← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty Four

Sheilla Kena Tipu

POV: Andro

Telepon itu masuk hari Rabu pukul sebelas lewat tujuh, dan suara di ujungnya tidak bisa kukenali selama tiga detik pertama.

Bukan karena sinyal. Karena aku belum pernah mendengar Sheilla Anastasya menangis.

“Mas Andro… Mas… tolong… aku… aku nggak tahu harus gimana…”

“Sheilla? Kamu di mana?”

“Di meja… lantai tujuh… Mas, rekeningku… Instagram-ku… semuanya…”

Aku sudah berdiri sebelum dia selesai bicara.

“Jangan pegang HP-mu lagi,” kataku. “Jangan klik apa pun. Jangan buka email. Taruh HP-nya di meja, layarnya ke bawah. Aku ke sana sekarang.”

“Oke… oke…”

Dodi menatapku dari kursinya. “Bang?”

“Ambil laptop cadangan yang bersih. Yang belum pernah dipakai buat apa-apa. Ikut aku.”


Lantai tujuh, divisi Marketing & Event, biasanya lantai paling berisik di Tower Navara. Ada musik dari speaker kecil di meja tim kreatif. Ada tawa dari ruang rapat yang dindingnya penuh sticky note warna-warni. Ada papan tulis besar bertuliskan COUNTDOWN HUT NAVARA: 67 HARI!!! dengan tulisan tangan Sheilla.

Hari itu sunyi.

Sheilla duduk di mejanya dengan kedua tangan menutup wajah. Ponselnya tergeletak terbalik di meja, persis seperti yang kusuruh. Dua rekan timnya berdiri di sebelahnya, salah satunya mengusap punggungnya, yang lain memegang segelas air yang tidak diminum.

Eve sudah di sana. Dia pasti berlari dari lantai sepuluh. Napasnya masih tidak teratur, dan dia berlutut di sebelah kursi Sheilla, memegang kedua tangan sahabatnya.

Dan Felicia.

Felicia berdiri di belakang kursi Sheilla, satu tangan di bahu Sheilla. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi tangannya di bahu Sheilla mencengkeram, dan matanya, saat bertemu mataku dari seberang ruangan, berkata sesuatu yang tidak perlu diterjemahkan.

Tolong.

Aku menarik kursi dan duduk di depan Sheilla.

“Shei. Lihat aku.”

Dia menurunkan tangannya. Maskaranya luntur sampai pipi. Hidungnya merah. Bibirnya bergetar. Dia kelihatan seperti anak kecil yang tersesat di Family Day, kecuali tidak ada ikat rambut stroberi dan tidak ada balon kuning.

“Ceritain pelan-pelan,” kataku. “Dari awal. Apa yang pertama kali terjadi?”

Dia menarik napas. Gagal. Mencoba lagi.

“Tadi pagi… ada SMS. Dari bank. Katanya ada transaksi mencurigakan di rekeningku. Lima juta. Ke toko online. Terus ada link. Katanya klik buat blokir transaksi.” Suaranya pecah. “Aku panik, Mas. Lima juta itu tabunganku buat… buat sesuatu. Jadi aku klik.”

“Terus?”

“Terus ada halaman bank. Persis kayak aplikasi bankku. Logonya sama. Warnanya sama. Terus dia minta aku masukin user ID sama password. Terus kode OTP.” Air matanya jatuh lagi. “Aku masukin semua, Mas. Aku bodoh banget.”

“Kamu nggak bodoh.”

“Aku bodoh! Semua orang tahu jangan klik link! Ada seminar keamanan dari IT tahun lalu! Aku datang! Aku duduk di depan! Aku malah tanya Mas Andro boleh nggak minta stiker!”

“Kamu memang minta stiker,” kataku. “Dan aku kasih.”

Di belakangnya, aku melihat sudut bibir Felicia bergerak sedikit.

“Terus apa lagi, Shei?” tanyaku.

“Terus sepuluh menit kemudian, Instagram-ku logout sendiri. Aku coba login, password-nya salah. Terus temanku chat, katanya aku posting story aneh. Investasi crypto. Katanya bisa dapat sepuluh kali lipat.” Dia menutup wajahnya lagi. “Lima belas ribu followers, Mas. Lima belas ribu. Ada klien. Ada vendor. Ada Pak Wirya. Pak Wirya follow aku, Mas.”

Eve meremas tangan Sheilla lebih erat.

“Oke,” kataku. “Kita beresin satu-satu.”


Masalah pertama, rekening.

“Dodi. Telepon call center banknya Sheilla. Nomor resmi. Bukan dari SMS. Ambil dari belakang kartu ATM-nya.” Aku menoleh ke Sheilla. “Shei, kartu ATM kamu bawa?”

Dia mengangguk dan mengeluarkan dompet dengan tangan gemetar. Dompetnya berbentuk kucing.

“Kamu yang ngomong ke bank,” kataku sambil menyerahkan ponsel Dodi yang sudah tersambung. “Bilang rekeningmu dibobol. Minta blokir semua akses. Minta blokir kartu. Minta catatan nomor laporan. Dodi bantu kalau kamu bingung.”

Sheilla menerima ponsel itu. Dodi berlutut di sebelahnya, lebih lembut dari yang pernah kulihat, membisikkan apa yang harus dikatakan.

Masalah kedua, Instagram.

Aku membuka laptop bersih yang dibawa Dodi. Aku masuk ke halaman bantuan Instagram, ke formulir akun yang diretas, dan mulai mengisinya. Email yang terdaftar. Nomor telepon yang terdaftar. Foto Sheilla untuk verifikasi wajah, yang dia ambil dengan kamera laptop sambil berusaha tidak menangis, dan gagal, jadi kami ambil tiga kali.

“Kenapa harus foto sih, Mas,” isaknya. “Aku jelek banget sekarang.”

“Instagram nggak butuh kamu cantik. Instagram butuh kamu kelihatan kayak kamu.”

“Aku kelihatan kayak kucing kecebur got.”

“Kucing kecebur got yang bisa diverifikasi,” kata Felicia dari belakangnya, datar.

Sheilla tertawa. Tawa basah dan tersedak, tapi tawa. Eve ikut tertawa. Bahkan dua rekan tim Sheilla tersenyum.

Masalah ketiga, yang paling penting: memastikan pelakunya tidak bisa masuk lagi.

Aku menelusuri link di SMS. Domain palsu, terdaftar tiga hari lalu, dengan nama yang hanya beda satu huruf dari nama bank asli. Aku melaporkannya ke penyedia domain, ke tim keamanan bank lewat email resmi yang tertera di situs mereka, dan ke portal aduan siber pemerintah. Aku menyimpan tangkapan layar semuanya. Waktu, alamat, isi.

Lalu aku melakukan satu hal lagi yang sebenarnya bukan tugasku. Aku membuka email Sheilla di laptop bersih, dengan izinnya, dan menemukan pelaku sudah memasang aturan penerusan otomatis. Setiap email yang masuk ke Sheilla diteruskan diam-diam ke alamat lain. Aku menghapusnya. Aku mengganti password-nya. Aku memasang verifikasi dua langkah. Aku melakukan hal yang sama untuk akun lain yang memakai password yang sama, karena Sheilla, seperti tujuh puluh persen penghuni Tower Navara, memakai satu password untuk semuanya.

“Password-nya apa, Shei?” tanyaku, untuk memastikan.

Dia menunduk. “Oyen123.”

“Kucing GA?”

“Dia inspirasiku, Mas.”

Di belakangnya, Felicia menutup mata sebentar, seperti orang yang menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang terlalu jujur.


Pukul satu siang, dua jam kemudian, semuanya sudah aman.

Rekening Sheilla diblokir sebelum lima juta itu sempat ditarik. Bank bilang dananya ditahan di sistem karena aku sempat menelepon tim keamanan mereka dengan nomor laporan lengkap, dan dalam tiga hari kerja akan dikembalikan. Instagram-nya sudah dipulihkan, story crypto sudah dihapus, dan Sheilla sudah memposting klarifikasi dengan foto dirinya yang matanya masih bengkak dan tulisan: maaf guys akunku kena hack!!! jangan percaya investasi apa pun dari aku!!! satu-satunya investasi yang aku percaya adalah skincare 😭

Pak Wirya membalas story itu dengan emoji jempol.

Sheilla menatap layar ponselnya yang baru, ponsel cadangan Dodi yang dipinjamkan sementara, lalu menatapku.

“Mas Andro,” katanya pelan. Suaranya sudah normal lagi. Masih serak, tapi normal. “Makasih.”

“Sama-sama.”

“Bukan sama-sama.” Dia menggeleng keras sampai kuncir duanya bergoyang. “Mas nggak ngerti. Lima juta itu tabunganku buat kado HUT Navara.”

“Kado?”

“Doorprize. Yang utama. Aku mau nambahin pakai uangku sendiri, soalnya budget-nya cuma cukup buat kulkas, dan aku pengin hadiah utamanya motor. Biar Bu Sumi bisa menang. Atau Pak Udin. Atau siapa aja yang naik angkot tiap hari.” Dia mengusap matanya. “Itu rahasia. Jangan bilang Pak Wirya. Dia bakal ngerasa nggak enak.”

Aku diam.

Di sebelahnya, Eve memeluk Sheilla dari samping dan menyembunyikan wajahnya di bahu Sheilla. Felicia, di belakang kursi, menatap sahabatnya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Seperti orang yang baru menemukan pasal tersembunyi di kontrak yang sudah dia baca sepuluh tahun.

Sheilla yang dianggap semua orang paling kosong. Sheilla yang memakai Oyen123 sebagai password. Sheilla yang diam-diam menabung untuk membeli motor bagi orang yang naik angkot.

“Shei,” kataku. “Rahasiamu aman.”

Dia tersenyum. Lalu senyumnya berubah. Dia menatapku dengan mata bulat yang tiba-tiba terasa sangat tajam.

“Mas Andro. Aku boleh nanya satu hal?”

“Boleh.”

“Kalau Mas sayang sama seseorang,” katanya pelan, “Mas bakal jagain sahabat-sahabatnya juga, nggak?”

Ruangan itu tidak sunyi. Musik dari speaker tim kreatif sudah menyala lagi. Seseorang tertawa di ruang rapat. Tapi rasanya sunyi.

Di belakang Sheilla, tangan Felicia di sandaran kursi berhenti bergerak.

“Iya,” kataku. “Itu bagian dari sayang sama dia.”

Sheilla menatapku lama. Dua detik. Tiga. Lebih lama dari batas Pasal 2.

Lalu dia tersenyum lebar, lesung pipinya muncul di sebelah kiri, dan dia berbalik ke Eve dengan suara yang tiba-tiba kembali setengah oktaf terlalu tinggi.

“Eve! Kamu dengar? Dia bilang dia bakal jagain sahabat-sahabatnya! Dia nyelamatin AKU! Itu artinya…” Dia menepuk dada. “Fix. Mas Andro suka aku.”

“Shei…” Eve tertawa sambil mengusap air matanya sendiri.

“Klasemen berubah, Eve! Aku naik ke posisi satu! Aksi heroik kelima, dan yang diselamatkan AKU!”

Dua rekan tim Sheilla bertepuk tangan. Dodi bersiul. Seseorang dari meja sebelah berteriak “SELAMAT, MBAK SHEILLA!” tanpa tahu apa yang diselamati.

Aku menatap Sheilla. Lalu menatap Felicia.

Felicia menunduk ke lantai. Bahunya bergetar sedikit. Butuh waktu sebentar bagiku untuk menyadarinya.

Dia sedang menahan tawa. Lagi. Persis seperti di lift yang gelap.

Dan di balik tawa yang ditahan itu, aku melihat sesuatu yang lain di wajahnya. Sesuatu yang membuat dadaku hangat sampai ke ujung jari.

Dia bangga.


Aku turun pukul satu lewat empat puluh dengan Dodi, laptop, dan kotak peralatan.

Dodi turun lewat tangga karena dia harus mengambil Indomie dari pantry lantai lima, di mana dia menyimpan stok rahasia yang tidak diketahui Mas Yudha. Aku menunggu lift.

Lift kanan terbuka. Kosong.

Aku masuk. Aku menekan tombol lantai dua. Pintu mulai menutup.

Sebuah tangan menahannya.

Felicia masuk. Dia tidak menatapku. Dia menekan tombol “tutup” dengan jari telunjuk, dua kali, dengan sangat tegas.

Pintu tertutup. Lift mulai turun.

“Pasal satu,” kataku. “Nggak naik lift berdua.”

Dia tidak menjawab. Dia berbalik, meletakkan kedua tangannya di dadaku, dan mendorong. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat punggungku menempel di dinding lift yang dingin.

Lalu dia bersandar padaku. Seluruh tubuhnya. Kepalanya di bawah daguku, tangannya masih di dadaku, merasakan jantungku yang tiba-tiba berdetak seperti server saat migrasi.

“Yang bikin aturan boleh ngelanggar,” katanya ke kemejaku.

“Kamu yang bikin aturan.”

“Makanya.” Dia mendongak. “Lima lantai. Pakai baik-baik.”

Lantai enam.

Dia menciumku. Lambat dan dalam, berbeda dari pantry, berbeda dari mobil. Ciuman yang tidak terburu-buru, seolah-olah lima lantai adalah waktu yang sangat panjang. Tangannya bergeser dari dadaku ke kerahku, mencengkeramnya, menarikku turun.

Lantai lima.

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Aku menariknya lebih dekat. Dia mengeluarkan suara kecil di tenggorokannya yang membuatku lupa nama sendiri.

Lantai empat.

“Kamu tadi hebat,” bisiknya di bibirku, di sela-sela ciuman. “Di atas. Sama Sheilla.”

“Itu kerjaanku.”

“Bukan.” Dia menciumku lagi. “Kerjaanmu benerin server. Tadi kamu benerin sahabatku.”

Lantai tiga.

Tangannya bergerak dari kerahku ke tengkukku, jari-jarinya di rambut pendek di belakang kepalaku, dan aku menciumnya dengan semua yang tidak bisa kukatakan di depan Sheilla dan Eve dan dua rekan tim dan Dodi dan seluruh lantai tujuh. Bahwa aku melakukannya karena Sheilla menangis. Tapi juga karena Felicia berdiri di belakang kursinya dengan mata yang berkata tolong. Dan aku tidak pernah bisa menolak mata itu.

Lantai dua.

Ting.

Dia mundur selangkah dalam satu gerakan yang sempurna. Kedua tangannya merapikan blazernya. Satu tangan merapikan rambutnya yang diikat rendah. Wajahnya kembali datar dalam waktu kurang dari satu detik, seperti layar yang dikunci.

Pintu terbuka.

Dodi berdiri di depan lift dengan empat bungkus Indomie di pelukan.

Dia menatap Felicia. Felicia mengangguk sopan padanya dan menekan tombol lantai sembilan.

Dodi menatapku.

Aku keluar dari lift. Di belakangku, pintu menutup, membawa Felicia naik tanpa satu helai rambut pun yang berantakan.

Dodi tidak berkata apa-apa selama tiga detik. Matanya turun dari wajahku ke kerahku. Kerah yang tadi rapi, sekarang miring ke kiri dengan kusut di bagian yang dicengkeram. Kancing teratas lepas. Lalu matanya naik lagi, ke rambutku, yang di bagian belakang berdiri seperti antena.

“Bang,” katanya pelan.

“Jangan.”

“Abang naik lift dari lantai tujuh.”

“Iya.”

“Lima lantai.”

“Iya.”

“Itu lift tercepat di gedung, Bang. Lima lantai itu dua puluh detik.” Dia menatap kerahku lagi. “Dua puluh detik, Bang. Abang keluar kayak habis dilempar ke mesin cuci.”

Aku merapikan kerahku. Aku merapikan rambutku. Aku berjalan ke ruang IT dengan sangat tenang.

Dodi mengikutiku sambil memeluk Indomie-nya seperti memeluk bukti di persidangan.

“Saya nggak lihat apa-apa, Bang,” katanya. “Tapi saya mau bilang satu hal sebagai junior yang peduli.”

“Apa?”

“Mbak Felicia keluar lift lebih rapi dari waktu dia masuk.” Dia menggeleng kagum. “Itu bukan manusia, Bang. Itu profesional.”


Malam itu, di grup “Goddess Only 🔒” yang tentu saja tidak bisa kubaca, Felicia mengirimkan tangkapan layarnya padaku pukul sepuluh lewat lima.

Sheilla: aku masih nggak percaya hari ini 😭 Sheilla: aku hampir kehilangan motor buat bu sumi Eve: Kamu nggak kehilangan apa-apa, Shei. Semua aman 🤍 Sheilla: karena mas andro!!! Sheilla: fix dia suka aku Sheilla: tapi aku nggak masalah kalau dia nggak suka aku juga sih Sheilla: asal dia jagain kita semua kayak tadi Eve: 🥹 Felicia: Ganti password kamu. Sheilla: UDAH!!! sekarang Oyen1234 !!! Felicia: Shei. Sheilla: BERCANDA!!! mas andro udah bikinin aku password yg 16 karakter. aku nggak hafal. dia suruh aku pake password manager. aku nggak ngerti. tp aku percaya

Di bawah tangkapan layar itu, Felicia menambahkan satu pesan untukku.

Felicia: “Asal dia jagain kita semua kayak tadi.” Kamu dengar itu? Andro: Aku dengar. Felicia: Dia sahabatku sepuluh tahun. Aku nggak pernah tahu dia nabung buat motor Bu Sumi. Andro: Kadang orang yang paling berisik nyimpen rahasia paling diam. Felicia: Itu teori siapa? Andro: Teoriku. Barusan.

Tiga titik. Lama.

Felicia: Aku bangga sama kamu hari ini. Sangat. Felicia: 🤫 Felicia: Itu yang ketiga. Udah habis jatah.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku membuka papan emoji.

Andro: 🤫 Felicia: Kamu nggak boleh. Jatahku udah habis. Andro: Pasal 8 nggak bilang jatahnya dibagi dua. Itu jatah per pihak. Felicia: … Felicia: Kamu pakai celah. Andro: Aku belajar dari ahlinya.

Dia mengirim stiker kucing yang sedang menutup wajahnya dengan dua kaki.

Aku tertidur malam itu dengan ponsel di dada, dan untuk pertama kalinya dalam sebulan, aku tidak memikirkan dokumen di laptop Sheilla, atau dokter berlesung pipi, atau Eve di tangga lantai sebelas.

Aku hanya memikirkan seorang perempuan yang keluar dari lift lebih rapi dari waktu dia masuk, dan yang bangga padaku. Sangat.