Chapter Seven
Klasemen Tebak-Tebakan
POV: Felicia
Bu Ratna membuka polling pada hari Senin pukul tujuh lewat lima belas pagi, sebelum sebagian besar karyawan Navara Grup sempat minum kopi.
Selamat pagi, Bapak/Ibu. Dalam rangka meningkatkan semangat kerja di awal minggu, HR mengadakan survei tidak resmi. Mohon diisi dengan jujur. Terima kasih.
Di bawahnya, fitur polling WhatsApp:
Mas Andro (IT) naksir siapa? ○ Mbak Eve (Comm) ○ Mbak Sheilla (Marketing) ○ Mbak Felicia (Legal) ○ Bukan salah satu dari 3 Goddess ○ Saya mau Mas Andro naksir saya
Aku membaca pesan itu di dalam mobil, di parkiran basement, sebelum mematikan mesin. Aku membacanya dua kali. Lalu aku menyandarkan kepala di setir dan menghitung sampai sepuluh.
Saat aku mengangkat kepala, polling itu sudah punya empat puluh tiga suara.
Pukul sembilan, angkanya jadi seratus delapan belas.
Pukul sepuluh, dua ratus tiga.
Pukul sebelas, Sheilla membuat klasemen.
“Oke, oke, oke.” Dia menggelar laptopnya di meja rooftop seperti jenderal menggelar peta perang. Di layar ada tabel Excel dengan warna-warni yang tidak perlu, judulnya ditulis dengan huruf besar: KLASEMEN LIGA HATI MAS ANDRO. “Ini data terbaru per jam sebelas lewat dua puluh. Eve, enam puluh satu persen. Aku, tiga puluh tujuh persen. Bukan salah satu dari kita, nol koma lima persen. Yang mau ditaksir Mas Andro, nol koma lima persen, dan itu suaranya Bu Ratna sendiri.”
“Bu Ratna milih opsi itu?” tanya Eve, setengah tertawa, setengah ngeri.
“Bu Ratna itu jujur, Eve. Kita harus menghormati itu.”
“Terus Felicia?” tanya Eve.
Sheilla melirik layarnya. Lalu melirikku. Lalu menatapku dengan wajah iba yang dibuat-buat.
“Felicia satu persen.”
“Satu persen,” ulangku.
“Dua suara dari dua ratus tiga. Tapi jangan sedih!” Sheilla buru-buru menepuk tanganku. “Itu artinya ada dua orang di gedung ini yang lihat kamu. Dua orang itu banyak, Fel. Itu bisa jadi satu tim tenis ganda.”
Aku menyesap cokelatku. Gelas kertas dengan tulisan spidol miring di sisinya. Cokelat panas, gula setengah. Hari ini dia datang lagi, pukul satu lewat dua puluh, meletakkan nampan, mengangguk, dan pergi. Teh melati untuk Eve, caramel macchiato untuk Sheilla. Rutinitas ini sudah berjalan tujuh hari kerja, dan tujuh hari kerja itu cukup bagi seluruh lantai dua belas untuk mulai menoleh setiap kali pintu tangga terbuka pukul satu lewat dua puluh.
“Aku nggak sedih,” kataku.
“Kamu minum. Kamu selalu minum kalau…”
“Kalau aku haus, Shei.”
Eve tertawa kecil. Dia mengaduk teh melatinya dengan sendok plastik, pelan-pelan, dan menatap angka enam puluh satu persen itu di layar Sheilla dengan ekspresi yang sulit kubaca.
“Ini kan cuma polling iseng,” kata Eve. “Bu Ratna memang suka begitu.”
“Polling iseng yang diikuti dua ratus tiga orang dalam empat jam,” kata Sheilla. “Itu lebih banyak dari pemilihan ketua koperasi tahun lalu.”
“Itu karena ketua koperasinya calon tunggal.”
“Tetap aja, Eve. Ini data. Data nggak bohong.” Sheilla menutup laptopnya dengan dramatis. “Tapi data juga bisa berubah. Liga belum selesai. Masih ada putaran kedua.”
“Putaran kedua?” tanyaku.
Sheilla tersenyum. Itu senyum yang sama dengan senyum yang dia pakai sebelum tes suara imut minggu lalu, dan aku belajar untuk mengkhawatirkannya.
“Mulai hari ini,” katanya, “aku nggak mau kalah tanpa perlawanan.”
Perlawanan Sheilla ternyata berbentuk bolu pandan.
Dia membawanya sendiri ke lantai dua pukul tiga sore, dalam kotak plastik berpita pink, dan meletakkannya di meja Andro dengan kartu kecil bertuliskan Buat Mas Andro yang udah benerin layar LED aku. Peluncurannya sukses!!! 🎀 —Sheilla.
Aku tahu karena Dodi memotretnya dan mengirimnya ke Sheilla dengan keterangan sudah diterima komandan, dan Sheilla mengirim foto itu ke grup “Goddess Only 🔒” dengan empat belas emoji hati.
Perlawanan Eve, kalau bisa disebut perlawanan, jauh lebih halus.
Eve tidak membawa bolu. Eve tidak mengirim kartu. Tapi besok paginya, saat kami bertiga masuk lobby, Andro kebetulan berdiri di depan lift sedang bicara dengan Pak Udin, dan Eve kebetulan berhenti untuk menyapa.
“Pagi, Andro.”
“Pagi, Eve.”
“Makasih ya, tehnya kemarin. Kamu tahu nggak, teh melati itu sebenarnya favorit almarhumah nenekku. Dulu nenekku selalu bikin tiap sore.” Eve tersenyum. “Jadi tiap minum itu aku jadi ingat beliau.”
Itu bukan kalimat untuk merayu. Itu kalimat yang jujur, dan karena itu jauh lebih berbahaya. Eve tidak tahu caranya merayu. Eve hanya tahu caranya membuat orang merasa dekat.
Andro mendengarkan dengan serius. “Nenekmu pasti orang yang sabar,” katanya. “Teh melati nggak bisa diseduh buru-buru.”
Mata Eve berkaca-kaca sedikit. “Iya. Beliau sabar banget.”
Lift terbuka. Kami masuk. Andro tidak ikut, karena dia mau ke ruang panel di belakang lobby.
Di dalam lift, Sheilla berbisik keras ke telingaku, cukup keras untuk didengar setengah isi lift. “Fel. Itu barusan skor dua kosong buat Eve.”
“Ini bukan pertandingan, Shei.”
“Semua hal adalah pertandingan, Fel. Hidup adalah pertandingan.”
Laki-laki di sebelah kami, dari divisi keuangan, mengangguk setuju dengan sangat khusyuk.
Eve berdiri di depan kami, menatap angka lantai yang naik, dan tidak berkata apa-apa. Tapi aku bisa melihat bayangannya di dinding lift yang mengilap. Dia tersenyum kecil. Senyum orang yang sedang menyimpan sesuatu yang hangat di dalam saku.
Dan aku, di belakangnya, sahabatnya selama sepuluh tahun, memegang rahasia yang bisa memadamkan senyum itu.
Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Campuran yang tidak bisa kupisahkan dengan rapi. Ada rasa bersalah, jelas. Ada geli, karena Sheilla dan bolu pandannya. Ada kesal, karena kenapa harus aku yang ada di tengah semua ini, padahal aku tidak pernah minta.
Dan ada satu hal lagi. Hal kecil yang tidak mau kuberi nama.
Rasanya seperti bangga.
Bangga karena dari semua orang di lift ini, di gedung ini, di polling dengan dua ratus tiga suara ini, hanya aku yang tahu ke mana sebenarnya tiga gelas minuman itu ditujukan.
Aku langsung membenci perasaan itu. Aku mengubur perasaan itu di bawah tumpukan lampiran kontrak dan tidak menggalinya lagi sepanjang pagi.
Bu Ratna tidak puas hanya dengan polling.
Hari Rabu, pukul sepuluh pagi, dia turun sendiri ke pantry lantai dua dengan alasan “inspeksi kebersihan dispenser”. Aku tahu karena Mbak Tari menceritakannya dengan detail luar biasa saat makan siang, dan Mbak Tari tahu dari Mbak Rina di resepsionis, yang tahu dari Dodi, yang menyaksikan semuanya sambil makan Indomie.
Menurut versi Mbak Tari, kejadiannya seperti ini.
Bu Ratna masuk pantry. Andro sedang mengisi botol minum. Bu Ratna berdiri di sebelahnya, mengisi gelas plastik yang tidak dia minum.
“Mas Andro,” kata Bu Ratna, dengan nada ibu-ibu pengajian yang sedang menanyakan kabar keluarga. “Saya mau nanya, boleh?”
“Boleh, Bu.”
“Mas Andro sudah lihat polling di grup?”
“Sudah, Bu.”
“Terus? Jawabannya yang mana?”
Seluruh pantry diam. Dodi berhenti mengunyah.
Andro menutup botolnya. Dia tersenyum ke Bu Ratna, senyum yang dia berikan ke semua orang.
“Ada, Bu,” katanya. “Orangnya ada. Tapi orangnya belum mau.”
Lalu dia pergi.
Bu Ratna, menurut Mbak Tari, berdiri di pantry itu selama dua menit penuh, menatap gelas plastiknya, sebelum berlari ke lift dan mengetik di grup dengan jempol yang gemetar.
Selamat siang, Bapak/Ibu. UPDATE PENTING: Mas Andro KONFIRMASI ada yang ditaksir. Kutipan langsung: “Orangnya ada. Tapi orangnya belum mau.” Polling dibuka kembali. Terima kasih.
“Belum mau,” ulang Sheilla untuk kesembilan kalinya. Dia sudah membuka laptopnya lagi di rooftop, menatap klasemen dengan wajah peneliti yang baru menemukan virus baru. “Belum. Mau. Itu artinya ceweknya belum kasih sinyal.”
“Atau ceweknya nggak tahu,” kata Eve pelan.
“Atau ceweknya tahu tapi pura-pura nggak tahu,” kata Sheilla, “biar keliatan jual mahal.”
Aku tersedak cokelatku.
Eve menepuk punggungku. “Pelan-pelan, Fel.”
“Panas,” kataku.
“Kamu minum cokelat itu tiap hari dan nggak pernah kepanasan,” kata Sheilla curiga.
“Hari ini panasnya beda.”
Sheilla menatapku dua detik terlalu lama. Lalu dia kembali ke laptopnya, mengetik sesuatu, dan berkata dengan nada analis olahraga.
“Oke, analisis. Siapa yang paling mungkin ‘belum mau’? Eve, kamu kan baik ke dia, kamu ngobrol soal nenekmu, kamu nggak pernah nolak dia. Jadi bukan kamu yang ‘belum mau’. Aku juga udah kasih bolu. Jelas aku mau.” Dia mengetuk meja dengan pulpen. “Jadi kesimpulannya cuma satu.”
Eve dan aku menunggu.
“Dia naksir orang di luar gedung,” kata Sheilla dengan yakin. “Pasti cewek di gym-nya. Atau mantannya. Atau barista lantai dasar!”
“Barista lantai dasar itu laki-laki, Shei,” kata Eve.
“Cinta nggak kenal gender, Eve.”
Aku menatap ke luar, ke jalan protokol di bawah sana yang tidak pernah berhenti bergerak. Aku memikirkan pantry lantai dua, dan Bu Ratna dengan gelas plastiknya, dan kalimat yang Andro ucapkan di depan semua orang tanpa menyebut satu nama pun.
Orangnya ada. Tapi orangnya belum mau.
Dia tidak berbohong. Dia juga tidak membuka apa pun. Dia memilih kata dengan sangat hati-hati, seperti orang legal.
Atau seperti orang yang menghormati keputusan seseorang untuk belum mau.
Eve meneleponku pukul delapan malam.
Eve jarang menelepon. Eve lebih suka mengirim pesan panjang dengan tanda baca yang rapi, karena menurutnya telepon itu “mengganggu orang yang mungkin sedang istirahat”. Jadi waktu namanya muncul di layar, aku langsung duduk tegak di sofa.
“Fel. Kamu lagi sibuk?”
“Nggak. Kenapa? Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.” Dia tertawa kecil, tapi tawanya canggung. “Aku cuma mau nanya sesuatu. Tapi kamu jangan ketawa.”
“Aku jarang ketawa.”
“Itu yang bikin aku takut. Kalau kamu ketawa, berarti lucunya parah banget.”
Aku menunggu. Di ujung sana, aku mendengar bunyi sendok beradu dengan cangkir. Teh melati, mungkin. Eve selalu membuat teh kalau sedang gelisah.
“Fel,” katanya akhirnya. “Kalau… kalau misalnya aku suka sama Andro. Kamu keberatan nggak?”
Ruang tamuku tiba-tiba terasa sangat sunyi.
“Kenapa aku harus keberatan?” tanyaku. Suaraku terdengar normal. Aku memastikannya.
“Nggak tahu. Soalnya kamu kenal dia lebih lama. Dia yang selalu benerin tiket kamu, kan? Aku kira mungkin kalian temenan.” Dia diam sebentar. “Dan soalnya Sheilla juga suka. Aku nggak mau kita jadi aneh gara-gara cowok. Kita udah sepuluh tahun, Fel. Nggak ada cowok yang lebih penting dari itu.”
“Iya,” kataku. “Nggak ada.”
“Aku juga belum yakin, sih.” Eve menghela napas. “Aku cuma… dia beda, Fel. Semua cowok yang pernah deketin aku itu ngomongin wajahku. Rambutku. Bajuku. Dia malah nanya soal nenekku. Dia bilang nenekku pasti orang sabar.” Suaranya melembut. “Belum pernah ada yang ngomong begitu ke aku.”
Aku memejamkan mata.
Aku ingin bilang, Eve, dia baik ke semua orang. Kamu lihat sendiri di lobby, dia bantu Pak Udin, dia bantu Bu Sumi, dia bantu kucing GA. Aku ingin bilang, dia nggak naksir kamu. Aku ingin bilang semuanya.
Tapi itu bukan rahasiaku untuk diceritakan. Dan aku belum tahu apakah itu rahasia sama sekali. Mungkin besok Andro bosan. Mungkin minggu depan dia sadar telah salah memilih. Lalu aku sudah menghancurkan sesuatu yang membuat Eve tersenyum seperti ini, untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi.
“Kamu nggak perlu izin aku buat suka sama siapa pun, Eve,” kataku akhirnya.
“Aku tahu. Tapi aku mau dengar dari kamu.”
“Aku nggak keberatan.” Kata-kata itu terasa seperti kerikil di lidah. “Asal kamu nggak sedih.”
“Makasih, Fel.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Kamu memang paling bisa diandalkan. Udah, aku tidur dulu. Jangan begadang baca kontrak.”
Dia menutup telepon. Aku duduk di sofa dengan ponsel di pangkuan, dan untuk pertama kalinya aku membenci betapa pandainya aku memilih kata kerja dengan hati-hati.
Aku membuka polling itu lagi pukul sembilan malam, di sofa apartemenku, dengan lampu yang hanya menyala setengah.
Aku tidak berniat melihat apa-apa. Aku hanya ingin tahu berapa suara totalnya sekarang, karena aku penasaran seberapa jauh Bu Ratna akan membawa ini.
Dua ratus delapan puluh tujuh suara. Eve, lima puluh delapan persen. Sheilla, tiga puluh tiga persen. Bukan salah satu dari kami, tujuh persen, naik drastis setelah “teori barista” Sheilla bocor ke grup. Opsi Bu Ratna, satu suara.
Aku, masih satu persen.
Di WhatsApp, kamu bisa menekan setiap opsi polling dan melihat siapa saja yang memilihnya. Tidak ada yang melakukan itu untuk opsi yang hanya punya beberapa suara. Tidak ada yang peduli siapa yang memilih opsi yang kalah.
Aku menekannya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku orang legal, dan orang legal selalu membaca catatan kaki.
Mbak Felicia (Legal) — 3 suara.
Tiga. Bukan dua. Sheilla salah hitung, atau ada yang menambahkan suara setelahnya.
Nama pertama: Dodi IT.
Aku mengerutkan kening. Lalu aku mengerti, dan aku menutup mulut dengan tangan. Tentu saja Dodi tahu. Dodi selalu ada di mana-mana.
Nama kedua: Pak Udin Satpam.
Aku menatap nama itu lama. Pak Udin, yang lututnya sakit dan tidak pernah naik tangga. Pak Udin, yang sudah dua belas tahun duduk di pos yang menghadap pintu tangga darurat dan pintu lift. Pak Udin, yang melihat segalanya dan tidak pernah bilang apa-apa.
Nama ketiga ada di paling bawah. Ditambahkan pukul enam lewat empat puluh dua sore tadi, satu jam setelah aku turun lewat tangga darurat, di hari ketika aku bilang aku akan naik lift.
Andro IT.
Aku duduk di sofa itu lama sekali.
Di grup “Navara Ceria”, seseorang sedang mengirim stiker kucing berjoget. Di grup “Goddess Only 🔒”, Sheilla sedang mengirim tangkapan layar klasemen dengan tulisan JANGAN MENYERAH EVE, AKU JUGA NGGAK dan Eve membalas dengan emoji tertawa.
Dua ratus delapan puluh tujuh orang sedang menebak. Dan jawabannya ada di sana, di depan semua orang, dengan nama lengkap dan jam yang tercatat rapi. Siapa pun bisa melihatnya kalau mereka mau repot menekan opsi yang kalah.
Tapi tidak ada yang menekan opsi yang kalah.
Kecuali aku.
Aku menutup ponsel dan meletakkannya terbalik di atas meja. Lalu aku menatap langit-langit apartemenku, dan aku menyadari bahwa wajahku terasa hangat, dan bahwa aku sedang tersenyum.
Senyum kecil. Yang tidak bisa diklaim dua kali.
Lalu aku teringat suara Eve di telepon satu jam yang lalu, lembut dan penuh harap, dan senyum itu pelan-pelan turun dari wajahku.
Tapi tidak hilang sepenuhnya. Itu yang membuatku takut.
Tidak ada yang melihatnya. Untuk sekarang, itu yang paling penting.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan reading
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur