Chapter Four
Empat Puluh Menit
POV: Andro
Telepon dari Mas Yudha masuk pukul sembilan lewat dua puluh.
Mas Yudha tidak pernah menelepon. Mas Yudha mengirim pesan berisi dua kata, maksimal tiga, dan kalau dia benar-benar butuh sesuatu, dia berdiri di belakang kursimu sampai kamu merasakan kehadirannya seperti AC yang tiba-tiba terlalu dingin. Jadi waktu ponselku bergetar dan namanya muncul di layar, aku sudah berdiri sebelum mengangkatnya.
“Lantai sebelas,” katanya. “Demo Hoshino mati.”
Lalu dia menutup telepon.
Aku tidak perlu penjelasan lebih panjang. Seluruh gedung tahu tentang Hoshino Holdings. Investor dari Osaka yang sedang menimbang untuk menanam uang di proyek apartemen Navara di Bekasi. Pak Wirya, CEO kami, sudah tiga bulan mengejar pertemuan ini. Dan presentasinya, aku tahu dari email koordinasi yang ditembuskan ke IT, dipimpin oleh Corporate Communication.
Oleh Eve.
Aku mengambil laptop, kotak peralatan, dan satu hard disk eksternal dari laci. Dodi sudah setengah berdiri dari kursinya.
“Ikut, Bang?”
“Kamu pegang monitoring server. Kalau ada yang merah, telepon.”
“Kalau semuanya merah?”
“Tetap telepon. Tapi pakai suara tenang.”
Aku naik lewat tangga. Lift jam segini penuh, dan sembilan lantai lewat tangga lebih cepat daripada menunggu pintu lift terbuka di setiap lantai. Aku sampai di lantai sebelas pukul sembilan lewat dua puluh tiga, dan tahu masalahnya serius dari satu hal sederhana: Eve tidak tersenyum.
Ruang rapat utama lantai sebelas adalah ruangan paling mahal di Tower Navara. Meja kayu panjang, kursi kulit, layar 98 inci yang menempel di dinding, dan jendela dari lantai sampai langit-langit dengan pemandangan kota. Di layar itu seharusnya tampil demo tur virtual tiga dimensi apartemen Bekasi: calon investor bisa “berjalan” di dalam unit contoh, melihat dapur, melihat balkon, melihat matahari terbenam dari lantai tiga puluh yang belum dibangun.
Sekarang layar itu menampilkan satu kalimat putih di atas latar hitam.
Service Unavailable.
Eve berdiri di depan layar dengan clicker di tangan. Di sebelahnya, dua staf Comm memegang ponsel dan menelepon entah siapa. Mas Yudha bersandar di pintu dengan wajah datar, artinya dia sedang sangat khawatir.
“Andro.” Eve menoleh. Wajahnya pucat, tapi suaranya tetap tenang, dan aku menghargai itu. “Maaf. Tadi jam sembilan masih jalan. Aku coba buka ulang, terus jadi begini. Tamunya datang jam sepuluh.”
“Empat puluh menit,” kataku. “Cukup.”
Aku tidak tahu apakah itu cukup. Tapi aku tahu satu hal tentang orang yang panik: mereka butuh angka, bukan harapan.
Aku duduk di ujung meja dan membuka laptop. Masuk ke server demo lewat jaringan internal. Layar terminal hitam penuh tulisan putih yang bagi orang lain kelihatan seperti hujan huruf, tapi bagiku lebih mirip catatan medis. Kamu tinggal membaca dari bawah ke atas sampai menemukan kapan pasiennya mulai sakit.
Dua menit kemudian aku menemukannya.
“Disk penuh,” kataku.
“Disk?” tanya Eve.
“Tempat penyimpanan servernya. Penuh sampai nol persen.” Aku menggulir ke atas. “Semalam ada proses backup otomatis yang macet, terus terus-terusan nulis catatan error. Sepanjang malam. Delapan puluh gigabyte cuma isinya ‘gagal, gagal, gagal’.”
Salah satu staf Comm, Mas Bayu, yang kemarin pagi menyapa Eve di lobby, tertawa gugup. “Kayak mantan.”
Tidak ada yang ikut tertawa. Mas Bayu menunduk.
“Waktu disk-nya penuh, database tur virtualnya nggak bisa nulis apa-apa, jadi dia ngunci diri buat jaga-jaga,” lanjutku sambil mengetik. “Waktu Eve buka ulang tadi, dia coba nyala lagi, tapi ruangannya udah nggak ada. Makanya mati.”
“Bisa dibenerin?”
“Bisa. Aku hapus dulu catatan error-nya.”
Aku menghapus delapan puluh gigabyte omong kosong itu. Lalu aku menghidupkan ulang database-nya.
Layar terminal memuntahkan baris merah.
Aku membacanya dua kali. Lalu aku berhenti mengetik.
“Kenapa?” Eve mendekat. Aku bisa mencium wangi parfumnya, seperti bunga putih dan sabun mahal. Di gedung ini, setengah laki-laki akan lupa caranya bernapas kalau Eve berdiri sedekat itu. Aku justru sedang sibuk menghitung.
“Datanya rusak sebagian,” kataku. “Waktu database-nya ngunci diri tadi, ada satu proses yang lagi jalan dan kepotong di tengah. Indeksnya berantakan.”
“Itu artinya…”
“Artinya aku nggak bisa nyalain dia apa adanya. Aku harus balikin ke cadangan terakhir yang bersih.”
“Cadangannya kapan?”
“Jam enam pagi.”
Eve memejamkan mata sebentar. “Aku upload revisi terakhir jam tujuh lewat. Harga unit yang baru, foto balkon yang baru, dan terjemahan Jepang-nya. Semalaman aku begadang buat itu.”
Tentu saja. Tentu saja begitu.
Aku melirik jam di pojok layar. Sembilan lewat tiga puluh satu.
“Oke,” kataku. “Kita balikin ke jam enam. Terus aku cari revisi jam tujuh kamu.”
“Bisa dicari?”
“Waktu kamu upload, file-nya nggak langsung masuk ke database. Dia mampir dulu ke folder sementara di server, kayak barang yang ditaruh di teras sebelum dimasukin rumah.” Aku mulai mengetik lagi. “Kalau belum ada yang nyapu terasnya, file kamu masih di sana.”
“Kalau udah disapu?”
“Kita doa.”
Mas Yudha, dari pintu, berdeham. Itu caranya bilang jangan bercanda di depan klien internal. Aku mengangguk ke arahnya tanpa mengangkat kepala.
Pemulihan cadangan butuh sembilan menit. Aku menghabiskan sembilan menit itu menggali folder sementara di server, membaca nama-nama file satu per satu, mencocokkan jam dan ukurannya.
Sementara itu, ruangan di sekitarku bergerak.
Mas Bayu keluar untuk memesan kopi untuk tamu, yang bukan tugasnya, tapi dia jelas butuh alasan untuk tidak berada di ruangan ini. Staf Comm satu lagi menelepon sekretaris Pak Wirya untuk menanyakan apakah tamunya bisa diajak tur lobby dulu sepuluh menit. Mas Yudha tetap di pintu.
Eve berdiri di sebelahku tanpa bicara. Dia tidak bertanya “udah belum?” setiap tiga puluh detik. Dia tidak mondar-mandir. Dia hanya berdiri, tangan terlipat, membaca layar yang tidak dia mengerti dengan wajah orang yang memutuskan untuk percaya.
Aku menghargai itu juga.
Lalu pintu ruang rapat terbuka sedikit, dan Felicia masuk.
Dia membawa map biru tebal. Rambutnya diikat rendah seperti biasa, blazer abu-abu, kemeja hitam hari ini. Dia melihat layar Service Unavailable, melihat Eve, melihatku di ujung meja, lalu melihat jam dinding. Semua dalam dua detik. Aku bisa membayangkan otaknya bekerja seperti mesin fotokopi: menyalin seluruh situasi, merapikannya, menyimpannya.
“Perjanjian kerahasiaan buat Hoshino,” katanya pelan ke Eve, meletakkan map itu di meja. “Pak Wirya minta ditandatangani sebelum presentasi mulai.”
“Makasih, Fel.” Eve meremas lengan sahabatnya sebentar. “Kalau presentasinya jadi.”
Felicia tidak bertanya apa yang terjadi. Dia juga tidak pergi. Dia mundur ke sudut ruangan, di dekat jendela, dan berdiri di sana dengan tangan di saku blazer.
Di ujung. Tentu saja.
Aku menunduk ke layarku lagi. Fokus. Folder sementara. Jam tujuh lewat. Ukuran file kira-kira…
Ketemu.
hoshino_revisi_final_FINAL_beneran.zip. Diunggah pukul tujuh lewat delapan belas. Utuh. Belum disapu.
Aku hampir tertawa melihat nama file itu. Eve ternyata manusia biasa juga.
“Ketemu,” kataku.
Eve mengembuskan napas panjang yang kedengarannya sudah dia tahan sejak pukul sembilan.
Pukul sembilan lewat empat puluh enam, database jam enam pagi sudah kembali berdiri.
Pukul sembilan lewat lima puluh dua, revisi jam tujuh Eve sudah dimasukkan ulang, harga baru, foto balkon baru, dan terjemahan Jepang yang Eve tulis sendiri semalaman.
Pukul sembilan lewat lima puluh empat, aku mematikan proses backup yang macet dan memasang batas supaya hal yang sama tidak terjadi lagi. Lalu aku menulis catatan di dokumentasi untuk Mas Yudha, karena besok pasti ada rapat evaluasi dan aku ingin semua orang tahu ini bukan salah Eve.
Pukul sembilan lewat lima puluh enam, aku membuka tur virtual itu di layar 98 inci.
Gambarnya muncul. Lobby apartemen. Dapur. Balkon dengan matahari terbenam yang dirender komputer. Di pojok kanan bawah, ada keterangan dalam bahasa Jepang yang rapi.
Seseorang di ruangan bertepuk tangan. Mas Bayu, yang ternyata sudah kembali dengan delapan gelas kopi.
Lalu laptop Eve tidak mau tersambung ke layar.
Aku melihat kabelnya. Kabel HDMI bawaan ruang rapat, dengan ujung yang sudah longgar karena dicabut-pasang ribuan kali oleh direktur yang tidak sabar. Aku membuka kotak peralatanku, mengambil kabel baru dan adaptor, lalu menyambungkannya ke laptop Eve.
Layar laptop Eve muncul di dinding. Slide pertama: logo Navara dan logo Hoshino berdampingan, dengan kalimat sambutan dalam dua bahasa.
Pukul sembilan lewat lima puluh delapan.
Empat puluh menit kurang dua.
“Andro.” Eve menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca sedikit, dan untuk pertama kalinya pagi ini dia tersenyum. “Aku nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilang apa aja ke Tanaka-san,” kataku. “Bagian aku udah.”
Dari koridor terdengar suara langkah kaki dan tawa Pak Wirya yang khas, keras dan terlalu ramah. Tamu sudah datang.
Aku menutup laptop, mengambil kotak peralatan, dan keluar lewat pintu samping, pintu kecil yang menuju pantry lantai sebelas. Aku sempat mendengar Pak Wirya masuk dan berkata dengan suara besar, “Wah, Mas Yudha! Tim IT kita memang luar biasa, ya!”
Dan Mas Yudha menjawab dengan dua kata, “Terima kasih, Pak.”
Itu bagus. Mas Yudha pantas menerima pujian. Dia yang menerima telepon pertama, dia yang berdiri di pintu supaya tidak ada yang mengganggu. Dan aku tidak pernah suka berdiri di tengah ruangan saat orang-orang bertepuk tangan. Aku lebih suka berada di belakang layar, dalam arti yang sebenarnya.
Di pantry lantai sebelas, aku mengisi gelas plastik dengan air dari dispenser dan meminumnya dalam tiga tegukan. Tanganku sedikit gemetar. Selalu begitu setelah semuanya selesai. Saat sedang bekerja, tanganku tenang sekali. Begitu masalahnya hilang, baru badanku sadar betapa takutnya dia tadi.
“Kamu nggak masuk waktu Pak Wirya bilang terima kasih.”
Aku menoleh.
Felicia berdiri di pintu pantry. Dia pasti keluar lewat pintu samping juga, beberapa saat setelahku.
“Yang penting servernya nyala,” kataku.
“Pak Wirya bakal ngira semua itu kerjaan Mas Yudha.”
“Mas Yudha yang angkat telepon pertama. Itu juga kerjaan.”
Felicia menatapku. Tatapannya selalu terasa seperti sedang membaca dokumen dengan pensil di tangan, siap mencoret kalimat yang tidak perlu.
“Kamu kerja empat puluh menit,” katanya, “tanpa ngomong ke siapa-siapa kecuali ke Eve.”
“Kamu juga berdiri di pojok empat puluh menit tanpa ngomong ke siapa-siapa,” jawabku.
Dia diam. Ujung bibirnya bergerak sedikit, sangat sedikit, mungkin hanya imajinasiku. Lalu dia memalingkan wajah.
“Eve pikir kamu datang buat dia,” katanya.
Aku tahu. Aku melihatnya di wajah Eve tadi, waktu dia bilang tidak tahu harus bilang apa. Itu bukan wajah orang yang berterima kasih pada tukang IT. Itu wajah orang yang baru saja diselamatkan.
“Aku datang buat servernya,” kataku. “Dan karena yang pegang presentasinya sahabat kamu.”
Felicia menatapku lagi. Kali ini lebih lama.
“Itu bukan jawaban yang bakal membantu,” katanya.
“Itu jawaban yang jujur.”
Dia tidak membalas. Dia berbalik dan pergi, dan aku mendengar langkahnya menjauh di koridor, menuju tangga, bukan lift.
Aku menghabiskan sisa air di gelas plastik. Lalu aku tersenyum sendirian di pantry lantai sebelas seperti orang bodoh.
Dia memperhatikan selama empat puluh menit. Dia keluar lewat pintu samping. Dia mengikutiku ke pantry untuk mengatakan bahwa aku tidak mendapat pujian.
Itu bukan apa-apa. Aku tahu itu bukan apa-apa.
Tapi untuk laki-laki yang sudah empat tahun berdiri di ujung foto, itu banyak sekali.
Siang itu, presentasi Hoshino berjalan lancar. Aku tahu karena Bu Ratna mengumumkannya di grup “Navara Ceria” pukul dua belas lewat sepuluh:
Selamat siang, Bapak/Ibu. Info: presentasi Hoshino SUKSES 🎉 Tanaka-san bilang tur virtualnya “sugoi”. Kabarnya tadi pagi sempat ada kendala teknis yang diselamatkan oleh pahlawan kita, Mas Andro dari IT 🦸♂️ Dan kabarnya lagi, yang diselamatkan adalah Mbak Eve kita tercinta. Ehem. Ehem. Terima kasih.
Delapan puluh tujuh balasan. Enam puluh di antaranya stiker. Sembilan di antaranya berbunyi “EHEM”. Satu dari direktur keuangan: “Saya juga mau diselamatkan.”
Dodi memutar kursinya ke arahku dengan wajah yang tidak bisa memutuskan antara bangga atau ngeri.
“Bang. Abang trending.”
“Aku tahu.”
“Abang trending sama Mbak Eve.”
“Aku tahu, Dod.”
“Ini melanggar aturan nomor satu Project Ujung Foto, Bang. Nggak pakai jembatan.”
“Aku nggak pakai jembatan. Jembatannya yang datang sendiri.”
Ponselku bergetar. Pesan pribadi. Dari nomor yang tidak kusimpan, tapi foto profilnya langsung kukenali: Eve, tersenyum di pantai, rambut tertiup angin.
Eve: Andro, makasih banyak ya buat tadi pagi. Aku serius. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana jadinya. Kapan-kapan aku traktir kopi ya 😊
Dodi membaca pesan itu dari belakang bahuku, karena Dodi tidak pernah mengenal konsep privasi.
“Bang,” bisiknya dengan wajah horor. “Itu emoji senyum yang pipinya merah.”
“Terus?”
“Itu level dua, Bang. Level satu itu emoji senyum biasa. Level dua itu yang pipinya merah. Level tiga itu…” Dia bergidik. “Kita nggak mau sampai level tiga.”
Aku menatap layar ponsel. Aku mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Andro: Sama-sama, Eve. Selamat buat presentasinya. Kerja kamu bagus banget, terutama terjemahannya.
Tanpa emoji. Tanpa janji kopi. Sopan, hangat, dan tidak memberi harapan.
“Dingin banget, Bang,” komentar Dodi.
“Itu namanya jujur.”
“Itu namanya Abang bakal ditanya Mbak Sheilla kenapa jutek ke Mbak Eve.”
Sebelum aku sempat menjawab, notifikasi lain muncul. Bukan pesan pribadi. Email helpdesk.
Tiket baru #4498 dari: Felicia Hartono (Legal, Lt. 9)
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak dianjurkan oleh dokter mana pun.
Aku membuka tiket itu.
Kategori: Hardware. Deskripsi: Printer lantai 9 macet. Ini beneran, bukan alasan.
Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali.
Lalu aku berdiri, mengambil kotak peralatan, dan berjalan ke arah tangga.
“Bang, mau ke mana?” teriak Dodi.
“Lantai sembilan. Ada printer macet.”
“Itu kan bisa saya!”
“Kamu pegang monitoring.”
“Bang! Abang senior! Senior nggak benerin printer!”
Aku sudah di tangga. Tujuh lantai ke atas. Paru-paruku pasti protes.
Tapi kali ini aku tidak peduli.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit reading
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur