Chapter Nine
Ulang Tahun Mama
POV: Nabila
Ulang tahun Mama yang kelima puluh dua dirayakan dengan cara yang selalu sama: terlalu banyak makanan, terlalu banyak saudara, dan terlalu banyak pertanyaan tentang kapan aku menikah.
Tahun ini, pertanyaannya berubah jadi: kapan aku menikah dengan cowok yang katanya jago IT itu.
Kabar soal Devan sudah menyebar ke seluruh keluarga besar dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Aku tahu siapa pelakunya. Tante Rini sudah mengganti status WhatsApp-nya tiga kali sejak makan malam minggu lalu. Status pertama: Ada yang punya calon ponakan mantu pinter banget, tapi rahasia dulu ya 🤫. Status kedua, dua jam kemudian: Oke nggak rahasia lagi. Namanya D. Ganteng. Jago bisnis. Tahu tas Tante. Status ketiga, besok paginya: foto tas kremnya dengan keterangan Cuma orang berkelas yang tahu nilai tas ini 💅.
Jadi waktu aku turun ke halaman belakang jam lima sore, di mana tenda putih sudah berdiri dan meja-meja bundar sudah dipenuhi hidangan, tiga puluh pasang mata langsung menoleh ke arahku.
Tidak, tidak ke arahku. Ke arah pintu di belakangku. Mencari seseorang.
“Mana, Bil?” Sepupuku, Tasya, langsung menyerbu. “Mana pacar kamu yang ganteng itu?”
“Belum datang.”
“Kok belum datang? Ini udah jam lima!”
“Acaranya mulai jam setengah enam, Tas.”
“Tapi kita semua udah di sini dari jam empat!” Tasya menarik lenganku. “Aku mau lihat. Aku harus lihat. Tante Rini bilang dia kayak aktor drama Korea tapi versi kacamata.”
“Tante Rini bilang gitu?”
“Tante Rini bilang ke semua orang.”
Aku memijat pelipisku. Di seberang taman, Tante Rini sedang dikerubuti empat tante lain, dan dia sedang menggerak-gerakkan tangannya dengan penuh semangat, seperti sedang menceritakan film laga.
Aku memakai dress biru muda sore ini. Aku memilihnya setelah berdiri di depan lemari selama empat puluh lima menit, mencoba enam baju, dan akhirnya menyerah pada warna yang, entah kenapa, sejak seminggu lalu terus muncul di kepalaku. Biru muda. Warna favoritku. Dan warna favorit Devan, yang ditetapkan pukul 10.47 pagi di atas tisu nomor tiga.
Itu kebetulan. Aku memang suka biru muda. Aku sudah suka biru muda sejak TK.
Waktu aku lewat di depan meja minuman, Om Hadi, adik Papa yang biasanya cuma bicara soal saham, menjatuhkan gelas plastiknya. Dua sepupu cowokku yang sedang main HP di pojok berhenti main. Pak satpam yang berjaga di pintu samping tiba-tiba menegakkan badan.
Aku sudah biasa dengan ini. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, aku tidak memperhatikan reaksi mereka. Aku sibuk melirik pintu, dan bertanya-tanya apa yang akan Devan pikirkan waktu melihatku.
Itu juga kebetulan. Aku cuma ingin memastikan sandiwaranya berjalan lancar.
Devan datang jam lima lewat dua puluh, dan halaman belakang rumah kami mengalami hal yang sama persis dengan yang dialami ruang makan minggu lalu.
Hening.
Dia memakai kemeja hijau tua yang aku belikan di Senayan, dengan lengan digulung sampai siku dan celana bahan warna krem. Kacamatanya sama. Rambutnya lebih rapi dari biasanya, disisir ke belakang tapi masih ada beberapa helai yang jatuh ke dahi. Di tangannya ada sebuah bingkisan besar yang dibungkus kertas cokelat polos dengan pita hijau.
Kemejanya pas. Tidak ada mulut ikan di kancing dadanya. Tidak ada bunyi kreeek waktu dia mengangkat tangan untuk menyalami satpam.
Tasya mencengkeram lenganku sampai kukunya meninggalkan bekas. “Bil,” bisiknya. “BIL. Tante Rini nggak bohong.”
“Lepasin tangan aku, Tas.”
“Aku nggak bisa. Tanganku nggak mau.”
Devan melihatku dari seberang taman.
Dia berhenti melangkah.
Hanya sebentar, mungkin cuma satu atau dua detik, tapi aku melihatnya. Dia berhenti, dan tangannya yang memegang bingkisan sedikit mengencang, dan matanya di balik kacamata bergerak dari wajahku ke dress biruku lalu kembali ke wajahku. Lalu dia melanjutkan langkahnya, menyalami Om Hadi dan dua tante yang menghadangnya, dan berjalan lurus ke arahku.
“Hai,” katanya waktu dia sampai.
“Hai.”
“Biru muda.”
“Kebetulan.”
“Oke.” Dia tersenyum. “Kebetulan yang bagus.”
Aku tidak menjawab. Aku berpura-pura sibuk merapikan rambut di belakang telinga kiri, lalu sadar bahwa dia tahu aku selalu menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri kalau gugup, dan langsung menurunkan tanganku.
Dia melihat semua itu. Aku tahu dia melihat semua itu. Dan sudut bibirnya naik sedikit lebih tinggi.
“Mama kamu di mana?” tanyanya.
“Di dalam. Lagi siap-siap. Mau bikin grand entrance.”
“Oke. Aku tunggu.”
Masalahnya, sebelum Mama keluar, Oma keluar duluan.
Oma adalah ibu Papa. Umurnya delapan puluh satu, tingginya tidak sampai seratus lima puluh senti, dan dia adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa membuat Papa menunduk seperti anak SD yang ketahuan bolos. Oma berjalan pakai tongkat kayu berukir yang dia pakai lebih sering untuk menunjuk orang daripada untuk menopang badan.
Tongkat itu sekarang menunjuk Devan.
“Kamu,” kata Oma.
“Selamat sore, Oma.” Devan membungkuk dan mencium tangan Oma dengan sopan. “Saya Devan.”
“Kamu yang margin-margin itu?”
Hening. Beberapa tante menahan tawa.
“Bukan, Oma,” kataku buru-buru. “Itu Gerald. Yang dijodohin. Ini Devan. Pacar aku.”
Oma menyipitkan mata ke arah Devan. Menilai. Dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas. Tongkatnya mengetuk-ngetuk rumput.
“Oh,” katanya. “Yang ini lebih tinggi.”
“Iya, Oma.”
“Yang margin itu tingginya sedang.”
“Iya, Oma.”
“Kamu kerja apa?”
“IT, Oma.”
“Apa itu IT?”
Devan berpikir sebentar. “Komputer, Oma.”
“Oh. Komputer.” Oma mengangguk-angguk. “Cucu Oma yang di Surabaya juga kerja komputer. Tapi dia pendek.” Dia menatap Devan lagi. “Kamu bisa benerin radio?”
“Radionya kenapa, Oma?”
“Suaranya kresek-kresek. Kalau Oma mau dengar wayang jam sembilan malam, suaranya hilang-hilang. Papa-nya Nabila bilang beli yang baru. Oma nggak mau. Itu radio dari almarhum Opa.”
Aku menatap Devan, siap menyelamatkannya dengan Oma, Devan kerjanya software, bukan radio. Tapi Devan sudah berjongkok di depan Oma supaya mata mereka sejajar.
“Boleh saya lihat radionya nanti, Oma? Kalau cuma kresek-kresek, biasanya antenanya yang longgar. Atau kabelnya yang udah tua. Bisa diganti tanpa ganti radionya.”
Oma menatapnya lama. Tongkatnya berhenti mengetuk.
“Nanti Oma tunjukin,” katanya akhirnya. Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh halaman: “Yang ini lebih bagus dari yang margin.”
Tasya mengeluarkan suara seperti balon yang kempes. Tante Rini bertepuk tangan kecil. Dan aku menunduk menatap rumput, menahan senyum yang tidak mau pergi.
Mama keluar jam lima empat puluh, dengan kebaya lilac dan senyum lebar, diiringi lagu Selamat Ulang Tahun yang dinyanyikan tiga puluh orang dengan nada yang tidak pernah sama. Ada kue tiga tingkat, tiup lilin, dan sesi foto yang berlangsung dua puluh menit karena Om Bram selalu berkedip di setiap foto.
Lalu sesi hadiah.
Keluarga Saheila punya tradisi: setiap tamu memberikan hadiahnya langsung ke tangan yang berulang tahun, dan yang berulang tahun membukanya di depan semua orang. Tradisi yang, menurutku, dirancang khusus untuk membuat orang stres.
Tante Rini memberi Mama syal sutra dari Paris. Om Hadi memberi voucher spa. Kenzo memberi kartu ucapan buatan sendiri dengan desain yang dibuat di komputer, dan Mama menangis sedikit. Aku memberi Mama kalung mutiara yang kupilih dengan hati-hati, dan Mama memelukku lama.
Lalu giliran Devan.
Dia maju dengan bingkisan cokelat berpita hijau itu. Semua orang memperhatikan. Tasya bahkan mengeluarkan HP untuk merekam.
“Selamat ulang tahun, Tante,” kata Devan sambil menyerahkan bingkisannya. “Semoga Tante selalu sehat dan bahagia.”
“Aduh, Nak Devan, repot-repot.” Mama menerimanya dengan kedua tangan, lalu membuka pitanya pelan-pelan.
Aku tidak tahu apa isinya. Devan tidak pernah memberitahuku. Aku pikir dia akan memberi bunga, atau kue, atau sesuatu yang aman.
Tapi yang keluar dari kertas cokelat itu adalah sebuah buku.
Buku bersampul kain berwarna hijau tua, dengan tulisan emas di sampulnya. Mama membacanya, dan tangannya berhenti.
Dapur Bu Ratmi: Kumpulan Resep 1984–1996.
Aku berhenti bernapas.
Bu Ratmi adalah almarhumah nenekku. Ibu Mama. Beliau meninggal waktu aku masih SD, dan aku hampir tidak ingat wajahnya. Tapi aku ingat cerita Mama: bahwa Nenek pernah menulis kolom resep di sebuah majalah wanita selama dua belas tahun, dan bahwa semua catatan resep tulisan tangan Nenek hilang waktu rumah lama mereka kebanjiran tahun 2007. Mama sering bilang itu satu-satunya hal yang paling dia sesali. Bahwa dia tidak bisa lagi memasak makanan ibunya persis seperti ibunya dulu memasaknya.
Aku pernah menceritakan itu pada Devan. Selasa lalu, di telepon, waktu dia bertanya apa yang paling disukai Mama. Aku cuma menyebutnya sambil lalu. Satu kalimat, di tengah cerita soal Mama yang suka memasak.
Mama membuka buku itu. Halaman pertama adalah fotokopi kolom majalah yang sudah menguning, dengan foto kecil seorang perempuan berkebaya yang tersenyum di atas judul Dapur Bu Ratmi. Halaman kedua, resep. Halaman ketiga, resep. Semua kolom, dari tahun 1984 sampai 1996, dijilid rapi dengan daftar isi yang diketik ulang.
“Ini...” Suara Mama bergetar. “Ini dari mana?”
“Arsip majalahnya ada di Perpustakaan Nasional, Tante,” kata Devan pelan. “Tapi nggak lengkap. Beberapa edisi hilang. Saya cari sisanya dari kolektor majalah bekas di Kwitang. Ada empat edisi yang masih belum ketemu. Maaf, Tante. Nanti saya cari lagi.”
Mama menatapnya.
Lalu menatap buku itu lagi. Membalik halaman, dan jarinya berhenti di satu resep: Rendang Padang ala Bu Ratmi.
Dan Mama menangis.
Bukan menangis sedih. Menangis yang lain. Menangis sambil tertawa, sambil memeluk buku itu di dada, sambil berkata Ya Allah, ini tulisan Ibu, ini gaya bahasa Ibu, Ibu selalu nulis “secukupnya saja, jangan pelit”, dan seluruh halaman belakang yang tadi ramai tiba-tiba jadi sunyi karena semua orang ikut terharu.
Tante Rini menangis. Om Bram membersihkan kacamatanya yang tiba-tiba berembun. Oma mengetuk-ngetuk tongkatnya ke rumput dan berkata bagus, bagus berulang-ulang. Bahkan Papa, yang berdiri di belakang Mama, memalingkan wajah ke arah pohon mangga selama beberapa detik.
Dan aku berdiri di situ dengan dress biru muda, menatap Devan, dan merasakan sesuatu di dadaku runtuh pelan-pelan.
Aku cuma menyebutnya sambil lalu. Satu kalimat. Di telepon. Di antara cerita-cerita lain yang tidak penting.
Dan dia mendengarnya. Dia mengingatnya. Dia pergi ke Perpustakaan Nasional dan ke Kwitang, mencari majalah-majalah tua yang bahkan Mama sendiri tidak tahu masih ada, dalam waktu kurang dari seminggu.
Untuk ibu dari perempuan yang cuma dia kenal sebagai pacar bohongan.
Mama memeluk Devan, lebih lama dari pelukan malam itu. Devan membalas pelukannya dengan canggung, dengan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Di atas bahu Mama, matanya bertemu mataku.
Aku tidak tahu wajahku sedang seperti apa. Tapi Devan cepat-cepat mengalihkan pandangan, seperti orang yang baru melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Setengah jam kemudian, Sasa menemukanku di dekat meja es buah.
Dia diundang Mama, seperti setiap tahun. Dia sudah menyaksikan semuanya. Dan dia sekarang berdiri di sebelahku, mengambil semangkuk es buah, dan berkata dengan nada paling datar yang pernah kudengar:
“Satu malam aja, katanya.”
Aku menoleh padanya. “Sa.”
“Aku cuma ngutip kamu.”
“Jangan ngutip aku.”
“Satu malam aja. Terus minggu depannya dia bawa buku resep nenek kamu dari Perpustakaan Nasional, bikin Mama kamu nangis, bikin Oma kamu bilang dia lebih bagus dari Gerald, dan sekarang lagi di dalam benerin radio almarhum Opa kamu.” Sasa menyendok es buahnya. “Satu malam aja, katanya.”
“Dia lagi benerin radio?”
“Barusan Oma narik dia ke kamarnya. Pakai tongkat. Kayak narik kambing.”
Aku berbalik dan menatap ke arah rumah. Lewat jendela kamar Oma di lantai satu, aku bisa melihat Devan duduk di lantai dengan kaki bersila, memegang radio tua berwarna cokelat, dengan Oma duduk di kursi goyang di depannya dan mengawasi dengan tongkat di pangkuan.
Aku tidak tahu kenapa, tapi pemandangan itu membuat mataku panas.
“Bil,” kata Sasa, pelan sekarang. Nada bercandanya hilang.
“Hm.”
“Kamu inget pasal empat?”
Aku menoleh. “Kok kamu tahu pasal empat?”
“Kamu cerita semalam di telepon. Tiga kali. Kamu bilang dilarang baper tiga kali dalam satu telepon.” Dia menatapku dengan mata yang sangat tahu. “Orang yang nggak baper nggak perlu ngomongin baper tiga kali, Bil.”
Aku tidak menjawab.
Sasa menepuk bahuku pelan, lalu pergi membawa es buahnya, meninggalkanku sendirian di dekat meja.
Aku menemukan Devan di taman belakang, dekat pohon mangga, jam tujuh malam, waktu sebagian besar tamu sudah pindah ke dalam rumah untuk karaoke.
Dia berdiri sendirian di bawah lampu gantung yang dipasang di dahan pohon, menatap kolam ikan dengan tangan di saku. Dari dalam rumah, aku bisa mendengar suara Om Bram menyanyikan lagu Broery Marantika dengan nada yang sangat meleset.
“Radionya bisa?” tanyaku.
Dia menoleh. “Antenanya longgar. Kabelnya juga udah getas. Aku ganti kabelnya pakai kabel charger bekas yang dikasih Kenzo.” Dia tersenyum. “Oma dengerin wayang sekarang. Di kamarnya. Keras banget.”
“Kamu nggak bilang soal buku itu.”
“Kalau aku bilang, nanti kamu larang.”
“Kenapa aku larang?”
“Karena kamu bakal bilang itu terlalu banyak buat pacar bohongan.”
Aku diam. Karena dia benar. Itu terlalu banyak. Itu jauh terlalu banyak. Pacar bohongan cukup membawa bunga, atau kue, atau sesuatu yang aman.
“Kenapa?” tanyaku akhirnya. “Kenapa kamu lakuin itu?”
Devan menatap kolam ikan lagi. Ikan-ikan koi berenang di bawah cahaya lampu, oranye dan putih, tidak peduli pada apa pun.
“Waktu kamu cerita di telepon,” katanya pelan, “suara kamu berubah. Kamu cerita soal Mama kamu dengan suara biasa, terus waktu sampai ke bagian nenek kamu, suaranya jadi pelan. Kayak itu juga penting buat kamu, bukan cuma buat Mama kamu.”
Aku menelan ludah.
“Jadi aku cari,” lanjutnya. “Itu aja.”
Itu aja.
Dia bilang itu aja seolah pergi ke Perpustakaan Nasional dan Kwitang untuk mencari majalah tahun delapan puluhan adalah hal yang biasa dilakukan orang. Seolah mendengarkan perubahan suara seseorang di telepon adalah hal yang wajar.
Aku menatapnya. Dia menatap kolam.
Lalu dia menoleh, dan menatapku. Dari atas ke bawah, lalu kembali ke wajahku. Pelan. Seperti orang yang sedang mengingat sesuatu supaya tidak lupa.
“Kamu cantik,” katanya.
Jantungku melompat. Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Tante Rini. Tidak ada Mama. Tidak ada Kenzo dengan catatan buktinya. Cuma kami berdua, lampu gantung, pohon mangga, dan suara Om Bram yang menyanyikan lagu cinta dengan nada yang salah.
“Nggak ada yang nonton, Dev,” kataku pelan.
Dia tidak mengalihkan pandangannya.
“Aku tahu,” katanya.
Dan waktu itu, di bawah pohon mangga di halaman belakang rumahku, dengan dress biru muda dan jantung yang berlari terlalu cepat, aku akhirnya mengerti apa yang Sasa maksud.
Orang yang tidak baper tidak perlu menyebut pasal empat tiga kali dalam satu telepon.
Dan aku sudah menyebutnya empat kali hari ini. Di dalam kepala. Setiap kali Devan tersenyum.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama reading
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi