Chapter Thirteen
Keluarga Saheila (+Devan)
POV: Nabila
Nama grup WhatsApp keluarga kami diganti hari Senin, jam enam pagi, tanpa pemberitahuan.
Aku bangun, meraih HP di meja samping tempat tidur, dan melihat notifikasi: Tante Rini mengubah nama grup menjadi “Keluarga Saheila (+Devan) 💙“.
Aku langsung duduk.
Di bawahnya ada rentetan balasan yang masuk selama aku tidur.
Mama: Setuju!!! ❤️❤️❤️
Oma (lewat HP Bi Inah, karena Oma tidak punya HP sendiri): Oma setuju. Radio Oma bagus sekarang. — Bi Inah
Om Hadi: 👍
Kenzo: Wkwkwk
Om Bram: Kenapa harus pakai hati biru?
Tante Rini: Karena itu warna favorit mereka, Mas. Nabila pakai baju biru muda terus sekarang. Masa Mas nggak lihat.
Om Bram: Saya lihatnya bola golf.
Aku mengetik dengan jempol yang gemetar karena marah, atau karena malu, atau keduanya.
Aku: Tante, kenapa namanya diganti???
Tante Rini: Biar Devan merasa diterima, sayang 🥰
Aku: Dia udah diterima! Nggak usah ditulis di nama grup!
Tante Rini: Kalau gitu kita voting. Yang setuju nama grup tetap, kasih hati biru.
Dalam lima menit, ada tujuh hati biru. Mama, Tante Rini, Om Hadi, Kenzo, Bi Inah atas nama Oma, Om Bram dengan catatan saya kasih biar cepat selesai, dan satu lagi dari nomor yang tidak kukenal, yang ternyata adalah Tasya, yang ternyata juga ada di grup ini sejak dua tahun lalu tapi tidak pernah bicara.
Aku satu-satunya yang tidak memberi hati biru.
Papa tidak ikut voting. Papa tidak pernah ikut apa-apa di grup. Papa cuma membaca.
Dan Devan, yang namanya sekarang tertulis di judul grup keluargaku dengan hati biru, tidak mengatakan apa-apa sama sekali.
Aku mengirim pesan pribadi padanya: Kamu lihat grup?
Dua menit kemudian: Lihat.
Kamu nggak protes?
Aku tamu. Tamu nggak protes nama rumah.
Kamu bukan tamu, kamu pacar bohongan.
Pacar bohongan juga tamu. Tamu yang lebih lama.
Aku melempar HP ke kasur dan menutup wajah dengan bantal.
Masalahnya, nama grup itu baru permulaan.
Hari Selasa, Mama mengirim foto ke grup. Foto aku, diambil diam-diam hari Minggu lalu waktu aku tertidur di sofa ruang keluarga dengan mulut sedikit terbuka dan rambut berantakan. Keterangannya: Anak Mama kalau tidur lucu kayak bayi 😍.
Aku belum sempat protes. Aku sedang di kantor, sedang rapat, dan HP-ku ada di dalam tas. Waktu aku akhirnya membukanya satu jam kemudian, grup itu sudah punya empat puluh tiga pesan baru.
Aku menggulir ke atas dengan jantung berdebar.
Tante Rini: Ya ampun gemesss
Tasya: HAHAHA mulutnya kebuka
Kenzo: Aku yang ngasih tahu Mama posisi Kakak waktu tidur. Sama-sama.
Mama: Nak Devan, lihat nih pacarmu 😂
Lalu, di bawahnya, satu pesan dari Devan. Pesan pertamanya di grup ini sejak dia ditambahkan.
Devan: Tante, boleh saya simpan fotonya? Buat wallpaper. Buat hidup.
Aku berhenti bernapas di tengah lorong kantor.
Di bawah pesan Devan, grup itu meledak.
Tante Rini: AAAAAAAAA 😭😭😭😭
Mama: Boleh Nak, boleh banget!!! Mama kirim yang resolusi tinggi!!! ❤️❤️❤️
Tasya: GUE MELELEH
Kenzo: 🤢
Om Bram: [stiker kakek-kakek muntah]
Om Bram: Saya keluar dulu. Nggak kuat.
Om Bram keluar dari grup.
Tante Rini: Mas!!!
Tante Rini menambahkan Om Bram.
Om Bram: Saya dipaksa masuk lagi.
Tante Rini: Nggak boleh keluar kalau Devan lagi romantis. Itu nggak sopan.
Om Bram: Justru saya keluar karena sopan. Nggak mau ganggu.
Aku berdiri di tengah lorong kantor, membaca semua itu, dan tidak bisa berhenti tersenyum sampai seorang staf keuangan lewat dan menatapku dengan bingung.
Lalu aku membuka pesan pribadi.
Buat hidup??? Kamu gila???
Balasannya datang cepat, seperti dia sudah menunggu.
Pasal sepuluh. Grup keluarga termasuk di depan keluarga.
Kamu nggak perlu segitunya!
Tante Rini kasih emoji nangis tiga belas kali. Itu efektif.
Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi. Lalu akhirnya mengirim:
Kamu beneran pasang jadi wallpaper?
Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Kamu mau aku jawab jujur atau jawab pasal sepuluh?
Aku menatap pertanyaan itu lama. Jariku melayang di atas keyboard.
Aku tidak menjawab. Aku memasukkan HP ke saku blazer, kembali ke ruang rapat, dan sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibahas selama empat puluh menit berikutnya.
Hari Rabu, sesuatu yang lain terjadi di grup, dan kali ini tidak lucu.
Jam tiga sore, Tante Rini mengirim pesan:
Tante Rini: Eh, ada yang tahu nggak ini beneran? Tante dapat pesan dari bank, katanya Tante menang hadiah undian nasabah setia, dapat mobil! Disuruh klik link terus isi data. Tante udah isi sebagian. Terus mereka minta kode yang masuk ke SMS. Ini aman kan?
Lalu dia mengirim tangkapan layar. Pesan dengan logo bank yang sedikit buram, huruf-huruf yang agak miring, dan tautan yang panjang dengan nama domain aneh.
Aku sedang di meja kerja. Aku membaca pesan itu dan perutku langsung dingin. Aku bukan orang IT, tapi aku pernah membaca berita soal ini. Ribuan orang kehilangan tabungan mereka dengan cara persis seperti ini.
Aku mulai mengetik Tante jangan, tapi sebelum aku selesai, sebuah pesan sudah masuk.
Devan: Tante, jangan kasih kodenya. Saya telepon sekarang.
Tiga detik kemudian, di grup:
Tante Rini: Devan nelepon Tante.
Lalu grup itu sunyi.
Aku menatap layar, menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Mama mengirim Ada apa???. Om Hadi mengirim ?. Kenzo mengirim Kayaknya phishing deh. Tidak ada yang menjawab.
Sepuluh menit kemudian, Tante Rini muncul lagi.
Tante Rini: Aman. Kata Devan itu penipuan. Tante hampir kasih kode SMS-nya. Devan suruh Tante ganti PIN, ganti password aplikasi bank, keluar dari semua perangkat, terus telepon bank buat blokir sementara. Tante udah telepon. Kata banknya memang ada yang coba masuk ke akun Tante lima menit yang lalu, tapi gagal karena passwordnya udah Tante ganti.
Tante Rini: Tabungan Tante aman.
Tante Rini: Semuanya.
Tante Rini: Devan, Tante nggak tahu harus bilang apa 😭😭😭
Grup meledak lagi, tapi kali ini bukan karena lucu. Mama mengirim doa panjang. Om Hadi mengirim Alhamdulillah. Om Bram, yang biasanya cuma membalas pakai jempol, menulis kalimat utuh: Terima kasih, Devan. Istri saya kalau kehilangan tabungan bisa ngamuk seminggu, dan saya yang kena.
Lalu Devan membalas.
Devan: Untung Tante cepat cerita di grup. Itu yang paling penting. Kalau dapat pesan kayak gitu lagi, jangan malu nanya. Siapa aja di sini boleh telepon saya, jam berapa pun.
Aku menatap pesan itu. Jam berapa pun.
Lalu aku membuka pesan pribadi.
Kamu lagi rapat nggak tadi?
Lama tidak ada balasan. Lalu:
Lagi.
Rapat penting?
Lumayan.
Kamu tinggalin rapatnya?
Tante kamu lebih penting.
Aku menaruh HP di meja dan menatap layar komputerku, di mana presentasi kampanye bulan depan terbuka dan tidak tersentuh sejak tadi. Aku mencoba fokus. Tidak bisa.
Aku mengambil HP lagi.
Makasih, ketikku. Beneran. Makasih.
Buat apa?
Buat Tante Rini.
Aku nggak ngapa-ngapain. Tante kamu yang pintar nanya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya satu orang bisa merendah sebanyak itu tanpa kehabisan tenaga.
Hari Minggu, Mama mengadakan makan malam keluarga.
Bukan acara besar. Cuma keluarga inti ditambah Tante Rini, Om Bram, dan Oma. Dan Devan, tentu saja. Mama mengundangnya lewat grup dengan pesan Nak Devan wajib datang, Tante masak rendang Bu Ratmi versi kedua, yang dibalas Devan dengan Siap, Tante. Saya bawa bawang merah sendiri biar nangisnya di rumah.
Kami duduk di ruang sidang, di meja makan sepuluh meter. Rendang versi kedua ternyata lebih enak dari yang pertama. Oma makan dua piring. Om Bram menceritakan kemenangan golfnya untuk kelima kalinya, dan kali ini dia menambahkan detail bahwa angin di hole sembilan bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan tiga knot, sesuatu yang jelas baru dia pelajari dari aplikasi Devan.
Semuanya hangat. Semuanya nyaman.
Sampai Tante Rini meletakkan sendoknya.
“Jadi,” katanya.
Semua orang di meja tahu apa artinya.
“Kalian berdua,” lanjut Tante Rini, menatap aku dan Devan bergantian dengan senyum yang terlalu manis, “kapan seriusnya?”
Aku tersedak rendang.
Devan menepuk punggungku pelan, lalu menyodorkan gelas air. Aku minum. Sampai habis. Semua orang menunggu.
“Tante,” kataku setelah bisa bernapas lagi, “kami baru...”
“Setahun,” potong Tante Rini. “Setahun itu udah cukup. Tante sama Om Bram pacaran enam bulan langsung nikah.”
“Itu karena Om takut kamu keburu diambil orang,” gumam Om Bram.
“Nah, kan! Om aja takut! Devan nggak takut Nabila diambil orang?”
Semua mata beralih ke Devan.
Aku menoleh padanya, siap memberi isyarat. Kami belum menyiapkan jawaban untuk ini. Kami sudah menyiapkan jawaban untuk tanggal jadian, makanan kesukaan, dan pekerjaan. Tapi kapan serius? Itu tidak ada di tisu mana pun.
Devan meletakkan sendoknya dengan rapi. Dia mengelap mulutnya dengan serbet. Lalu dia menatap Tante Rini dengan wajah yang tenang, serius, dan sama sekali tidak panik.
“Takut, Tante,” katanya. “Setiap hari.”
Tante Rini membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
“Nabila itu cantik,” lanjut Devan. “Semua orang lihat. Tiap kali dia masuk ruangan, orang-orang berhenti ngomong. Saya lihat itu setiap kali. Dan setiap kali saya lihat, saya takut ada orang yang lebih pantas buat dia daripada saya.” Dia berhenti sebentar. “Tapi saya nggak mau buru-buru, Tante. Bukan karena saya nggak serius. Tapi karena saya mau Nabila yang milih kapan. Bukan saya. Bukan keluarga. Dia.”
Ruang makan hening.
“Kalau Nabila siap,” kata Devan, “saya siap. Kalau Nabila belum siap, saya tunggu.”
“Berapa lama?” tanya Oma tiba-tiba, dengan suara tuanya yang tajam.
Devan menoleh ke Oma. Dia tidak berpikir lama.
“Selama dia butuh, Oma.”
Oma menatapnya dari balik kacamata tebalnya. Lama. Tongkatnya yang bersandar di kursi berhenti bergoyang.
Lalu Oma mengangguk sekali. “Bagus,” katanya. Dan dia kembali makan rendang.
Mama mengusap sudut matanya. Tante Rini menempelkan tangan ke dada dan tidak bisa bicara, hal yang sangat jarang terjadi. Om Bram berdeham dan menatap langit-langit. Kenzo, di ujung meja, berhenti mengetik di HP-nya dan menatap Devan dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Dan Papa?
Papa sedang menatapku.
Bukan menatap Devan. Menatapku. Dengan mata yang tenang dan dalam, mata yang bisa membuat direktur keuangan mengaku soal laporan palsu. Seolah Papa sedang membaca sesuatu di wajahku yang aku sendiri belum bisa baca.
Aku menunduk ke piring.
Di bawah meja, tangan Devan menemukan tanganku. Menggenggamnya. Pelan.
Aku membiarkannya. Untuk sandiwara, tentu saja. Papa sedang melihat.
Tapi Papa sedang melihat wajahku, bukan tanganku. Dan aku menggenggam balik tangan Devan sampai buku-buku jariku memutih.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar, dengan HP di dada. Jam dinding menunjukkan pukul satu lewat dua puluh. Rumah sudah sunyi. Di luar, sesekali terdengar suara motor lewat, lalu hilang.
Kalau Nabila siap, saya siap. Kalau Nabila belum siap, saya tunggu.
Selama dia butuh, Oma.
Itu akting. Itu pasti akting. Itu jawaban yang disusun dengan sangat baik oleh orang yang sangat pintar menyusun jawaban. Orang yang bisa menemukan celah di proyek Gerald dalam tiga pertanyaan. Orang yang bisa membuat Om Bram memeluknya dan Tante Rini mengadopsinya.
Orang seperti itu tentu bisa membuat jawaban yang sempurna untuk pertanyaan kapan serius.
Tapi kalau itu akting, kenapa dia bilang setiap hari? Kenapa dia bilang dia takut ada orang yang lebih pantas? Itu bukan jawaban yang membuat seseorang kelihatan hebat. Itu jawaban yang membuat seseorang kelihatan... rapuh.
Dan kenapa, waktu dia mengucapkannya, dia tidak melihatku? Sama seperti malam pertama, waktu Tante Rini bertanya apa yang dia suka dariku. Dia selalu melihat orang lain waktu mengatakan hal-hal seperti itu. Seolah dia tidak berani mengatakannya sambil melihatku.
Atau seolah dia takut aku akan melihat sesuatu di wajahnya.
Aku membuka WhatsApp. Membuka grup keluarga. Menggulir ke atas, ke pesan hari Selasa.
Tante, boleh saya simpan fotonya? Buat wallpaper. Buat hidup.
Lalu aku membuka pesan pribadi dan menggulir ke pertanyaan yang tidak pernah kujawab.
Kamu mau aku jawab jujur atau jawab pasal sepuluh?
Aku menatap pertanyaan itu lama. Jam satu lewat tiga puluh. Satu lewat empat puluh.
Lalu jariku bergerak sendiri.
Jujur.
Aku menekan kirim sebelum bisa berubah pikiran, lalu langsung mematikan layar dan membalik HP-ku sampai layarnya menghadap kasur. Jantungku berdetak seperti baru lari keliling kompleks.
Dia pasti sudah tidur. Ini jam satu empat puluh pagi. Dia tidak akan membalas sampai besok. Dan besok pagi, aku bisa menghapus pesan itu dan pura-pura tidak pernah mengirimnya.
HP-ku bergetar.
Aku menatap punggung HP itu. Lima detik. Sepuluh detik.
Lalu aku membaliknya.
Satu pesan. Dari Devan. Dikirim pukul 01.41, satu menit setelah pesanku.
Isinya sebuah foto. Tangkapan layar HP-nya sendiri. Layar kunci.
Dengan fotoku yang sedang tertidur di sofa, mulut sedikit terbuka, rambut berantakan, sebagai wallpaper.
Di bawahnya, satu kalimat.
Dari hari Selasa.
Aku menatap foto itu sampai layar HP-ku meredup sendiri. Aku menyentuhnya supaya menyala lagi. Menatapnya lagi. Meredup lagi.
Aku tidak membalas. Aku tidak tahu harus membalas apa.
Aku cuma memeluk HP itu di dada, menarik selimut sampai ke dagu, dan berbaring di situ sampai langit di luar jendela berubah dari hitam ke abu-abu, dengan satu pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalaku, tanpa jawaban:
Kalau dia jujur, lalu apa yang selama ini dia pura-purakan?
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan) reading
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi