← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty Three

Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu

POV: Felicia

Aku tidak pernah melihat Andro cemburu sebelumnya.

Aku melihatnya marah sekali, dalam bentuk map lima belas halaman dengan daftar isi. Aku melihatnya takut sekali, di lift yang gelap, dalam bentuk tangan yang lebih dingin dari biasanya. Aku melihatnya kalah sekali, di telepon Kamis malam, dalam bentuk suara serak yang bilang aku nggak bisa.

Tapi cemburu, belum.

Dan ternyata Andro yang cemburu terlihat persis seperti Andro yang tenang. Wajahnya datar. Langkahnya teratur. Tangannya di saku celana.

Kecuali rahangnya.

Rahangnya mengeras seperti orang yang sedang menggigit sesuatu yang tidak mau dia telan. Ototnya terlihat di bawah kulit, di garis yang menghubungkan telinga ke dagu, dan setiap kali dia menelan, otot itu bergerak.

Aku sudah melihatnya dari dalam restoran. Empat puluh menit. Laki-laki di pojok dengan laptop terbuka, mengetik dengan sangat keras, dengan rahang yang makin lama makin kaku. Bima melihatnya juga. Bima, yang ternyata lebih jeli dari yang kukira, sempat berbisik di tengah obrolan tentang novel: Kamu dari tadi ngelirik pojok terus, ya. Ke cowok yang ngetik itu.

Aku tidak menjawab. Bima tersenyum, lalu kembali membahas akhir novel seolah tidak terjadi apa-apa.

Sekarang laki-laki dari pojok itu berdiri di depanku di lantai dua gedung parkir, di bawah lampu yang berkedip, dengan rahang yang sama.

“Aku nggak cemburu,” katanya.

“Rahang kamu bilang lain.”

Dia mengatupkan rahangnya lebih keras. Lalu menyadari bahwa itu hanya membuktikan ucapanku. Lalu mencoba mengendurkannya. Lalu gagal.

Aku hampir tertawa. Aku menahannya. Ini bukan waktunya tertawa. Laki-laki ini sudah duduk empat puluh menit menatapku makan brunch dengan laki-laki lain, untukku, karena aku memintanya menjaga rahasia.

“Kamu duduk di situ empat puluh menit,” kataku.

“Empat puluh tiga.”

“Kamu ngetik apa?”

“Kode.”

“Kode ‘sdfjkl’?”

“Kode yang sangat rahasia.” Dia menatap ke samping, ke tembok parkiran yang dicat garis kuning. “Dia lucu.”

“Iya.”

“Dia baca buku. Yang aku nggak kenal penulisnya.”

“Iya.”

“Dia bisa masak rendang.”

“Kata Sheilla.”

“Dan kamu senyum ke dia.” Suaranya turun. “Senyum yang itu.”

Aku memiringkan kepala. “Senyum yang mana?”

Dia menatapku. Lama. Seperti orang yang tidak yakin apakah dia boleh mengatakan sesuatu.

“Yang pelan,” katanya. “Yang agak lama. Yang biasanya cuma kamu kasih ke aku.”


Aku tidak langsung menjawab.

Aku membuka pintu belakang mobilku dan menunjuk kursi dengan dagu.

“Masuk,” kataku.

Dia menatapku, lalu menatap kursi belakang, lalu menatapku lagi. “Kenapa belakang?”

“Karena kaca belakangku gelap. Kaca depan nggak.”

Dia masuk. Aku masuk setelahnya, dari pintu yang sama, dan menutupnya. Bunyi pintu mobil yang tertutup di gedung parkir yang sepi terdengar sangat keras, lalu semuanya sunyi. Hanya ada bau pengharum mobil rasa vanila yang kubeli di minimarket dan dengung AC gedung parkir dari kejauhan.

Kursi belakang mobilku tidak luas. Lututnya menyentuh sandaran kursi depan. Bahunya menyentuh bahuku.

“Kamu tahu Bima ngomong apa sebelum aku senyum kayak gitu?” tanyaku.

“Nggak.”

“Dia bilang, ‘Kamu dari tadi ngelirik pojok terus, ya. Ke cowok yang ngetik itu.’” Aku menatapnya dari samping. “Terus dia bilang, ‘Kalau aku jadi dia, aku juga bakal duduk di pojok sambil pura-pura ngetik.’”

Andro diam.

“Aku senyum karena itu,” kataku. “Senyum yang pelan, yang agak lama, yang kamu cemburuin. Itu senyum buat kamu, Andro. Aku cuma kebetulan menghadap ke arah yang salah.”

Aku melihat rahangnya mengendur. Pelan. Seperti es yang mencair di bawah matahari pagi.

Lalu dia menutup mata dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

“Aku bodoh,” katanya.

“Iya.”

“Empat puluh tiga menit aku ngetik ‘sdfjkl’.”

“Aku lihat. Satu halaman penuh.”

“Kopiku dingin.”

“Kamu nggak minum sama sekali.”

Dia membuka mata dan menatap langit-langit mobil. “Dodi bakal ketawa sampai tahun depan.”

“Dodi nggak perlu tahu.”

“Dodi selalu tahu.” Lalu dia menoleh padaku. Rahangnya sudah tidak kaku. Tapi matanya masih punya sisa sesuatu. Bukan cemburu lagi. Sesuatu yang lebih gelap dan lebih hangat. “Tapi aku tetap duduk di sana empat puluh tiga menit.”

“Terus?”

“Dua jam, kalau dihitung dari aku sampai di Senopati jam sepuluh lewat sepuluh dan muter-muter nyari restoran.” Dia menatap bibirku. “Dua jam aku pura-pura ngetik. Sekarang aku minta bayaran.”

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Bayar pakai apa?” tanyaku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud.

Tangannya bergerak. Ke pinggangku. Pelan, seperti orang yang memegang sesuatu yang dia tahu milik orang lain dan sedang menunggu izin.

“Semua senyum yang tadi kamu kasih ke dokter itu,” katanya. “Balikin ke aku. Satu-satu.”


Aku membayar.

Bukan dengan senyum. Dengan ciuman. Aku menarik kerah kaus polonya dengan dua tangan dan menciumnya, tidak pelan, tidak ragu, tidak seperti mencelupkan ujung kaki ke kolam. Aku menciumnya seperti orang yang sudah duduk empat puluh tiga menit di seberang ruangan menahan diri untuk tidak menoleh ke pojok setiap tiga puluh detik. Karena itu yang terjadi. Bima benar. Aku melirik pojok terus.

Ciuman itu lama.

Tangannya di pinggangku mengencang. Tangan yang lain naik ke rambutku yang tergerai, jari-jarinya menyusup ke antara helaian rambut di belakang kepalaku, dan aku merasakan dia menarik napas dalam-dalam di tengah ciuman, seperti orang yang baru muncul dari bawah air.

Aku mundur sebentar. Hanya cukup untuk melihat wajahnya. Kacamatanya sedikit miring. Pipinya merah. Napasnya tidak teratur.

Aku menyentuh bibirku sendiri dengan ujung jari.

“Masih kurang,” kataku.

Dia berkedip. “Apa?”

“Belum dengar kamu kehabisan napas.”

Ada satu detik di mana dia hanya menatapku, seolah-olah otaknya sedang menjalankan ulang kalimat itu untuk memastikan dia tidak salah dengar.

Lalu dia melepas kacamatanya sendiri, melipatnya, dan meletakkannya di kursi depan dengan satu gerakan cepat yang sama sekali tidak seperti dirinya.

Dan dia menarikku.

Bukan ke arahnya. Ke pangkuannya. Tangannya di pinggangku, satu gerakan yang kuat tapi tidak kasar, dan tiba-tiba aku tidak lagi duduk di sebelahnya. Aku duduk di pangkuannya, di kursi belakang mobilku sendiri, dengan gaun hijau tua yang sekarang kusut di lutut dan kepala yang hampir menyentuh langit-langit mobil.

Dia mendongak menatapku. Untuk pertama kalinya, aku yang lebih tinggi.

“Kamu yang mulai,” katanya pelan.

“Kamu yang minta bayaran.”

“Ini bayarannya?”

“Ini cicilan pertama.”

Dia tertawa. Pendek dan rendah. Lalu dia menciumku lagi, dari bawah, dengan tangan di punggungku menahanku supaya tidak membentur langit-langit, dan kali ini dia yang memimpin. Kali ini dia tidak menunggu izin. Ciumannya dalam dan lambat dan membuatku lupa di mana aku berada, lupa bahwa ini gedung parkir, lupa bahwa di luar sana ada matahari Sabtu siang dan orang-orang yang berbelanja dan dunia yang tidak tahu bahwa di lantai dua, di pojok paling sepi, di bawah lampu yang berkedip, seorang staf legal sedang duduk di pangkuan seorang staf IT.

Lalu bibirnya turun.

Ke sudut bibirku. Ke rahangku. Ke tempat yang sama di mana aku menciumnya di basement hari Selasa, seolah-olah dia sedang membalas dengan bunga.

Lalu lebih ke bawah. Ke leherku. Tepat di bawah telinga.

Napasku pecah. Benar-benar pecah, seperti gelas yang jatuh. Tanganku mencengkeram bahunya. Dan aku merasakan dia tersenyum di kulit leherku.

“Andro,” kataku. Suaraku bergetar. “Ini parkiran umum.”

Dia tidak mengangkat kepala.

“Kamu yang duduk di sini duluan,” gumamnya di leherku.

Aku tidak bisa membantah itu. Aku orang legal. Aku tahu kapan argumen lawan tidak bisa dipatahkan.


Ketukan di kaca jendela.

Tiga kali. Keras. Disertai sorot senter yang menembus kaca gelap dan menyapu langit-langit mobil.

Kami membeku. Aku masih di pangkuannya. Bibirnya masih di leherku. Tanganku masih mencengkeram bahunya.

“Mas? Mbak?” Suara laki-laki dari luar. Logat Betawi. “Maaf, ganggu. Ini parkirnya udah lewat tiga jam, ya. Tarif progresif. Tambah lima ribu.”

Andro mengangkat kepalanya pelan-pelan dari leherku. Dia menatapku. Aku menatapnya. Mataku pasti selebar matanya.

“Mas? Ada orang, kan? Mobilnya goyang tadi.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Andro menarik napas panjang. Lalu, dengan suara yang luar biasa tenang untuk seseorang yang wajahnya semerah lampu rem, dia berkata ke arah jendela:

“Iya, Pak. Sebentar. Kami lagi… cari dompet.”

“Dompetnya di mana, Mas?”

“Jatuh di bawah kursi, Pak.”

“Oh. Perlu senter?”

“Nggak usah, Pak. Makasih.”

“Oke. Saya tunggu di pos, ya, Mas. Lima ribu.”

Langkah kaki menjauh.

Kami tidak bergerak sampai langkah itu benar-benar hilang. Lalu aku turun dari pangkuannya, pindah ke kursi sebelah, merapikan gaun, merapikan rambut dengan kedua tangan, dan menatap lurus ke depan, ke sandaran kursi pengemudi, dengan wajah yang terasa terbakar.

Di sebelahku, Andro memasang kacamatanya kembali. Dia merapikan kerah kaus polonya, yang sekarang miring ke kiri dan kusut di bagian yang tadi kucengkeram.

Kami diam lima detik.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari perutku, dari tempat yang sama dengan tawa di malam martabak, tapi lebih keras, lebih panjang, dan tidak bisa dihentikan. Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa sampai bahuku bergetar dan mataku basah.

“Cari dompet,” kataku dari balik tangan.

“Itu yang pertama kepikiran.”

“Jatuh di bawah kursi.”

“Aku panik, Fel.”

“Mobilnya goyang tadi, katanya.”

Andro menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dan menutup mata. Lalu dia ikut tertawa, pelan, malu, dengan wajah yang masih merah.

Kami tertawa di kursi belakang mobilku sampai tukang parkir mengetuk kaca lagi untuk mengingatkan soal lima ribu.


Aku mengantarnya ke halte terdekat. Lima ribu sudah dibayar. Tukang parkir menatap kami dengan senyum yang sangat tahu ketika kami lewat di pos.

Di halte, sebelum dia turun, dia menahan pintu sebentar.

“Fel,” katanya. “Bima bilang satu hal lagi ke aku. Di restoran.”

Aku menunggu.

“Dia bilang sepupunya yang nyuruh dia. ‘Bikin Mbak Felicia ketawa dua kali, terus pulang. Kalau ada cowok pakai kacamata yang ngetik di pojok, jangan kaget.’” Andro menatapku. “Sheilla bilang begitu ke dia.”

Aku diam sebentar.

Lalu aku menggeleng pelan.

“Sheilla pasti lihat kamu masuk restoran duluan,” kataku. “Dia kan ngatur semuanya. Dia pasti datang lebih awal buat ngecek, lihat kamu, terus nebak-nebak. Sheilla selalu nebak. Dia juga yakin barista lantai dasar naksir dia. Dia juga yakin Oyen romantis karena bawa ikan asin.” Aku menghela napas. “Kalau Sheilla beneran tahu soal kita, dia nggak bakal nyuruh sepupunya pemanasan. Dia bakal teriak di grup. Pakai huruf kapital. Pakai empat belas emoji.”

Andro menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Wajah yang sama dengan di tangga darurat hari Selasa.

“Oke,” katanya.

“Kamu bilang oke satu kali.”

“Satu kali artinya aku nggak setuju, tapi aku percaya kamu kenal sahabatmu lebih baik dari aku.”

Aku tersenyum. Aku menyentuh pipinya sebentar, cepat, di halte bus di Senopati yang ramai, tempat siapa pun bisa melihat.

“Pulang,” kataku. “Mimpinya hati-hati.”

Dia turun. Aku menyetir pergi. Di kaca spion, aku melihatnya berdiri di halte dengan tangan di pipi, persis seperti di basement hari Selasa.


Grup “Goddess Only 🔒” meledak pukul dua siang.

Sheilla: FEL GIMANA????? Sheilla: GIMANA GIMANA GIMANA Sheilla: bima bilang kamu ketawa dua kali!!! dua kali fel!!! sesuai target!!! Eve: Shei 😂 Sheilla: maksudku sesuai HARAPAN Sheilla: harapan Sheilla: aku ngetik terlalu cepat Eve: Fel, kamu senang nggak? Bima baik, kan?

Aku menatap layar. Sesuai target.

Sheilla mengetik terlalu cepat. Itu memang kebiasaannya. Separuh pesannya di grup selalu berisi koreksi dari pesan sebelumnya.

Felicia: Bima baik. Lucu. Baca buku. Sheilla: TERUS??? LANJUT NGGAK??? Felicia: Nggak. Sheilla: KENAPA 😭😭😭 Felicia: Nggak ada chemistry. Eve: Nggak apa-apa, Fel. Yang penting kamu udah coba 🤍 Sheilla: yaudah deh. bima juga bilang gitu. katanya kamu kayak lagi mikirin orang lain terus Sheilla: tapi itu kata bima ya. bukan kata aku. aku nggak bilang apa2 Eve: Shei, kamu lagi ngetik pas nyetir ya? Berhenti dulu 😅 Sheilla: aku lagi di lampu merah eve!!! Sheilla: oke lampunya ijo. bye!!!

Aku meletakkan ponsel di dasbor.

Kayak lagi mikirin orang lain terus.

Itu kata Bima. Bukan kata Sheilla. Sheilla sendiri yang bilang begitu.

Aku menyalakan radio dan menyetir pulang ke Kemang dengan jendela sedikit terbuka, angin Sabtu siang meniup rambutku yang masih tergerai. Leherku, tepat di bawah telinga kiri, masih terasa hangat.

Di lampu merah, aku melihat ke spion dan menyadari ada bekas merah samar di sana. Kecil. Hampir tidak kelihatan.

Aku menarik rambutku ke kiri dan menutupinya.

Lalu aku tersenyum ke spion seperti orang bodoh sampai mobil di belakangku mengklakson karena lampunya sudah hijau.