Chapter Thirty Four
Tiga Goddess Turun Gunung
POV: Andro
Setelah papan gabus itu naik ke lantai sembilan, aku kembali ke ruang server.
Bukan untuk bersembunyi. Aku punya pekerjaan.
Rabu sore, Bu Lestari dari Compliance membalas laporanku dengan satu kalimat: Mohon IT menelusuri sumber penyebaran secara resmi, dengan prosedur yang berlaku, dan laporkan hanya kepada saya dan Kepala HR. Mas Yudha meneruskannya padaku tanpa komentar. Hanya satu kata di bawahnya.
Kamu.
Jadi pagi itu, setelah Eve dan Sheilla menghilang ke ruangan Pak Hendro, aku duduk di kursi beroda di ruang server, delapan belas derajat, dengan dua laptop terbuka dan buku tamu bersampul biru di sebelah keyboard.
Aku melakukannya dengan cara yang benar.
Aku tidak menyadap ponsel siapa pun. Aku tidak membaca pesan pribadi siapa pun. Aku hanya membaca hal-hal yang memang boleh dibaca IT: log jaringan kantor, log perangkat, catatan akses gedung.
Pukul sepuluh lewat enam, Jumat malam. Satu laptop kantor terhubung ke Wi-Fi tamu di area basement, bukan di lantai sebelas. Aku salah membacanya hari Senin. Titik akses Wi-Fi tamu di basement memakai nama jaringan yang sama dengan yang di lantai sebelas, sisa konfigurasi lama yang belum sempat kuperbaiki. Laptop itu bukan di lantai sebelas. Laptop itu di basement.
Laptop itu terhubung selama empat belas menit. Dari pukul sepuluh lewat enam sampai sepuluh lewat dua puluh.
Aku dan Felicia turun ke basement pukul sepuluh.
Catatan akses gedung. Kartu akses yang dipakai untuk keluar dari pintu basement pukul sepuluh lewat dua puluh dua. Satu kartu. Satu nama.
Senin pagi, pukul enam lewat lima puluh. Nomor tanpa nama bergabung ke grup “Navara Ceria” lewat tautan undangan. Aku tidak bisa melihat siapa pemilik nomor itu. Itu bukan wewenangku. Tapi Kepala HR bisa meminta karyawan yang bersangkutan untuk menunjukkan ponselnya secara sukarela, dalam rapat tertutup, dengan pendampingan.
Aku menulis laporannya. Dua halaman. Fakta. Jam. Tanggal. Kartu akses. Satu nama, karena prosedur meminta satu nama. Lalu, di bagian rekomendasi, aku menulis sesuatu yang tidak diminta prosedur.
Rekomendasi: penanganan tertutup. Tanpa pengumuman nama ke publik. Tanpa penyebaran di grup internal. Pelanggaran ini serius, tetapi mempermalukan pelaku di depan umum hanya akan mengulang kesalahan yang sama dengan cara yang berbeda.
Aku membacanya lima kali. Lalu aku mengirimnya ke Bu Lestari dan Kepala HR, tembusan ke Mas Yudha.
Pukul sebelas lewat dua puluh delapan.
Aku bersandar di kursi dan menatap lampu-lampu server yang berkedip. Hijau. Biru. Hijau. Seperti jantung.
Pukul sebelas lewat tiga puluh satu, seseorang mengetuk pintu ruang server.
Aku membukanya dari dalam.
Felicia berdiri di koridor.
Rambutnya lepas dari ikatan, jatuh berantakan di punggung dan bahu. Maskaranya luntur sampai ke pipi. Napasnya terengah, seperti orang yang baru turun tujuh lantai lewat tangga darurat tanpa berhenti. Blazernya miring. Sepatu hak rendahnya berdebu di ujung.
Dia tidak cantik dengan cara yang biasa. Dia cantik dengan cara yang membuatku lupa caranya bernapas.
“Aku nggak punya akses,” katanya. Suaranya serak.
“Aku tahu.”
“Kamu harus buka dari dalam.”
“Udah aku buka.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Lampu koridor otomatis mulai meredup.
“Boleh masuk?” tanyanya.
Aku mundur. Dia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang berat.
Dengung server. Delapan belas derajat. Tujuh rak setinggi dua meter. Buku tamu bersampul biru.
Dia tidak duduk di meja. Dia berdiri di tengah ruangan, di antara dua rak server, dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh.
“Aku nyakitin kamu,” katanya.
Aku tidak menjawab dengan cepat. Aku tidak mau bilang nggak. Itu bohong. Dan aku tidak mau bohong padanya, bahkan untuk membuatnya merasa lebih baik.
“Iya,” kataku.
Dia menutup mata sebentar. Seperti orang yang menerima vonis yang sudah dia duga.
“Kamu nggak marah,” katanya. “Kamu bilang kamu nggak marah.”
“Aku nggak marah.”
“Itu yang paling sakit.” Dia membuka mata. “Kamu harusnya marah, Andro. Aku bilang ke lima puluh orang kalau kita nggak ada apa-apa. Aku ngambil satu-satunya hal yang kamu minta. Dan kamu cuma bilang ‘aku ngerti’. Kamu cuma kirim ‘sst’. Kamu cuma naik lift tiga hari dan tetap naruh cokelat di mejaku jam tujuh lewat tiga.”
“Mbak Tari cerita.”
“Mbak Tari cerita semuanya.” Suaranya pecah. “Kenapa kamu nggak marah?”
Aku memikirkan jawabannya. Aku benar-benar memikirkannya, karena dia pantas mendapat jawaban yang benar.
“Karena aku ngerti kenapa kamu ngelakuinnya,” kataku. “Kamu ngelindungin Eve. Kamu ngelindungin Sheilla. Kamu ngelindungin aku. Kamu selalu ngelindungin semua orang, dengan berdiri di depan dan nanggung semua sendirian.” Aku berhenti. “Aku nggak bisa marah sama orang karena dia baik. Bahkan kalau baiknya nyasar.”
“Baiknya nyasar,” ulangnya.
“Kebaikan yang salah alamat,” kataku. “Kamu ngelindungin semua orang. Kecuali satu.”
“Siapa?”
“Kamu sendiri.”
Dia menatapku. Air mata yang tadi sudah berhenti mulai jatuh lagi, pelan, satu per satu.
“Eve tahu,” katanya. “Sheilla tahu. Dari hari ketiga. Dari gelas. Sheilla bikin papan bukti. Tiga malam. Dengan benang merah dari toko jahit.”
“Aku lihat dari jendela.”
“Kamu udah tahu? Kalau mereka tahu?”
“Aku curiga.” Aku tidak bohong. “Dari Bima. Dari obat anti mabuk berpita pink. Dari Eve di Lembang.”
Dia membeku. “Eve di Lembang?”
“Dia lihat kita. Di balik tenda. Dia bawa wedang jahe. Dia taruh jari di depan bibir, terus pergi.” Aku menunduk. “Aku bilang ada kucing. Ke kamu. Itu bukan bohong, ada kucing beneran. Tapi aku tahu itu juga bukan jujur. Itu rahasia Eve. Aku nggak tahu cara ceritanya tanpa ngambil hak dia.”
Felicia diam lama.
Lalu dia tertawa. Pendek. Basah. Tidak percaya.
“Kita berempat,” katanya. “Empat orang. Semuanya tahu. Semuanya diam. Semuanya mikir lagi ngelindungin yang lain.” Dia menutup wajah dengan tangan. “Ya Tuhan. Kita bodoh banget.”
“Kita bodoh banget,” aku setuju.
Dia menurunkan tangan. Dia menatapku. Matanya merah dan basah dan sangat jernih.
“Biar aku tebus,” katanya.
Aku tidak langsung mengerti. Lagi.
“Tebus?”
“Aku nyakitin kamu. Biar aku tebus.”
Aku menatapnya. Maskara luntur. Rambut berantakan. Blazer miring. Dan sesuatu di matanya yang sudah tidak lagi takut. Sesuatu yang dia bawa turun tujuh lantai.
“Dicicil?” tanyaku. Pelan.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua.
Lalu dia meletakkan kedua tangannya di dadaku dan mendorong.
Punggungku menabrak rak server di belakangku. Lampu-lampu hijau dan biru berkedip di dekat telingaku. Dengung server bergetar di tulang punggungku.
“Lunas,” katanya. “Sekarang.”
Dia menciumku.
Ciuman ini tidak seperti ruang server yang pertama, yang pelan dan ragu-ragu. Tidak seperti pantry, atau mobil, atau lift lima lantai. Ciuman ini seperti tiga hari tangga darurat yang kosong. Seperti dua puluh tujuh gelas kosong di laci. Seperti seseorang yang berlari tujuh lantai tanpa menghitung.
Tanganku naik ke rambutnya yang berantakan. Tangannya mencengkeram kerah kemejaku.
Lalu tangannya turun. Ke kancing teratas kemejaku. Dia membukanya. Lalu kancing kedua.
Dia mundur sejengkal, menatapku dengan napas tidak teratur, lalu menunduk dan menempelkan bibirnya ke tulang selangkaku. Di tempat kemeja itu terbuka. Pelan. Hangat. Seperti seseorang yang meninggalkan tanda tangan di dokumen paling penting dalam hidupnya.
“Jangan ditolak,” bisiknya di kulitku.
Seluruh tubuhku kehilangan arah.
Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya, dan menciumnya lagi, lebih dalam, lebih lama, dengan semua yang kutahan selama tiga hari dan dua bulan dan empat tahun. Lampu-lampu server berkedip ratusan kali. Rak di belakangku bergetar. Aku tidak peduli.
Lalu aku berhenti.
Aku yang berhenti. Aku menempelkan dahiku di dahinya. Napas kami bertabrakan di antara wajah kami. Tanganku masih di rahangnya. Tangannya masih di kemejaku yang terbuka dua kancing.
“Fel,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar. “Kalau nggak berhenti sekarang, aku nggak bisa berhenti.”
Dia diam. Napasnya bergetar.
Lalu dia tertawa kecil. Di dahiku.
“Ini ruang server,” katanya. “Ada buku tamu.”
“Ada auditor eksternal.”
“Mereka baca buku tamunya tiap tahun.”
“Kolom keperluannya mau diisi apa?”
Dia mundur, menatapku, dan tersenyum. Senyum yang bukan promo. Senyum yang bisa diklaim berkali-kali.
“Pelunasan utang,” katanya.
Lalu dia mengancingkan kemejaku kembali, dua kancing, dengan jari yang sedikit gemetar dan sangat teliti. Lalu dia merapikan kerahnya. Lalu dia menepuk dadaku sekali, dengan dua jari, seperti di rapat lantai sebelas di depan Pak Wirya.
“Biar nggak ada yang salah lihat,” katanya.
“Udah nggak ada yang perlu salah lihat,” kataku.
Dia menatapku. Lama. Lalu dia mengangguk, pelan, seperti orang yang menandatangani sesuatu.
Pukul satu lewat dua puluh, aku naik ke rooftop dengan nampan tiga minuman.
Aku sendiri. Bukan Dodi. Dodi berjalan di belakangku dengan wajah orang yang mengawal tahanan politik yang baru dibebaskan.
Rooftop penuh lagi. Mungkin lebih penuh dari hari Senin. Kabar bahwa Eve dan Sheilla membawa papan gabus besar bertuliskan BUKTI ke lantai sembilan sudah menyebar ke seluruh gedung dalam waktu kurang dari satu jam. Grup-grup bayangan berdengung. Orang-orang naik ke rooftop bukan untuk makan. Mereka naik untuk menonton.
Meja pojok. Di dekat dinding foto.
Tiga kursi. Tiga orang.
Eve di tengah. Sheilla di sebelahnya. Felicia di ujung kiri, seperti biasa. Rambutnya sudah diikat lagi, maskaranya sudah dibersihkan, blazernya sudah rapi. Tapi di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat di depan umum.
Aku berjalan ke meja itu. Aku meletakkan tiga gelas. Teh melati di depan Eve. Caramel macchiato di depan Sheilla. Cokelat panas, gula setengah, di depan Felicia.
Aku mengangguk.
Felicia menatapku. Satu detik. Dua detik.
Tiga detik.
Empat.
Dia tidak berpaling. Pasal 2 dilanggar di depan seratus orang.
Lalu Eve berdiri.
Eve Maharani berdiri dari kursinya di meja pojok rooftop, di depan dinding foto empat tahun, dan seluruh rooftop menjadi sunyi.
Dia tidak berteriak. Eve tidak pernah berteriak. Dia hanya berdiri dengan punggung tegak dan dagu terangkat dan rambut cokelat madu yang jatuh di bahu, dan semua orang berhenti mengunyah.
“Saya mau ngomong satu kali,” katanya. Suaranya tenang dan jelas. Suara yang dia pakai untuk presentasi Hoshino. “Dan saya harap setelah ini, nggak ada yang perlu ngomong lagi.”
Dia menatap ke sekeliling. Ke meja tengah, tempat orang yang hari Senin bertanya takut ketahuan lagi, ya? sekarang menunduk ke piringnya.
“Tiga minggu lalu,” kata Eve, “saya ngajak Mas Andro makan malam. Berdua. Saya yang ngajak. Bukan dia.”
Bisikan kecil di beberapa meja.
“Di makan malam itu, dia jujur ke saya. Dia bilang dia udah lama suka sama orang lain. Dia nggak bilang siapa. Dia cuma bilang orangnya belum siap. Dia nolak saya dengan jujur, di depan muka saya, dan dia mau bayarin makanannya, tapi saya yang maksa bayar.” Eve tersenyum sedikit. “Itu penolakan paling sopan yang pernah saya terima. Dan saya udah ditolak banyak, meskipun kalian nggak percaya.”
Seseorang tertawa pelan. Tawa yang hangat.
“Jadi saya mau bilang ini sekali,” lanjut Eve. Senyumnya hilang. Suaranya mengeras. “Nggak ada yang dikhianati. Nggak ada yang nikung. Nggak ada yang perlu dikasihani. Terutama saya. Saya nggak sakit hati. Saya baik-baik aja. Dan kalau ada yang masih mau kasihan sama saya, tolong kasihannya dipakai buat hal lain. Buat kucing GA. Dia baru punya anak tiga.”
Lebih banyak tawa sekarang.
“Yang salah di sini cuma satu,” kata Eve. “Orang yang foto orang lain diam-diam, di tempat gelap, terus nyebarinnya tanpa izin. Itu yang salah. Bukan siapa yang ada di fotonya.”
Dia duduk kembali.
Seluruh rooftop sunyi.
Lalu Sheilla berdiri.
“DAN SATU LAGI!” Sheilla tidak memakai pengeras suara, tapi dia tidak membutuhkannya. “Aku mau bilang aku tahu siapa yang…”
Dia berhenti.
Karena aku menatapnya. Dari samping meja, dengan nampan kosong di tangan. Aku menggeleng. Sangat sedikit. Hampir tidak terlihat.
Sheilla menatapku. Mulutnya masih terbuka. Matanya bergerak ke meja di ujung lain rooftop. Ke seorang perempuan berambut pendek sebatas rahang, kemeja putih, sepatu kets putih, yang duduk sendirian dengan piring yang tidak disentuh dan wajah yang sangat pucat.
Kirana.
Dia tidak menatap siapa pun. Dia menatap meja. Tangannya di pangkuan, memegang ponsel dengan sangat erat.
Sheilla menatap Kirana. Lalu menatapku lagi.
Aku menggeleng sekali lagi. Jangan.
Aku melihat pergulatan di wajah Sheilla. Sheilla yang tidak bisa diam lebih dari lima detik. Sheilla yang bikin papan bukti tiga malam. Sheilla yang marah, sangat marah, dengan semua alasan yang benar untuk marah.
Lalu Sheilla menutup mulutnya. Dia menarik napas panjang. Dan ketika dia membukanya lagi, yang keluar bukan nama.
“…aku mau bilang aku tahu siapa yang paling cantik di sini,” katanya. “Aku. Makasih. Udah. Lanjut makan.”
Dia duduk.
Seluruh rooftop meledak tertawa. Tawa yang lepas, yang lega, yang memecahkan sesuatu yang sudah tiga hari menekan seluruh gedung. Pak Udin, yang entah kapan naik dua belas lantai lagi, bertepuk tangan dari dekat tangga. Mbak Tari menangis lagi, tapi kali ini sambil tertawa.
Dan Felicia, di ujung meja, menatapku dengan wajah yang tidak bisa disembunyikan sama sekali.
Bangga. Lagi. Sangat.
Pukul tiga sore, Kirana datang ke ruang IT.
Dia tidak membawa kue sus. Dia tidak membawa dashboard. Dia berdiri di pintu dengan mata merah dan tangan yang memegang tali tas dengan sangat erat.
Dodi berdiri dari kursinya, lalu, setelah melihat wajahku, duduk lagi dan memakai headset yang tidak tersambung ke apa pun.
“Mas Andro,” kata Kirana. “Bu Lestari panggil saya tadi. Sama Kepala HR.”
Aku menunggu.
“Mereka tunjukin laporan Mas.” Suaranya bergetar. “Mereka bilang Mas yang nulis. Dan mereka bilang Mas yang minta supaya ini ditangani tertutup. Supaya nama saya nggak disebar.”
“Itu prosedurnya.”
“Itu bukan prosedurnya.” Dia menatapku. “Bu Lestari bilang prosedurnya cuma minta nama. Rekomendasi yang di bawah itu tambahan dari Mas.”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa?” tanyanya. Air mata jatuh di pipinya. “Saya foto Mas. Saya sebar. Saya bikin Mbak Felicia dihina di depan semua orang. Saya bikin Mbak Eve dikasihani. Saya…” Dia berhenti, menelan. “Saya iri, Mas. Saya cemburu. Mas nolak saya dan saya kesel dan saya mikir kalau semua orang tahu, mungkin… mungkin kalian putus. Itu bodoh. Itu jahat. Saya tahu itu jahat.”
“Iya,” kataku. “Itu salah.”
Dia menunduk.
“Tapi kalau aku sebar namamu di grup,” lanjutku, “aku ngelakuin hal yang sama. Cuma dengan cara yang lebih rapi. Dan nggak ada yang jadi lebih baik.”
Kirana menatapku dengan mata basah.
“Minta maaf ke Felicia,” kataku. “Bukan ke aku. Ke dia. Langsung. Kalau dia mau dengar.”
Dia mengangguk pelan. Lalu dia membungkuk sedikit, seperti orang Jepang, kebiasaan yang mungkin dia dapat dari Melbourne atau dari tempat lain, lalu pergi.
Dodi melepas headset-nya yang tidak tersambung ke apa pun.
“Bang,” katanya pelan. “Abang barusan maafin orang yang foto Abang?”
“Aku nggak maafin. Itu bukan hakku. Itu hak Felicia.”
“Terus tadi itu apa?”
Aku memikirkannya.
“Tadi itu,” kataku, “aku nggak mau jadi orang yang sama kayak dia.”
Dodi menatapku lama. Lalu dia mengambil ponselnya, membuka catatan, dan mengetik sesuatu.
“Kamu ngetik apa?”
Dia membalik layarnya.
PROJECT UJUNG FOTO. Fase terakhir. Status: tinggal satu langkah. Target: HUT Navara. 9 hari lagi. Catatan: Bang Andro keren banget hari ini, tapi jangan bilang ke dia, nanti besar kepala.
“Kamu nunjukin ke aku,” kataku.
“Iya, Bang,” kata Dodi. “Saya lupa itu catatan rahasia.”
- 1 Tiga Goddess dan Satu Bayangan
- 2 Empat Tahun di Ujung Foto
- 3 Tiga Gelas Kopi
- 4 Empat Puluh Menit
- 5 Suara Imut dan Jembatan
- 6 Jalur Tangga Darurat
- 7 Klasemen Tebak-Tebakan
- 8 Lift Lantai Tujuh
- 9 Yang Dia Ingat
- 10 Lembur di Lantai Sembilan
- 11 Minggu Milik Sheilla
- 12 Klien yang Terlalu Ramah
- 13 Kenapa Bukan Eve?
- 14 Makan Malam yang Salah Alamat
- 15 Cemburu Tanpa Nama
- 16 Blackout
- 17 Tiket Pukul Dua Pagi
- 18 Jawaban di Tangga Darurat
- 19 Aturan Main
- 20 Ruang Server Lantai Dua
- 21 Nyaris
- 22 Kencan yang Diatur Orang Lain
- 23 Cara Membujuk Laki-Laki Cemburu
- 24 Sheilla Kena Tipu
- 25 Eve yang Diam
- 26 Outing ke Lembang
- 27 Rival dari Lantai Sebelas
- 28 Wawancara Eve
- 29 Ulang Tahun yang Tidak Lupa
- 30 Foto yang Bocor
- 31 “Kami Nggak Ada Apa-Apa”
- 32 Yang Tidak Dia Pilih
- 33 Papan Bukti Sheilla
- 34 Tiga Goddess Turun Gunung reading
- 35 Dua Ujung Foto
- 36 Foto di Tengah
- 37 Epilog: Tangga Darurat Timur