Chapter Twenty Two
Kencan yang Diatur Orang Lain
POV: Andro
Aku mengetahuinya dari Felicia, hari Kamis malam, pukul sepuluh lewat dua puluh, lewat telepon.
Kami mulai saling menelepon seminggu terakhir. Bukan setiap malam. Pasal 4 hanya menyebut WhatsApp, dan secara teknis telepon WhatsApp masih termasuk WhatsApp, jadi Felicia bilang itu legal. Biasanya dia yang menelepon. Biasanya setelah pukul sepuluh, saat dia sudah selesai membaca kontrak dan aku sudah selesai membaca log, dan kami berdua berbaring di tempat tidur masing-masing di dua sisi kota yang berbeda, dengan ponsel di telinga, bicara tentang hal-hal yang tidak penting.
Tentang kucing GA. Tentang Mbak Tari yang menggeser kursinya dua senti setiap kali aku lewat. Tentang ibuku yang sekarang mengirimiku resep sayur asem setiap pagi dengan pesan buat Nak Felicia, kalau dia suka.
Malam itu dia menelepon pukul sepuluh lewat dua puluh, dan suaranya terdengar seperti orang yang sedang menahan tawa dan kesal sekaligus.
“Lagi apa?” tanyanya.
“Mikirin kamu.” Aku tidak tahu kapan aku mulai bisa mengatakan hal-hal seperti ini tanpa berpikir dua kali. Mungkin sejak ruang server. “Versi yang bisa bikin aku dipecat kalau HR dengar.”
Di ujung sana, jeda.
“Ceritain,” katanya.
“…Fel.”
“Pelan-pelan.” Suaranya turun. Lebih rendah. Lebih dekat ke telepon, seolah-olah dia sedang berbaring miring dan menempelkan ponsel ke pipinya. “Mulai dari bagian mana kamu mikirin aku.”
Aku menatap langit-langit kamarku. Di kamar sebelah, ibuku sedang menonton sinetron. Di luar jendela, tetangga sedang memarkir motor dengan sangat berisik.
Aku memikirkan pantry IT. Kancing kerah yang dia buka sambil menatap mataku. Pintu kayu dengan kaca buram yang bergetar. Sudut rahangku yang masih terasa hangat dua hari kemudian, di tempat dia menciumnya di basement.
“Aku nggak bisa,” kataku akhirnya. Suaraku keluar serak.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku mulai, aku nggak bakal bisa tidur. Dan besok aku harus migrasi email server lantai sebelas jam tujuh pagi.”
Dia tertawa. Tawa yang rendah dan puas, seperti kucing yang baru menjatuhkan gelas dari meja dan duduk menatap pecahannya.
“Kamu kalah,” katanya.
“Aku kalah.”
“Bagus.” Lalu nada suaranya berubah. Kembali normal. Sedikit lebih ragu. “Andro. Aku harus bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Hari Sabtu aku dijodohin.”
Aku duduk tegak di tempat tidur.
Ceritanya, menurut Felicia, seperti ini.
Siang itu di rooftop, Sheilla datang dengan wajah orang yang punya rencana besar. Dia mengumumkan bahwa sepupunya, seorang dokter umum bernama Bima yang baru selesai internsip di Lampung dan sekarang kerja di klinik di Kebayoran, sedang “mencari pasangan yang serius dan bisa diajak ngobrol pintar”.
“Dan aku langsung kepikiran Felicia,” kata Sheilla, menurut Felicia, dengan tangan menempel di dada. “Karena Felicia pintar. Dan Felicia satu-satunya di antara kita yang belum pernah dijodohin.”
Eve langsung setuju. Terlalu cepat. Menurut Felicia, Eve bahkan sudah punya ide restoran. Sebuah tempat brunch di Senopati dengan meja-meja kayu dan jendela besar.
“Sabtu jam sebelas,” kata Eve. “Biar santai. Kalau nggak cocok, bisa langsung pulang. Kalau cocok, lanjut makan siang.”
Felicia mencoba menolak. Dia bilang dia sibuk. Sheilla bilang dia sudah cek, Felicia tidak punya lembur hari Sabtu. Felicia bilang dia tidak tertarik dijodohkan. Eve bilang, dengan suara lembutnya yang tidak bisa ditawar, “Fel, kamu udah dua puluh delapan. Kamu belum pernah kencan sejak kuliah. Sekali aja. Buat kami.”
Lalu Sheilla mengeluarkan senjata pemusnah massal.
“Pleeease, Fel. Bima itu baik banget. Dia nolongin kucing yang jatuh ke got. Dia bisa masak rendang. Dan dia udah lihat fotomu dan dia bilang kamu kelihatan kayak orang yang bisa diajak debat soal buku.”
“Kamu kasih dia fotoku?”
“Foto kita bertiga. Tapi aku lingkerin kamu.”
Felicia menyerah. Tidak ada yang bisa menolak suara itu.
“Aku nggak bisa bilang nggak, Andro,” katanya di telepon, pelan. “Kalau aku nolak terlalu keras, mereka bakal curiga. Kenapa Felicia yang nggak pernah kencan tiba-tiba nolak dokter yang bisa masak rendang? Mereka bakal nanya. Dan aku nggak punya jawaban yang bukan kamu.”
Aku diam.
Ada sesuatu yang panas di dadaku. Bukan seperti waktu membaca log Marcel Wiguna. Itu marah. Ini lain. Ini lebih kecil, lebih konyol, dan jauh lebih sulit dimasukkan ke dalam map berdaftar isi.
“Oke,” kataku.
“Oke?”
“Oke. Kamu pergi. Kamu makan brunch. Kamu ngobrol soal buku sama dokter yang bisa masak rendang.” Aku menarik napas. “Aku nggak apa-apa.”
“Kamu nggak apa-apa,” ulangnya.
“Iya.”
Jeda panjang di telepon.
“Kamu bohong,” katanya. “Kamu cuma ngomong ‘oke’ tiga kali kalau kamu nggak oke.”
Aku tidak tahu dia sudah menghitung itu. Tentu saja dia menghitungnya.
“Fel.”
“Nggak apa-apa. Aku juga bohong ke mereka tiga kali hari Selasa. Kita impas.” Lalu suaranya melembut. “Selamat malam, Andro. Mimpinya hati-hati.”
Dia menutup telepon.
Aku berbaring di tempat tidur sampai pukul dua pagi, menatap langit-langit, dan mencari tahu di mana tepatnya restoran brunch di Senopati yang punya meja kayu dan jendela besar.
Restoran itu namanya Sendok Kayu. Tempatnya tidak sulit ditemukan.
Aku sampai pukul sepuluh lewat empat puluh lima, lima belas menit sebelum jadwal. Aku memakai kaus polo abu-abu dan celana panjang, dan aku membawa laptop, karena laptop adalah kamuflase terbaik di dunia. Orang yang membawa laptop ke restoran tidak pernah dicurigai. Orang hanya mengira dia pekerja lepas yang tidak punya kantor.
Aku memilih meja di dekat jendela, di sudut, dengan pandangan ke seluruh ruangan. Lalu aku membuka laptop, membuka dokumen kosong, dan mulai mengetik dengan sangat serius.
sdfjkl sdfjkl sdfjkl.
Pelayan datang. Aku memesan kopi hitam. Pelayan pergi.
Pukul sepuluh lewat lima puluh delapan, pintu restoran terbuka dan Felicia masuk.
Dia memakai gaun.
Aku belum pernah melihat Felicia memakai gaun. Di kantor dia selalu memakai blazer dan celana panjang. Di Family Day dia memakai kaus putih dan jeans. Tapi pagi itu dia memakai gaun hijau tua sederhana dengan lengan pendek dan potongan yang jatuh tepat di bawah lutut. Rambutnya tidak diikat. Rambut hitam lurus itu tergerai sampai punggung, dan saat dia berjalan masuk, rambut itu bergerak seperti tirai sutra.
Dia cantik. Aku sudah tahu dia cantik. Tapi pagi itu dia cantik dengan cara yang membuat pelayan laki-laki di dekat pintu lupa menutup mulutnya, dan dua perempuan di meja tengah berhenti mengobrol untuk menoleh.
Dia melihatku.
Dari seberang ruangan, matanya menemukan mataku, dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Alisnya naik sedikit. Bibirnya terbuka sedikit. Lalu dia menutup mulutnya rapat-rapat dan memalingkan wajah ke arah meja yang sudah dipesan atas nama Sheilla.
Ponselku bergetar.
Felicia: Kamu ngapain di sini. Andro: Kerja. Felicia: Kamu ngetik “sdfjkl” dari tadi. Aku lihat layarmu dari pintu. Andro: Itu kode. Felicia: Kode apa? Andro: Kode buat “kamu cantik banget pakai gaun itu dan aku nggak suka ada orang lain yang lihat”.
Dia menatap layarnya. Dari jarak tujuh meter, aku melihat ujung telinganya memerah.
Lalu pintu restoran terbuka lagi, dan dr. Bima masuk.
Dia tinggi. Itu hal pertama yang kuperhatikan. Lebih tinggi dariku, mungkin lima senti. Rambut dipotong rapi, kemeja linen putih yang lengannya digulung sampai siku, jam tangan kulit cokelat. Wajahnya ramah dan terbuka, dengan senyum yang menunjukkan gigi rata dan lesung pipi di sebelah kiri.
Lesung pipi di sebelah kiri. Sama seperti Sheilla. Tentu saja. Sepupu.
Dia melihat Felicia, tersenyum lebih lebar, dan berjalan ke mejanya dengan tangan terulur.
“Felicia? Aku Bima. Maaf, telat dua menit. Parkirnya penuh.”
“Nggak apa-apa,” kata Felicia, menyalaminya. Dia tersenyum sopan. Senyum untuk klien.
Mereka duduk. Bima memesan dengan cepat, jelas sudah pernah ke sini. Felicia memesan roti panggang dengan telur dan meminta tidak pakai mayones.
Aku mengetik sdfjkl dengan sedikit lebih keras.
Selama empat puluh menit berikutnya, aku menyaksikan sesuatu yang tidak kusiapkan sama sekali.
Bima ternyata menyenangkan.
Dia lucu. Dia bercerita tentang pasien di Lampung yang datang ke puskesmas karena “kesurupan” dan ternyata hanya alergi udang. Felicia tertawa. Tawa kecil, tertahan, tapi tawa. Bima bercerita tentang Sheilla waktu kecil, yang pernah menangis seharian karena ikan cupangnya dimakan kucing, lalu besoknya mengadopsi kucing itu. Felicia tertawa lagi, sedikit lebih lepas.
Dia membicarakan buku. Dia membaca. Dia menyebut nama penulis yang aku tidak kenal, dan Felicia mengangguk dengan antusias, dan mereka berdebat pelan tentang akhir sebuah novel, dan Felicia mencondongkan badan ke depan saat berdebat, seperti yang dia lakukan di rapat kontrak saat seseorang salah mengutip pasal.
Aku mengetik sdfjkl sdfjkl sdfjkl sampai satu halaman penuh.
Kopi hitamku sudah dingin. Aku tidak meminumnya.
Lalu Bima mengatakan sesuatu yang membuat Felicia tersenyum. Bukan tertawa. Tersenyum. Senyum yang pelan dan agak lama.
Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Aku hanya tahu senyum itu. Aku sudah empat tahun mengamati senyum Felicia, dan aku tahu jenis-jenisnya. Ada senyum untuk klien. Ada senyum untuk Eve dan Sheilla, setengah sabar dan setengah sayang. Ada senyum kecil yang tidak bisa diklaim dua kali.
Dan ada senyum yang ini. Yang belum pernah kulihat dia berikan pada siapa pun kecuali aku. Tidak, bukan begitu. Senyum yang ini, menurutku, hanya untukku. Aku bahkan tidak sadar sudah menganggapnya milikku sampai aku melihatnya diberikan pada orang lain.
Rahangku mengeras. Aku merasakannya. Gigiku menekan satu sama lain sampai telingaku berdenging.
Ini konyol, kataku pada diri sendiri. Kamu laki-laki dewasa berumur tiga puluh satu tahun. Kamu senior IT. Kamu jenius, kata semua orang. Kamu duduk di restoran brunch mengetik kata tanpa makna sambil cemburu pada dokter yang bisa masak rendang dan menolong kucing jatuh ke got.
Aku mengetik: aku cemburu.
Lalu aku menghapusnya cepat-cepat, seperti orang yang menyadari bahwa layarnya bisa dibaca dari pintu.
Pukul dua belas kurang sepuluh, Bima meminta tagihan.
Felicia mencoba membayar setengah. Bima menolak dengan sopan. Felicia memaksa, dengan wajah datar orang legal yang tidak suka berutang. Bima akhirnya membiarkannya membayar kopinya sendiri, sambil tertawa dan berkata sesuatu yang membuat Felicia memutar mata.
Mereka berdiri. Mereka berjalan ke pintu.
Lalu, di depan pintu, Bima berhenti. Dia menoleh ke dalam restoran. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti di sudut, di meja dekat jendela.
Di aku.
Aku menunduk ke laptop. Terlambat.
Bima mengatakan sesuatu pada Felicia, yang menatapnya dengan bingung. Lalu Bima berjalan masuk lagi, melewati meja-meja, dan berhenti di depan mejaku.
Dia tersenyum. Lesung pipi sebelah kiri.
“Mas pasti yang namanya Andro,” katanya.
Aku membeku.
Bima menunduk sedikit, melirik layar laptopku yang penuh sdfjkl, dan tersenyum lebih lebar.
“Tenang, Mas,” katanya, cukup pelan sehingga hanya aku yang dengar. “Saya cuma figuran hari ini. Pemanasan aja.”
“Maaf?”
“Sepupu saya yang bilang.” Dia menegakkan badan. “Dia bilang, ‘Mas Bima, kamu tugasnya cuma satu. Bikin Mbak Felicia ketawa dua kali, terus pulang. Kalau ada cowok pakai kacamata yang ngetik di pojok, jangan kaget.’” Dia mengedipkan sebelah mata. “Saya dokter, Mas. Saya kenal gejala. Rahang Mas dari tadi kaku banget. Itu bukan migrain.”
Lalu dia mengangguk sopan, berbalik, dan berjalan ke pintu, di mana Felicia menunggu dengan wajah yang sama bingungnya denganku.
Mereka keluar bersama. Melalui jendela, aku melihat Bima berjalan ke mobilnya di ujung jalan. Dia melambai sekali pada Felicia, lalu masuk ke mobil dan pergi.
Aku duduk di meja itu dengan laptop terbuka dan kopi dingin dan otak yang sedang memproses ulang semua data.
Sepupu saya yang bilang.
Kalau ada cowok pakai kacamata yang ngetik di pojok, jangan kaget.
Sheilla.
Sheilla yang menyusun klasemen. Sheilla yang percaya teori barista. Sheilla yang tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari dua jam.
Sheilla tahu aku akan datang ke sini.
Dan kalau Sheilla tahu aku akan datang ke sini, Sheilla tahu kenapa.
Ponselku bergetar.
Felicia: Dia ngomong apa ke kamu?
Aku menatap pesan itu. Aku memikirkan Felicia di bordes lantai lima hari Selasa, berkata dengan sangat yakin: Sheilla nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari dua jam.
Aku memikirkan dokumen di laptop Sheilla. Catatan Pribadi - JANGAN DIBUKA - Fel & ...
Aku memikirkan Eve di tangga lantai sebelas. Jaga dia, ya.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Aku tidak berbohong pada Felicia. Itu aturan nomor dua, dan aturan itu berlaku untuk semua orang, terutama dia. Tapi aku juga tidak yakin apa yang sebenarnya kuketahui. Satu kalimat dari dokter berlesung pipi bukan bukti. Itu baru satu baris anomali di log. Dan aku tidak pernah mengambil kesimpulan dari satu baris.
Andro: Dia bilang rahangku kaku. Katanya bukan migrain.
Tiga titik. Lama.
Felicia: Aku di parkiran. Lantai dua. Mobil abu-abu.
Felicia: Kamu tahu mobilku.
Aku menutup laptop. Aku membayar kopi dingin yang tidak kuminum. Aku keluar dari Sendok Kayu dan berjalan ke gedung parkir di sebelahnya, naik tangga ke lantai dua, dengan rahang yang masih kaku dan kepala yang penuh pertanyaan.
Mobilnya ada di ujung, di pojok yang sepi, di bawah lampu yang setengah mati.
Dia berdiri di samping pintu belakang, bersandar di mobil, gaun hijau tuanya bergerak sedikit tertiup angin dari celah dinding parkiran. Rambutnya masih tergerai. Tangannya terlipat di dada.
Dia menatapku berjalan mendekat dengan wajah yang sangat, sangat tenang.
“Kamu cemburu,” katanya.
“Aku nggak cemburu.”
“Rahang kamu bilang lain.”
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain reading
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur