Chapter Two
Empat Tahun di Ujung Foto
POV: Andro
Hal pertama yang perlu diketahui tentang tantangan yang barusan kuucapkan adalah ini: untuk sampai ke bordes antara lantai tujuh dan enam, aku harus naik dari lantai dua.
Lima lantai. Lewat tangga.
Aku sudah menghitungnya kemarin. Felicia keluar dari pintu lantai sembilan sekitar pukul lima lewat delapan. Dia turun dengan kecepatan rata-rata satu lantai per empat puluh detik. Kalau aku berangkat dari lantai dua pukul lima lewat lima, aku akan bertemu dengannya di antara lantai tujuh dan enam. Tempat yang cukup jauh dari pintu mana pun, jadi tidak akan ada yang lewat.
Yang tidak kuhitung adalah napasku.
Aku sampai di bordes itu dua menit lebih awal dengan dada yang berdentum seperti kipas server yang lupa dibersihkan. Jadi aku berdiri di sana, satu tangan di pegangan tangga, mengatur napas pelan-pelan supaya kalimat yang sudah kulatih selama empat tahun tidak keluar dalam bentuk ngos-ngosan.
Aku mau bikin kamu jatuh cinta sama aku.
Tujuh kata. Aku sudah mencoba versi lain. Versi yang lebih panjang, lebih halus, lebih banyak penjelasannya. Semuanya terdengar seperti presentasi proposal pengadaan. Pada akhirnya aku memilih yang paling pendek, karena Felicia membaca kontrak untuk hidup, dan orang yang membaca kontrak untuk hidup tidak suka klausul yang bertele-tele.
Lalu pintu lantai sembilan berbunyi di atasku. Langkahnya terdengar, ringan dan teratur. Aku berhenti bernapas sama sekali, yang ternyata juga bukan strategi yang bagus.
Dan dia muncul di belokan tangga.
Aku sudah melihat Felicia ribuan kali dalam empat tahun. Di lift, di lobby, di rapat koordinasi yang membosankan, di antrean kantin yang selalu dia hindari. Tapi ada sesuatu tentang melihatnya dari jarak dua meter, di bawah lampu tangga darurat yang jujur sekali, tanpa Eve dan Sheilla di sebelahnya.
Dia cantik dengan cara yang tidak berusaha. Rambut hitamnya diikat rendah, beberapa helai lepas di sisi wajah karena seharian bekerja. Blazer abu-abu, kemeja putih, tas kulit yang dia pegang di depan tubuh seperti tameng. Matanya agak sipit di ujung dan selalu kelihatan seperti sedang membaca catatan kaki dari hidupmu.
Lalu dia menatapku, dan aku lupa semua angka yang kuhitung.
Sisanya berjalan seperti yang sudah dia lihat sendiri. Dia bilang aku salah orang. Dia bilang Eve ada di lantai sepuluh. Dan aku mengatakan hal yang sudah lama ingin kukatakan ke semua orang di gedung ini: bahwa aku bisa membedakan.
Setelah dia turun, aku berdiri di bordes itu cukup lama. Lalu aku duduk di anak tangga dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak tahu itu tanda berhasil atau gagal. Dia tidak tersenyum. Dia juga tidak marah. Dia bertanya “kenapa”, dan menurut pengalamanku, orang hanya bertanya “kenapa” pada sesuatu yang belum ingin mereka tutup.
Itu cukup untuk hari pertama.
Ruang IT ada di lantai dua, di ujung koridor yang selalu dingin karena bersebelahan dengan ruang server. Saat aku masuk, Dodi sedang duduk di kursiku, memutar-mutar badan, dengan sebungkus kacang di pangkuan.
“Gimana, Bang?”
“Kamu ngapain di kursiku?”
“Nunggu laporan.” Dia memasukkan kacang ke mulut. “Saya udah nunggu empat puluh lima menit. Kacangnya udah mau habis.”
Dodi Saputra, dua puluh empat tahun, junior IT paling cerewet yang pernah kurekrut. Dia mengirim lamaran dengan CV setebal tiga halaman, dua di antaranya berisi daftar game yang pernah dia tamatkan. Aku menerimanya karena di wawancara dia bisa menjelaskan konfigurasi jaringan kantor lamanya sambil menggambar di tisu, dan karena dia orang pertama yang jujur bilang, “Saya belum tahu, Pak, tapi saya bisa cari tahu malam ini.”
Sayangnya, kejujurannya tidak terbatas pada urusan teknis.
“Jadi?” Dodi mencondongkan badan. “Abang udah ngomong?”
“Udah.”
“TERUS?”
“Pelan-pelan suaranya. Mas Yudha masih di dalam.”
Dodi menurunkan suara, tapi tidak antusiasmenya. “Terus dia bilang apa?”
“Dia bilang aku salah orang. Eve di lantai sepuluh.”
Dodi menatapku dengan wajah orang yang baru mendengar servernya terbakar. “Aduh, Bang.”
“Terus aku bilang aku tahu.”
“Terus?”
“Terus dia nanya kenapa.”
“Terus?”
“Terus aku jawab, terus dia pergi.”
Dodi bersandar ke kursiku, mengunyah kacang sambil berpikir keras. “Itu… bagus atau jelek?”
“Aku juga nggak tahu.”
“Abang jenius, Bang. Abang bisa benerin server Singapura dari Bandara Soekarno-Hatta pakai HP yang baterainya tinggal tujuh persen. Masa nggak tahu itu bagus atau jelek?”
“Server itu nggak punya perasaan, Dod.”
“Server kita punya. Buktinya tiap Abang cuti dia ngambek.”
Pintu ruang kaca di pojok terbuka. Mas Yudha keluar dengan tas laptop di bahu dan jaket di lengan. Dia IT Manager kami, tiga puluh delapan tahun, dua anak, satu kucing gendut, dan kebiasaan bicara sesedikit mungkin seolah-olah setiap kata dibayar per karakter.
Dia menatapku. Lalu menatap Dodi. Lalu menatapku lagi.
“Udah?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Mas Yudha mengangguk balik, pelan. Dia menepuk bahuku satu kali saat lewat.
“Akhirnya,” katanya.
Lalu dia pulang.
Dodi melongo. “Mas Yudha tahu?”
“Mas Yudha tahu semuanya. Dia cuma nggak ngomong.”
“Sejak kapan?”
Aku duduk di kursi Dodi, karena Dodi jelas tidak berniat pindah dari kursiku. “Mungkin sejak tahun pertama. Waktu aku minta dia jangan pasang printer baru lantai sembilan di pojok yang deket AC.”
“Kenapa emangnya?”
“Karena dia gampang kedinginan.”
Dodi diam beberapa detik. Lalu dia meremas bungkus kacangnya. “Bang, itu empat tahun lalu.”
“Iya.”
“Abang naksir orang empat tahun dan baru ngomong hari ini?”
“Iya.”
“Bang.” Dodi meletakkan tangan di dada. “Saya mau nangis, tapi saya juga mau mukul Abang.”
Kalau ada yang bertanya kapan semua ini dimulai, aku bisa menjawab dengan tanggal yang tepat. Itu salah satu keuntungan bekerja di IT: semua hal punya log.
Empat tahun lalu. HUT Navara Grup yang ke-23. Aku baru setahun di sini, dan pagi itu sound system lobby mati dua puluh menit sebelum acara dimulai. Aku menghabiskan dua puluh menit itu merangkak di bawah panggung, menyambung ulang kabel yang digigit tikus. Saat aku keluar dengan kemeja penuh debu, fotografer sudah berteriak supaya semua karyawan berbaris untuk foto bersama.
Aku kebagian tempat di ujung kanan. Paling ujung, setengah badan di luar barisan.
Di ujung kiri, jauh di seberang sana, ada seorang perempuan yang juga baru datang. Rambutnya basah sedikit karena gerimis pagi itu, napasnya masih terengah, blazernya belum dikancing. Dia tidak berusaha masuk ke tengah. Dia hanya berdiri di ujung, merapikan rambut dengan jari, lalu berdiri tegak dengan wajah datar menunggu kamera.
Lalu anak petugas kebersihan, umurnya mungkin lima tahun, yang dibawa ibunya karena sekolahnya libur, lepas dari pegangan dan berlari melintas di depan barisan. Tiga ratus orang tertawa. Fotografer menggerutu. Anak itu tersandung dan jatuh tepat di depan ujung kiri barisan.
Perempuan itu berlutut. Dia tidak bilang apa-apa yang kudengar. Dia hanya membersihkan lutut anak itu dengan saputangannya, lalu mengambil sesuatu dari tasnya, sebatang permen cokelat kecil, dan meletakkannya di tangan anak itu.
Anak itu berhenti menangis.
Perempuan itu tersenyum. Hanya sebentar. Senyum kecil, nyaris tidak kelihatan, yang tidak dia berikan pada kamera beberapa detik kemudian.
Tapi aku melihatnya.
Itu saja. Tidak ada yang dramatis. Aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, karena aku tidak percaya hal seperti itu. Aku hanya penasaran. Siapa yang berdiri di ujung, tidak berusaha dilihat siapa pun, lalu diam-diam menolong orang lain ketika semua kamera sedang dipasang?
Namanya Felicia. Dari bagian legal. Masuk dua minggu sebelumnya. Sahabat Eve dari Corporate Communication dan Sheilla dari Marketing.
Aku tahu namanya karena tiga hari kemudian dia mengirim tiket ke IT: Laptop tidak bisa login VPN. Sudah coba restart 3x. Sudah coba cabut-pasang. Mohon jangan tanya apakah sudah coba restart.
Aku tertawa sendirian di mejaku membaca kalimat terakhir itu.
Penasaran itu tumbuh pelan-pelan. Aku melihatnya dari jauh, karena memang hanya itu yang bisa kulakukan. Aku melihat bagaimana dia selalu turun lewat tangga darurat. Bagaimana dia makan siang pukul satu lewat seperempat. Bagaimana dia memesan cokelat panas, bukan kopi, dan selalu minta gulanya setengah. Bagaimana dia berdiri dua langkah di belakang dua sahabatnya, setiap pagi, setiap hari.
Dan bagaimana, berkali-kali, laki-laki mendekatinya hanya untuk bertanya tentang Eve. Atau tentang Sheilla.
Aku pernah melihat wajahnya saat itu terjadi. Di lift, tahun kedua. Seorang staf dari divisi lain bicara padanya dengan sangat ramah selama enam lantai, lalu di lantai kesembilan, tepat sebelum pintu terbuka, dia bertanya, “Eh, Sheilla sukanya bunga apa, ya?”
Felicia menjawab dengan tenang. “Matahari.”
Laki-laki itu berterima kasih. Pintu terbuka. Felicia keluar.
Wajahnya tidak berubah sama sekali. Itu yang paling menggangguku. Tidak ada kecewa, tidak ada kesal. Seperti orang yang sudah terlalu sering menerima paket yang salah alamat sampai berhenti berharap ada yang benar-benar untuknya.
Hari itu aku memutuskan satu hal: aku tidak mau jadi laki-laki di lift itu.
Aku tidak mau jadi satu lagi cowok yang mendekati goddess. Jadi aku tidak mendekat sama sekali.
Itu, kalau kupikir sekarang, adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat dengan logika paling rapi.
Lalu ada malam itu. Setahun yang lalu.
Aku naik ke rooftop pukul tujuh malam untuk memeriksa access point Wi-Fi yang sering putus. Kantin atas sudah tutup. Lampunya tinggal setengah. Angin malam masuk dari teras terbuka.
Dan di meja pojok, di dekat dinding foto, Felicia duduk sendirian.
Di depannya ada satu cupcake. Cupcake kecil dengan krim putih, seperti yang dijual di kafe lantai dasar. Satu lilin di atasnya, belum dinyalakan.
Aku berhenti di balik pilar. Aku tahu seharusnya aku pergi. Tapi kakiku tidak mau bergerak.
Dia menatap cupcake itu lama. Lalu dia mengeluarkan korek dari tas, menyalakan lilin itu, dan menatap apinya. Dia tidak bernyanyi. Dia tidak memotret. Dia hanya menatap.
Ponselnya di meja bergetar sekali. Dia melirik layarnya. Wajahnya tetap datar, tapi bahunya turun sedikit, nyaris tidak kelihatan.
Lalu dia meniup lilin itu.
Aku pergi sebelum dia sempat melihatku. Aku turun lewat tangga darurat dan duduk di mejaku sampai jam sepuluh, menatap layar yang tidak kubaca.
Besok paginya, di Instagram, Sheilla mengunggah foto lama mereka bertiga dengan tulisan: HAPPY BELATED BIRTHDAY FELICIAAAA 😭😭😭 maafin kita telat sehari, kemarin aku sama Eve ada kencan dua-duanya 🙏 LOVE YOU!!!
Eve membalas di kolom komentar dengan tiga emoji hati dan permintaan maaf yang panjang.
Felicia menyukai unggahan itu. Hanya itu.
Malam itu aku membuat keputusan kedua. Yang ini, kurasa, tidak bodoh.
Aku berhenti hanya menonton.
Dodi mendengarkan semua itu dengan mulut terbuka. Kacangnya sudah habis, tapi tangannya masih masuk ke bungkus kosong secara refleks.
“Bang,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Itu sedih banget.”
“Makanya aku nggak pernah cerita.”
“Terus kenapa baru sekarang? Itu kan setahun lalu.”
“Karena aku perlu rencana.”
Dodi menatapku. “Abang perlu setahun buat bikin rencana ngomong tujuh kata?”
“Bukan cuma ngomong.” Aku menarik selembar kertas dari printer, menggambar dua kotak di sisi kiri dan kanan. “Ini aku. Ini dia. Dia nggak pernah sendirian. Pagi dia sama Eve dan Sheilla. Makan siang dia sama Eve dan Sheilla. Pulang dia lewat tangga darurat, dan itu satu-satunya waktu dia sendiri.”
“Oke…”
“Masalahnya, kalau aku deketin dia di depan Eve dan Sheilla, semua orang bakal ngira aku ngincer Eve. Atau Sheilla. Karena memang itu yang selalu terjadi.” Aku menggambar garis dari kotakku menuju kotak di tengah, lalu mencoretnya keras-keras. “Dan dia juga bakal ngira begitu. Karena itu yang selalu terjadi ke dia.”
Dodi mengangguk pelan, mulai mengerti.
“Jadi aku bikin aturan.” Aku menulis di bawah gambar itu. “Satu, nggak pakai jembatan. Aku nggak lewat Eve atau Sheilla buat nyampe ke dia. Dua, nggak bohong. Kalau ada yang nanya aku naksir siapa, aku nggak akan nyebut nama orang lain. Tiga, dia harus tahu dari awal. Makanya aku ngomong duluan, di tempat yang cuma ada dia.”
“Empat?”
“Empat, ada tenggatnya.” Aku menunjuk kalender di dinding. “HUT Navara. Empat bulan lagi. Foto bersama.”
“Kenapa foto?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku berdiri, mengambil jaket, dan mematikan monitor.
“Ikut,” kataku.
Kami naik ke lantai dua belas. Kali ini lewat lift, karena aku sudah cukup menyiksa paru-paruku hari ini.
Kantin atas sudah sepi. Lampunya tinggal setengah, persis seperti malam itu. Aku berjalan ke dinding foto di dekat meja pojok, dan Dodi mengikuti sambil celingak-celinguk seperti maling.
“Lihat,” kataku.
Empat bingkai. Empat tahun. Dodi mendekat, menyipitkan mata, mencari-cari.
“Itu Mbak Eve. Itu Mbak Sheilla. Mbak Felicia di mana?”
“Ujung kiri.”
Dodi bergeser. “Oh. Iya. Kepotong dikit.” Dia memeriksa bingkai berikutnya. “Ini juga ujung kiri. Ini juga. Ini juga.” Dia menoleh padaku. “Dia nggak pernah di tengah, Bang?”
“Nggak pernah.”
“Terus Abang di mana?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunggu.
Dodi menyusuri foto itu dari kiri ke kanan. Lewat tiga ratus wajah. Lewat spanduk merah. Sampai ke ujung paling kanan.
Lalu dia diam.
Di keempat foto itu, aku berdiri di ujung kanan. Sama seperti Felicia di ujung kiri. Dua orang di dua tepi, dengan tiga ratus orang di antara kami.
Dan di keempat foto itu, semua orang menghadap kamera. Kecuali satu.
“Bang,” kata Dodi pelan. “Abang nggak pernah lihat kamera.”
“Nggak.”
“Abang lihat ke kiri. Empat tahun.”
“Iya.”
Dodi menatap foto itu lama sekali. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mengetik sesuatu dengan wajah serius.
“Kamu ngetik apa?”
Dia membalik layarnya ke arahku.
PROJECT UJUNG FOTO. Target: pindahin dua orang dari ujung ke tengah. Deadline: HUT Navara. PIC: Bang Andro. Support: Dodi (gratis, tapi minta ditraktir).
Aku tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pukul lima tadi, dadaku terasa ringan.
“Nama yang jelek,” kataku.
“Nama yang pas,” kata Dodi. “Besok langkah pertamanya apa?”
Aku menatap foto paling baru, yang tahun lalu. Felicia di ujung kiri, rambutnya diikat rendah, wajahnya datar. Tapi kalau kamu memperhatikan dengan teliti, seperti yang sudah kulakukan ribuan kali, kamu akan melihat matanya tidak benar-benar menatap kamera.
Sedikit ke kanan.
Aku tidak pernah memikirkan itu terlalu jauh. Aku tidak berani.
“Besok,” kataku, “aku beli tiga gelas minuman.”
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto reading
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur