← Sst, Jangan Bilang Mereka

Chapter Twenty

Ruang Server Lantai Dua

POV: Andro

Ruang server Tower Navara tidak dirancang untuk hal-hal romantis.

Ruangannya empat kali enam meter. Lantainya ditinggikan tiga puluh senti dengan panel-panel logam yang bisa diangkat, supaya kabel bisa lewat di bawahnya. Ada tujuh rak server setinggi dua meter yang berjajar seperti lemari buku di perpustakaan yang aneh, penuh lampu kecil berwarna hijau dan biru yang berkedip tanpa henti. Suhunya delapan belas derajat, selalu, karena server tidak suka panas. Bunyinya dengung rendah yang konstan, seperti ratusan lebah yang sedang berpikir.

Di dekat pintu ada meja kerja kecil dari besi, satu kursi beroda, dan buku tamu bersampul biru yang harus diisi setiap orang yang masuk. Aturan audit. Aku yang membuatnya.

Tidak ada jendela. Tidak ada CCTV di dalam, karena kamera ada di luar pintu, menghadap ke koridor. Hanya ada aku, tujuh rak server, dan suara lebah yang berpikir.

Dan, pukul lima lewat sembilan, ketukan pelan di pintu.


Aku membukanya dari dalam.

Felicia berdiri di koridor. Dia masih memakai blazer abu-abu dari presentasi tadi, rambutnya masih terikat rendah, tas kerjanya di bahu. Wajahnya tenang, datar, seperti orang yang datang untuk mengurus tiket helpdesk.

Tapi ujung telinganya merah.

“Aku nggak punya akses,” katanya. “Kartuku cuma bisa buka sampai lantai sembilan.”

“Aku tahu. Aku yang atur aksesnya.”

“Jadi kamu harus buka dari dalam setiap kali.”

“Iya.”

“Itu tidak efisien.”

“Iya.”

Dia menatapku. Aku menatapnya. Di koridor, lampu otomatis mulai meredup karena tidak ada gerakan.

“Masuk,” kataku.

Dia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang berat, kunci magnetik terkunci otomatis. Dengung server langsung memenuhi telinga.

Felicia berhenti dua langkah dari pintu. Dia menatap ke sekeliling. Rak-rak tinggi. Lampu-lampu berkedip. Kabel-kabel biru dan kuning yang dirapikan dengan pengikat plastik.

“Ini dingin,” katanya.

“Delapan belas derajat.”

“Kamu kerja di sini setiap hari?”

“Kadang. Kalau ada yang rusak. Atau kalau aku butuh tempat sepi buat mikir.”

Dia berjalan pelan di antara dua rak. Dia mengulurkan tangan dan hampir menyentuh salah satu lampu hijau yang berkedip, lalu menarik tangannya kembali, seolah lampu itu panas.

“Kenapa lampunya kedip-kedip?”

“Itu tanda dia lagi kerja. Setiap kedip itu data yang lewat.”

“Jadi kalau lampunya berhenti kedip?”

“Berarti dia mati. Atau lagi istirahat.”

Felicia menatap rak-rak itu lama. Lalu dia berkata, pelan, hampir pada dirinya sendiri: “Kayak jantung.”

Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Empat tahun aku keluar masuk ruangan ini, dan aku tidak pernah memikirkan bahwa ruangan ini penuh jantung kecil yang berdetak dalam warna hijau dan biru.

“Iya,” kataku. “Kayak jantung.”


Lalu dia berbalik, dan berjalan ke meja kerja kecil di dekat pintu, dan duduk di atasnya.

Bukan di kursi. Di atas meja. Kakinya menjuntai di tepi, sepatu hak rendahnya hampir menyentuh kursi beroda. Dia meletakkan tas kerjanya di sebelahnya dan menatapku dari ketinggian yang kini sedikit lebih rendah dari mataku.

“Buku tamunya,” katanya, menunjuk sampul biru di sebelahnya. “Aku harus isi?”

“Aturan audit.”

“Kamu yang bikin aturannya.”

“Iya.”

Dia membuka buku tamu itu. Dia mengambil pulpen yang terikat tali di sampulnya. Dia menulis dengan tulisan tangan yang rapi dan kecil, huruf-hurufnya tegak, tidak miring sama sekali.

Tanggal: Kamis. Jam masuk: 17.09. Nama: Felicia H. Divisi: Legal. Keperluan:

Dia berhenti di kolom keperluan. Pulpennya menggantung di atas kertas.

“Keperluannya apa?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

“Kamu yang tahu.”

Dia menatap kolom kosong itu. Lalu dia menulis dua kata, dan menutup buku itu sebelum aku sempat membacanya.

“Buku ini diaudit tiap tahun,” kataku. “Sama auditor eksternal.”

“Bagus.” Dia meletakkan pulpen. “Aku suka dokumentasi.”

Lalu dia menatapku. Dan tatapan itu bukan tatapan kamu bodoh, atau aku sedang membaca, atau aku tidak mengerti kamu dan itu menggangguku. Tatapan itu baru. Aku belum pernah melihatnya dalam empat tahun.

Aku hanya bisa menamainya satu cara. Tatapan orang yang sudah selesai membaca, dan sekarang memutuskan untuk menulis.

“Andro.”

“Hm?”

“Sini.”

Aku maju satu langkah.

“Lagi.”

Satu langkah lagi. Sekarang aku berdiri tepat di depan meja, dan lututnya hampir menyentuh pahaku.

Dia mengulurkan tangan dan mengambil ujung dasiku.

Dasi biru tua dengan garis tipis. Dasi yang kupasang terburu-buru di toilet pukul satu siang dan masih miring sampai sekarang. Dia memegangnya di antara dua jari, menatapnya sebentar, seperti membaca label di belakang baju.

“Ini miring dari tadi siang,” katanya.

“Aku tahu.”

“Semua orang lihat. Tanaka-san juga.”

“Tanaka-san lebih fokus ke pulpenku.”

Sudut bibirnya bergerak. Lalu dia menarik dasi itu.

Pelan. Tidak kencang. Tapi cukup untuk membuatku condong ke depan, sampai tanganku harus bertumpu di tepi meja, di kedua sisinya, supaya aku tidak jatuh. Sampai jarak antara wajah kami tinggal sejengkal. Sampai aku bisa melihat bulu matanya satu per satu, dan bayangan lampu server hijau dan biru yang berkedip di dalam pupilnya.

Dia tidak melepaskan dasiku. Dengan tangan yang lain, dia menyentuh bingkai kacamataku.

“Boleh?” tanyanya.

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangguk.

Dia melepas kacamataku. Pelan-pelan, dengan dua jari, seperti melepas segel dari amplop penting. Dia melipatnya dan meletakkannya di atas buku tamu bersampul biru. Dunia di sekitarku menjadi sedikit kabur. Rak-rak server berubah menjadi bentuk-bentuk gelap dengan titik-titik cahaya yang berpendar. Tapi wajahnya, sedekat ini, tetap jelas.

“Server kamu,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam dengung, “tahan lima menit tanpa diawasi?”

Aku menelan ludah.

“Servernya tahan,” kataku. “Aku yang nggak.”


Dia yang menciumku.

Aku ingin itu dicatat, kalau ada yang bertanya. Bukan aku. Empat tahun aku berdiri di ujung foto. Sebulan aku naik turun tangga darurat. Dan pada akhirnya, dia yang menutup jarak terakhir. Dia yang menarik dasiku satu senti lagi. Dia yang memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.

Dia yang menempelkan bibirnya ke bibirku.

Pelan. Hampir ragu-ragu. Seperti orang yang mencelupkan ujung kaki ke air kolam untuk memeriksa suhunya.

Bibirnya dingin karena ruangan delapan belas derajat. Lalu hangat.

Aku tidak bergerak selama satu detik penuh, karena otakku, yang bisa membaca ribuan baris log dalam semenit, sedang mengalami kegagalan sistem total. Semua proses berhenti. Semua lampu padam. Yang tersisa hanya satu sinyal, berulang-ulang, seperti lampu hijau di rak server.

Dia. Dia. Dia.

Lalu aku membalas.

Pelan juga. Aku melepaskan satu tangan dari tepi meja dan menyentuh sisi wajahnya, jari-jariku di rahangnya, ibu jariku di pipinya yang hangat. Aku merasakan dia menahan napas. Aku merasakan tangannya yang memegang dasiku mengencang.

Itu bukan ciuman yang panjang. Mungkin lima detik. Mungkin sepuluh. Aku berhenti menghitung.

Saat dia mundur, dia melakukannya perlahan, dan di detik terakhir, sebelum bibir kami benar-benar terpisah, dia menggigit bibir bawahku. Kecil sekali. Hampir tidak terasa. Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku kehilangan arah.

Dia menatapku dari jarak sejengkal. Pipinya merah. Napasnya tidak teratur. Tapi matanya tenang, dan sedikit puas, seperti orang yang baru saja menandatangani kontrak yang sudah lama ingin dia tanda tangani.

Lalu dia mendekat ke telingaku. Napasnya hangat di kulitku.

“Itu baru versi demo,” bisiknya.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana dengan tangan di tepi meja, tanpa kacamata, dengan dasi yang masih dia pegang, dan otak yang belum selesai melakukan restart.

Cukup lama sehingga dia tertawa. Tawa kecil, pendek, yang dia tahan dengan punggung tangan.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Sistemnya lagi booting ulang.”

“Berapa lama?”

“Nggak tahu. Belum pernah crash separah ini.”

Dia tertawa lagi. Lalu dia melepaskan dasiku, akhirnya, dan merapikannya. Dia meluruskannya dengan dua tangan, menarik simpulnya ke tengah, menepuk bagian depannya sekali.

“Sekarang nggak miring,” katanya.

“Makasih.”

“Sama-sama.”

Dia mengambil kacamataku dari atas buku tamu dan memasangkannya kembali ke wajahku. Pelan, dengan dua tangan, gagangnya diselipkan di belakang telinga. Dunia kembali tajam. Rak-rak server. Lampu-lampu hijau. Dan Felicia, duduk di atas meja besi di ruang server lantai dua, rambutnya sedikit berantakan, lipstiknya sedikit pudar, menatapku dengan senyum yang bukan promo.

Ponselnya berbunyi.

Kami berdua membeku.

Nada dering. Lagu yang aku kenal, karena seluruh lantai sembilan mengenalnya: lagu tema kartun kucing biru dari Jepang, nada dering khusus yang Sheilla pasang sendiri di ponsel Felicia tiga tahun lalu, untuk kontaknya sendiri, dan yang tidak pernah Felicia ganti karena terlalu malas mencari menu pengaturannya.

Bunyinya memantul di antara rak-rak server, ceria dan keras dan sama sekali tidak cocok dengan suasana.

Felicia mengangkat telepon itu. “Halo.”

Suara Sheilla terdengar dari speaker, cukup keras untuk kudengar dari jarak satu meter. “FEL! Kamu di mana? Aku sama Eve udah di basement, nungguin kamu! Kita mau makan bakso yang di Blok M, kan?”

Felicia menatapku. Aku menatapnya. Dia sama sekali lupa soal bakso Blok M.

“Aku masih di kantor,” katanya dengan suara sangat tenang. “Masih ada… urusan.”

“Urusan apa? Presentasinya kan udah selesai.”

“Urusan teknis.”

“Teknis apa?”

Felicia menatap buku tamu bersampul biru di sebelahnya. “Konsultasi.”

“Sama siapa?”

“Sama sistem.”

Jeda. Lalu suara Sheilla, curiga. “Fel. Kok di belakangmu bunyinya kayak lebah?”

Felicia menutup mata sebentar. “Itu AC.”

“AC lantai sembilan nggak bunyi kayak lebah.”

“Ini AC baru.”

“Oh.” Jeda lagi. “Oke. Kita tunggu sepuluh menit, ya. Kalau nggak turun, aku naik nyari kamu!”

Telepon ditutup.

Felicia turun dari meja. Dia merapikan blazernya, merapikan rambutnya, mengeluarkan lipstik dari tas dan memperbaikinya dengan cepat tanpa cermin, sesuatu yang aku tidak tahu bisa dilakukan oleh manusia. Lalu dia mengambil tas kerjanya dan berjalan ke pintu.

Di depan pintu, dia berhenti. Dia menoleh.

“Kamu masih ada lipstikku,” katanya, menunjuk bibirnya sendiri.

Aku menyeka bibirku dengan punggung tangan.

“Masih.”

Aku menyeka lagi.

Dia mendesah, kembali padaku, mengeluarkan tisu dari tasnya, dan membersihkan sudut bibirku dengan satu usapan cepat. Lalu dia melipat tisu itu dan memasukkannya kembali ke tas, bukan ke tempat sampah.

“Barang bukti,” katanya.

Lalu dia membuka pintu, menoleh sekali lagi ke koridor untuk memastikan tidak ada orang, dan pergi.


Aku berdiri sendirian di ruang server selama dua menit penuh.

Lalu aku duduk di kursi beroda dan membuka buku tamu bersampul biru.

Tanggal: Kamis. Jam masuk: 17.09. Nama: Felicia H. Divisi: Legal.

Keperluan: Uji coba sistem.

Dan di kolom jam keluar, yang belum dia isi, ada sesuatu yang lain. Satu baris kecil di pinggir halaman, ditulis dengan huruf yang lebih kecil dari yang lain. Dia pasti menulisnya saat aku sedang sibuk menyeka lipstik.

Hasil: lulus.

Aku menatap tulisan itu sampai lampu-lampu server berkedip ratusan kali.

Lalu aku membuka laptop untuk mengecek log, karena itu yang selalu kulakukan kalau kepalaku penuh, dan aku mengetik password server.

Salah.

Aku mengetiknya lagi. Pelan. Huruf per huruf.

Salah.

Sistem mengunci akunku untuk lima belas menit.

Aku bersandar di kursi, menatap langit-langit ruang server yang penuh kabel, dan tertawa sendirian sampai perutku sakit.


Dodi kembali pukul enam kurang sepuluh. Tidak dari Bekasi. Dari minimarket di lobby, dengan kantong plastik berisi empat bungkus Indomie dan dua botol teh.

“Bang,” katanya dari pintu. “Saya nggak ke Bekasi. Bekasi jauh. Tapi saya nunggu di lobby empat puluh menit. Saya hitung.” Dia meletakkan kantong plastik di meja. “Saya juga nyuruh Mbak Sheilla nunggu di basement, waktu dia mau naik nyari Mbak Felicia. Saya bilang lift lantai dua lagi dibersihin.”

“Lift lantai dua nggak lagi dibersihin.”

“Mbak Sheilla nggak tahu itu, Bang.”

Aku menatapnya. Dodi menatapku balik. Lalu matanya turun ke wajahku, dan berhenti di sudut bibirku.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil satu tisu dari kotak di meja dan menyodorkannya padaku.

“Masih ada dikit, Bang,” katanya dengan nada sangat hormat. “Di kiri.”

Aku menyeka sudut bibir kiri.

“Kanan, maksud saya. Kanan Abang.”

Aku menyeka yang kanan.

Dodi mengangguk puas. Lalu dia mengambil satu bungkus Indomie dan menyerahkannya padaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan piala.

“Ini, Bang,” katanya. “Lunas satu. Sisa dua.”

“Kenapa sekarang?”

“Karena hari ini Abang pantas dapat Indomie.” Dia menepuk bahuku. “Saya mau masak di pantry. Abang mau rasa apa?”

“Apa aja.”

“Abang nggak pernah bilang ‘apa aja’. Abang selalu milih soto.” Dodi menyipitkan mata. “Bang. Password Abang ke-lock lagi, ya?”

“Lima belas menit.”

Dodi menggeleng pelan, penuh rasa iba, dan berjalan ke pantry sambil bergumam sesuatu tentang stadium empat dan perlunya cuti sakit.

Di ponselku, ada satu pesan.

Felicia: Baksonya enak. Sheilla nanya kenapa aku senyum terus. Aku bilang karena baksonya enak.

Felicia: 🤫

Felicia: Itu yang pertama hari ini. Sisa dua.

Aku menatap emoji itu. Lalu aku membuka papan emoji dan, dengan sengaja, mengirim satu lagi.

Andro: 🤫

Felicia: Kamu udah berani.

Andro: Server-ku masih ke-lock. Aku butuh sesuatu buat dikerjain.