← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twelve

Klien yang Terlalu Ramah

POV: Andro

Aku tidak akan pernah tahu soal Marcel Wiguna kalau bukan karena log.

Log adalah catatan. Setiap kali seseorang masuk ke sistem, membuka file, mengubah sesuatu, atau mencoba masuk ke tempat yang tidak seharusnya, sistem mencatatnya. Jam, tanggal, akun, alamat. Kebanyakan orang tidak pernah membaca log. Log itu membosankan, seperti membaca buku telepon.

Aku membacanya setiap Senin pagi, sambil minum kopi, sebelum orang lain datang. Bukan karena aku orang aneh, meskipun Dodi tidak setuju. Aku membacanya karena di antara ribuan baris yang membosankan, kadang-kadang ada satu baris yang tidak seharusnya ada di sana.

Senin itu, aku menemukan tujuh belas.


Navara punya portal klien. Situs web tempat klien besar bisa masuk, melihat status kontrak mereka, mengunduh dokumen, dan menjadwalkan rapat dengan tim legal. Setiap klien punya akun. Setiap akun hanya bisa melihat dokumen miliknya sendiri, ditambah kalender ketersediaan staf legal yang menangani kasusnya.

Akun m.wiguna@wigunaproperti.co.id masuk ke portal tujuh belas kali dalam seminggu terakhir.

Itu tidak aneh. Klien yang sedang bernegosiasi memang sering masuk.

Yang aneh adalah jamnya. Sebelas dari tujuh belas kali itu terjadi di atas pukul sepuluh malam. Dan dalam sebelas kali itu, dia tidak membuka dokumen kontraknya. Dia membuka satu halaman yang sama berulang-ulang.

Kalender ketersediaan Felicia.

Aku meletakkan kopiku.

Lalu aku membaca lebih jauh. Akun itu juga mengirim pesan lewat fitur pesan portal. Fitur itu seharusnya dipakai untuk pertanyaan seperti kapan draf revisi bisa dikirim. Aku tidak membaca isi pesan orang. Itu bukan wewenangku, dan itu salah. Tapi sistem mencatat jumlah dan jamnya.

Dua puluh tiga pesan dalam lima hari. Ke satu penerima. Dua belas di antaranya di atas pukul sebelas malam.

Lalu aku membuka log helpdesk. Ada satu tiket aneh dari hari Kamis, masuk lewat formulir umum, bukan dari akun karyawan. Saya rekanan bisnis Ibu Felicia Hartono dari Legal, nomor HP beliau hilang dari kontak saya, mohon dibantu dikirimkan. Urgent untuk kontrak. —M. Wiguna.

Tiket itu ditolak otomatis oleh sistem, karena helpdesk IT tidak pernah memberikan nomor pribadi karyawan. Aku yang memasang aturan itu tiga tahun lalu.

Aku duduk diam di mejaku untuk waktu yang lama.

Ada sesuatu yang panas dan kecil di dadaku, sesuatu yang naik dari perut dan berhenti di belakang rahang. Aku mengenalinya. Itu bukan perasaan yang bisa dibanggakan. Itu perasaan yang membuat laki-laki melakukan hal bodoh, seperti datang ke kantor klien dan berteriak, atau mengirim email kasar yang akan disesali, atau, yang paling buruk, membuat perempuan yang ingin dilindunginya menjadi tontonan.

Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan. Enam.

Lalu aku membuka dokumen kosong dan mulai menulis.


Aku perlu tahu satu hal sebelum melakukan apa pun. Aku perlu tahu apakah Felicia baik-baik saja.

Aku tidak bisa bertanya langsung di kantor. Aku juga tidak bisa bertanya di grup. Jadi aku menunggu sampai pukul lima lewat delapan.

Dia keluar dari pintu lantai sembilan. Dia kelihatan lelah. Bukan lelah yang biasa, lelah karena kontrak. Ini lelah yang lain. Bahunya tegang, dan ponselnya di tangan, layar menghadap ke bawah, seperti benda yang tidak ingin dia lihat tapi juga tidak bisa dia simpan di tas.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Kami turun. Satu lantai. Dua.

“Felicia,” kataku di lantai tujuh. “Klien Wiguna Properti. Negosiasinya lancar?”

Dia berhenti di tengah anak tangga. Dia menoleh, dan matanya menyipit, tapi bukan tatapan kamu bodoh. Ini tatapan orang yang sedang memeriksa apakah ada orang lain yang tahu.

“Kenapa nanya?”

“Ada aktivitas aneh di portal klien. Dari akunnya.” Aku memilih kata dengan hati-hati. “Aku nggak baca isi pesan siapa pun. Aku cuma lihat jumlah dan jamnya. Dan aku mau tahu apakah kamu baik-baik aja.”

Dia diam lama. Ponsel di tangannya bergetar. Dia tidak melihatnya.

“Dia nggak ngapa-ngapain,” katanya akhirnya. “Secara teknis. Dia cuma… ramah.”

“Ramah jam sebelas malam?”

“Dia bilang dia orang yang kerja sampai malam.” Felicia menatap dinding abu-abu. “Pesan-pesannya sopan. Nanya kabar. Nanya aku udah makan belum. Bilang suaraku di rapat bikin dia tenang. Kirim bunga ke meja. Dua kali. Ajak makan malam buat ‘bahas klausul’. Lima kali.” Dia tertawa pendek, tanpa humor. “Aku tolak semua dengan sopan. Aku orang legal. Aku tahu cara nolak tanpa bikin klien tersinggung. Itu bagian dari pekerjaanku.”

“Terus kenapa ponselmu menghadap ke bawah?”

Dia menunduk ke ponselnya. Lalu, setelah lama, dia membaliknya.

Layar terkunci menampilkan notifikasi. Nomor yang tidak tersimpan. Selamat sore, Bu Felicia. Saya lihat Ibu pulang jam 5 terus ya. Hati-hati di jalan. Kapan-kapan saya antar 😊

Pesan itu masuk lewat WhatsApp. Bukan lewat portal.

“Dia dapat nomorku,” kata Felicia pelan. “Aku nggak tahu dari mana. Kemarin malam. Aku belum blokir, soalnya dia klien. Kalau aku blokir dan dia tersinggung, negosiasinya bisa batal. Kalau batal, Pak Hendro…”

Dia berhenti.

Saya lihat Ibu pulang jam 5 terus ya.

Kalimat itu yang membuatku diam. Karena itu bukan sesuatu yang bisa kamu tahu dari kalender portal. Kalender portal hanya menampilkan jam rapat.

Itu sesuatu yang hanya bisa kamu tahu kalau kamu melihat dengan matamu sendiri.

“Felicia,” kataku, dengan suara paling tenang yang bisa kukeluarkan. “Kamu percaya sama aku?”

Dia menatapku.

“Bukan buat hal lain,” tambahku. “Cuma buat ini. Kamu percaya aku bisa beresin ini tanpa bikin kamu jadi omongan orang?”

Dia menatapku lama sekali. Di bawah lampu tangga darurat yang jujur, matanya sedikit basah, dan dia tidak mau aku melihatnya, jadi dia memalingkan wajah.

“Iya,” katanya.


Aku bekerja malam itu sampai pukul dua.

Pertama, aku mengumpulkan semua yang bisa dikumpulkan tanpa melanggar privasi siapa pun. Log masuk akun Wiguna, dengan jam dan halaman yang dibuka. Jumlah pesan portal, dengan jam pengiriman, tanpa isi. Tiket helpdesk palsu yang meminta nomor pribadi. Rekaman CCTV lobby, yang hanya bisa kuakses lewat permintaan resmi ke Pak Tarno dan kepala keamanan, menunjukkan sebuah mobil sedan abu-abu yang parkir di seberang pintu keluar basement setiap sore antara pukul lima dan setengah enam, selama empat hari berturut-turut.

Pelat nomornya cocok dengan mobil yang tercatat di daftar tamu lobby saat Marcel Wiguna datang rapat dua minggu lalu.

Aku mencetak semuanya. Aku menyusunnya dalam satu map, dengan halaman ringkasan di depan. Tidak ada kata sifat. Tidak ada tuduhan. Hanya fakta, jam, dan tanggal. Persis seperti Felicia menyusun kontrak.

Lalu aku menulis email.

Bukan ke Marcel. Bukan juga ke grup “Navara Ceria”. Ke tiga orang: Pak Hendro sebagai kepala divisi legal, Bu Lestari dari Compliance, dan kepala keamanan gedung. Tembusan ke Mas Yudha. Judulnya membosankan: Laporan Anomali Akses Portal Klien dan Pelanggaran Kebijakan Data Karyawan.

Aku tidak menyebut kata “pelecehan”. Aku tidak menyebut perasaan siapa pun. Aku hanya menulis bahwa sebuah akun klien telah mengakses kalender staf secara berulang di luar jam kerja, mencoba mendapatkan data pribadi staf lewat tiket palsu, dan bahwa kendaraan yang terdaftar atas nama klien tersebut terekam parkir di area keluar karyawan selama empat hari. Aku melampirkan semua bukti. Aku merekomendasikan tiga hal: penangguhan akses portal untuk akun tersebut, penggantian staf legal yang menangani klien tersebut dengan staf senior laki-laki atau langsung kepala divisi, dan pemberitahuan resmi ke pihak keamanan gedung.

Aku membaca email itu lima kali. Lalu aku mengirimnya pukul satu lewat empat puluh.

Lalu aku melakukan satu hal lagi yang sebenarnya tidak termasuk tugasku. Aku membuka pengaturan kalender portal dan mengubah satu kebijakan untuk semua staf legal, bukan hanya Felicia: mulai besok, klien hanya bisa melihat slot rapat yang tersedia, bukan pola jam kerja harian staf. Kalau aku hanya mengubah milik Felicia, seseorang akan bertanya kenapa.

Kalau aku mengubah milik semua orang, itu namanya pembaruan sistem.


Pak Hendro membaca email itu pukul tujuh pagi.

Pukul tujuh lewat lima belas, dia menelepon Bu Lestari. Pukul delapan, dia menelepon Pak Wirya. Pukul sembilan, menurut Dodi, yang entah bagaimana mengetahui semua ini dari Mbak Rina di resepsionis, Pak Wirya sendiri menelepon direktur Wiguna Properti.

Pukul sebelas, akun portal Marcel Wiguna dinonaktifkan. Pukul dua belas, Wiguna Properti mengirim surat resmi yang mengumumkan bahwa negosiasi selanjutnya akan ditangani oleh wakil direktur mereka, seorang ibu berumur lima puluhan yang terkenal sangat tegas. Tidak ada penjelasan. Tidak ada drama.

Tidak ada satu pun pesan di grup “Navara Ceria” tentang semua itu.

Bu Ratna, yang biasanya tahu segalanya, kali ini benar-benar tidak tahu. Karena aku sengaja tidak menembuskan apa pun ke HR. Dan Pak Hendro, yang ternyata bisa sangat protektif pada anak buahnya kalau sudah melihat data, memerintahkan semua orang yang terlibat untuk tidak membicarakannya.

Pukul satu lewat dua puluh, aku naik ke rooftop dengan nampan tiga minuman seperti biasa.

Felicia ada di kursinya. Eve dan Sheilla sedang membahas sesuatu tentang sepatu. Aku meletakkan nampan, mengangguk, dan pergi.

Aku tidak menatapnya lebih lama dari biasanya. Itu penting. Tidak boleh ada yang tahu.

Tapi aku sempat mendengar sedikit percakapan mereka saat berbalik.

“Fel, mukamu pucat,” kata Eve, menyentuh dahi sahabatnya dengan punggung tangan, seperti ibu yang memeriksa demam anaknya. “Kamu kurang tidur, ya? Nanti malam aku nginep di tempatmu, ya. Aku bawain sup.”

“Nggak usah, Eve.”

“Aku nggak nanya. Aku ngasih tahu.” Eve tersenyum, tapi nadanya tidak bisa ditawar. “Shei, kamu ikut?”

“Ikut! Aku bawa masker wajah sama film Korea. Yang sedih. Biar Felicia nangis, terus lega.” Sheilla mengangkat tangan. “Itu namanya terapi, Fel. Aku baca di X.”

Felicia menghela napas panjang, tapi dia tidak menolak lagi.

Aku turun ke tangga dengan perasaan aneh di dada. Mereka tidak tahu apa yang terjadi semalam. Mereka tidak tahu soal map lima belas halaman. Tapi mereka tahu sahabat mereka pucat, dan itu cukup buat mereka untuk datang membawa sup dan film sedih.

Aku senang Felicia punya mereka. Aku benar-benar senang.

Lalu, di bordes lantai sebelas, Eve menyusulku dengan langkah cepat.

“Andro! Sebentar.”

Aku berhenti. Eve berdiri dua anak tangga di atasku, sedikit terengah, rambutnya jatuh ke bahu. Dia menggigit bibir bawahnya sebentar, seperti orang yang sudah melatih kalimat di kepala dan sekarang lupa urutannya.

“Sabtu malam ini kamu ada waktu?” tanyanya. “Aku masih utang traktiran. Buat yang presentasi Hoshino. Aku mau bayar. Beneran.”

Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, aku tidak punya jawaban yang sudah kuhitung.

“Aku kabarin nanti, ya, Eve,” kataku.

Dia tersenyum, lega dan malu sekaligus, lalu naik kembali ke rooftop.

Tapi di tangga, ponselku bergetar.

Felicia: Pak Hendro bilang mulai hari ini klien Wiguna dia yang pegang langsung. Felicia: Dia nggak bilang kenapa. Dia cuma bilang “kamu fokus ke Hoshino aja”. Felicia: Terus dia kasih aku cokelat. Pak Hendro. Kasih cokelat.

Aku tertawa pelan sendirian di bordes lantai sebelas.

Andro: Cokelatnya enak? Felicia: Kedaluwarsa bulan lalu. Felicia: Tapi niatnya bagus.

Lalu ada jeda. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Aku berdiri di tangga dan menunggu, karena aku sudah empat tahun belajar menunggu, dan beberapa menit tambahan tidak ada artinya.

Felicia: Nomor yang kemarin udah aku blokir. Felicia: Pak Hendro yang suruh. Dia bilang “itu perintah atasan, bukan pilihan pribadi”. Jadi aku nggak perlu ngerasa nggak enak.

Andro: Pak Hendro orang baik.

Felicia: Pak Hendro dapat datanya dari siapa?

Aku menatap pertanyaan itu.

Andro: Dari sistem.

Jeda lagi. Lebih lama.

Felicia: Sistem nggak kerja sampai jam dua pagi.

Aku tidak membalas. Aku tidak tahu harus membalas apa.

Felicia: Email ke Pak Hendro dikirim jam 01.40. Dia forward ke aku tadi pagi, dengan pesan “baca ini, terus jangan khawatir lagi”. Nama pengirimnya Andro Kusuma Ardhana.

Felicia: Kamu nggak nyebut namaku di judulnya. Kamu nggak nyebut perasaan siapa-siapa. Kamu nggak kirim ke HR. Kamu ganti pengaturan kalender buat semua orang biar nggak ada yang curiga.

Felicia: Kamu ngerjain semua itu tanpa bikin aku jadi tontonan.

Aku membaca pesan-pesan itu satu per satu, berdiri di bordes yang sepi, dengan nampan kosong di tangan.

Andro: Kamu nggak suka di tengah. Aku tahu.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul.

Felicia: Kamu marah? Kemarin. Waktu lihat pesannya.

Aku berpikir lama sebelum menjawab. Aturan nomor dua: tidak bohong.

Andro: Sedikit. Andro: Lebih dari sedikit. Andro: Tapi kalau aku marah dengan cara yang salah, yang paling rugi kamu. Jadi marahnya aku masukin ke map. Lima belas halaman. Ada daftar isinya.

Jeda yang sangat panjang. Aku hampir memasukkan ponselku ke saku.

Felicia: Pakai daftar isi? Andro: Pakai nomor halaman juga. Felicia: Itu cara marah paling aneh yang pernah aku dengar. Felicia: Dan paling keren.

Lalu, satu pesan lagi, yang datang tepat saat aku sampai di pintu ruang IT dan Dodi menoleh dengan wajah penasaran.

Felicia: Makasih, Andro.

Bukan “makasih”. Bukan stiker kucing. Namaku, di ujung kalimat, ditulis lengkap.

Aku berdiri di pintu ruang IT dan menatap layar itu.

“Bang,” kata Dodi pelan. “Abang kenapa? Muka Abang kayak server yang baru di-restart.”

Aku tidak menjawab. Aku menyimpan nomor itu. Setelah empat tahun, akhirnya aku menyimpan nomor itu di kontak.

Aku menuliskannya hanya dengan satu kata.

Felicia.

Tidak pakai emoji. Aku hemat emoji. Tapi aku menatap nama itu di daftar kontakku cukup lama sehingga Dodi menyerah menunggu dan kembali ke mejanya sambil bergumam sesuatu tentang stadium tiga.