itu. Dia tidak pergi. Dia malah menarik kursi kosong di sebelah Dodi, duduk, dan menatapku dengan dagu di atas kedua kepalan tangan.

“Mas Andro, aku mau nanya. Boleh?”

Dodi menyikutku dari samping dengan sangat tidak halus.

“Boleh.”

“Kenapa Mas Andro jutek ke Eve?”

Aku berkedip. “Jutek?”

“Eve nunjukin balasan chat Mas Andro ke aku. Nggak ada emojinya. Sama sekali.” Sheilla mengangkat satu jari, seperti jaksa di persidangan. “Mas Andro, di zaman sekarang, chat tanpa emoji itu sama aja kayak surat pemecatan.”

“Aku memang jarang pakai emoji.”

“Ke aku kemarin Mas Andro juga nggak pakai. Aku kira itu khusus buat aku.” Dia mengerutkan kening, sedang berpikir keras. “Berarti Mas Andro jutek ke semua orang?”

“Aku nggak jutek, Shei. Aku cuma… hemat emoji.”

Sheilla menatapku lama sekali. Lalu dia menoleh ke Dodi. “Dod, Mas Andro pernah pakai emoji nggak?”

“Pernah, Mbak,” kata Dodi dengan wajah serius. “Sekali. Tahun lalu. Jempol. Ke Mas Yudha. Waktu server Singapura nyala lagi.”

“Satu jempol setahun?”

“Itu juga katanya kepencet.”

Sheilla mengangguk pelan, seperti dokter yang baru mendapat diagnosis langka. Lalu dia berdiri, merapikan roknya, dan menepuk bahuku dengan iba.

“Oke, Mas. Aku ngerti sekarang. Mas Andro itu bukan jutek. Mas Andro itu… langka.” Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh. “Tapi besok-besok kalau balas Eve, kasih satu emoji, ya. Satu aja. Kasihan dia.”

Lalu dia pergi, meninggalkan wangi stroberi dan seorang junior IT yang berusaha keras tidak tertawa.

“Bang,” kata Dodi setelah pintu tertutup. “Itu tadi Mbak Sheilla barusan ngebela Mbak Eve. Padahal dia sendiri juga lagi ngincer Abang.”

Aku mengangguk. Itu yang membuatku diam cukup lama.

Mereka bersaing. Tapi mereka tetap sahabat. Dan Felicia ada di tengah-tengah mereka, memegang sesuatu yang belum bisa dia bagi.


Sore itu pukul lima lewat delapan, Felicia keluar dari pintu lantai sembilan. Aku sudah menunggu di bordes antara lantai sembilan dan delapan.

Dia berhenti dua anak tangga di atasku.

“Teh melati,” katanya.

“Kamu yang kasih tahu.”

“Aku kasih tahu biar kamu pakai buat deketin dia.”

“Aku pakai biar dia nggak minum matcha lagi.”

Felicia menatapku dengan mata yang menyipit. Aku sudah empat tahun mengamatinya, dan aku mulai bisa membedakan jenis-jenis tatapan itu. Ada tatapan kamu bodoh. Ada tatapan aku sedang membaca. Dan ada tatapan ini, yang jarang sekali kulihat, yang artinya kira-kira aku tidak mengerti kamu dan itu menggangguku.

“Sekarang dia makin yakin kamu suka dia,” katanya.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu lakuin?”

Aku menimbang jawabannya. Aku bisa memberi alasan teknis. Aku bisa bilang aku tidak tega melihat orang minum sesuatu yang tidak disukainya. Itu benar, tapi bukan semuanya.

“Karena dia sahabatmu,” kataku. “Dan aku nggak mau jadi orang yang baik ke kamu dengan cara nggak peduli sama orang-orang yang kamu sayang.”

Felicia tidak menjawab. Dia turun melewatiku. Bahunya hampir menyentuh lenganku, tapi tidak. Dia selalu menghitung jarak dengan sangat tepat.

Aku turun di belakangnya.

Di lantai tujuh, dia bicara tanpa menoleh.

“Eve nanya ke aku tadi. Kamu nanya ke siapa soal teh melati.”

Aku berhenti sebentar. “Kamu jawab apa?”

“Aku bilang mungkin barista.”

“Kamu bohong ke sahabatmu.”

“Aku nggak bohong. Aku bilang mungkin.” Dia melanjutkan langkah. “Orang legal nggak pernah bohong. Kami cuma memilih kata kerja dengan hati-hati.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Suaranya memantul di dinding tangga darurat, terlalu keras untuk tempat sesepi ini.

Felicia menoleh. Untuk sedetik, cuma sedetik, ada sesuatu di wajahnya yang hampir seperti senyum. Lalu hilang.

“Jangan ketawa,” katanya. “Nanti satpam naik.”

“Pak Udin nggak pernah naik tangga. Lututnya sakit.”

“Kamu tahu lututnya Pak Udin sakit?”

“Aku tahu banyak hal yang nggak penting.”

“Kayak jam makan siangku.”

“Itu penting.”

Felicia berhenti di bordes lantai enam. Dia menatap dinding abu-abu di depannya, bukan aku. Lalu dia bicara dengan suara yang lebih pelan.

“Andro. Apa yang kamu harapkan dari ini?”

Aku berhenti juga. Satu anak tangga di atasnya, sehingga mata kami sejajar lagi.

“Hari ini?” tanyaku.

“Hari ini.”

Aku memikirkannya dengan jujur. “Hari ini aku cuma berharap kamu nanya sesuatu ke aku. Apa aja. Dan kamu barusan nanya.”

Felicia menatapku. Lama sekali. Aku bisa melihat bulu matanya, panjang dan lurus, dan satu helai rambut yang lepas dari ikatan rendah di tengkuknya. Aku bisa melihat ada sedikit tinta biru di ujung jari tengahnya, dari pulpen yang dia pakai untuk mencoret kontrak. Hal-hal kecil yang tidak akan dilihat siapa pun dari jarak lebih dari dua meter.

“Kamu aneh,” katanya akhirnya.

“Kata Sheilla, kamu juga aneh. Aneh yang lucu.”

“Sheilla bilang begitu ke kamu?”

“Sheilla bilang begitu ke semua orang. Di grup Navara Ceria. Tahun lalu.”

Felicia memejamkan mata sebentar, seperti orang yang sedang menghitung sampai sepuluh. Lalu dia turun lagi.

Kami sampai di basement. Seperti biasa, dia berbelok ke arah mobilnya. Seperti biasa, aku berbelok ke arah pintu samping menuju halte.

Lalu dia berhenti.

“Besok,” katanya tanpa menoleh, “aku naik lift.”

Aku mengerti maksudnya. Itu batas. Itu caranya bilang, jangan berharap terlalu banyak, ini bukan rutinitas.

“Oke,” kataku.

Dia tidak menjawab. Dia masuk ke mobilnya, dan aku mendengar mesin menyala, dan aku berdiri di basement yang pengap itu sampai mobilnya hilang di belokan keluar.


“Jadi besok Abang nggak naik tangga?” tanya Dodi keesokan paginya, kecewa. “Grafik saya jadi turun, Bang.”

“Dia bilang dia naik lift.”

“Terus Abang mau ngapain?”

“Kerja.”

“Kerja? Di jam lima lewat delapan? Abang nggak pernah kerja di jam lima lewat delapan. Lima hari terakhir, jam lima lewat delapan itu jam ibadah Abang.”

Aku tidak menjawab. Tapi pukul lima lewat lima, aku menemukan diriku berdiri dan mengambil jaket. Aku tidak berniat naik tangga. Aku hanya berniat pulang lewat pintu samping, seperti biasa sebelum minggu ini.

Pintu samping itu terletak di sebelah pintu tangga darurat timur. Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya kebetulan melirik ke pintu tangga yang sedikit terbuka.

Dan mendengar langkah kaki turun dari atas. Ringan. Teratur. Satu lantai per empat puluh detik.

Aku berdiri di sana, tangan di gagang pintu samping, mendengarkan langkah itu turun dari lantai sembilan sampai lantai dua. Lalu pintu tangga basement berbunyi.

Dia tidak naik lift.

Aku tidak naik untuk menemuinya. Dia tidak tahu aku mendengarnya. Aku hanya berdiri di sana, di koridor lantai dua yang dingin, dan tersenyum sendirian seperti orang yang baru menemukan bug yang sudah dicarinya berbulan-bulan, lalu menyadari bahwa itu bukan bug.

Itu fitur.

Dodi muncul di ujung koridor dengan bungkus kacang di tangan.

“Bang. Kenapa senyum ke pintu?”

“Nggak apa-apa.”

“Abang senyum ke pintu tangga darurat, Bang. Itu bukan nggak apa-apa. Itu gejala.”

Aku menepuk bahunya dan berjalan keluar lewat pintu samping. Di pos satpam, Pak Udin melambai.

“Pulang, Mas Andro? Tumben jam segini.”

“Iya, Pak.”

“Tadi Mbak Felicia juga baru lewat,” kata Pak Udin santai, tanpa ditanya. “Dari tangga darurat. Katanya lift-nya penuh.”

Aku menoleh ke lift. Pintu lift kanan terbuka, dan di dalamnya hanya ada satu orang: Bu Sumi dan ember pelnya.

“Lift-nya penuh, ya, Pak?” tanyaku.

Pak Udin melirik lift yang kosong itu, lalu melirikku. Dia sudah bekerja di pos itu selama dua belas tahun. Dia sudah melihat banyak hal.

“Penuh, Mas,” katanya dengan wajah datar. “Penuh sekali.”