← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirteen

Kenapa Bukan Eve?

POV: Felicia

Sup yang dibawa Eve adalah sup ayam jahe, dan film yang dibawa Sheilla adalah film Korea tentang dua orang yang saling mencintai tapi salah satunya kehilangan ingatan setiap kali turun hujan.

“Ini terapi,” kata Sheilla, menyalakan televisiku, menempelkan masker wajah berwarna hijau ke pipinya, lalu menempelkan satu lagi ke pipiku tanpa bertanya. “Kamu harus nangis, Fel. Kamu udah dua tahun nggak nangis. Itu nggak sehat. Air matamu bisa mengkristal.”

“Air mata nggak bisa mengkristal.”

“Punyamu bisa. Kamu kan Felicia.”

Eve duduk di sofa sebelahku dengan mangkuk sup di pangkuan, kakinya dilipat, rambutnya diikat cepol berantakan. Tanpa riasan, dengan masker hijau di wajah dan kaus kebesaran milikku yang dia pinjam, Eve tetap kelihatan seperti seseorang yang bisa menghentikan lalu lintas. Itu tidak adil, tapi aku sudah lama berdamai dengan ketidakadilan itu.

Film dimulai. Hujan pertama turun di menit kedua belas. Sheilla sudah menangis di menit keempat belas.

Di menit kedua puluh, saat tokoh perempuannya lupa nama tokoh laki-lakinya untuk pertama kali, Eve meletakkan mangkuknya.

“Guys,” katanya pelan. “Aku tadi ngajak Andro makan malam.”

Sheilla menoleh dengan masker hijau dan mata basah. “HAH?”

“Sabtu. Buat bayar utang traktiran yang waktu presentasi Hoshino.”

“Terus dia bilang apa?”

“Dia bilang ‘aku kabarin nanti’.” Eve tersenyum kecil. “Itu bukan ‘nggak’, kan?”

“Itu bukan ‘nggak’,” Sheilla setuju dengan semangat yang mengagumkan untuk seseorang yang baru saja kehilangan posisi di klasemen. “Itu ‘iya’ versi cowok pemalu! Ya ampun, Eve! Kamu nyerang duluan! Kamu berani banget!”

“Aku nggak nyerang. Aku cuma… ngajak makan.”

“Ngajak makan itu nyerang, Eve. Dalam bahasa cinta, ngajak makan itu artileri berat.”

Eve tertawa dan menutup wajahnya, lupa bahwa wajahnya penuh masker. Tangannya jadi hijau. Sheilla tertawa sampai tersedak. Dan aku duduk di antara mereka, dengan mangkuk sup yang sudah dingin, menatap layar televisi tempat seorang laki-laki berdiri di bawah hujan dan memperkenalkan dirinya untuk kesekian kalinya pada perempuan yang terus lupa.

“Shei,” kataku. “Kamu nggak sedih? Eve kan… kamu juga suka dia.”

Sheilla berhenti tertawa. Dia memikirkannya sebentar, masker hijaunya mulai mengering di sudut-sudut.

“Sedih dikit,” akunya. “Tapi aku lebih seneng kalau Eve yang dapat, daripada cewek lain. Kalau cewek lain, aku harus benci dia. Kalau Eve, aku nggak bisa benci. Jadi lebih hemat energi.”

Eve memeluk Sheilla dari samping, masker hijau ke masker hijau. “Kamu baik banget, Shei.”

“Aku tahu. Aku juga tetap cantik.”

Mereka berdua tertawa lagi. Lalu mereka berdua menatapku.

“Fel,” kata Eve. “Kamu kok diem?”

“Aku nonton film.”

“Kamu nggak nonton. Kamu lihat ke mangkuk dari tadi.”

“Supnya enak.”

“Supnya udah dingin, Fel.”

Aku menatap mangkukku. Memang sudah dingin. Lapisan minyak tipis sudah membeku di permukaannya.

“Aku capek,” kataku, dan itu bukan bohong. “Minggu ini panjang.”

Eve menatapku lama dengan mata lembutnya. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku, dan Sheilla menyandarkan kepalanya di bahu Eve, dan kami bertiga duduk berjejer di sofa seperti tiga botol di rak, menonton laki-laki di bawah hujan itu memperkenalkan dirinya lagi.

Di menit ketujuh puluh dua, tokoh perempuannya akhirnya ingat. Dia tidak ingat namanya. Dia hanya ingat bahwa laki-laki itu selalu membawa payung kuning, dan bahwa setiap kali payung kuning itu muncul, dadanya terasa hangat tanpa tahu kenapa.

Sheilla menangis keras sekali. Eve menangis pelan.

Aku tidak menangis. Tapi aku memegang mangkuk dingin itu erat-erat sampai jari-jariku pegal.


Senin pukul lima lewat delapan, aku keluar ke tangga darurat.

Dia ada di sana. Di bordes antara lantai sembilan dan delapan, bersandar di dinding, kotak peralatan di kakinya.

Aku tidak turun. Aku berdiri di anak tangga paling atas, dekat pintu, dan menatapnya dari sana.

“Eve ngajak kamu makan malam,” kataku.

“Iya.”

“Kamu belum jawab.”

“Belum.”

“Kenapa?”

Dia menatapku. “Karena aku mau ngomong sama kamu dulu.”

Aku turun satu anak tangga. Lalu satu lagi. Aku berhenti tiga anak tangga di atasnya, dan aku memegang pegangan tangga dengan kedua tangan, seperti memegang pagar balkon yang terlalu tinggi.

“Kenapa bukan Eve?”

Pertanyaan itu keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Suaraku bergema di dinding abu-abu dan kembali padaku, terdengar seperti suara orang lain.

“Eve cantik,” lanjutku. “Lebih cantik dari aku. Semua orang tahu. Dia baik, jauh lebih baik dari aku. Dia ngambilin makan buat orang lain. Dia nyetir ke Bogor buat orang yang ayahnya meninggal. Dia ingat ulang tahun semua orang di lantai sepuluh.” Aku berhenti, karena kalimat berikutnya terasa tajam di tenggorokan. “Hampir semua orang. Dia suka kamu. Dia ngajak kamu makan. Dia nggak pernah ngajak siapa pun makan duluan. Dan kamu cowok yang baik, yang langka, yang kata Eve harusnya dilindungi undang-undang. Kalian cocok. Semua orang di gedung ini bakal bilang kalian cocok.”

Aku menarik napas.

“Jadi kenapa bukan Eve, Andro? Kenapa harus aku? Aku nggak ngerti. Aku beneran nggak ngerti.”

Dia tidak langsung menjawab.

Dia naik satu anak tangga, sehingga hanya ada dua anak tangga di antara kami. Lalu dia berhenti di sana, karena dia selalu berhenti sebelum terlalu dekat.

“Empat tahun lalu,” katanya. “HUT Navara yang ke dua puluh tiga. Kamu datang telat. Rambutmu basah karena gerimis. Kamu berdiri di ujung kiri.”

Aku diam.

“Terus ada anak kecil lari di depan barisan. Anaknya Bu Sumi. Dia jatuh di depan kamu. Semua orang ketawa, fotografer marah, dan kamu berlutut. Kamu bersihin lututnya pakai saputangan. Terus kamu kasih dia permen cokelat dari tasmu, yang kecil, yang bungkusnya merah.”

Tanganku di pegangan tangga mulai terasa dingin.

“Anak itu berhenti nangis. Terus kamu senyum.” Suaranya turun. “Sebentar banget. Kamu nggak senyum ke kamera, beberapa detik kemudian. Tapi ke anak itu kamu senyum.”

“Kamu… lihat itu?”

“Aku di ujung kanan. Aku baru keluar dari bawah panggung, habis benerin kabel sound system. Bajuku penuh debu. Aku lihat ke kiri karena aku pengin tahu siapa yang berdiri di ujung yang satunya.” Dia tersenyum kecil. “Dan aku lihat orang yang nolongin anak kecil waktu semua kamera lagi dipasang, terus berdiri tegak lagi kayak nggak terjadi apa-apa. Orang yang nggak butuh dilihat siapa pun buat jadi baik.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kamu tanya kenapa bukan Eve,” lanjutnya. “Eve orang baik. Aku tahu. Tapi aku nggak pernah berdiri di ujung kanan foto dan lihat ke tengah. Aku selalu lihat ke kiri. Empat tahun. Karena dari semua orang di gedung ini, kamu satu-satunya yang aku pengin tahu lebih banyak. Kamu yang turun tangga darurat karena nggak suka lift penuh. Kamu yang nulis ‘mohon jangan tanya apakah sudah coba restart’ di tiket pertamamu. Kamu yang nggak suka mayones, yang makan martabak diurutin biar seimbang, yang milih kata kerja dengan hati-hati, yang nyimpen semua hal di catatan kaki karena kamu pikir nggak ada yang bakal baca.”

Dia berhenti. Lalu dia mengatakannya dengan sangat sederhana, seperti membaca angka dari layar.

“Aku baca, Felicia. Aku selalu baca catatan kakimu.”


Aku tidak tahu kapan air mataku mulai jatuh.

Aku hanya tahu tiba-tiba pipiku basah, dan pandanganku kabur, dan tangga darurat yang abu-abu itu berubah jadi lukisan cat air. Aku tidak terisak. Aku tidak pernah terisak. Air mata itu hanya keluar, diam-diam, seperti air yang merembes dari dinding yang sudah terlalu lama menahan hujan.

“Maaf,” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Aku nggak biasa…”

“Nggak apa-apa.”

“Sheilla bilang air mataku bisa mengkristal.”

“Belum mengkristal, kok. Masih cair.”

Aku tertawa. Tawa yang basah dan jelek, tapi tawa.

Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu. Selembar kain kecil berwarna abu-abu, dilipat rapi. Dia menyodorkannya padaku dari jarak dua anak tangga.

“Ini kain lap kacamata,” katanya. “Bersih. Kemarin dicuci. Aku nggak bawa tisu.”

Aku menerimanya. Kain itu lembut dan sedikit berbau sabun. Aku menekannya ke mataku, satu, lalu yang lain.

“Kamu tahu,” kataku dari balik kain itu, karena kalau aku tidak menutup wajah, aku tidak akan sanggup mengatakannya, “waktu kuliah, ada kakak tingkat yang kasih aku cokelat setiap Senin. Tiga bulan. Setiap Senin. Aku pikir… aku pikir akhirnya ada yang lihat aku. Terus di bulan keempat dia minta nomor Sheilla.”

Andro diam.

“Terus ada yang ngajak aku nonton. Dua kali. Di nonton yang ketiga, dia bawa temannya. Temannya naksir Eve, dan dia cuma mau aku ngatur supaya kami bisa nonton berempat.” Aku menurunkan kain itu. “Terus ada yang di lift. Dua tahun lalu. Dia ngajak aku ngobrol enam lantai, ramah banget, nanya aku suka apa, nanya kerjaanku gimana. Aku sempat mikir… aku sempat mikir. Terus di lantai sembilan, sebelum pintunya buka, dia nanya Sheilla suka bunga apa.”

“Matahari,” kata Andro pelan.

Aku membeku.

“Kamu jawab matahari,” lanjutnya. “Terus kamu keluar. Dan mukamu nggak berubah sama sekali. Kayak orang yang udah terlalu sering terima paket salah alamat.”

“Kamu… di lift itu?”

“Di pojok belakang. Kamu nggak lihat aku. Nggak ada yang lihat aku. Aku cuma tukang IT yang bawa kotak kabel.” Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak tenang. Sesuatu yang lebih mirip luka. “Hari itu aku janji ke diri sendiri, aku nggak mau jadi laki-laki di lift itu. Jadi aku nggak deketin kamu sama sekali. Dua tahun. Karena aku takut kalau aku deketin kamu, kamu bakal nunggu aku nanya soal Eve. Atau Sheilla. Dan aku nggak mau kamu nunggu kalimat itu dari aku.”

Tangga darurat sunyi. Hanya ada dengung lampu dan napasku yang belum teratur.

“Aku nggak akan pernah nanya soal mereka,” katanya. “Bukan karena mereka nggak penting. Mereka sahabatmu, jadi mereka penting buat aku. Tapi aku nggak naik lima lantai buat mereka.”

Aku memegang kain lap kacamata itu di kedua tangan. Lalu aku melipatnya, pelan-pelan, persis seperti lipatan awalnya. Rapi. Seimbang.

“Terus Eve gimana?” tanyaku.

“Aku mau datang ke makan malamnya.”

Dadaku mengencang.

“Aku nggak mau Eve nunggu jawaban yang nggak pernah datang,” lanjutnya, sebelum aku sempat salah paham. “Dia orang baik. Orang baik nggak pantas digantung. Aku mau datang, aku mau bayar makanannya, dan aku mau bilang ke dia dengan jujur bahwa aku suka seseorang. Udah lama.”

“Kamu bakal bilang itu aku?”

“Nggak. Itu bukan hakku. Itu hakmu. Kalau kamu mau mereka tahu, kamu yang bilang. Kalau kamu belum mau, aku nggak akan bilang ke siapa pun.” Dia berhenti. “Tapi aku juga nggak akan bohong ke Eve. Aku bakal bilang aku suka seseorang. Cuma itu.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang naik lima lantai dan ngos-ngosan. Laki-laki yang marah dalam bentuk map lima belas halaman dengan daftar isi. Laki-laki yang menolak menjadi jembatan, dan sekarang menolak menyebrangi jembatan yang dibangun sahabatku dengan begitu tulus.

“Kalau Eve sedih?” tanyaku.

“Dia mungkin sedih. Sebentar.” Dia mengangkat bahu, pelan. “Tapi lebih baik sedih sebentar karena jujur, daripada senang lama karena salah paham.”

Aku mengulurkan kain lap kacamata itu kembali padanya.

Dia menggeleng. “Simpan aja.”

“Kamu butuh buat kacamatamu.”

“Aku punya tiga.” Dia tersenyum. “Orang IT selalu punya cadangan.”

Aku memasukkan kain itu ke saku blazerku. Lalu aku turun, melewatinya. Bahu kami tidak bersentuhan, tapi kali ini aku turun lebih pelan, dan dia mengikutiku satu anak tangga di belakang, seperti biasa.

Di bordes lantai enam, aku berhenti.

“Andro.”

“Hm?”

“Permennya rasa stroberi. Bukan cokelat. Bungkusnya merah, tapi isinya stroberi.”

Dia diam sebentar. Lalu dia tertawa pelan.

“Oke,” katanya. “Aku revisi datanya.”

Kami turun lagi. Aku tidak menoleh. Tapi aku tahu dia tersenyum di belakangku, karena aku bisa mendengarnya di cara dia melangkah.

Di basement, aku masuk ke mobil dan duduk lama di kursi pengemudi tanpa menyalakan mesin. Aku mengeluarkan kain lap kacamata itu dari saku dan menatapnya.

Lalu aku menangis sekali lagi. Pelan. Sendirian. Di parkiran basement yang pengap, dengan lampu neon yang berkedip di atas mobil.

Itu bukan tangisan sedih. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.

Mungkin itu tangisan orang yang selama ini mengira tidak ada yang membaca catatan kakinya, lalu menemukan bahwa ada seseorang yang sudah empat tahun menggarisbawahinya.