← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Eighteen

Jawaban di Tangga Darurat

POV: Andro

Hari Senin aku tidak bisa fokus pada apa pun.

Pukul delapan, aku membuka log dan membaca baris yang sama tiga kali. Pukul sembilan, aku salah mengetik password server sampai terkunci, dan Dodi harus membukanya dengan wajah seperti dokter yang menemukan pasien memakai sepatu di kepala. Pukul sepuluh, Mas Yudha lewat di belakangku, berhenti, dan meletakkan secangkir kopi di mejaku tanpa berkata apa-apa.

Pukul satu lewat dua puluh, aku naik ke rooftop dengan nampan tiga minuman.

Felicia ada di kursinya. Dia sedang mendengarkan Sheilla bercerita tentang Oyen, kucing GA, yang ternyata putus dengan pacarnya di gedung sebelah karena kucing itu “kepergok jalan bareng kucing lain di parkiran”. Eve tertawa sampai menutup mulut.

Aku meletakkan nampan. Teh melati di depan Eve. Caramel macchiato di depan Sheilla. Cokelat panas di depan Felicia.

Dia tidak menatapku. Itu sesuai aturan. Dia tidak pernah menatapku di depan mereka.

Tapi saat aku menarik tanganku dari nampan, ujung jarinya menyentuh punggung tanganku. Sekilas. Kurang dari satu detik. Bisa saja tidak sengaja.

Dia orang yang menghitung jarak dengan sangat tepat. Dia tidak pernah tidak sengaja.

Aku berjalan ke tangga dengan kaki yang tidak bisa merasakan lantai.

Di bordes lantai sebelas, Eve menyusulku.

Ini sudah kedua kalinya Eve menyusulku di tangga. Aku mulai curiga dia menghafal jadwalku seperti aku menghafal jadwal Felicia.

“Andro.” Dia berhenti dua anak tangga di atasku, seperti waktu itu. Tapi wajahnya berbeda. Tidak ada gugup. Tidak ada pipi yang merah. Hanya senyum yang tenang, sedikit lelah, dan sangat tulus. “Aku mau bilang makasih.”

“Buat?”

“Jumat malam. Pak Udin cerita kamu lari sembilan lantai buat jemput Felicia.” Dia memiringkan kepala. “Dia nggak pernah cerita apa-apa ke kami. Dia cuma bilang ‘mobilku dipakai buat jumper’. Kayak itu hal biasa. Felicia memang begitu. Kalau dia takut, dia nggak pernah bilang.”

Aku diam.

“Jadi makasih,” lanjut Eve. “Udah naik buat dia. Waktu kami nggak ada.”

“Siapa pun bakal naik, Eve.”

“Nggak,” katanya pelan. “Nggak siapa pun.”

Dia menatapku sebentar lagi. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kuuraikan. Bukan curiga. Lebih seperti orang yang sedang menyusun teka-teki dan baru menemukan satu keping yang tepi-tepinya terasa familier.

“Jaga dia, ya,” katanya.

Lalu, sebelum aku sempat menjawab, dia tersenyum dan naik kembali ke rooftop.

Aku berdiri di bordes itu dengan nampan kosong di tangan, dan untuk pertama kalinya aku tidak yakin seberapa banyak yang sebenarnya diketahui Eve Maharani.


Pukul lima lewat dua, aku sudah berdiri di depan pintu tangga darurat lantai dua.

“Bang,” kata Dodi dari belakang. “Masih jam lima lewat dua. Abang biasanya berangkat jam lima lewat lima.”

“Hari ini lebih awal.”

“Abang kayak mau sidang skripsi.” Dodi menatapku dari atas ke bawah. “Kerah Abang miring.”

Aku membetulkan kerahku.

“Sekarang kebalik.”

Aku membetulkannya lagi.

Dodi mendesah, berdiri dari kursinya, dan membetulkan kerahku sendiri dengan dua tangan seperti ibu-ibu yang mengantar anaknya ke wisuda. Lalu dia menepuk dadaku dua kali.

“Semangat, Bang,” katanya, dan untuk sekali ini suaranya tidak bercanda. “Apa pun yang terjadi, saya tetap traktir Abang Indomie.”

“Kamu masih utang tiga bungkus.”

“Itu beda akun, Bang.”

Aku membuka pintu tangga darurat dan mulai naik.

Lantai tiga. Empat. Lima. Paru-paruku sudah terbiasa sekarang. Sebulan naik turun tangga membuatku bisa mencapai lantai tujuh tanpa terengah. Dodi bilang aku sudah bisa ikut lomba lari tangga di gedung pencakar langit. Aku bilang aku tidak tertarik. Satu-satunya tangga yang ingin kunaiki adalah yang ini.

Antara lantai enam dan tujuh, aku berbelok di bordes.

Dan berhenti.

Dia sudah di sana.

Felicia berdiri di bordes antara lantai tujuh dan enam. Tempat yang sama. Tempat di mana, sebulan lalu, aku berdiri dengan napas terengah dan tujuh kata yang sudah kulatih empat tahun. Tapi kali ini dia yang menunggu, dan aku yang datang dari bawah.

Dia memegang jaket abu-abuku di depan dadanya. Terlipat rapi. Tidak dicuci, dari wanginya yang masih samar-samar asap genset.

“Kamu cepet,” katanya.

“Kamu lebih cepet.”

“Aku turun jam lima kurang sepuluh.” Dia mengangkat dagu sedikit. “Pak Hendro lagi rapat. Aku bilang ke Mbak Tari aku mau ke toilet.”

“Dua puluh menit di toilet?”

“Mbak Tari nggak akan nanya. Mbak Tari udah tahu.”

“Tahu apa?”

Felicia tidak menjawab. Dia turun satu anak tangga, sehingga dia berdiri di bordes yang sama denganku. Lalu dia mengulurkan jaket itu.

Aku menerimanya. Jari-jari kami bersentuhan di bawah lipatan jaket. Kali ini tidak ada yang sekilas. Dia tidak menarik tangannya.

“Sebulan lalu,” katanya, “kamu berdiri di sini. Kamu bilang kamu mau bikin aku jatuh cinta sama kamu.”

“Iya.”

“Kamu bilang aku boleh nolak sebanyak yang aku mau.”

“Iya.”

“Aku udah nolak dua puluh tiga kali.” Dia menatapku. “Aku hitung. Di tangga, di rooftop, di chat. Dua puluh tiga kali.”

“Aku tahu. Aku juga hitung.”

Sudut bibirnya bergerak. Hampir tersenyum.

“Hari Sabtu aku buka semua tiketku,” katanya. “Seratus tiga puluh tujuh tiket. Empat tahun. Tujuh puluh delapan diselesaikan di luar jam kerja. Empat puluh tiga di tengah malam.” Suaranya pelan, tapi tidak bergetar. “Proyektor lantai sembilan. Dua lewat empat belas. Aku terima kasih ke Mas Yudha besok paginya. Mas Yudha cuma ngangguk.”

Aku diam.

“Kenapa nggak pernah bilang?”

“Karena kamu nggak butuh tahu siapa yang benerin,” kataku. “Kamu cuma butuh proyektornya nyala.”

“Itu bodoh.”

“Iya.”

“Itu cara paling bodoh yang pernah aku dengar buat suka sama orang.” Matanya berkilat. “Empat tahun benerin printer orang jam dua pagi dan nggak pernah bilang apa-apa.”

“Kamu juga nyimpen gelas kertas di laci,” kataku. “Mbak Tari cerita ke Dodi.”

Wajahnya memerah dari leher sampai ujung telinga. “Mbak Tari…”

“Mbak Tari udah tahu,” aku mengulangi kalimatnya sendiri.

Dia menutup mata sebentar. Lalu dia membukanya, dan menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat. Bukan datar. Bukan dingin. Tidak ada tameng sama sekali.

“Andro,” katanya. “Selamat. Kamu berhasil.”


Aku tidak langsung mengerti.

Aku berdiri di sana dengan jaket di tangan, dan otakku, yang bisa membaca ribuan baris log dalam semenit, tiba-tiba tidak bisa memproses tiga kata.

“Berhasil,” ulangku.

“Kamu bilang kamu mau bikin aku jatuh cinta sama kamu.” Suaranya pelan. “Kamu berhasil. Udah dari lama, kayaknya. Aku aja yang telat sadar.”

Lampu neon di atas kami berdengung. Di kejauhan, pintu tangga di lantai lain terbuka dan tertutup.

“Kamu nggak mau ngomong apa-apa?” tanyanya. Ada sedikit gugup di suaranya sekarang. “Aku baru bilang hal paling memalukan seumur hidupku, di tangga darurat, sambil bohong ke Mbak Tari soal toilet.”

Aku menjatuhkan jaket itu.

Aku tidak bermaksud menjatuhkannya. Tanganku hanya tiba-tiba butuh melakukan sesuatu yang lain. Jaket itu jatuh ke lantai bordes dengan bunyi pelan, dan Felicia menunduk menatapnya, lalu mendongak menatapku, dan sebelum dia sempat protes soal jaket yang baru saja dia lipat dengan rapi, aku melangkah maju.

Satu langkah. Langkah yang selama sebulan, selama empat tahun, selalu kutahan.

Dan aku memeluknya.

Dia kaku sebentar. Satu detik. Dua. Seperti orang yang tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana karena belum pernah dipeluk dengan cara ini.

Lalu tangannya bergerak. Pelan-pelan. Naik ke punggungku, mencengkeram kain kemejaku di belakang. Dan dia menyandarkan wajahnya di bahuku, seperti di rooftop malam itu, tapi kali ini lebih erat.

Aku bisa merasakan napasnya. Pendek dan cepat di awal. Lalu pelan-pelan melambat. Empat hitungan. Tahan. Enam.

“Kamu ngitung napas,” kataku di atas kepalanya.

“Diam,” katanya ke bahuku. “Ini cara aku nggak nangis.”

Aku tertawa pelan. Dia memukul punggungku dengan kepalan tangan, lemah, tanpa niat.

Kami berdiri seperti itu lama. Aku tidak tahu berapa lama. Aku berhenti menghitung untuk pertama kalinya dalam hidup.


Akhirnya dia melepaskan diri. Pelan. Tidak jauh. Tangannya masih memegang lengan kemejaku.

“Ada syaratnya,” katanya.

“Syarat?”

“Aku orang legal. Semua perjanjian ada syaratnya.”

“Oke. Apa?”

Dia menatap lantai sebentar. Lalu menatapku.

“Jangan bilang mereka,” katanya. “Eve sama Sheilla. Belum. Aku belum siap.”

Aku diam.

“Eve suka kamu,” lanjutnya cepat, seperti sudah lama menyiapkan kalimat ini. “Atau pernah suka kamu. Aku nggak tahu apa yang kalian omongin di makan malam itu, tapi dia minta izin aku dua kali sebelum ngajak kamu. Dua kali, Andro. Dan aku bilang aku nggak keberatan. Dan Sheilla masih bikin klasemen tiap hari. Kalau aku tiba-tiba bilang aku sama kamu…” Dia menarik napas. “Aku butuh waktu. Buat cari cara bilang ke mereka yang nggak bikin mereka sakit hati. Yang nggak bikin aku kelihatan kayak orang yang nikung sahabatnya sendiri.”

“Kamu nggak nikung siapa-siapa.”

“Aku tahu. Tapi dari luar kelihatannya begitu.” Dia memegang lengan kemejaku lebih erat. “Aku nggak pernah di tengah, Andro. Seumur hidup. Dan kalau ini keluar sekarang, aku bakal di tengah semua orang. Di grup Navara Ceria. Di klasemen Sheilla. Di mata Eve. Aku belum bisa.”

Aku menatapnya. Perempuan yang naik sembilan lantai dalam gelap. Yang menyalakan mobilnya untuk genset. Yang baru saja mengakui sesuatu yang paling memalukan di tangga darurat sambil berbohong soal toilet.

Dan yang masih takut berdiri di tengah.

Aku ingin bilang tidak apa-apa kalau dia di tengah. Aku ingin bilang aku akan berdiri di sebelahnya. Tapi aku tahu itu bukan sesuatu yang bisa kuputuskan untuknya. Sama seperti di makan malam Eve, aku tidak berhak mengambil keputusan atas rahasia yang bukan milikku sendiri.

“Oke,” kataku.

Dia mengedip. “Oke?”

“Oke. Aku nggak bilang ke mereka.” Aku berhenti. “Tapi aku juga punya satu syarat.”

“Kamu punya syarat?”

“Aku juga bisa baca kontrak.”

Sudut bibirnya bergerak. “Apa?”

“Suatu hari, kalau kamu udah siap, kamu yang bilang. Bukan aku. Bukan Bu Ratna. Bukan grup Navara Ceria. Kamu.” Aku menatap matanya. “Biar kamu yang milih kapan berdiri di tengah. Aku cuma mau kamu tahu, waktu hari itu datang, aku ada di sebelahmu.”

Dia menatapku lama sekali.

Lalu dia mengangkat satu jari dan meletakkannya di bibirnya sendiri.

“Sst,” katanya.

Aku tidak tahu kenapa satu kata itu membuat dadaku sesakit dan sehangat ini sekaligus.

“Sst,” aku mengulanginya.

Dia tersenyum. Senyum yang bukan promo. Senyum yang bisa diklaim berkali-kali.

Lalu dia menunduk, memungut jaketku dari lantai bordes, mengibasnya dua kali, dan melipatnya lagi dengan rapi. Lalu, alih-alih memberikannya padaku, dia memasukkannya ke dalam tas kerjanya.

“Itu jaketku,” kataku.

“Kamu bilang simpan aja.”

“Itu sebelum kamu kembalikan.”

“Pengembaliannya batal,” katanya, menutup resleting tas. “Ada perubahan kondisi kontrak.”


Aku turun ke lantai dua pukul lima lewat empat puluh. Lewat tangga. Tiga lantai pertama aku turun normal. Tiga lantai berikutnya aku turun dua anak tangga sekaligus. Di lantai dua, aku hampir menabrak Dodi, yang sedang menunggu di depan pintu tangga dengan sebungkus Indomie di tangan.

Dia menatap wajahku.

Lalu dia menjatuhkan Indomie-nya.

“Bang.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.

“BANG.”

“Pelan-pelan, Dod.”

“Bang, Abang senyum kayak orang yang baru menang tender seratus miliar.” Dodi mencengkeram lenganku. “Berhasil? Project Ujung Foto? Fase berapa ini? Saya harus update catatan.”

“Nggak ada yang perlu di-update.”

“Bang!”

“Sst,” kataku.

Dodi berhenti. Dia menatap jariku yang terangkat di depan bibir. Dia menatap wajahku. Dan Dodi Saputra, junior IT paling cerewet di Tower Navara, perlahan-lahan melepaskan lenganku, memungut Indomie-nya dari lantai, dan menutup mulutnya sendiri dengan tangan.

Matanya berkaca-kaca.

“Saya nggak dengar apa-apa, Bang,” bisiknya dari balik tangan. “Saya nggak lihat apa-apa. Saya cuma junior IT yang lagi bawa Indomie.”

Mas Yudha keluar dari ruang kaca dengan tas laptop di bahu. Dia berhenti di koridor. Dia menatapku. Menatap Dodi yang masih menutup mulutnya dengan mata basah. Lalu menatapku lagi.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia mengangguk sekali, pelan.

“Bagus,” katanya.

Lalu dia pulang.


Malam itu, di kamarku di Tebet, aku membuka WhatsApp.

Kontak Felicia. Pesan terakhir: Oke, dariku, hari Sabtu.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Aku tidak pakai emoji. Semua orang tahu itu. Seumur hidup aku hanya pernah mengirim satu emoji, jempol ke Mas Yudha, dan itu pun kepencet.

Aku membuka papan emoji. Aku menggulir. Lama. Seperti orang yang mencari kabel yang tepat di dalam kotak yang berantakan.

Lalu aku menemukannya.

Andro: 🤫

Aku menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.

Balasannya datang dalam tiga detik.

Felicia: Kamu pakai emoji.

Andro: Seumur hidup aku pakai dua. Yang satu kepencet.

Felicia: Yang ini?

Andro: Yang ini nggak.

Tiga titik. Hilang. Muncul lagi.

Felicia: 🤫

Felicia: Selamat malam, Andro.

Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit kamarku. Di kamar sebelah, ibuku sedang menonton sinetron dengan volume terlalu keras. Di luar jendela, Jakarta berdengung seperti biasa.

Empat tahun di ujung foto.

Aku belum pindah ke tengah. Belum. Tapi untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa di ujung yang satunya, ada seseorang yang juga sedang menatap ke arahku.