Chapter Thirty Seven
Epilog: Tangga Darurat Timur
POV: Felicia
Setahun kemudian, ada tiga hal yang pasti terjadi setiap pagi di lobby Tower Navara.
Pertama, Pak Udin akan bilang pagi, Mbak-mbak Goddess dengan nada penyiar radio yang sudah tiga puluh tahun membacakan ramalan cuaca. Lalu dia akan menambahkan, khusus untukku, pagi juga, Bu IT. Aku sudah memintanya berhenti. Dia tidak berhenti.
Kedua, lift kiri akan rusak. Itu tidak pernah berubah. Andro bilang itu bukan masalah teknis. Itu masalah spiritual. Lift kiri Tower Navara, menurutnya, memang tidak suka bekerja di hari Senin.
Ketiga, akan ada minimal satu laki-laki di dekat pintu putar.
Tapi sekarang laki-laki itu berdiri di sana dengan alasan yang berbeda.
“Mbak Sheilla!” Seorang laki-laki tinggi dengan kemeja linen dan lesung pipi di sebelah kiri melambai dari dekat pintu putar. Dia memegang kotak bekal dari plastik biru. “Rendangnya! Ketinggalan di mobil!”
Sheilla berbalik dengan wajah merah. “Mas Bima! Ngapain antar sampai sini? Kamu kan harus praktik jam delapan!”
“Kliniknya searah.”
“Kliniknya di Kebayoran, Mas! Ini Sudirman!”
dr. Bima tersenyum, lesung pipinya muncul, dan menyerahkan kotak bekal itu dengan dua tangan seperti menyerahkan piala. “Searah ke hati, maksudnya.”
Sheilla menerimanya dengan wajah yang sekarang merah sampai telinga. Seluruh lobby menonton. Tiga laki-laki di dekat pintu putar, yang dulu datang untuk Eve dan Sheilla, sekarang menonton dengan wajah pasrah, seperti penonton yang menyaksikan tim kesayangannya kalah di final.
“Ih, gombal,” gumam Sheilla.
“Kamu yang ngajarin.”
“Aku nggak pernah ngajarin.”
“Kamu ngajarin aku jadi figuran yang bikin orang ketawa dua kali,” kata Bima. “Ternyata aku lebih suka jadi pemeran utama. Buat kamu.”
Sheilla memukul lengannya dengan kotak bekal. Pelan. Lalu dia berjinjit dan mencium pipinya, cepat, di depan Pak Udin.
Pak Udin berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan.
Eve tidak punya laki-laki di dekat pintu putar.
Eve punya laki-laki di ruang rapat lantai sebelas. Namanya Ardi. Dia penerjemah lepas yang disewa Hoshino Holdings untuk proyek apartemen Bekasi tahap tiga. Kacamata bulat, rambut yang selalu terlihat seperti baru bangun tidur, dan kebiasaan membawa buku catatan kertas ke setiap rapat meskipun semua orang memakai laptop.
Eve menceritakannya di rooftop, enam bulan lalu, sambil mengaduk teh melati.
“Dia nanya pendapatku,” katanya. Dengan nada orang yang baru menemukan spesies hewan baru.
“Pendapat soal apa?” tanya Sheilla.
“Soal terjemahan. Ada satu kalimat dari Tanaka-san yang bisa diartikan dua cara. Dia bisa aja milih sendiri. Dia penerjemahnya. Tapi dia noleh ke aku dan nanya, ‘Menurut Mbak Eve gimana? Mbak yang paling kenal klien kita.’” Eve menatap tehnya. “Dua tahun aku kerja sama Hoshino. Belum pernah ada yang nanya pendapatku. Semua orang cuma nanya aku mau makan di mana.”
“Terus dia nanya nomormu?” tanya Sheilla.
“Nggak.”
“Nggak?”
“Dia nanya aku punya rekomendasi buku nggak.” Eve tersenyum. Senyum yang membuat lesung kecil di pipi kanannya muncul. “Terus aku kasih tiga judul. Terus minggu depannya dia datang ke rapat udah baca dua. Terus dia mau diskusi.”
Sheilla menatap Eve. Lalu menatapku. Lalu mengeluarkan laptop dan membuka dokumen baru.
“Aku bikin klasemen baru,” katanya.
“Shei, jangan.”
“Ini bukan klasemen hati. Ini klasemen jumlah buku yang dibaca Mas Ardi buat Eve. Saat ini: dua. Targetku: sepuluh sebelum dia nembak.”
Ardi menembak di buku kedelapan. Eve bilang dia tidak menembak. Dia hanya bertanya apakah Eve mau membaca buku yang sama dengannya, setiap minggu, seumur hidup. Sheilla bilang itu menembak versi kutu buku. Eve tidak membantah.
Sekarang Eve masih di tengah setiap foto. Tapi dia tidak lagi terlihat lelah di ujung senyumnya.
Dan aku.
Aku masih turun lewat tangga darurat setiap sore pukul lima lewat delapan.
Bukan karena aku benci lift penuh. Aku masih benci lift penuh, tapi itu bukan alasannya lagi. Aku turun lewat tangga darurat karena di bordes antara lantai sembilan dan delapan, setiap sore, ada seseorang yang menunggu.
Satu tahun. Dua ratus empat puluh hari kerja. Dua ratus empat puluh sore. Dia tidak pernah absen, kecuali saat dinas ke Singapura, dan saat itu dia mengirim foto bordes tangga darurat kantor Singapura dengan tulisan bukan yang ini.
Hari itu, hari Jumat, aku keluar dari pintu lantai sembilan pukul lima lewat delapan.
Bordes antara lantai sembilan dan delapan kosong.
Aku berhenti.
Satu tahun. Dia tidak pernah absen. Tidak ada pesan. Tidak ada foto bordes yang bukan bordes ini.
Aku mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan dari Andro. Tapi ada satu notifikasi lain. Dari portal helpdesk IT.
Tiket baru #10473. Dari: Andro Kusuma Ardhana (IT, Lt. 2). Ditujukan kepada: Felicia Hartono (Legal, Lt. 9).
Tiket? Dari IT ke Legal? Itu tidak pernah terjadi. Sistemnya bahkan tidak dirancang untuk itu.
Aku membukanya.
Kategori: Hardware.
Deskripsi: Ada yang mau dilamar di tangga darurat timur. Antara lantai tujuh dan enam. Ini beneran, bukan alasan.
Status: Menunggu respons pengguna.
Aku berdiri di bordes lantai sembilan dengan ponsel di tangan.
Lalu aku tertawa.
Tawa yang keras. Tawa yang memantul di dinding abu-abu tangga darurat dan mungkin terdengar sampai lantai dua belas. Tawa yang dulu kusimpan seperti promo, terbatas dan tidak bisa diklaim dua kali.
Sekarang aku tertawa seperti ini hampir setiap hari. Andro bilang dia sudah membuat folder khusus untuk mencatatnya. Dia bilang folder itu sudah lebih besar dari folder log server.
Aku turun.
Lantai delapan. Lantai tujuh.
Di belokan tangga antara lantai tujuh dan enam, aku berhenti.
Dia berdiri di bordes itu. Tempat yang sama di mana, satu tahun dan beberapa bulan lalu, dia berdiri dengan napas terengah setelah naik lima lantai dan mengatakan tujuh kata yang sudah dia latih empat tahun.
Dia memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung. Kacamata berbingkai tipis. Pulpen terselip di belakang telinga, yang tampaknya dia sendiri lupa.
Dan dia tidak sendirian.
Di bordes di atasnya, di tangga menuju lantai delapan yang baru saja kulewati, entah bagaimana tidak kulihat karena mereka bersembunyi di balik belokan, berdiri Eve dan Sheilla. Sheilla sudah menangis. Eve memegang ponsel, merekam.
Di bordes di bawahnya, di tangga menuju lantai lima, berdiri Dodi, dengan sebungkus Indomie di tangan karena dia tidak tahu harus memegang apa. Dan Mas Yudha, dengan tangan di saku dan wajah datar dan mata yang sangat sedikit lebih basah dari biasanya.
Dan di sebelah Mas Yudha, seorang perempuan berumur enam puluhan dengan kerudung abu-abu dan kacamata baca yang tergantung di leher dengan tali manik-manik.
Ibu.
Ibunya Andro, yang sekarang meneleponku setiap Minggu pagi untuk menanyakan apakah aku sudah sarapan dan mengoreksi tata bahasaku di grup WhatsApp keluarga yang entah kapan aku dimasukkan.
Dia melambai padaku dengan senyum yang sangat mirip anaknya.
Aku berdiri di belokan tangga dan tidak bisa bergerak.
“Kamu kirim tiket,” kataku.
“Kamu yang ngajarin,” kata Andro. “Tiket pertamamu. Empat tahun lalu, lima tahun sekarang. ‘Mohon jangan tanya apakah sudah coba restart.’”
“Tiket nggak bisa dikirim dari IT ke Legal.”
“Aku ubah sistemnya semalam.”
“Itu penyalahgunaan wewenang.”
“Mas Yudha udah setuju.”
Di bawah, Mas Yudha mengangguk sekali.
Aku turun satu anak tangga. Lalu satu lagi. Aku berhenti di anak tangga tepat di atasnya, sehingga mata kami sejajar. Persis seperti dulu.
“Setahun lalu,” kata Andro. Suaranya tenang. Suara yang dia pakai saat menjelaskan sesuatu yang sangat penting pada orang yang sedang panik. Tapi tangannya, yang aku lihat di sisi tubuhnya, sedikit gemetar. “Di sini. Aku bilang aku mau bikin kamu jatuh cinta sama aku.”
“Iya.”
“Terus di rooftop, aku bilang aku mau bikin kamu jatuh cinta tiap hari.”
“Iya.”
“Kamu bilang telat. Kamu udah duluan.”
“Aku masih duluan.”
Dia tersenyum. Senyum yang kecil. Yang hanya untukku.
Lalu dia berlutut.
Di bordes tangga darurat timur Tower Navara, antara lantai tujuh dan enam, di bawah lampu neon yang berdengung dan dinding abu-abu yang tidak pernah dicat ulang, Andro Kusuma Ardhana berlutut dengan satu kaki dan mengeluarkan kotak kecil dari saku kemejanya.
Di atasku, Sheilla terisak keras. Eve berbisik Shei, ssst, nanti rekamannya ada suaramu. Sheilla terisak lebih keras.
Andro membuka kotak itu.
Cincinnya sederhana. Emas putih tipis, dengan satu batu kecil di tengahnya. Bukan berlian. Batu hijau tua.
Warna gaun yang kupakai di brunch. Warna gaun yang kupakai saat menariknya ke tengah foto. Gaun yang ternyata milik Eve, yang sudah kukembalikan, yang Eve kembalikan lagi padaku sebagai hadiah ulang tahun dengan catatan lebih cocok di kamu.
“Felicia Aurelia Hartono,” katanya. “Kamu mau nikah sama aku?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku orang legal. Aku selalu membaca klausul sampai selesai sebelum menandatangani.
“Kalau aku bilang iya,” kataku pelan, “kamu berhenti ngejar aku?”
Dia menatapku dari bawah. Lalu dia berdiri, cincin masih di tangannya, dan mendekat. Sangat dekat. Sampai dia bisa berbisik di dekat telingaku tanpa ada orang lain yang mendengar, meskipun ada tujuh orang di tangga darurat itu yang berusaha sangat keras untuk mendengar.
“Nggak,” bisiknya. “Aku cuma pindah ngejarnya ke rumah. Dan di rumah nggak ada Pasal satu.”
Wajahku terbakar.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu di depan ibumu.”
“Ibu nggak dengar.”
“IBU DENGAR, LE,” kata Ibu dari bawah. “IBU CUMA PURA-PURA NGGAK DENGAR.”
Dodi menjatuhkan Indomie-nya.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa. Tertawa sampai mataku basah. Tertawa sampai aku tidak bisa membedakan apakah aku tertawa atau menangis, atau keduanya, seperti sambal yang kepedasan tapi tetap kamu ambil lagi karena nagih.
Lalu aku menurunkan tangan dan menatapnya.
“Andro.”
“Hm?”
“Empat tahun kamu bilang aku nggak pernah jadi bayangan. Buatmu.”
“Kamu nggak pernah.”
“Kamu juga nggak,” kataku. “Buatku. Nggak sekali pun. Di foto mana pun. Empat tahun aku lingkerin kamu pakai merah.” Suaraku pecah. “Kamu bukan bayangan. Kamu bukan ujung. Kamu rumah.”
Dia diam. Matanya basah di balik kacamata.
Aku mengulurkan tangan kiriku.
“Iya,” kataku. “Jawabannya iya. Tiketnya bisa ditutup.”
Dia memasangkan cincin itu di jariku. Tangannya gemetar. Butuh dua kali percobaan. Di percobaan pertama, cincinnya hampir jatuh, dan tujuh orang di tangga darurat itu menahan napas bersamaan.
Di percobaan kedua, cincinnya masuk.
Pas. Tentu saja pas. Dia sudah mengukur jariku. Aku tidak tahu kapan. Mungkin saat aku tidur di sofa dengan kepala di pangkuannya, menonton film Korea tentang hantu restoran ayam goreng. Mungkin saat dia memegang tanganku di lift. Mungkin empat tahun lalu, dari ujung kanan foto, dengan penggaris imajiner yang sama dengan yang kupakai.
Lalu dia menciumku. Di tangga darurat. Di depan sahabat-sahabatku dan junior IT dan manajernya dan ibunya.
Di atas, Sheilla menjerit. Eve tertawa sambil menangis. Di bawah, Dodi memungut Indomie-nya dan memeluknya ke dada seperti boneka. Mas Yudha menatap langit-langit dengan sangat serius. Ibu menepuk punggung Mas Yudha dan berkata, “Nak, kamu nangis?” dan Mas Yudha berkata, “Debu, Bu.”
Tiga bulan kemudian, HUT Navara Grup yang ke dua puluh delapan.
Sheilla masih panitia. Fotografernya masih ganteng, dan sekarang sudah tahu bahwa semua instruksi Sheilla harus dituruti dengan cepat, tanpa bertanya.
Pukul sebelas, dia naik ke tangga lipat.
“OKE, SEMUANYA!” teriak Sheilla lewat pengeras suara. “FOTO BERSAMA! TAHUN INI ADA ATURAN BARU!”
Tiga ratus orang menatapnya.
“TAHUN INI,” kata Sheilla, “NGGAK ADA UJUNG!”
Dia menunjuk lantai halaman lobby. Seseorang, mungkin tim Event, mungkin Dodi, sudah menggambar garis kapur putih di aspal. Bukan barisan lurus. Lengkungan. Setengah lingkaran yang lebar, seperti senyum yang sangat besar, menghadap kamera.
“BERDIRI DI GARIS!” teriak Sheilla. “SEMUANYA MELENGKUNG! JADI SEMUA ORANG BISA LIHAT SEMUA ORANG! NGGAK ADA YANG KEPOTONG! NGGAK ADA YANG DI PINGGIR!”
Pak Wirya bertanya apakah ini sesuai standar foto korporat. Sheilla bilang standar foto korporat sudah diperbarui oleh panitia. Pak Wirya tidak bertanya lagi.
Tiga ratus orang berdiri di garis kapur melengkung itu.
Eve di sebelah Ardi, yang datang sebagai tamu dan membawa buku catatan kertas. Sheilla di sebelah Bima, setelah turun dari tangga fotografer. Mbak Tari di sebelah Pak Hendro. Bu Sumi dan Raka, dengan sepatu putih yang baru, yang tahun ini kubelikan bersama Andro. Pak Udin, yang lututnya membaik setelah Andro memaksanya menemui dokter, yang ternyata Bima. Kirana, dengan sepatu kets putihnya, yang sekarang makan siang bersama kami setiap Kamis karena Sheilla bilang musuh yang sudah minta maaf harus dijadikan teman, biar hemat energi. Dodi, yang memegang papan klip Sheilla. Mas Yudha, yang istrinya datang kali ini, membawa kotak plastik biru.
Dan di tengah lengkungan, di titik yang paling dekat dengan kamera, aku dan Andro.
Dia memakai kemeja putih. Bersih. Tanpa debu. Tahun ini dia membawa cadangan.
Aku memakai gaun hijau tua. Dengan cincin batu hijau di jari manis kiri.
“Semuanya lihat kamera,” kata fotografer dari atas tangga. “Satu… dua…”
Aku tidak melihat kamera.
Aku menoleh ke kanan. Ke Andro.
Dia sudah menoleh ke kiri. Ke aku.
Tentu saja dia sudah menoleh. Lima tahun dia menoleh ke kiri.
Klik.
Di grup “Navara Ceria”, sore itu, Bu Ratna mengirim satu pesan.
Selamat sore, Bapak/Ibu. Info: foto HUT ke-28 sudah dikirim ke email masing-masing. Tahun ini tidak ada yang di ujung. Terima kasih.
P.S. Sekali lagi, selamat untuk Mas Andro dan Mbak Felicia. Undangannya ditunggu. HR siap jadi panitia. 🤍
Di bawahnya, satu balasan. Dari Sheilla.
PANITIANYA AKU, BU RATNA.
Lalu satu balasan lagi. Dari Pak Udin. Yang tidak pernah membalas apa pun di grup itu dalam dua belas tahun.
Penuh, Bu. Penuh sekali.
Tidak ada yang mengerti maksudnya.
Kecuali kami berdua.
TAMAT
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur reading