Chapter Sixteen
Blackout
POV: Andro
Pukul sepuluh lewat empat puluh satu, aku sedang membaca log di meja, sendirian di ruang IT lantai dua.
Aku tidak lembur karena ada pekerjaan. Aku lembur karena dari jendela ruang IT, kalau kamu mendongak cukup jauh, kamu bisa melihat satu baris jendela di lantai sembilan yang masih menyala. Dan selama baris jendela itu menyala, aku tidak bisa pulang dengan tenang.
Itu bukan alasan yang bisa kutulis di laporan lembur.
Lalu semua lampu mati.
Aku tidak panik. Aku sudah memikirkan malam seperti ini ratusan kali, dalam rapat evaluasi, dalam simulasi, dalam mimpi buruk jam tiga pagi. Jadi tubuhku bergerak sebelum otakku selesai memproses.
Pertama, aku mendengarkan. Dari balik dinding, dengung server tidak berhenti. Bagus. UPS menyala, baterai cadangan yang menjaga server tetap hidup. Tapi baterai itu hanya bertahan lima belas menit. Setelah itu genset harus menyala dan mengambil alih.
Aku menghitung. Satu. Dua. Lima. Sepuluh detik.
Genset seharusnya menyala dalam sepuluh detik. Bunyinya seperti truk yang batuk di basement, dan seluruh gedung biasanya bergetar sedikit.
Lima belas detik. Dua puluh.
Tidak ada bunyi.
Aku mengambil senter dari laci, ponsel kantor, dan HT dari pengisi daya di dinding.
“Pak Tarno. Andro. Genset nggak nyala.”
Suara Pak Tarno pecah-pecah lewat HT. “Iya, Mas. Saya lagi lari ke ruang genset. Panel ATS-nya merah. Kayaknya startnya gagal.”
“Pak Udin, ada orang di lift?”
Jeda. Lalu suara Pak Udin, lebih tenang dari dugaanku. “Nggak ada, Mas. Panel lift kosong dua-duanya. Saya cek CCTV, kameranya masih nyala pakai baterai.”
Aku mengembuskan napas. Itu yang paling penting. Tidak ada orang terjebak di lift dalam gelap.
“Siapa aja yang masih di gedung, Pak?”
“Lantai sebelas ada Pak Hendro sama dua direksi. Lantai dua ada Mas Andro. Sama…” Jeda. “Lantai sembilan, Mbak Felicia. Sendirian.”
Aku sudah berlari ke tangga darurat sebelum Pak Udin selesai bicara.
“Pak Udin, naik ke lantai sebelas pakai senter. Antar Pak Hendro sama direksi turun pelan-pelan lewat tangga barat. Jangan buru-buru.”
“Lutut saya, Mas…”
“Pelan-pelan aja, Pak. Nggak usah lari. Lift nggak bakal nyala, jadi semua orang harus lewat tangga. Mas Bayu masih di gedung?”
“Sudah pulang.”
“Oke. Pak Udin sendiri aja. Pelan-pelan.”
Aku membuka pintu tangga darurat timur. Gelap total. Lampu darurat tangga seharusnya menyala dengan baterai sendiri. Hanya dua dari delapan yang menyala, berkedip lemah. Aku menyalakan senter dan mulai naik.
Lantai tiga. Lantai empat. Paru-paruku protes, sudah terbiasa naik lima lantai sejak bulan lalu, tapi tidak dengan kecepatan seperti ini.
Lantai lima. Enam.
Aku tidak berhenti untuk mengatur napas kali ini.
Pintu tangga darurat lantai sembilan terbuka ke koridor yang hitam pekat.
“Felicia?”
Suaraku memantul di dinding. Tidak ada jawaban.
Aku mengarahkan senter ke kiri, ke deretan meja legal yang kosong. Laptop Felicia masih terbuka, layarnya menyala redup dengan baterai, satu-satunya cahaya di ruangan itu. Kursinya kosong.
“Felicia!”
“Pantry.”
Suaranya datang dari kanan. Pelan, tenang, terlalu tenang.
Aku berbalik dan mengarahkan senter ke ujung koridor. Pantry. Pintunya terbuka. Dan di dalamnya, berdiri di depan dispenser yang mati, dengan gelas teh di kedua tangan, Felicia.
Dia menyipitkan mata ke arah senterku. Rambutnya terikat rendah seperti biasa, tapi sudah longgar karena seharian bekerja. Blazernya tersampir di kursi meja, jadi dia hanya memakai kemeja putih dengan lengan digulung. Dia kelihatan baik-baik saja.
Tapi tangannya, di sekeliling gelas teh, gemetar sedikit.
“Kamu naik lewat tangga,” katanya.
“Iya.”
“Cepet banget. Aku dengar dari bawah.”
“Aku latihan sebulan.”
Dia menatapku. Lalu dia meletakkan gelas teh di meja pantry, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh. Tangannya berhenti gemetar begitu tidak memegang apa-apa.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.
“Aku nggak apa-apa. Cuma gelap.” Dia berhenti. “Dan sepi. Gedung ini nggak pernah sepi. Selalu ada AC. Atau lampu. Atau sesuatu yang berdengung.”
“Iya. Kalau semua berhenti, kedengarannya kayak gedungnya berhenti napas.”
Dia mengangguk pelan. Lalu matanya melebar. “Tender.”
“Hm?”
“Tender Hoshino. Dokumen finalnya di server bersama. Pak Hendro bawa versi cetaknya ke lantai sebelas buat tanda tangan, tapi file finalnya, yang dua bahasa, yang udah dicek semua, ada di server. Aku belum simpan salinan di laptop.” Suaranya naik sedikit. “Server masih nyala?”
“Nyala. Pakai baterai.”
“Berapa lama?”
Aku melirik jam di ponsel. Empat menit sudah lewat sejak lampu mati.
“Sebelas menit lagi,” kataku. “Kalau genset nggak nyala dalam sebelas menit, server mati paksa. Datanya bisa rusak.”
Felicia menatapku. Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Ketakutan yang tadi ada di tangannya hilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih tajam. Itu wajah yang sama yang kulihat di malam migrasi, saat dia menemukan nomor kontrak yang tergeser.
“Oke,” katanya. “Apa yang harus kita lakuin?”
“Kita?”
“Aku nggak mau di sini sendirian dalam gelap. Dan itu dokumenku.” Dia mengambil blazernya dari kursi dan memakainya dengan satu gerakan. “Jadi, kita.”
Kami turun ke basement lewat tangga darurat. Sembilan lantai. Aku di depan dengan senter, dia di belakangku dengan senter ponselnya. Kami tidak bicara. Kami hanya turun, cepat dan teratur, langkah kami bergema dalam irama yang sama.
Di lantai lima, HT-ku berbunyi.
“Mas Andro. Tarno. Aki starter genset tekor, Mas. Habis. Kayaknya karena kemarin genset dites terus lupa dicas. Saya nggak bisa start.”
Aku berhenti di tengah tangga. Felicia hampir menabrak punggungku.
“Ada aki cadangan, Pak?”
“Ada di gudang, Mas. Tapi gudangnya pakai kunci elektrik. Listrik mati, kuncinya mati.”
Tentu saja. Tentu saja begitu.
“Aki mobil bisa, Pak?” tanyaku. “Buat jumper?”
“Bisa, Mas! Kalau mobilnya bensin, akinya dua belas volt, bisa buat bantu start. Tapi mobil siapa? Basement kosong, Mas. Mobil saya di rumah.”
Aku menoleh. Felicia sudah mengeluarkan kunci mobil dari saku blazernya dan mengangkatnya di depan wajahku.
“Mobilku,” katanya. “Satu-satunya di basement.”
Ruang genset ada di ujung basement, di balik pintu besi yang dicat kuning. Pak Tarno sudah di sana dengan helm kuning, senter di kepala, dan wajah penuh keringat. Genset itu besar, sebesar mobil kecil, dengan pipa-pipa dan kabel yang menjuntai seperti akar pohon.
Felicia memindahkan mobilnya sendiri. Dia memundurkannya sampai bemper belakangnya hampir menyentuh pintu ruang genset, dengan presisi yang membuat Pak Tarno bersiul pelan. Lalu dia keluar, membuka kap mesin, dan menunggu dengan tangan di pinggang.
“Kabel jumper ada, Pak?” tanyaku.
“Ada, Mas. Pendek, tapi cukup.”
Aku menyambung kabel itu. Merah ke merah. Hitam ke rangka. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati, karena tanganku mulai gemetar lagi, bukan karena takut, tapi karena aku tahu ada enam menit tersisa sebelum UPS mati.
“Mbak,” kata Pak Tarno ke Felicia. “Mbak nyalain mesin mobilnya, terus gas dikit. Jangan kenceng-kenceng.”
Felicia masuk ke mobil. Mesinnya menyala. Lampu depan mobilnya menerangi seluruh ruang genset dengan cahaya putih yang menyilaukan.
“Mas Andro, tekan start.”
Aku menekan tombol start di panel genset.
Genset itu batuk. Sekali. Dua kali. Bunyinya seperti kakek-kakek yang terbangun dari tidur panjang dan tidak senang.
Lalu diam.
“Lagi, Mas!”
Aku menekan lagi. Batuk. Batuk. Getaran.
Diam.
Empat menit.
Aku menoleh ke mobil. Felicia menatapku dari balik kaca depan, kedua tangannya mencengkeram setir, wajahnya diterangi lampu dasbor. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menatapku, seperti dia menatapku di ruang rapat lantai sebelas, empat puluh menit sebelum presentasi Hoshino. Seperti orang yang memutuskan untuk percaya.
“Pak Tarno,” kataku. “Katup bahan bakarnya. Udah dibuka penuh?”
Pak Tarno berkedip. Lalu dia menepuk dahinya sendiri dengan suara keras. “Waduh, Mas. Yang manual belum. Kemarin ditutup buat tes.”
Dia berlari ke sisi lain genset, memutar sebuah katup berwarna merah sampai mentok.
“Sekarang, Mas!”
Aku menekan start.
Batuk. Batuk. Getaran yang lebih dalam, dari perut mesin.
Lalu raungan.
Genset itu hidup dengan bunyi yang memenuhi seluruh basement. Lantai di bawah kakiku bergetar. Debu jatuh dari langit-langit. Lampu-lampu darurat di basement berkedip, lalu menyala penuh, kuning dan terang.
Pak Tarno bersorak. Aku menyandarkan kedua tangan di panel genset dan menunduk, menarik napas panjang.
Di HT, suara Pak Udin dari lantai sebelas: “Mas Andro! Lampu nyala! Lampu koridor nyala!”
Aku melirik ponsel. Dua menit tersisa di UPS. Server aman.
Aku menoleh ke mobil. Felicia sudah keluar. Dia berdiri di samping pintu pengemudi, satu tangan masih di atap mobil, dan di bawah lampu basement yang kuning dia menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan senyum. Bukan tawa. Sesuatu yang lebih pelan dari itu.
Setelah memastikan server aman dan dokumen tender Hoshino tersimpan di tiga tempat, aku naik ke lobby. Felicia ikut.
Lobby penuh. Bukan penuh orang Tower Navara, karena hanya ada lima orang yang masih lembur. Tapi pintu kaca lobby terbuka, dan karena Tower Navara satu-satunya gedung di blok itu yang menyala, orang-orang dari gedung sebelah, satpam-satpam, pedagang nasi goreng dengan gerobaknya, dan ojek online yang sedang menunggu pesanan, berkerumun di depan pintu untuk mengisi daya ponsel di stopkontak lobby.
Pak Hendro berdiri di tengah kerumunan itu dengan dokumen tender di dada, berteriak ke ponselnya tentang tanda tangan basah yang harus diulang karena satu halaman kena tumpahan kopi waktu gelap.
Seseorang tertawa keras. Seseorang lain berteriak memanggil temannya. Ada bau nasi goreng dan keringat.
Aku melirik Felicia. Dia berdiri di pintu tangga darurat, satu langkah di belakangku, dan aku melihat bahunya naik. Napasnya mulai pendek lagi. Tangannya mencengkeram tali tas.
Terlalu banyak orang. Terlalu banyak suara. Dan dia sudah melewati satu jam di kegelapan dan sembilan lantai tangga dan basement yang meraung.
Aku tidak berpikir dua kali.
“Ikut aku,” kataku pelan.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang nggak ada orangnya.”
Rooftop Tower Navara pukul sebelas lewat empat puluh malam, saat seluruh blok di sekelilingnya masih padam, adalah tempat paling sunyi yang pernah kutahu.
Genset hanya menyalakan sistem darurat: server, lampu tangga, lampu koridor dengan setengah kekuatan. Kantin atas tetap gelap. Teras terbuka tetap gelap. Dan karena seluruh blok di sekitar kami mati, tidak ada cahaya kota yang memantul ke langit.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku bisa melihat bintang di atas Jakarta.
Tidak banyak. Mungkin dua puluh. Tapi ada.
Felicia berjalan ke tepi teras, ke pagar besi setinggi dada, dan berdiri di sana menatap kota yang gelap. Di kejauhan, gedung-gedung di blok lain masih menyala, seperti pulau-pulau cahaya di laut hitam. Tapi di sekitar kami, semuanya padam. Jalan protokol di bawah sana hanya diterangi lampu mobil yang lewat sesekali.
Aku berdiri di sebelahnya. Satu langkah di samping. Tidak terlalu dekat.
Kami diam lama. Angin malam di lantai dua belas dingin, lebih dingin dari di bawah. Aku melihat Felicia merapatkan blazernya.
Aku melepas jaketku. Jaket abu-abu yang selalu kubawa ke kantor karena ruang server dingin. Aku menyampirkannya di bahunya tanpa bicara.
Dia tidak menolak. Dia hanya memegang ujung jaket itu dengan dua jari, menariknya sedikit lebih rapat.
“Makasih,” katanya.
“Buat jaketnya?”
“Buat semuanya.”
Aku tidak menjawab. Kami menatap bintang-bintang yang jarang itu.
“Andro.”
“Hm?”
“Makan malam itu.” Dia tidak menoleh. Matanya tetap pada kota yang gelap. “Kamu jadi bilang ke Eve?”
Aku memikirkan janjiku pada Eve. Bukan janji untuk berbohong. Janji untuk tidak menceritakan apa yang Eve katakan, dan perasaan Eve, dan permintaan Eve tentang Sheilla.
Tapi apa yang kukatakan adalah milikku sendiri.
“Jadi,” kataku. “Aku bilang aku suka seseorang. Udah lama. Dan aku belum bisa bilang siapa, karena orangnya belum siap.”
Felicia diam.
“Eve minta aku nggak cerita sisanya,” lanjutku. “Soal gimana reaksinya, apa yang dia bilang. Itu punya dia. Jadi aku nggak bisa cerita. Tapi aku bisa bilang satu hal.” Aku menatap pagar besi. “Kami ketawa karena dia cerita adiknya pernah jual sepatunya di marketplace buat bayar kos. Dan karena dia ganti baju tiga kali sebelum datang, terus nyesel udah ngaku. Kami ketawa sebagai teman. Itu aja.”
Angin bertiup lagi. Rambut Felicia yang terlepas dari ikatannya bergerak di sisi wajahnya.
“Aku lihat kalian dari seberang jalan,” katanya pelan.
“Aku tahu. Kamu nggak sembunyi sama sekali.”
“Sheilla yang sembunyi. Aku cuma duduk.” Dia diam sebentar. “Kamu ketawa ke dia. Lepas banget. Kepalamu sampai ke belakang.”
“Iya.”
“Aku nggak suka.”
Dia mengatakannya dengan suara datar. Seperti membaca klausul. Tapi tangannya di ujung jaket mengencang.
“Aku nggak suka lihat kamu ketawa kayak gitu ke orang lain,” lanjutnya, masih tanpa menoleh. “Padahal orang lainnya Eve. Sahabatku. Orang paling baik yang aku kenal. Aku nggak suka, dan aku benci diriku sendiri karena nggak suka. Seminggu aku naik lift biar nggak ketemu kamu. Aku makan siang di meja biar nggak lihat kamu kasih teh ke Eve.” Suaranya turun. “Aku jahat, Andro.”
“Kamu nggak jahat.”
“Aku cemburu sama sahabatku sendiri.”
“Itu bukan jahat. Itu manusia.”
Dia akhirnya menoleh. Di bawah cahaya bintang dan cahaya samar dari gedung-gedung jauh, wajahnya pucat dan matanya berkilat basah.
“Aku selalu berdiri di belakang mereka,” katanya. “Dua langkah. Sepuluh tahun. Dan aku pikir aku nggak keberatan. Aku pikir itu tempatku. Di ujung foto. Di catatan kaki. Di bayangan mereka. Dan sekarang ada satu hal, satu orang, yang aku nggak mau berbagi, dan itu bikin aku takut. Karena aku nggak tahu caranya berdiri di depan.”
Aku menatapnya. Perempuan yang naik sembilan lantai dalam gelap tanpa mengeluh. Yang menyalakan mesin mobilnya untuk menghidupkan genset sebuah gedung. Yang menemukan satu tanda kutip di antara empat puluh ribu dokumen. Yang mengira dirinya bayangan.
“Felicia,” kataku. “Dengar.”
Dia menunggu.
“Kamu nggak pernah jadi bayangan buatku,” kataku. “Nggak sekali pun. Di foto mana pun. Kamu satu-satunya yang kelihatan.”
Dia menatapku lama sekali.
Lalu, sangat pelan, seperti orang yang memindahkan barang yang tidak ingin dijatuhkan, dia bergeser satu langkah ke samping. Menutup jarak yang selalu kujaga.
Dan dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak. Rambutnya menyentuh leherku, berbau sampo dan sedikit debu genset. Jaket abu-abuku masih tersampir di bahunya. Dan berat kepalanya di bahuku terasa seperti sesuatu yang sudah lama sekali kutunggu, tanpa pernah berani membayangkan rasanya.
Setelah beberapa detik, aku mengangkat lenganku. Pelan. Memberinya waktu untuk menarik diri.
Dia tidak menarik diri.
Aku melingkarkan lenganku di bahunya, di atas jaketku sendiri, dan menariknya sedikit lebih dekat. Hanya sedikit. Cukup untuk menghalau angin.
Kami berdiri di sana, di tepi rooftop yang gelap, menatap kota yang padam.
Lalu, di kejauhan, satu blok menyala. Lalu blok berikutnya. Lampu jalan di bawah kami berkedip, lalu menyala kuning satu per satu, seperti barisan orang yang terbangun dari tidur. Gedung di seberang jalan menyala. Lalu jalan protokol, sungai cahaya yang kembali mengalir.
Bintang-bintang di atas kami memudar satu per satu, ditelan cahaya kota.
Listrik sudah kembali. Lobby di bawah pasti sudah ramai lagi. Pak Hendro pasti sedang mencari Felicia untuk mengulang tanda tangan.
Felicia tidak bergerak.
Aku juga tidak.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout reading
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur