Chapter Fourteen
Makan Malam yang Salah Alamat
POV: Andro
“Bang, saya mau kasih saran,” kata Dodi hari Jumat sore, sambil memutar kursinya ke arahku. “Sebagai junior yang peduli.”
“Nggak usah.”
“Satu. Jangan pakai kemeja kotak-kotak. Abang punya empat kemeja kotak-kotak dan semuanya bikin Abang kelihatan kayak mau benerin server.” Dia mengangkat jari kedua. “Dua. Jangan ngomongin kerjaan. Cewek nggak mau dengar soal UPS. Tiga…”
“Dod. Ini bukan kencan.”
Dodi berhenti. “Bukan kencan?”
“Aku datang buat jujur ke dia.”
Dodi menatapku lama. Lalu dia menurunkan jarinya pelan-pelan, dan wajahnya berubah dari antusias menjadi sesuatu yang lebih serius.
“Oh,” katanya. “Abang mau nolak Mbak Eve.”
“Aku mau bilang yang sebenarnya.”
“Itu sama, Bang.” Dodi menggaruk kepalanya. “Wah. Berat. Itu Mbak Eve, Bang. Mbak Eve yang tiap Lebaran ngirim parsel ke OB satu-satu.”
“Aku tahu.”
“Abang nggak bisa cuma… nggak datang? Ngilang aja?”
“Itu yang semua cowok lakuin ke dia, Dod.”
Dodi terdiam.
Dari ruang kaca di pojok, Mas Yudha keluar dengan cangkir kopi. Dia berhenti di belakang kursiku. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia sudah dengar.
“Pakai kemeja biru tua,” katanya.
Lalu dia kembali ke ruangannya.
Dodi menatap pintu ruang kaca itu dengan takjub. “Bang. Mas Yudha barusan kasih saran fashion.”
“Mas Yudha punya istri, Dod.”
“Saya kira dia nikah sama server.”
Eve memilih restoran yang sangat Eve.
Kedai teh kecil di Kemang, di lantai dua sebuah rumah tua yang direnovasi. Lampu gantung rotan, meja kayu dengan taplak linen, rak-rak penuh toples teh dari berbagai negara, dan jendela besar yang menghadap ke jalan. Musik pelan yang tidak mengganggu. Pelayan yang bicara dengan suara rendah.
Tempat yang nyaman. Tempat yang dipilih oleh seseorang yang ingin orang lain merasa nyaman.
Aku datang sepuluh menit lebih awal. Aku memakai kemeja biru tua, sesuai saran Mas Yudha, dan sama sekali tidak kotak-kotak. Aku memilih meja di dekat jendela, karena Eve bilang di pesannya dia suka melihat lampu-lampu jalan.
Dia datang tepat waktu.
Aku sudah melihat Eve ribuan kali di kantor. Tapi malam itu dia memakai gaun biru muda sederhana, rambut cokelat madunya digerai dengan gelombang lembut, dan anting mutiara kecil yang sama dengan yang dia pakai di Family Day. Saat dia masuk, tiga meja menoleh. Seorang pelayan menjatuhkan sendok. Eve tidak menyadarinya. Eve tidak pernah menyadarinya.
“Hai,” katanya, sedikit terengah. “Maaf, aku nggak telat, kan?”
“Tepat waktu.”
“Syukurlah. Aku tadi ganti baju tiga kali.” Dia tertawa, lalu menutup mulut, kaget dengan kejujurannya sendiri. “Lupakan yang barusan.”
“Udah aku lupakan.”
Dia duduk. Dia memesan teh melati dari kebun di Jawa Tengah yang katanya paling mirip buatan neneknya. Aku memesan teh yang sama, karena aku tidak tahu apa-apa soal teh, dan karena aku ingin dia tahu aku mendengarkan ceritanya waktu itu.
Lalu dia memesan makanan untuk kami berdua, karena dia sudah pernah ke sini, dan dia bilang ada nasi bakar yang enak sekali. Lalu dia bertanya apakah aku alergi sesuatu. Lalu dia bertanya apakah aku suka pedas. Lalu dia memastikan pelayan tahu untuk tidak menaruh daun bawang di piringku setelah aku bilang aku kurang suka.
Eve mengurus orang lain seperti bernapas. Otomatis. Tanpa berpikir.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat betapa lelahnya itu pasti. Selalu mengurus. Tidak pernah diurus.
Kami mengobrol tentang banyak hal.
Tentang Hoshino, yang ternyata tertarik menanam modal di dua proyek lagi. Tentang Pak Wirya, yang sekarang memanggil Eve “anak emas Comm” di setiap rapat. Tentang neneknya di Solo yang mengajarinya menyeduh teh dengan air yang tidak boleh terlalu mendidih. Tentang adik laki-lakinya yang kuliah di Bandung dan selalu kehabisan uang di tanggal dua puluh.
Eve lucu. Aku tidak tahu itu sebelumnya. Di kantor dia ramah, tapi malam itu dia bercerita tentang adiknya yang pernah menjual sepatu Eve di marketplace untuk bayar kos, dengan detail yang membuatku tertawa sampai pelayan menoleh.
Dia juga bertanya tentang aku. Dengan cara yang tulus, seperti dia benar-benar ingin tahu.
Aku bercerita tentang ibuku di Tebet, yang pensiunan guru SD dan masih mengoreksi tata bahasa tetangga di grup WhatsApp RT. Tentang ayahku, yang meninggal waktu aku SMA, dan meninggalkan satu kotak berisi radio-radio rusak yang dia perbaiki di akhir pekan. Tentang bagaimana aku belajar menyolder dari kotak itu, sendirian, setelah pemakaman, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku.
Eve mendengarkan dengan seluruh wajahnya. Matanya berkaca-kaca di bagian radio.
“Kamu nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa, ya?” tanyanya pelan.
“Nggak banyak.”
“Kenapa cerita ke aku?”
Aku menatap cangkir tehku. Ini dia. Saat yang sudah kuhitung sejak Senin.
Tapi sebelum aku sempat menjawab, mataku menangkap sesuatu di luar jendela.
Di seberang jalan, ada kafe kecil dengan meja-meja di trotoar.
Di salah satu meja, duduk dua perempuan. Yang satu memakai topi bucket pink, kacamata hitam besar, dan syal yang dililit sampai menutupi setengah wajah, padahal suhu malam itu dua puluh delapan derajat. Dia memegang buku menu terbalik di depan wajahnya, seperti mata-mata di film kartun.
Yang satu lagi duduk di sebelahnya. Kaus hitam, rambut diikat rendah, tanpa kacamata, tanpa topi, tanpa penyamaran apa pun. Dia duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat di dada, dan dari jarak lima belas meter pun aku bisa membaca wajahnya.
Itu wajah orang yang sangat, sangat menyesali semua keputusan hidupnya malam ini.
Sheilla dan Felicia.
Sheilla menurunkan buku menunya sedikit, mengintip ke arah jendela kami, lalu cepat-cepat mengangkatnya lagi. Felicia menatap lurus ke jendela. Langsung ke arahku. Tidak berusaha bersembunyi sama sekali.
Mata kami bertemu menyeberangi jalan.
Dia tidak berpaling.
“Andro?” Eve memiringkan kepala. “Kamu lihat apa?”
Aku menoleh kembali ke Eve. “Nggak apa-apa. Ada kucing.”
Itu bukan bohong. Ada kucing oranye yang sedang tidur di atas kap mobil di depan kafe itu. Aku hanya memilih kata benda dengan hati-hati.
Eve menoleh ke jendela. Aku menahan napas.
Tapi tepat saat itu, di seberang jalan, Sheilla menjatuhkan buku menunya, lalu panik, lalu menarik syalnya sampai menutupi mata, lalu menabrak meja, dan Felicia menangkap gelas es teh yang hampir jatuh dengan satu tangan tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.
Eve tidak melihat semua itu. Yang dia lihat adalah kucing oranye di atas kap mobil, yang terbangun karena keributan dan menatap Sheilla dengan jijik.
“Lucu,” kata Eve, tersenyum. “Kucingnya kayak Oyen.”
“Kucing GA?”
“Iya. Sheilla cerita Oyen punya pacar di gedung sebelah.” Eve tertawa. Lalu tawanya pelan-pelan reda, dan dia menatapku lagi. “Kamu belum jawab. Kenapa cerita ke aku?”
Aku meletakkan cangkir teh.
“Karena kamu nanya dengan tulus,” kataku. “Dan karena aku pikir kamu pantas dapat jawaban yang tulus juga.”
Eve diam. Senyumnya masih di wajahnya, tapi sudah berubah. Lebih hati-hati. Seperti orang yang mendengar langkah kaki di koridor dan belum tahu itu langkah siapa.
“Eve,” kataku. “Aku seneng malam ini. Beneran. Kamu orang yang menyenangkan buat diajak ngobrol, dan kamu jauh lebih lucu dari yang orang kantor tahu.”
“Tapi,” kata Eve pelan.
Aku tidak menyangkal. “Tapi aku suka seseorang. Udah lama.”
Eve tidak bergerak. Lampu rotan di atas kami bergoyang sedikit karena angin dari kipas di langit-langit, dan cahayanya menyapu wajahnya pelan.
“Orang yang belum mau itu?” tanyanya. “Yang kamu bilang ke Bu Ratna?”
“Iya.”
“Udah berapa lama?”
“Lama.”
Eve mengangguk pelan. Dia menatap cangkir tehnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat Eve, dia mengambil teko dan menuangkan teh ke cangkirku yang sudah setengah kosong, sebelum menuangkan ke cangkirnya sendiri.
“Aku kenal dia?” tanyanya.
Aku memikirkan jawabannya dengan hati-hati. Aturan nomor dua. Tidak bohong.
“Aku belum bisa bilang,” kataku. “Bukan karena aku nggak percaya kamu. Tapi karena itu bukan rahasiaku sendiri. Dia belum siap. Dan aku nggak mau ngambil keputusan buat dia.”
Eve menatapku lama sekali.
Aku bersiap untuk banyak hal. Untuk air mata. Untuk dia berdiri dan pergi. Untuk dia tersenyum terpaksa dan bilang tidak apa-apa dengan suara yang jelas apa-apa. Aku sudah menghitung semua kemungkinan itu.
Yang tidak kuhitung adalah dia tertawa.
Tawa kecil, sedikit sedih, tapi tulus.
“Ya ampun,” katanya. “Aku ganti baju tiga kali.”
“Bajunya bagus.”
“Makasih.” Dia menyeka sudut matanya dengan ujung jari, hati-hati, supaya maskaranya tidak luntur. “Kamu tahu nggak, Andro? Aku udah ditolak banyak cowok.”
Aku mengangkat alis. “Kamu? Ditolak?”
“Nggak secara langsung. Mereka nggak pernah bilang ‘nggak’. Mereka cuma… ngilang. Atau ternyata cuma mau foto bareng buat dipamerin. Atau ternyata udah punya pacar dan aku dijadiin cadangan.” Dia tersenyum, dan senyumnya lebih tua dari umurnya. “Kamu yang pertama bilang dengan jujur. Di depan mukaku. Sambil bayarin makanan.”
“Aku belum bayar.”
“Kamu nggak boleh bayar. Ini traktiranku. Utang Hoshino.” Dia mengangkat cangkirnya. “Jadi aku yang bayar, dan kamu yang nolak aku. Itu adil, kan?”
Aku tertawa. Dia ikut tertawa.
“Eve,” kataku. “Maaf.”
“Jangan minta maaf. Kalau kamu minta maaf, aku jadi kelihatan kasihan. Aku nggak mau kelihatan kasihan. Aku mau kelihatan anggun.” Dia meluruskan punggung dengan dramatis, dagunya terangkat, dan sesaat dia mirip sekali dengan Sheilla. “Gimana? Anggun?”
“Anggun banget.”
“Bagus.” Lalu bahunya turun sedikit. Suaranya jadi pelan. “Tapi kita tetap temenan, kan? Kamu tetap bawain teh melati?”
“Tiap hari.”
“Bagus.” Dia menyesap tehnya. Lalu, dengan suara yang lebih kecil lagi, dia berkata: “Dia beruntung. Siapa pun dia.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap ke luar jendela, ke seberang jalan, ke meja di trotoar tempat seorang perempuan berkaus hitam masih duduk dengan punggung tegak, sementara sahabatnya yang memakai topi bucket pink sedang dimarahi pelayan kafe karena terlalu lama memesan satu es teh.
“Dia nggak tahu dia beruntung,” kataku. “Belum.”
Eve membayar. Dia memaksa, dan aku tidak menang melawan Eve yang sedang memaksa.
Di tangga turun dari kedai teh, dia berhenti dan menoleh padaku.
“Andro. Satu permintaan.”
“Apa?”
“Jangan bilang ke Sheilla soal malam ini. Maksudku, soal… yang kamu bilang.” Dia menggigit bibirnya. “Sheilla masih semangat banget sama klasemennya. Kalau dia tahu kamu udah suka orang lain, dia bakal sedih. Dan kalau dia tahu aku udah ditolak, dia bakal sedih buat aku. Aku nggak mau dia sedih dua kali.”
“Kamu mau aku diam?”
“Aku mau kita bilang makan malamnya menyenangkan. Karena memang menyenangkan.” Dia tersenyum. “Itu bukan bohong, kan?”
Aku memikirkannya. Lalu aku mengangguk. “Itu bukan bohong.”
“Bagus.” Dia turun dua anak tangga lagi, lalu menoleh sekali lagi. “Dan Andro? Kalau suatu hari dia udah siap, siapa pun dia, aku mau jadi orang pertama yang tahu. Oke?”
“Oke.”
Dia melambai, lalu berjalan ke mobilnya yang diparkir di depan kedai. Sebelum masuk, dia melirik sekilas ke seberang jalan. Ke kafe dengan meja trotoar.
Aku menahan napas.
Tapi meja itu sudah kosong. Hanya ada gelas es teh setengah penuh, topi bucket pink yang ketinggalan di kursi, dan kucing oranye yang sekarang tidur di atas topi itu.
Eve tersenyum melihat kucing itu, lalu masuk ke mobilnya dan pergi.
Ponselku bergetar saat aku berjalan ke halte.
Felicia: Sheilla ninggalin topinya.
Andro: Aku lihat. Kucingnya tidur di situ.
Felicia: Dia maksa aku ikut. Aku udah nolak empat kali. Dia nangis di mobil. Pakai suara itu.
Andro: Kamu juga nggak bisa nolak suara itu?
Felicia: Nggak ada yang bisa nolak suara itu. Itu senjata pemusnah massal.
Aku tertawa sendirian di halte. Seorang bapak di sebelahku bergeser satu langkah menjauh.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Felicia: Eve ketawa tadi. Aku lihat dari jendela. Kalian ketawa bareng.
Aku menatap pesan itu. Aku membaca nada di baliknya, nada yang tidak tertulis tapi ada di sana, di antara spasi.
Andro: Iya. Eve lucu.
Tiga titik muncul. Lama. Lalu hilang.
Tidak ada balasan.
Aku menunggu di halte sampai bus datang, lalu menunggu di dalam bus sampai Tebet, lalu menunggu di kamarku sampai jam dua belas malam. Ponselku diam.
Aku ingin menjelaskan. Aku ingin mengetik semuanya. Tapi aku sudah berjanji pada Eve untuk tidak menceritakan apa yang dia katakan malam itu, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berbohong.
Jadi aku tidak mengetik apa-apa.
Aku hanya menatap tiga titik yang tidak pernah kembali, dan aku menyadari untuk pertama kalinya bahwa kejujuran kadang-kadang bisa terlihat sangat mirip dengan sesuatu yang lain.
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat reading
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur