← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Nineteen

Aturan Main

POV: Felicia

Aku menyusun perjanjiannya hari Selasa pagi, pukul enam lewat dua puluh, di meja makan apartemenku, dengan secangkir cokelat panas yang kubuat sendiri dan tidak seenak buatan kafe lantai dasar.

Aku orang legal. Kalau ada hubungan yang perlu dijaga kerahasiaannya, harus ada perjanjian. Itu prosedur.

Aku mengetiknya di ponsel dan mengirimkannya ke Andro pukul enam lewat empat puluh tiga.

PERJANJIAN KERAHASIAAN Antara Pihak Pertama (F) dan Pihak Kedua (A)

Pasal 1. Para Pihak tidak naik lift berdua. Dalam keadaan apa pun. Pasal 2. Di hadapan Eve, Sheilla, Bu Ratna, Mbak Tari, dan seluruh anggota grup Navara Ceria, kontak mata dibatasi maksimal dua detik. Pasal 3. Pihak Kedua tetap membawa tiga minuman ke rooftop setiap hari kerja pukul 13.20. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan yang mencurigakan. Pasal 4. Komunikasi pribadi hanya melalui WhatsApp. Dilarang keras melalui email kantor, Teams, atau tiket helpdesk. Pasal 5. Kode darurat: ☕ berarti “tangga darurat, 17.08”. Pasal 6. Perjanjian ini berlaku sampai Pihak Pertama menyatakan siap.

Balasannya masuk pukul enam lewat empat puluh lima.

Andro: Pasal 4. Tiket helpdesk? Felicia: “Printer lantai 9 macet. Ini beneran, bukan alasan.” Itu pelanggaran pertama. Nggak boleh terulang. Andro: Itu kamu yang kirim. Felicia: Makanya aku larang. Biar aku nggak ngulang. Andro: Oke. Usul tambahan. Felicia: Ajukan. Andro: Pasal 7. Ruang server lantai dua adalah zona aman. Nggak ada CCTV di dalamnya, karena server nggak suka difoto. Cuma ada aku. Kadang Dodi, tapi Dodi bisa disuruh beli Indomie. Felicia: Diterima. Andro: Pasal 8. Kode 🤫 berarti “aku kangen kamu”.

Aku menatap layar. Cokelat buatanku sendiri tiba-tiba terasa lebih manis dari seharusnya.

Felicia: Itu bukan kode darurat. Andro: Buat aku itu darurat. Felicia: Diterima dengan catatan. Andro: Catatannya? Felicia: Jangan pakai terlalu sering. Nanti kehilangan makna. Andro: Batas maksimal? Felicia: Tiga kali sehari.

Jeda. Lalu:

Andro: Itu banyak banget buat orang yang seumur hidup cuma pakai dua emoji. Felicia: Kamu yang usul. Andro: Tanda tangan di mana?

Aku tidak tahu kenapa aku tertawa sendirian di meja makan pukul tujuh kurang lima belas. Aku mengetik balasan terakhir.

Felicia: Ketik nama di bawah. Sebagai bukti persetujuan.

Tiga titik.

Andro: A.K.A.

Aku menatap tiga huruf itu lama. Tiga huruf yang sudah empat tahun ada di kolom paling kanan riwayat tiketku. Tiga huruf yang menutup tiket proyektorku pukul dua lewat empat belas.

Aku menyimpan tangkapan layar perjanjian itu di folder khusus di ponselku. Nama foldernya Kontrak. Isinya hanya satu file.


Pasal 1 dilanggar pada hari yang sama, pukul delapan lewat dua belas.

Bukan karena kami ingin. Karena Sheilla.

Aku masuk ke lobby bersama Eve dan Sheilla seperti biasa. Andro sedang berdiri di depan lift kanan, membawa kotak peralatan, bicara dengan Pak Udin. Lift kanan terbuka. Isinya hanya satu orang dari divisi keuangan.

“Mas Andro! Ayo bareng!” teriak Sheilla, menarik lengan Eve, yang menarik lenganku, dan dalam dua detik kami bertiga sudah di dalam lift, dan Andro berdiri di depan pintu dengan wajah orang yang sedang menghitung probabilitas kegagalan sistem.

“Mas, masuk!” kata Sheilla. “Muat kok!”

Aku menatap lantai lift. Pasal 1. Para Pihak tidak naik lift berdua.

Secara teknis, ini bukan berdua. Ini berlima. Aku orang legal. Aku tahu celah.

Andro masuk. Dia berdiri di depan, membelakangi kami. Pintu tertutup. Lift naik.

Di lantai tujuh, Sheilla turun. Di lantai sembilan, aku seharusnya turun.

Tapi di lantai delapan, orang dari divisi keuangan turun duluan, dan selama satu lantai, hanya ada Eve, aku, dan Andro di dalam lift itu. Eve sedang membaca email di ponselnya. Andro menatap angka lantai di atas pintu. Aku menatap punggungnya.

Lalu, sangat pelan, tanpa menoleh, dia menggeser tangan kirinya ke belakang. Hanya beberapa senti. Sampai punggung tangannya menyentuh punggung tanganku.

Satu lantai. Kurang dari lima detik.

Pintu terbuka di lantai sembilan. Aku keluar. Aku tidak menoleh. Wajahku terasa panas sampai ke ubun-ubun.

Di belakangku, aku mendengar Eve berkata, “Andro, kamu turun di lantai berapa? Kamu kan di lantai dua.”

Dan Andro menjawab, dengan suara paling tenang di dunia: “Aku mau cek access point lantai sepuluh.”

Ponselku bergetar saat aku duduk di meja.

Andro: Pelanggaran Pasal 1. Aku siap kena sanksi. Felicia: Bukan pelanggaran. Ada pihak ketiga. Eve. Andro: Kamu pakai celah. Felicia: Aku orang legal. Andro: 🤫 Felicia: Itu yang pertama hari ini. Sisa dua.


Pasal 2 ternyata yang paling sulit.

Dua detik itu sangat pendek. Aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya. Dua detik adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan cokelat panas gula setengah. Dua detik adalah waktu yang dibutuhkan Sheilla untuk mengucapkan ya ampun dengan intonasi lengkap.

Pukul satu lewat dua puluh, dia datang ke rooftop dengan nampan tiga minuman. Pasal 3, terpenuhi. Teh melati. Caramel macchiato. Cokelat panas.

Dia meletakkan gelasku di depanku.

Aku menatapnya. Satu detik.

Dia menatapku balik. Dua detik.

Aku memaksa mataku turun ke gelas. Tepat waktu.

Tapi Sheilla, yang sedang memperbarui klasemennya, mengangkat kepala tepat di detik kedua. Dia menatapku. Lalu menatap Andro yang sudah berbalik pergi. Lalu menatapku lagi.

“Fel,” katanya. “Tadi kamu ngelirik Mas Andro?”

“Aku ngelirik gelasnya.”

“Gelasnya ada di meja. Matamu di atas.”

“Aku ngecek tulisan di gelasnya. Kadang dia salah tulis.”

“Pernah salah tulis?”

“Belum. Makanya aku cek.”

Sheilla menyipitkan mata. Lalu dia mengangguk dan kembali ke laptopnya. “Masuk akal. Kamu memang orang yang ngecek semuanya.”

Eve, di sebelahnya, tidak berkata apa-apa. Dia menyesap teh melatinya. Tapi dia tersenyum ke cangkirnya, dengan senyum kecil yang tidak ditujukan pada siapa pun, dan aku tidak berani bertanya kenapa.

Di saku blazerku, ponselku bergetar.

Aku tidak membukanya di depan mereka. Pasal 4 tidak menyebut larangan membaca pesan di depan sahabat, tapi aku memutuskan untuk tidak mengambil risiko.

Aku membukanya di toilet lantai dua belas, lima menit kemudian.

Andro: Tiga detik. Pelanggaran Pasal 2. Felicia: Dua koma delapan. Aku hitung. Andro: Kamu hitung? Felicia: Aku selalu hitung. Andro: Aku juga. Tiga koma satu. Felicia: Jam kita beda. Andro: Jam kamu lebih cepat dari jamku. Karena kamu buru-buru ngelihatin.

Aku menatap pesan itu di toilet lantai dua belas, dan aku menyadari dua hal. Pertama, wajahku di cermin merah sekali. Kedua, laki-laki ini, yang selama sebulan hanya menunggu dan bersabar, ternyata bisa membalas.

Aku menyukai itu. Lebih dari yang seharusnya.

Felicia: Atau karena kamu lambat berpaling. Karena kamu nggak mau berhenti ngelihatin.

Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.

Andro: Itu benar.

Aku keluar dari toilet dan menabrak Bu Ratna di koridor.

“Mbak Felicia!” Bu Ratna menatapku dengan mata HR-nya yang melihat segalanya. “Mukanya merah. Sakit?”

“AC toiletnya mati, Bu.”

“Oh. Nanti saya lapor GA.” Dia menatapku lebih lama. “Mbak Felicia senyum-senyum sendiri tadi keluar dari toilet.”

“Saya baca meme, Bu.”

“Meme apa?”

“Meme kucing.”

Bu Ratna mengangguk pelan, tidak sepenuhnya percaya, lalu pergi. Aku bersandar di dinding koridor dan mengembuskan napas panjang.

Pacaran diam-diam ternyata adalah pekerjaan penuh waktu dengan jam lembur yang tidak dibayar.


Rabu malam adalah kencan pertama kami.

Kami tidak menyebutnya kencan. Pasal 6 tidak mengatur soal kencan, dan aku sengaja tidak menambahkannya, karena kalau aku menuliskannya, aku harus mengakui bahwa ini kencan.

Andro memilih tempatnya: warung pecel lele di pinggir jalan di Tebet, dua gang dari rumahnya. “Nggak ada orang Navara yang makan di sini,” katanya. “Aku jamin. Bu Ratna alergi lele.”

“Kamu tahu Bu Ratna alergi lele?”

“Dia pernah komplain di grup waktu katering kantor masak lele. Tiga paragraf.”

Warung itu kecil. Tenda biru, bangku panjang, dan bau sambal terasi yang menempel di rambut sampai keesokan harinya. Aku memakai kaus dan cardigan. Dia memakai kaus hitam yang sama dengan waktu Family Day. Kami duduk berdampingan di bangku panjang, bukan berhadapan, dan lutut kami bersentuhan di bawah meja, dan tidak ada yang menarik lututnya.

Dia memesan lele. Aku memesan ayam, karena aku tidak bisa makan sesuatu yang matanya masih menatapku.

Kami makan dengan tangan. Dia memisahkan tulang lele dengan presisi yang sama dengan dia menyambung kabel. Aku mengambil sambal terlalu banyak dan kepedasan, dan dia mendorong gelas es tehnya ke arahku tanpa berkata apa-apa.

“Cemburu itu kayak sambal kepedesan,” kataku setelah minum setengah gelas.

“Teori siapa?”

“Sheilla.”

“Sheilla jenius,” katanya serius.

Aku tertawa. Lalu seseorang menepuk bahu Andro dari belakang.

“Le, kamu makan di sini kok nggak bilang Ibu?”

Andro membeku. Aku membeku.

Di belakang kami berdiri seorang perempuan berumur enam puluhan, berkerudung abu-abu, membawa kantong plastik berisi sayur, dengan kacamata baca yang tergantung di leher dengan tali manik-manik. Matanya tajam. Matanya sama persis dengan mata Andro.

“Bu,” kata Andro dengan suara yang belum pernah kudengar darinya. Suara anak SMP yang ketahuan bolos.

Ibunya menatap Andro. Lalu menatapku. Lalu menatap lutut kami yang bersentuhan di bawah meja.

Aku menarik lututku. Terlambat.

“Ini siapa, Le?”

“Ini… Felicia, Bu. Teman kantor.”

Ibu Andro menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan seorang guru SD yang sedang menilai kerapian buku tulis. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sangat lebar dan sangat mirip anaknya.

“Teman kantor,” ulangnya. “Teman kantor kok makan di Tebet jam sembilan malam, Le. Kantormu di Sudirman.”

“Bu…”

“Nggak apa-apa. Ibu nggak nanya.” Dia menepuk bahuku dengan lembut. “Nak Felicia, ya? Makan yang banyak. Anak Ibu ini kalau suka sama orang, nggak bisa ngomong. Dari kecil. Dulu waktu SD dia naksir anak tetangga, kerjaannya cuma benerin sepeda anak itu tiap minggu. Tiga tahun. Nggak pernah bilang.”

“BU.”

“Ibu pulang dulu. Ibu nggak bilang siapa-siapa.” Dia berjalan pergi, lalu menoleh sekali. “Cuma bilang ke Allah.”

Andro menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih berminyak sambal.

Aku tertawa sampai harus memegang tiang tenda warung.

Malam itu, di grup chat yang tidak kuketahui keberadaannya sampai bertahun-tahun kemudian, seorang pensiunan guru SD di Tebet mengirim pesan ke adik perempuannya di Yogyakarta: Andro sudah punya. Anaknya cantik, sopan, makannya rapi. Belum boleh cerita ke siapa-siapa. Doakan.


Kamis, presentasi tinjauan hukum untuk Hoshino tahap dua.

Rapatnya di ruang rapat utama lantai sebelas. Tanaka-san dan dua stafnya datang langsung dari Osaka. Pak Wirya duduk di ujung meja. Pak Hendro duduk di sebelahnya, berkeringat. Eve duduk di sisi lain, sebagai perwakilan Comm. Dan aku berdiri di depan layar 98 inci dengan clicker di tangan, karena Pak Hendro memutuskan aku yang paling bisa menjelaskan klausul denda dalam dua bahasa.

Andro duduk di pojok ruangan, di dekat panel kabel, dengan laptop di pangkuan. IT support. Pak Wirya meminta IT standby sejak insiden presentasi pertama.

Dia memakai dasi. Aku belum pernah melihatnya memakai dasi. Dasi biru tua dengan garis tipis, sedikit miring, jelas dipasang terburu-buru di toilet setelah Pak Wirya mengirim email dress code: formal.

Aku menyadari aku sudah melihatnya lebih dari dua detik.

Aku memalingkan wajah ke layar.

Presentasinya berjalan baik. Tanaka-san bertanya dengan sopan tentang klausul force majeure. Aku menjawab dalam bahasa Inggris, lalu Eve menambahkan konteks dalam bahasa Jepang sederhana yang dia pelajari dari aplikasi, dan Tanaka-san tersenyum lebar dan berkata “sugoi” lagi. Pak Wirya tertawa keras. Pak Hendro berhenti berkeringat.

Di tengah sesi, ada jeda sepuluh menit. Tanaka-san dan stafnya diskusi dalam bahasa Jepang. Pak Wirya keluar untuk menelepon. Aku berdiri di samping layar, menunggu, dan menggigit bibir bawahku sambil membaca ulang catatan.

Ponselku bergetar di saku blazer.

Aku meliriknya. Satu detik.

Andro: Berhenti gigit bibir di depan direksi.

Aku mengangkat kepala. Di pojok ruangan, Andro sedang menatap laptopnya dengan wajah sangat serius, seolah-olah sedang memantau server paling penting di Asia Tenggara.

Aku mengetik dengan satu tangan, di bawah meja, tanpa menunduk.

Felicia: Kenapa?

Balasannya datang dalam empat detik.

Andro: Karena itu tugasku.

Darahku naik semua ke wajah. Aku menunduk ke catatanku dan membaca kalimat yang sama lima kali tanpa memahaminya. Di seberang meja, Eve menatapku dengan alis terangkat.

“Fel, kamu kepanasan?” bisiknya.

“AC-nya.”

“AC-nya delapan belas derajat.”

“Aku orangnya panasan.”

“Sejak kapan?”

Sejak tiga puluh detik yang lalu, pikirku. Tapi aku hanya mengipasi wajahku dengan map dan tersenyum tipis.

Lalu, dengan jari yang tidak sepenuhnya stabil, aku mengetik balasan. Satu kalimat. Aku menimbangnya seperti menimbang klausul paling berisiko dalam kontrak. Lalu aku mengirimnya.

Felicia: Nanti. Lantai dua. Jangan buru-buru, aku mau kamu kerja lama.

Di pojok ruangan, Andro menjatuhkan pulpennya.

Pulpen itu menggelinding di lantai karpet, melewati kaki kursi Pak Hendro, dan berhenti tepat di depan sepatu Tanaka-san. Tanaka-san menunduk, memungut pulpen itu, dan menyerahkannya kembali kepada Andro dengan senyum sopan.

“Daijoubu desu ka?” tanyanya.

Andro menerima pulpen itu dengan wajah semerah dasi Pak Wirya. “Daijoubu. Sumimasen.”

Aku menatap layar 98 inci dengan sangat serius dan menggigit bagian dalam pipiku supaya tidak tertawa.

Pak Wirya kembali. Sesi kedua dimulai. Aku menjelaskan klausul denda dalam dua bahasa dengan suara yang sangat tenang.

Dan sepanjang empat puluh menit sesi kedua, aku tidak menggigit bibirku sekali pun.

Tapi aku tahu dia menunggu.

Dan aku tahu aku juga.


Pukul lima lewat lima, setelah Tanaka-san pulang dan Pak Hendro memelukku dengan canggung di depan lift sambil berkata “kamu aset divisi”, aku tidak keluar lewat tangga darurat ke basement.

Aku turun ke lantai dua.

Ponselku bergetar sekali di tangga.

Andro: ☕?

Aku berhenti di bordes antara lantai tiga dan dua. Aku mengetik.

Felicia: Bukan. Pasal 7.

Tiga titik. Lama. Lebih lama dari biasanya.

Andro: Dodi baru aku suruh beli Indomie. Andro: Ke Bekasi.

Aku tertawa sendirian di tangga darurat. Suaraku memantul di dinding abu-abu. Lalu aku membuka pintu lantai dua, dan koridor yang selalu dingin itu menyambutku dengan dengung server yang samar, seperti napas panjang sebuah gedung yang sedang menunggu.