← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter One

Tiga Goddess dan Satu Bayangan

POV: Felicia

Ada tiga hal yang pasti terjadi setiap pagi di lobby Tower Navara.

Pertama, Pak Udin akan bilang “Pagi, Mbak-mbak Goddess” dengan nada yang sama persis seperti penyiar radio yang sudah tiga puluh tahun membacakan ramalan cuaca.

Kedua, lift sebelah kiri akan rusak, atau setidaknya pura-pura rusak, karena antreannya selalu pindah ke kanan.

Ketiga, akan ada minimal satu laki-laki yang “kebetulan” berdiri di dekat pintu putar saat kami masuk.

Pagi ini ada empat.

“Mbak Eve, pagi! Wah, rambutnya baru, ya?”

“Mbak Sheilla, kopinya udah saya pesenin di meja resepsionis.”

“Eve, nanti siang ada waktu? Saya mau diskusi soal rilis pers.”

“Sheilla! Kemarin story kamu lucu banget!”

Aku berjalan dua langkah di belakang mereka, seperti biasa. Bukan karena aku lambat. Dua langkah adalah jarak yang paling aman: cukup dekat untuk tetap dihitung sebagai bagian dari trio, cukup jauh supaya tidak ada yang perlu repot menyapaku.

Eve berhenti untuk menerima semuanya dengan senyum yang membuat pendingin ruangan lobby terasa berlebihan. Rambutnya memang baru: dipotong sebahu, ujungnya sedikit bergelombang, warnanya cokelat madu yang di bawah lampu pagi kelihatan seperti dilapisi cahaya sendiri. Eve itu jenis cantik yang membuat orang lupa sedang bicara apa. Matanya besar dan lembut, kulitnya terang, dan dia punya kebiasaan mendengarkan dengan seluruh wajahnya, seolah-olah kalimatmu adalah hal paling penting yang pernah dia dengar hari itu.

Masalahnya, dia memang berpikir begitu. Eve baik dengan cara yang tidak dibuat-buat, dan itulah yang membuat laki-laki di gedung ini kehilangan akal.

“Makasih, Mas Bayu. Rilis pers-nya kita bahas di email aja, ya? Biar rapi,” kata Eve.

Mas Bayu mengangguk seperti baru diberi kenaikan gaji.

Sheilla, di sebelahnya, sudah memegang dua gelas kopi yang bukan dia beli.

“Ih, kok tahu aku suka caramel macchiato?” Suaranya naik setengah oktaf, manis seperti permen yang dibungkus pita. “Kamu baik banget, deh.”

“Kan kemarin kamu nulis di story,” kata laki-laki itu, bangga.

“Oh iya, ya!” Sheilla tertawa. Pipinya menggembung, poninya bergoyang.

Sheilla itu seperti boneka yang bisa bicara, dan bicaranya tidak pernah berhenti. Wajahnya kecil, matanya bulat, dan senyumnya punya lesung pipi di satu sisi saja, yang menurut Sheilla sendiri adalah “kecacatan paling menguntungkan di dunia”. Pagi ini dia memakai blus kuning pastel dan rok putih, dan entah bagaimana pakaian itu kelihatan seperti dirancang khusus untuk membuat orang ingin menolongnya menyeberang jalan.

Aku menekan tombol lift kanan.

“Fel, tunggu!” Sheilla menyusul, menyodorkan gelas kopi kedua. “Mau? Aku nggak bisa minum dua.”

“Aku nggak minum kopi.”

“Oh iya.” Dia menatap gelas itu seperti baru sadar gelas itu ada. “Terus ini buat siapa?”

“Buat orang yang beliin. Dia beli dua karena berharap kamu kasih satu balik ke dia.”

Sheilla menoleh ke laki-laki itu, yang masih berdiri di dekat pintu putar dengan ekspresi penuh harapan. Sheilla melambai. Laki-laki itu melambai balik.

“Ya ampun. Itu romantis atau pelit, sih?”

“Dua-duanya.”

Eve bergabung dengan kami tepat saat pintu lift terbuka. Kami masuk. Tiga laki-laki lain ikut masuk, dan satu lagi berlari kecil dari arah tangga untuk menyelinap di detik terakhir. Aku mundur sampai punggungku menempel di dinding.

Aku tidak suka lift yang penuh. Bukan takut, hanya tidak suka. Lift yang penuh membuatmu tidak punya pilihan selain berada di tengah-tengah orang, dan aku punya pengalaman panjang tentang betapa tidak nyamannya berada di tengah.

Di lantai tujuh, Sheilla turun sambil melambai ke semua orang. Di lantai sembilan, aku turun tanpa melambai ke siapa pun. Eve meneriakkan sesuatu tentang makan siang, dan aku mengangkat tangan tanpa menoleh.

Itu juga rutinitas.


Aku tidak pernah minta masuk daftar apa pun.

Tapi julukan “3 Goddess” sudah menempel pada kami sejak tahun kedua aku bekerja di Navara Grup. Yang memberinya Bu Ratna dari HR, lewat satu pesan di grup WhatsApp “Navara Ceria” yang beranggotakan tiga ratus dua belas orang:

Selamat pagi, Bapak/Ibu. Info: 3 Goddess kita hari ini kompakan pakai baju putih. Mohon semua karyawan pria tetap menjaga produktivitas. Terima kasih.

Pesan itu dibalas enam puluh stiker tertawa dan satu stiker kucing pingsan dari direktur keuangan.

Sejak hari itu kami jadi semacam merek dagang. Eve, Sheilla, dan aku. Kami sudah berteman sejak semester satu kuliah, ketika kami terdampar di kelompok tugas yang sama karena dosen membagi kelompok sesuai urutan absen. Eve Maharani, lalu aku, lalu Sheilla Anastasya. Tidak urut sama sekali, tapi dosen itu memang terkenal tidak bisa membaca alfabet.

Sepuluh tahun kemudian, kami masih makan siang bersama hampir setiap hari, masih saling meminjam charger, dan masih punya grup chat bertiga bernama “Goddess Only 🔒”. Isinya sembilan puluh persen Sheilla mengirim video kucing dan sepuluh persen Eve bertanya apakah kami sudah makan.

Aku menyayangi mereka. Itu bukan sesuatu yang perlu kupertanyakan.

Yang kadang perlu kupertanyakan adalah kenapa, di antara tiga perempuan yang selalu berjalan bersama, hanya dua yang benar-benar terlihat.

Bukan berarti aku jelek. Aku tahu wajahku. Orang bilang aku cantik dengan cara yang dingin, seperti es yang dipahat. Rambutku hitam lurus sampai punggung dan hampir selalu kuikat rendah. Mataku agak sipit di ujung, yang menurut Sheilla membuatku kelihatan “seperti sedang menilai orang”, dan menurut Eve membuatku kelihatan “seperti tokoh utama drama yang belum mau jatuh cinta”. Kulitku pucat karena aku menghabiskan sebagian besar hidup di depan kontrak.

Pernah ada laki-laki yang bilang aku yang paling cantik di antara kami bertiga. Dia mengatakannya tepat sebelum bertanya apakah Eve sudah punya pacar.

Itulah masalahnya. Aku cantik dengan cara yang membuat orang berhenti di depanku sebentar, lalu lewat menuju yang lain.

Aku sudah lama berhenti tersinggung. Sekarang aku hanya mencatat.


Pukul satu lewat seperempat, aku naik ke lantai dua belas.

Aku selalu makan siang pukul satu lewat seperempat karena di jam itu kantin atas sudah separuh kosong. Eve dan Sheilla tahu, dan mereka menyesuaikan diri, walaupun Sheilla selalu sudah kelaparan sejak pukul dua belas dan biasanya sudah menghabiskan satu bungkus keripik sebelum aku datang.

Rooftop Tower Navara bukan rooftop yang mewah. Separuhnya kantin beratap kaca, separuhnya teras terbuka dengan pot-pot tanaman yang dirawat setengah hati oleh bagian GA. Tapi dari sini kamu bisa melihat jalan protokol di bawah sana seperti sungai mobil. Di sore hari, matahari tenggelam di antara dua gedung lain seperti koin yang dimasukkan ke celah mesin.

Meja kami di pojok, di dekat dinding yang penuh bingkai foto.

“Fel! Sini, sini, aku punya gosip!” Sheilla menepuk kursi di sebelahnya.

“Kamu selalu punya gosip.”

“Ini gosip kualitas premium.” Dia mencondongkan badan. “Tadi pagi ada yang naruh cokelat di mejaku. Cokelat Belgia! Yang kotaknya pakai pita! Tanpa nama!”

“Dari siapa?”

“Itu dia! Misterius!” Matanya berbinar. “Pengagum rahasia!”

“Atau orang yang salah taruh.”

“Felicia Aurelia Hartono.” Sheilla menatapku dengan wajah paling terluka yang bisa dia buat. “Kenapa kamu selalu menghancurkan mimpiku?”

“Karena mimpimu biasanya cuma bertahan sampai jam tiga.”

Eve tertawa sambil menyendokkan sup ke mangkukku. Dia selalu begitu, mengambilkan makanan untuk orang lain sebelum dirinya sendiri. “Udah, udah. Shei, kalau nggak ada namanya, ya dinikmati aja. Rezeki.”

“Tuh kan, Eve ngerti aku.”

“Eve ngerti semua orang,” kataku. “Itu bakat atau kutukan.”

“Bakat,” kata Eve.

“Kutukan,” kata Sheilla bersamaan, lalu menambahkan, “Soalnya kalau kamu ngerti semua orang, semua orang naksir kamu. Capek, kan?”

Eve tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil dan mengaduk tehnya, dan untuk sesaat ada sesuatu di wajahnya yang kelihatan seperti kelelahan. Lalu hilang lagi.

Aku memperhatikannya. Aku selalu memperhatikan. Itu kebiasaan yang kudapat dari pekerjaan: di bagian legal, kalimat yang paling penting biasanya ada di catatan kaki.

Mataku bergeser ke dinding di sebelah meja kami.

Dinding itu penuh foto HUT Navara Grup dari tahun ke tahun. Foto seluruh karyawan berjejer di depan lobby, di bawah spanduk merah bertuliskan angka ulang tahun perusahaan. Tiga ratus lebih wajah dalam setiap bingkai. Kamu harus berdiri cukup dekat untuk mengenali siapa pun.

Aku tidak perlu berdiri dekat. Aku tahu di mana aku berada di setiap foto itu.

Di ujung kiri. Selalu.

Tahun pertama, karena aku datang terlambat dan hanya kebagian tempat di pinggir. Tahun kedua, karena aku memilihnya. Tahun ketiga dan keempat, karena itu sudah jadi kebiasaan. Di tengah foto selalu ada Eve, karena fotografer selalu memintanya maju. Sheilla di sebelah Eve, karena Sheilla tidak bisa jauh-jauh dari Eve di depan kamera. Dan aku di ujung, setengah badan, kadang terpotong sedikit oleh bingkai.

Ada sesuatu yang lain di foto-foto itu. Sesuatu yang hanya kusadari karena aku punya terlalu banyak waktu luang di jam makan siang. Aku tidak pernah memikirkannya terlalu jauh.

“Fel, kamu bengong.”

“Aku makan.”

“Kamu bengong sambil pegang sendok. Itu bukan makan.” Sheilla mengikuti arah pandangku. “Ih, foto HUT. Kamu kenapa sih selalu di pinggir? Tahun ini kamu harus di tengah sama kita. Aku udah bilang ke fotografernya.”

“Kamu bilang begitu tiap tahun.”

“Dan tiap tahun kamu kabur!”

“Aku nggak kabur. Aku memilih posisi strategis.”

“Strategis buat apa?”

“Buat dipotong waktu dicetak.”

Eve tertawa lagi, dan kali ini aku ikut tersenyum sedikit. Sedikit saja. Senyumku memang tidak pernah terlalu lebar. Sheilla pernah bilang senyumku itu seperti promo: terbatas dan tidak bisa diklaim dua kali.

“Eh, ngomong-ngomong,” Sheilla menurunkan suaranya, padahal meja terdekat kosong, “kalian tahu nggak, Bu Ratna bilang tahun ini HUT-nya mau dibikin besar. Ada band. Ada doorprize motor.”

“Kamu mau motor?” tanya Eve.

“Aku mau fotografernya,” kata Sheilla serius. “Katanya fotografer tahun ini ganteng.”

Aku menghela napas. Eve tertawa sampai harus menutup mulut dengan serbet.

Itulah makan siang kami. Selalu begitu. Sheilla membuat keributan, Eve menjaga semua orang tetap utuh, dan aku duduk di pinggir, menonton dua sahabatku menjadi pusat dunia kecil kami. Aku tidak keberatan. Sungguh. Ada kenyamanan tertentu di pinggir. Tidak ada yang berharap apa-apa darimu di sana.


Sore itu aku pulang lewat tangga darurat.

Tangga darurat timur Tower Navara adalah tempat paling sepi di gedung ini, dan karena itu tempat favoritku. Hampir tidak ada yang memakainya kecuali satpam yang patroli dan anak magang yang kepalanya pusing setelah rapat. Dindingnya dicat abu-abu muda, lampunya putih dan dingin, dan setiap langkah bergema seperti di dalam sumur. Turun dari lantai sembilan butuh sekitar empat menit, dan empat menit itu adalah empat menit di mana tidak ada seorang pun yang meminta apa pun dariku.

Aku sedang di bordes antara lantai tujuh dan enam ketika mendengar langkah kaki dari bawah. Naik, bukan turun.

Aku tidak berhenti. Orang yang naik tangga darurat di jam pulang kantor biasanya cuma lewat.

Laki-laki itu berhenti di bordes yang sama denganku.

Aku mengenalnya. Semua orang di Tower Navara mengenalnya. Andro dari IT. Senior IT Infrastructure, kalau kamu membaca tanda tangan emailnya, yang memang sering kubaca karena dia yang selalu membalas tiket permintaanku. Laki-laki yang muncul kalau sistem satu gedung jatuh, yang membawa kotak kabel ke mana-mana, dan yang tersenyum ke semua orang dengan cara yang membuat Pak Udin pernah berkomentar, “Mas Andro itu kalau senyum, saya sampai lupa saya satpam.”

Tinggi. Bahunya lebar tanpa kelihatan dilatih di gym, lebih seperti bahu orang yang terbiasa mengangkat server. Rambutnya hitam, sedikit berantakan di bagian depan. Kacamata berbingkai tipis. Kemeja biru muda dengan lengan digulung sampai siku. Ada kartu akses tergantung di saku dan pulpen terselip di belakang telinga, yang tampaknya dia sendiri lupa.

“Felicia,” katanya.

Dia tidak pernah memanggilku “Mbak”. Aku baru menyadarinya sekarang.

“Andro.” Aku mengangguk dan bergeser untuk lewat.

“Sebentar.” Dia tidak menghalangi jalanku. Dia hanya berdiri di sana, satu tangan di pegangan tangga, dan suaranya tidak naik atau turun. “Aku mau ngomong satu hal. Habis itu kamu boleh lewat.”

Aku berhenti. Bukan karena tertarik. Karena aku orang legal, dan orang legal selalu membaca klausul sampai selesai sebelum menolak.

“Silakan.”

Dia menarik napas. Aku melihat dadanya naik, sedikit lebih dalam dari napas biasa, dan untuk pertama kalinya aku sadar laki-laki yang selalu tenang ini sedang gugup.

“Aku mau bikin kamu jatuh cinta sama aku.”

Tangga darurat itu sunyi sekali. Aku bisa mendengar dengung lampu neon di atas kepala kami.

Aku menunggu kelanjutannya. Biasanya kalimat seperti ini punya kelanjutan. Tapi sebelumnya, kamu bisa bantu aku kenalan sama Eve? Atau, Sebenarnya aku malu, jadi aku latihan dulu ke kamu. Atau versi favoritku, dari seorang mahasiswa teknik tujuh tahun lalu: Kamu kan sahabatnya Sheilla, jadi kamu pasti tahu dia suka cowok yang kayak gimana.

Andro tidak melanjutkan. Dia hanya menunggu.

“Kamu salah orang,” kataku akhirnya. “Eve di lantai sepuluh.”

Sesuatu bergerak di sudut mulutnya. Bukan senyum yang dia berikan ke semua orang. Ini lebih kecil, dan lebih sabar.

“Aku tahu Eve di lantai sepuluh,” katanya. “Aku juga tahu kamu di lantai sembilan, makan siang jam satu lewat seperempat, dan benci lift penuh. Yang salah orang itu kalian semua, yang ngira aku nggak bisa bedain.”

Aku tidak bergerak.

Aku juga tidak menjawab, karena untuk sesaat, mungkin untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku nggak minta jawaban sekarang,” lanjutnya. “Aku cuma mau kamu tahu dari awal, biar adil. Mulai besok aku bakal nyoba. Kamu boleh nolak sebanyak yang kamu mau.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kuperiksa.

Andro memiringkan kepala sedikit, seperti sedang menimbang apakah jawabannya akan terdengar terlalu banyak.

“Karena aku udah kelamaan berdiri di ujung,” katanya.

Lalu dia bergeser ke samping, memberiku jalan, persis seperti janjinya.

Aku turun. Satu lantai, dua lantai. Langkahku terdengar normal. Napasku normal. Aku tidak menoleh.

Di lantai tiga aku baru berhenti, memegang pegangan tangga, dan menatap dinding abu-abu yang tidak menatapku balik.

Ujung, katanya.

Aku memikirkan dinding foto di lantai dua belas. Aku memikirkan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan terlalu jauh.

Lalu aku memaksa diriku turun sampai ke basement, masuk ke mobil, dan menyalakan mesin. Ponselku bergetar. Grup “Goddess Only 🔒”.

Sheilla: guys!!! tadi ada yg nanya aku suka bunga apa 😳😳😳

Sheilla: pengagum rahasia part 2???

Eve: Hati-hati di jalan ya kalian ❤️ Udah makan belum?

Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Akhirnya aku hanya mengirim satu stiker kucing yang sedang minum teh.

Aku tidak bilang apa-apa tentang tangga darurat.

Aku belum tahu bahwa itu akan jadi rahasia pertama dari sekian banyak.