← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Ten

Lembur di Lantai Sembilan

POV: Andro

Migrasi sistem dokumen divisi legal dijadwalkan hari Jumat pukul tujuh malam, karena itu satu-satunya waktu ketika tidak ada orang yang membutuhkan kontrak.

Sistem lama mereka berumur sembilan tahun. Server di pojok ruang IT yang dipanggil Dodi “Mbah”, karena bunyinya seperti kakek-kakek batuk setiap kali dinyalakan. Empat puluh ribu dokumen. Kontrak, surat kuasa, perjanjian sewa, akta, dan satu folder misterius bernama JANGAN DIHAPUS PUNYA PAK HENDRO 2016 yang isinya, setelah kuperiksa, adalah foto-foto kucing.

Semuanya harus dipindahkan ke sistem baru dalam satu malam. Lalu seseorang dari legal harus memeriksa bahwa tidak ada satu dokumen pun yang hilang, rusak, atau tertukar nomornya.

Pak Hendro menunjuk Felicia untuk tugas itu. “Dia yang paling rapi,” katanya di email, yang ditembuskan ke Mas Yudha, yang meneruskannya kepadaku dengan satu kata: Semangat.

Aku tidak yakin itu soal migrasinya.


Dodi bertahan sampai pukul sembilan.

“Bang, saya pamit ya,” katanya, sudah memakai jaket. “Saya ada janji.”

“Janji sama siapa?”

“Sama kasur, Bang. Dia udah nunggu dari semalam.” Lalu dia mencondongkan badan dan berbisik, “Lagi pula, kalau saya di sini terus, saya jadi lalat. Saya nggak mau jadi lalat, Bang. Saya punya harga diri.”

“Dod.”

“Semangat, Bang. Project Ujung Foto fase dua.” Dia mengacungkan dua jempol, lalu kabur sebelum aku sempat melempar sesuatu.

Jadi tinggal kami berdua di lantai sembilan. Aku di meja kosong dekat jendela, dengan dua laptop dan kabel yang menjuntai ke ruang server lewat lantai. Felicia di mejanya sendiri, enam meter di sebelah kiri, dengan daftar periksa yang dicetak dan pulpen biru di tangan.

Lantai sembilan di malam hari berbeda. Lampunya separuh mati, hanya lampu di atas meja kami yang menyala. Di luar jendela, kota sudah berubah jadi titik-titik kuning dan merah. AC berdengung lebih keras karena tidak ada suara lain yang menutupinya.

“Batch pertama selesai,” kataku. “Lima ribu dokumen. Kontrak sewa tahun 2015 sampai 2017.”

“Oke.” Dia membuka sistem baru di laptopnya dan mulai memeriksa. Dia tidak memeriksa satu per satu, itu mustahil. Dia memilih sampel acak. Membuka kontrak, membaca nomornya, mencocokkannya dengan daftar cetak, lalu menggulir ke halaman terakhir untuk memastikan tanda tangannya masih ada.

Dia bekerja dengan cara yang sangat tenang. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Pulpennya mencentang daftar dengan garis yang sama setiap kali, rapi dan pendek.

Aku menyadari aku sudah menontonnya selama dua menit penuh tanpa menyentuh keyboard.

“Kamu nggak kerja,” katanya tanpa mengangkat kepala.

“Aku nungguin batch kedua.”

“Batch kedua belum jalan. Kamu belum klik apa-apa.”

Aku mengklik sesuatu. Batch kedua berjalan.


Pukul sepuluh lewat, perut kami berdua berbunyi hampir bersamaan.

Kami saling menatap dari jarak enam meter. Itu jenis keheningan yang canggung dan konyol sekaligus.

“Martabak?” tanyaku.

Dia diam sebentar. “Martabak apa?”

“Kamu yang pilih.”

“Manis.”

“Rasa?”

Dia menimbang. Lalu dia bilang sesuatu yang membuatku hampir tertawa. “Setengah keju, setengah cokelat.”

“Setengah.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Aku membuka aplikasi pesan antar. “Kamu suka yang setengah-setengah, ya.”

“Aku suka yang seimbang,” katanya dingin. “Itu beda.”

Martabaknya datang empat puluh menit kemudian. Pak Udin yang mengantarkannya ke lantai sembilan, karena kurirnya tidak boleh naik setelah jam sepuluh. Dia berdiri di pintu lift dengan kotak martabak di tangan, menatap kami berdua, satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan ruangan yang luas dan setengah gelap itu.

“Lembur, Mas? Mbak?”

“Iya, Pak. Migrasi sistem.”

“Oh. Migrasi.” Pak Udin mengangguk pelan. Dia meletakkan kotak martabak di meja yang tepat berada di tengah-tengah antara mejaku dan meja Felicia. “Saya taruh di tengah, ya. Biar adil.”

Lalu dia pergi. Lift menutup. Aku bersumpah aku melihat dia tersenyum sebelum pintunya rapat.

Felicia menatap kotak martabak di tengah ruangan. Lalu dia menatapku.

“Pak Udin tahu,” katanya.

“Pak Udin tahu semuanya.”

“Dia milih aku di polling.”

Aku berhenti. “Kamu lihat polling-nya?”

Dia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Wajahnya, di bawah lampu meja yang kuning, berubah sedikit lebih merah.

“Semua orang lihat polling-nya,” katanya cepat, lalu berdiri dan berjalan ke meja tengah untuk mengambil martabak, membelakangiku.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku tahu sesuatu sekarang, sesuatu yang membuat dadaku terasa ringan seperti server yang baru saja dibersihkan dari debu.

Dia membuka daftar pemilihnya. Dia melihat namaku.

Dan dia tidak bilang apa-apa selama tiga hari.


Kami makan martabak di meja tengah. Dia di satu sisi, aku di sisi lain. Kotak itu di antara kami seperti garis perbatasan.

Dia makan potongan cokelat dulu, lalu potongan keju, bergantian. Satu-satu.

“Kamu makannya diurutin,” kataku.

“Biar seimbang.”

“Kalau potongannya ganjil?”

“Potongan terakhir dibagi dua.”

“Kamu serius.”

“Aku orang legal.” Dia mengambil potongan keju. “Kami nggak suka ketidakseimbangan.”

Aku tertawa pelan. Dia tidak tertawa, tapi ujung bibirnya bergerak. Lalu dia bertanya, tanpa menatapku, dengan nada orang yang menanyakan cuaca:

“Waktu di tangga darurat. Pertama kali. Kamu dari mana?”

“Dari lantai dua.”

“Ruang IT di lantai dua. Kamu ketemu aku di antara lantai tujuh dan enam.” Dia menatapku sekarang. “Itu lima lantai.”

“Iya.”

“Kamu naik lima lantai lewat tangga?”

“Iya.”

“Kenapa nggak naik lift ke lantai sembilan aja, terus nungguin aku di pintu?”

“Karena kalau aku nunggu di pintu lantai sembilan, Mbak Tari bisa lihat. Terus kamu bakal kabur.” Aku mengambil potongan martabak, lalu meletakkannya lagi. “Jadi aku hitung kecepatan turunmu. Satu lantai empat puluh detik. Terus aku cari titik pertemuan yang paling jauh dari semua pintu. Ketemu di antara tujuh dan enam.”

Felicia menatapku dengan wajah yang sulit dijelaskan. Campuran antara ngeri dan sesuatu yang lain.

“Kamu ngitung kecepatan turunku.”

“Aku orang IT. Kami suka angka.”

“Terus?”

“Terus aku nggak ngitung napasku.” Aku menggosok tengkuk. Ini bagian yang memalukan, tapi aku sudah berjanji untuk tidak berbohong. “Aku sampai di bordes itu dua menit lebih cepat, dan aku ngos-ngosan kayak habis lari dikejar anjing. Jadi aku berdiri di sana dua menit, pegangan tangga, ngatur napas pelan-pelan, latihan bilang kalimatnya dalam hati biar nggak keluar sambil megap-megap. Terus kamu muncul, dan aku lupa semua latihannya, dan aku cuma ingat tujuh kata.”

Ruangan itu diam sebentar.

Lalu Felicia tertawa.

Bukan senyum kecil. Bukan dengusan. Tawa. Pendek, tiba-tiba, keluar dari tenggorokannya seperti sesuatu yang lolos dari kandang. Dia langsung menutup mulut dengan punggung tangan, matanya melebar, kaget sendiri dengan suaranya, tapi tawa itu sudah keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Bahunya bergetar. Dia menunduk, menahan, dan gagal.

Aku tidak bergerak. Aku tidak ingin melakukan apa pun yang bisa membuatnya berhenti.

Dia cantik sekali saat tertawa. Aku sudah tahu dia cantik. Seluruh gedung tahu. Tapi ini lain. Wajah yang selalu tenang dan datar itu tiba-tiba hidup, matanya menyipit, dan ada lesung tipis di sudut bibir kanannya yang belum pernah kulihat dalam empat tahun.

Akhirnya dia berhenti. Dia menurunkan tangan, menarik napas, dan menatapku dengan wajah yang berusaha keras kembali datar.

“Kamu ketawa,” kataku.

“Nggak.”

“Telat,” kataku. “Udah aku backup. Nggak bisa dihapus.”

Dia melemparku dengan tisu bekas martabak. Tisunya mendarat di dadaku, dan aku menangkapnya, dan dia memalingkan wajah ke jendela. Tapi di pantulan kaca jendela, aku bisa melihatnya. Dia masih tersenyum.


Pukul dua belas lewat sedikit, ponselnya bergetar.

Dia membacanya, lalu menunjukkan layarnya padaku tanpa berkata apa-apa. Grup bertiga mereka. Sheilla mengirim pesan suara empat puluh detik. Di bawahnya, ada teks:

Sheilla: FEL KAMU MASIH LEMBUR??? SAMA SIAPA??? Sheilla: mbak tari bilang kamu lembur migrasi sistem Sheilla: migrasi sistem itu kan IT Sheilla: IT itu kan… Sheilla: 👀👀👀

“Kamu mau balas apa?” tanyaku.

Dia mengetik. Lalu menunjukkan layarnya lagi.

Felicia: Sama sistem.

Aku tertawa. Dia menekan kirim.

Sheilla: SISTEMNYA GANTENG NGGAK Eve: Fel jangan pulang kemaleman ya. Hati-hati di jalan nanti. Udah makan? Felicia: Udah. Martabak. Sheilla: martabak berdua sama sistem 😭😭😭 romantis

Felicia meletakkan ponselnya terbalik di meja. Dia kembali ke daftar periksa, wajahnya datar lagi. Tapi ujung telinganya merah, dan aku sudah cukup lama mengamatinya untuk tahu apa artinya itu.


Batch terakhir selesai pukul satu lewat dua puluh.

Dan di batch terakhir itulah masalahnya muncul.

“Andro.” Felicia berdiri dari kursinya, membawa laptop, dan berjalan ke mejaku. Dia meletakkan laptopnya di sebelah laptopku dan menunjuk layar. “Nomor kontrak ini salah.”

Aku melihat. Di sistem baru, dokumen nomor NV-L/2019/0447 terbuka sebagai perjanjian sewa toko di Bekasi. Di daftar cetak Felicia, nomor yang sama seharusnya perjanjian kerja sama dengan vendor kebersihan.

“Satu aja?” tanyaku.

“Aku cek tiga sampel di sekitarnya. Semuanya geser satu.” Dia menggulir. “0447 isinya 0448. 0448 isinya 0449. Kayak ada yang loncat.”

Aku membuka log migrasi dan mencari. Ketemu dalam dua menit. Satu dokumen di sistem lama punya nama file dengan karakter aneh, tanda kutip ganda yang dimasukkan seseorang bertahun-tahun lalu, dan sistem baru membacanya sebagai dua dokumen. Semua dokumen setelahnya tergeser satu nomor ke bawah.

Dua ribu tiga ratus dokumen. Semuanya salah nomor.

Kalau tidak ketemu malam ini, hari Senin seseorang di divisi legal akan membuka kontrak vendor kebersihan dan menemukan perjanjian sewa toko. Lalu seseorang akan menandatangani adendum untuk dokumen yang salah. Lalu, berbulan-bulan kemudian, seseorang akan dituntut.

“Kamu nemuin ini dari sampel acak?” tanyaku.

“Aku ambil sampel di sekitar nomor yang angkanya bulat. Seratus, lima ratus, seribu. Kalau ada yang geser, biasanya kelihatan di sana.” Dia mengangkat bahu. “Kebiasaan dari audit.”

Aku menatapnya. Pukul satu dini hari, rambut yang ikatannya sudah longgar, mata yang sedikit merah karena lelah, dan otak yang masih cukup tajam untuk menemukan satu tanda kutip ganda di antara empat puluh ribu dokumen.

“Felicia.”

“Hm?”

“Kamu barusan nyelamatin divisi legal dari tuntutan hukum.”

“Belum. Kamu belum benerin.”

Dia benar. Aku membenarkannya. Menghapus dokumen hantu itu, menjalankan ulang penomoran untuk dua ribu tiga ratus dokumen, lalu menjalankan pemeriksaan otomatis untuk memastikan tidak ada yang geser lagi. Dia duduk di kursi di sebelahku selama itu, tanpa diminta, menatap layar yang sama denganku. Bahu kami tidak bersentuhan, tapi jaraknya tinggal satu kepalan tangan.

Pukul dua lewat empat belas, pemeriksaan selesai. Semua hijau.

Aku bersandar di kursi dan mengembuskan napas panjang. Di sebelahku, Felicia melakukan hal yang sama, dan kami berdua menatap layar yang penuh tanda centang hijau, terlalu lelah untuk bicara.

“Dua lewat empat belas,” katanya pelan.

“Hm.”

“Ada tiket aku yang dulu ditutup jam segini. Dua lewat empat belas.”

Aku diam.

Dia tidak melanjutkan. Dia tidak bertanya. Dia hanya menatap jam di pojok layar dengan wajah orang yang sedang menyimpan sesuatu di sudut kepalanya untuk dipikirkan nanti.


Kami turun lewat tangga darurat, karena Felicia bilang lift jam segini terasa seperti film horor.

Di basement, pukul dua lewat tiga puluh, mobilnya satu-satunya yang tersisa di lantai parkir itu, selain motor Pak Udin.

Dia berhenti di samping mobil, menekan kunci, dan menoleh padaku.

“Kamu pulang naik apa?”

“Ojek online.”

“Jam segini?”

“Biasanya ada.”

Dia menatapku. Lalu menatap ponselnya, yang menunjukkan jam. Lalu menatap pintu samping gedung, gelap dan kosong.

“Rumahmu di mana?”

“Tebet.”

“Aku lewat Tebet.”

Aku tahu dia tidak lewat Tebet. Apartemennya di Kemang. Tebet itu belok kiri, Kemang belok kanan. Aku tahu, tapi aku tidak bilang apa-apa, karena dia orang legal, dan dia baru saja memilih kata kerja dengan sangat hati-hati.

“Oke,” kataku.

Kami menyetir dalam diam. Radio tidak menyala. Jalanan Jakarta pukul dua dini hari kosong dan oranye di bawah lampu jalan. Dia menyetir dengan dua tangan di setir, pandangan lurus ke depan, persis seperti dia melakukan segalanya: rapi dan tepat.

Di depan gang rumahku, dia berhenti.

“Makasih,” kataku. “Udah nganter.”

“Makasih,” katanya. “Udah nemenin.”

Aku membuka pintu. Lalu aku berhenti, satu kaki sudah di aspal.

“Felicia.”

“Hm?”

“Ketawamu bagus.”

Dia tidak menjawab. Dia menatap lurus ke depan, ke gang yang gelap, dan kedua tangannya mengencang di setir.

Aku turun dan menutup pintu. Mobilnya tidak langsung pergi. Mobil itu diam di sana selama lima detik, mesinnya berdengung pelan, sebelum akhirnya bergerak dan menghilang di ujung jalan.

Ke kanan. Arah Kemang.

Aku berdiri di depan gang sampai lampu belakangnya tidak kelihatan lagi. Lalu aku berjalan pulang dan membuka pintu rumah dengan sangat pelan, karena ibuku tidur ringan, dan aku tidak mau menjelaskan kenapa anaknya yang berumur tiga puluh satu tahun pulang pukul tiga pagi sambil tersenyum seperti anak SMA.