Chapter Eleven
Minggu Milik Sheilla
POV: Felicia
Ada hukum tidak tertulis di persahabatan kami: kalau Sheilla sudah memakai kata “please” dengan tiga suku kata di grup chat, kamu tidak bisa menolak.
Sheilla: guys besok minggu ada Navara Family Day di Navara Residence Bekasi Sheilla: aku PIC nya 😭 aku butuh kalian Sheilla: pleeease Sheilla: ada bazar, ada lomba anak2, ada doorprize kulkas Eve: Aku datang, Shei 🤍 Sheilla: FEL Sheilla: FELICIA Sheilla: aku tau kamu baca Sheilla: kalau kamu dateng aku traktir es kelapa seumur hidup Felicia: Seumur hidup siapa? Sheilla: seumur hidup es kelapanya Felicia: Oke.
Jadi hari Minggu pukul delapan pagi, aku berdiri di lapangan rumput di depan gedung pemasaran Navara Residence, memakai kaus putih, celana jeans, dan sepatu kets. Matahari sudah tinggi dan tidak punya belas kasihan. Di sekelilingku, puluhan tenda bazar berdiri dalam dua barisan, ada panggung kecil dengan spanduk biru, dan anak-anak karyawan berlarian membawa balon.
Sheilla berlari ke arah kami dengan papan klip, topi pet bertuliskan PANITIA, dan walkie-talkie yang dia pegang seperti senjata.
“Kalian datang! Ya ampun, kalian penyelamat!” Dia memeluk Eve, lalu memelukku, yang tidak suka dipeluk di tempat umum tapi sudah terlalu terbiasa untuk protes. “Oke, briefing singkat. Eve, kamu jaga meja registrasi, soalnya kamu yang paling ramah. Fel, kamu jaga meja doorprize, soalnya kamu yang paling susah disogok.”
“Siapa yang mau nyogok buat doorprize?”
“Bapak-bapak divisi keuangan. Tahun lalu ada yang ngajak panitia makan siang biar dapat blender.” Sheilla menepuk bahuku dengan serius. “Kamu benteng terakhir kita, Fel.”
Lalu walkie-talkie-nya berbunyi. Suara Dodi, sedikit terengah. “Mbak Sheilla, ganti. Sound system panggung udah nyala. Ganti.”
“Makasih, Dodi! Ganti!”
“Bang Andro bilang microphone yang kiri jangan dipakai, kabelnya sobek. Ganti.”
“Siap! Ganti!”
Aku menoleh ke Sheilla. “Andro di sini?”
“Iya! Aku minta tolong IT buat bantu sound system sama layar.” Sheilla tersenyum lebar. Senyum yang membuatku waspada. “Dan dia mau. Tanpa aku pakai suara itu. Aku cuma kirim email resmi. Dia langsung bales ‘oke’.” Dia mendekat dan berbisik. “Itu tanda, Fel. Cowok yang mau datang hari Minggu itu cowok yang serius.”
Eve, di sebelahnya, tidak berkata apa-apa. Tapi dia merapikan rambutnya dengan jari, dan aku memperhatikan dia memakai gaun musim panas berwarna kuning gading dengan bunga-bunga kecil, rambut tergerai, dan anting mutiara kecil yang biasanya hanya dia pakai saat kondangan.
Eve terlihat seperti iklan sampo yang syutingnya di padang bunga. Tiga bapak-bapak yang lewat sudah tersandung tali tenda.
Aku menatap kaus putihku sendiri. Lalu menatap tenda doorprize yang menunggu di ujung lapangan.
Itu bukan perbandingan. Aku tidak membandingkan apa pun. Aku hanya mencatat.
Meja doorprize ternyata pekerjaan yang membosankan. Aku duduk di belakang tumpukan kardus berisi kulkas mini, blender, kipas angin, dan tiga puluh paket sembako, mencocokkan kupon dengan daftar nama, dan menolak dua bapak dari divisi keuangan yang menawariku es teh manis “tanpa maksud apa-apa”.
Pukul sepuluh, matahari sudah tepat di atas tenda. Tenda doorprize terbuat dari terpal biru yang tipis, dan cahaya menembusnya seperti lampu sorot. Aku menyipitkan mata ke daftar kupon, dahiku berkeringat, dan aku mulai menyesali es kelapa seumur hidup.
Seseorang meletakkan sesuatu di atas meja.
Topi. Topi pet putih dengan logo Navara Residence di depannya, dari tumpukan suvenir panitia.
Aku mendongak. Andro berdiri di depan meja, memakai kaus hitam polos dan celana kargo, kacamata, dan sarung tangan kain yang setengah kotor karena kabel. Dia kelihatan berbeda tanpa kemeja kantor. Lebih muda. Lebih mirip orang yang mungkin kamu temui di toko buku, bukan di ruang server.
Aku memperhatikan dia sudah beberapa kali menyapa orang sejak pagi. Dia membantu tukang tenda memasang tali. Dia mengangkat kardus air mineral untuk ibu-ibu konsumsi. Dia berbicara dengan dua anak kecil yang penasaran dengan kabel di tangannya, dan menjelaskan dengan serius bahwa kabel itu adalah “urat nadi panggung”.
“Pakai,” katanya, menunjuk topi itu.
“Aku nggak butuh.”
“Kamu nggak suka matahari.”
Aku memicingkan mata. “Kok tahu?”
“Di rooftop, kamu selalu duduk membelakangi jendela. Di rapat lantai sebelas, kamu selalu pilih kursi yang nggak kena cahaya. Dan sekarang kamu nyipit kayak orang yang lagi baca pasal yang ditulis pakai huruf ukuran enam.”
Aku menatap topi itu. Lalu menatapnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh harga diri, aku mengambil topi itu dan memakainya.
Bayangan topi jatuh di atas mataku. Rasanya jauh lebih baik.
“Makasih,” kataku.
“Sama-sama.” Dia tersenyum. Senyum yang kecil itu. Lalu dia pergi lagi ke arah panggung, karena walkie-talkie di pinggangnya berbunyi dan suara Dodi berteriak tentang sesuatu yang berasap.
Aku menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik tenda.
Lalu aku menunduk ke daftar kupon dan menyadari bahwa aku baru saja menulis nama yang sama dua kali.
Kejadiannya pukul sebelas lewat sedikit, saat lomba makan kerupuk sedang ramai-ramainya.
Seorang anak perempuan berdiri sendirian di dekat tenda doorprize. Mungkin empat tahun. Rambutnya dikuncir dua dengan ikat rambut berbentuk stroberi, pipinya merah, dan dia memegang balon kuning yang talinya sudah kusut. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri dan menatap ke kerumunan dengan mata yang sangat bulat, seperti sedang mencari sesuatu yang dia tahu ada di sana tapi tidak bisa dia temukan.
Aku mengenali tatapan itu. Aku sering melihatnya di cermin.
Aku berdiri dari kursiku. Tapi sebelum aku sempat keluar dari balik meja, seseorang sudah berlutut di depan anak itu.
Andro. Satu lutut di atas rumput, sehingga matanya sejajar dengan mata anak itu.
“Halo,” katanya. “Balonnya bagus. Namanya siapa?”
Anak itu menatapnya curiga. “Balonnya nggak punya nama.”
“Oh. Maaf. Maksudku, nama kamu siapa?”
“Nayla.”
“Halo, Nayla. Aku Andro. Nayla datang sama siapa?”
Bibir anak itu mulai bergetar. “Sama Mama. Tapi Mama ilang.”
“Oke.” Andro mengangguk dengan serius, seolah-olah ini masalah teknis yang sangat penting. “Kalau gitu kita cari Mama sama-sama. Tapi aku butuh bantuan Nayla. Mama Nayla pakai baju warna apa?”
“Hijau.”
“Hijau. Bagus. Rambutnya?”
“Panjang. Dikuncir. Sama kayak aku.”
“Pakai ikat rambut stroberi juga?”
Anak itu mengangguk. Matanya mulai berbinar, karena ternyata ada orang dewasa yang bertanya hal-hal yang benar.
Andro mengangkat walkie-talkie. “Dod. Matiin musik panggung sebentar. Kasih aku mic yang kanan. Yang kiri sobek.”
Tiga puluh detik kemudian, musik dangdut yang mengiringi lomba makan kerupuk berhenti tiba-tiba. Semua orang menoleh ke panggung. Dari pengeras suara, terdengar suara Andro, tenang dan jelas.
“Selamat siang, Bapak Ibu. Mohon maaf mengganggu lomba kerupuknya sebentar. Di depan tenda doorprize ada seorang tuan putri bernama Nayla, empat tahun, pakai ikat rambut stroberi dan bawa balon kuning. Dia sedang mencari mamanya, yang pakai baju hijau dan rambutnya dikuncir. Nayla bilang dia nggak takut, tapi dia kangen. Terima kasih.”
Seluruh lapangan tertawa pelan. Tawa yang hangat.
Kurang dari dua menit, seorang perempuan berbaju hijau berlari dari arah tenda kuliner dengan wajah pucat. Ikat rambutnya stroberi. Dia memeluk Nayla sampai balon kuning itu hampir lepas.
Andro sudah berdiri dan mundur dua langkah, memberi mereka ruang. Ibu itu menoleh padanya dan berterima kasih berkali-kali dengan suara bergetar. Andro hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berlutut lagi di depan Nayla.
“Nayla hebat,” katanya. “Nayla nggak nangis sama sekali.”
“Iya,” kata Nayla bangga. Lalu dia menyodorkan balon kuningnya yang talinya kusut ke arah Andro. “Ini buat Om.”
Andro menerima balon itu seperti menerima piala.
Dan aku, dari balik meja doorprize, di bawah topi pet putih yang dia berikan, merasakan sesuatu di dadaku bergeser. Bukan jatuh. Bergeser. Seperti lempeng bumi yang sudah lama tertahan dan akhirnya bergerak satu senti.
Itu cukup untuk menyebabkan gempa kecil.
Pukul satu siang, aku menemukannya lagi di ujung barisan tenda bazar.
Tenda paling ujung. Tenda paling sepi. Seorang nenek dengan kain jarik dan kerudung cokelat duduk di belakang tumpukan serabi yang dimasak di atas tungku tanah liat kecil. Asapnya mengepul. Di sebelahnya ada papan kardus bertuliskan SERABI SOLO, 3RB. Tidak ada pembeli. Orang-orang lewat menuju tenda kopi kekinian dan tenda dimsum di sebelahnya, dan tidak ada yang menoleh.
Andro berjongkok di depan tungku. Dia sedang bicara dengan nenek itu. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi nenek itu tertawa dan menunjuk sesuatu di tungkunya, dan Andro mengangguk dengan serius seperti sedang menerima pelatihan teknis.
Lalu dia mengeluarkan dompetnya.
Aku melihat nenek itu menggeleng. Andro mengangguk. Nenek itu menggeleng lagi. Andro mengatakan sesuatu, dan nenek itu akhirnya berhenti menggeleng dan mulai membungkus serabi ke dalam kotak-kotak kertas.
Banyak kotak. Semua serabi yang tersisa.
“Fel!” Eve muncul di sebelahku, terengah sedikit, gaun kuningnya masih rapi meski sudah empat jam di bawah matahari. Bagaimana Eve melakukan itu, aku tidak pernah mengerti. “Kamu lihat Sheilla? Dia hilang dari meja registrasi.”
“Nggak.”
Eve mengikuti arah pandangku. Dia melihat Andro di depan tenda serabi, sedang membantu nenek itu memasukkan kotak-kotak ke dalam kantong plastik besar.
“Dia beli semua?” bisik Eve.
“Kayaknya.”
Andro berdiri, membawa kantong besar itu, lalu membantu nenek itu memadamkan tungku dan melipat tikar. Nenek itu menepuk lengan Andro dua kali, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Andro tertawa dan menggaruk kepalanya.
Lalu Andro berjalan ke arah tenda panitia, membagikan kotak-kotak serabi ke semua orang yang dilewatinya. Tukang tenda. Ibu-ibu konsumsi. Dodi, yang langsung makan dua sekaligus. Pak satpam di gerbang.
Eve menatapnya dengan mata yang lebar dan lembut.
“Fel,” katanya pelan. “Cowok kayak gini harusnya dilestarikan.”
Aku tidak menjawab.
“Kayak badak bercula satu,” lanjut Eve, setengah bercanda, setengah tidak. “Langka. Dilindungi undang-undang.”
“Undang-undang nggak ngatur soal cowok,” kataku.
“Harusnya ngatur.” Eve tertawa kecil. Lalu tawanya hilang, dan suaranya jadi lebih pelan. “Fel. Aku boleh jujur nggak?”
Jantungku tahu ke mana kalimat ini akan pergi sebelum otakku sempat menghalanginya.
“Aku mau ajak dia makan malam,” kata Eve. “Berdua. Bukan sebagai teman kantor. Aku mau… aku mau coba.”
Aku menatap Andro di kejauhan. Dia sedang memberikan kotak serabi terakhir ke seorang ibu yang menggendong bayi. Topi panitia di kepalanya miring.
“Kamu nggak keberatan, kan?” tanya Eve. “Kamu udah bilang nggak keberatan. Tapi aku mau tanya lagi. Biar yakin.”
Aku membuka mulut. Aku menutupnya lagi.
Lalu aku mengatakan satu-satunya hal yang bisa kukatakan tanpa berbohong dan tanpa menghancurkan apa pun.
“Itu keputusanmu, Eve. Bukan aku.”
Eve tersenyum dan meremas tanganku. “Makasih, Fel.”
Dia pergi mencari Sheilla. Aku berdiri di tempat yang sama, di bawah topi putih, di antara tenda kopi kekinian dan tenda dimsum, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Bukan bersalah. Itu sudah kukenal.
Ini lain. Ini panas, dan kecil, dan menggigit, seperti cabai rawit yang tidak sengaja tertelan utuh.
Pengundian doorprize dimulai pukul setengah dua, dan Sheilla memimpinnya dari panggung seperti pembawa acara kuis televisi.
“Hadiah berikutnyaaa…” Dia mengguncang toples kupon dengan dramatis. “Blender! Tiga kecepatan! Bisa bikin jus, bisa bikin sambal, bisa bikin hati yang hancur jadi smoothie!”
Penonton tertawa. Bapak-bapak divisi keuangan berdiri tegak dengan kupon di tangan, seperti atlet menunggu tembakan start.
Sheilla mengambil satu kupon dan membacanya. Lalu membacanya lagi. Lalu menatap ke arah panggung belakang.
“Pemenangnya… Dodi Saputra dari IT!”
Dari belakang panggung, terdengar suara seseorang tersedak serabi.
Dodi naik ke panggung dengan pipi masih menggembung, menerima kardus blender dari Sheilla, dan membungkuk ke penonton seperti juara olimpiade. Bapak-bapak divisi keuangan duduk kembali dengan wajah orang yang baru kehilangan saham.
“Dod, kamu kan panitia,” protes seseorang dari barisan depan.
“Saya relawan, Pak,” jawab Dodi lewat mikrofon, dengan wajah polos. “Relawan juga manusia.”
Seluruh lapangan tertawa lagi. Bahkan aku. Sedikit. Di bawah topi.
Dan dari sudut mataku, di samping panggung, dengan balon kuning Nayla masih terikat di sabuk celananya, aku melihat Andro menoleh ke arah tenda doorprize.
Ke arahku.
Dia tidak tersenyum. Dia hanya melihat, seperti orang yang memastikan sesuatu masih ada di tempatnya. Lalu dia kembali ke kabelnya.
Aku menunduk ke daftar kupon. Pipiku panas. Itu karena matahari. Hari itu aku menyalahkan matahari untuk banyak hal.
Kotak serabi sampai ke tanganku pukul dua siang, dibawa oleh Andro sendiri ke meja doorprize. Dia meletakkannya di sebelah tumpukan kupon dan pergi tanpa banyak bicara, karena Sheilla sedang memanggilnya lewat walkie-talkie dengan suara panik soal kulkas yang jatuh dari panggung.
Aku membuka kotak itu. Empat serabi. Dua polos, dua dengan taburan cokelat.
Setengah, setengah.
Di dalam tutup kotak, ditulis dengan pulpen biru, dengan huruf kecil yang miring ke kanan:
Kata Mbah Sarmi, serabi paling enak dimakan selagi hangat dan sambil duduk di tempat teduh. Kamu udah punya topi. Tinggal duduk.
Aku menatap tulisan itu lama.
Lalu aku menutup kotaknya, menyelipkannya ke dalam tas, dan memakan serabinya nanti, di mobil, dalam perjalanan pulang, sendirian, setelah mengantar Eve dan Sheilla.
Sudah dingin. Masih enak.
Kotaknya tidak kubuang.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla reading
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur