Chapter Twenty Eight
Wawancara Eve
POV: Andro
Kirana Putri Larasati datang ke mejaku untuk keempat kalinya dalam seminggu pada hari Rabu pukul sepuluh pagi, dengan dashboard yang menurutnya “masih error” dan kotak kecil berisi kue sus dari toko di Senopati.
“Buat Mas,” katanya, meletakkan kotak itu di samping keyboard-ku. “Sebagai sogokan. Biar dashboard-ku jadi prioritas.”
Dodi, di meja sebelah, berhenti mengetik. Mas Yudha, di ruang kaca, berhenti membaca.
Aku menatap kotak kue sus itu. Lalu menatap Kirana.
Dia tidak jahat. Itu yang perlu kuingat. Dia anak baru, pintar, percaya diri, dan dia menyukai seseorang dengan cara yang terang-terangan. Itu bukan dosa. Itu bahkan, kalau dipikir, lebih berani dari apa yang kulakukan selama empat tahun di ujung foto.
Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kotak kue sus itu menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
“Kirana,” kataku. “Dashboard-mu udah aku cek kemarin. Error-nya karena koneksi ke database pakai akun lama. Aku udah ganti. Harusnya sekarang jalan.”
“Oh.” Dia berkedip. “Udah?”
“Udah. Aku kirim catatannya ke email kamu semalam.”
“Oh. Aku belum baca.” Dia tersenyum. “Kalau gitu, kuenya buat ucapan terima kasih aja.”
“Kuenya aku terima buat tim,” kataku, mengangkat kotak itu dan menyerahkannya pada Dodi, yang menerimanya dengan wajah orang yang diberi bom aktif. “Makasih, Kirana. Tapi aku mau jujur, biar nggak ada salah paham.”
Dia menunggu. Senyumnya masih ada, tapi sedikit lebih hati-hati.
“Aku udah punya seseorang,” kataku.
Ruang IT menjadi sangat sunyi. Bahkan dengung server dari balik dinding terasa lebih pelan.
Kirana menatapku. Tiga detik. Lalu dia mengangguk pelan, dengan wajah orang yang menerima jawaban di wawancara kerja yang tidak dia harapkan, tapi juga tidak sepenuhnya kaget.
“Mbak Felicia, ya?” tanyanya.
Dodi tersedak kue sus.
Aku tidak menjawab. Aturan nomor dua. Tidak bohong. Tapi juga bukan hakku untuk mengiyakan.
“Aku nggak bisa bilang siapa,” kataku. “Orangnya belum siap.”
Kirana tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berbeda. Lebih tipis. Ada sesuatu di sudutnya yang tidak bisa kubaca, sesuatu yang membuatku tidak nyaman, meskipun aku tidak tahu kenapa.
“Oke, Mas,” katanya. “Makasih udah jujur. Jarang ada cowok yang jujur.”
Dia berbalik dan pergi. Sepatu kets putihnya tidak bersuara di lantai koridor.
Dodi menelan kue susnya dengan susah payah. “Bang. Dia tahu.”
“Dia nebak.”
“Bang, semua orang di lantai sebelas nebak. Polling Bu Ratna udah tiga puluh delapan persen di opsi ‘sesuatu yang lain’.” Dodi menatapku dengan wajah serius, sisa krim kue sus di sudut bibirnya. “Mbak Felicia benerin kerah Abang di depan Pak Wirya, Bang. Itu bukan nebak. Itu siaran langsung.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap pintu tempat Kirana pergi.
Di ruang kaca, Mas Yudha meletakkan dokumennya, berdiri, dan berjalan ke mejaku. Dia mengambil satu kue sus dari kotak di tangan Dodi. Dia memakannya dalam dua gigitan.
“Hati-hati,” katanya.
Itu kedua kalinya dia mengatakan itu padaku.
Pesan dari Eve masuk pukul dua siang.
Eve: Andro, sore ini ada waktu? Aku masih utang kopi. Yang dari presentasi Hoshino. Kali ini beneran kopi, bukan teh 😊
Aku menatap pesan itu lama.
Sejak malam di Lembang, Eve tidak pernah menyinggung apa pun. Dia tetap menyapaku di lobby. Dia tetap mengucapkan terima kasih untuk teh melati setiap siang. Dia tetap tersenyum. Tapi senyumnya tidak sama lagi. Bukan lebih dingin. Lebih seperti orang yang menyimpan kartu di tangan dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk membukanya.
Dan aku tahu dia melihat. Dia tahu aku tahu dia melihat. Jari di depan bibir, di balik tenda logistik, di udara dingin Lembang.
Sst.
Andro: Ada. Jam berapa? Eve: Jam lima? Rooftop. Kantinnya udah tutup, tapi aku punya termos.
Rooftop pukul lima sore adalah tempat yang berbeda dari rooftop pukul satu siang.
Kantin sudah tutup. Kursi-kursi ditumpuk di atas meja. Matahari sudah turun ke arah barat, masuk di antara dua gedung seperti koin yang dimasukkan ke celah mesin, dan seluruh ruangan berwarna oranye dan emas.
Eve duduk di bangku di teras terbuka, di dekat pagar besi, dengan termos di pangkuan dan dua cangkir kertas di sebelahnya. Dia memakai blazer krem dan rambutnya diikat setengah, dengan sisanya jatuh di bahu. Cahaya sore membuat rambut cokelat madunya terlihat seperti terbakar dari dalam.
Kalau Bu Ratna lewat sekarang, pikirku, grup “Navara Ceria” akan meledak.
“Hai,” kata Eve, menepuk bangku di sebelahnya. “Duduk. Ini kopi tubruk. Bikinan Ibu Kos-ku. Paling enak se-Jakarta Selatan.”
Aku duduk. Dia menuangkan kopi ke cangkir kertas dan menyerahkannya padaku. Kopinya hitam dan pekat dan berbau seperti dapur rumah nenek.
Kami minum dalam diam sebentar, menatap matahari yang turun pelan-pelan di antara gedung.
“Andro,” kata Eve akhirnya. “Aku boleh nanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Tapi kamu harus jawab jujur. Kayak di makan malam waktu itu.”
“Aku selalu jawab jujur.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum ke cangkirnya. “Itu yang aku suka dari kamu. Dan yang bikin aku sedikit kesal.”
Dia memutar cangkir kertas di tangannya. Lalu dia menatap ke depan, ke matahari, bukan ke aku.
“Kalau kamu sayang sama seseorang,” katanya, “kamu kayak gimana?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku menatap kopi di cangkirku. Aku memikirkan pertanyaan itu dengan cara yang sama aku memikirkan masalah server yang tidak punya solusi jelas. Dari bawah. Dari dasar.
“Aku perhatiin dia,” kataku akhirnya. “Hal-hal kecil. Yang dia nggak bilang ke siapa-siapa. Dia minum apa. Dia makan jam berapa. Dia nggak suka apa. Dia takut sama apa.” Aku diam sebentar. “Bukan buat dipamerin. Bukan buat bikin dia terkesan. Cuma… biar aku tahu jalan pulang ke dia. Kalau dia butuh.”
Eve tidak bergerak.
“Aku benerin hal-hal yang rusak di sekitar dia,” lanjutku. “Kadang dia tahu. Kebanyakan dia nggak tahu. Nggak apa-apa. Yang penting rusaknya hilang.”
Matahari turun sedikit lagi.
“Aku jagain orang-orang yang dia sayang,” kataku. “Karena kalau mereka sakit, dia sakit. Dan aku nggak mau dia sakit.” Aku memutar cangkirku. “Aku nunggu. Kalau dia belum siap, aku nunggu. Aku nggak narik dia ke tempat yang dia belum mau. Tapi aku juga nggak pergi.”
“Berapa lama?” tanya Eve pelan.
“Selama yang dia perlu.”
“Kalau dia nggak pernah siap?”
Aku memikirkan itu. Aku memikirkan Felicia di balkon malam itu, dengan mata basah, berkata belum. Aku memikirkan Felicia di bordes tangga darurat, dengan jari di depan bibir, berkata sst.
“Kalau dia nggak pernah siap,” kataku, “aku tetap di sini. Di ujung. Itu tempat yang nggak terlalu buruk, kok. Aku udah empat tahun di situ.”
Eve tidak menjawab.
Aku menoleh padanya. Dan aku melihat sesuatu yang membuatku diam.
Eve menangis.
Tidak keras. Tidak terisak. Air mata hanya mengalir pelan di pipinya, satu, lalu yang lain, dan dia tidak menyekanya. Dia menatap matahari yang turun dengan mata basah dan senyum kecil yang tidak hilang.
“Eve…”
“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat satu tangan. “Jangan minta maaf. Aku udah bilang, kalau kamu minta maaf, aku kelihatan kasihan.”
Aku diam.
“Aku cuma…” Dia tertawa kecil, basah. “Aku iri, Andro.”
“Eve…”
“Bukan ke dia,” katanya cepat. “Bukan karena aku masih suka kamu. Itu udah selesai. Di kedai teh. Aku pulang malam itu, nangis sebentar di mobil, terus aku makan mi instan dan nonton drama Korea, dan besoknya aku bangun dan aku baik-baik aja.” Dia menyeka matanya akhirnya, dengan ujung jari, hati-hati supaya maskaranya tidak luntur. “Aku iri sama apa yang dia punya.”
Dia menatap cangkir kopinya.
“Semua cowok yang pernah deketin aku,” katanya, “mereka ngomongin rambutku. Bajuku. Wajahku. Ada yang nulis puisi tentang mataku. Ada yang kirim bunga tiap hari selama sebulan. Ada yang bilang aku perempuan paling cantik yang pernah dia lihat.” Dia menggeleng. “Nggak ada satu pun yang tahu aku minum teh melati karena nenekku. Nggak ada yang tahu aku takut gelap. Nggak ada yang tahu aku selalu ngambilin makan buat orang lain karena waktu kecil Ibu selalu bilang, ‘Eve, kamu anak sulung, kamu harus jaga adik-adikmu.’ Dan aku masih ngelakuinnya. Sampai sekarang. Ke semua orang.”
Dia menatapku.
“Mereka cinta sama apa yang mereka lihat,” katanya. “Kamu cinta sama apa yang nggak kelihatan.”
Matahari menyentuh tepi gedung di barat. Cahaya oranye berubah menjadi merah.
“Dia beruntung,” kata Eve pelan. “Siapa pun dia.”
Dia mengatakan siapa pun dia dengan nada yang sangat ringan. Seperti seseorang yang membacakan nama dari amplop tertutup tanpa membuka amplopnya.
Aku menatapnya. Dia menatapku balik.
Dan aku tahu. Dia tahu aku tahu. Dan tidak ada satu pun dari kami yang akan mengatakannya keras-keras di rooftop ini.
“Eve,” kataku. “Di Lembang…”
“Aku nggak lihat apa-apa,” katanya. Langsung. Datar. Seperti Felicia. “Aku cuma bawa wedang jahe ke belakang tenda, terus aku lihat kucing, terus aku balik.”
“Ada kucing,” aku setuju pelan.
“Ada kucing.” Dia tersenyum. “Kucing kampung. Belang tiga. Lucu.”
Dia menuangkan sisa kopi tubruk ke cangkirku.
“Itu bukan hakku buat cerita,” katanya. “Itu bukan hakmu juga. Itu hak dia. Kamu sendiri yang bilang begitu, di kedai teh. Kalau dia udah siap, aku mau jadi orang pertama yang tahu.” Dia menatap ke depan lagi. “Aku masih mau. Aku masih nunggu.”
“Dia takut,” kataku. Pelan. Aku tidak tahu apakah aku boleh mengatakan ini. Tapi Eve sudah menunggu sepuluh tahun di sebelahnya, dan mungkin dia berhak tahu setidaknya ini. “Dia takut kamu sakit hati. Dia takut kelihatan kayak orang yang nikung sahabatnya.”
Eve diam lama.
Lalu dia tertawa. Tawa yang tulus, sedikit sedih, dan sangat Eve.
“Dia selalu begitu,” katanya. “Dari kuliah. Dia selalu mikirin orang lain duluan, terus dia sendiri di belakang. Dua langkah. Dia pikir kami nggak lihat.” Dia menggeleng. “Kami lihat, Andro. Sepuluh tahun. Kami lihat.”
“Kami?”
Eve tersenyum. Senyum yang membuat lesung kecil muncul di pipi kanannya, yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Sheilla itu Sheilla,” katanya.
Itu bukan jawaban. Itu jawaban yang sempurna.
Kami turun bersama lewat tangga darurat. Di bordes lantai sebelas, Eve berhenti dan berbalik padaku.
“Satu hal lagi,” katanya. “Jumat ini.”
“Jumat?”
“Ulang tahun Felicia.”
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak empat tahun lalu. Aku tidak perlu melihat kalender.
“Tahun lalu kami lupa,” kata Eve. Suaranya turun. “Aku sama Sheilla. Kami dua-duanya ada kencan, dan kami lupa. Kami baru ingat besok paginya. Dan Felicia cuma bilang ‘nggak apa-apa’ dan like postingan Sheilla.” Dia menggigit bibir. “Aku nggak pernah maafin diriku sendiri buat itu. Sheilla juga nggak. Dia nangis waktu nulis caption-nya.”
Aku diam. Aku memikirkan cupcake dengan satu lilin di meja pojok rooftop. Aku memikirkan bahu yang turun sedikit saat ponselnya bergetar.
“Tahun ini kami mau bikin pesta,” lanjut Eve. “Besar. Kejutan. Di rooftop, setelah jam kantor. Sheilla udah ngurus izin ke GA. Dia udah pesan kue tiga tingkat. Dia udah ngundang setengah lantai sembilan dan seluruh tim IT.”
“Seluruh tim IT?”
“Biar kamu nggak kelihatan diundang khusus,” kata Eve, tersenyum. “Itu ide Sheilla.”
Aku menatapnya.
“Kamu datang, ya,” katanya. “Kamu yang urus proyektor. Sheilla mau nayangin foto-foto kami bertiga dari kuliah. Dan…” Dia berhenti. “Dan kamu yang pastiin dia nggak kabur ke tangga darurat sebelum kuenya dipotong. Dia pasti mau kabur. Dia benci jadi pusat perhatian.”
“Aku tahu.”
“Aku tahu kamu tahu.” Eve menepuk lenganku. “Itu sebabnya aku minta kamu.”
Dia berbalik dan naik ke lantai sepuluh, ke divisinya. Tapi di tengah tangga, dia menoleh lagi.
“Andro.”
“Hm?”
“Makasih udah jawab jujur.” Dia tersenyum. “Kalau aku punya adik perempuan, aku mau dia dapat cowok kayak kamu.”
“Kamu punya adik laki-laki.”
“Dia jual sepatuku di marketplace. Dia nggak masuk hitungan.”
Dia pergi.
Pukul tujuh malam, aku turun ke basement.
Felicia sudah pulang sejam yang lalu. Dia mengirim pesan dari mobil, Sheilla ngajak makan bakso, aku nggak bisa nolak, jangan tunggu, dan aku tidak menunggu. Aku lembur sampai jam tujuh untuk menyelesaikan konfigurasi layar LED HUT, karena HUT tinggal enam minggu lagi dan aku tidak mau ada kejutan.
Basement pukul tujuh malam sepi. Lampu neon berdengung. Mobil-mobil tinggal sedikit.
Aku berjalan ke pintu samping menuju halte.
Lalu aku berhenti.
Di ujung basement, di dekat pilar beton di sebelah tempat parkir Felicia yang biasa, sekarang kosong, seseorang berdiri dengan ponsel di tangan. Rambut pendek sebatas rahang. Kemeja putih. Sepatu kets putih yang tidak bersuara.
Kirana.
Dia tidak melihatku. Dia sedang menatap layar ponselnya, menggulir sesuatu dengan ibu jari, dan wajahnya diterangi cahaya layar dari bawah.
Lalu dia mengangkat kepala, menatap tempat parkir yang kosong itu, dan memotretnya.
Hanya tempat parkir kosong. Garis kuning. Pilar beton. Tidak ada apa-apa.
Lalu dia berbalik, berjalan ke mobilnya, sebuah hatchback merah di ujung lain basement, dan pergi.
Aku berdiri di sana lama setelah lampu belakang mobilnya menghilang.
Tidak ada yang aneh. Orang memotret banyak hal. Mungkin dia sedang mencari tempat parkir untuk besok. Mungkin dia memotret pilar karena ada retakan. Mungkin itu tidak berarti apa-apa.
Tapi aku membaca log setiap Senin pagi. Dan aku tahu satu hal tentang log: baris yang paling berbahaya bukan yang berbunyi error. Baris yang paling berbahaya adalah yang terlihat biasa, di tempat yang tidak biasa.
Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan ke Felicia. Lalu aku menghapusnya.
Aku tidak punya bukti apa-apa. Hanya seorang perempuan yang memotret tempat parkir kosong. Kalau aku mengirim pesan itu, Felicia akan khawatir, dan dia tidak perlu khawatir dua hari sebelum ulang tahunnya. Tidak tahun ini. Tidak setelah tahun lalu.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Lalu aku berjalan ke halte, dan menunggu bus, dan memikirkan cupcake. Satu cupcake, dengan krim putih, dari kafe lantai dasar. Dan satu lagi.
Kali ini dua.
Aku memikirkannya sampai Tebet, dan sampai rumah, dan sampai ibuku bertanya kenapa aku menatap brosur kafe di kulkas seperti menatap peta harta karun.
“Ulang tahun Nak Felicia, ya?” tanya Ibu, tanpa mengangkat kepala dari koran.
Aku menoleh. “Ibu tahu dari mana?”
“Ibu nggak tahu.” Ibu membalik halaman koran. “Tapi kamu cuma natap brosur kayak gitu kalau ada yang ulang tahun. Waktu SD kamu natap brosur toko mainan seminggu sebelum ulang tahun anak tetangga yang sepedanya kamu benerin.”
“Bu.”
“Ibu nggak bilang siapa-siapa,” kata Ibu. “Cuma bilang ke Allah.”
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve reading
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur