← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty Nine

Ulang Tahun yang Tidak Lupa

POV: Felicia

Aku bangun hari Jumat pukul lima pagi dengan satu keputusan: hari ini aku akan bersikap seolah-olah ini hari biasa.

Bukan karena aku sedih soal ulang tahun. Aku tidak sedih. Aku sudah dua puluh delapan tahun berulang tahun, dan dua puluh delapan kali itu sudah mengajarkanku satu hal: kalau kamu tidak berharap apa-apa, kamu tidak akan kecewa.

Tahun lalu aku membeli satu cupcake di kafe lantai dasar, naik ke rooftop pukul tujuh malam saat kantin sudah tutup, dan meniup lilinnya sendirian. Itu bukan tragedi. Itu pilihan. Eve dan Sheilla punya kencan. Mereka sudah minta maaf. Aku sudah memaafkan. Itu sudah selesai.

Jadi hari ini aku tidak akan berharap apa-apa.

Pukul enam lewat lima, ponselku bergetar.

Andro: Selamat ulang tahun, Felicia.

Itu saja. Satu kalimat. Tanpa emoji. Tanpa kue virtual. Tanpa tanda seru.

Aku menatapnya sampai layarnya mati sendiri. Lalu aku menyalakannya lagi dan menatapnya lagi.

Felicia: Kamu tahu? Andro: Empat tahun. Felicia: Kamu nggak pernah ngucapin. Andro: Empat tahun aku ngetik ini jam enam pagi. Empat tahun aku hapus. Andro: Tahun ini aku nggak hapus.

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit kamarku sampai matahari masuk lewat celah tirai.

Keputusan untuk bersikap seolah-olah ini hari biasa bertahan tepat satu jam lima menit.


Di kantor, tidak ada yang terjadi. Itu yang aneh.

Pak Udin menyapa pagi, Mbak-mbak Goddess seperti biasa. Lift kiri rusak seperti biasa. Eve dan Sheilla menjemputku di lobby seperti biasa, dan tidak satu pun dari mereka menyebut tanggal hari ini.

Sheilla bercerita tentang Oyen, yang sekarang sudah punya anak tiga dengan pacarnya dari gedung sebelah. Eve bertanya apakah aku sudah sarapan. Tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun.

Aku tidak berharap apa-apa. Itu keputusanku. Aku sendiri yang memutuskannya pukul lima pagi.

Tapi tetap ada sesuatu yang turun sedikit di dadaku, seperti lift yang berhenti satu senti di bawah lantai.

Di grup “Goddess Only 🔒”, tidak ada pesan sejak semalam.

Di mejaku, tidak ada kartu. Tidak ada bunga. Hanya kontrak sewa ruang ritel yang harus diperiksa sebelum pukul tiga dan Mbak Tari yang menggeser kursinya dua senti untuk berkata, “Fel, hari ini kamu cantik banget. Ada acara?”

“Nggak ada, Mbak.”

“Oh.” Mbak Tari menatapku dengan wajah aneh. Lalu dia kembali ke monitornya dengan sangat cepat, seperti orang yang hampir mengatakan sesuatu yang tidak boleh dia katakan.

Pukul satu lewat dua puluh, rooftop.

Andro datang dengan nampan tiga minuman. Teh melati. Caramel macchiato. Cokelat panas, gula setengah. Dia meletakkannya, mengangguk, pergi. Pasal 3. Persis seperti biasa.

Tapi di sisi gelas cokelatku, di bawah tulisan gula ½, ada tulisan tambahan dengan huruf yang lebih kecil:

28.

Hanya itu. Angka. Seperti nomor halaman.

Aku memutar gelas itu sehingga tulisannya menghadap ke arahku dan tidak terlihat dari kursi Sheilla.

“Fel,” kata Sheilla. “Kamu kok senyum ke gelas lagi?”

“Cokelatnya enak.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena selalu enak.”

Sheilla menatapku. Lalu dia menatap Eve. Lalu mereka berdua menatap ke luar jendela, ke arah yang sama, dengan wajah yang terlalu tenang untuk dua orang yang biasanya tidak bisa diam lebih dari lima detik.

Aku menyesap cokelatku dan tidak bertanya.


Pukul lima sore, Pak Hendro memanggilku ke ruangannya.

“Felicia. Ada dokumen yang harus kamu bawa ke rooftop. Pak Wirya minta. Sekarang.”

“Rooftop, Pak? Kantinnya udah tutup.”

“Pak Wirya lagi di sana. Rapat informal.” Pak Hendro menyerahkan map biru tebal tanpa menatap mataku. Tangannya sedikit gemetar. Pak Hendro tidak pernah gemetar kecuali saat dimarahi direksi. “Cepat, ya.”

Aku mengambil map itu dan berjalan ke tangga darurat.

Di bordes lantai sepuluh, ponselku bergetar.

Andro: ☕? Felicia: Nanti. Aku disuruh Pak Hendro ke rooftop. Antar dokumen ke Pak Wirya. Andro: Oke.

Satu kali. Aku berhenti di tangga.

Oke. Satu kali. Itu artinya dia tidak setuju dengan sesuatu, tapi dia percaya padaku. Atau, aku tiba-tiba menyadari, itu artinya dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu.

Aku membuka map biru di tanganku.

Isinya kertas kosong. Empat puluh lembar. Semuanya kosong.

Kecuali lembar pertama, yang ditulis dengan spidol pink dan huruf yang aku kenal lebih baik dari tulisanku sendiri:

JANGAN KABUR KE TANGGA DARURAT, FEL. KAMI TAHU KAMU MAU KABUR. —S & E

Aku menatap kertas itu.

Lalu aku menatap tangga di bawahku. Delapan lantai. Basement. Mobil. Kemang. Sofa. Selimut rajutan. Tempat yang aman, di mana tidak ada yang memandangiku.

Lalu aku menatap tangga di atasku. Dua lantai. Rooftop.

Kakiku sudah mulai turun satu anak tangga sebelum aku sempat berpikir.

“Fel.”

Aku berhenti.

Andro berdiri di bordes antara lantai sebelas dan dua belas. Di atasku. Dia tidak menghalangi tangga. Dia hanya berdiri di sana, dengan tangan di saku, kemeja biru muda yang lengannya digulung, dan wajah yang sangat tenang.

“Kamu tahu,” kataku.

“Aku tahu.”

“Sejak kapan?”

“Rabu. Eve minta aku urus proyektor.” Dia turun satu anak tangga. “Dan dia minta aku pastiin kamu nggak kabur.”

“Aku mau kabur.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak suka jadi pusat perhatian. Aku nggak suka orang nyanyi ke aku. Aku nggak suka kue yang ada namaku pakai krim. Aku nggak suka…”

“Fel.” Dia turun satu anak tangga lagi. Sekarang dia berdiri satu anak tangga di atasku, dan mata kami sejajar. “Tahun lalu mereka lupa. Kamu tiup lilin sendirian. Aku lihat.”

Aku membeku.

“Aku lagi cek access point,” katanya pelan. “Jam tujuh malam. Kamu di meja pojok. Satu cupcake. Satu lilin. Kamu nggak nyanyi. Kamu nggak foto. Kamu cuma natap apinya. Terus HP-mu getar, dan bahumu turun dikit.” Dia diam sebentar. “Aku pergi sebelum kamu lihat aku. Itu malam aku mutusin berhenti cuma nonton.”

Mataku panas.

“Tahun ini mereka nggak lupa,” katanya. “Mereka udah nyiapin dari dua minggu lalu. Sheilla pesan kue tiga tingkat. Eve nulis pidato. Dia latihan di depan aku kemarin, dan dia nangis di paragraf kedua.” Dia mengulurkan tangan. “Mereka nggak bisa balikin tahun lalu. Tapi mereka mau nebusnya. Kamu biarin mereka?”

Aku menatap tangannya.

Lalu aku menutup map biru itu, mengepitnya di bawah lengan, dan mengambil tangannya.

Dia tidak menarikku. Dia hanya memegang tanganku, dan kami naik bersama, dua lantai terakhir. Di depan pintu rooftop, dia melepaskannya. Pasal 2. Pasal 6. Semua pasal.

Lalu dia membukakan pintu untukku, dan mundur, dan membiarkanku masuk duluan.


“SELAMAT ULANG TAHUN, FELICIAAAA!”

Lampu menyala.

Bukan lampu kantin biasa. Lampu-lampu kecil berwarna kuning, ratusan, dililitkan di pilar-pilar, di pagar teras, di rangka atap kaca. Balon putih dan hijau tua, warna gaun yang kupakai di brunch, menempel di dinding. Meja-meja kantin dirapatkan jadi satu meja panjang, ditutup taplak putih, dan di tengahnya ada kue tiga tingkat dengan krim putih dan stroberi di atasnya.

Dan orang-orang.

Mbak Tari, yang langsung menangis. Pak Hendro, yang berdiri kaku dengan topi pesta kerucut di kepalanya. Seluruh tim legal lantai sembilan. Setengah lantai tujuh. Dodi dan dua staf IT lain, yang memegang terompet kertas. Mas Yudha, dengan wajah datar dan topi pesta yang miring. Pak Udin, yang entah bagaimana naik dua belas lantai dengan lututnya. Bu Sumi dan Raka, dengan sepatu putih bersih.

Bahkan Pak Wirya. Di ujung meja. Bertepuk tangan dan tertawa keras.

Dan di tengah semuanya, Eve dan Sheilla.

Sheilla memakai topi pesta bertuliskan PANITIA, memegang pengeras suara kecil, dan maskaranya sudah luntur sebelum pesta dimulai. Eve memakai gaun putih sederhana dan memegang kartu kecil yang tangannya gemetar.

Aku berdiri di pintu dan tidak bisa bergerak.

Aku tidak bisa bergerak karena dua puluh delapan tahun aku belajar tidak berharap apa-apa, dan sekarang ada lima puluh orang di rooftop yang semuanya menatapku, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahku.

Sheilla berlari ke arahku dan memelukku sampai aku hampir jatuh.

“Maafin kita,” katanya ke bahuku, terisak. “Maafin tahun lalu. Aku nggak pernah maafin diriku sendiri. Aku nangis tiap lihat postingan itu. Aku nggak bakal lupa lagi, Fel. Aku pasang alarm. Lima alarm. Di HP, di laptop, di jam tangan, di kulkas, dan aku suruh ibuku telepon aku.”

Aku memeluknya balik. Aku tidak bisa bicara.

Eve datang dari belakang dan memeluk kami berdua. Tiga orang berpelukan di depan pintu rooftop seperti tiga botol di rak yang tiba-tiba jatuh bersamaan.

“Selamat ulang tahun, Fel,” kata Eve pelan. Suaranya pecah. “Aku nulis pidato. Tapi aku nggak bisa baca. Aku udah nangis dari kemarin.”

“Jangan baca,” kataku. Suaraku juga pecah. “Aku nggak kuat.”

“Oke.” Eve tertawa basah. “Aku kasih kartunya aja nanti.”

Di belakang mereka, aku melihat Andro. Dia sudah pindah ke meja kecil di pojok, di sebelah proyektor yang terhubung ke laptop. Dia tidak menatapku. Pasal 2. Dia sedang sangat sibuk dengan kabel.

Tapi saat lampu dimatikan dan layar proyektor menyala, dia menekan satu tombol, dan musik mulai mengalun, dan foto pertama muncul di dinding putih rooftop.


Foto-foto itu dari kuliah. Sheilla yang mengumpulkannya.

Kami bertiga di semester satu, di kelompok tugas yang dibagi berdasarkan absen yang tidak urut. Aku dengan rambut lebih pendek dan kacamata yang sudah lama kutinggalkan. Eve dengan poni yang menurutnya sekarang adalah “kesalahan terbesar hidupku”. Sheilla dengan kawat gigi.

Foto kami di study tour ke Bandung. Aku dengan kantong plastik di pangkuan. Seluruh rooftop tertawa.

Foto kami di wisuda. Tiga toga. Tiga senyum. Aku di ujung kiri foto, setengah terpotong. Bahkan waktu itu.

Foto kami di hari pertama kerja di Navara. Di depan lobby. Pak Udin di latar belakang, melambai.

Lalu foto-foto lain yang tidak pernah kulihat. Foto aku yang diambil tanpa sepengetahuanku. Aku yang tertidur di sofa saat sleepover. Aku yang sedang membaca kontrak di rooftop dengan dahi berkerut. Aku yang tertawa, satu-satunya foto aku tertawa lepas, di Family Day, di bawah topi pet putih, menatap ke arah panggung.

Ke arah panggung, di mana seseorang sedang berlutut di depan anak kecil dengan ikat rambut stroberi.

Aku tidak tahu Sheilla mengambil foto itu.

Aku menoleh ke Sheilla. Sheilla sedang menyeka matanya dengan tisu dan tidak menatapku.

Foto terakhir muncul. Bukan foto. Tulisan putih di latar hitam.

Buat Felicia, yang selalu berdiri dua langkah di belakang kami. Kami selalu tahu kamu di sana. Tahun ini, kami yang berdiri di belakangmu. —Eve & Sheilla

Lampu menyala.

Aku menangis di depan lima puluh orang. Di depan Pak Wirya. Di depan Pak Hendro yang memakai topi kerucut. Di depan Mbak Tari yang sudah menangis lebih dulu.

Aku tidak pernah menangis di depan siapa pun. Dua tahun, kata Sheilla. Air mata yang hampir mengkristal.

Ternyata belum mengkristal.


Pesta selesai pukul sembilan malam.

Kue tiga tingkat dihabiskan, sebagian besar oleh Dodi. Pak Wirya pulang setelah memberi pidato singkat yang tidak ada hubungannya dengan ulang tahun dan sangat berhubungan dengan target HUT Navara. Mbak Tari memelukku empat kali. Pak Udin menyalamiku dan bilang, “Selamat, Mbak. Semoga tahun ini nggak naik lift lagi.” Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku tahu persis apa maksudnya.

Eve dan Sheilla adalah yang terakhir pulang.

“Kamu mau kami antar?” tanya Eve.

“Aku bawa mobil.”

“Kamu yakin? Kamu habis nangis tiga kali. Matamu bengkak.”

“Aku yakin.” Aku memeluk mereka. “Makasih. Beneran. Aku…”

“Jangan,” kata Sheilla, mengangkat tangan. “Jangan bilang apa-apa. Nanti aku nangis lagi. Maskaraku udah habis.”

Mereka pergi. Pintu lift tertutup.

Rooftop tinggal lampu-lampu kecil kuning di pilar, sisa balon yang mulai kempis, dan taplak putih dengan noda krim.

Dan satu orang yang sedang membereskan kabel proyektor di pojok, dengan sangat lambat, seperti orang yang sengaja mengulur waktu.


“Kadoku mana?” tanyaku.

Dia mengangkat kepala dari kabel. “Hm?”

“Semua orang kasih kado. Mbak Tari kasih syal. Pak Hendro kasih cokelat. Yang ini nggak kedaluwarsa, aku cek.” Aku berjalan pelan ke arahnya. “Kamu cuma kasih angka di gelas.”

“Angka itu penting.”

“Angka itu kado?”

“Bukan.” Dia meletakkan kabel. “Kadonya di meja pojok.”

Aku menoleh.

Di meja pojok. Meja kami. Di dekat dinding foto. Di tempat yang sama di mana tahun lalu aku duduk sendirian pukul tujuh malam.

Ada kotak kecil dari kafe lantai dasar. Di dalamnya, dua cupcake. Krim putih. Masing-masing dengan satu lilin.

Aku berdiri di depan meja itu dan tidak bisa bergerak, sama seperti di depan pintu rooftop tadi.

“Satu buat kamu,” katanya di belakangku. Pelan. “Satu buat aku. Biar kamu nggak sendirian lagi.”

Dia menyalakan kedua lilin itu dengan korek dari sakunya. Api kecil bergoyang di bawah lampu-lampu kuning.

Aku tidak meniupnya. Aku berbalik.

Dia berdiri sangat dekat. Lampu kuning di pilar memantul di kacamatanya.

“Aku maunya kado yang lain,” kataku.

“Yang mana?”

“Yang nggak bisa dibungkus.”

Dia menatapku lama. Lalu dia mengangkat tangan, dan ibu jarinya menyentuh bibirku. Pelan. Mengusap sudut bibir bawahku dari kiri ke kanan.

“Tutup mata,” katanya. “Hitung sampai sepuluh.”

Aku menutup mata.

“Satu,” bisikku.

Napasnya hangat di wajahku.

“Dua.”

Tangannya di pinggangku.

“Tiga.”

Dahinya menyentuh dahiku.

“Empat…”

Aku tidak pernah sampai ke lima.

Dia menciumku di meja pojok rooftop Tower Navara, di depan dinding foto empat tahun, dengan dua cupcake yang lilinnya masih menyala di belakangku. Pelan dan dalam dan sangat lama, seperti orang yang sudah menunggu empat ulang tahun untuk melakukan ini. Tanganku naik ke rahangnya. Tangannya naik ke rambutku, menarik ikatannya sampai lepas, dan rambutku jatuh ke punggung.

Saat dia akhirnya mundur, lilinnya sudah setengah meleleh.

“Kamu belum tiup lilinnya,” katanya. Suaranya serak.

“Kamu yang ganggu.”

“Kamu yang minta.”

Aku berbalik. Aku menatap dua lilin kecil di dua cupcake. Aku memejamkan mata dan membuat permohonan. Aku tidak akan mengatakan apa permohonannya. Bahkan di sini.

Lalu aku meniupnya. Dua-duanya. Sekaligus.

Asap tipis naik ke langit-langit kaca.

“Sst,” kataku, sebelum dia sempat bertanya apa permohonanku.

Dia tersenyum. “Sst.”


Dia mengantarku ke basement pukul sepuluh. Lewat tangga darurat. Tentu saja.

Basement sepi. Lampu neon berdengung. Mobilku satu-satunya di lantai itu, di tempat parkirku yang biasa, di sebelah pilar beton.

Di samping pintu pengemudi, aku berbalik padanya.

“Makasih,” kataku. “Buat semuanya. Buat bawa aku naik.”

“Aku cuma bukain pintu.”

“Kamu bawa aku naik, Andro.” Aku menatapnya. “Kalau kamu nggak di tangga, aku udah di Kemang. Di sofa. Makan mi instan. Dan Eve sama Sheilla bakal nunggu di rooftop sama lima puluh orang dan kue tiga tingkat.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menyelipkan rambutku, yang masih tergerai, ke belakang telinga.

Aku menciumnya. Singkat. Di basement. Di samping mobil. Di bawah lampu neon yang berkedip.

Lalu sekali lagi, karena satu kali tidak cukup.

Lalu aku masuk ke mobil dan menyetir pergi, dan di kaca spion aku melihatnya berdiri di sana, di samping pilar beton, dengan tangan di saku, sampai aku berbelok di tikungan keluar.

Aku tidak melihat ke arah lain di basement itu.

Aku tidak melihat hatchback merah yang terparkir di ujung lain, dengan lampu mati dan mesin mati.

Aku tidak melihat cahaya kecil dari layar ponsel di balik kaca depannya.

Aku menyetir pulang ke Kemang dengan jendela sedikit terbuka, rambut tergerai, mata bengkak, dan dada yang terlalu penuh.

Itu ulang tahun terbaik dalam hidupku.

Dan aku tidak tahu bahwa itu juga malam terakhir rahasia kami.