Chapter Thirty Three
Papan Bukti Sheilla
POV: Felicia
Hari Kamis pukul sebelas lewat empat, aku sedang membaca pasal yang sama untuk ketujuh kalinya ketika lantai sembilan tiba-tiba menjadi sunyi.
Bukan sunyi seperti tiga hari terakhir. Sunyi yang lain. Sunyi seperti saat Pak Wirya masuk tanpa pemberitahuan, saat semua orang berhenti mengetik dan menegakkan punggung.
Aku mengangkat kepala.
Di pintu lift, berdiri Eve dan Sheilla.
Di antara mereka, dipegang berdua, sebuah papan gabus besar. Penuh kertas, foto, sticky note warna-warni, dan benang merah yang saling silang seperti jaring laba-laba yang ditenun oleh laba-laba yang sangat gelisah. Di atasnya, dengan spidol pink, satu kata dalam huruf kapital.
BUKTI.
Seluruh lantai sembilan menatap mereka. Mbak Tari menjatuhkan pulpennya. Anak magang di dekat jendela berdiri setengah, lalu duduk lagi. Pak Hendro membuka pintu ruangannya.
Eve menatap lurus padaku dari seberang ruangan. Matanya bengkak. Rambutnya tergerai tanpa gelombang, seperti dia tidak sempat mengeritingnya pagi ini. Dia tidak tersenyum.
Sheilla, di sebelahnya, memakai kuncir dua dengan pita biru dan wajah yang sangat serius. Sheilla tidak pernah serius. Melihatnya serius terasa seperti melihat kucing berjalan dengan dua kaki.
Mereka berjalan ke mejaku. Papan gabus itu menabrak sudut meja Mbak Tari. Sheilla bilang maaf, Mbak tanpa menoleh.
Mereka berhenti di depanku.
“Fel,” kata Eve. “Kita perlu ngomong.”
Aku tidak bisa bicara.
Pak Hendro berdeham dari pintu ruangannya. Semua orang menoleh padanya. Dia menatap papan gabus, menatap Eve, menatap Sheilla, lalu menatapku. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan dalam lima tahun.
Dia mengambil jas dari gantungan, berjalan keluar dari ruangannya, dan menunjuk pintunya yang terbuka dengan dagu.
“Pakai ruangan saya,” katanya. “Saya mau ke pantry. Lama.”
Dia pergi. Mbak Tari menutup mulutnya dengan tangan.
Ruangan Pak Hendro berbau kopi dan kertas tua. Ada lemari arsip, meja kayu besar, dan satu foto kucing berbingkai di dinding yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya. Kucing yang di folder 2016.
Sheilla menyandarkan papan gabus ke lemari arsip. Eve menutup pintu dan menurunkan tirai jendela kaca.
Lalu mereka berdua berbalik menatapku.
Aku berdiri di tengah ruangan. Aku menunggu.
Aku menunggu kemarahan. Aku sudah memikirkannya selama tiga hari. Aku sudah menyiapkan diri untuk Eve yang menangis dan bertanya kenapa. Untuk Sheilla yang berteriak. Untuk dua centang biru yang akhirnya dibalas dengan kalimat yang akan mengakhiri sepuluh tahun.
Aku orang legal. Aku selalu menyiapkan diri untuk skenario terburuk.
Sheilla menunjuk papan gabus.
“Fel,” katanya. “Kamu lihat ini.”
Aku melihat.
Di tengah papan, sebuah foto. Bukan foto basement. Foto tiga gelas kertas di meja rooftop. Diambil dari atas. Teh melati. Caramel macchiato. Cokelat panas. Di bawahnya, sticky note kuning dengan tulisan tangan Sheilla yang bulat dan besar:
BUKTI #1. Hari ke-1. Tulisan gelas Felicia: lengkap. Pakai pecahan. Gelasku disingkat. Gelas Eve biasa. KENAPA???
Benang merah dari foto itu menyebar ke segala arah.
BUKTI #2. Lift macet. Aku pegang tangan Mas Bayu. Felicia pegang tangan SIAPA? Bukan aku. Bukan Eve (Eve di tengah). Felicia di pojok. Mas Andro di pojok. KEBETULAN???
BUKTI #3. Polling Bu Ratna. Opsi “Felicia”: 3 suara. Dodi. Pak Udin. ANDRO SENDIRI. Jam 18.42. Aku buka. Nggak ada yang buka opsi yang kalah. Kecuali aku. Dan Felicia (pasti).
Aku menatap sticky note itu. Aku membuka mulut.
“Kamu buka opsi yang kalah,” kataku.
“Aku selalu buka opsi yang kalah,” kata Sheilla. “Aku Sheilla. Aku sering kalah. Aku pengin tahu siapa aja yang kalah bareng aku.”
Aku menatap papan itu lagi.
BUKTI #4. “Martabak berdua sama sistem.” SISTEMNYA GANTENG.
BUKTI #5. Kancing salah lubang. Pantry IT. Felicia bilang kena tumpahan air. Felicia nggak pernah numpahin air. Felicia nggak pernah ceroboh. Kopi kardus = alibi lemah.
BUKTI #6. Bekas merah di leher kiri. Senin pagi. Tertutup rambut. Rambut Felicia nggak pernah digerai ke kiri. SELALU DIIKAT.
Pipiku terbakar.
“Shei…”
“Biarin aku selesai,” kata Sheilla. Dia menunjuk sticky note berikutnya. “Ini yang penting.”
BUKTI #7. Kencan buta. Misi ke Mas Bima: bikin Felicia ketawa dua kali, terus pulang. Tujuan sebenarnya: tes Mas Andro cemburu atau nggak. Laporan Mas Bima: “Rahangnya kaku banget, Shei. Itu bukan migrain. Dan dia ngetik ‘sdfjkl’ satu halaman penuh.” HASIL: POSITIF CEMBURU.
“Kamu tes dia,” kataku.
“Kami tes dia,” kata Eve pelan, dari belakang Sheilla. “Itu ideku. Sheilla yang pilih sepupunya.”
Aku menoleh pada Eve.
Eve berdiri di dekat pintu, tangan terlipat, wajahnya sulit dibaca. Lalu dia berjalan ke papan dan menunjuk satu sticky note di pojok kanan bawah. Tulisannya bukan tulisan Sheilla. Tulisannya rapi, miring ke kiri. Tulisan Eve.
BUKTI #8 (Eve). Jaket abu-abu di apartemen Felicia. Noda oli di lengan kanan. Malam blackout, Andro yang nyalain genset. Pakai mobil Felicia.
Di bawahnya, satu lagi.
BUKTI #9 (Eve). Lembang. Di belakang tenda logistik. Felicia ketawa.
Hanya itu. Tidak ada keterangan lain.
“Aku lihat kalian,” kata Eve. “Di Lembang. Aku bawa wedang jahe buat kamu, soalnya sweter kamu tipis banget dan aku tahu kamu pasti kedinginan. Terus aku lihat kamu di balik tenda. Di dalam jaket dia.” Suaranya turun. “Kamu ketawa, Fel.”
Aku diam.
“Sepuluh tahun aku kenal kamu,” kata Eve. “Aku belum pernah dengar kamu ketawa kayak gitu. Belum pernah. Bahkan waktu Sheilla jatuh dari panggung wisuda.”
“Itu bukan jatuh,” protes Sheilla. “Itu turun dengan kreatif.”
Eve tidak menanggapi. Dia menatapku dengan mata bengkaknya.
“Malam itu aku balik ke api unggun,” katanya. “Aku duduk. Aku minum dua gelas wedang jahe sendirian. Dan aku nangis. Bukan karena Andro. Bukan karena aku suka dia. Itu udah selesai di kedai teh. Aku nangis karena…”
Dia berhenti. Dia menarik napas.
“Karena aku iri, Fel,” katanya. “Aku iri sama kamu.”
Ruangan Pak Hendro sangat sunyi. Di luar, aku mendengar suara printer. Suara telepon berdering. Suara Mbak Tari yang pura-pura sibuk dengan sangat keras.
“Kamu iri sama aku,” ulangku. Kata-kata itu tidak masuk akal di mulutku. Eve. Eve yang cantik luar biasa. Eve yang selalu di tengah. Eve yang dikejar puluhan laki-laki.
“Semua cowok yang deketin aku,” kata Eve, “nggak ada satu pun yang lihat aku. Mereka lihat wajahku. Rambutku. Mereka nulis puisi soal mataku. Tapi nggak ada yang tahu aku minum teh melati karena nenekku. Nggak ada yang tahu aku takut gelap.” Suaranya bergetar. “Dan dia… dia tahu kamu nggak suka mayones. Dia tahu kamu gampang kedinginan. Dia tahu kamu turun tangga karena benci lift penuh. Dia nyimpen semua itu, empat tahun, nggak pernah dipamerin. Dia ngelihat kamu, Fel. Yang beneran kamu. Yang selama ini kamu sembunyiin di belakang kami.”
Air mata jatuh di pipinya. Dia tidak menyekanya.
“Dia langka, Fel,” katanya. “Dari semua cowok yang pernah deketin kita bertiga, cuma dia yang beneran ngelihat. Dan dia ngelihat kamu. Dan aku iri. Aku iri banget. Tapi aku juga seneng. Aku seneng banget sampai aku nangis dua gelas wedang jahe.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Aku hanya tahu tiba-tiba pandanganku kabur.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku. Suaraku pecah. “Kenapa kamu diam? Kenapa kamu cuma bilang ‘jaketnya bagus’?”
“Karena itu bukan hakku,” kata Eve. “Itu hak kamu. Andro bilang gitu di kedai teh. Kalau orangnya udah siap, aku mau jadi orang pertama yang tahu.” Dia menyeka matanya akhirnya. “Aku nunggu kamu, Fel. Aku nunggu kamu cerita. Dua bulan.”
“Terus Senin…”
“Senin aku nggak masuk,” kata Eve, “karena aku tahu kalau aku masuk, semua orang bakal ngelihatin aku dengan muka kasihan. Dan aku tahu kalau kamu lihat orang-orang ngelihatin aku dengan muka kasihan, kamu bakal ngelakuin sesuatu yang bodoh buat ngelindungin aku.” Suaranya mengeras. “Dan kamu tetap ngelakuinnya.”
Kami nggak ada apa-apa.
“Mbak Tari cerita,” kata Eve pelan. “Semuanya. Kata per kata.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Dan aku,” kata Sheilla.
Aku menurunkan tangan. Sheilla berdiri di depan papan gabus, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, dan wajahnya merah.
“Aku nggak bales pesanmu tiga hari,” katanya. “Kamu tahu kenapa?”
Aku menggeleng.
“Karena aku marah.” Suaranya naik setengah oktaf, lalu turun lagi. “Bukan ke kamu! Ke diriku sendiri! Aku yang bikin pesta itu! Aku yang ngundang semua orang! Aku yang nyuruh Mas Andro urus proyektor! Kalau aku nggak bikin pesta, kamu nggak bakal ke basement jam sepuluh malam, dan nggak bakal ada yang foto!”
“Shei, itu bukan salahmu…”
“AKU TAHU!” Sheilla menghentakkan kaki. “Aku tahu itu bukan salahku! Tapi aku tetap marah! Dan kalau aku marah, aku nggak bisa ngetik dengan benar! Aku ngetik ‘Fel aku sayang kamu’ tapi jadinya ‘Fel aku sayap kamu’! Terus aku hapus! Terus aku ngetik lagi! Terus jadinya ‘Fel aku sayur kamu’! Dan aku nggak mau ngirim ‘sayur’ ke kamu di saat kayak gini!”
Eve menutup mulutnya. Aku menatap Sheilla dengan mata basah dan mulut setengah terbuka.
“Jadi aku nggak bales,” lanjut Sheilla, napasnya terengah. “Aku bikin ini.” Dia menepuk papan gabus. “Tiga malam. Aku print semua foto. Aku beli benang merah di toko jahit. Aku beli papan gabus di toko buku. Kasirnya nanya aku mau bikin apa, aku bilang ‘bukti cinta’, terus dia kasih diskon.”
“Bukti cinta,” ulangku.
“Iya.” Sheilla menunjuk ke pojok kiri atas papan. Ada satu kertas yang lebih besar dari yang lain, dicetak dari komputer, dengan judul dalam huruf tebal.
Catatan Pribadi – JANGAN DIBUKA – Fel & Mas Andro: Bukti Cinta (Updated)
Dokumen di laptopnya. Yang kulihat sekilas di rooftop. Yang kuyakinkan diriku sendiri tidak berarti apa-apa.
“Aku mulai nulis ini dari hari ketiga,” kata Sheilla. “Hari tiga gelas. Waktu aku lihat pecahan di gelasmu.”
Hari ketiga. Dua bulan lalu.
“Kamu tahu dari hari ketiga,” kataku.
“Aku curiga dari hari ketiga. Aku yakin dari lift macet.” Sheilla menyeka hidungnya dengan punggung tangan. “Tanganku dipegang Mas Bayu, Fel. Mas Bayu. Tangannya basah. Aku langsung tahu tangan Mas Andro ada di tempat lain.”
“Terus klasemen…”
“Klasemen itu kamuflase!” Sheilla mengangkat tangan ke udara. “Kalau aku tiba-tiba berhenti bikin klasemen, kamu bakal curiga! Kamu orang legal! Kamu baca perubahan pola! Jadi aku tetap bikin klasemen. Tiap hari. Aku naikin Eve, naikin aku, aku bilang ‘fix dia suka aku’ biar kamu santai.” Dia menatapku dengan mata bulat yang basah. “Kamu bilang ke Mas Andro aku nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari dua jam, kan?”
Aku membeku. “Kok kamu tahu?”
“Karena aku kenal kamu sepuluh tahun, Fel. Kamu pasti bilang gitu.” Sheilla tersenyum, dan lesung pipi kirinya muncul. “Dua bulan, Fel. Aku nyimpen ini dua bulan. Aku nggak bilang ke siapa-siapa. Bahkan ke Eve, sampai Lembang. Dan aku Sheilla.”
Dia mengatakan dan aku Sheilla dengan bangga, seperti orang yang menunjukkan medali.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin aku. Mungkin Eve. Mungkin Sheilla, yang tidak pernah bisa diam lebih dari lima detik.
Tiba-tiba kami bertiga berpelukan di tengah ruangan Pak Hendro, di depan papan gabus bertuliskan BUKTI dan foto kucing berbingkai di dinding. Tiga botol di rak yang jatuh bersamaan. Lagi.
Aku menangis ke bahu Eve. Eve menangis ke rambut Sheilla. Sheilla menangis sambil bicara, karena Sheilla tidak bisa menangis tanpa bicara.
“Kamu bodoh, Fel,” isak Sheilla. “Kamu bodoh banget. Kamu pikir kami bakal benci kamu? Kamu pikir kami bakal marah karena kamu bahagia? Kamu sahabat kami. Sepuluh tahun. Kamu jalan dua langkah di belakang, dan kamu pikir kami nggak lihat. Kami lihat, Fel. Kami selalu lihat.”
“Maaf,” kataku. Hanya itu yang bisa kukatakan. “Maaf. Maaf. Aku bohong ke kalian. Aku bilang air galon. Aku bilang kopi kardus. Aku bilang tumpahan air.”
“Kamu juga bilang AC baru,” kata Sheilla. “Di ruang server. Waktu aku telepon. Kamu bilang bunyi lebah itu AC baru.”
“Iya.”
“Itu alibi paling jelek yang pernah aku dengar, Fel.”
Aku tertawa ke bahu Eve. Tawa yang basah dan jelek. Eve ikut tertawa. Sheilla tertawa sambil masih menangis, yang membuatnya cegukan.
Kami berdiri seperti itu lama. Cukup lama sehingga Mbak Tari mengetuk pintu dua kali dan berkata dari luar, “Pak Hendro udah tiga kali bolak-balik di pantry. Dia udah minum lima gelas air. Dia mau masuk.”
“Lima menit lagi, Mbak,” kata Eve.
“Oke. Mbak kasih tahu dia. Dia mulai minum air keenam.”
Akhirnya kami melepaskan pelukan. Kami bertiga berdiri dengan maskara luntur dan hidung merah dan rambut berantakan, menatap papan gabus.
“Fel,” kata Eve. Dia mengambil kedua tanganku. “Dia nggak masuk tangga darurat tiga hari.”
“Aku tahu.”
“Dia naik lift. Dodi cerita ke Sheilla. Dia naik lift karena kamu minta dia nggak turun ke lantai sembilan, dan tangga darurat lewat lantai sembilan.”
Aku memejamkan mata.
“Dan dia tetap naruh cokelat di mejamu,” kata Eve. “Tiap pagi. Jam tujuh lewat tiga. Mbak Tari lihat.”
Aku membuka mata dan menatap laci mejaku melalui dinding kaca ruangan Pak Hendro. Di atas meja itu, di tengah alas mouse, ada gelas kertas yang belum kuminum. Uapnya sudah lama hilang.
“Dia nggak minta apa-apa,” kataku pelan. “Empat tahun. Dia nggak pernah minta apa-apa. Dia cuma minta satu hal. Bahwa suatu hari aku yang bilang. Bukan dia. Bukan Bu Ratna. Aku.” Suaraku pecah lagi. “Dan aku bilang di depan lima puluh orang bahwa kami nggak ada apa-apa.”
Eve meremas tanganku.
“Terus kenapa kamu masih di sini?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Fel,” kata Eve. Suaranya lembut, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak lembut sama sekali. Sesuatu yang keras dan tulus, seperti nenek yang mengajari cucunya menyeduh teh dengan air yang tidak boleh terlalu mendidih. “Sepuluh tahun kamu jalan di belakang kami. Dua langkah. Di ujung foto. Kamu pikir itu tempatmu.”
Dia menunjuk pintu.
“Kejar dia,” katanya. “Sekali ini, kamu yang lari ke tengah.”
Sheilla mengangguk keras sampai kuncir duanya bergoyang. Lalu dia berjalan ke papan gabus, mengambil spidol pink dari sakunya, dan menulis sesuatu di sticky note kosong. Dia menempelkannya di bagian paling atas, di sebelah kata BUKTI.
KLASEMEN FINAL: Felicia 100%. Eve 0%. Sheilla 0% (legowo, dewasa, tetap cantik).
“Pergi,” kata Sheilla. “Aku sama Eve yang urus Pak Hendro.”
Aku keluar dari ruangan Pak Hendro.
Lantai sembilan menatapku. Mbak Tari. Anak magang. Seluruh divisi legal. Pak Hendro, yang berdiri di dekat pantry dengan gelas air keenam di tangan.
Aku tidak berjalan dua langkah di belakang siapa pun.
Aku berjalan ke pintu tangga darurat timur. Aku membukanya.
Lalu aku turun.
Tujuh lantai. Lantai delapan. Tujuh. Enam. Aku tidak menghitung kecepatanku. Untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun. Aku hanya turun, dengan sepatu hak rendah yang berbunyi keras di anak tangga, dengan maskara luntur, dengan rambut yang lepas dari ikatannya dan jatuh berantakan di punggung.
Lantai lima. Empat. Tiga.
Di bordes lantai tiga, aku berhenti. Napasku terengah. Aku memegang pegangan tangga.
Lalu aku tertawa.
Karena aku baru menyadari bahwa ini persis seperti yang dia lakukan dua bulan lalu. Naik lima lantai, dengan napas terengah, untuk mengatakan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
Bedanya, aku turun. Dan aku tidak punya kalimat yang sudah dilatih.
Aku hanya punya satu hal yang perlu kukatakan. Dan aku sudah terlambat tiga hari untuk mengatakannya.
Aku melanjutkan turun.
Lantai dua.
Aku membuka pintu tangga darurat ke koridor yang selalu dingin, dan aku mendengar dengung server yang samar, seperti napas panjang sebuah gedung yang sedang menunggu.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla reading
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur