← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Fifteen

Cemburu Tanpa Nama

POV: Felicia

“Makan malamnya menyenangkan,” kata Eve hari Senin, di rooftop, sambil mengaduk teh melati yang dibawakan Andro sepuluh menit sebelumnya.

Itu saja. Empat kata.

Sheilla menunggu kelanjutannya dengan mulut terbuka. Kelanjutannya tidak datang.

“Udah?” tanya Sheilla. “Cuma itu?”

“Cuma itu.”

“Eve. Aku duduk di trotoar dua jam pakai syal di cuaca dua puluh delapan derajat. Aku dimarahin pelayan. Aku kehilangan topi bucket kesayanganku ke kucing liar. Dan laporanmu cuma empat kata?”

Eve berhenti mengaduk. “Kamu di trotoar?”

Sheilla membeku. Lalu menutup mulutnya dengan dua tangan.

Aku menyesap cokelatku dan menatap ke luar jendela.

“Kalian ngintip?” Eve menatap Sheilla, lalu menatapku. Matanya membulat, separuh kaget, separuh geli. “Felicia juga?”

“Aku diculik,” kataku.

“Dia nggak diculik,” kata Sheilla. “Dia aku rayu pakai suara itu. Dan es kelapa seumur hidup.”

“Es kelapanya mana?”

“Es kelapanya nanti. Kita lagi bahas Eve.” Sheilla mencondongkan badan. “Kita lihat kalian ketawa. Dua kali. Yang kedua lama banget. Itu artinya apa, Eve?”

Eve tersenyum. Senyum yang tenang, misterius, sedikit sedih di ujungnya. Atau mungkin aku yang melihat sedih di sana karena aku mencarinya.

“Itu artinya dia lucu,” kata Eve. “Dan aku lucu. Dan kami ketawa.”

“Terus?”

“Terus kami makan nasi bakar, terus aku bayar, terus kami pulang.”

“Dia nggak antar kamu pulang?”

“Aku bawa mobil, Shei.”

Sheilla menghela napas panjang, seolah-olah seluruh dunia mengecewakannya. Lalu dia membuka laptop, membuka klasemen, dan mengetik sesuatu.

“Oke. Data baru. Makan malam berdua: ada. Ketawa bareng: dua kali. Antar pulang: tidak, tapi karena alasan logistik. Status: belum jelas, tapi trennya naik.” Dia menatap Eve dengan serius. “Kamu masih di puncak klasemen, Eve. Tapi aku belum menyerah.”

Eve tertawa dan menepuk kepala Sheilla. Dia tidak membantah. Dia juga tidak mengiyakan.

Dan aku, duduk di seberang mereka, memegang gelas cokelat dengan tulisan gula ½ yang miring ke kanan, merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kuberi nama.

Atau mungkin bisa. Tapi aku tidak mau.


Aku tidak turun lewat tangga darurat hari itu.

Aku naik lift. Lift kanan, pukul lima lewat delapan, penuh dengan sebelas orang dan bau parfum yang bertabrakan. Aku berdiri di pojok dengan punggung menempel di dinding dan menghitung napas. Empat. Tahan. Enam.

Itu teknik yang dia ajarkan di lift yang macet. Aku memakainya untuk menghindarinya.

Aku tidak tahu apakah itu ironi atau hanya kebodohan.

Ponselku bergetar di basement.

Andro: Kamu nggak lewat tangga.

Felicia: Lift lagi nggak penuh.

Andro: Pak Udin bilang lift kanan penuh. Sebelas orang.

Aku menatap pesan itu. Aku menatap pos satpam di ujung lobby basement, tempat Pak Udin sedang duduk di kursi plastiknya, membaca koran, dan sama sekali tidak menatap ke arahku. Terlalu tidak menatap.

Aku tidak membalas.


Hari Selasa, aku naik lift lagi.

Hari Rabu, aku makan siang di mejaku sendiri dengan alasan kontrak Hoshino. Sheilla mengirim foto gelas cokelat yang tidak terminum di grup, dengan keterangan mas andro nanyain kamu. eh nggak nanya sih. dia cuma liat kursimu 3 detik. naik 1 detik dr minggu lalu.

Eve membalas dengan emoji tertawa.

Aku tidak membalas sama sekali.

Hari Rabu sore, Mbak Tari bertanya apakah aku sedang tidak enak badan, karena aku sudah tiga kali salah ketik nama Pak Hendro di surat yang sama.

“Aku nggak apa-apa, Mbak.”

“Kamu kayak orang yang lagi patah hati,” kata Mbak Tari. Lalu dia menambahkan, dengan nada bijak seorang perempuan yang sudah menikah dua puluh tahun, “Tapi patah hati yang bodoh. Yang hatinya sebenarnya nggak patah, cuma ketekuk dikit.”

“Hati nggak bisa ketekuk, Mbak.”

“Bisa, Fel. Hatiku ketekuk tiap kali suamiku muji masakan ibunya.”


Kamis pagi, ada gelas kertas di mejaku.

Aku melihatnya dari ujung koridor, sebelum sampai ke meja. Gelas cokelat dengan tutup plastik, diletakkan tepat di tengah alas mouse, di tempat yang tidak akan bisa tidak kulihat. Uap tipis masih keluar dari lubang tutupnya. Berarti diletakkan belum lama.

Di sisi gelas, tulisan spidol miring ke kanan:

Cokelat panas. Gula ½.

Dan di bawahnya, lebih kecil:

Nggak perlu naik ke rooftop. Ini antar ke meja. —sistem

Aku berdiri di depan mejaku dengan tas masih di bahu.

Mbak Tari, yang selalu datang paling pagi, menatapku dari balik monitornya dengan mata berbinar. “Tadi jam tujuh lewat lima, Fel. Dia naik tangga. Ngos-ngosan. Taruh itu, terus turun lagi. Nggak ngomong apa-apa. Cuma senyum ke saya.”

“Mbak lihat?”

“Saya lihat semuanya, Fel. Saya duduk di sini enam tahun.” Mbak Tari menunjuk gelas itu dengan dagu. “Minum. Mubazir.”

Aku duduk. Aku menatap gelas itu. Aku tidak meminumnya.

Lima menit. Sepuluh. Uapnya makin tipis.

Pukul delapan lewat dua puluh, aku menyerah. Aku membuka tutupnya dan meminumnya, pelan-pelan. Suhunya sudah tidak terlalu panas, tapi rasanya tetap pas. Tetap seimbang.

Aku tidak membalas pesan siapa pun pagi itu. Tapi aku menyimpan gelasnya di laci, di sebelah gelas pertama dari minggu lalu yang kuambil kembali dari tempat sampah.

Laciku mulai penuh gelas kertas kosong. Aku tidak tahu harus menjelaskan itu bagaimana kalau suatu hari ada yang membukanya.


Kamis malam, Sheilla menginap di apartemenku tanpa diundang.

Dia datang pukul delapan dengan dua bungkus martabak telur, satu tas berisi piyama, dan wajah orang yang sudah merencanakan sesuatu.

“Eve lembur,” katanya sambil menjatuhkan diri di sofaku. “Jadi malam ini kita berdua. Aku punya teori, Fel.”

“Teori apa?”

“Teori tentang kamu.”

Aku berhenti membuka bungkus martabak. “Tentang aku?”

“Kamu aneh minggu ini.” Sheilla mengangkat satu jari. “Satu, kamu naik lift. Kamu nggak pernah naik lift. Kamu benci lift. Kamu pernah bilang lift itu peti mati yang naik-turun.” Jari kedua. “Dua, kamu nggak makan siang di rooftop. Tiga hari. Itu rekor sejak kamu masuk kantor.” Jari ketiga. “Tiga, kamu salah ketik nama Pak Hendro jadi Pak Hendri. Mbak Tari cerita. Itu bukan kamu banget, Fel. Kamu bisa ngetik pasal dua puluh halaman tanpa typo.”

Aku menunduk ke martabak.

“Jadi teoriku…” Sheilla mencondongkan badan, matanya menyipit seperti detektif. “Kamu cemburu.”

Jantungku jatuh ke lantai.

“…sama Eve,” lanjut Sheilla, “karena dia diajak, eh, ngajak makan malam, dan kamu nggak pernah diajak siapa-siapa makan malam.”

Jantungku kembali naik. Pelan-pelan, dengan napas yang belum teratur.

“Itu teorimu?”

“Itu teoriku.” Sheilla mengangguk dengan bangga. “Dan aku ngerti, Fel. Aku juga cemburu. Dikit. Tapi kita nggak boleh cemburu sama Eve, karena Eve itu Eve. Dia nggak salah. Dia cuma… Eve.”

“Iya,” kataku. “Dia nggak salah.”

“Makanya.” Sheilla meraih tanganku dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, matanya tiba-tiba serius. “Kalau kamu cemburu, bilang aja ke aku. Jangan dipendam. Kamu itu kebiasaan mendem, Fel. Dari kuliah. Kamu kayak kulkas. Semua dimasukin, ditutup, didinginin. Tapi kulkas juga bisa rusak kalau isinya kebanyakan.”

Aku menatap sahabatku. Sheilla yang cerewet. Sheilla yang dianggap semua orang paling kosong di antara kami. Sheilla yang sekarang menggenggam tanganku dan mengatakan sesuatu yang sangat, sangat benar.

“Shei,” kataku pelan. “Cemburu itu rasanya kayak apa?”

Sheilla mengedip. “Kamu nggak tahu?”

“Aku nggak pernah… aku nggak yakin.”

Dia memikirkannya dengan serius. Dia melepaskan tanganku, mengambil sepotong martabak, dan mengunyah sambil berpikir.

“Cemburu itu,” katanya akhirnya, “kayak makan sambal yang kepedesan. Awalnya kamu pikir, ah, aku kuat. Terus pelan-pelan panasnya naik. Terus kamu minum air, tapi airnya malah bikin tambah panas. Terus kamu mikir, kenapa aku makan sambal ini? Aku kan nggak suka pedes. Tapi kamu tetap ambil lagi, karena… karena itu sambal, Fel. Sambal itu bikin nagih.”

“Itu teori yang aneh.”

“Itu teori yang benar.” Sheilla menelan martabaknya. “Terus satu lagi. Cemburu itu kalau kamu lihat orang yang kamu suka senyum ke orang lain, terus kamu nggak suka. Bukan karena senyumnya jelek. Senyumnya bagus. Justru karena bagus. Kamu pengin senyum itu cuma buat kamu.”

Aku tidak menjawab.

Di kepalaku, aku melihat jendela kedai teh dari seberang jalan. Aku melihat Eve tertawa dengan wajah yang cantik sekali di bawah lampu rotan. Dan aku melihat Andro tertawa bersamanya. Bukan senyum kecil yang dia berikan padaku. Tawa. Lepas, hangat, kepala sedikit ke belakang.

Aku tidak suka melihatnya.

Bukan karena tawanya jelek. Tawanya bagus. Justru karena bagus.

Aku menyadarinya duduk di sofa apartemenku, dengan martabak telur di pangkuan dan sahabatku di sebelahku, dan rasanya seperti seseorang menyalakan lampu di ruangan yang selama ini kumasuki dengan mata tertutup.

Aku nggak suka lihat dia senyum ke orang lain.

Aku cemburu.

Pada Eve. Sahabatku sepuluh tahun. Yang membawakan sup saat aku pucat. Yang meminta izin padaku dua kali sebelum mengajak laki-laki itu makan. Yang mengambilkan nasi untuk semua orang sebelum dirinya sendiri.

Aku cemburu pada orang terbaik yang kukenal, karena laki-laki yang empat tahun berdiri di ujung foto untuk melihatku tertawa bersamanya di kedai teh.

Aku tidak pernah merasa sejahat ini.

“Fel?” Sheilla menatapku. “Kamu pucat lagi.”

“Aku kekenyangan.”

“Kamu baru makan satu potong.”

“Martabaknya padat.”

Sheilla menatapku lama. Lalu, tanpa bertanya lagi, dia meletakkan kepalanya di pangkuanku, menyalakan televisi, dan memilih film Korea yang paling bodoh, tentang hantu yang jatuh cinta pada pemilik restoran ayam goreng.

“Kita nonton yang ini,” katanya. “Ini nggak sedih. Ini bodoh. Kamu butuh bodoh malam ini, Fel.”

Aku mengusap rambut sahabatku pelan-pelan. Dia tertidur sebelum film itu selesai, dengan mulut sedikit terbuka dan remot di tangan.

Aku tidak tidur sampai jam tiga.


Jumat sore, Pak Hendro memanggil semua staf legal ke ruangannya.

“Dokumen tender Hoshino tahap dua harus masuk Senin jam delapan pagi,” katanya. “Dua ratus halaman, dua bahasa, tanda tangan basah dari direksi. Kita lembur malam ini sampai selesai.”

Mbak Tari mengeluh pelan. Anak magang di dekat jendela menelepon ibunya untuk bilang tidak bisa pulang makan malam. Aku hanya mengangguk.

Lembur malam ini sampai selesai. Itu bagus. Itu artinya aku tidak perlu memikirkan tangga darurat, atau tiga titik yang muncul dan hilang, atau cokelat panas yang selama tiga hari kutinggalkan di meja rooftop dan entah dihabiskan siapa.

Pukul tujuh, aku mengirim pesan ke grup.

Felicia: Lembur. Tender Hoshino. Jangan tunggu.

Eve: Semangat, Fel! Jangan lupa makan 🤍 Mau aku pesenin?

Sheilla: semangat!!! jgn lupa minum air. jgn lupa napas. jgn lupa aku sayang kamu.

Aku tersenyum ke layar. Lalu aku meletakkan ponsel dan kembali ke dokumen.

Pukul delapan, lantai sembilan sudah sepi kecuali tim legal. Pukul sembilan, Mbak Tari pulang dengan alasan anaknya demam. Pukul sepuluh, anak magang pulang dengan alasan ibunya menelepon dua puluh kali. Pukul sepuluh lewat tiga puluh, Pak Hendro turun ke lantai sebelas untuk meminta tanda tangan direksi yang masih lembur, meninggalkanku sendirian dengan seratus empat puluh halaman yang belum diperiksa.

Pukul sepuluh lewat empat puluh, aku bangun untuk membuat teh di pantry.

Pantry lantai sembilan ada di ujung koridor, di sebelah tangga darurat timur. Lampunya otomatis, menyala saat kamu masuk. Aku berdiri di depan dispenser air panas, menunggu gelas terisi, dan menatap jendela kecil di atas wastafel. Di luar, kota masih menyala. Lampu-lampu jalan, lampu gedung, lampu mobil yang bergerak seperti sungai.

Aku memikirkan kain lap kacamata yang masih ada di saku blazerku. Sudah seminggu. Aku belum mengembalikannya. Aku juga belum mengeluarkannya.

Aku memikirkan tiga titik yang muncul dan hilang hari Sabtu malam. Aku yang mengetiknya. Aku yang menghapusnya. Aku ingin bertanya, apa kamu jadi bilang ke Eve? Tapi aku tidak berhak bertanya. Aku yang bilang aku belum mau. Aku yang menolak dia tujuh hari berturut-turut di tangga darurat. Aku tidak berhak cemburu pada sesuatu yang tidak pernah kuakui sebagai milikku.

Gelas tehku penuh. Aku mematikan dispenser.

Lalu, tanpa peringatan, semua lampu di gedung mati.

Bukan berkedip. Bukan meredup. Mati. Seketika. Seperti seseorang menekan tombol di langit dan mengambil seluruh cahaya sekaligus.

Pantry gelap total. Koridor gelap total. Jendela di atas wastafel menunjukkan bahwa bukan hanya gedung ini, tapi seluruh blok, gedung-gedung di seberang jalan, lampu-lampu jalan, semuanya padam.

Dengung AC berhenti. Dengung lampu berhenti. Dengung dispenser berhenti.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Tower Navara benar-benar sunyi.

Aku berdiri di pantry yang gelap, memegang gelas teh yang masih panas, dan aku mendengar jantungku sendiri.

Lalu, di kejauhan, sangat jauh di bawah, aku mendengar sesuatu yang lain.

Langkah kaki. Di tangga darurat. Naik.

Cepat sekali.