← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Seventeen

Tiket Pukul Dua Pagi

POV: Felicia

Aku pulang pukul dua dini hari, setelah tanda tangan basah direksi diulang dan Pak Hendro akhirnya berhenti berteriak ke ponselnya.

Aku pulang dengan jaket abu-abu yang bukan milikku.

Aku tidak sadar masih memakainya sampai aku berdiri di depan cermin kamar mandi apartemen dan melihat lengan jaket itu menutupi setengah tanganku. Jaketnya kebesaran. Wanginya sabun, kabel baru, dan sedikit asap genset.

Aku seharusnya melepasnya. Aku seharusnya menggantungnya di belakang pintu, mencucinya besok, dan mengembalikannya hari Senin dengan terlipat rapi, seperti orang dewasa yang sopan.

Aku tidur dengan jaket itu.

Aku tidak akan mengakuinya pada siapa pun. Tidak pada Eve, tidak pada Sheilla, dan jelas tidak pada pemiliknya.


Sabtu pagi pukul sembilan, aku terbangun dengan kepala berat dan satu pertanyaan yang belum selesai.

Dua lewat empat belas.

Aku membuka laptop di tempat tidur, masih dengan jaket itu, dan masuk ke portal helpdesk IT.

Riwayat tiketku muncul lagi. Empat tahun. Seratus tiga puluh tujuh tiket. Aku tidak tahu aku pernah mengirim sebanyak itu. Kebanyakan hal-hal kecil yang bisa diselesaikan siapa pun: printer, proyektor, akses folder.

Kali ini aku tidak membacanya sekilas. Kali ini aku membacanya seperti membaca kontrak yang dicurigai. Satu per satu. Baris per baris. Dengan pulpen di tangan dan buku catatan di pangkuan.

Kolom petugas penyelesai: A.K.A.

Seratus dua puluh sembilan dari seratus tiga puluh tujuh. Delapan sisanya diselesaikan oleh Dodi atau Mas Yudha, dan kedelapannya terjadi di tanggal-tanggal ketika, kalau aku cocokkan dengan kalender, Andro sedang cuti atau dinas ke Singapura.

Kolom jam penyelesaian.

Aku membuat dua kolom di buku catatanku. Jam kerja. Di luar jam kerja.

Jam kerja: lima puluh satu.

Di luar jam kerja: tujuh puluh delapan.

Dan dari tujuh puluh delapan itu, empat puluh tiga diselesaikan antara pukul sebelas malam dan pukul tiga pagi.

Aku berhenti menulis.

Aku membuka beberapa tiket itu. Tiket yang kukirim pukul empat sore dengan keluhan laptop lambat. Diselesaikan pukul dua lewat delapan dini hari, dengan catatan singkat: Pembaruan sistem dijalankan saat tidak dipakai. Laptop siap pagi.

Tiket yang kukirim pukul lima sore tentang akses folder kontrak yang hilang. Diselesaikan pukul satu lewat empat puluh, dengan catatan: Akses dipulihkan. Folder dicadangkan ulang.

Tiket tentang proyektor ruang rapat lantai sembilan yang berkedip, yang kukirim jam enam sore sebelum rapat penting keesokan paginya. Diselesaikan pukul dua lewat empat belas. Kabel diganti. Proyektor dites tiga kali.

Dua lewat empat belas.

Aku ingat rapat itu. Aku masuk ruangan pukul delapan pagi dengan perut mulas, takut proyektornya berkedip di depan klien. Proyektornya tidak berkedip. Aku berpikir, waktu itu, syukurlah IT cepat. Lalu Mas Yudha lewat di koridor, dan aku berterima kasih padanya, dan Mas Yudha hanya mengangguk dengan wajah datarnya yang biasa.

Mas Yudha tidak pernah bilang bahwa bukan dia yang memperbaikinya.

Aku menutup laptop. Aku duduk di tempat tidur dengan buku catatan di pangkuan, dan angka-angka di dalamnya mulai kabur.

Empat tahun. Tujuh puluh delapan tiket di luar jam kerja. Empat puluh tiga di tengah malam.

Dia tidak pernah bilang apa-apa. Tidak sekali pun. Dia menutup tiket-tiketku di jam dua pagi, saat tidak ada yang melihat, lalu membiarkan aku berterima kasih pada orang lain di pagi harinya. Dia tidak pernah mengirim pesan itu aku. Dia tidak pernah menunggu di depan mejaku untuk dipuji.

Dia mencintai dengan cara yang sama aku hidup. Diam-diam. Di catatan kaki. Di jam-jam yang tidak dilihat siapa pun.

Aku memegang ujung lengan jaket abu-abu itu.

Aku sudah tahu sejak tangga darurat dua minggu lalu, mungkin. Atau sejak martabak setengah keju setengah cokelat. Atau sejak roti lapis tanpa mayones. Atau sejak lift yang gelap, dan tangan yang hangat di dalam kegelapan.

Tapi pagi itu, di tempat tidur, dengan buku catatan penuh angka dan jaket yang bukan milikku, aku berhenti berpura-pura tidak tahu.

Aku jatuh cinta pada Andro Kusuma Ardhana.

Rasanya bukan seperti jatuh dari tebing. Rasanya seperti menemukan bahwa lantai yang selama ini kupijak sebenarnya bukan lantai. Itu jembatan. Dan aku sudah setengah jalan menyeberanginya tanpa sadar.


Pukul sebelas, Eve dan Sheilla menjemputku untuk sarapan yang terlambat.

Ini juga rutinitas. Setiap Sabtu kedua dalam sebulan, kami makan di kafe kecil di Senopati yang menyajikan roti panggang dengan telur yang dimasak terlalu lama, karena Sheilla menemukannya waktu kuliah dan menolak pindah ke tempat lain.

Aku melepas jaket abu-abu itu sebelum turun. Aku melipatnya dan meletakkannya di kursi belakang mobilku. Lalu aku mengambilnya lagi dan menyimpannya di bagasi, di bawah tas olahraga. Lalu aku merasa konyol dan tetap meninggalkannya di sana.

“FEL!” Sheilla memelukku di depan kafe. “Kamu selamat! Kita lihat beritanya! Satu blok mati lampu! Terus katanya Tower Navara satu-satunya yang nyala! Terus katanya mobil seseorang dipakai buat nyalain genset! Terus Bu Ratna bilang itu mobil KAMU!”

“Bu Ratna di mana semalam?”

“Di rumah. Tapi Pak Udin cerita ke istri Pak Tarno, terus istri Pak Tarno cerita ke tetangganya, terus tetangganya ternyata sepupu Bu Ratna.” Sheilla menarik napas. “Jadi, beneran?”

“Beneran.”

“KAMU NYALAIN GENSET PAKAI MOBIL?”

“Mobilku cuma dipakai buat jumper. Yang nyalain Pak Tarno. Sama Andro.”

Eve, yang berdiri di belakang Sheilla, tersenyum lembut. “Andro naik ke lantai sembilan buat jemput kamu, ya? Pak Udin cerita juga.”

Aku membeku sebentar. “Dia naik buat cek siapa yang masih di gedung.”

“Iya. Pak Udin bilang dia lari.” Senyum Eve tidak berubah. “Sembilan lantai, lari. Pak Udin bilang belum pernah lihat orang naik tangga secepat itu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku masuk ke kafe duluan.

Di dalam, Sheilla langsung membuka ponselnya dan membuka klasemen.

“Oke, data baru!” katanya. “Mas Andro adalah pahlawan malam ini. Lagi. Ini udah aksi heroik keempat dalam sebulan. Server Hoshino, lift, Family Day, dan sekarang blackout.” Dia menyipitkan mata ke layar. “Tapi masalahnya, kali ini yang dia selamatin Felicia.”

“Dia nyelamatin gedung,” kataku.

“Gedung yang isinya Felicia.” Sheilla mengetuk-ngetuk meja. “Aku harus revisi klasemen. Felicia naik dari satu persen ke… tiga persen.”

“Tiga persen?”

“Tiga persen itu kenaikan tiga ratus persen, Fel. Itu luar biasa. Tapi Eve masih tetap di atas, karena Eve udah makan malam berdua.”

Eve tertawa kecil. Dia tidak membantah. Dia mengaduk tehnya.

Lalu dia menatapku. Lama. Dengan mata lembutnya yang tidak bisa kubaca kali ini.

“Fel,” katanya. “Kamu kelihatan beda hari ini.”

“Kurang tidur.”

“Bukan itu.” Eve memiringkan kepala. “Kamu kelihatan… nggak tahu. Kayak orang yang baru nemu sesuatu.”

Sheilla berhenti mengetik dan ikut menatapku.

Aku menunduk ke roti panggangku. Telurnya terlalu matang, seperti biasa.

“Aku nemu typo di kontrak tender,” kataku. “Di halaman seratus tiga puluh dua. Semalam. Pas lampu mati.”

“Oh.” Sheilla kembali ke klasemennya, puas. “Itu baru Felicia.”

Eve tidak kembali ke tehnya. Dia masih menatapku, dengan senyum kecil di sudut bibir, dan sesuatu di matanya yang terlihat hampir seperti… pengertian.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku menahan napas.

“Fel. Kalau suatu hari kamu nemu orang yang kamu suka,” katanya pelan, “jangan diam aja, ya. Kejar. Jangan kayak aku.”

“Kayak kamu kenapa?”

“Kelamaan nunggu orang lain duluan.” Eve tersenyum, lalu mengangkat bahu. “Udah, lupain. Aku cuma lagi melankolis. Kurang tidur juga.”

Sheilla menatap Eve. Lalu menatapku. Lalu menatap Eve lagi.

“Kalian berdua kurang tidur dan melankolis,” katanya. “Aku satu-satunya yang tidur delapan jam dan bahagia. Aku pemenang di sini.”


Pukul tiga sore, setelah mengantar mereka pulang, aku tidak langsung pulang.

Aku menyetir ke Tower Navara. Hari Sabtu, gedung hampir kosong. Pak Udin sedang tidak bertugas. Satpam pengganti, laki-laki muda yang tidak kukenal, mengangguk saat aku menunjukkan kartu akses.

Aku naik ke lantai dua belas. Lewat tangga darurat.

Rooftop di hari Sabtu sore sepi dan terang. Kantin tutup. Kursi-kursi ditumpuk di atas meja. Matahari sudah condong ke barat dan masuk lewat atap kaca, membuat seluruh ruangan berwarna kuning seperti madu.

Rooftop ternyata tidak sepenuhnya kosong. Di dekat teras, Bu Sumi sedang mengelap kaca dengan kain dan semprotan, dan di kursi plastik di sebelahnya, seorang anak laki-laki berumur sekitar sembilan tahun duduk dengan buku tulis di pangkuan, mengerjakan PR matematika.

“Mbak Felicia!” Bu Sumi tersenyum lebar. “Kok Sabtu ke kantor, Mbak?”

“Ada yang ketinggalan, Bu.” Aku menatap anak itu. “Ini…”

“Raka, Mbak. Anak saya. Sabtu sekolahnya libur, jadi saya ajak.” Bu Sumi menepuk kepala anaknya. “Raka, salim sama Mbak Felicia.”

Anak itu berdiri dan mencium tanganku dengan sopan. Rambutnya dipotong cepak, sepatunya putih bersih, dan dia menatapku dengan mata yang sedikit malu.

Aku mengenali mata itu. Empat tahun lalu, mata itu menatapku dari tanah di depan barisan foto HUT, basah dan merah, dengan lutut yang lecet.

“Raka udah besar,” kataku.

“Udah kelas empat, Mbak,” kata Bu Sumi bangga. Lalu dia menurunkan suaranya, seperti hendak menceritakan rahasia. “Mbak, Mbak kan temennya Mas Andro, ya? Yang IT?”

Jantungku melompat. “Kenapa, Bu?”

“Saya mau titip terima kasih. Saya udah bilang langsung, tapi Mas Andro selalu bilang nggak usah.” Bu Sumi menunjuk sepatu putih di kaki Raka. “Itu sepatu sekolah Raka, Mbak. Mas Andro yang beliin. Tahun lalu juga. Tahun sebelumnya juga. Sejak Raka masuk SD. Katanya, waktu HUT dulu, Raka jatuh di depan Mbak Felicia, terus Mbak kasih permen. Mas Andro bilang, ‘Bu, anak yang pernah dikasih permen sama orang baik harus punya sepatu yang bagus buat lari.’ Saya nggak ngerti maksudnya, Mbak. Tapi saya nggak pernah lupa.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menatap sepatu putih itu.

“Mas Andro bilang jangan cerita ke siapa-siapa,” lanjut Bu Sumi, tertawa kecil. “Tapi Mbak Felicia kan bukan siapa-siapa. Mbak kan yang kasih permennya.”

Raka menatapku. “Mbak yang kasih permen stroberi?”

“Kamu ingat?”

“Nggak,” katanya jujur. “Tapi Om Andro cerita terus. Dulu katanya rasa cokelat. Terus minggu lalu Om Andro datang lagi, bilang ternyata stroberi.” Dia mengerutkan kening. “Katanya datanya udah direvisi. Aku nggak ngerti, Mbak.”

Aku menekan bibirku kuat-kuat supaya suaraku tidak pecah.

“Iya,” kataku. “Stroberi.”

Raka mengangguk serius, seperti baru saja mengonfirmasi sesuatu yang sangat penting, lalu kembali ke PR matematikanya.

Aku berjalan ke dinding foto di dekat meja pojok kami dengan kaki yang tidak terlalu stabil.

Empat bingkai. Empat tahun.

Aku berdiri di depan foto tahun pertama. HUT ke dua puluh tiga. Aku ada di ujung kiri, rambut basah, blazer belum dikancing, wajah datar menatap kamera.

Lalu mataku bergeser. Pelan. Melewati tiga ratus wajah. Melewati Eve di tengah, Sheilla di sebelahnya, spanduk merah, barisan direksi yang tersenyum lebar.

Sampai ke ujung kanan.

Seorang laki-laki dengan kemeja penuh debu, setengah badan di luar bingkai. Kacamata berbingkai tipis. Rambut berantakan di bagian depan.

Wajahnya tidak menghadap kamera.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Lalu aku bergeser ke foto tahun kedua. Ujung kiri: aku. Ujung kanan: dia. Wajahnya tidak menghadap kamera.

Tahun ketiga. Sama.

Tahun keempat. Sama.

Aku berdiri di depan dinding itu sampai matahari turun cukup jauh dan cahayanya berubah dari kuning menjadi oranye. Aku tidak memotret. Aku tidak menyentuh apa pun. Aku hanya berdiri dan menatap, seperti orang yang membaca ulang surat yang sudah dia hafal isinya.

“Ujung,” bisikku.

Suaraku terdengar aneh di ruangan yang kosong.

Aku memikirkan sesuatu yang selama empat tahun tidak pernah kupikirkan terlalu jauh. Sesuatu yang tersimpan di laptopku, di folder yang tidak pernah kubuka di depan siapa pun. Aku memikirkannya sebentar. Lalu aku menutupnya lagi di kepalaku, karena aku belum siap.

Belum.

Aku turun lewat tangga darurat. Di bordes antara lantai tujuh dan enam, tempat yang sama di mana semuanya dimulai, aku berhenti dan mengeluarkan ponsel.

Felicia: Jaketmu di aku.

Balasannya datang dalam delapan detik. Hari Sabtu. Pukul lima sore.

Andro: Simpan aja.

Felicia: Kamu punya tiga juga? Kayak kain lap kacamata?

Kali ini balasannya lebih lama. Tiga puluh detik. Satu menit.

Andro: Jaket cuma satu.

Aku berdiri di bordes itu dengan ponsel di tangan dan dada yang tiba-tiba terlalu penuh untuk tangga darurat yang sempit.

Felicia: Senin aku kembalikan.

Andro: Nggak usah buru-buru.

Felicia: Senin. Jam lima lewat delapan. Antara lantai tujuh dan enam.

Aku menekan kirim sebelum aku sempat menghapusnya.

Tidak ada balasan selama dua menit. Aku membayangkan dia di Tebet, di rumahnya bersama ibunya, menatap pesan itu.

Lalu satu kata.

Andro: Oke.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan turun. Kakiku terasa ringan, seperti tangga itu tiba-tiba lebih pendek dari biasanya.

Di bagasi mobilku, di bawah tas olahraga, jaket abu-abu itu masih terlipat.

Aku tidak mencucinya. Belum. Masih ada dua malam sebelum Senin.