← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirty Five

Dua Ujung Foto

POV: Felicia

Kirana menemuiku hari Jumat pukul lima lewat delapan, di tangga darurat timur.

Aku tidak tahu bagaimana dia tahu jamnya. Mungkin Dodi. Mungkin Pak Udin. Mungkin seluruh gedung tahu sekarang bahwa pukul lima lewat delapan adalah waktu ketika Felicia dari Legal turun lewat tangga darurat, dan bahwa selama tiga hari minggu ini tidak ada yang menunggunya di sana.

Dia berdiri di bordes antara lantai sembilan dan delapan. Di tempat Andro biasa berdiri.

“Mbak Felicia,” katanya. “Boleh saya ngomong?”

Aku berhenti dua anak tangga di atasnya. Sama seperti aku dulu berhenti di atas Andro.

Dia tidak memakai sepatu kets putih hari itu. Dia memakai sepatu hitam biasa, dan wajahnya tanpa riasan, dan matanya bengkak seperti mata Eve hari Kamis.

“Saya yang foto,” katanya. “Saya yang sebar. Saya minta maaf.”

Aku menatapnya.

Aku sudah memikirkan apa yang akan kukatakan kalau saat ini datang. Andro memberitahuku semalam, di telepon, dengan suara sangat hati-hati. Dia bilang Kirana akan datang. Dia bilang itu hakku untuk memutuskan apa yang kulakukan.

Aku sudah menyiapkan banyak kalimat. Kalimat yang tajam. Kalimat legal. Kalimat yang akan membuat Kirana menyesal seumur hidup.

Tapi saat aku menatapnya, berdiri di tangga darurat dengan tangan gemetar dan mata bengkak, aku tidak melihat penjahat. Aku melihat perempuan yang cemburu. Yang melakukan sesuatu yang bodoh dan jahat karena cemburu.

Aku tahu rasanya cemburu. Sheilla bilang seperti sambal. Awalnya kamu pikir kamu kuat.

Bedanya, aku menelan sambalku sendirian. Dia melemparkannya ke wajah orang lain.

“Aku belum maafin kamu,” kataku.

Dia menunduk. “Iya, Mbak.”

“Tapi aku dengar permintaan maafmu. Itu dicatat.”

Dia mengangkat kepala. Bingung.

“Aku orang legal,” kataku. “Kami mencatat semuanya. Permintaan maafmu sudah masuk berkas. Kalau suatu hari aku siap maafin, aku tahu di mana nyarinya.”

Dia menatapku lama. Lalu dia mengangguk, pelan, dan bergeser ke samping untuk memberiku jalan.

Persis seperti yang selalu dilakukan Andro.

Aku turun melewatinya. Di bordes lantai tujuh, aku berhenti dan menoleh.

“Kirana.”

“Iya, Mbak?”

“Sepatu kets putihmu bagus. Pakai lagi Senin.”

Aku turun lagi sebelum dia sempat menjawab.


Malam itu aku memasak sayur asem.

Aku tidak bisa memasak. Aku ingin itu dicatat. Selama dua puluh delapan tahun, aku bertahan hidup dengan nasi goreng dari warung di bawah, mi instan, dan roti lapis tanpa mayones dari kafe lantai dasar. Dapurku dipakai untuk membuat cokelat panas dan menyimpan piring bermotif bunga dari pasar loak.

Tapi ibunya Andro mengirimiku resep sayur asem. Bukan lewat Andro. Langsung. Ke nomorku. Hari Rabu, di tengah tiga hari terburuk dalam hidupku, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal dengan foto profil bunga anggrek.

Assalamualaikum, Nak Felicia. Ini Ibunya Andro. Ibu dapat nomor dari HP Andro waktu dia tidur. Maaf. Ibu cuma mau kirim resep sayur asem. Andro suka sayur asem. Kalau Nak Felicia mau masak, ini resepnya. Kalau nggak mau, nggak apa-apa. Ibu cuma kirim. Salam.

Di bawahnya, resep lengkap. Diketik dengan tanda baca yang sangat rapi. Dengan catatan di akhir: Asamnya jangan kebanyakan. Andro nggak suka terlalu asam. Kayak hatinya.

Aku membaca pesan itu di toilet lantai sembilan pada hari Rabu, dan menangis lagi.

Sekarang hari Jumat, pukul tujuh malam, dan sayur asemku terlalu asam.

Bel pintu berbunyi pukul tujuh lewat sepuluh.

Aku membuka pintu. Dia berdiri di sana dengan kantong plastik dari warung di bawah. Dua bungkus nasi goreng. Dua teh botol.

“Cadangan,” katanya, mengangkat kantong itu. “Kalau masakannya gagal.”

“Masakannya nggak gagal.”

Dia mengendus udara. Wajahnya berubah.

“Masakannya agak gagal,” aku mengakui.

Dia tertawa. Tertawa yang lepas, yang dia berikan pada Eve di kedai teh, yang membuatku cemburu sampai naik lift seminggu. Kali ini dia memberikannya padaku. Di ambang pintu apartemenku. Dan aku tidak cemburu sama sekali.


Kami makan sayur asem yang terlalu asam dan nasi goreng dari warung di sofa, dengan piring di pangkuan.

Dia menghabiskan dua mangkuk sayur asem. Wajahnya mengernyit di setiap suapan. Dia tidak berhenti.

“Kamu nggak harus habisin,” kataku.

“Ibu bilang aku nggak suka terlalu asam,” katanya. “Ibu salah. Aku suka terlalu asam. Kalau kamu yang masak.”

“Kamu bohong.”

“Aku nggak pernah bohong ke kamu.”

“Kamu bilang ‘ada kucing’ di Lembang.”

“Ada kucing beneran.” Dia meletakkan mangkuk kosong. “Belang tiga.”

Aku memukul lengannya. Dia menangkap tanganku, dan dia tidak melepaskannya, dan kami duduk di sofa dengan tangan bergandengan dan dua piring kosong di meja, dan televisi yang menyala tanpa suara, dan jaket abu-abu di gantungan dekat pintu.

“Andro,” kataku.

“Hm?”

“Aku mau nunjukin sesuatu.”


Aku mengambil laptop dari meja kerja di sudut ruang tamu. Laptop pribadiku, bukan laptop kantor. Aku duduk kembali di sebelahnya dan membukanya di pangkuanku.

Layar menyala. Desktop dengan wallpaper polos berwarna abu-abu. Deretan folder di sisi kiri, semuanya diberi nama dengan rapi. Kontrak 2023. Kontrak 2024. Pajak. Resep (tidak pernah dipakai).

Dan di pojok kanan bawah, satu folder kecil yang namanya hanya satu kata.

ujung.

Aku menatap folder itu lama. Jariku di atas touchpad tidak bergerak.

“Fel?”

“Aku nggak pernah buka ini di depan siapa pun,” kataku. “Eve nggak tahu. Sheilla nggak tahu. Sheilla tahu semuanya, tapi dia nggak tahu ini.”

Andro diam. Dia menunggu. Seperti di tangga darurat.

Aku membuka folder itu.

Isinya empat file foto dan satu file teks.

HUT_23.jpg. HUT_24.jpg. HUT_25.jpg. HUT_26.jpg. catatan.txt.

Aku membuka foto pertama.

Foto HUT Navara yang ke dua puluh tiga. Empat tahun lalu. Tiga ratus wajah di depan lobby, di bawah spanduk merah. Tapi foto ini bukan versi yang tergantung di dinding rooftop. Ini versi resolusi tinggi, yang dikirim fotografer ke semua karyawan lewat email waktu itu, dan yang hanya dibuka oleh sedikit orang.

Di ujung kiri, aku. Rambut basah. Blazer belum dikancing.

Di ujung kanan, dilingkari dengan lingkaran merah kecil yang digambar di aplikasi edit foto, seorang laki-laki dengan kemeja penuh debu, setengah badan di luar bingkai.

Kepalanya tidak menghadap kamera. Kepalanya menoleh ke kiri.

Aku mendengar Andro menahan napas di sebelahku.

Aku membuka foto kedua. Tahun berikutnya. Aku di ujung kiri. Dia di ujung kanan. Lingkaran merah. Kepalanya menoleh ke kiri.

Foto ketiga. Sama.

Foto keempat. Sama. Lingkaran merah, sedikit lebih tebal dari yang lain, seolah-olah digambar dengan tangan yang lebih yakin.

Lalu aku membuka file teks.

catatan.txt

Isinya pendek. Diketik dengan format yang sangat aku. Tanggal. Poin. Tanpa kata sifat.

HUT 23. Laki-laki di ujung kanan. Keluar dari bawah panggung, baju penuh debu. Habis benerin sound system. Nggak lihat kamera. Lihat ke kiri. Mungkin ke Eve. (Semua orang lihat ke Eve.)

Tiket VPN pertama. Aku tulis “mohon jangan tanya apakah sudah coba restart”. Balasannya: “Saya tidak akan tanya. Sudah saya perbaiki. Semoga harinya lancar. —A.K.A.” Orang IT nggak pernah nulis “semoga harinya lancar”. Aku simpan emailnya.

HUT 24. Ujung kanan lagi. Lihat ke kiri lagi. Eve di tengah. Sudut kepalanya terlalu jauh ke kiri buat Eve. Tapi mungkin aku salah.

Lift. Laki-laki dari divisi lain nanya Sheilla suka bunga apa. Aku jawab matahari. Ada orang di pojok belakang lift bawa kotak kabel. Dia lihat aku waktu aku keluar. Bukan lihat Sheilla. Aku. Tapi mungkin aku salah.

HUT 25. Aku ukur pakai penggaris di layar. Garis dari matanya ke kiri. Melewati Eve. Melewati Sheilla. Berhenti di ujung kiri. Di aku.

Tapi mungkin aku salah. Semua orang selalu ngelihat Eve. Kenapa dia beda?

HUT 26. Aku nggak ukur lagi. Aku nggak perlu ukur. Aku cuma lingkerin.

Aku nggak bakal ngapa-ngapain. Kalau dia beneran ngelihat aku, dia yang harus buktiin. Aku udah terlalu sering salah alamat.

Kalau dia nggak pernah buktiin, ya sudah. Aku tetap di ujung. Ujung itu tempat yang nggak terlalu buruk.


Aku menutup laptop.

Ruang tamu sangat sunyi. Televisi tanpa suara. Kulkas berdengung di dapur. Hujan mulai turun di luar, pelan, mengetuk pintu kaca balkon.

Aku tidak menatapnya. Aku menatap laptop yang tertutup di pangkuanku.

“Kamu bilang ke Eve,” kataku pelan, “kalau aku nggak pernah siap, kamu tetap di ujung. Kamu bilang ujung itu tempat yang nggak terlalu buruk. Eve cerita.”

Dia tidak menjawab.

“Aku nulis kalimat yang sama,” kataku. “Empat tahun lalu. Di file itu.”

Masih tidak ada jawaban.

Aku menoleh.

Andro Kusuma Ardhana, senior IT, jenius kata semua orang, yang bisa membaca ribuan baris log dalam semenit, yang menyalakan genset dengan aki mobil, yang menulis map lima belas halaman dengan daftar isi, duduk di sofa apartemenku dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang tidak berkedip.

Dia tidak bisa bicara.

Aku tidak pernah melihatnya tidak bisa bicara. Bahkan di ruang server, setelah ciuman pertama, dia masih bisa bilang sistemnya lagi booting ulang.

Sekarang dia hanya menatapku. Dan matanya basah.

“Kamu kira,” kataku, dan suaraku pecah di tengah, “cuma kamu yang empat tahun?”


Dia tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia mengambil laptop dari pangkuanku dan meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan server yang paling mahal di dunia. Lalu dia menatapku. Lalu dia menarik napas, dan napasnya bergetar.

“Empat tahun,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Kamu tahu. Empat tahun.”

“Aku nggak tahu. Aku curiga.”

“Kamu lingkerin aku.”

“Pakai merah.”

“Kamu ukur pakai penggaris.”

“Aku orang legal. Kami ukur semuanya.”

Dia tertawa. Tertawa yang pecah dan basah, dan dia menutup wajah dengan kedua tangan, dan bahunya bergetar.

“Aku naik lima lantai,” katanya dari balik tangannya. “Ngos-ngosan. Latihan tujuh kata empat tahun. Aku pikir kamu nggak tahu aku ada.”

“Aku tahu kamu ada.”

“Kamu bilang aku salah orang. Eve di lantai sepuluh.”

“Aku harus tes kamu.” Aku menurunkan tangannya dari wajahnya. Matanya merah. “Semua orang yang pernah deketin aku nanya soal Eve. Atau Sheilla. Aku harus tahu kamu beda. Aku harus tahu garis matamu di foto itu bukan kebetulan.”

“Dua puluh tiga kali kamu nolak.”

“Dua puluh tiga tes.”

“Aku lulus?”

Aku menatapnya. Laki-laki yang tidak pernah meminta apa pun. Yang menutup tiketku pukul dua pagi. Yang membelikan sepatu sekolah untuk anak yang pernah kuberi permen. Yang tetap menaruh cokelat di mejaku saat aku bilang ke lima puluh orang bahwa dia bukan siapa-siapa.

“Kamu lulus dari hari pertama,” kataku. “Aku aja yang terlalu takut buat ngumumin hasilnya.”


Aku pindah ke pangkuannya.

Bukan seperti di mobil, yang tiba-tiba dan terburu-buru. Pelan. Sengaja. Lututku di sofa, di kedua sisi pahanya. Tanganku di bahunya. Rambutku, yang sudah lepas dari ikatannya entah sejak kapan, jatuh ke depan dan menutupi wajah kami berdua seperti tirai.

Dia mendongak menatapku. Kacamatanya berembun karena air mata.

Aku melepasnya. Aku melipatnya. Aku meletakkannya di atas laptop di meja, di atas folder bernama ujung.

“Empat tahun kamu lihat aku,” katanya pelan, “dan diam aja?”

“Aku nunggu kamu berani.”

“Aku berani dua bulan lalu.”

“Dan aku berani tiga hari lalu. Di rooftop. Salah arah.” Aku menyentuh rahangnya. Lemas. Tidak kaku lagi. “Sekarang giliranku nggak diam.”

“Nggak diam gimana?”

Aku mendekat. Sampai bibirku hampir menyentuh bibirnya. Sampai aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur.

“Mau dengar,” bisikku, “atau mau rasain?”

Dia tidak memilih.

Dia menarikku turun dan menciumku, dan itu bukan ciuman yang menebus apa pun, atau mencicil apa pun, atau membayar apa pun. Itu ciuman dua orang yang berdiri di dua ujung foto selama empat tahun, dan akhirnya, di sofa abu-abu di lantai dua belas apartemen di Kemang, dengan hujan di luar dan sayur asem yang terlalu asam di meja, bertemu di tengah.

Lama. Sangat lama. Hujan semakin deras.

Saat akhirnya aku mundur, dahiku menempel di dahinya, dan aku mengatakan sesuatu yang sudah kusiapkan sejak Kamis, sejak berlari tujuh lantai tanpa menghitung.

“HUT Navara. Sembilan hari lagi.”

“Hm.”

“Foto bersama.”

Dia diam.

“Aku nggak mau di ujung lagi,” kataku.

Dia mundur sedikit. Dia menatapku tanpa kacamata, dengan mata yang tidak sepenuhnya fokus tapi sangat jelas.

“Kamu yakin?”

“Aku orang legal,” kataku. “Aku nggak pernah tanda tangan kalau belum yakin.”


Besok paginya, Sabtu, aku mengirim pesan ke grup “Goddess Only 🔒”.

Felicia: HUT Navara. Aku mau minta tolong. Sheilla: APAPUN Sheilla: APAPUN FEL Sheilla: aku panitia!!! aku pegang fotografernya!!! fotografernya ganteng!!! Eve: Minta tolong apa, Fel? 🤍 Felicia: Foto bersama. Aku nggak mau di ujung lagi.

Tiga titik. Dari dua orang. Lama sekali.

Eve: 🥹 Sheilla: FEL Sheilla: FELICIA AURELIA HARTONO Sheilla: AKU NANGIS DI ANGKOT Sheilla: ibu2 sebelahku ngasih tisu Sheilla: OKE. AKU URUS. KAMU TINGGAL DATENG. PAKE BAJU YANG BAGUS. JANGAN BLAZER ABU2. Felicia: Blazer abu-abuku bagus. Sheilla: FEL. ITU HARI PENTING. JANGAN BLAZER. Eve: Aku pinjemin gaun 🤍 Yang hijau tua. Yang kamu pakai di brunch itu punyaku, kan? Felicia: Itu punyamu? Eve: Kamu pinjem waktu wisuda adikku. Dua tahun lalu. Belum dibalikin 😊 Felicia: … Sheilla: HAHAHAHAHAHAHAHA Sheilla: FELICIA YANG SEMPURNA PINJEM BAJU NGGAK DIBALIKIN Sheilla: INI MASUK PAPAN BUKTI

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit kamarku. Di gantungan dekat pintu, jaket abu-abu dengan noda oli di ujung lengan kanan. Di meja, laptop dengan folder bernama ujung.

Di dapur, panci sayur asem yang terlalu asam. Kosong. Dia menghabiskannya semua, tiga mangkuk, sebelum pulang.

Sembilan hari lagi.

Aku menghitung. Tentu saja aku menghitung.

Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, aku menghitung mundur ke sesuatu yang tidak kutakuti.