← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Thirty Six

Foto di Tengah

POV: Andro

HUT Navara Grup yang ke dua puluh tujuh dimulai pukul tujuh pagi, dan pukul tujuh lewat dua, mikrofon kiri sudah mati.

“Bang!” Dodi berlari ke arahku dari balik panggung dengan HT di tangan dan wajah panik. “Mic kiri mati! Pak Wirya mau pidato jam delapan! Dia nggak mau pakai mic kanan! Katanya mic kanan bikin suaranya kayak bebek!”

“Mic kanan nggak bikin suaranya kayak bebek.”

“Saya tahu, Bang. Tapi Pak Wirya yakin. Dan Pak Wirya direktur utama.”

Aku merangkak ke bawah panggung.

Panggung HUT dipasang di depan lobby Tower Navara, di halaman yang biasanya dipakai sebagai area drop-off taksi. Tiga meter kali enam meter, dengan karpet merah, latar belakang LED raksasa yang sudah kukonfigurasi selama dua minggu, dan spanduk merah besar bertuliskan angka 27. Di bawah panggung, gelap dan pengap dan penuh kabel.

Aku menemukan masalahnya dalam empat menit. Kabel mikrofon kiri tidak putus. Kabelnya digigit.

“Dod. Kamu lihat tikus?”

“Tikus?”

“Ada bekas gigitan di kabel.”

Dari luar panggung, aku mendengar Dodi diam sebentar. Lalu dia berkata, pelan, dengan nada orang yang mengenali sejarah:

“Bang. Empat tahun lalu. HUT dua puluh tiga. Abang juga merangkak di bawah panggung benerin kabel yang digigit tikus. Itu yang bikin Abang telat foto dan kebagian ujung kanan.”

Aku berhenti.

Di bawah panggung yang gelap, dengan kabel di tangan dan debu di kemeja, aku tertawa sendirian.

“Bang? Abang kenapa ketawa?”

“Sejarah,” kataku. “Berulang.”

“Abang jangan kelamaan di bawah, Bang! Nanti telat foto lagi!”

Aku menyambung kabel itu. Aku membungkusnya dengan selotip listrik tiga lapis. Aku merangkak keluar pukul tujuh lewat dua belas, dengan kemeja putih yang sekarang penuh debu dan noda hitam di siku.

Dodi menatap kemejaku dengan horor.

“Bang. Itu kemeja buat foto.”

“Aku tahu.”

“Abang nggak bawa cadangan?”

Aku orang IT. Aku selalu membawa cadangan. Kabel cadangan. Adaptor cadangan. Kain lap kacamata cadangan, tiga.

Kemeja cadangan, tidak.


Acara dimulai pukul delapan.

Pak Wirya berpidato dengan mikrofon kiri, yang suaranya tidak seperti bebek, selama dua puluh tujuh menit. Satu menit untuk setiap tahun umur perusahaan, katanya, sambil tertawa keras. Tidak ada yang ikut tertawa, tapi semua orang tersenyum sopan.

Lalu ada band. Band karyawan, yang terdiri dari Mas Bayu di gitar, dua orang dari keuangan di bass dan drum, dan seorang anak magang di keyboard yang ternyata sangat berbakat. Mereka memainkan lagu-lagu lama yang membuat bapak-bapak direksi ikut bernyanyi.

Lalu doorprize.

Sheilla berdiri di panggung dengan topi PANITIA, papan klip, dan toples kupon raksasa. Dia memakai gaun kuning dengan pita biru di rambut, dan dia bersinar di bawah matahari pagi seperti permen yang nyasar ke rapat direksi.

“Hadiah berikutnyaaa…” Dia mengguncang toples. “Kulkas! Dua pintu! Bisa nyimpen es krim, bisa nyimpen sayur, bisa nyimpen perasaan yang belum diungkapkan!”

Penonton tertawa.

Kulkas dimenangkan oleh Mbak Tari, yang langsung menangis.

Kipas angin dimenangkan oleh Pak Hendro, yang tidak menangis tapi wajahnya memerah.

Blender, tidak dimenangkan oleh Dodi. Dodi sudah punya blender. Dodi diminta panitia untuk tidak ikut undian tahun ini.

Lalu Sheilla berhenti. Dia meletakkan toples. Dia menatap ke arah penonton, ke tiga ratus karyawan Navara Grup yang duduk di kursi plastik merah di halaman lobby.

“Dan hadiah utama,” katanya. Suaranya bergetar sedikit. “Tahun ini, hadiah utamanya…”

Dua orang dari tim Event mendorong sesuatu ke panggung. Ditutupi kain merah.

Sheilla menarik kain itu.

Sepeda motor. Matic. Baru. Berwarna biru muda, dengan pita merah di setangnya.

Penonton bersorak. Tiga ratus orang. Bapak-bapak divisi keuangan berdiri dengan kupon di tangan, seperti atlet menunggu tembakan start.

Aku berdiri di samping panggung dengan HT dan kemeja penuh debu, dan aku tahu dari mana uang tambahan untuk motor itu datang. Lima juta. Yang hampir hilang ke penipu dengan link palsu. Yang kukembalikan lewat tiga hari laporan ke bank. Yang Sheilla tabung diam-diam, untuk seseorang yang naik angkot setiap hari.

Sheilla mengambil satu kupon dari toples. Dia membacanya. Dia membacanya lagi.

Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.

“Pemenangnya…” Suaranya pecah. “Ibu Sumiati. Kebersihan.”

Seluruh halaman lobby terdiam sedetik.

Lalu meledak.

Di barisan paling belakang, di dekat pos Pak Udin, Bu Sumi berdiri dengan mata lebar dan tangan menutup mulut. Di sebelahnya, Raka, kelas empat, dengan sepatu sekolah putih yang bersih. Raka melompat-lompat. Raka berteriak IBU! IBU MENANG! Raka menarik tangan ibunya ke arah panggung.

Bu Sumi berjalan ke depan sambil menangis. Pak Udin berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan dengan kedua tangan di atas kepala. Pak Wirya ikut berdiri.

Sheilla turun dari panggung dan memeluk Bu Sumi. Lama. Di depan tiga ratus orang. Sambil menangis dan bicara bersamaan, karena Sheilla tidak bisa menangis tanpa bicara.

Aku menoleh ke barisan kursi di dekat panggung. Ke kursi-kursi tempat divisi Legal dan Comm duduk.

Eve sedang menyeka matanya dengan tisu.

Dan di sebelahnya, Felicia.


Dia memakai gaun hijau tua.

Gaun yang sama dengan di brunch. Gaun yang ternyata milik Eve. Rambutnya tergerai, tidak diikat, jatuh lurus sampai punggung dan bergerak sedikit ditiup angin pagi. Dia memakai anting kecil yang belum pernah kulihat. Mutiara. Mungkin juga pinjaman dari Eve.

Dia tidak menatap panggung. Dia menatapku.

Dari seberang halaman lobby, di antara tiga ratus orang yang bersorak untuk Bu Sumi, matanya menemukan mataku. Dan dia tersenyum.

Senyum yang pelan, yang agak lama. Yang dulu kucemburui saat dia memberikannya ke arah yang salah.

Kali ini arahnya benar.

Lalu dia menunduk melihat kemejaku yang penuh debu. Alisnya naik. Bibirnya bergerak.

Aku tidak bisa mendengarnya dari jarak sejauh itu. Tapi aku sudah mempelajari bentuk mulutnya selama empat tahun.

Tikus?

Aku mengangguk.

Dia menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya bergetar.

Dia tertawa. Di depan semua orang.


Pukul sebelas, fotografer naik ke tangga lipat di depan lobby.

Fotografernya memang ganteng. Sheilla tidak salah. Tinggi, berkulit sawo matang, dengan kamera besar yang tergantung di leher dan rambut yang diikat ke belakang. Sheilla berdiri di sebelah tangganya dengan papan klip, memberi instruksi dengan sangat cepat, dan fotografer itu mengangguk-angguk seperti orang yang sudah menerima terlalu banyak instruksi dalam satu pagi.

“OKE, SEMUANYA!” teriak Sheilla lewat pengeras suara. “FOTO BERSAMA! BARIS DI DEPAN LOBBY! DIREKSI DI DEPAN! YANG TINGGI DI BELAKANG! YANG PENDEK DI DEPAN! YANG PAKAI BAJU MERAH JANGAN BERDIRI DI DEPAN SPANDUK MERAH, NANTI KAYAK HILANG!”

Tiga ratus orang mulai bergerak. Seperti setiap tahun. Seperti empat kali sebelumnya.

Dan kakiku bergerak sendiri. Seperti setiap tahun. Ke kanan. Ke ujung. Ke tempat yang sudah kuhafal sejak HUT dua puluh tiga, saat aku keluar dari bawah panggung dengan kemeja penuh debu dan hanya kebagian ujung kanan.

Kemeja penuh debu. Lagi.

Aku berdiri di ujung kanan barisan. Setengah badan di luar bingkai, kalau fotografer tidak hati-hati.

Di tengah, fotografer sudah memanggil Eve ke depan. Seperti setiap tahun. Eve maju, gaun biru muda, rambut cokelat madu, senyum yang membuat fotografer lupa menyesuaikan lensa. Sheilla di sebelahnya, setelah meletakkan papan klip dan pengeras suara di tangan Dodi.

Dan di ujung kiri…

Aku menoleh ke kiri. Melewati tiga ratus wajah. Melewati Eve dan Sheilla. Melewati spanduk merah dengan angka 27.

Ujung kiri kosong.


Untuk sesaat, aku tidak mengerti.

Lalu aku melihatnya.

Felicia tidak berdiri di ujung kiri. Felicia berjalan.

Dari ujung kiri barisan, di depan tiga ratus orang yang sedang merapikan rambut dan kerah dan senyum mereka untuk kamera, Felicia berjalan. Melewati divisi legal. Melewati Mbak Tari, yang langsung menutup mulut dengan tangan. Melewati Pak Hendro, yang menjatuhkan topinya. Melewati divisi Comm. Melewati barisan direksi di depan. Melewati Pak Wirya, yang menoleh dengan wajah bingung.

Melewati Eve dan Sheilla di tengah. Eve tersenyum. Sheilla sudah menangis.

Dia tidak berhenti di tengah.

Dia terus berjalan. Ke kanan. Melewati divisi keuangan. Melewati divisi strategi, melewati Kirana dengan sepatu kets putihnya, yang menunduk. Melewati tim IT, melewati Mas Yudha yang berdiri dengan tangan di saku dan wajah datar, melewati Dodi yang memegang papan klip Sheilla dan pengeras suara dan matanya selebar piring.

Sampai ke ujung kanan.

Sampai ke aku.

Barisan tiga ratus orang itu menjadi sunyi. Seluruhnya. Seperti malam blackout. Seperti gedung yang berhenti bernapas.

Felicia berdiri di depanku. Gaun hijau tua. Rambut tergerai. Napasnya sedikit terengah, karena barisan itu panjang dan dia berjalan cepat dengan sepatu hak.

Dia menatap kemejaku yang penuh debu. Dia menatap noda hitam di sikuku.

“Kamu keluar dari bawah panggung,” katanya. “Lagi.”

“Tikus.”

“Empat tahun lalu juga tikus?”

“Empat tahun lalu juga tikus.”

Dia tersenyum. Lalu dia mengulurkan tangannya.

“Ayo,” katanya.

“Ke mana?”

“Ke tengah.”

Aku menatap tangannya. Tiga ratus orang menatap tangannya.

“Fel,” kataku pelan. “Semua orang lihat.”

“Aku tahu.”

“Bu Ratna di barisan ketiga. Dia udah pegang HP.”

“Aku tahu.”

“Kamu yakin?”

Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengambil tanganku. Langsung. Menggenggamnya. Erat. Seperti di lift yang gelap, saat dia berpegangan seperti orang yang berpegangan pada pagar kapal.

Tapi kali ini bukan karena takut.

“Nggak usah sst lagi,” katanya.


Dia menarikku.

Melewati tim IT. Melewati Mas Yudha, yang mengangguk sekali. Melewati Dodi, yang menjatuhkan pengeras suara Sheilla dan menangis tanpa suara. Melewati divisi strategi, divisi keuangan, barisan direksi, Pak Wirya yang mulutnya terbuka.

Sampai ke tengah.

Eve dan Sheilla bergeser. Masing-masing satu langkah. Ke kiri dan ke kanan. Membuka ruang di antara mereka.

Ruang yang cukup untuk dua orang.

Felicia menarikku ke sana. Lalu dia berdiri di sebelahku. Di tengah. Di antara Eve dan Sheilla. Di depan spanduk merah dengan angka 27. Di depan tiga ratus orang dan satu fotografer ganteng di atas tangga lipat yang kameranya masih belum diangkat karena dia, seperti semua orang, sedang menonton.

“Pak,” kata Sheilla ke fotografer. Suaranya serak karena menangis. “Sekarang, Pak. Fotonya sekarang.”

Fotografer itu mengangkat kameranya.

“Oke,” katanya. “Semuanya lihat kamera. Satu… dua…”

Felicia tidak melihat kamera.

Dia berbalik padaku. Dia berjinjit sedikit, karena sepatu haknya tidak cukup tinggi. Dan di depan tiga ratus orang, di depan Pak Wirya, di depan Bu Ratna yang memegang ponsel, di depan Eve dan Sheilla dan Mbak Tari dan Pak Udin dan Bu Sumi dan Raka dan seluruh Tower Navara, dia menciumku.

Singkat. Lembut. Sangat jelas.

Klik.


Untuk satu detik, tidak ada yang bersuara.

Lalu halaman lobby Tower Navara meledak.

Bukan sorakan. Lebih keras dari sorakan. Tiga ratus orang berteriak bersamaan. Seseorang meniup terompet kertas. Seseorang melempar topi pesta ke udara. Mas Bayu memukul senar gitarnya tanpa melodi. Pak Udin berdiri di kursi plastik dengan lututnya yang sakit dan bertepuk tangan di atas kepala. Mbak Tari menangis di bahu Pak Hendro, yang terlihat sangat tidak nyaman tapi tidak menyingkir.

Sheilla memeluk kami berdua dari kanan. Eve memeluk kami berdua dari kiri. Empat orang berpelukan di tengah foto HUT.

“AKHIRNYA!” teriak Sheilla di telingaku. “AKHIRNYA! AKU UDAH NUNGGU DUA BULAN! PAPAN BUKTIKU BISA DIPENSIUNKAN!”

“Shei, telingaku…”

“BIARIN! INI HARI BAHAGIA!”

Eve tidak berteriak. Eve hanya memeluk Felicia, lama, dengan wajah di bahu sahabatnya. Aku mendengarnya berbisik sesuatu. Aku tidak mendengar apa. Tapi Felicia menangis setelahnya, dan tertawa, dan menangis lagi.

Di atas tangga lipat, fotografer ganteng itu menurunkan kameranya dan menatap layar kecil di belakangnya.

“Mbak Sheilla,” katanya. “Itu tadi kepencet. Semua orang nggak lihat kamera.”

“Nggak apa-apa, Pak!” teriak Sheilla. “Itu foto yang paling bagus!”

“Mau diulang?”

“NGGAK USAH!”

Pak Wirya, di barisan direksi, akhirnya menemukan suaranya. Dia tertawa keras, terlalu keras, seperti biasanya. Lalu dia mengambil mikrofon kiri dari Dodi, yang suaranya tidak seperti bebek.

“Wah,” katanya. Suaranya menggema di seluruh halaman lobby. “Ternyata tim Legal dan tim IT kita kolaborasinya bagus sekali, ya!”

Seluruh halaman lobby tertawa.


Ponselku bergetar di saku. Ponsel semua orang bergetar. Tiga ratus ponsel. Satu notifikasi.

Grup “Navara Ceria”. Dari Bu Ratna.

Selamat siang, Bapak/Ibu. Info: polling ditutup. Terima kasih.

Itu saja. Tidak ada foto. Tidak ada kata sifat. Tidak ada emoji.

Lalu, satu menit kemudian, satu pesan lagi.

Selamat juga, Mas Andro dan Mbak Felicia. Dari HR. Dan dari saya pribadi. 🤍


Kami naik ke rooftop pukul satu siang, setelah makan siang prasmanan, setelah Pak Wirya memberi pidato kedua yang tidak ada hubungannya dengan apa pun, setelah Bu Sumi mencoba menaiki motornya untuk pertama kali dan hampir menabrak pos Pak Udin.

Lewat tangga darurat. Tentu saja.

Rooftop kosong. Semua orang masih di halaman lobby, menunggu band memainkan lagu penutup. Kantin tutup. Lampu-lampu kecil kuning dari pesta ulang tahun Felicia masih dililitkan di pilar, karena ternyata GA memutuskan untuk tidak mencopotnya. Bu Ratna yang minta. Katanya, biar rooftop kelihatan bahagia terus.

Felicia berjalan ke pintu rooftop dan menguncinya dari dalam.

Aku menatapnya. “Kamu punya kunci rooftop?”

“Sheilla yang kasih. Dia panitia.” Dia memasukkan kunci itu ke saku gaun Eve. “Katanya, ‘Kalian butuh tempat yang lebih luas dari ruang server.’”

Aku tertawa. Lalu aku berhenti tertawa, karena dia berjalan ke arahku.

“Tadi kamu cium aku,” kataku, “di depan tiga ratus orang.”

“Itu versi sopan.”

Dia berhenti di depanku. Sangat dekat. Gaun hijau tua. Rambut tergerai. Angin rooftop meniup ujung rambutnya ke lenganku.

“Versi nggak sopannya?” tanyaku.

Dia tidak menjawab. Dia mengulurkan tangan ke kerah kemejaku. Kemeja putih yang penuh debu. Dia melonggarkan dasi yang Mas Yudha paksa aku pakai pagi tadi, menariknya lepas dari kerahku, dan melingkarkannya di belakang leherku sendiri. Memegang kedua ujungnya.

Lalu dia menarik. Pelan. Sampai wajahku turun ke wajahnya.

“Rooftop sepi,” bisiknya. “Pintunya udah aku kunci.”

Dia menciumku.

Di rooftop Tower Navara. Di depan dinding foto. Di bawah lampu-lampu kecil kuning yang masih menyala di siang hari. Ciuman yang tidak sopan sama sekali. Panjang dan dalam dan tidak terburu-buru, karena tidak ada pasal yang perlu ditaati lagi, tidak ada kontak mata yang perlu dihitung, tidak ada lift yang berbunyi ting, tidak ada Sheilla di balik pintu, tidak ada tukang parkir yang mengetuk kaca.

Tanganku di pinggangnya. Tangannya masih memegang dasi di leherku.

Lalu bibirku turun. Ke rahangnya. Ke lehernya. Di bawah telinga. Di tempat yang sudah kupelajari sejak gedung parkir Senopati.

Napasnya pecah. Tangannya melepaskan dasi dan naik ke rambutku.

“Andro…”

“Hm.”

“Kemejamu kotor.”

“Kamu yang tarik aku ke tengah pakai kemeja kotor.”

“Itu romantis.”

“Itu tikus.”

Dia tertawa. Di dekat telingaku. Dan aku menciumnya lagi, karena satu kali tidak cukup. Karena dua kali tidak cukup. Karena empat tahun di ujung foto adalah waktu yang sangat lama, dan aku punya banyak yang harus dikejar.


Akhirnya kami berdiri di depan dinding foto.

Empat bingkai. Empat tahun. Ujung kiri dan ujung kanan.

Minggu depan, GA akan memasang bingkai kelima. Bingkai yang fotografernya bilang kepencet. Di mana tiga ratus orang tidak melihat kamera. Di mana di tengah, di antara Eve dan Sheilla, dua orang yang empat tahun berdiri di dua ujung yang berbeda, sedang berciuman.

Felicia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Andro.”

“Hm?”

“Waktu di tangga darurat. Pertama kali. Kamu bilang kamu mau bikin aku jatuh cinta sama kamu.”

“Iya.”

“Kamu udah berhasil. Aku udah bilang.”

“Iya.”

“Terus sekarang apa?”

Aku menatap foto-foto itu. Empat kali aku menoleh ke kiri. Empat kali dia menatap sedikit ke kanan. Empat tahun dua orang yang berdiri di dua ujung, saling menunggu salah satu dari mereka cukup berani untuk berjalan ke tengah.

“Sekarang,” kataku, “aku mau bikin kamu jatuh cinta tiap hari.”

Dia diam sebentar.

Lalu dia mendongak, dan menatapku dengan mata yang bersinar di bawah lampu-lampu kecil kuning, dan tersenyum. Senyum yang bisa diklaim berkali-kali.

“Telat,” katanya. “Aku udah duluan.”


Di ruang IT lantai dua, pada sore harinya, Dodi Saputra membuka aplikasi catatan di ponselnya. Dia menggulir ke catatan yang paling lama. Catatan yang dia buat dua bulan lalu, di depan dinding foto di rooftop, pukul tujuh malam.

PROJECT UJUNG FOTO. Target: pindahin dua orang dari ujung ke tengah. Deadline: HUT Navara. PIC: Bang Andro. Support: Dodi (gratis, tapi minta ditraktir).

Dia mengetik satu baris di bawahnya.

Status: SELESAI.

Lalu satu baris lagi.

Catatan: traktiran belum dibayar. Indomie juga masih utang dua. Tapi nggak apa-apa. Hari ini saya nangis di depan tiga ratus orang dan saya nggak menyesal.

Mas Yudha keluar dari ruang kaca dengan tas laptop di bahu. Dia berhenti di belakang kursi Dodi. Dia membaca layar itu dari belakang bahu Dodi, karena ternyata Mas Yudha juga tidak mengenal konsep privasi.

Dia diam lama.

Lalu dia menepuk bahu Dodi sekali.

“Bagus,” katanya.

Lalu dia pulang.